Jangan berhenti untuk raih prestasi.Barangkali demikian tekad dari Barakuda Cempaka. Betapa tidak? Pada hari Sabtu (13/06) regu pramuka kebanggaan Bintaraloka ini kembali meraih prestasi yang membanggakan. Ya, kali ini mereka mendapatkan berbagai kejuaraan di Giskaga Fire Competition yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya, dan berhak mendapatkan gelar juara umum.
Giskaga Fire Competition adalah perlombaan kepramukaan bergengsi tingkat pelajar (SD dan SMP) se Jawa yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya.
Acara yang diadakan setiap tahun ini menguji kreativitas dan keterampilan kepramukaan melalui berbagai cabang perlombaan.
Dalam kompetisi ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan satu tim yang terdiri atas dua regu, dan setiap regu terdiri atas 8 siswa putra dan 8 siswa putri.
Latihan persiapan untuk mengikuti lomba ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Sebuah perjuangan yang luar biasa, Para peserta all out memberikan penampilan terbaiknya dengan didampingi oleh Kak Mubin, Kak Dwi (pelatih), Kak Alam (pelatih), dan beberapa kakak alumni.
Aksi Pramuka putri, dokumentasi pramuka
Berbagai gelar juara yang diraih Barakuda Cempaka adalah:
– Juara 1 yel yel putra
– Juara 1 SMS
– Juara 2 pionering
– Juara 2 bisnis plan putra
– Juara 2 bisnis plan putri
– Juara harapan 1 yel yel putri
– Juara umum
“Sungguh pengalaman yang berkesan karena kami dapat bertemu teman-teman dari luar kota, memenangkan beberapa perlombaan serta meraih juara umum,” ungkap Lili salah satu peserta dari regu putri.
Pioneering, dokumentasi pramuka
Akhirnya selamat pada Barakuda Cempaka atas segala prestasi yang diraih. Semoga gelar juara ini tidak membuat kalian berpuas diri, dan harapannya ke depan prestasi kalian akan semakin gemilang.
Gamelan Bali yang menghentak mengiringi tarian gemulai siswa dan siswi dengan balutan busana daerah yang begitu cantik ditambah dengan hiasan anekabunga Kamboja di kepala. Mereka terus melenggak lenggok selaras irama.
Tak berapa lama irama gamelan berubah dengan irama khas Nusantara yang lain. Sebutlah Jawa Timur dengan gending reogan, Jawa Tengah dengan Gundul-gundul Paculnya, tak ketinggalan Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan, Si Patokaan dari Sulawesi dan dilanjut dengan Sajojo, Yamko Rambe Yamko dan Apuse dari Papua.
Aksi salah satu peserta, dokumentasi pribadi
Semua tersaji indah di pagelaran seni kokurikuler kelas 7 yang bertajuk Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara, dan diadakan pada hari Kamis (18/06).
Dalam pembelajaran mendalam kokurikuler adalah kegiatan penguatan dan pengayaan yang dirancang agar siswa dapat mengaitkan materi di kelas dengan dunia nyata. Kokurikuler membantu siswa untuk menemukan makna, relevansi, dan nilai dari apa yang dipelajari sehingga pemahaman tidak sekadar dihafal, melainkan benar-benar dikuasai dan diterapkan.
Tarian Bali, dokumentasi pribadi
Nusa Loka sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna dunia pulau atau wilayah kepulauan. Hal ini merujuk pada wilayah negara kita yang terdiri atas ribuan pulau dan menyimpan berbagai adat istiadat juga seni yang beraneka ragam.
Lewat Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara ini siswa kelas 7 hendak menunjukkan betapa kayanya Nusantara kita tercinta.
Sumatera Utara, dokumentasi pribadi
Kegiatan kokurikuler kelas 7 merupakan kegiatan akhir semester genap. Jadi setelah siswa sibuk berkutat dengan kegiatan penilaian akhir tahun, selama dua minggu mereka disibukkan dengan kegiatan mengeksplor tari dan lagu daerah Nusantara.
Dalam kegiatan kokurikuler kali ini siswa tidak hanya belajar lagu dan tari secara teori. Tapi mereka juga belajar untuk membuat sebuah event, membuat buku ensiklopedia daerah Nusantara dan terakhir menyajikan drama musikal dengan tema yang berbeda setiap kelasnya.
