Bahasa Kasih di Balik Kemarahan Ibu pada Anaknya

Membaca cerita Kompasianer Willi yang berjudul Memahami Ibu dari Kemoceng Beliau, membuat saya tersenyum sendiri. Ya, cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri ketika anak- anak masih kecil. 

Cerita yang hampir sama, hanya bedanya Kompasianer Willi bercerita dalam sudut pandang beliau sebagai anak, saya bercerita dalam pandangan saya sebagai ibu. Pengalaman yang menunjukkan betapa kemarahan seorang ibu seringkali hanya karena kasih sayang dan kekhawatiran yang begitu besar pada anak- anaknya.

Cerita ini terjadi ketika bulan Ramadhan. Ketika itu anak-anak saya yang laki laki masih kecil-kecil. Yang paling besar berumur delapan tahun, adiknya enam tahun dan empat tahun. 

Oh ya, dari empat anak saya, yang pertama perempuan dan berjarak agak jauh dari adik-adiknya. Sebagaimana anak perempuan, anak sulung saya lebih banyak di rumah membantu ibunya, sementara tiga adiknya lebih banyak bertualang di luar rumah bersama teman- temannya

Hari masih menunjukkan pukul lima pagi itu. Tampak beberapa orang tetangga lewat di depan rumah. Mereka baru saja pulang dari langgar dekat rumah setelah Subuhan. 

Di bulan Ramadhan,  langgar di kampung kami lebih banyak pengunjungnya. Biasanya habis sahur banyak yang langsung Subuhan di langgar termasuk anak-anak kecil.

“Buk, kami bal-balan ya,” kata anak- anak saya sepulang dari langgar. Sarung mereka masih diselempangkan di bahu, dengan mengenakan peci sholat. Sekilas mirip  Si Unyil.

Ilustrasi ibu dan anak anaknya, gambar by AI chat gpt

Di belakang mereka tampak teman temannya yang lain. Saya lihat kira kira ada sepuluh anak kecil dengan kostum yang senada.

“Boleh, hati-hati. Jangan capek-capek, nanti mokel lho…,” pesan saya.

“Sarungnya dilipat dulu,” tambah saya.

Bergegas ketiganya masuk, melipat sarung lalu berangkat dengan ‘gang’ nya. Stadion Gajayana, itu yang dituju. Ya, rumah saya lokasinya tidak jauh dari stadion Gajayana. Bermain bola di stadion adalah kegiatan yang sering dilakukan anak-anak kampung di masa itu 

Dengan membawa bola plastik rombongan pun berangkat. Celoteh riang anak- anak terdengar ramai. Mereka masih begitu segar, maklum habis sahur.

Hari itu kebetulan pekerjaan rumah saya agak banyak. Dengan ditemani si sulung saya bersih- bersih rumah. Hari itu puasa hari ke 24, kira-kira enam hari lagi Lebaran.

“Anak-anak kok belum pulang ya Buk?” tanya anak saya heran sambil melihat jam dinding. Saat itu kami sedang bersih- bersih kulkas.

Saya segera melihat jam. Deg… sudah ja sebelas, pikir saya.

“Sebentar lagi paling, Nduk,” kata saya. Lebih untuk menenangkan hati saya sendiri.

Saya terus bersih- bersih sambil sesekali melihat keluar barangkali anak-anak datang.

Sayup-sayup azan Dhuhur dari langgar mulai bergema. Saya mulai panik. “Ya Allah…kemana anak anak kecil ini?” Pikir saya. Sungguh , saya takut kalau terjadi apa-apa dengan mereka. Jalan raya dari rumah menuju ke stadion ramai pula.

Bergegas saya memakai kerudung lalu segera keluar.

“Nduk, teruskan bersih-bersih. Ibuk cari adik adikmu,” 

Dengan cemas saya langsung berjalan menuju stadion. Dari lapangan bola ke satu, ke dua, lapangan volley suasana tampak sepi. Ya, siapa mau olah raga di siang hari seperti ini? Bulan puasa pula. 

