Categories
Musik

Dari “Procol Harum” Hingga “Kangen”, Sebuah Cara Membangun Bonding dalam Keluarga

Topik pilihan Kompasiana kali ini sangat menarik, yaitu tentang bonding antara orang tua dan anak. Renggangnya hubungan antara anak dan orang tua sekarang ini ditengarai karena kurangnya bonding di antara mereka.

Dari berbagai sumber yang saya baca, bonding antara orang tua dan anak adalah ikatan emosional yang kuat dan mendalam yang terbentuk seiring berjalannya waktu. 

Bonding bisa membangun dasar percaya diri, rasa aman, dan cinta antara kedua belah pihak.

Ada banyak cara untuk meningkatkan bonding antara orang tua dan anak, seperti menyediakan waktu berkualitas untuk melakukan kegiatan bersama, mau terlibat dalam kegiatan anak, bersedia saling mendengarkan dan banyak lagi.

Pada prinsipnya bonding terjadi melalui interaksi positif, perhatian, perawatan, dan komunikasi yang ajeg antara orang tua dan anak.

Francis Goya

Berbagai artikel tentang bonding orang tua dan anak ini  mengingatkan  saya ingat pada bagaimana bapak saya membangun ikatan emosional yang kuat dengan kami para anaknya.

Bapak membangun ikatan emosional tersebut lewat membaca dan mendengarkan musik bersama. Mengenai membaca, sudah pernah saya ulas dalam artikel yang berjudul Belajar dari Bapak, Menanamkan Kegemaran Membaca dengan Cara yang Sederhana

Kali ini saya akan bercerita tentang bonding yang terbentuk karena mendengarkan musik bersama.

Sebuah cara yang sangat sederhana namun bisa membuat ikatan emosi kami terjalin erat

Kala itu kami sekeluarga memiliki tradisi mendengar musik bersama. Setiap sore ataupun pagi sebelum sekolah. Sambil mendengar musik yang diputar kdari kaset kami bersih- bersih, istirahat sejenak sambil ‘ngeteh’ lalu meneruskan kegiatan lainnya.

Lagu- lagu yang disetel lewat tape adalah lagu kesukaan bapak yang akhirnya menjadi kesenangan kami juga.

Hingga sampai sekarangpun, di mana saja kami berada jika mendengar lagu -lagu tertentu kami selalu ingat bapak. Bahkan peristiwa peristiwa kecil yang dibawa oleh kenangan dari lagu itu.

Pernah saat ada acara jalan jalan di luar kota, waktu rombongan kami belanja oleh-oleh tiba tiba sebuah lagu instrumen mengalun. Lagu dari Francis Goya. Saya berhenti sejenak sambil tersenyum. Ah, ini lagu bapak, pikir saya.

Sumber gambar: Spotify

 Sampai sekarang setiap mendengar lagu The Whiter Shade of Pale, saya selalu diam sejenak. Menikmati alunannya sambil mengulang kenangan ketika kami , saya dan bapak duduk di ruang depan sambil menyelesaikan jahitan yang akan diambil esok hari.

Ya, bapak saya adalah seorang penjahit, tiap malam kami memasang kancing ataupun menjahit tangan baju baju yang akan segera diambil para pelanggan  kami.

Lagu berikutnya yang sangat sangat membuat saya teringat bapak adalah Belladona dari UFO. Melodinya saja sudah terasa sangat indah menurut saya

Belladona

Di zaman radio masih sering diputar, di suatu siang ketika sedang bermain saya mendengar lagu ini diputar di radio tetangga.

Saya segera berlari ke bapak yang sedang menjahit. “Pak, ada Belladona!” teriak saya.

Bergegas bapak nyetel radio Sieghfrid kami di belakang mesin jahit, dan mencari stasiun radio yang memutar lagu Belladona.

Meskipun hanya dapat setengah lagu tapi senang sekali rasanya bisa mendengar bersama bapak. Ada rasa bangga karena saya ‘menemukan’ lagu itu.

Dream Express, tangkapan layar pribadi

Lagu- lagu dari Dream Express yang pernah ngetop di kisaran tahun 80 an  juga menyimpan banyak kenangan manis. Saat itu saya sering diajak ke toko kaset. Mendengar lagu lewat headphone, memilih kaset yang bagus sungguh sangat menyenangkan.

