Minggu ini benar benar istimewa bagi warga 2.4.1. Sesudah selama tiga semester berpindah- pindah kelas, kini mereka memiliki ruang kelas sendiri yaitu di depan ruang Bintaraloka 2.
Kelas yang dulunya juga dipakai siswa akselerasi ini sudah lama tidak dipakai. Namun dengan kesigapan Pak Imam , Pak Dian dan tim dalam waktu yang tidak terlalu lama kelas bisa dibersihkan dan ditata sehingga sangat nyaman untuk dipakai pembelajaran.
Papan tulis baru, LCD baru bahkan kipas angin baru sudah terpasang cantik menambah nyamannya suasana kelas.
Pemasangan kipas angin, dokumentasi pribadi
Proses pindah kelas dilakukan hari Selasa sore, dengan memindah bangku bersama- sama dari Bintaraloka 2 ke kelas baru.
Doa bersama dipimpin Bu Utien, dokumentasi pribadi
Esoknya di hari Rabu sebelum pembelajaran dimulai, kami semua melakukan doa bersama dengan dipimpin oleh Ibu Utien. Harapannya semoga semua senantiasa diberikan keselamatan dan semakin semangat dalam belajar.
Sebagai wujud rasa syukur, di hari Jumat dilaksanakan tasyakuran pindah kelas. Ya, dalam agama dinasehatkan agar kita banyak bersyukur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ibrahim: 7 yang artinya:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.
Acara tasyakuran dilaksanakan sekitar pukul 9 saat istirahat pertama.
Hadir dalam acara tersebut seluruh siswa dan Bapak/Ibu guru pengajar kelas 2.4.1 . Sambutan dan nasehat disampaikan oleh Bapak Aksan Wakakur SMP Negeri 3 Malang sedangkan doa dipimpin oleh Pak Muhaimin.
Jalannya acara tasyakuran, dokumentasi pribadi
Dalam nasehatnya Pak Aksan menekankan pentingnya rasa syukur dengan cara meningkatkan semangat belajar sehingga warga 2.4.1 bisa lulus dengan nilai yang membanggakan dan bisa masuk SMA yang diinginkan. Sedangkan Pak Muhaimin memimpin doa dengan membacakan doa pindah rumah.
Pak Muhaimin memimpin doa, dokumentasi pribadi Apple
Di akhir acara Bu Ninik menekankan mudah mudahan kelas 2.4.1 bisa lulus dengan nilai yang membanggakan seperti kelas-kelas aksel sebelumnya.
Berfoto bersama, dokumentasi pribadi Apple
Akhirnya ucapan terima kasih disampaikan pada semua pihak utamanya para donatur juga orang tua siswa yang tergabung dalam paguyuban kelas 2.4.1 yang membuat acara ini berjalan dengan baik dan lancar.
Semoga apa yang menjadi harapan kita bersama dikabulkan oleh Allah swt.
Matahari menampakkan wajahnya malu-malu. Sepanjang pagi itu mendung bergantung di atas kota Malang. Padahal pagi itu kami sudah berencana untuk melaksanakan agenda rutin tiap bulan yaitu Jumat Pokja.
Jumat Pokja adalah hari dimana siswa diminta bekerja sesuai pokja atau kelompok kerja masing-masing. Ada banyak pokja yang ada di sekolah . Pokja toga, sanitasi, masjid, Ipal, inovasi teknologi, tanaman hias dan tanaman keras, biopori dan lainnya.
Pokja toga, dokumentasi pribadi
Pada prinsipnya pokja-pokja dibuat agar siswa belajar peduli pada lingkungan sekitarnya. Kepedulian di asah dengan memelihara lingkungan yang ada di dekat siswa yaitu sekolah.
Saya sendiri tergabung dalam Pokja toga dengan jumlah siswa sekitar 25 orang
Sehari sebelum Jumat Pokja sebelumnya briefing sudah dilakukan oleh Bu Utin koordinator lingkungan sekolah pada semua koordinator pokja. Tujuannya adalah agar kerja pokja esok hari lebih terarah lebih-lebih sebentar lagi akan diadakan lomba sekolah sehat.
