Dari Dapur untuk Bumi Lestari: Ketika Ibu-ibu PKK Belajar tentang Eco Enzim 

Pada bulan Pebruari 2026 tim Pokja inovasi teknologi dan Kompos SMP Negeri 3 Malang melakukan sosialisasi penggunaan eco enzim pada ibu-ibu PKK Kelurahan Bunulrejo Kota Malang.

Sosialisasi dilakukan oleh Ibu Ahfi bersama tim. Dalam acara tersebut dipaparkan tentang apakah eco enzim itu, bagaimana cara membuatnya, serta apa saja manfaatnya bagi kita semua.

Proses pembuatan eco enzim, dokumentasi Bintaraloka

Mengapa yang disasar adalah ibu-ibu?. Ibu-ibu sebagai para aktivis utama di dapur, hampir tiap hari berkecimpung dengan masalah sampah.

Ya, dapur adalah penghasil sampah organik yang utama di rumah, seperti kulit buah,  sisa sayur, sisa makanan dan lainnya. Jadi melalui kegiatan ini ibu ibu diajak untuk memanfaatkan sisa sampah organik dari dapur untuk dibuat eco enzim.

Apakah ECO enzim itu?

Eco enzyme adalah cairan organik serbaguna limbah dapur (kulit buah/sayuran), gula merah, molase, dan air. Cairan ini diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengolah sampah organik menjadi bahan lain yang bermanfaat.

Cara membuat ECO enzim adalah dengan mencampurkan potongan kulit buah ke dalam larutan gula merah dan molase. Setelah tercampur dalam sebuah wadah, tutup wadah tersebut, dan  jangan lupa sering membuka tutup wadah karena selama proses fermentasi akan dihasilkan gas metana.

Setelah tiga puluh hari eco enzim siap dipanen.

Potongan kulit pisang dan kulit jeruk dalam larutan gula marah dan molase, dokumentasi Bintaraloka

Eco enzim bisa dimanfaatkan untuk pembersih  lantai, deterjen pakaian, pupuk organik cair, nutrisi tanaman, pestisida nabati alami dan banyak lagi. 

Diterangkan oleh Ibu Ahfi ketua Pokja inovasi bahwa pembuatan eco enzim di SMP Negeri 3 Malang akan lebih difokuskan dengan menggunakan bahan utama kulit jeruk dan kulit pisang sebagai limbah utama dari MBG.

Jadi dalam keseharian, sisa sampah MBG berupa kulit pisang dan kulit jeruk tersebut bakal dikumpulkan untuk selanjutnya diolah menjadi eco enzim

Yang menarik selain menjelaskan tentang pembuatan eco enzim, pada ibu-ibu PKK juga dikenalkan kalkulator eco enzim, dimana dengan alat tersebut bisa ditentukan dengan mudah jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat eco enzim dalam jumlah tertentu.

Calculator eco enzim, dokumentasi Ahfi
Sosialisasi eco enzim, dokumentasi Bintaraloka
Sosialisasi pada ibu PKK Bunulrejo, dokumentasi Bintaraloka

Acara sosialisasi berjalan lancar. Hal ini terlihat dari antusiasme para ibu PKK dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada pemateri.

Akhirnya lebih dari sekadar cairan serbaguna, Eco Enzyme adalah bukti nyata bahwa solusi krisis lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana dan kolektif. Ibu-ibu PKK, sebagai pengelola utama rumah tangga, memiliki peran strategis dalam mewujudkan perubahan untuk bumi yang lebih baik.

Bisa dibayangkan bagaimana  jika setiap rumah di lingkungan kita mampu mengolah setengah kilogram sampah dapur menjadi Eco Enzyme, betapa banyak sampah organik yang tidak lagi dibuang ke TPA dan puluhan pohon akan tumbuh lebih subur karena ECO enzim tersebut.

Ya, bumi sebagai tempat tinggal satu satunya harus terus kita jaga kelestariannya untuk kehidupan yang lebih baik untuk sekarang, juga generasi mendatang. Bukankah ada kata bijak yang mengatakan bahwa  alam semesta bukan warisan nenek moyang, tapi ia adalah pinjaman dari anak cucu kita yang harus terus kita jaga kelestariannya?

Salam hijau lestari

Belajar untuk Kehidupan, Sebuah Catatan Pelaksanaan Ujian Praktik Sekolah

Awal Pebruari adalah hari yang begitu sibuk di Bintaraloka. Ya, sejak tanggal 2 hingga 9 Pebruari siswa akan menjalani ujian praktik sebagai salah satu syarat kelulusan dari SMP Negeri 3 Malang.