Hati saya makin cemas. 

Ya Allah, kemana anak anak ini.., 

Setelah muter- muter di stadion tidak juga ketemu sayapun pulang. Dalam perjalanan saya sungguh berharap anak-anak sudah ada di rumah, dan kami cuma ketlisipan jalan. Sepanjang jalan hati saya deg-degan. Ya Allah, berilah keselamatan pada anak anak saya, bisik hati saya.

Sampai di rumah, hati saya benar- benar lega. Tiga anak kecil dengan baju kotor ada di depan pagar. Mereka tampak ragu dan takut-takut mau masuk ke rumah. Ketiganya tidak tahu bahwa saya ada di belakang mereka.

“Mengapa pulang? Ibu kira sudah lupa jalan ke rumah,” kata saya sambil menekan perasaan. Rasa marah, jengkel sekaligus lega campur aduk dalam hati saya.

Mendengar suara saya mereka tampak kaget, sekaligus takut.  Ketiganya langsung menangis dan memeluk saya. Jelas sekali mereka merasa sangat bersalah karena bermain terlalu lama.

“Masuk, segera mandi! ” kata saya marah.

“Ibuk, maaf Buk..,” kata yang paling besar sambil menangis.

“Mandi sana!” kata saya sambil terus mempertahankan kemarahan saya. Air mata hampir menetes. Ya, saya benar- benar jengkel sekaligus khawatir. Takut kalau terjadi apa- apa dengan anak anak kecil ini.

Hari itu tanpa banyak bicara mereka segera mandi, sholat Dhuhur dan tidur. Mungkin karena kecapekan, dan jelang Maghrib mereka baru bangun. 

Ketika azan Magrib berkumandang kami segera berbuka.

Hari itu suasana buka puasa terasa beda. Saya tidak bicara sama sekali. Ada rasa bersalah di wajah-wajah ketiga anak saya.  Tapi sengaja saya diam dan tidak mengajak mereka bicara. Mereka sudah tahu kebiasaan saya yang banyak diam jika marah.

Barulah ketika hendak tarawih suasana menjadi cair. Melihat ketiganya dengan berbusana muslim pamitan hendak ke langgar, hati saya benar benar meleleh 

“Ibuk, kami tarawih ya,” kata yang paling besar diikuti adik-adiknya.

Saya diam sesaat lalu tersenyum menatap mereka bergantian. “Berangkatlah, pulang langsung pulang, tidak boleh main-main,”

Ada terpancar kelegaan di wajah mereka.

“Siyap komandan..,” jawab anak- anak sambil memberikan isyarat hormat. Si sulung yang ada di dekat saya tertawa geli melihat tingkah adik-adiknya, demikian juga saya.

Begitu terdengar qomat, anak-anak langsung berlari menuju langgar.

Oalah, anak-anak dengan segala tingkahnya memang kadang membuat kita merasa cemas dan kadang marah. Dan kemarahan orang tua pada anak gambaran kasih serta  kekhawatiran yang begitu besar pada mereka.

Menghayati Siklus Kehidupan Manusia Melalui Tembang Macapat

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah pengajian yang membahas tentang penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang dilakukan oleh para wali songo.

Pengajian ini merupakan bagian dari pembukaan acara Cinta Menulis Al Qur’an yang saya tulis sebelumnya.

Dalam ceramah pagi itu disampaikan bahwa menulis Al Qur’an bersama seperti kegiatan kami pagi itu adalah sebuah cara untuk menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya, seperti halnya wali songo yang dulu menyebarkan agama Islam dengan pendekatan ini.

Agama Islam ada di Pulau Jawa sejak abad ke 11,  tapi mengalami perkembangan yang pesat pada abad 14-15 sejak dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo.