Gemulai tari peserta, dokumentasi pribadi
Pertunjukan pagi itu diakhiri dengan pagelaran tari kolosal yang merupakan gabungan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Dengan koreografer Ibu Tya pengajar seni budaya SMP Negeri 3 Malang, tarian yang dipertunjukkan begitu rancak, dinamis sekaligus meriah.
Pagelaran tari kolosal, dokumentasi pribadi
Dengan empat orang pembawa acara, Nasrul, Ghiena, Pak Mubin dan Ibu Putri acara berjalan lancar dari pukul 07.00 hingga jelang Dhuhur.
Acara hari itu ibarat sebuah perjalanan kecil keliling Nusantara. Langkah-langkah lincah, suara-suara ceria yang lantang, serta senyum ceria siswa yang menjadi bukti bahwa kekayaan budaya kita akan terus hidup selama ada anak-anak yang mencintainya.
Pembawa acara, dokumentasi pribadi
Lewat acara ini juga siswa tidak sekedar bergerak menirukan heran dan langkah, tapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang kita tentang gotong royong, keberagaman, dan rasa hormat pada alam.
Para siswa dengan busana Jawa Barat, Dokumentasi PribadiMadura, Jawa Timur, dokumentasi pribadi Siap tampil dari Jawa Tengah, dokumentasi pribadi Para penari dari Jawa Timur, dokumentasi pribadi
Apresiasi positif diberikan oleh Bapak Anton ketua komite SMP Negeri 3 Malang atas terselenggaranya acara ini.
Semangat Bapak/ibu guru dan seluruh siswa dalam mengikuti acara ini ditunjukkan dengan warna warni busana daerah yang dikenakan pada hari itu.
Mengenakan busana daerah, dokumentasi Bintaraloka
“Meriah sekali,”
“Sangat menyenangkan,” ungkap siswa di sela menunggu saat untuk tampil.
Di akhir acara dibagikan hadiah pada kelas yang menjadi pemenang untuk berbagai kategori, seperti kategori proposal terbaik, kategori tampilan tari terbaik, ensiklopedia terbaik dan banyak lagi. Hadiah diserahkan oleh Ibu Raddin selalu ketua kokurikuler kelas 7 dan Ibu Arie koordinator kokurikuler sekolah.
Para pemenang, dokumentasi Buz
Hari yang luar biasa
Harapannya semoga lewat rangkaian acara kokurikuler ini pada diri siswa akan terus terpatri rasa cinta pada budaya Nusantara dan terus berusaha melestarikannya.
Allahu Akbar …Allahu Akbar…Allahu Akbar. Laa Ilaha ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar walillahilhamd
Gema takbir bersahut-sahutan menandai datangnya hari yang mulia. Hari yang sangat ditunggu-tunggu. Hari dimana kita kembali mengenangkan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas puteranya terkasih Nabi Ismail.
Hari ini kita kita selalu diingatkan bagaimana Ibrahim, dengan tangan gemetar, membaringkan putranya, bukan karena benci, tapi karena cinta yang begitu besar kepada Sang Pencipta.
Ismail kecil, dengan mata jernih, justru menenangkan ayahnya: “Lakukan apa yang diperintahkan, ayah. Aku ikhlas.”
Namun, Allah mengganti Ismail dengan domba. Bukan sekadar ujian, itu adalah sebuah pelukan lembut dari Tuhan: “Kamu sudah rela melepaskan yang terkasih. Sekarang, peliharalah rasa cinta itu untuk berbagi.”
Penyembelihan kurban di Hari Raya Idul Adha adalah gambaran dari penyembelihan atas ego kita. Idul Adha mengajak kita untuk menyembelih segala rasa gengsi, mau menang sendiri, iri hati dan banyak lagi sifat merasa “paling” dalam diri kita.
Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka
Membagikan daging kurban adalah ajakan untuk peduli pada sesama dan suka berbagi. Betapa banyak saudara-saudara kita yang berada dalam kondisi di bawah kita , dan sebenarnya membutuhkan uluran tangan kita. Tapi mungkin belum kita sapa atau berbagi dengan mereka.
Saat ego kita luruhkan maka berbagi adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.
Peringatan Hari Raya Idul Adha 1447 H di SMP Negeri 3 Malang
Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka
Peringatan Hari Raya Idul Adha di SMP Negeri 3 Malang dilaksanakan pada hari Rabu (27/05).
Gempita perayaan sudah dilaksanakan sejak Selasa malam hari dengan takbiran bersama yang oleh siswa yang tergabung dalam BDI.
Keesokan harinya pada pukul 06.15 dilaksanakan sholat Id di lapangan volly yang dihadiri oleh guru, kepala sekolah, komite dan siswa SMP Negeri 3 Malang.