Apalagi kalau di rumah bapak berkata,”Nduk, lagu pilihanmu enak-enak,”

Bahkan urutan lagu Dream Express ini saya hafal saking seringnya disetel di rumah.

Masih banyak lagi lagu lain yang menyimpan kenangan di antara kami. Sampai kamipun hafal lagu kesukaan kakak, ibuk, juga adik.

Sampai sekarang begitu mendengar lagu lagu Deep Purple dan Kitaro saya langsung WhatsApp adik saya. Ya, dulu kami sering ngopi sambil mendengar lagu lagu favorit kami ini.

Mendengar musik bareng juga sering saya lakukan dengan anak-anak saya. Biasanya pulang sekolah atau pas bersih bersih di hari Minggu.

Ada satu lagu favorit yang kami dengarkan bersama yaitu “Music and Me ” dari Michael Jackson. 

Music and Me

Kata anak saya setiap mendengar lagu itu ia selalu ingat suasana Minggu di rumah. “Ada ibuk yang masak di dapur, aku dan adik adik membaca dan ngobrol di kamar belakang dan rumah beraroma obat pel… Selalu bikin kangen,” katanya.

Hingga ketika saya dan anak saya berjauhan karena harus kuliah atau bekerja di luar Malang, berkirim lagu adalah hal yang sering kami lakukan.

Suatu ketika, anak saya yang saat itu sedang kuliah di Jogja mengirim lagu Nothing s Gonna Change My Love for You, dari George Benson lewat WhatsApp.

“Lagi jalan jalan tiba-tiba adalah lagu kesukaan Ibuk,” katanya.

Dewa 19, sumber gambar: Spotify

Aih… Hati saya terasa begitu hangat. Segera saya buka Spotify, saya kirim sebuah lagu balasan untuknya. “Kangen” dari dewa 19. 

“Kangen ya Le…,”

Categories
Cerita

Pasar Takjil, yang Kehadirannya Selalu Dinanti Saat Ramadhan

Kehadiran pasar takjil adalah sesuatu yang selalu dinantikan saat bulan Ramadhan. Pasar dadakan yang menjual berbagai macam makanan ini biasanya dimulai sesudah Ashar dan berakhir saat berbuka puasa tiba.

Dalam tulisan ini saya akan menuliskan tentang pasar takjil di sekitar Jl Lembang dan Jl. Setaman kelurahan Lowokwaru Malang.

Bagi satu orang dengan yang lain pasar takjil mempunyai manfaat yang berbeda. Ada yang memanfaatkannya sebagai tempat berjualan untuk mengais rezeki , berbelanja, cuci mata ataupun sebuah media ekspresi. 

Seperti yang ada di pasar takjil Ramadhan di kawasan Jalan Lembang kota Malang. 

Selain menjual berbagai makanan, di pasar ini kita bisa menikmati ‘konser musik’ yang dimainkan oleh anak anak muda. Ya, mereka memainkan musik sambil menjual martabak mini.

Konser musik di stand martabak mini, dokumentasi pribadi Utien

Kehadiran konser ini seolah magnet yang menarik pengunjung untuk selalu datang dan berbelanja ke pasar takjil ini.

Pasar takjil di Jl Lembang ini merupakan agenda rutin RW dan penjualnya tidak dikenakan biaya alias gratis. Penjual berasal dari warga sekitar dan UMKM. 

Tidak jauh dari pasar takjil tersebut terdapat  di pasar takjil lain di Jalan Setaman. 

Pasar takjil yang juga merupakan agenda rutin RW ini menyediakan berbagai macam makanan seperti aneka lauk, jajanan kekinian, bahkan jajanan tempo dulu seperti gulali.

Menurut Ibu Siti, seorang penjual di Setaman, untuk berjualan biaya kontrak tiap stand berkisar antara 125.000-150.000 selama satu bulan dan tiap hari dikenai iuran sampah Rp.5000,00.

Semakin sore suasana pasar takjil semakin ramai. Para pembeli juga  penjual tampak demikian ceria. Ya, pembeli dan penjual mayoritas sudah kenal satu sama yang lain. 

