Membuka Jendela Dunia: Pembiasaan Literasi di Sekolah

Baik, silakan baca dari link yang sudah dikirim lewat grup kelas, buat catatan atau rangkuman dan nanti ada perwakilan dari siswa putra dan putri untuk maju menceritakan hasil literasi hari ini,” kata Ibu guru pagi itu di depan seluruh siswa kelas tujuh.

Ya, pagi itu mereka berkumpul di aula untuk melaksanakan literasi sebagai salah satu pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Siswa langsung membuka HP, membuka link dan mulai membaca. Di sela kegiatan membaca mereka membuat catatan di buku literasi mereka.

Suasana yang semula agak ramai langsung tenang. Beberapa siswa masih menunggu bacaan muncul di gadget mereka, sementara yang lain sudah mulai konsentrasi, membaca dan memegang pena untuk menuliskan bagian penting dari bacaan tersebut .

Hari ini bacaan mereka berjudul “Memberi Ruang Pada Waktu Memberi Makna Pada Hidup”.

Bacaan ini berisikan ajakan untuk memanfaatkan waktu luang. Diterangkan dalam bacaan tersebut perlunya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu yang hilang tak akan bisa kembali lagi.

Bacaan ditutup dengan sebuah nasehat bijak bahwasanya “Waktu adalah kain yang Tuhan berikan pada kita. Kita tak bisa meminta lebih panjang, tapi kita bisa menyulamnya dengan cinta, keheningan, dan kebermaknaan. Jangan biarkan ia lewat tanpa pernah kita rasa”

Di akhir acara, dua orang siswa menceritakan apa saja yang sudah dibaca hari itu yang disambut dengan applaus siswa yang lain sebagai bentuk penghargaan.

Pembiasaan Literasi Membuka Jendela Dunia 

Kegiatan literasi sekolah, dokumentasi Richa

Gerakan Literasi Sekolah adalah upaya menyeluruh yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pembiasaan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. (Sumber: Kemdikbud) 

Ada tiga tujuan utama dari gerakan literasi sekolah yaitu 

Menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui ekosistem literasi yang ramah dan menyenangkan.

Meningkatkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.

Meningkatkan kapasitas warga sekolah agar mampu mengelola pengetahuan secara kritis, analitis, dan reflektif.

Salah satu bentuk implementasi gerakan literasi ini adalah dengan pembiasaan membaca non pelajaran selama 15-20 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Membacakan hasil rangkuman, dokumentasi Richa

Sebagai upaya untuk mengajak siswa menggunakan gadget mereka secara bijak, gerakan literasi sekolah kami dilaksanakan bergantian antara menggunakan buku secara fisik dan digital, di mana untuk literasi dengan buku cetak, siswa bisa membawa dari rumah atau meminjam buku di perpustakaan.

Literasi sebagai jantung pembelajaran adalah sesuatu yang harus terus dikuatkan karena  tanpa literasi yang baik siswa tidak akan bisa belajar dengan baik.

Sebenarnya literasi tidak hanya membaca saja. Literasi baca tulis adalah salah satu dari literasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan literasi sekolah yang meliputi literasi  digital, finansial, numerasi termasuk juga sains dan kewarganegaraan. Meski demikian membaca adalah literasi yang utama karena membaca adalah gerbang utama untuk mengakses bentuk literasi lainnya. Tanpa kemampuan membaca (memahami teks), seseorang akan kesulitan mempelajari literasi yang lain

Menurut data dari berbagai sumber indeks literasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain memang masih jauh tertinggal, terutama dalam hal kualitas dan minat baca.

Berikut rincian perbandingannya berdasarkan beberapa indeks utama:

1. PISA 2022 (Skor Membaca Siswa 15 Tahun): Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD (476). 

2. Minat Baca (UNESCO/Central Connecticut State Univ): Minat baca hanya 0,001% (1 dari 1.000 orang). Dalam studi World’s Most Literate Nations (2016), Indonesia bahkan menempati peringkat 60 dari 61 negara .

3. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (Perpusnas, 2026): Skor nasional baru mencapai 40,6, yang masuk dalam kategori rendah .

4. Rata-rata Waktu Membaca (World Population Review, 2025): Masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam/tahun, sangat tertinggal dari India (352 jam) dan AS (357 jam) .

Meski demikian angka melek huruf kita termasuk tinggi yaitu mencapai 96%, di atas rata-rata global (~86,5%).

Singkatnya banyak orang Indonesia yang “bisa membaca” tapi belum “suka membaca” , yang berakibat pada tidak atau kurang mengerti dengan apa yang sudah dibaca.

Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Berkaca dari data tersebut penting sekali menguatkan budaya baca tulis di lingkungan sekolah, karena tanpa kemampuan baca yang baik, mustahil siswa akan belajar dengan baik. Kemampuan baca yang baik juga akan membuat siswa bisa menulis dengan baik. 

Literasi sekolah, dokumentasi Richa

Akhirnya pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum kegiatan pembelajaran adalah sebuah langkah sederhana yang membawa dampak luar biasa di kemudian hari. Lewat kegiatan ini siswa diajak untuk tidak sekadar bisa membaca tapi juga suka membaca. Gerakan ini juga mengajak siswa untuk menggunakan gadget dengan lebih  bijak dan membuka wawasan mereka tentang dunia.

Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk pribadi yang cinta belajar dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Kemampuan membaca dan menulis membuat siswa lebih bisa mengenal diri dan  sekitarnya, terkoneksi dengan dunia yang dipelajarinya serta bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa dipahami orang lain.

Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan :  “Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Salam Literasi

Cintai dan Teladani Akhlak Rasulullah, Semangat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

QS. Al Ahzab 21

Senin (24/08) adalah hari yang istimewa di Bintaraloka. Ya, pada hari itu dilaksanakan Peringatan Maulid , hari kelahiran nabi tercinta Muhammad SAW.

Dengan pembawa acara dari BDI, acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan terjemahannya. Suasana terasa demikian teduh, ketika semua yang hadir menyimak  pembacaan kalam ilahi sekaligus terjemah yang dibawakan oleh siswa kelas tujuh ini.

Pembacaan ayat suci Alquran, dokumentasi pribadi

Selanjutnya shalawat Thibbil Qulub mengalun indah dengan dipandu oleh Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang dan diiringi oleh al banjari.

“Bukan sekedar berbagi bahagia, Perayaan Maulid adalah sebuah cara bagi kita semua untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, panutan kita,” ungkap Bapak Teguh Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Dalam sambutan pagi itu Bapak Teguh juga memberikan pertanyaan yang mendalam pada siswa.

 “Seandainya Nabi Muhammad menjadi gurumu pagi ini, apa yang diharapkan beliau pada siswa SMP Negeri 3?”

Kuis dari Bapak Kepala Sekolah, dokumentasi Fabi

Dengan lancar siswa menjawab bahwa Nabi mengharapkan siswa meniru akhlak beliau yaitu shidiq, amanah, fathonah dan tabligh.

Keempatnya adalah akhlak mulia yang harus senantiasa kita teladani dari Sang Uswatun Hasanah; shidiq artinya jujur, amanah bisa dipercaya fathonah artinya cerdas dan  tabligh artinya menyampaikan.

Suasana terasa demikian hangat ketika KH Zainal Arifin, M.Ag memberikan tausiyah dengan materi yang serasa begitu dekat dengan keseharian kita. Lewat gayanya yang kocak namun tetap berisi KH  Zainal Arifin, M.Ag menegaskan agar kita tidak lupa meminta doa ibu dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. 

Tausiyah dari KH Zainal Arifin, dokumentasi pribadi

Dijelaskan oleh beliau agar kita meneladani nabi lewat berbagai kebiasaan yang dicintai Nabi Muhammad SAW yaitu sholat jamaah, sholat tahajud, sholat dhuha, membaca Alqur’an, menyayangi anak yatim, menyayangi fakir miskin, membaca istighfar, senang bersiwak dan berwudhu.

Akhir acara hari itu ditandai dengan berbagai kuis, dan lantunan lagu-lagu Islami oleh para vocalis kebanggaan Bintaraloka; Farin, Anya, dan Rafarsya.

Farin dengan lantunan lagu Islami, dokumentasi pribadi

Sesudah acara di lapangan, siswa kembali ke kelas untuk menikmati buah dan kue yang sudah dibawa dari rumah atau disiapkan paguyuban. 

Datangnya beberapa orang paguyuban untuk membantu mempersiapkan konsumsi putra-putrinya menunjukkan sinergi positif antara sekolah dan orang tua di SMP Negeri 3 Malang.

Makan bersama di kelas sebagai bagian perayaan Maulid Nabi, dokumentasi pribadi

Apresiasi yang luar biasa patut diberikan pada BDI dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini sejak satu minggu sebelumnya.

“Persiapan acara ini sudah dilakukan secara sungguh-sungguh oleh BDI maupun Al Banjari, dan anak- anak melakukan gladi bersih di hari Sabtu malam,” tutur Ibu Ida ketua panitia pelaksana.

Foto bersama sesudah acara Maulid, sebagian panitia, kepala sekolah dan KH Zainal Arifin, dokumentasi Bintaraloka

Hari yang begitu indah, meriah namun tetap terasa khidmat. Semoga perayaan ini membawa hati kita untuk senantiasa mencintai nabi dan meneladani akhlak beliau.