Pokja aquaponik, dokumentasi Pak Ardilla
Pembelajaran daring dua tahun mempunyai dampak yang luar biasa pada siswa. Tidak hanya pemahaman terhadap konten yang banyak mengalami penurunan, pembiasaan baik juga banyak mengalami penurunan. Sebagai contoh kesadaran terhadap kebersihan sangat kurang , dan kepedulian pada kelestarian lingkungan sekitar juga sangat menurun.
Ya, sesudah dua tahun pandemi kiranya banyak PR yang harus dilakukan sekolah dalam menanamkan kembali kebiasaan baik pada siswa, dan satu di antaranya adalah membangkitkan kembali rasa kepedulian siswa pada lingkungan.
Pokja masjid, dokumentasi P. Muhaimin
Dalam pelaksanaan kegiatan Jumat Pokja kemarin ada banyak hal yang dilakukan siswa. Yang jelas pertama kali kelas dibersihkan bersama -sama. Setelah sekitar dua puluh menit membersihkan kelas, siswa segera berkumpul sesuai pokja masing-masing untuk mendapat briefing dari koordinator pokja.
Setelah briefing pekerjaanpun dimulai di daerah kerja masing-masing. Pokja tanaman menata pot-pot tanaman yang ada di sekolah.
Pokja akuaponik mulai menata kembali akuaponik di sekitar kolam.
Briefing koordinator pokja, dokumentasi pribadi
Pokja sampah melakukan pemilahan sampah dan komposting, pokja sanitasi mengurusi kebersihan kamar mandi dan sekitarnya, pokja toga yang mengurusi berbagai macam tanaman toga, membuat katalog tanaman , juga merencanakan pengolahan toga menjadi produk- produk tertentu.
Sebelum pandemi kami dulu sering membuat minuman jahe, sereh dan kayu manis. Minuman segar berbahan dasar tanaman toga.
Tidak ketinggalan pokja pupuk cair yang memasukkan pupuk dari tong besar kedalam botol-botol kecil dan kembali membuat lagi pupuk cair dari leri (air cucian beras), dan banyak lagi.
Memasukkan pupuk cair dalam botol, dokumentasi pribadi P.DianMembuat pupuk cair, dokumentasi pribadi P. Dian
Ada yang sangat menarik. Pokja hidroponik panen hari itu. Sayuran dalam baskom besar dibawa ke ruang guru dan bapak/ibu guru ramai-ramai membeli sayuran hasil panen tersebut.
Satu ikat sayuran dijual lima ribu rupiah. Lumayan. Disamping mengajar siswa peduli merawat dan mengolah lingkungan, lewat kegiatan ini siswa juga diajak belajar berwirausaha.
Panen pokja hidroponik, dokumentasi pribadi Membeli hasil panen, dokumentasi Bu Yuliana
Aha, itu sedikit cerita kegiatan pokja di Bintaraloka. Banyak tugas yang harus dilakukan sekolah dalam pembelajaran pasca pandemi ini utamanya penanaman kembali berbagai kebiasaan baik yang salah satunya adalah rasa cinta kita pada lingkungan.
Kegiatan masing-masing Pokja, dokumentasi pribadi
Ya, bumi tempat tinggal kita satu-satunya. Kelestarian bumi sangat tergantung pada cara kita merawat dan memeliharanya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit ketika sepeda motor saya berhenti di halaman depan Bintaraloka.
Wih, terlambat ini.. pikir saya..Gara- gara menunggu zoom pagi anak saya selesai, saya jadi tergesa-gesa berangkat menuju sekolah.
Di seberang SMP 3 bus sekolah sudah menunggu dan di dalamnya teman-teman sudah siap berangkat. Ya, hari Minggu ini kami semua akan pergi ke Jember mengunjungi resepsi pernikahan Bu Cahya guru TIK kami.
Duduk di dekat Bu Hastuti, saya langsung disodori Aqua dan nasi kuning. Mantap sekali. Bu Has tahu kalau saya belum sarapan.