Salah satu penyebab dakwah tersebut mudah diterima adalah karena dakwah dilakukan dengan media budaya yang salah satunya adalah lewat berbagai macam tetembangan.

Tentang Tembang Macapat 

Nembang, sumber gambar: Kompasiana

Tembang Macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki aturan tertentu dikaitkan dengan jumlah baris, jumlah suku kata dan bunyi akhir tiap baris 

Aturan tentang jumlah baris tiap bait dinamakan guru gatra, jumlah suku kata tiap baris dinamakan guru wilangan sedangkan bunyi akhir tiap baris dinamakan guru lagu.

Diperkirakan bahwa macapat muncul jauh sebelum datangnya Islam, dan tembang ini banyak digunakan oleh walisongo dalam menyebarkan agama Islam.

Tembang Macapat ada sebelas macam, mulai dari Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti , Asmaradana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh dan Pocung. Tembang- tembang tersebut menunjukkan siklus hidup manusia mulai dari dalam kandungan ibu hingga kembali ke haribaan Sang Khaliq.

Bagaimana penjelasannya?

1. Maskumambang

Maskumambang bermakna mas yang kambang (terapung). Tembang ini melambangkan fase pertama kehidupan manusia yaitu saat masih berada dalam kandungan ibunda.

2. Mijil

Mijil melambangkan biji atau benih yang lahir ke dunia, atau penggambaran tentang kelahiran manusia di dunia. 

Ilustrasi bayi baru lahir, sumber gambar: Alodoc

3. Kinanthi

Kata Kinanti berasal dari ‘kanthi’ yang artinya   tuntunan. Tembang ini mengandung makna tentang pembentukan jati diri, cita-cita serta makna diri. 

4. Sinom

 Sinom artinya daun yang baru tumbuh, dan menggambarkan masa muda atau manusia yang sedang tumbuh dan berkembang.  Masa yang ditandai dengan giat giatnya mencari ilmu dan pembentukan jati diri.

Ilustrasi masa muda mass mencari ilmu, sumber gambar: Alef

5. Asmarandana

Tembang Asmarandana menceritakan kehidupan manusia ketika sedang kasmaran dengan lawan jenisnya. 

6. Gambuh

 Gambuh bercerita tentang bagaimana menjalin hubungan antar manusia. Tembang   ini  mengajarkan kita untuk membangun hubungan dengan Tuhan, kebersamaan, toleransi dan persaudaraan.

7. Dhandhanggula

Tembang Dhandhanggula memiliki makna pengungkapan cita-cita dan harapan kepada manusia. Tembang ini juga menggambarkan suka dan duka yang dialami manusia dalam kehidupan berumah tangga.

8. Durma

Durma menggambarkan sebuah fase kehidupan dimana kita harus banyak berderma pada orang lain. Tahap  dimana manusia mulai bersosialisasi dan berusaha banyak membantu orang lain.

Ilustrasi berbagi, Sumber gambar: MMC Kalteng

9. Pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang artinya menjauhkan diri dan pergi.

Tembang ini mengajak kita untuk melakukan refleksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

10. Megatruh

Megatruh berasal dari kata yaitu ‘megat’ yang artinya berpisah dan ‘ruh’ yang artinya jiwa. Tembang Megatruh memiliki makna berpisah dengan jiwa, menuju alam keabadian. 

11. Pocung

 Pocung berada adalah fase terakhir dari tembang Macapat.  Pocung menceritakan tentang perjalanan hidup manusia yang paling akhir yaitu kematian.

Tembang ini mengajak kita agar selalu mengingat dan mempersiapkan diri menghadapi datangnya kematian. Sebuah hal yang pasti terjadi dan memutuskan seluruh rangkaian kehidupan manusia di dunia.

Ilustrasi melakukan refleksi diri, sumber gambar: essipeduli

Dengan mengetahui filosofi ini diharapkan kita bisa lebih menghayati berbagai tahapan kehidupan yang dilalui manusia . Tembang Macapat bukan hanya bicara tentang seni, tapi juga nasehat bahwa hidup memiliki berbagai tahapan yang harus di hargai dan dijalani dengan penuh rasa syukur dan bijaksana.

