Mengenal Sejarah, Sebuah Cara untuk Lebih Mencintai Kota Tempat Tinggal Kita

Ketika kita berkeliling kota Malang, pernahkah kita memikirkan apa sejarah di balik keindahan Balai Kota? Jalan Ijen atau Kayutangan? Bagaimana rencana tata kota di zaman dulu sehingga Malang bisa tertata seperti sekarang ini?

Betapa banyak bangunan atau tempat bersejarah yang kita lalui tiap hari, tapi kita sendiri sebagai warga Malang tidak tahu cerita apa yang ada di balik bangunan tersebut.

Berkaitan dengan dengan hal tersebut, maka salah satu kegiatan dari kokurikuler kelas sembilan yang mengambil tema ” Malang Heritage”, mengundang seorang pemerhati sejarah untuk memberikan paparan tentang berbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kota Malang. 

Acara yang berlangsung sekitar dua jam ini dilaksanakan pada hari Kamis (15/10), dan diikuti sekitar 280 siswa dengan narasumber Pak Irawan, seorang pemerhati sejarah yang merupakan Arema asli.

Siswa mengajukan pertanyaan tentang bangunan bersejarah di Kota Malang, dokumentasi pribadi

Acara demikian gayeng. Siswa  mengikuti semua penjelasan narasumber sembari membuat catatan. Ada rasa takjub ketika melihat foto-foto di masa lalu. Betapa sepi dan  indahnya kota Malang saat itu. Seperti dalam dongeng, mungkin itu yang terbersit dalam benak mereka.

Narasumber membuka penjelasan dengan sebuah pertanyaan apakah siswa tahu akan sejarah SMP Negeri 3 Malang?

SMP Negeri 3 Malang, dulu bernama MULO Wilhelmina, sumber gambar: koleksi Bintaraloka

Sekilas sejarah SMP Negeri 3 Malang, dulu sekolah ini bernama MULO Wilhelmina. Dan dinamakan Wilhelmina karena berlokasi di Jalan Wilhelmina yang kemudian berubah menjadi jalan Dr Cipto. 

“Jalan Wilhelmina ini adalah distrik pertama yang dibangun di Kota Malang,” lanjut Pak Irawan.

Dijelaskan lebih lanjut, pembangunan tata ruang Kota Malang telah dikembangkan sejak era kolonial Belanda. 

Pengembangan tata kota ini dibuat berdasarkan Bouwplan atau rencana pembangunan kota. Bouwplan di Malang dirancang oleh kotapraja Malang dengan memanfaatkan perspektif kedudukan gunung di sekeliling dan sungai yang membelah kota. Rancangan tata kota ini menjadi rancangan kota terbaik di Hindia Belanda saat itu.

Delapan Blouwplan untuk pengembangan Kota Malang saat itu meliputi:

Pelaksanaan Blouwplan I dimulai pada Mei 1917 yaitu dengan keputusan untuk membangun perumahan bagi orang Eropa. Perumahan baru ini dinamakan Oranjebuurt atau daerah Orange yang dihuni keluarga kerajaan Belanda. Ini adalah  perumahan pertama di Malang. 

Daerah Oranjebuurt banyak menggunakan nama anggota keluarga kerajaan Belanda sebagai nama jalan. Mulai Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Dr Cipto), Juliana Straat (Jalan RA Kartini), Emma Straat (Jalan Dr Sutomo), Willem Straat (Jalan Diponegoro), Maurits Straat (Jalan MH Thamrin) hingga Sophia Straat (Jalan Cokroaminoto).

Perencanaan tata kota selanjutnya adalah Blouwplan II yang difokuskan untuk kawasan pusat pemerintahan yang mulai dibangun pada tahun 1922. Kawasan ini dinamai Gouverneur-Generaalbuurt yang meliputi Gedung Balai Kota Malang, Alun Alun Tugu Kota Malang, Hotel Splendid hingga sekolah SMA Negeri Tugu.

