Jumat (23/10) siang itu cuaca begitu panas. Jam menunjukkan pukul satu lebih dan siswa dengan seragam pramuka lengkap,serta berbagai peralatan dalam tas ransel besar siap melaksanakan agenda kegiatan Kemah Blok 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini adalah agenda tahunan sekolah dan kali ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan Forest Park Precet, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Dengan truk TNI dan Polresta peserta berangkat dari sekolah pukul 14.00 wib. Peserta meliputi siswa kelas IX, dewan Galang, , pendamping siswa, panitia juga para pelatih Pramuka.
Persiapan berangkat, dokumentasi pribadi
Begitu sampai di bumi perkemahan pendirian tenda dilaksanakan. Apel pembukaan dilaksanakan sekitar pukul 16.00 dengan pembina Kak Herianto dan pratama dari dewan galang.
Dalam sambutannya Kak Herianto mengajak semua peserta untuk melaksanakan semua kegiatan sebaik-baiknya agar bisa mengambil manfaat maksimal dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dalam laporan hari itu, ketua panitia pelaksana Kak Yuliana Damayanti menyampaikan bahwa Kemah Blok kali ini diikuti oleh 283 siswa putra dan putri SMP Negeri 3 Malang.
Kak Mubin mempersiapkan apel, dokumentasi pribadi
Dengan tema Bertumbuh Bersama, Mandiri dalam Berkarya, Peduli Lingkungan dan Sesama, kegiatan Kemah Blok diisi dengan berbagai acara seperti: ketrampilan pendirian tenda, pensi, renungan malam, sholat berjamaah, senam bersama juga jelajah medan sekitar bumi perkemahan.
Acara pensi menjadi acara yang begitu meriah dan sangat ditunggu. Betapa tidak? Siswa sudah menyiapkan diri untuk pentas di acara ini dengan latihan di sela-sela kegiatan kokurikuler mereka.
Pensi, dokumentasi pribadi
Hasilnya tak sia-sia. Berbagai penampilan yang kompak menghiasi pensi pada malam hari itu.
Sekitar jam 24.00 malam semua acara dihentikan dan seluruh peserta beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk kegiatan pada pagi harinya.
Kegiatan pagi tak kalah menarik. Lomba memasak adalah sebuah momen yang seru dan menyenangkan. Berbagai jenis masakan dibuat oleh masing-masing regu sesuai kreatifitas masing-masing. Selain dilombakan, hasil masakan juga dipakai sarapan oleh tiap regu.
Proses memasak , dokumentasi pribadi
Berbagai kreasipun tercipta. Ada nasi goreng, cream soup, sop sayur, bihun dan banyak lagi. Semua tampak lezat dengan plating yang cantik.
Lomba memasak , dokumentasi pribadi
Sesudah giat lomba memasak acara dilanjutkan dengan jelajah alam sekitar dan outbond. Lewat kegiatan ini karakter mental siswa benar-benar dilatih. Kekompakan, setia kawan, kerjasama, termasuk juga ketangguhan mereka dalam menghadapi rintangan.
Setelah semua kegiatan selesai, sekitar pukul setengah satu apel penutupan dilaksanakan dengan pembina apel Kak Teguh Edy Purwanta.
Outbond, dokumentasi pribadi
Harapan Kak Teguh semoga kegiatan Pramuka ini bukan hanya sekedar belajar di luar sekolah dan dekat dengan alam, tapi tetap menanamkan pendidikan karakter dalam berbagai kegiatannya.
Kemah Blok boleh berakhir, tapi karakter baik yang ditanamkan harus selalu diingat dan diamalkan siswa dalam kehidupan mereka.
Sesudah apel dilaksanakan pengumuman juara lomba pensi, lomba memasak, termasuk juga kelas yang tergiat. Applaus tak henti- henti menyemangati para regu yang mendapatkan juara.
Pemenang pensi terbaik, dokumentasi pribadi
Ya, hari itu semua gembira. Kalah menang itu biasa. Yang penting semua bisa ikut tertawa bersama merayakan kebersamaan dan mengukir cerita indah bersama kawan kawan tercinta.
Kerja keras panitia dan dewan galang sehingga acara Pramuka Blok ini bisa berjalan dari awal hingga akhir benar-benar patut diapresiasi.