Menjaga Lisan, Sebuah Amalan Penting di Bulan Ramadhan

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Di pagi hari itu, Rabu (14/03) kembali dilaksanakan pengajian pagi di ruang guru Bintaraloka. Kali ini pematerinya adalah Ustadzah Galuh Mahanani, ibu guru  pengampu BK SMP Negeri 3 Malang.

Ustadzah Galuh mengulas tentang pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan kita sehari-hari. Lebih- lebih kita yang memiliki peran sebagai guru sekaligus orang tua.

Tentang Pentingnya Menjaga Lisan

Ustadzah Galuh, dokumentasi pribadi

Puasa bukan hanya mengajak kita untuk menahan lapar dan dahaga , namun juga menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik

Lisan adalah anugerah Allah yang begitu besar bagi manusia. Dengan lisan kita bisa berkomunikasi antar sesama manusia. Dengan lisan pula kita bisa menyampaikan ide, pikiran juga nasehat dari satu orang ke orang yang lain.

Agama kita mengajarkan agar kita menjaga hubungan baik dengan Allah juga dengan sesama manusia. Berkaitan dengan hal tersebut sangat penting bagi kita untuk menjaga lisan dari segala perkataan yang bisa menyinggung atau menyakiti hati sesama manusia.

Ilustrasi menggunakan lisan untuk hal yang kurang baik, sumber gambar : Tribun Palu

Jangan gunakan lisan kita untuk berkata yang sia sia, menggunjing, berdusta dan perbuatan buruk lainnya.

Sebagai seorang guru atau orang tua kita harus lebih berhati hati pada lisan atau perkataan kita. Karena ucapan kita pada anak ataupun siswa kita ibaratnya doa.

Semarah atau sejengkel apapun, jangan sampai terucap kata yang tidak baik dari lisan kita. Jika kita ingin berucap buruk karena sesuatu hal, maka sebaiknya kita menahannya dengan diam. Seperti  hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Ya, menjaga lisan sangat penting untuk dilakukan. Lisan yang buruk hanya akan menyakiti hati orang lain dan akhirnya membawa kita ke dalam perpecahan.

Seperti sebuah nasehat bijak yang mengatakan: Kalau pedang lukai tubuh, masih ada harapan sembuh, tapi kalau lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?

Salam Ramadhan 😊

Mengapa Kehidupan di Dunia Bisa  Diibaratkan  Air Hujan? 

Pada hari Rabu (14/03), kembali dilaksanakan pengajian pagi di ruang guru. Kali ini giliran Ustadzah Lilik Mufida yang menyampaikan butiran mutiara hikmah di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Dalam tausiyah pagi ini Ustadzah Lilik menyampaikan tentang kehidupan dunia yang bisa diibaratkan air.

Air adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Tanpa air kita manusia bahkan mahluk hidup yang lain pasti tak akan bisa bertahan hidup.

Tapi mengapa kehidupan di dunia bisa diibaratkan air?

Ustadzah Lilik Mufida, dokumentasi pribadi

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 45 Allah Ta’ala berfirman :

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا كَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ فَاَصۡبَحَ هَشِيۡمًا تَذۡرُوۡهُ الرِّيٰحُ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ مُّقۡتَدِرًا

Artinya: “Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Kahfi ayat 45)

Dijelaskan dalam Tafsir Al-Qurtubi bahwa orang-orang bijak berkata: Sesungguhnya Allah menyerupakan dunia dengan air, karena:

1. Air tak akan pernah menetap dalam satu tempat (selalu bergerak menuju ke tempat yang lebih rendah). Demikian juga dunia, tidak pernah tetap pada satu orang.