Kawasan ini banyak menggunakan nama gubernur jenderal terkenal era Hindia Belanda seperti Daendels boulevard (sekarang Jalan Kertanegara), Van inhoff straat (Jalan Gajahmada), Speelman straat (Jalan Majapahit), Maetsuucker straat (Jalan Tumapel), Riebeeck straat (Jalan Kahuripan), Van Oudthoorn straat (Jalan Brawijaya), Idenburg straat (Jalan Suropati), Van den Bosch (Jalan Sultan Agung), Van Heutz straat (Jalan Pajajaran) hingga Van Der Capellen Straat (Jalan Sriwijaya).

Bouwplan III menjadi rencana perluasan kota berikutnya, yaitu pembangunan kawasan pemakaman untuk orang Eropa di Kecamatan Sukun yang kini dikenal sebagai Kuburan Londo. Luasnya mencapai 3.740 meter persegi.

Kuburan Londo Sukun , Sumber gambar: Telusuri

Bouwplan IV dilaksanakan mulai tahun 1920 dengan  pembangunan perumahan kelas menengah ke bawah di daerah Celaket dan Lowokwaru.

Pembangunan Jalan Ijen, kawasan olah raga di kawasan Semeru masuk dalam Bouwplan V.  Prencanaan tata kota dalam Blouwplan V ini  ini  kental akan pertemuan jalan besar dengan hiasan taman bunga.

Bouwplan VI pada 1932-1940 dimulai dengan pembangunan perumahan Eilandenbuurt atau daerah pulau pulau. Seperti Jalan Lombok, Jalan Jawa, Jalan Sumba, Jalan Flores, Jalan Madura, Jalan Bali, Jalan Kangean, Jalan Bawean, Jalan Sapudi hingga Jalan Seram.

Selain itu, pasar pasar rakyat seperti Pasar Bunul, Pasar Kebalen, Pasar Oro oro Dowo, Pasar Embong Brantas, Pasar Lowokwaru, Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo menjadi bagian dari Bouplan VI yang dibangun pada tahun 1932 hingga 1940.

Jalan Semeru, sumber gambar: Best Juliant

Bouwplan VII menjadi perencanaan lanjutan dari Bouwplan V yang dimulai pada 1940. Pembangunan ini menjadi pengembangan kawasan Jalan Ijen, yakni dengan dibangunnya perumahan elit.

Terakhir, Bouwplan VIII yang dimulai pada 1935-1942 dengan area seluas 179.820 meter persegi. Area ini dibangun untuk kawasan industri yang lokasinya dekat dengan jalur rel kereta api. Kawasan industri itu bisa ditemui di wilayah sekitar Stasiun Kota Lama dan area perluasannya di Blimbing yakni di Jalan Tenaga.

Pembangunan ala kolonial Belanda ini akhirnya berhenti seiring dengan masuknya Jepang ke Malang pada 1942, dan selanjutnya pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.

Sebelum acara tanya jawab narasumber juga menjelaskan tentang Monumen Pahlawan TRIP yang merupakan makam dari 35 Tentara Republik Indonesia Pelajar yang gugur dalam agresi militer Belanda pada bulan Juli 1947.

Monumen Pahlawan TRIP, dokumentasi pribadi

Tanya jawab dan diskusi berlangsung sangat menarik. Pak Irawan beberapa kali memberikan pertanyaan yang langsung dijawab dengan antusias oleh anak- anak.

Beberapa pertanyaan juga muncul dari anak anak. Misal mengapa dinamakan Kota Malang? Mengapa beberapa sekolah Zaman Belanda memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan?

Belajar sejarah  adalah sebuah cara yang hangat untuk  mencintai kota tempat tinggal kita.

Sebuah pembahasan menarik muncul juga tentang jembatan Buk gluduk.

Ya, jembatan yang berdekatan dengan stasiun Kota Baru ini masih kokoh berdiri sejak dibangun tahun 1890-1897. Dinamakan Buk gludug karena jembatan kayu ini berbunyi ‘gludug-gludug’ ketika dilewati pedati atau cikar. Kata ‘buk’ berasal dari kata ‘brug’ dalam bahasa Belanda yang artinya jembatan. Alhasil, jembatan inipun dinamakan ‘Buk Gludug’.