Akhirnya selamat tinggal Bumi Perkemahan Forest Park Precet. Sungguh ada banyak cerita yang tak terlupakan hari itu. Namun perlu kita pahami bersama bahwa Pramuka Blok boleh berakhir, tapi karakter baik yang ditanamkan harus selalu diingat dan diamalkan siswa dalam kehidupan mereka.
Suara gamelan menghiasi Bintaraloka pagi itu. Beberapa siswa bergerak selaras irama. Senyum bertebaran di mana-mana.
Baju mereka yang berwarna merah, kuning, hijau, hitam membuat suasana kian semarak.
Sementara itu di depan panggung siswa yang lain tampak begitu sibuk. Aroma hidangan begitu menggoda membuat rasa lapar kian merajalela.
Stand dengan tema masakan Sumatera Selatan, dokumentasi Buz
Siswa dengan baju adat warna-warni menawarkan dagangan di meja, sementara yang lain membeli dan mencicipi dagangan berupa aneka makanan dan minuman Nusantara.
Tidak berhenti sampai di situ, di ruang-ruang kelas yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat pameran, para siswa kelas sembilan sibuk menerangkan pada para pengunjung tentang bangunan bersejarah di kota Malang, makanan khas juga budaya Malang.
Aha.., hari itu, Kamis 22/10, Bintaraloka sedang melaksanakan perayaan Kokurikuler semester gasal 2026/2027.
Acara yang dimulai tepat pukul delapan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Bapak Suwarjana SE, dan Bapak Anton Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang.
Kunjungan Pak Kadin, dokumentasi Tyas
Dalam sambutan pagi itu Bapak Suwarjana menjelaskan tentang pentingnya kerjasama dan komunikasi yang baik antara orang tua dan masyarakat sehingga berbagai kegiatan sekolah bisa terlaksana sesuai yang diharapkan.
Sementara itu Bapak Anton menyampaikan selamat atas terselenggaranya kegiatan perayaan kokurikuler dan berharap mudah mudahan budaya berprestasi terus terpateri dalam diri siswa SMP Negeri 3 Malang.
Ada tiga acara besar dalam kegiatan ini yaitu pentas sendratari , bazaar dan pameran kelas. Sendratari dilaksanakan di panggung, Bazaar di lapangan dan pameran di masing-masing kelas.
Penampilan salah satu kelas, dokumentasi pribadi Tyas
Acara yang didukung oleh paguyuban masing-masing kelas ini menunjukkan effort siswa yang luar biasa dalam usaha untuk memberikan tampilan terbaik mereka di hadapan teman maupun orang tua.
Persiapan untuk acara besar ini dilaksanakan sejak awal pelaksanaan Kokurikuler, Senin (11/10) hingga Rabu (20/10). Melalui berbagai tahapan seperti latihan tari, praktik memasak juga ODL, akhirnya siswa bisa menyelesaikan tugas akhir mereka yang dituangkan dalam perayaan hari Itu.
Dalam perayaan kokurikuler kali ini kelas tujuh mengambil tema Senaloka (Seni dalam panggung budaya Bintaraloka). Setiap kelas membawakan sendratari yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti; Jawa Timur, Jawa Tengah, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa Barat, NTT, Maluku.
Siap untuk tampil, dokumentasi pribadi Siap untuk tampil, dokumentasi pribadi
Melalui Bintaraloka Traditional Foodfest, siswa diajak mencintai bangsa melalui cita rasa. Berbagai kegiatan yang dilakukan selama satu minggu lebih akhirnya membawa siswa ke puncak acara peringatan kokurikuler yaitu bazaar dengan tema makanan dari berbagai daerah di Nusantara, yaitu Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah juga Kalimantan Selatan.
Harapannya semoga kegiatan kokurikuler Senaloka, Food Festival, dan Heritage SMPN 3 Malang ini menjadi ruang belajar yang bermakna, menggembirakan, dan kontekstual.
Pameran dengan tema Malang Heritage membuat para pengunjung sejenak bernostalgia sambil belajar tentang bangunan bersejarah di kota Malang.
Lewat replika bangunan, makanan asli tiap kelas mengajak pengunjung memahami lebih dekat budaya kota Malang tercinta.