2. Air tak akan pernah tetap pada satu kondisi, situasi dan keadaan. Ia akan selalu berubah. Demikian juga dunia.

3. Air akan pergi dan tidak tetap ada. Demikian juga dunia, akan sirna dan tidak kekal.

4. Siapapun tidak akan mampu masuk ke dalam air dengan tanpa basah. Demikian juga dunia, siapapun tidak akan selamat dari fitnah dan wabahnya.

5. Air ketika digunakan sekadarnya saja, ia akan bermanfaat dan menumbuhkan. Tapi ketika melebihi kadar itu, ia akan membahayakan dan merusak. 

Air selalu bergerak mencari tempat yang lebih rendah, sumber gambar: Pngtree

Demikian juga dengan dunia, secukupnya darinya akan bermanfaat, dan lebih dari cukup akan membawa mudharat.

Pada ayat lain, Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Demikian gambaran kehidupan dunia yang diibaratkan air dalam Al Qur an. Betapa Allah memberikan banyak pelajaran dan hikmah dari apa-apa yang ada di sekitar kita. Bahkan dari hal-hal yang kita anggap begitu sederhana.

Salam Ramadhan 😊

Senandung Al I’tirof di Pagi Itu

Selasa pagi itu (12/03) sesudah tausiyah dari Ustadz Nur Rohmat, acara pengajian pagi di ruang guru diisi dengan pembacaan puisi dan menyenandungkan sholawat Al I’tirof bersama-sama dengan dipandu oleh Ustadzah Ratri.

Suara Ustadzah Ratri yang begitu lembut membuat senandung I’tirof pagi itu terasa begitu syahdu.

Al I’tirof adalah sebuah syair terkenal karya Abu Nawas. Seperti judulnya yang berarti pengakuan, syair ini bercerita tentang pengakuan dosa dari seorang hamba pada Tuhannya.

Ustadzah Ratri, dokumentasi Galuh

Tentang Abu Nawas

Beberapa di antara kita mungkin mengenal Abu Nawas sebagai tokoh yang lucu dan banyak akal. Tapi lebih dari itu Abu Nawas seorang penyair sufi terkenal  hidup di kota Bagdad pada abad ke-8 Masehi di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Amin.  

Abu Nawas atau Abu Nuwas memiliki nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami. Ia lahir di Kota Ahvaz di negeri Persia. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan Persia.

Di masa mudanya, Abu Nawas menyukai kehidupan hura-hura, menyukai pesta pora dan dekat dengan minum minuman. Karena itu syair-syairnya di masa itu banyak bertemakan tentang anggur dan cinta.

Kepiawaiannya membuat syair tak perlu diragukan, buktinya dalam kondisi mabuk ia bisa membuat syair yang tidak ada tandingannya saat itu.

Syairnya mulai berubah tema ketika ia semakin tua dan suatu saat ia harus dipenjara. Sejak itu tema syair Abunawas semakin religius seperti tema pertaubatan dan masa penantian di hari tua.

Abu Nawas atau Abu Nuwas, sumber gambar: Kompas.com

Berikut adalah  syair terkenal dari Abu Nawas yang berjudul Al I’tirof atau pengakuan:

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

Dosaku bagaikan bilangan pasir. Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

Umurku ini setiap hari berkurang. Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

Wahai, Tuhanku! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Beberapa kalangan mengatakan bahwa syair itu adalah gambaran kecerdikan Abu Nawas yang berusaha merayu Tuhan karena takut akan dosa-dosa yang pernah diperbuat di masa lalu, sementara kian hari ajal semakin dekat.

Syair yang sungguh sarat makna dan sering disenandungkan hingga saat ini, seperti yang kami lakukan di pagi itu.

Ya, setiap hari kita terus berjalan menuju kembali kepada-Nya, lalu kepada siapa kita mengharap belas kasih dan ampunan selain pada Dia Sang Pemilik Segala?

Wallahu a’lam bissawab

Referensi : pengajian filsafat KH Fahruddin Faiz