Allahumma sholi ‘ala Muhammad

Nguri-uri Basa Jawi Melalui Pembiasaan Literasi

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng..,” ucap Ibu Guru Bahasa Jawa pagi itu. Para siswa kelas tujuh yang duduk lesehan di aula langsung fokus. 

Sak marine ayo podho nggawe rangkuman telung alinea wae,” ajak Bu Guru lagi.

Pembiasaan literasi adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah kami tiap pagi hari sekitar 20 menit. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Jika sekarang kelas tujuh, maka besok kelas delapan dan lusa kelas sembilan.

Selain membaca secara online, literasi juga diisi dengan membaca buku fisik atau nonton film bareng seperti yang dilakukan hari ini.

Tanpa menunggu lama filmpun diputar. Sebuah film pendek berjudul “TOPI” dengan durasi sekitar 12 menit. Ketika adegan per adegan muncul, semua langsung fokus, baik siswa maupun pendamping literasi. Sesekali penonton tertawa ketika ada adegan yang lucu dalam film.

Film berjudul TOPI ini  bercerita tentang Gesang, siswa yang masih duduk di tingkat SD dan keluarganya.

Topi menjadi pusat cerita karena dari sinilah masalah bermula. Diawali ketika Gesang berangkat ke sekolah dan ternyata di tengah jalan ia baru sadar bahwa topinya ketinggalan.

Kakek yang membonceng Gesang setiap berangkat ke sekolah segera balik ke rumah, dan Gesang diminta menunggu di tengah sawah. Sesampai di rumah, ternyata pintu sudah dikunci karena Ibu Gesang berangkat mengantar kakak Gesang yang bersekolah di SMP. Sementara kakek sibuk minta dibukakan pintu untuk mengambil topi yang ketinggalan, Gesang bertemu tetangganya dan ‘dibawa’ ke sekolah supaya tidak terlambat.

Fokus nonton film bareng, Dokumentasi Pribadi

Betapa terkejutnya kakek tatkala melihat cucunya tidak ada di tempat dimana tadi ia ditinggal. “Gesaaang…,” teriak kakek mencari cucu kesayangannya, dan di sinilah penonton mulai terpancing, ada yang tertawa tapi juga kasihan.

Film yang penuh nasehat tatakrama atau suba sita ini sangat cocok untuk anak SD atau SMP. Lewat adegan-adegan yang sederhana namun sangat mengena film ini memberikan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh: jangan mengambil makanan dengan tangan kiri, bagaimana memberikan barang dengan sopan pada orang lain, termasuk juga tatakrama saat makan yaitu tidak boleh mengeluarkan bunyi berkecap-kecap.

Dikaitkan dengan kegiatan literasi, kegiatan ini mengajak anak anak untuk berliterasi secara visual dengan cara mengambil pelajaran penting dari sebuah film pendek. Sebuah kegiatan yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna, karena menonton film dalam durasi 12 menit ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi generasi alpa yang relatif memiliki konsentrasi pendek karena sering menonton reels yang berdurasi rata-rata 1-3 menit.

Di akhir cerita, Ibu Guru memberikan sedikit ulasan tentang film yang baru saja ditonton. Siswa tampak demikian antusias dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Guru.

“Bu, rangkumannya dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?” tanya seorang siswa sebelum kegiatan literasi berakhir.

“Basa Jawa,” kata Bu Guru sambil tersenyum. 

“Wahhh..,” keluh siswa. 

“Sulit, Bu.., sambung yang lain.

“Ora opo-opo.., ngoko wae,” jawab Bu Guru lagi.

Pertanyaan dari siswa, Dokumentasi Pribadi

Kami para pendamping literasi tertawa. Merangkum dengan menggunakan Bahasa Indonesia saja kadang sulit apalagi  Bahasa Jawa. Tapi setidaknya melalui kegiatan ini kami mengajak siswa untuk “nguri-uri Basa Jawa”, teriring harapan mudah-mudahan wong Jawa ora nganti lali Jawane.

Arti istilah:

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina Iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng : selamat pagi anak anak, hari ini literasi Bahasa Jawa diisi dengan nonton film bareng

Ngoko : bahasa Jawa biasa, bukan yang halus

Nguri-uri Basa Jawa : melestarikan Bahasa Jawa

Wong Jawa ora nganti lali Jawane : Orang Jawa tidak melupakan adat Jawa.

SMP Negeri 3 Malang Raih Juara Umum dalam Airlangga Scout Competition 2026

Di bulan Juli ini Pramuka Bintaraloka kembali meraih sebuah prestasi yang membanggakan. Ya, gelar Juara Umum mereka raih dalam Airlangga Scout Competition yang diadakan pada tanggal 18-19 Juli di Kampus C Universitas Airlangga, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Surabaya.