Dalam pameran ini kita bisa mengetahui sejarah bakso, putu, atau jajanan pasar. Rumah Jengki, Balai Kota juga tidak luput diabadikan anak anak lewat replika yang mereka buat.
Salah satu stand pameran, dokumentasi pribadi
Satu hal yang patut diacungi jempol adalah kolaborasi antar siswa dalam kelas yang luar biasa, juga yang menjadi catatan penting adalah para penjaga pameran bisa memaparkan obyek yang dipamerkan dengan begitu percaya diri. Tidak sia-sia rasanya mereka melaksanakan dua kali ODL sebelum pelaksanaan pameran ini.
Tampilan siswa kelas tujuh, dokumentasi Selviska
Harapannya kegiatan kokurikuler Senaloka, Food Festival, dan Heritage SMPN 3 Malang ini menjadi ruang belajar yang bermakna, menggembirakan, dan kontekstual.
Anak-anak tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kreativitas, kemandirian, kolaborasi, serta kecintaan terhadap budaya dan warisan sejarah.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah perayaan, tetapi menjadi pengalaman belajar yang membentuk karakter, memperkuat identitas Bintaraloka, dan menumbuhkan kebanggaan sebagai generasi penerus bangsa,” kelas Pak Teguh Kepala SMP Negeri 3 Malang.
Ketika kita berkeliling kota Malang, pernahkah kita memikirkan apa sejarah di balik keindahan Balai Kota? Jalan Ijen atau Kayutangan? Bagaimana rencana tata kota di zaman dulu sehingga Malang bisa tertata seperti sekarang ini?
Betapa banyak bangunan atau tempat bersejarah yang kita lalui tiap hari, tapi kita sendiri sebagai warga Malang tidak tahu cerita apa yang ada di balik bangunan tersebut.
Berkaitan dengan dengan hal tersebut, maka salah satu kegiatan dari kokurikuler kelas sembilan yang mengambil tema ” Malang Heritage”, mengundang seorang pemerhati sejarah untuk memberikan paparan tentang berbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kota Malang.
Acara yang berlangsung sekitar dua jam ini dilaksanakan pada hari Kamis (15/10), dan diikuti sekitar 280 siswa dengan narasumber Pak Irawan, seorang pemerhati sejarah yang merupakan Arema asli.
Siswa mengajukan pertanyaan tentang bangunan bersejarah di Kota Malang, dokumentasi pribadi
Acara demikian gayeng. Siswa mengikuti semua penjelasan narasumber sembari membuat catatan. Ada rasa takjub ketika melihat foto-foto di masa lalu. Betapa sepi dan indahnya kota Malang saat itu. Seperti dalam dongeng, mungkin itu yang terbersit dalam benak mereka.
Narasumber membuka penjelasan dengan sebuah pertanyaan apakah siswa tahu akan sejarah SMP Negeri 3 Malang?
SMP Negeri 3 Malang, dulu bernama MULO Wilhelmina, sumber gambar: koleksi Bintaraloka
Sekilas sejarah SMP Negeri 3 Malang, dulu sekolah ini bernama MULO Wilhelmina. Dan dinamakan Wilhelmina karena berlokasi di Jalan Wilhelmina yang kemudian berubah menjadi jalan Dr Cipto.
“Jalan Wilhelmina ini adalah distrik pertama yang dibangun di Kota Malang,” lanjut Pak Irawan.
Dijelaskan lebih lanjut, pembangunan tata ruang Kota Malang telah dikembangkan sejak era kolonial Belanda.
Pengembangan tata kota ini dibuat berdasarkan Bouwplan atau rencana pembangunan kota. Bouwplan di Malang dirancang oleh kotapraja Malang dengan memanfaatkan perspektif kedudukan gunung di sekeliling dan sungai yang membelah kota. Rancangan tata kota ini menjadi rancangan kota terbaik di Hindia Belanda saat itu.
Delapan Blouwplan untuk pengembangan Kota Malang saat itu meliputi:
Pelaksanaan Blouwplan I dimulai pada Mei 1917 yaitu dengan keputusan untuk membangun perumahan bagi orang Eropa. Perumahan baru ini dinamakan Oranjebuurt atau daerah Orange yang dihuni keluarga kerajaan Belanda. Ini adalah perumahan pertama di Malang.