Takbiran di malam Idul Adha , dokumentasi pribadi
Dalam sambutan pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang Drs Teguh Edy Purwanta mengajak siswa untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tentang bagaimana seorang anak menghormati orang tuanya, dan orang tua yang memberikan teladan pada anaknya.
Bertindak sebagai imam dan khatib sholat pagi itu adalah Ustadz Imam Sabarodin, S.Pd, M.Pd.
Dalam ceramahnya beliau menekankan pada siswa agar selalu berusaha menjadi manusia yang tangguh, rela mengorbankan waktu, mengorbankan ego untuk meraih yang terbaik, meniru keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail as.
Sambutan Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bintaraloka
Sesudah sholat Id, dilaksanakan penyembelihan dan pembagian daging kurban oleh panitia yang bertugas. Tahun ini SMP Negeri 3 Malang menyembelih 8 kambing dan 2 domba yang dagingnya dibagikan pada warga sekolah dan masyarakat sekitar.
Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama
Ibu Tyas Wakahumas
Penimbangan dan pengemasan daging, dokumentasi Bintaraloka
Apresiasi setinggi-tingginya pada jajaran panitia baik dari guru, BDI maupun OSIS yang telah bekerja sedemikian rupa sehingga acara peringatan Hari Raya Idul Adha ini bisa berjalan lancar.
Panitia dari BDI, dokumentasi BDI
“Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama,” ungkap Ibu Tyas wakahumas SMP Negeri 3 Malang pagi itu.
Rabu (13/05) telah dilaksanakan puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76. Puncak acara ditandai dengan pawai budaya yang diikuti oleh seluruh siswa dan guru SMP Negeri 3 Malang.
Tema HUT kali ini yaitu Pariyatana, Unity, Identity, Diversity, yang bermakna semangat merangkul kebersamaan di tengah perbedaan.
Sambutan Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi pribadi
Sesuai tema tersebut maka perjalanan pawai budaya kali ini ibarat “keliling dunia”. Ya, setiap peserta mengenakan kostum yang berasal dari 27 negara yang berbeda.
Sebutlah Indonesia, Inggris, Perancis, Skotlandia, Arab, Afrika, Uzbekistan, Rusia, China, Jepang dan banyak lagi.
Keragaman yang ditunjukkan hari ini benar- benar sebuah pemandangan yang menarik. Tiap kelas secara kompak mengenakan busana dan membawa ikon dari masing-masing negara.
Peserta pameran dengan tema Inggris, dokumentasi pribadi
Pawai budaya diberangkatkan oleh Bapak Teguh Edy Purwanta pada pukul 07.00. Pemberangkatan ditandai dengan pemotongan untaian bunga di pintu gerbang sekolah.
Yang membuat suasana kian menarik, setiap kelas sebelum berangkat memperagakan yel masing-masing, dan sejenak berfoto bersama wali kelas.
Sementara pawai budaya berangkat, acara seremonial di lapangan volly dimulai. Acara yang dipandu oleh MC dari siswa dan guru ini berjalan meriah sekaligus khidmat.
Acara juga dihadiri oleh Kadikbud : Bapak Suwarjana, SE.MM, Asisten Administrasi Umum 3 kota Malang ( Bp M. Sailendra, ST, MT), Kepala Bapedda Kota Malang (Ibu Dwi Rahayu, S.H, M.Hum), Camat Klojen, Bapak Willstar taripar Hatoguan, S.STP, M.AP, Lurah Klojen, Bapak Butet, S.E, Bapak RT dan RW setempat, juga perwakilan alumni.
Dalam pidato sambutan pagi itu Bapak Teguh mengajak semua pihak untuk terus mempertahankan reputasi SMP Negeri 3 Malang sebagai sekolah yang menghasilkan alumni-alumni terbaik yang tersebar di mana-mana berkiprah di berbagai bidang yang mereka geluti.
Pagi itu Bapak Suwarjana menyampaikan penghargaan pada SMP Negeri 3 Malang yang bisa menyelenggarakan acara HUT dengan begitu meriah.
Sambutan Bapak Suwarjana, dokumentasi pribadi
“Acara seperti ini tentunya bisa terwujud karena sinergi yang bagus antara sekolah dan orang tua, hal tersebut agar terus dipertahankan agar berbagai acara yang merupakan program sekolah bisa terselenggara dengan baik,” papar beliau.