Ujian praktik ini diadakan dalam waktu satu Minggu dan diikuti sekitar 280 siswa. Semua mapel diuji praktekkan dengan menggunakan semua ruang kelas sembilan

Pemandangan berbeda sangat tampak sejak kita masuk dari lorong depan kelas 9.1 di pekan ujian ini. 

Semangat persiapan ujian, dokumentasi pribadi

Semangat! Itu yang terasa di mana-mana.

Di depan ruang- ruang ujian siswa demikian sibuk. Ada yang menyanyikan lagu-lagu wajib, menghafalkan teks dialog, orasi, deklamasi, termasuk juga presentasi tentang pembuatan topeng Malangan.

Semangat persiapan ujian, dokumentasi Bintaraloka
Siap mengikuti ujian, dokumentasi pribadi

Di tempat lain, siswa dalam balutan busana daerah Jawa siap menyajikan drama. Berbagai macam properti disiapkan untuk tampilan kelompok mereka.

Selesai? Belum. Di ruangan lain peralatan band sudah siap untuk dimainkan siswa. Di depan ruang tersebut siswa menyiapkan diri agar bisa tampil maksimal saat mendapat giliran.

Siswa tampak demikian sungguh-sungguh. Tentu saja, mereka ingin mendapatkan nilai yang maksimal sekaligus memberikan persembahan karya yang terbaik untuk sekolah.

Siap ujian praktik matematika, dokumentasi pribadi

Berbagai materi diujikan pada siswa, seperti; peribadatan dan membaca kitab suci (mapel agama), praktik olah raga, uji larutan asam basa dan praktikum ayunan bandul (mapel IPA), penggunaan konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari, keberanian berpendapat dan hafalan lagu wajib ( mapel PKN), membuat vlog “A Day in My Life” ( mapel TIK), termasuk juga membaca deklamasi, dialog juga drama untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.

ujian praktik IPS, dokumentasi Bintaraloka

Kemeriahan ujian praktik sangat terasa ketika kita memasuki area ujian seni dan bahasa. Ya, di sana para siswa bersama kelompok band mereka membawakan lagu-lagu bergenre pop, jazz, rock, hingga dangdut dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Bukan sekedar untuk mencari nilai yang bagus, penyelenggaran ujian praktik memiliki banyak hal baik yang merupakan investasi berharga pada diri siswa. Hal baik tersebut misalnya:

1. Menggali dan Melestarikan Budaya Bangsa 

Melalui ujian bahasa Jawa siswa belajar untuk mencintai warisan leluhur. Lewat drama bahasa Jawa mereka tidak hanya belajar bahasa daerah, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur, unggah-ungguh, tata krama, dan filosofi yang terkandung di dalamnya. 

Deklamasi, ujian praktik Bahasa Indonesia, dokumentasi Bintaraloka
Ujian praktik Bahasa Jawa, dokumentasi Bintaraloka

Melalui puisi dan deklamasi siswa belajar menghargai seni dan sastra. Deklamasi puisi mengajarkan mereka untuk meresapi keindahan bahasa, mengekspresikan perasaan, dan memahami makna mendalam dari setiap rangkaian kata. Hal tersebut menumbuhkan kepekaan estetika dan emosional.

2. Membangun Karakter dan Mental yang Tangguh 

Dengan ujian praktik olah raga, orasi, presentasi dan dialog siswa belajar tentang keberanian, rasa percaya diri sekaligus bagaimana berkomunikasi di depan orang banyak. Lewat kegiatan ini juga mereka belajar tentang sportivitas, kerjasama tim, merayakan kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada.

Persiapan ujian praktik PJOK, dokumentasi pribadi
Dialog, ujian praktik Bahasa Inggris, dokumentasi Bintaraloka

 3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif 

Lewat ujian matematika mereka belajar bagaimana menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Matematika realistik mengajarkan siswa bahwa matematika tidak hanya tentang rumus di kertas, tetapi ada di mana-mana. 

Matematika realistik , dokumentasi pribadi

Lewat ujian di laboratorium siswa belajar bagaimana mengasah keterampilan proses sains, mulai dari  merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan. 

Ini melatih mereka untuk berpikir logis, sistematis, dan tidak mudah percaya pada informasi tanpa bukti.

Ujian praktik IPA, dokumentasi Bintaraloka

Tidak semua eksperimen akan langsung berhasil, dari sini siswa juga akan belajar dari kegagalan. Mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, dan akan segera melakukan perbaikan.