Setelah mengecek penumpang, bus siap-siap berangkat. Namun sebelumnya kami semua berdoa dengan dipimpin oleh Pak Muhaimin teriring harapan semoga perjalanan lancar dan kami semua diberikan keselamatan baik saat berangkat maupun saat pulang.
Bus perlahan meninggalkan Bintaraloka. Hari Minggu suasana lalu lintas tak begitu ramai sehingga perjalanan begitu lancar.
Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi
Dalam bus suasana demikian akrab. Lagu-lagu mulai dikumandangkan, beberapa penumpang termasuk saya segera sarapan. Kudapan mulai berseliweran. Ada bentoel, pilus, lepet .. wah, pokoknya semua maknyus.
Ya, kebersamaan membuat makanan apapun terasa nikmat. Lebih-lebih tatkala Bu Any membagi bagikan satu gelas kecil minuman untuk masing- masing penumpang termasuk sopir dan dua orang crewnya.
Minuman penambah semangat, dokumentasi pribadi
Minuman penambah semangat, berupa Fanta dan susu Ultra. Luar biasa…sesudah minum, beliau kuat menyanyi satu album untuk menghibur kami semua.
Rest area Bangil, dokumentasi pribadi
Sekitar Dzuhur kami sampai di desa Semboro Jember. Sholat jama’ dan qoshor dilaksanakan di Masjid KUA desa Semboro.
Masjid KUA Semboro, dokumentasi Cyin Any
Sekitar pukul satu kami tiba di tempat berlangsungnya resepsi. Desa Rejoagung tepatnya. Karena undangan untuk kami adalah jam dua, kamipun dipersilakan beristirahat di rumah tak jauh dari tempat resepsi. Ya, saat itu ada undangan dari kloter tamu yang lain sehingga harus bergiliran.
Tiba di tempat resepsi, dokumentasi pribadi
Istirahat yang berlangsung kira kira 45 menit kami gunakan untuk ngobrol, atau berjalan- jalan di sekitar rumah. Beberapa teman yaitu Pak Vigil, Pak Zaki, Pak Gerry dan Pak Fabi sudah ada tempat acara pernikahan sehari sebelumnya.
Jalan-jalan dan dapat teman baru, dokumentasi Pak AksanRehat sebentar, dokumentasi Cyin Any
Menjelang jam dua kami dipersilakan ke tempat resepsi. Ruangan begitu penuh undangan. Wajah -wajah bahagia tampak di mana- mana, terutama dari wajah kedua mempelai.
Kedua mempelai, dokumentasi pribadi
Sambil menikmati hidangan lagu- lagu mulai dilantunkan sehingga suasana terasa demikian hangat.
Pak Gerry in action, dokumentasi pribadi
Kira kira satu jam kemudian kami berpamitan pulang. Rencana untuk mampir ke pantai, Adira atau ke mall Kencong tidak jadi dilakukan karena perjalanan balik ke Malang memerlukan waktu yang lumayan lama.
Sebagai gantinya kami berbelanja ke pusat oleh-oleh. Banyak belanjaan yang dibawa setelah mampir pusat oleh oleh. Dan yang banyak dibeli oleh bapak/ibu guru adalah tape. Baik tape singkong ataupun proll tape.
Belanja oleh-oleh, dokumentasi pribadi
Hujan mengguyur deras sepanjang perjalanan pulang dari Jember ke Malang. Tapi semua itu tak masalah karena suasana dalam bus demikian hangat. Ya, konser musik yang dilakukan di dalam bus membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan.
Berfoto bersama, dokumentasi Cyin Any
(Tentang konser, saya tulis dalam tulisan saya yang lain)
Ah, sebuah perjalanan manis dari Malang ke Jember.
Akhirnya selamat berbahagia Bu Cahya, semoga senantiasa mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Tuhan, dan bapak/ibu guru yang akan menyusul semoga segera menyusul.. supaya kita semua bisa jalan-jalan lagi.. he..he…
Ini adalah bagian tulisan tentang perjalanan kami untuk menghadiri pernikahan Bu Cahya di Jember.