Daerah Oranjebuurt banyak menggunakan nama anggota keluarga kerajaan Belanda sebagai nama jalan. Mulai Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Dr Cipto), Juliana Straat (Jalan RA Kartini), Emma Straat (Jalan Dr Sutomo), Willem Straat (Jalan Diponegoro), Maurits Straat (Jalan MH Thamrin) hingga Sophia Straat (Jalan Cokroaminoto).
Perencanaan tata kota selanjutnya adalah Blouwplan II yang difokuskan untuk kawasan pusat pemerintahan yang mulai dibangun pada tahun 1922. Kawasan ini dinamai Gouverneur-Generaalbuurt yang meliputi Gedung Balai Kota Malang, Alun Alun Tugu Kota Malang, Hotel Splendid hingga sekolah SMA Negeri Tugu.
Kawasan ini banyak menggunakan nama gubernur jenderal terkenal era Hindia Belanda seperti Daendels boulevard (sekarang Jalan Kertanegara), Van inhoff straat (Jalan Gajahmada), Speelman straat (Jalan Majapahit), Maetsuucker straat (Jalan Tumapel), Riebeeck straat (Jalan Kahuripan), Van Oudthoorn straat (Jalan Brawijaya), Idenburg straat (Jalan Suropati), Van den Bosch (Jalan Sultan Agung), Van Heutz straat (Jalan Pajajaran) hingga Van Der Capellen Straat (Jalan Sriwijaya).
Bouwplan III menjadi rencana perluasan kota berikutnya, yaitu pembangunan kawasan pemakaman untuk orang Eropa di Kecamatan Sukun yang kini dikenal sebagai Kuburan Londo. Luasnya mencapai 3.740 meter persegi.
Kuburan Londo Sukun , Sumber gambar: Telusuri
Bouwplan IV dilaksanakan mulai tahun 1920 dengan pembangunan perumahan kelas menengah ke bawah di daerah Celaket dan Lowokwaru.
Pembangunan Jalan Ijen, kawasan olah raga di kawasan Semeru masuk dalam Bouwplan V. Prencanaan tata kota dalam Blouwplan V ini ini kental akan pertemuan jalan besar dengan hiasan taman bunga.
Bouwplan VI pada 1932-1940 dimulai dengan pembangunan perumahan Eilandenbuurt atau daerah pulau pulau. Seperti Jalan Lombok, Jalan Jawa, Jalan Sumba, Jalan Flores, Jalan Madura, Jalan Bali, Jalan Kangean, Jalan Bawean, Jalan Sapudi hingga Jalan Seram.
Selain itu, pasar pasar rakyat seperti Pasar Bunul, Pasar Kebalen, Pasar Oro oro Dowo, Pasar Embong Brantas, Pasar Lowokwaru, Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo menjadi bagian dari Bouplan VI yang dibangun pada tahun 1932 hingga 1940.
Jalan Semeru, sumber gambar: Best Juliant
Bouwplan VII menjadi perencanaan lanjutan dari Bouwplan V yang dimulai pada 1940. Pembangunan ini menjadi pengembangan kawasan Jalan Ijen, yakni dengan dibangunnya perumahan elit.
Terakhir, Bouwplan VIII yang dimulai pada 1935-1942 dengan area seluas 179.820 meter persegi. Area ini dibangun untuk kawasan industri yang lokasinya dekat dengan jalur rel kereta api. Kawasan industri itu bisa ditemui di wilayah sekitar Stasiun Kota Lama dan area perluasannya di Blimbing yakni di Jalan Tenaga.
Pembangunan ala kolonial Belanda ini akhirnya berhenti seiring dengan masuknya Jepang ke Malang pada 1942, dan selanjutnya pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.
Sebelum acara tanya jawab narasumber juga menjelaskan tentang Monumen Pahlawan TRIP yang merupakan makam dari 35 Tentara Republik Indonesia Pelajar yang gugur dalam agresi militer Belanda pada bulan Juli 1947.
Monumen Pahlawan TRIP, dokumentasi pribadi
Tanya jawab dan diskusi berlangsung sangat menarik. Pak Irawan beberapa kali memberikan pertanyaan yang langsung dijawab dengan antusias oleh anak- anak.