Kehadiran anak kecil meramaikan stand penjual jajanan membuat suasana terasa kian ‘meriah’

Ya, kehadiran pasar takjil membuat suasana  bulan Ramadhan demikian hangat. Kehadirannya tidak hanya menghidupkan ekonomi warga, tapi juga sebagai perekat kebersamaan antar sesama.

Suasana pasar takjil bisa dilihat di video berikut:

Suasana pasar takjil di Jl Lembang dan Jl.Setaman
Categories
Cerita

Antara Saya dan Kompasiana

Perkenalan saya dengan Kompasiana terjadi  tiga tahun yang lalu. Tepatnya Oktober 2020, ketika pandemi sedang merajalela di negeri ini. 

Semua berawal dari anjuran anak saya yang juga menggeluti dunia kepenulisan. Anak saya membuatkan akun Kompasiana ketika tahu saya punya banyak tulisan di blog.

“Daripada dibaca sendiri, ‘kan lebih baik kalau yang baca banyak, Buk?” katanya saat itu. Saya menurut saja. Lagipula senang juga jika tulisan saya dibaca oleh banyak orang.

Apa yang saya peroleh dari Kompasiana setelah tiga tahun bergabung? Banyak. Yang paling bisa dirasakan, kepercayaan diri dalam menulis semakin tinggi.

Semula saya agak ragu apakah tulisan saya bisa dinikmati pembaca atau tidak. Tapi komentar dan apresiasi teman- teman sungguh meningkatkan semangat dan rasa percaya dalam diri saya untuk terus menulis.

 Hingga tahun ketiga ini, hampir 500 tulisan yang sudah saya buat. Kalau dihitung rata rata satu tulisan tiap dua hari. Bagi saya cukup lumayan, meski banyak teman yang jauh lebih produktif daripada saya.

Bersama Kompasianer Mbak Naz, dokumentasi pribadi

Tulisan yang saya buat banyak berkisar tentang dunia sekolah. Ya, saya menulis apa yang saya lihat. Di samping untuk bercerita,  saya juga ingin memberi inspirasi pada siswa saya bahwa menulis adalah dunia yang mengasyikkan. 

Hal lain yang saya dapatkan dari Kompasiana adalah banyak teman. Bergabung di grup KPB, Kompasianer Pendidik juga Pulpen membuat kami bisa saling bertegur sapa. 

Saya merasa mempunyai banyak saudara dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai manca negara.

Saling menyapa, menunjukkan foto makanan pas sarapan atau makan siang, membuat pertemanan kami terasa demikian akrab. Ya, betapa banyak keunikan di daerah kami masing-masing. 

Lewat grup whatsapp, biasanya kami juga bertukar tips atau hal hal penting lainnya.

Pertemanan bahkan bisa berlanjut sampai copy darat juga.

Copy darat pernah saya lakukan dengan Mbak Naz dan Bu Yayuk. 

Dengan Mbak Naz kami pernah ketemuan di Matos (Malang Town Square). Ketika itu Mbak Naz mengantar putrinya mencari tempat kost di daerah Malang karena putrinya diterima di Universitas Negeri Malang.

Dengan Bu Yayuk bahkan kami pernah menikmati Mie Bakar Celaket bersama. Gara- gara Kompasiana kami sadar bahwa kami sebenarnya tetangga dekat sekali.

Sekolah Bu Yayuk di SMP Cor Jesu dan saya di SMP Negeri 3 Malang. Hanya sepuluh menit jalan kaki. 

Bersama Bu Yayuk saya pernah diajak berjalan-jalan menjelajah SMP Cor Jesu yang ternyata sangat mempesona.

Di dalam museum mini SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Ternyata banyak sekali benda-benda bersejarah di sana.  Waktu itu saya diajak menikmati benda benda koleksi museum mini Malang Ursulin Gallery,  seperti piano buatan Jerman sekitar tahun 1895, koleksi foto-foto lawas mengenai bangunan CorJesu sebelum dan sesudah agresi militer Belanda 21 Juli 1947. 

Bersama Kompasianer Yayuk di SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Bahkan benda-benda administrasi sekolah seperti rapor dan buku tata usaha di masa lalu tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca besar

Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan itu saya dapatkan karena berkenalan dengan Bu Yayuk lewat Kompasiana.