Jembatan buk gluduk, dokumentasi Pak Ir

Hari yang luar biasa. Antusias siswa, kesabaran narasumber dalam menjawab pertanyaan serta memberikan paparan adalah chemistry yang sangat mengasyikkan untuk bersama-sama belajar sejarah Kota Malang.

Di balik tempat tempat yang hampir tiap hari kita lalui, ternyata banyak tersimpan cerita yang mungkin belum kita ketahui. Adalah penting untuk mengetahui sejarah kota kita. Tahu sejarah membuat kita merasa menjadi bagiannya, bahkan mencintainya, karena belajar sejarah  adalah sebuah cara yang hangat untuk  mencintai kota tempat tinggal kita.

Salam dari Kota Malang 😊

Kunjungi Pameran Museum Bersama, Pelajari Jejak Sejarah Peradaban Malang Raya

Suasana di depan gerbang pintu masuk Mpu Purwa demikian ramai. Beberapa mikrolet datang ngedrop anak-anak yang akan melakukan kunjungan ke pameran hari itu.

Suasana sedikit crowded sampai ketika kami sekelas demi sekelas mulai masuk area pameran.

Ya, hari Selasa (13/10) siang itu kami mengunjungi Pameran Bersama Temporer 8 Museum yang diadakan di Museum Mpu Purwa Malang.

Kunjungan yang kami lakukan hari itu adalah bagian dari kegiatan kokurikuler kelas 9 yang mengambil tema Malang Heritage. Kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih memahami sejarah Malang dan pada akhirnya mereka lebih cinta akan Kota Malang sebagai tempat tinggal mereka.

Tentang Pameran Museum di Mpu Purwa

Siap berangkat ke Museum Mpu Purwa, dokumentasi pribadi

Pameran bersama ini diikuti oleh delapan museum di Malang Raya. Mengusung tema Perjalanan Waktu dan Jejak Peradaban Malang Raya, dalam pameran ini dihadirkan koleksi serta informasi sejarah dari  Museum Mpu Purwa, Museum Singhasari, Museum Ganesya, Museum Brawijaya, Museum Pendidikan, Museum Musik, Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK, dan Museum Karmel Padmawiyata.

Saya yang orang Malang asli merasa sangat surprise. Sungguh tak menyangka jika Malang ternyata punya museum sebanyak ini.

Suasana pameran , dokumentasi pribadi

Setelah masuk area pameran, anak anak pun menyebar ke masing masing stand museum untuk mencatat berbagai informasi menarik yang mereka dapatkan di sana.

Saya sendiri memulai perjalanan dari Museum Musik Indonesia. Museum yang berlokasi di Jl Sukarno Hatta ini menghadirkan poster para seniman musik kota Malang, seperti Silvia Saartje, Ian Antono dan Sal Priadi.

Silvia Saartje adalah lady rocker di kisaran tahun 70-80, Ian Antono adalah gitaris God Bless  yang ngetop di era 80-90 an dan Sal Priadi adalah penyanyi yang masih eksis hingga saat ini.

Sylvia Saartje, Sal Priadi dan Ian Antono, dokumentasi pribadi

“Wah, luar biasa ini suaranya,” komentar saya sambil mendekati poster Sang Lady Rocker.

“Benar, serak- serak begitu ya,” jawab penjaga stand museum. Pembicaraanpun semakin asyik, melantur kesana-kemari, baik tentang penyanyi maupun grup band lawas yang pernah terkenal di masa lalu.

Di stand Museum Musik Indonesia , dokumentasi pribadi

“Ian Antono ini gitarisnya God Bless,” kata penjaga stand. 

“Wah, benar. Ruame dulu konsernya di stadion Gajayana,” timpal saya.

Ya, ketika itu God Bless adalah band yang banyak digemari. Konsernya selalu membludak. Dengan hitsnya seperti Kehidupan, Semut Hitam, God Bless benar benar merajai musik di tanah air saat itu.

Dari stand Museum Musik saya berjalan ke stand Museum Pendidikan dan Museum Karmel Padmawiyata.

Di Museum Pendidikan kami disuguhi aneka koleksi mata uang baik dari Indonesia maupun negara lain. Berbagai koleksi tersebut diletakkan dalam sebuah album. 