Beberapa pertanyaan juga muncul dari anak anak. Misal mengapa dinamakan Kota Malang? Mengapa beberapa sekolah Zaman Belanda memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan?
Belajar sejarah adalah sebuah cara yang hangat untuk mencintai kota tempat tinggal kita.
Sebuah pembahasan menarik muncul juga tentang jembatan Buk gluduk.
Ya, jembatan yang berdekatan dengan stasiun Kota Baru ini masih kokoh berdiri sejak dibangun tahun 1890-1897. Dinamakan Buk gludug karena jembatan kayu ini berbunyi ‘gludug-gludug’ ketika dilewati pedati atau cikar. Kata ‘buk’ berasal dari kata ‘brug’ dalam bahasa Belanda yang artinya jembatan. Alhasil, jembatan inipun dinamakan ‘Buk Gludug’.
Jembatan buk gluduk, dokumentasi Pak Ir
Hari yang luar biasa. Antusias siswa, kesabaran narasumber dalam menjawab pertanyaan serta memberikan paparan adalah chemistry yang sangat mengasyikkan untuk bersama-sama belajar sejarah Kota Malang.
Di balik tempat tempat yang hampir tiap hari kita lalui, ternyata banyak tersimpan cerita yang mungkin belum kita ketahui. Adalah penting untuk mengetahui sejarah kota kita. Tahu sejarah membuat kita merasa menjadi bagiannya, bahkan mencintainya, karena belajar sejarah adalah sebuah cara yang hangat untuk mencintai kota tempat tinggal kita.
Suasana di depan gerbang pintu masuk Mpu Purwa demikian ramai. Beberapa mikrolet datang ngedrop anak-anak yang akan melakukan kunjungan ke pameran hari itu.
Suasana sedikit crowded sampai ketika kami sekelas demi sekelas mulai masuk area pameran.
Ya, hari Selasa (13/10) siang itu kami mengunjungi Pameran Bersama Temporer 8 Museum yang diadakan di Museum Mpu Purwa Malang.
Kunjungan yang kami lakukan hari itu adalah bagian dari kegiatan kokurikuler kelas 9 yang mengambil tema Malang Heritage. Kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih memahami sejarah Malang dan pada akhirnya mereka lebih cinta akan Kota Malang sebagai tempat tinggal mereka.
Tentang Pameran Museum di Mpu Purwa
Siap berangkat ke Museum Mpu Purwa, dokumentasi pribadi
Pameran bersama ini diikuti oleh delapan museum di Malang Raya. Mengusung tema Perjalanan Waktu dan Jejak Peradaban Malang Raya, dalam pameran ini dihadirkan koleksi serta informasi sejarah dari Museum Mpu Purwa, Museum Singhasari, Museum Ganesya, Museum Brawijaya, Museum Pendidikan, Museum Musik, Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK, dan Museum Karmel Padmawiyata.
Saya yang orang Malang asli merasa sangat surprise. Sungguh tak menyangka jika Malang ternyata punya museum sebanyak ini.
Suasana pameran , dokumentasi pribadi
Setelah masuk area pameran, anak anak pun menyebar ke masing masing stand museum untuk mencatat berbagai informasi menarik yang mereka dapatkan di sana.
Saya sendiri memulai perjalanan dari Museum Musik Indonesia. Museum yang berlokasi di Jl Sukarno Hatta ini menghadirkan poster para seniman musik kota Malang, seperti Silvia Saartje, Ian Antono dan Sal Priadi.
Silvia Saartje adalah lady rocker di kisaran tahun 70-80, Ian Antono adalah gitaris God Bless yang ngetop di era 80-90 an dan Sal Priadi adalah penyanyi yang masih eksis hingga saat ini.
Sylvia Saartje, Sal Priadi dan Ian Antono, dokumentasi pribadi
“Wah, luar biasa ini suaranya,” komentar saya sambil mendekati poster Sang Lady Rocker.
“Benar, serak- serak begitu ya,” jawab penjaga stand museum. Pembicaraanpun semakin asyik, melantur kesana-kemari, baik tentang penyanyi maupun grup band lawas yang pernah terkenal di masa lalu.