Lewat Kompasiana juga akhirnya saya bisa bertemu kakak kelas saya semasa SMA, penulis yang sangat produktif Pak Budi Susilo.

Ikut serta dalam berbagai event lomba adalah moment yang sangat menyenangkan. Lebih-lebih ketika menang dan mendapat hadiah. Wow… Sesuatu rasanya..

Tumbler hadiah dari event lomba KPB, dokumentasi pribadi

Ya, banyak yang saya peroleh setelah tiga tahun bergabung di Kompasiana. Saling silaturahmi , dan berbagi inspirasi dengan sesama Kompasianer, itu yang paling membahagiakan. 

Sebenarnya saya ingin sekali ikut Kompasianival sebagai ajang pertemuan dengan teman teman Kompasianer. Namun sepertinya belum bisa karena di samping jauh, juga diadakan pas agenda kegiatan agak padat.

Singkatnya antara saya dan Kompasiana ada kedekatan yang sangat. Setidaknya itu menurut perasaan saya, karena beberapa teman atau siswa memanggil saya dengan sebutan Bu Kompasiana atau Bu Kompas. He..he.. padahal antara keduanya sangat berbeda.

Akhirnya menjelang ulang tahunnya yang ke 15, saya berharap semoga Kompasiana  senantiasa menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami untuk berbagi cerita , inspirasi dan menebar kehangatan silaturahmi.

Salam Kompasiana 😊

Categories
Cerita

Cerpen Anak-Anak Ramadhan: Gara-Gara Capung

Mentari bersinar begitu terik. Kami bersandar di bawah pohon mangga di tengah lapangan kampung. Tempat favorit kami. Teduhnya pohon mangga yang rimbun membuat suasana panas tidak begitu terasa.

Hari ini lelah sudah kami bertualang. Kami adalah trio Yayan, Bobi dan aku yang kemana -mana selalu bersama. Di mana ada Yayan pasti di situ ada aku dan Bobi.

Bermain bertiga membuat  hari-hari selalu mengasyikkan. Meski kami tahu, orang-orang kampung menganggap salah satu di antara kami, yaitu Yayan,  nakal dan sulit diatur.

Barangkali karena Yayan hanya tinggal berdua dengan ibunya. Bapak Yayan sudah lama meninggal. Ibu Yayan, Bu Surti adalah seorang penjahit. Sehari-hari beliau selalu sibuk dan akhirnya Yayan menyibukkan diri sendiri dengan main tiada henti.

Karena  tak kenal waktu itulah orang kampung memberinya sebutan anak nakal. ‘Kloyongan‘ saja kata para orang tua kami. Saat habis ashar, di mana kami semua harus mengaji, Yayan tetap bermain hingga menjelang Maghrib baru pulang. Entah kemana saja anak itu.

Karena itu sedapat mungkin orang tua selalu mencegah kami bermain dengan Yayan.
Kloyongan saja, tidak tahu waktu , nanti!” begitu selalu kata ibuk mengingatkan aku ketika Yayan tampak menungguku di depan rumah.

Ah, ibuk tidak tahu asyiknya sih… Yayan selalu bisa membuat sesuatu yang biasa jadi istimewa, begitu bisik hatiku.

Ya, membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa adalah keahlian Yayan.

Pernah kami bermain di sungai mencari ikan kecil-kecil. Kami menamakannya ikan cemplu. Dengan berbekal plastik,  berjam- jam kami bermain di sungai dan bergurau hingga menjelang Ashar.

Tidak puas hanya menempatkannya di plastik, Yayan pulang mengambil ember dan kembali ke sungai. Jadilah kami hari itu berlomba mencari ikan cemplu dan memasukkannya ke dalam ember.

Kami baru berhenti bermain tatkala salah satu dari kami, Anto, kesurupan. Tiba-tiba saja Anto bicara tak tentu arah sambil bertingkah liar. Kami bahkan ditantang berkelahi satu- satu, hingga kami begitu takut dibuatnya.

Segera kami dibantu orang kampung untuk menenangkan Anto. Menurut Mbah Paijo, ‘orang pintar’ di kampung kami, ternyata Anto  ‘kemasukan’, gara- gara kami bergurau dan tertawa- tawa terlalu keras di sungai hari itu.