Siswa mengamati koleksi mata uang, dokumentasi pribadi

Sambil membuka lembarannya satu persatu, pengunjung bisa bertanya berkaitan dengan koleksi mata uang tersebut.

Di stand Museum Karmel Padmawiyata yang tak jauh dari Museum Musik, kami bisa melihat lembaran Injil kuno yang masih menggunakan Bahasa Latin. 

Menurut keterangan, Injil tersebut dulunya masih sering dipakai beribadah pada zaman Belanda. 

Museum Karmel Padmawiyata  sendiri adalah museum sejarah dan kebudayaan yang dikelola oleh Ordo Karmel Indonesia di Malang dan berlokasi di kawasan  Oro-oro Dowo Malang.  

Sebuah hal yang sangat menarik kami jumpai di Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK. Di sini para pengunjung diperbolehkan memegang ular yang lumayan besar yang menjadi salah satu koleksi museum selain berbagai cangkang moluska.

Mencoba memegang ular di Museum Zoologi, dokumentasi pribadi

Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK terletak di dusun Karangwidoro kecamatan Dau Kabupaten Malang. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai tempat belajar tentang keanekaragaman fauna, penelitian hewan, serta praktik perawatan dan konservasi satwa. 

“Wiii,” pekik beberapa siswa geli, sementara siswa yang lain penasaran ingin mendekati ular yang dibawa oleh penjaga stand museum.

 Museum Singhasari  yang banyak menyimpan artefak, arca, dan sejarah mengenai Kerajaan Singhasari pada hari itu menyajikan aneka keris dan replika benda benda yang ada di Candi Singosari, seperti dwarapala. 

Stand pameran berbagai museum, dokumentasi pribadi

Tentang keris yang dipamerkan, dijelaskan bahwa jika keris lurus, maka  keris tersebut adalah peninggalan dari masa Kerajaan Singosari, sedangkan jika mempunyai luk (berbelok-belok) maka itu peninggalan dari masa Majapahit.

Jika di stand Museum Brawijaya kita bisa melihat berbagai macam senjata yang digunakan untuk perang di masa agresi militer tahun 1947, maka di Museum Panji kita bisa melihat aneka barang yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Mencoba alat jebakan tikus , dokumentasi pribadi

Barang yang dipamerkan di sini seperti jebakan tikus, pengaduk adonan juga alat pijat. yang pernah dipakai di kisaran tahun 1900 an

Wayang potehi, wayang suket bisa kita lihat dari dekat di stand Museum Ganesya. Menurut keterangan, museum Ganesya yang terletak di Graha Kencana Raya, Karanglo, Singosari, Kabupaten Malang ini mempunyai banyak koleksi artefak menarik peninggalan kerajaan Singosari dan Majapahit.

Wayang potehi, dokumentasi pribadi

Perjalanan hari itu kami akhiri dengan melihat koleksi museum Mpu Purwa yang terdiri atas berbagai macam topeng Malangan, peninggalan sejarah dari kerajaan yang ada di Malang termasuk diorama yang bercerita tentang berdirinya Singasari, keruntuhannya dan berdirinya Kerajaan Majapahit.

“Bagaimana perjalanan hari ini? Menyenangkan?” tanya saya pada seorang siswa. 

“Menyenangkan,” ungkap seorang siswa

“Saya baru tahu Malang punya museum sebanyak ini,” ungkap siswa yang lain.

“Luar biasa, koleksi cangkangnya bagus dan asli, saya pikir replika,” ungkap Tama, salah satu siswa yang rupanya tertarik pada aneka cangkang moluska di Museum Zoologi.

Cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya.

Hari yang luar biasa. Perjalanan hari itu membuka mata kami bahwa Malang bukan sekadar kota dengan udara sejuk dan kulinernya yang menggoda. Ia menyimpan jejak peradaban yang panjang, tersimpan rapi dalam delapan museum yang tersebar di Malang Raya.

Kami pulang dengan lelah yang menyenangkan karena membawa banyak cerita. Sebuah pelajaran yang kami dapatkan hari itu adalah bahwa cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya. Dan Malang, dengan segala jejak peradabannya, pantas untuk terus dikenang, dijaga, dan dibanggakan.