Di stand Museum Musik Indonesia , dokumentasi pribadi
“Ian Antono ini gitarisnya God Bless,” kata penjaga stand.
“Wah, benar. Ruame dulu konsernya di stadion Gajayana,” timpal saya.
Ya, ketika itu God Bless adalah band yang banyak digemari. Konsernya selalu membludak. Dengan hitsnya seperti Kehidupan, Semut Hitam, God Bless benar benar merajai musik di tanah air saat itu.
Dari stand Museum Musik saya berjalan ke stand Museum Pendidikan dan Museum Karmel Padmawiyata.
Di Museum Pendidikan kami disuguhi aneka koleksi mata uang baik dari Indonesia maupun negara lain. Berbagai koleksi tersebut diletakkan dalam sebuah album.
Siswa mengamati koleksi mata uang, dokumentasi pribadi
Sambil membuka lembarannya satu persatu, pengunjung bisa bertanya berkaitan dengan koleksi mata uang tersebut.
Di stand Museum Karmel Padmawiyata yang tak jauh dari Museum Musik, kami bisa melihat lembaran Injil kuno yang masih menggunakan Bahasa Latin.
Menurut keterangan, Injil tersebut dulunya masih sering dipakai beribadah pada zaman Belanda.
Museum Karmel Padmawiyata sendiri adalah museum sejarah dan kebudayaan yang dikelola oleh Ordo Karmel Indonesia di Malang dan berlokasi di kawasan Oro-oro Dowo Malang.
Sebuah hal yang sangat menarik kami jumpai di Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK. Di sini para pengunjung diperbolehkan memegang ular yang lumayan besar yang menjadi salah satu koleksi museum selain berbagai cangkang moluska.
Mencoba memegang ular di Museum Zoologi, dokumentasi pribadi
Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK terletak di dusun Karangwidoro kecamatan Dau Kabupaten Malang. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai tempat belajar tentang keanekaragaman fauna, penelitian hewan, serta praktik perawatan dan konservasi satwa.
“Wiii,” pekik beberapa siswa geli, sementara siswa yang lain penasaran ingin mendekati ular yang dibawa oleh penjaga stand museum.
Museum Singhasari yang banyak menyimpan artefak, arca, dan sejarah mengenai Kerajaan Singhasari pada hari itu menyajikan aneka keris dan replika benda benda yang ada di Candi Singosari, seperti dwarapala.
Stand pameran berbagai museum, dokumentasi pribadi
Tentang keris yang dipamerkan, dijelaskan bahwa jika keris lurus, maka keris tersebut adalah peninggalan dari masa Kerajaan Singosari, sedangkan jika mempunyai luk (berbelok-belok) maka itu peninggalan dari masa Majapahit.
Jika di stand Museum Brawijaya kita bisa melihat berbagai macam senjata yang digunakan untuk perang di masa agresi militer tahun 1947, maka di Museum Panji kita bisa melihat aneka barang yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Mencoba alat jebakan tikus , dokumentasi pribadi
Barang yang dipamerkan di sini seperti jebakan tikus, pengaduk adonan juga alat pijat. yang pernah dipakai di kisaran tahun 1900 an
Wayang potehi, wayang suket bisa kita lihat dari dekat di stand Museum Ganesya. Menurut keterangan, museum Ganesya yang terletak di Graha Kencana Raya, Karanglo, Singosari, Kabupaten Malang ini mempunyai banyak koleksi artefak menarik peninggalan kerajaan Singosari dan Majapahit.
Wayang potehi, dokumentasi pribadi
Perjalanan hari itu kami akhiri dengan melihat koleksi museum Mpu Purwa yang terdiri atas berbagai macam topeng Malangan, peninggalan sejarah dari kerajaan yang ada di Malang termasuk diorama yang bercerita tentang berdirinya Singasari, keruntuhannya dan berdirinya Kerajaan Majapahit.
“Bagaimana perjalanan hari ini? Menyenangkan?” tanya saya pada seorang siswa.
“Menyenangkan,” ungkap seorang siswa
“Saya baru tahu Malang punya museum sebanyak ini,” ungkap siswa yang lain.
“Luar biasa, koleksi cangkangnya bagus dan asli, saya pikir replika,” ungkap Tama, salah satu siswa yang rupanya tertarik pada aneka cangkang moluska di Museum Zoologi.
Cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya.
Hari yang luar biasa. Perjalanan hari itu membuka mata kami bahwa Malang bukan sekadar kota dengan udara sejuk dan kulinernya yang menggoda. Ia menyimpan jejak peradaban yang panjang, tersimpan rapi dalam delapan museum yang tersebar di Malang Raya.
Kami pulang dengan lelah yang menyenangkan karena membawa banyak cerita. Sebuah pelajaran yang kami dapatkan hari itu adalah bahwa cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya. Dan Malang, dengan segala jejak peradabannya, pantas untuk terus dikenang, dijaga, dan dibanggakan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika bus kami mulai meninggalkan Hotel Pandanaran Yogyakarta.
“Bapak/Ibu, hari ini kita akan mengikuti Merapi Lava Tour. Beberapa tempat yang akan kita kunjungi adalah Museum Petilasan Mbah Maridjan, Batu Alien, Bunket Kaliadem dan terakhir off road Air Kali Kuning,” jelas pemandu kami Mbak Nia dari Nala Tour.
Bus terus melaju membelah lalu lintas Yogyakarta yang semakin ramai. Sesekali terdengar canda tawa di dalam bus, sementara lagu-lagu yang ditayangkan berganti ganti. Mulai dari Dewa 19 hingga campursari. Wah, serasa gayeng sekali.
Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi
Tak berapa lama sampailah kami di tempat yang dituju. Turun dari bus, kami langsung disambut oleh pemandu dari Merapi Lava Tour dan beberapa Jeep siap mengajak kami berkeliling di area sekitar Merapi.
Berempat kami menaiki Jeep warna merah. Tutorial naik dan turun kendaraan perang ini diberikan oleh Mas Wisnu guide kami dengan sabar.
Mas Wisnu, driver sekaligus guide kami ini banyak bercerita tentang cerita erupsi Merapi di tahun 2010. Sebagai orang Yogja asli Mas Wisnu tampak begitu memahami daerah Merapi ini.
Menuju Jeep, dokumentasi pribadi
Jeep kami melalui jalan yang naik turun dengan kecepatan yang tinggi menurut saya. Memang sepertinya di sini sensasinya. Naik kendaraan terbuka, melihat alam sekitar dan menikmati udara yang begitu segar.
Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, Jeep kami memasuki wilayah Museum Petilasan Mbah Maridjan.
Museum Petilasan Mbah Maridjan
Museum ini berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Sesuai dengan namanya, tempat ini dibangun untuk mengenang Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi atas kesetiaan dan pengabdiannya dalam menjaga tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.
Mbah Maridjan menjadi ikon nasional setelah letusan besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Saat itu beliau bersikeras tinggal di rumah saat terjadi erupsi hingga beliau meninggal di tempat.
Gamelan Mbah Maridjan , bagian dari museum Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi
Museum Petilasan Mbah Maridjan dibangun di lokasi yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, yang hancur akibat letusan Merapi.
Di Museum ini kita bisa melihat banyak barang peninggalan Mbah Maridjan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti pakaian, sarung, dan peci yang biasa ia gunakan, termasuk juga replika rumah Mbah Maridjan yang hancur, serta motor tua yang menjadi kendaraannya sehari-hari.
Di sini kita juga bisa melihat dokumentasi kehidupan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, informasi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi dan berbagai kerusakan serta dampak bagi masyarakat sekitarnya.
Hingga kini di sekitar museum banyak penjual makanan atau cinderamata. Salah satu kios adalah milik putri dari Mbah Maridjan.
Toko cinderamata milik putri Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi
“Mas Wisnu kenal Mbah Maridjan?” tanya saya ketika kami kembali naik Jeep untuk melanjutkan perjalanan.
“Kenal, ” jawabnya.
“Beliau baik sekali, sabar,” tambah Mas Wisnu. Tampak sekali ia sangat menghormati sosok Mbah Maridjan.
Dari Museum Mbah Maridjan perjalanan kami lanjutkan ke Bunker Kaliadem dan batu Alien.
Bunker Kaliadem
Bagian depan bunker, dokumentasi pribadi
Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan bawah tanah di lereng Gunung Merapi yang dibangun pada tahun 2001 .