Perjalanan yang begitu manis, meski jarak yang ditempuh lumayan jauh, namun keceriaan tetap terpancar di wajah-wajah kami, lebih -lebih saat mengadakan konser di atas bus sekolah.
*********
Karaoke dalam bus, dokumentasi pribadi
Usah lagi.. Perpisahan jadi beban di hati… Tak kan lagi.. Ada harapan cinta tuk kembali…
Dengan suaranya ya wow , Ibu Any menyanyikan satu demi satu lagu Nicky Astria dan Anggun C Sasmi. Suara Bu Any yang melengking tinggi menurut saya kira-kira sebelas duabelaslah dengan Nicky Astria.
Begitu miripnya, mungkinkah kalau rekaman nanti Bu Any akan beralih nama menjadi Besty Astria? Entahlah. Yang jelas saya siap menjadi penulis saat launching albumnya nanti.
Nada nada tinggi dari lagu Lentera Cinta, Jarum Neraka, Takut, juga Mata Laki laki dieksekusi dengan manis oleh Bu Any. Tentunya sesekali diselingi dengan gayanya yang agak nakal. Menggoda satu demi satu awak bus, bahkan pak sopir dan crew nya juga.
Itu adalah pemandangan yang terjadi tatkala kami dalam perjalanan pulang dari ‘buwuh’ di Jember.
Mulanya pulang dari Jember kami ingin mampir ke pantai, atau ke mall. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kedua acara diganti dengan belanja oleh- oleh dan… konser!
Konser dalam bus selalu dilakukan saat warga Bintaraloka bepergian. Ya, ada banyak penyanyi handal di Bintaraloka. Sebutlah Bu Diana yang yang suaranya demikian empuk,cocok untuk lagu lagu lembut, semisal Teluk Bayur, Kau Selalu di Hatiku, Andai Kau Datang Kembali dan banyak lagi.
Bu Sri Hastuti, Bu Maria, Pak Zaki juga mempunyai suara yang indah. Pak Vigil yang diam-diam menghanyutkan, namun sayang sekali kemarin tidak ambil bagian dalam konser. Dan yang tak boleh dilupakan, Pak Gerry yang mempesona.. he..he.. yang terakhir ini kelihatannya sudah mulai punya fans di Jember.
Pak Gerry, salah satu penyanyi Bintaraloka, dokumentasi pribadi
Yang sangat memukau penampilannya pada hari itu adalah Ibu Any yang membawakan satu album, sekali lagi satu album lagu -lagu Nicky Astria. Mantap tenan..
Mendengar lagu-lagu Nicky membuat ingatan kami, utamanya yang senior ini langsung terlempar ke masa lalu. Masa di mana musik rock merajai Indonesia.
Lagu- lagu Nicky mempunyai kenangan tersendiri di hati kami masing masing. Lagu Misteri Cinta mengingatkan saya ketika sering latihan basket menjelang turnamen di masa SMA, sementara lagu yang sama mengingatkan Mister pada kenangan ketika menjadi panitia Tujuh Belas Agustusan di kampungnya. He..he.. benar benar lagu top saat itu.
Saat itu penyanyi rock banyak bermunculan. Nicky Astria, Mel Shandy, Anggun C Sasmi, Conny Dio dan banyak lagi. Dari grup musik saat itu yang sangat terkenal adalah God Bless dengan vokalisnya Achmad Albar.
Lagu-lagu saat itu dibuat dengan irama yang menghentak namun syair lagunya demikian melankolis. Tidak percaya? Mari kita cermati lagu ini:
Kala cinta berlabuh di dermaga Kutelusuri karang terjal berliku Tak peduli pasirnya melukai Aku pasrah dalam rangkulnya
Bila cinta berlumur dusta Aku tenggelam dalam keruhnya Sebab dia memberi surya Walau dia perih menyalibku
Pedihnya kemesraan yang dalam Adalah luka karena tikamnya Tetes darah di atas sukacita A-a-a-a-adalah sukarela Di atas getarnya
Aku menjadi bulan atas riaknya Aku menjadi bintang di atas gelombang Aku jadi segala yang diinginkannya Untuk didamparkan di pantai ini
Duh… Jadi ingat masa muda dulu…
Habis satu album, konser dilanjutkan oleh Pak Gerry. Nah, kini saatnya yang muda beraksi . Suasana menjadi semakin gayeng dan santuy terutama saat lagu -lagu kekinian didendangkan.