Merapi Lava Tour, dari Petilasan Mbah Maridjan hingga Offroad Air Kali Kuning

Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika bus kami mulai meninggalkan Hotel Pandanaran Yogyakarta.

“Bapak/Ibu, hari ini kita akan mengikuti Merapi Lava Tour. Beberapa tempat yang akan kita kunjungi adalah  Museum Petilasan Mbah Maridjan, Batu Alien, Bunket Kaliadem dan terakhir off road Air Kali Kuning,” jelas pemandu kami Mbak Nia dari Nala Tour. 

Bus terus melaju membelah lalu lintas Yogyakarta yang semakin ramai. Sesekali terdengar canda tawa di dalam bus, sementara lagu-lagu yang ditayangkan berganti ganti. Mulai dari Dewa 19 hingga  campursari. Wah, serasa gayeng sekali.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama sampailah kami di tempat yang dituju. Turun dari bus, kami langsung disambut oleh pemandu dari Merapi Lava Tour dan beberapa Jeep siap mengajak kami berkeliling di area sekitar Merapi.

Berempat kami menaiki Jeep warna merah. Tutorial naik dan turun kendaraan perang ini diberikan oleh Mas Wisnu guide kami dengan sabar.

Mas Wisnu, driver sekaligus guide kami ini banyak bercerita tentang cerita erupsi Merapi di tahun 2010. Sebagai orang Yogja asli Mas Wisnu tampak begitu memahami daerah Merapi ini.

Menuju Jeep, dokumentasi pribadi

Jeep kami melalui jalan yang naik turun dengan kecepatan yang tinggi menurut saya. Memang sepertinya di sini sensasinya. Naik kendaraan terbuka, melihat alam sekitar dan menikmati udara yang begitu segar.

Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, Jeep kami memasuki wilayah Museum Petilasan Mbah Maridjan.

Museum Petilasan Mbah Maridjan 

Museum ini berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, tempat ini dibangun untuk mengenang Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi atas kesetiaan dan pengabdiannya dalam menjaga tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.

Mbah Maridjan menjadi ikon nasional setelah letusan besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Saat itu beliau bersikeras tinggal di rumah saat terjadi erupsi hingga beliau meninggal di tempat.

Gamelan Mbah Maridjan , bagian dari museum Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

Museum Petilasan Mbah Maridjan dibangun di lokasi yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, yang hancur akibat letusan Merapi. 

Di Museum ini kita bisa melihat banyak barang peninggalan Mbah Maridjan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti pakaian, sarung, dan peci yang biasa ia gunakan, termasuk juga replika rumah Mbah Maridjan yang hancur, serta motor tua yang menjadi kendaraannya sehari-hari. 

Di sini kita juga bisa melihat dokumentasi kehidupan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, informasi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi dan berbagai kerusakan serta dampak bagi masyarakat sekitarnya.

Hingga kini di sekitar museum banyak penjual makanan atau cinderamata. Salah satu kios adalah milik putri dari Mbah Maridjan. 

Toko cinderamata milik putri Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

“Mas Wisnu kenal Mbah Maridjan?” tanya saya ketika kami kembali naik Jeep untuk melanjutkan perjalanan.

“Kenal, ” jawabnya.

“Beliau baik sekali, sabar,” tambah Mas Wisnu. Tampak sekali ia sangat menghormati sosok Mbah Maridjan.

Dari Museum Mbah Maridjan perjalanan kami lanjutkan ke Bunker Kaliadem dan batu Alien.

Bunker Kaliadem 

Bagian depan bunker, dokumentasi pribadi

Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan bawah tanah di lereng Gunung Merapi yang dibangun pada tahun 2001 .

Bunker ini dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman dengan fungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan relawan dari terjangan awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi.

Ketika terjadi erupsi pada tahun 2006, letusan gunung Merapi mengakibatkan aliran piroklastik atau awan panas bersuhu ekstrem menimbun seluruh bangunan bunker dan menutup pintu masuknya. Akibat nya dua orang relawan yang berlindung di dalam bunker meninggal dunia, karena suhu di dalam bunker melonjak sangat tinggi seperti oven akibat terjangan material panas. 