Bunker ini dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman dengan fungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan relawan dari terjangan awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi.
Ketika terjadi erupsi pada tahun 2006, letusan gunung Merapi mengakibatkan aliran piroklastik atau awan panas bersuhu ekstrem menimbun seluruh bangunan bunker dan menutup pintu masuknya. Akibat nya dua orang relawan yang berlindung di dalam bunker meninggal dunia, karena suhu di dalam bunker melonjak sangat tinggi seperti oven akibat terjangan material panas.
Berfoto dengan latar belakang gunung Merapi di area sekitar bunker, dokumentasi pribadi
Dari papan yang berisi informasi tentang bunker, bisa dilihat kondisi bunker sebelum erupsi, saat erupsi dan sesudah erupsi Merapi.
Dari lokasi bunker Kaliadem ini kita bisa melihat sosok Merapi yang tampak begitu indah dari jarak yang tak begitu jauh.
Batu Alien dan Off road Air Kali Kuning
Batu Alien yang mirip manusia, sumber gambar: RRI
Jika di Padang ada batu Malin Kundang, maka di lereng Gunung Merapi kita bisa temui Batu Alien.
Batu Alien adalah bongkahan batu vulkanik erupsi Merapi tahun 2010 yang berbentuk mirip wajah manusia.
“Yang pertama menemukan menyebut, itu wajah alien, makanya sekarang namanya wisata Batu Alien,” kata pemandu wisata saatbitu.
Diperkirakan batu Alien dan batuan lainnya di lokasi tersebut berasal dari muntahan Gunung Merapi, yang dibawa Kali Gendol. Karena posisi kali sedikit menikung, maka batu terlempar karena luapan kali tersebut.
Sesudah jelajah musium, bunker Kaliadem dan Batu Alien, kami tiba pada jelajah terakhir yaitu offroad air Kali Kuning.
Kali Kuning adalah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi serta mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta. Sungai tersebut tentu memiliki panjang sekitar 40 km dan mengalir melalui beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul
Offroad Air Kali Kuning dilakukan dengan cara menaiki jeep terbuka dengan track offroad yang langsung melintasi beberapa jalur, seperti area berbatu, sungai dangkal, serta area yang berpasir.
“Siap dipakai jas hujannya Ibu-ibu,” kata Mas Wisnu mengingatkan. Bergegas kami memakai jas hujan dan tak lupa merapatkan helm.
Off road Air Kali Kuning, dokumentasi pribadi
“Pegangan yang kuat..!” kata Mas Wisnu sambil menambah kecepatan Jeep kami. Jeep meluncur menuju jalanan berbatu dan turun ke arah sungai kecil.
“Wiiih…!” air langsung muncrat naik membasahi kami para penumpang Jeep. Teriakan dan tawa langsung berderai bersama.
“Aman, Ibu-ibu?” tanya Mas Wisnu memastikan.
“Aman..!” teriak kami bersemangat
Dengan cekatan Mas Wisnu memutar mobil , kembali ke rute awal dan Jeep kembali melintasi sungai. Semakin tinggi kecepatannya semakin tinggi pula air yang muncrat di sekitar kami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.
Rute Jeep yang berkelok- kelok, cipratan air sungai dan jeritan para penumpang membuat pengalaman ini tak akan terlupakan.
Ketika matahari semakin tinggi, jelajah sekitar Merapipun diakhiri. Kami mengucapkan terima kasih pada Mas Wisnu yang telah begitu sabar menjadi guide kami dalam perjalanan pagi ini.
Setelah sejenak bersih diri, kamipun menuju bus untuk persiapan kembali ke Malang.
“Bu, monggo salaknya.. salaknya,” seorang ibu menawarkan dagangan salak di tangannya.
Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, Merapi adalah guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa
“Manis?” tanya saya.
“Manis, Bu, bisa dicoba,” katanya ramah. Saya dan teman-teman masing-masing mengambil satu ikat dan segera memasukkannya ke dalam bagasi bus.
Matahari kian terik, dan bus kami perlahan meninggalkan area Merapi.
Dari kejauhan dengan latar langit yang berwarna biru terang, sosok Merapi tampak indah dan begitu perkasa.
Merapi yang luar biasa.
Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa.