Pada bulan Pebruari 2026 tim Pokja inovasi teknologi dan Kompos SMP Negeri 3 Malang melakukan sosialisasi penggunaan eco enzim pada ibu-ibu PKK Kelurahan Bunulrejo Kota Malang.
Sosialisasi dilakukan oleh Ibu Ahfi bersama tim. Dalam acara tersebut dipaparkan tentang apakah eco enzim itu, bagaimana cara membuatnya, serta apa saja manfaatnya bagi kita semua.

Mengapa yang disasar adalah ibu-ibu?. Ibu-ibu sebagai para aktivis utama di dapur, hampir tiap hari berkecimpung dengan masalah sampah.
Ya, dapur adalah penghasil sampah organik yang utama di rumah, seperti kulit buah, sisa sayur, sisa makanan dan lainnya. Jadi melalui kegiatan ini ibu ibu diajak untuk memanfaatkan sisa sampah organik dari dapur untuk dibuat eco enzim.
Apakah ECO enzim itu?
Eco enzyme adalah cairan organik serbaguna limbah dapur (kulit buah/sayuran), gula merah, molase, dan air. Cairan ini diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengolah sampah organik menjadi bahan lain yang bermanfaat.
Cara membuat ECO enzim adalah dengan mencampurkan potongan kulit buah ke dalam larutan gula merah dan molase. Setelah tercampur dalam sebuah wadah, tutup wadah tersebut, dan jangan lupa sering membuka tutup wadah karena selama proses fermentasi akan dihasilkan gas metana.
Setelah tiga puluh hari eco enzim siap dipanen.

Eco enzim bisa dimanfaatkan untuk pembersih lantai, deterjen pakaian, pupuk organik cair, nutrisi tanaman, pestisida nabati alami dan banyak lagi.
Diterangkan oleh Ibu Ahfi ketua Pokja inovasi bahwa pembuatan eco enzim di SMP Negeri 3 Malang akan lebih difokuskan dengan menggunakan bahan utama kulit jeruk dan kulit pisang sebagai limbah utama dari MBG.
Jadi dalam keseharian, sisa sampah MBG berupa kulit pisang dan kulit jeruk tersebut bakal dikumpulkan untuk selanjutnya diolah menjadi eco enzim
Yang menarik selain menjelaskan tentang pembuatan eco enzim, pada ibu-ibu PKK juga dikenalkan kalkulator eco enzim, dimana dengan alat tersebut bisa ditentukan dengan mudah jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat eco enzim dalam jumlah tertentu.



Acara sosialisasi berjalan lancar. Hal ini terlihat dari antusiasme para ibu PKK dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada pemateri.
Akhirnya lebih dari sekadar cairan serbaguna, Eco Enzyme adalah bukti nyata bahwa solusi krisis lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana dan kolektif. Ibu-ibu PKK, sebagai pengelola utama rumah tangga, memiliki peran strategis dalam mewujudkan perubahan untuk bumi yang lebih baik.
Bisa dibayangkan bagaimana jika setiap rumah di lingkungan kita mampu mengolah setengah kilogram sampah dapur menjadi Eco Enzyme, betapa banyak sampah organik yang tidak lagi dibuang ke TPA dan puluhan pohon akan tumbuh lebih subur karena ECO enzim tersebut.
Ya, bumi sebagai tempat tinggal satu satunya harus terus kita jaga kelestariannya untuk kehidupan yang lebih baik untuk sekarang, juga generasi mendatang. Bukankah ada kata bijak yang mengatakan bahwa alam semesta bukan warisan nenek moyang, tapi ia adalah pinjaman dari anak cucu kita yang harus terus kita jaga kelestariannya?
Salam hijau lestari
- Dari Dapur untuk Bumi Lestari: Ketika Ibu-ibu PKK Belajar tentang Eco Enzim - March 7, 2026
- Sumber Belajar Melimpah tapi Motivasi Kian Lemah? Begini Tips untuk Menghadapinya - February 21, 2026
- “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” dan Rumah Sebagai Ruang Kelas Pertama Anak - February 19, 2026