Airlangga Scout Competition (ASC) adalah ajang lomba pramuka tingkat nasional untuk golongan Penggalang and Penegak. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pramuka Universitas Airlangga Gugus Depan Kota Surabaya 09.622-09.623.

Dalam acara ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan 2 regu, masing-masing 1 regu putra (Barakuda) dan 1 regu putri (Cempaka) dimana tiap regu berisi sepuluh orang.

Penghargaan juara Dance Semaphore , salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Lomba yang diadakan dalam event ini adalah Sandi Morse Semaphore, pioneering, PUPP (Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Pramuka), hasta karya, dance semaphore (Lomba pangkalan), yel-yel (Lomba pangkalan). Yang dimaksud dengan lomba pangkalan adalah lomba gabungan dari regu putra dan putri yang  terdiri dari 5 putra dan 5 putri untuk tiap bidang lomba pangkalan.

Penghargaan lomba Hasta Karya Putri, salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Nah, apa yang diperoleh Barakuda Cempaka dalam event ini? Tidak tanggung-tanggung berbagai gelar juara disabet oleh Pramuka kebanggaan Bintaraloka ini dengan rincian sebagai berikut:

– Juara Umum

– Juara Utama 1 Putra

– Juara 1 PUPP Putra 

– Juara 2 Pioneering Putra 

– Juara Harapan 3 Pionering Putri

– Juara 3 Sandi Morse Semaphore Putra 

– Juara Harapan 3 Sandi Morse Semaphore Putri

– Juara Harapan 2 Hasta Karya Putra

– Juara Harapan 3 Hasta Karya Putri

– Juara 3 Dance Semaphore 

– Juara 2 Yel-yel

“Lomba ini seru karena banyak pangkalan yang mengikuti dan adalah lomba berskala nasional, lomba ini juga memberikan tantangan baru terutama di mata bidang Pioneering dan Sandi Morse Semafor, ” ungkap Hagi salah satu peserta lomba.

Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang

Bintaraloka raih berbagai kejuaraan dalam Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Pendamping yang berasal dari alumni  juga pembina yang selalu memberikan semangat pada peserta mempunyai kontribusi yang besar sehingga prestasi luar biasa ini bisa diraih.

Akhirnya selamat pada Pramuka Bintaraloka, semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang. Salam Pramuka 😊

Regu Pramuka Bintaraloka Raih Juara Umum dalam Giskaga Fire Competition

Jangan berhenti untuk raih prestasi. Barangkali demikian tekad dari Barakuda Cempaka. Betapa tidak? Pada hari Sabtu (13/06) regu pramuka kebanggaan Bintaraloka ini kembali meraih prestasi yang membanggakan. Ya, kali ini mereka mendapatkan berbagai kejuaraan di Giskaga Fire Competition yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya, dan berhak mendapatkan gelar juara umum.

Kontingen Pramuka Bintaraloka, dokumentasi Pramuka

Giskaga Fire Competition adalah perlombaan kepramukaan bergengsi tingkat pelajar (SD dan SMP)  se Jawa yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya. 

Acara yang diadakan setiap tahun ini  menguji kreativitas dan keterampilan kepramukaan melalui berbagai cabang perlombaan.

Dalam kompetisi ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan satu tim yang terdiri atas dua regu, dan setiap regu terdiri atas 8 siswa putra dan 8 siswa putri.

 Latihan persiapan untuk mengikuti lomba ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Sebuah perjuangan yang luar biasa, Para peserta all out memberikan penampilan terbaiknya dengan didampingi oleh Kak Mubin, Kak Dwi (pelatih), Kak Alam (pelatih), dan beberapa kakak alumni.

Aksi Pramuka putri, dokumentasi pramuka

Berbagai gelar juara yang diraih Barakuda Cempaka adalah: 

– Juara 1 yel yel putra

– Juara 1 SMS

– Juara 2 pionering

– Juara 2 bisnis plan putra

– Juara 2 bisnis plan putri

– Juara harapan 1 yel yel putri

– Juara umum

“Sungguh pengalaman yang berkesan karena kami dapat bertemu teman-teman dari luar kota, memenangkan beberapa perlombaan serta meraih juara umum,” ungkap Lili salah satu peserta dari regu putri.

Pioneering, dokumentasi pramuka

Akhirnya selamat pada Barakuda Cempaka atas segala prestasi yang diraih. Semoga gelar juara ini tidak membuat kalian berpuas diri, dan harapannya ke depan prestasi kalian akan semakin gemilang. 

Salam Pramuka!