Menjelajah Mutiara Eksotis di Tanah Andalas Bersama 2.4.1

Salah satu kota terkenal di pulau Sumatera adalah Medan. Ya, Medan yang begitu eksotis dengan keindahan alam dan keunikan budayanya dieksplor dengan cantik oleh kelas 2.4.1.

Pagi itu di puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 Malang siswa kelas 2.4.1 bersama sama menyajikan Medan dengan segala pernak-perniknya.

Judul pameran ternyata mengambil acuan dari kata MEDAN. Kata tersebut oleh 2.4.1 di kembangkan menjadi Mutiara Eksotis Di Tanah Andalas. Aih, cantik sekali.

Siap berangkat pawai, dokumentasi Bintaraloka

Judul tersebut dipilih karena kota Medan yang merupakan salah satu mutiara atau pusat keindahan di pulau Andalas (Sumatera)

Persiapan yang dilakukan oleh kelas dalam menghadapi pawai dan pameran sudah dilakukan sejak sebulan sebelum hari H.

Jauh hari mereka sudah membagi tugas sesuai kemampuan setiap siswa dan juga memikirkan konsep yang akan kami  jadikan pameran pada saat HUT SMPN 3 nantinya.

Persiapan pameran, dokumentasi 2.4.1
Pembuatan replika burung beo Nias, dokumentasi 2.4.1
Replika beo Nias, dokumentasi 2.4.1

Sedikit keterangan, bahwa karena menerapkan kurikulum merdeka, kelas 2.4.1 tidak mendapatkan pelajaran seni budaya, namun prakarya. Akibatnya persiapan pameran benar-benar dimulai dari nol. Mereka harus belajar dari awal bagaimana menyiapkan dan mengelola pameran dalam waktu singkat.

Etha, dokumentasi 2.4.1
Ichi, dokumentasi 2.4.1

Adapun maskot pameran kelas ini  adalah Etha (Hiu) dan Ichi (makhluk fantasi). Maskot ini diberi ciri khas topi dari Medan.

Maskot tersebut dipilih karena itu adalah maskot kelas yang menggambarkan karakteristik siswa kelas 2.4.1. 

Etha menggambarkan ketangguhan mereka dalam menghadapi segala rintangan yang ada, sementara Ichi menggambarkan kelembutan serta keunikan siswa kelas ini.

Saat pawai ikon yang dibawa adalah burung beo Nias. Pembuatan burung beo ini mereka lakukan bersama -sama dan memerlukan waktu sekitar satu bulan.

Suasana di stand pameran, dokumentasi 2.4.1
Suasana pameran, dokumentasi 2.4.1

Berbagai karya dipamerkan saat perayaan HUT ke 74 SMP Negeri 3 Malang. Mulai dari lukisan di kanvas, seni lukis kaca, karya tiga dimensi dan banyak lagi.

Permainan dan foto booth rupanya area yang sangat diminati oleh para pengunjung.

Arena permainan , dokumentasi 2.4.1

Sebuah hari yang sangat mengesankan. Meski ilmu tentang pameran baru mereka dapatkan secara singkat  beberapa hari sebelumnya dari Ibu Diana, tapi mereka sudah bisa mengimplementasikan di lapangan.

Sebagian karya pameran, dokumentasi 2.4.1

Berkaitan dengan pameran karya dan pawai budaya ini kelas 2.4.1 berharap agar generasi muda saat ini lebih peduli akan budaya Indonesia yang kaya. 

Mereka juga berharap agar generasi muda terus berperan aktif dalam melindungi serta melestarikan budaya Indonesia.

Salam Bintaraloka 😊

Amorous Padang, Ketika Kelas 9.2 Mengajak Kita Memuja Pesona Kota Padang

Kelas 9.2 benar-benar didominasi oleh warna merah pagi itu. Semua siap untuk mengikuti pawai. Kombinasi merah dan emas membuat suasana tampak begitu cerah.

Beberapa siswa siap membawa replika jam gadang sebagai ikon Kota Padang, sementara yang lain siap dalam barisan.

Sesudah beberapa patah kata sebagai pengantar dari pembawa acara, peserta pawaipun berangkat melalui rute yang sudah ditentukan.

Senyum cerah tampak di mana-mana. Hari ini penampilan siswa benar benar berbeda dari biasanya.