Sebutlah lagu Ojo Dibanding-bandingke, Kartonyono Medhot Janji, Mendung Tanpo Udan dan lainnya.
Mari kita cermati lagu Mendung Tanpo Udan berikut ini:
Mendung tanpo udan (Mendung tanpa hujan) Ketemu lan kelangan (Ketemu dan kehilangan) Kabeh kuwi sing diarani perjalanan (Semua itu yang dinamakan perjalanan)
Awakdewe tau duwe bayangan (Kita pernah punya angan-angan) Besok yen wis wayah omah-omahan (Besok jika waktunya berumah tangga) Aku moco koran sarungan (Aku baca koran sarungan) Kowe belonjo dasteran (Kamu belanja dasteran)
Nanging saiki wis dadi kenangan (Namun sekarang cuma jadi kenangan) Aku karo kowe wis pisahan (Aku dan kamu harus pisahan) Aku kiri kowe kanan (Aku kiri kamu kanan) Wis bedo dalan (Sudah beda jalan)
Aseeek….
He..he.. saya senyum senyum sendiri. Dua generasi yang berbeda baik dalam gaya maupun selera musik. Semua tetap khas dengan karakter musik masing-masing.
Yang satu menghentak namun melankolis, satunya lagi memandang masalah dengan penuh rasa humor, demikian hangat dan santai.
Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi
Semua indah, dan kolaborasi cantik di antara keduanya membuat konser di atas bus sekolah hari itu terasa demikian manis.
Life is struggle. Sebuah nasehat singkat namun punya makna yang mendalam. Nasehat tentang pentingnya perjuangan bisa kita lihat begitu nyata dalam kehidupan. Lihatlah binatang- binatang kecil juga berusaha keras untuk mendapatkan makanannya.
Semut yang beramai-ramai menggotong makanan untuk disimpan di sarangnya, atau tanaman yang selalu berusaha tumbuh mencari sinar matahari. Semua mengajarkan pentingnya perjuangan untuk hidup.
Dalam upacara pagi ini pembina upacara Ibu Ari mengemukakan bahwa kegigihan untuk berjuang perlu ditanamkan sejak dini agar kita bisa menjadi pemenang dalam kehidupan.
Menjelang keberangkatan ke Kepanjen. Kegigihan berjuang perlu ditanamkan pada siswa , dokumentasi pribadi
Banyak hal yang menunjukkan kurangnya daya juang siswa dalam mengatasi masalah. Dalam pembelajaran maupun pembiasaan yang ada di sekolah. Tapi semua bisa diatasi jika kesadaran untuk meningkatkan daya juang terus dikobarkan dalam benak seluruh siswa .
Perjuangan bukan hal yang mudah, tapi ia akan memberikan hasil yang manis di belakangnya.
Juara 3 OSN IPA, dokumentasi Bu Ahfi
Berkaitan dengan manisnya hasil perjuangan, pagi ini Bintaraloka kembali bertabur prestasi. Prestasi tersebut adalah juara 3 OSN IPA atas nama Dinar kelas 3.6.8, juara 2 catur putri Se Malang Raya atas nama Titah Gayatri kelas 2.2 .1 , juara harapan 1 basket putra se Malang Raya dan juara kata, komite perorangan putra se Jawa timur atas nama Axelle Wildan kelas 3.2.8.
Juara 2 catur se Malang Raya, dokumentasi Bu Ahfi
Sungguh sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Prestasi yang memerlukan perjuangan keras untuk meraihnya, dan mudah- mudahan bisa menjadi inspirasi bagi semua warga Bintaraloka.
Juara harapan 1 Basket se Malang Raya, dokumentasi Bu Ahfi
Ya, life is strugle. Perjuangan yang kita lakukan akan menentukan apakah kita akan menjadi pemenang atau pecundang dalam kehidupan.