Berfoto dengan latar belakang gunung Merapi di area sekitar bunker, dokumentasi pribadi

Dari papan yang berisi informasi tentang bunker, bisa dilihat kondisi bunker sebelum erupsi, saat erupsi dan sesudah erupsi Merapi.

Dari lokasi bunker Kaliadem ini kita bisa melihat sosok Merapi yang tampak begitu indah dari jarak yang tak begitu jauh.

Batu Alien dan Off road Air Kali Kuning 

Batu Alien yang mirip manusia, sumber gambar: RRI

Jika di Padang ada batu Malin Kundang, maka di lereng Gunung Merapi kita bisa temui Batu Alien.

Batu Alien adalah bongkahan batu vulkanik erupsi Merapi tahun 2010 yang berbentuk mirip wajah manusia. 

 “Yang pertama menemukan menyebut, itu wajah alien, makanya sekarang namanya wisata Batu Alien,” kata pemandu wisata saatbitu.

Diperkirakan batu Alien dan batuan lainnya di lokasi tersebut berasal dari muntahan Gunung Merapi, yang dibawa Kali Gendol. Karena posisi kali sedikit menikung, maka  batu terlempar karena luapan kali tersebut.

Sesudah jelajah musium, bunker Kaliadem dan Batu Alien, kami tiba pada jelajah terakhir yaitu offroad air Kali Kuning.

Kali Kuning adalah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi serta mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta. Sungai tersebut tentu memiliki panjang sekitar 40 km dan mengalir melalui beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul

Offroad Air Kali Kuning dilakukan dengan cara menaiki jeep terbuka dengan track offroad yang langsung melintasi beberapa jalur, seperti area berbatu, sungai dangkal, serta area yang berpasir. 

“Siap dipakai jas hujannya Ibu-ibu,” kata Mas  Wisnu mengingatkan. Bergegas kami memakai jas hujan dan tak lupa merapatkan helm.

Off road Air Kali Kuning, dokumentasi pribadi

“Pegangan yang kuat..!” kata Mas Wisnu sambil menambah kecepatan Jeep kami. Jeep meluncur menuju jalanan berbatu dan turun ke arah sungai kecil.

 “Wiiih…!” air langsung muncrat naik membasahi kami para penumpang Jeep. Teriakan dan tawa langsung berderai bersama. 

“Aman, Ibu-ibu?” tanya Mas Wisnu memastikan.

“Aman..!” teriak kami bersemangat

Dengan cekatan Mas Wisnu memutar mobil , kembali ke rute awal dan Jeep kembali melintasi sungai. Semakin tinggi kecepatannya semakin tinggi pula air yang muncrat di sekitar kami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.

Rute Jeep yang berkelok- kelok, cipratan air sungai dan jeritan para penumpang membuat pengalaman ini tak akan terlupakan.

Ketika matahari semakin tinggi, jelajah sekitar Merapipun diakhiri. Kami mengucapkan terima kasih pada Mas Wisnu yang telah begitu sabar menjadi guide kami dalam perjalanan pagi ini.

Setelah sejenak bersih diri, kamipun menuju bus untuk persiapan kembali ke Malang.

“Bu, monggo salaknya.. salaknya,”  seorang ibu menawarkan dagangan salak di tangannya. 

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, Merapi adalah guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa

“Manis?” tanya saya.

“Manis, Bu, bisa dicoba,” katanya ramah. Saya dan teman-teman masing-masing mengambil satu ikat dan segera memasukkannya ke dalam bagasi bus.

Matahari kian terik, dan bus kami perlahan meninggalkan area Merapi. 

Dari kejauhan dengan latar langit yang berwarna biru terang, sosok Merapi tampak indah dan begitu perkasa.

Merapi yang luar biasa.

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa.

Membuka Jendela Dunia: Pembiasaan Literasi di Sekolah

“Baik, silakan baca dari link yang sudah dikirim lewat grup kelas, buat catatan atau rangkuman dan nanti ada perwakilan dari siswa putra dan putri untuk maju menceritakan hasil literasi hari ini,” kata Ibu guru pagi itu di depan seluruh siswa kelas tujuh.