Pawai dengan membawa jam gadang, dokumentasi 9.2

Sementara yang lain pawai, beberapa siswa yang bertugas menjaga stand pameran sudah siap di tempat.

Berbagai persiapan sudah dilakukan sehari sebelumnya dan sekarang tinggal sedikit penyempurnaan di sana- sini.

Pembuatan jam gadang, dokumentasi 9.2

Amorous of Padang. Ini adalah judul pawai dan pameran yang dipilih oleh kelas 9.2.

Yang menarik, proses penemuan judul pameran ini membutuhkan waktu beberapa jam saja. 

Banyak sekali judul-judul pameran yang direkomendasikan, namun pada akhirnya kelas 9.2 memilih judul Amorous of Padang. Aha, sebuah frasa yang menarik!

Siap mengikuti pawai, dokumentasi pribadi

Amorous  artinya “Memuja pesona yang berharga”.

Nah, judul tersebut dipilih karena banyak sekali keindahan dari Kota Padang, meliputi keindahan alam, budaya dan adat istiadat yang membedakannya dengan daerah lain di Indonesia. Keindahan yang harus kita puja dalam arti lain kita jaga dan lestarikan. 

Persiapan dalam acara pameran ini dilakukan melalui berbagai diskusi yang banyak dilakukan saat jam kosong.

Dalam diskusi tersebut dilakukan pembagian tugas sesuai dengan keinginan masing-masing sehingga setiap siswa tidak merasa begitu terbebani.

Pembuatan miniatur Jam Gadang, dokumentasi 9.2
Pembuatan miniatur Jam Gadang, dokumentasi 9.2

Ikon yang dipilih untuk  pawai adalah Jam Gadang, karena menara Jam Gadang tersebut merupakan penanda  atau ikon yang ada di Padang Sumatera Barat.

Pembuatan replika Jam Gadang ini dikerjakan bersama oleh kelas dan memerlukan waktu kurang lebih selama 2 minggu.

Lalu bagaimana dengan Pameran Karya kelas 9.2?

Stand pameran dikunjungi Ibu Kepala Sekolah, sumber gambar: Bintaraloka

Persiapan pameran yang meliputi berbagai macam karya, buku tamu, brosur, poster, buku apresiasi sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Sedangkan penataan tenda dilakukan satu hari sebelumnya.

Proses penataan dilaksanakan bersama -sama mulai pagi hingga malam hari.

Di depan stand pameran, dokumentasi pribadi

Antusias pengunjung untuk melihat pameran karya kelas 9.2 bisa terlihat dari banyaknya yang datang di stand ini. Banyak di antara pengunjung yang sekedar melihat karya ataupun mencoba permainan dan berfoto bersama di area photo booth yang disediakan.

Penjaga stand pameran, dokumentasi pribadi

Sungguh perjalanan karya yang menarik di stand Amorous Padang. 

Lewat pameran ini kelas 9.2 berharap agar generasi muda di masa sekarang maupun yang akan datang terus berusaha melestarikan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam, sehingga  bisa menunjukkan bahwa setiap daerah di Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang demikian menakjubkan.

Gempita Puncak Perayaan HUT ke 74 SMP Negeri 3 Malang

Hari Sabtu (27/4) adalah hari yang sangat dinanti oleh warga Bintaraloka. Betapa tidak? Hari itu adalah puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 yang ke 74. 

Berbagai rangkaian acara diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun ini. Mulai dari doa bersama, bakti sosial, cek kesehatan, senam bersama, dan puncaknya adalah pagelaran seni, pawai budaya dan pameran serta bazaar.

Siap untuk pawai, dokumentasi paguyuban

Acara pagi itu diawali dengan pemberangkatan pawai yang dimulai sekitar pukul setengah delapan. Pawai diberangkatkan oleh Ibu Kepala Sekolah. 

Siap pawai bersama, dokumentasi paguyuban

Untuk kelas sembilan, peserta pawai mengenakan baju adat dan membawa berbagai atribut yang menunjukkan kekhasan daerah masing-masing.

Salah satu peserta pawai, dokumentasi Rayhan

Suasana demikian meriah. Berbagai warna memenuhi jalan yang dilalui peserta. Ada yang membawa replika jam gadang, komodo, burung beo ataupun berbagai rumah adat sebagai pelengkap pawai.