Di sela-sela acara seremonial pagi itu penonton dihibur oleh atraksi tari, tampilan penyanyi solo, juga band dari siswa.
Tema Spanyol, dokumentasi pribadiTema Mesir, dokumentasi pribadi Inggris, dokumentasi pribadi
Sementara di panggung berlangsung berbagai acara, pameran seni kelas 9 berlangsung di masing-masing kelas. Stand bazaar kelas tujuh dan delapan, serta dari luar dibanjiri oleh para pengunjung dari siswa maupun orang tua.
Sesudah acara pawai budaya, bazaar dan pameran selesai sekitar pukul 12.00, semua istirahat sejenak untuk kembali lagi ke sekolah untuk acara sesi dua yang dimulai sejak pukul 15.00 hingga malam hari.
Pada acara sesi dua ini penonton akan dihibur oleh fashion show, tari juga para bintang tamu yaitu Salwa Jasmine, Kos Atos, Miss Anggar, Klab Reggae Hore dan Band Alumni.
Sebuah hari yang luar biasa. Para penonton ikut menari, bergoyang dan gembira bersama.
Fashion Show, dokumentasi pribadi
Ya, ada saatnya kita bisa menghilangkan rasa penat dengan menumpahkan rasa gembira dalam wujud berbagai karya seperti dua hari ini di Bintaraloka.
Semoga semaraknya perayaan HUT ke 76 kali ini bisa menjadi pemicu semangat bagi warga SMP Negeri 3 Malang untuk terus bergerak maju dalam perjalanan bersama untuk mencerdaskan anak bangsa.
Dua hari ini, Selasa dan Rabu (12-13 Mei) adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Bintaraloka. Ya, dua hari itu adalah puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76.
Mengangkat tema besar Pariyatana atau unity, identity dan diversity, kemeriahan HUT begitu terasa. Warga sekolah demikian antusias untuk bersama merayakan kegembiraan acara ini.
Apel pagi, dokumentasi pribadi Happy
Acara pagi ini diawali dengan apel bersama dengan dipimpin oleh Moreno siswa kelas 8.1.
Dalam apel pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang, Drs Teguh Edy Purwanta menyampaikan bahwa usia 76 bagi sebuah lembaga bukanlah usia yang muda. Sudah sepatutnya kita mempertahankan reputasi kita dengan terus menghasilkan lulusan yang berkualitas seperti halnya para alumni Bintaraloka yang sudah tersebar di mana-mana.
Persiapan panggung seni, dokumentasi pribadi
“Mari terus kita tingkatkan kebersamaan kita, dalam memeriahkan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76 ini,” ungkap Pak Teguh.
Sesudah apel berakhir semua peserta diajak senam bersama dengan komando Bapak Ardilah, guru PJOK SMP Negeri 3 Malang.
Suasana gayeng langsung terasa. Semua ikut bergerak, sekaligus bergoyang menikmati kemeriahan pagi itu.
Cek kesehatan, dokumentasi pribadi
Sementara senam berlangsung, di ruang UKS dilaksanakan pemeriksaaan kesehatan gratis. Pemeriksaan kesehatan gratis yang bekerja sama dengan Laboratorium Sima ini meliputi pemeriksaan papsmear satu paket dengan CBE dan gula darah.
Aktivitas setelah apel dan senam tidak kalah meriah. Di panggung pentas dilaksanakan final lomba vokal solo, band dan tari. Hari itu semua finalis berusaha mempertunjukkan kemampuan terbaik mereka di depan dewan juri baik dari dalam sekolah maupun luar sekolah.
Finalis lomba tari, dokumentasi pribadi
Meskipun sebagian siswa menjadi penonton, sebagian besar siswa yang lain tampak sibuk menata kelas untuk pameran, membuat ogoh-ogoh juga menata stand bazaar. Pihak orang tua juga ikut mendukung bahkan terlibat langsung dalam kegiatan ini.
Persiapan stand pameran dengan dibantu orang tua, dokumentasi pribadi Persiapan stand bazaar, dokumentasi pribadiPersiapan stand bazaar, dokumentasi pribadi Persiapan stand pameran, dokumentasi pribadi Persiapan stand bazaar, dokumentasi pribadi
Hari yang luar biasa. Hari ini Bintaraloka menunjukkan sebuah cerita bahwa peringatan HUT bukan sekedar kemeriahan dan hura-hura. Perayaan ini adalah wujud nyata sinergi antara siswa, sekolah dan orang tua untuk mewujudkan cita-cita bersama.