4. Menanamkan Nilai-nilai Spiritual dan Sosial

Lewat ujian praktik agama siswa belajar untuk memperdalam penghayatan agama sekaligus toleransi dan saling menghormati. Ya,  lingkungan sekolah yang beragam membuat ujian agama dilakukan bermacam-macam sesuai dengan agama yang dipeluk siswa.

Siswa dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Membaca Al Quran , dokumentasi Bintaraloka

Akhirnya secara keseluruhan, rangkaian ujian praktik ini mengajarkan satu hal yang sangat mendasar bahwa belajar adalah untuk kehidupan, bukan hanya untuk ujian.

Lewat kegiatan ini siswa belajar menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual , tetapi juga terampil dan berkarakter baik. 

Ujian praktik PKN, dokumentasi Bintaraloka

Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Ketika Surat Cinta Bercerita 

Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.

Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.

Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum. 

Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta. 

Tentang Surat Cinta

Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa.  Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.

Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.

Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.

Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.

Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.

Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana skenarionya?

Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.

Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.

Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.

Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.

“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.

Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.

“Untuk bunda,”

“Buat ayah tercinta”

“Dariku untuk bunda,”

Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.

“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.

“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.

“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.

Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya

Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.

Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial. 

Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk  masa depan anak yang lebih baik.

Membuat Topeng Malangan, Bukan Hanya Tentang Mencintai Budaya Malang dan Kearifan Lokal

“Terima kasih Eyang Gatot,”

Demikian yang diucapkan siswa ketika sebuah sesi kegiatan kokurikuler berakhir. 

Sesudah kurang lebih selama sembilan puluh menit siswa diajak belajar tentang sejarah dan filosofi topeng Malangan bersama, acara hari itu ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, guru pendamping dan narasumber.

Belajar sejarah dan filsafat topeng Malangan adalah salah satu sesi kegiatan siswa pada kegiatan kokurikuler. Kegiatan yang fokus pada pembangunan karakter siswa kali ini mengambil tema pembuatan topeng Malangan dan difokuskan pada siswa kelas sembilan.

Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi Topeng peng Malangan sangat penting agar siswa bisa lebih memahami dan menghayati cerita di balik keunikan topeng Malangan, sekaligus lebih menghargai topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara.

Bapak Gatot Kasujono narasumber hari itu adalah seorang seniman sekaligus kolektor topeng Malangan. Beliau menggeluti dunia topeng sejak tahun 1986, dan sampai sekarang memiliki sekitar 1500 koleksi topeng.

“Semua karena tidak sengaja,” tutur Pak Gatot ketika saya bertanya kenapa tiba-tiba jatuh cinta pada Topeng Malangan.

Berawal ketika beliau mendapat tugas untuk kuliah di Jogjakarta sekitar tahun delapan puluhan. “Saya kuliah di Geodesi,” kata Pak Gatot lagi.

“Lha.., dari Geodesi ke Topeng Malangan sepertinya jauh jaraknya ya, Pak?” tanya saya yang disambut dengan tawa Pak Gatot.

Berbincang dengan Pak Gatot , dokumentasi Buz

“Ketika itu saya kan kos, Bu. Nah, pas libur saya merasa bosan, tidak ada yang dikerjakan( istilah sekarang mungkin gabut) di kos kosan, dan akhirnya diajak teman jalan jalan ke Gunung Kidul. Di sana saya menemukan sebuah kampung di mana kegiatan penduduknya mayoritas adalah pembuat topeng. Dari situ rasa cinta saya pada topeng berawal.”

Kecintaan pada topeng diwujudkan Pak Gatot dengan terus belajar. Beliau pernah belajar pada generasi ke empat dari Mbah Moen, seorang maestro Topeng Malangan dari sanggar Asmorobangun Pakisaji Malang.

Setelah pensiun dari Perhutani, Pak Gatot terus aktif di membuat topeng Malangan dan setiap tahun diundang menjadi narasumber Topeng Malangan di SMP Negeri 3 Malang.

Dalam penjelasan pada siswa siang itu  Pak Gatot menerangkan bahwa Topeng Malangan adalah seni tradisional dari Malang, Jawa Timur, berupa seni pertunjukan drama tari yang menggunakan topeng kayu berkarakter. 

Seni ini sudah ada sejak zaman  kerajaan kuno dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta religiusitas yang tinggi. Topeng Malangan sering dipentaskan dengan mengangkat cerita, dengan pementasan yang mengangkat cerita-cerita seperti Panji. 

Warna warni Topeng Malangan mempunyai filosofi tersendiri, sumber gambar: Radar Malang

Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan, contoh : warna merah melambangkan watak pemberani dan pemarah (misalnya, Klana Sewandana), warna putih menggambarkan watak suci, lembut, dan baik hati (misalnya, Dewi Sekartaji), hijau menggambarkan sifat baik hati (misalnya, Panji Asmoro Bangun), kuning menggambarkan watak senang dan gembira (misalnya, Dewi Ragil Kuning) dan warna hitam melambangkan kebijaksanaan.

Acara pemberian materi sejarah dan filosofi topeng Malangan ini berlangsung hangat, lebih-lebih ketika di sela sela acara, seorang siswa dari ekskul menari maju memperagakan tari topeng Bapang 

Antusias siswa ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dari siswa yang dijawab satu persatu oleh narasumber.

Siswa menarikan tari Topeng, dokumentasi Buz
Siswa banyak bertanya di sesi pemberian materi, dokumentasi pribadi

Ya, dedikasi serta rasa cinta Pak Gatot pada topeng Malangan membuat beliau sabar meladeni pertanyaan anak- anak.

“Semoga semakin banyak anak anak yang cinta Topeng Malangan, dan pembuatan topeng supaya diikuti dengan pagelaran tari topeng agar filosofinya semakin terasa,” ungkap Pak Gatot di akhir perbincangan kami hari itu.

Pagelaran Tari Topeng Malangan, sumber gambar: Hotel Tugu Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan

Menjelang pukul dua Pak Gatot segera berpamitan. Kami mengantar beloau sampai depan parkiran. Semangat yang luar biasa. Di usianya yang ke 72, beliau masih naik sepeda motor sendiri dari Jl. Dr Cipto menuju Sawojajar dua.

Hari yang luar biasa. Hari ini kami semua belajar bahwa membuat  topeng Malangan bukan hanya tentang mencintai budaya dan kearifan lokal. Tapi lebih dari itu, ada banyak pelajaran tentang  kesabaran, kesetiaan  dan ketekunan  di dalamnya.

Pramuka Bintaraloka Raih Berbagai Kejuaraan pada Event Grapika.com

Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi suasana. Rasa lelah pun sirna ketika Barakacem (Barakuda Cempaka), regu Pramuka dari SMP Negeri 3 Malang, berhasil meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi Grapika.com yang digelar di SMK Negeri 4 Malang pada hari Sabtu, 27 Desember 2025.

Lomba Grapika.com sendiri merupakan ajang untuk Pramuka Penggalang se-Malang Raya yang diadakan oleh Pramuka Pandugrafika, dengan partisipasi dari 27 regu yang mewakili 22 pangkalan.

Briefing oleh pelatih dan pembina, dokumentasi Pramuka

Benarlah bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Setelah menjalani latihan sekitar satu bulan, sederet prestasi berhasil ditorehkan oleh Pramuka Bintaraloka, antara lain:

· Juara Umum Pangkalan Terbaik
· Regu Tergiat 1 Putra
· Regu Tergiat 1 Putri
· Juara 1 Battle yel
· Juara 1 Gravie
· Juara 1 Komik Bercerita Putra
· Juara 1 SSC Putra
· Juara Madya 3 SSC Putri
· Juara Madya 1 Pionering
· Juara Madya 1 Komik Bercerita Putri
· Juara Madya 2 SMS Putri
· Juara Madya 3 SMS Putra

Suasana lomba Grapika.com

Satria, salah satu peserta yang mengikuti lomba pioneering, yel, dan battle, mengungkapkan bahwa ajang ini sangat menyenangkan. Grafika merupakan salah satu event yang sangat dinantikan, sekaligus menjadi lomba terakhirnya di jenjang SMP.

Selain sebagai wadah meraih prestasi, kegiatan ini juga memperkuat ikatan kebersamaan dalam keluarga besar Pramuka Bintaraloka.

Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Pramuka in action, dokumentasi Pramuka

“Melalui kegiatan ini, kami membuktikan perjuangan kami di berbagai bidang. Susah dan senang kami jalani bersama. Apapun hasilnya, sukses atau tidak, kami terima dengan lapang dada karena yang terpenting adalah evaluasi untuk perbaikan,” tambah Satria.

Harapannya ke depan Dewan Galang Pramuka Bintaraloka dapat terus menjaga “Korsa”, yaitu semangat kebersamaan dan solidaritas, serta selalu berusaha maksimal untuk mencapai tujuan.

Pramuka Bintaraloka in action, dokumentasi Pramuka

Selamat kepada Barakacem, para pelatih, dan pembina. Semoga kemenangan ini dapat memotivasi siswa lainnya untuk terus berprestasi.

Salam Pramuka.