Membawa replika komodo, dokumentasi Addin
Dari daerah Bali, dokumentasi pribadi

Lalu bagaimana dengan kelas tujuh dan delapan? Kelas delapan mengenakan busana dengan tema kerajaan di Nusantara, sedangkan kelas tujuh mengenakan busana rakyat jelata.

Pengguntingan pita, dokumentasi Anggita

Sesudah pawai, di area lapangan basket dilakukan pengguntingan pita sebagai penanda bahwa pameran karya siswa akan dimulai. Ya, di hari itu siswa kelas sembilan mengadakan pameran karya, sedangkan kelas tujuh dan delapan berjualan di stand bazaar masing-masing.

Kelas tujuh dengan tema rakyat jelata, dokumentasi pribadi
Salah satu peserta Bazaar, dokumentasi 8.6

Sementara Bazaar dan pameran berlangsung, di panggung diadakan acara seremonial HUT berupa berbagai sambutan, juga pagelaran karya seni para finalis lomba band, vokal juga tari.

Salah satu tampilan tari, dokumentasi paguyuban
Salah satu tampilan tari, dokumentasi pribadi

Dalam sambutannya Ibu Kepala Sekolah mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua undangan dan berharap lewat HUT yang mengambil tema Sesaji Nagari ini segala perbedaan yang ada di SMP Negeri 3 bisa disinergikan untuk kemajuan sekolah.

Foto bersama, dokumentasi Bu Endah
Bersama ibu guru purna tugas, dokumentasi pribadi buz

Seperti tahun sebelumnya, acara HUT kali ini juga dihadiri oleh perwakilan paguyuban, pengurus komite, bapak/ibu guru purna tugas juga ikatan alumni.

Fashion, dokumentasi pribadi Mr sony

 Selain penampilan para finalis, acara hari itu juga dimeriahkan oleh pagelaran fashion dan drama tari yang dibawakan oleh bapak/ibu guru SMP Negeri 3 Malang.

Tim tari bapak /ibu guru, dokumentasi Anggita

Dalam acara ini juga diumumkan para juara olimpiade MIPAS dan Try Out UKD tingkat SD.

Para juara lomba, dokumentasi Ahfi

Melalui pengundian doorprize, berbagai hadiah menarik di bagi-bagikan pada hari itu, di antaranya berupa mesin cuci, kompor gas, juga sepeda mini.

Penampilan memukau Salwa Jasmin, dokumentasi pribadi

Di akhir acara, semua dihibur dengan penampilan bintang tamu Salwa Jasmine, alumni SMP Negeri 3 Malang tahun 2016. Salwa Jasmine memiliki segudang prestasi utamanya dalam bidang olah vokal, dan sekarang kuliah di FKG Universitas Brawijaya.

Penampilan Kos Atos, dokumentasi pribadi

Suasana semakin hangat ketika seluruh penonton diajak bersama sama menikmati lagu-lagu keroncong bersama Kos Atos.

Hari yang luar biasa. Perhelatan kali ini begitu meriah. Salut sekali pada kerja keras panitia juga kontribusi dari berbagai pihak yang membuat acara ini berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Akhirnya, seperti yang diungkapkan Mister Sony, semoga ke depan SMP Negeri 3 Malang tetap berjaya dan tetap menjadi yang terbaik di kota Malang dengan berbagai prestasi guru dan siswanya..

Lalu bagaimana cerita tentang pameran karya kelas sembilan? Nantikan tulisan berikutnya ya ..🤗

Salam Bintaraloka .

Foto-foto bisa dilihat di reels berikut:

https://www.instagram.com/reel/C6acwMtrw2u/?igsh=MWZhOHIzanl2eHNjZw==

Halal bi Halal di Sekolah, Menabur Empati Memperkokoh Silaturahmi

Setelah satu bulan kita melaksanakan puasa Ramadhan dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, maka sudah selayaknya kita juga meminta maaf atas dosa kita pada sesama manusia agar kita benar-benar terlahir kembali sebagai manusia yang fitri.

Sebagai seorang manusia kita tak bisa lepas dari kesalahan. Ya, dalam berinteraksi dengan sesama selalu terjadi gesekan di antara kita.