Bagaimana cerita hari ini?  Petualangan hari ini kami isi dengan mencari bekicot di sekitar sungai. Bekicot-bekicot itu kami jual pada Pak Miseri, peternak bebek di kampung kami. Lumayanlah uang hasil penjualan bisa untuk membeli es gandul buat berbuka puasa nanti sore.

Lelah mencari bekicot membawa kami bertiga duduk di bawah pohon siang ini. Semilir angin membuat mata terasa mengantuk, berkali-kali kulihat Bobi menguap lebar.

Dari kejauhan bunyi gareng pung meramaikan suasana. Kata ibuk, kalau gareng pung sudah terdengar, alamat sebentar lagi musim kemarau.

Membayangkan musim kemarau membuat kerongkonganku tiba-tiba terasa kering.  Entah mengapa matahari bulan Ramadhan selalu terasa lebih panas dari bulan biasa.  Menunggu saat buka rasanya lamaa sekali.

Ah,  tak sabar rasanya menikmati es gandul Mas Jojo yang selalu stand by di depan langgar tiap sore hari. Apalagi uang dari Pak Miseri sudah menunggu manis dalam kantong celana kami.

Capung, sumber gambar: Tahura Bandung

“Cari capung, yuk?” kata Yayan tiba-tiba.
Kami memandang Yayan takjub. Rasa kantuk kami langsung hilang. Teman yang satu ini benar-benar tak pernah kehabisan ide dan tak kenal lelah.

Bobi langsung mengucek matanya dan menggeliat sebentar. Yap! Tanpa banyak kata kami langsung setuju dengan ajakan Yayan.

Bertiga kami mencari lidi dengan ujung diberi semacam getah sebagai perekat. Harapannya dengan lidi berperekat tersebut kaki atau sayap capung akan menempel sehingga bisa kami tangkap.

Tanpa kenal lelah kami kembali ke lapangan mengejar capung yang terbang ke sana kemari. Begitu capung menempel pada lidi, ekornya kami ikat dengan benang dan capung tetap bisa terbang, tapi tidak lepas dari tangan kami.

Akhirnya kami mendapatkan masing masing seekor capung. Tak lama ‘bergurau’ dengan binatang-binatang itu, tiba tiba terdengar azan Dhuhur berkumandang.

Kami langsung menghentikan permainan. Ya, sesibuk apapun, saat sholat kami harus segera sholat. Itu pesan orang tua kami. Kalau saat sholat tidak segera ke langgar, pasti ibuk kami akan mencari kami walau ke ujung dunia sampai ketemu.

“Ayo nang langgar..!” kataku

“Capungnya?” tanya Bobi ragu.
“Lepas saja.. kasihan,” kataku sambil melepas capungku. Masa capung mau dibawa sholat? pikirku.

Bobi segera melepas capungnya juga. Sementara urusan capung kami lupakan dan bergegas kami menuju rumah untuk mengambil sarung.

Dengan berkalung sarung kami menuju tempat wudhu. Gemericik air wudhu terasa begitu menggoda. Betapa segar, pikirku.

“Eits, gak boleh kumur..,” kata Bobi ketika aku hampir mengarahkan air ke mulutku. Ups, baru ingat. Ini puasa. Kalau berkumur di atas Dhuhur kata Mbah Hambali guru ngaji kami makruh hukumnya. Lebih baik tidak dilakukan.

Begitu qomat berbunyi aku segera mengambil tempat di belakang imam. Seperti biasa makmumnya cuma empat orang.  Mas Jojo tukang qomat,  dan kami bertiga.

Namun ada yang menarik perhatian kami hari ini.  Yang menjadi imam bukan Mbah Hambali seperti biasanya. Kali ini imam kami masih agak muda. Orangnya tinggi, berkopyah bundar putih dan bersorban..
Mungkin Mbah Hambali sedang pergi, pikirku.

“Allahu Akbar..”
Suara imam memberi tanda sholat dimulai. Tapi hei, mana Yayan? Dari tempat wudhu dia tidak juga segera sholat.

Aku segera takbiratul ihram. Berdiri tenang di belakang imam bersama Bobi dan Mas Jojo. Ketika mulai membaca Fatihah dalam hati tiba-tiba Yayan berdiri di sebelahku. Syukurlah, pikirku.

Ketika rakaat kedua tiba-tiba ada yang terbang berputar-putar di depanku. Aku mendongak.  Astaga.. capung! Pasti punya Yayan, pikirku.  Bukankah punya Bobi dan punyaku sudah dilepas?

Capung mulai berputar, hinggap kesana-kemari dengan benang masih terikat di ekornya. Sholatku mulai kacau. Mataku tak henti menatap pergerakan si capung. Dan  kurasakan Yayan di sebelahku mulai gelisah.

Saat tahiyat akhir capung melakukan manuver berani dengan hinggap di kopyah imam sholat. Astaghfirullah…!  Sholat kami batal sudah.

Aku dan Bobi menoleh ke Yayan sambil menunjuk si capung. Pelan-pelan Yayan meraih benang dan mencoba menariknya. Nakalnya, si capung tak mau menurut sehingga kopyah imam bergerak-gerak.

Kulihat Yayan begitu pucat, apalagi berbarengan dengan itu imam menoleh, mengucap salam  sambil menatap Yayan dengan tajam meski cuma sekilas.

Saat dzikir habis sholat, tubuh kami begitu gemetar. Sungguh, aku tidak pernah merasakan ketakutan seperti hari itu

Habis sholat satu per satu kami salim pada imam dengan begitu tawadhuk. Ya, itu adalah wujud permintaan maaf atas kenakalan kami.

Yayan pulang paling akhir. Temanku yang sangat pemberani itu tiba-tiba tampak lemah tak berdaya. Tangan kanannya masih erat memegang benang agar capung tidak membuat ulah lagi. Sementara di depannya imam sholat duduk tenang sambil menatap Yayan.

Mengaji, sumber gambar: Bersedekah.com

Entah bagaimana lanjutan cerita hari itu kami tak tahu. Yang jelas sejak saat itu kulihat Yayan begitu rajin mengaji di langgar.

Ya, sebuah kejutan manis bagi kami semua, ternyata imam sholat  adalah guru ngaji kami yang baru pengganti Mbah Hambali yang sudah mulai sepuh. Namanya Ustad Imam dan sangat memperhatikan Yayan.

Sekarang jangankan tidak datang mengaji, terlambat saja Yayan tidak berani.

Tentu saja. Sebagai hukuman atas masalah capung itu, Ustad Imam memberi tugas Yayan untuk qomat setiap hari sebelum sholat Ashar dimulai.

Sekian..

Salam Ramadhan 😊



Categories
Matematika

Tantangan Kompasiana: “Aku Ingin Menggombal dengan Sederhana”

Menggombal ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Celakanya ada tantangan dari Kompasiana untuk Menggombal dengan Sederhana. He..he.. susah juga.. Dan ini adalah gombal hasil perenungan sekian jam untuk mencari wangsit..

Engkau suka aljabar
Aku suka aritmatika

Hatiku sungguh berdebar
Melihatmu lewat di depan mata

Lima tambah enam sama dengan sebelas
Dua tambah tujuh sama dengan sembilan

Ketika kau menatapku sekilas
Hati bergetar tak tertahankan

Bunga mawar berbau harum
Bunga melati sangatlah indah

Engkau tiba-tiba tersenyum
Hatiku pun menjadi sumringah

Contoh bilangan kuadrat adalah empat
Contoh bilangan prima dua puluh sembilan

Namun satu kata yang terucap
Membuat semangatku terbang tak karuan

Sumber gambar: detikHealth

(Dan ini yang kau ucapkan):

Lima kali lima sama dengan dua puluh lima
Ya, hari ini kita ulangan matematika

Hiks …….

Dua tambah tujuh sama dengan sembilan
Sembilan dikurangi satu sama dengan delapan

Sungguh kami sangat mengharapkan
Bu guru lupa kalau sekarang harus ulangan

Karena…

Dalam lingkaran ada radius
Pada
segilima ada diagonal
Cinta kami sungguh serius
Matematika nya saja yang jual mahal

baca juga:

More Than Words, Karena Cinta Lebih dari Sekedar Kata