Satu tradisi yang selalu dilakukan di bulan Syawal adalah halal bi halal. Tradisi dimana kita bersalam-salaman untuk saling memaafkan. 

Halal bihalal di sekolah, dokumentasi Bintaraloka

Istilah halal bi halal berawal pada sekitar tahun 1948 di mana Presiden Sukarno sangat prihatin atas pertikaian antar para pemimpin politik di Indonesia saat itu. Indonesia yang baru saja merdeka  terancam mengalami desintegrasi jika masalah tersebut tidak segera diatasi.

Atas usul ulama NU, K.H. Abdul Wahab Hasbullah maka pada tahun itu  diadakan pertemuan para pimpinan partai politik dengan memanfaatkan momentum Hari Raya Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan dan menghalalkan segala dosa. 

Sumber gambar: radar96

Kegiatan tersebut dilaksanakan di istana negara dan diberi nama halal bihalal, dan untuk selanjutnya tradisi tersebut terus dilakukan dari tahun ke tahun sampai sekarang.

Hingga kini halal bihalal menjadi acara rutin lembaga-lembaga, kantor ataupun sekolah setiap habis libur Lebaran.

Seperti yang dilaksanakan sekolah kami hari ini, di hari pertama masuk sekolah siswa diajak berhalal bihalal di lapangan sekolah. 

Apel pagi sebelum halal bihalal, dokumentasi pribadi

Halal bi halal pagi ini dilaksanakan seluruh warga sekolah sesudah dilaksanakannya apel pagi. Semua bersalam-salaman untuk melebur segala dosa dan kesalahan. Ya, sekian lama berinteraksi pasti pernah terjadi perbuatan salah baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Sebagai perwujudan dari moderasi beragama di sekolah, halal bihalal diikuti oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya yang beragama Islam saja.  Bukankah agama mengajarkan bahwa selain memperhatikan hubungan kita dengan Allah kita juga harus berbuat baik pada sesama manusia?

Siap bersalam-salaman, dokumentasi pribadi

Halal bihalal adalah sarana untuk menanamkan empati pada diri kita semua.

Mengapa demikian? 

Saling memaafkan dalam kegiatan halal bi halal, memposisikan antara orang yang pernah disakiti dengan orang yang pernah menyakiti dalam derajat yang sama untuk mendapatkan kemuliaan dan pengampunan, sehingga dapat mencairkan kembali hubungan kasih sayang atau silaturahmi antara sesama manusia. 

Halal bihalal sesama siswa, dokumentasi pribadi

Meski hakekatnya memaafkan lebih mulia daripada meminta maaf, saling memaafkan sangat dianjurkan untuk menabur rasa empati dan memperkokoh silaturahmi di antara sesama manusia.

Kemeriahan halal bihalal bisa dilihat di reels berikut ini:

https://www.instagram.com/reel/C6D7SD9rSed/?igsh=ZXdjeHFsaXF

Halal bi Halal Keluarga Besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang

Ikan tengiri di dalam rantang, ketupat dibelah lalu dimakan

Hari raya Idul Fitri telah datang, segala kesalahan mohon dimaafkan 

(Pantun PJ Walikota Malang)

Jumat pagi ini tanggal 19 April 2024 Islamic Center dipadati oleh guru PAUD , SD dan SMP se kota Malang. Ya, bertepatan dengan bulan Syawal hari ke 10 ini Keluarga Besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang mengadakan acara Halal bi Halal.

Tidak ada manusia yang sempurna. Antar sesama kita pasti pernah terjadi saling gesekan dan di hari baik ini saatnya kita saling memaafkan. 

Acara yang diikuti kurang lebih 5172 guru ini langsung dipandu oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan dihadiri oleh PJ Walikota Malang Bapak Wahyu Hidayat.

Acara dimeriahkan dengan hiburan berupa lagu- lagu yang dinyanyikan oleh bapak dan ibu guru, bahkan Bapak Kadinas dan PJ Walikota Malang.

Sesudah doa yang dipimpin oleh Bapak Samsul, acara ditutup dengan bersalam-salaman. 

Harapan semuanya ke depan kota Malang akan senantiasa ‘berselaras untuk terus naik kelas’. 

Akhirnya Selamat Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.