Ya, pagi itu mereka berkumpul di aula untuk melaksanakan literasi sebagai salah satu pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Siswa langsung membuka HP, membuka link dan mulai membaca. Di sela kegiatan membaca mereka membuat catatan di buku literasi mereka.

Suasana yang semula agak ramai langsung tenang. Beberapa siswa masih menunggu bacaan muncul di gadget mereka, sementara yang lain sudah mulai konsentrasi, membaca dan memegang pena untuk menuliskan bagian penting dari bacaan tersebut .

Hari ini bacaan mereka berjudul “Memberi Ruang Pada Waktu Memberi Makna Pada Hidup”.

Bacaan ini berisikan ajakan untuk memanfaatkan waktu luang. Diterangkan dalam bacaan tersebut perlunya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu yang hilang tak akan bisa kembali lagi.

Bacaan ditutup dengan sebuah nasehat bijak bahwasanya “Waktu adalah kain yang Tuhan berikan pada kita. Kita tak bisa meminta lebih panjang, tapi kita bisa menyulamnya dengan cinta, keheningan, dan kebermaknaan. Jangan biarkan ia lewat tanpa pernah kita rasa”

Di akhir acara, dua orang siswa menceritakan apa saja yang sudah dibaca hari itu yang disambut dengan applaus siswa yang lain sebagai bentuk penghargaan.

Pembiasaan Literasi Membuka Jendela Dunia 

Kegiatan literasi sekolah, dokumentasi Richa

Gerakan Literasi Sekolah adalah upaya menyeluruh yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pembiasaan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. (Sumber: Kemdikbud) 

Ada tiga tujuan utama dari gerakan literasi sekolah yaitu 

Menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui ekosistem literasi yang ramah dan menyenangkan.

Meningkatkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.

Meningkatkan kapasitas warga sekolah agar mampu mengelola pengetahuan secara kritis, analitis, dan reflektif.

Salah satu bentuk implementasi gerakan literasi ini adalah dengan pembiasaan membaca non pelajaran selama 15-20 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Membacakan hasil rangkuman, dokumentasi Richa

Sebagai upaya untuk mengajak siswa menggunakan gadget mereka secara bijak, gerakan literasi sekolah kami dilaksanakan bergantian antara menggunakan buku secara fisik dan digital, di mana untuk literasi dengan buku cetak, siswa bisa membawa dari rumah atau meminjam buku di perpustakaan.

Literasi sebagai jantung pembelajaran adalah sesuatu yang harus terus dikuatkan karena  tanpa literasi yang baik siswa tidak akan bisa belajar dengan baik.

Sebenarnya literasi tidak hanya membaca saja. Literasi baca tulis adalah salah satu dari literasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan literasi sekolah yang meliputi literasi  digital, finansial, numerasi termasuk juga sains dan kewarganegaraan. Meski demikian membaca adalah literasi yang utama karena membaca adalah gerbang utama untuk mengakses bentuk literasi lainnya. Tanpa kemampuan membaca (memahami teks), seseorang akan kesulitan mempelajari literasi yang lain

Menurut data dari berbagai sumber indeks literasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain memang masih jauh tertinggal, terutama dalam hal kualitas dan minat baca.

Berikut rincian perbandingannya berdasarkan beberapa indeks utama:

1. PISA 2022 (Skor Membaca Siswa 15 Tahun): Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD (476). 

2. Minat Baca (UNESCO/Central Connecticut State Univ): Minat baca hanya 0,001% (1 dari 1.000 orang). Dalam studi World’s Most Literate Nations (2016), Indonesia bahkan menempati peringkat 60 dari 61 negara .

3. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (Perpusnas, 2026): Skor nasional baru mencapai 40,6, yang masuk dalam kategori rendah .

4. Rata-rata Waktu Membaca (World Population Review, 2025): Masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam/tahun, sangat tertinggal dari India (352 jam) dan AS (357 jam) .

Meski demikian angka melek huruf kita termasuk tinggi yaitu mencapai 96%, di atas rata-rata global (~86,5%).

Singkatnya banyak orang Indonesia yang “bisa membaca” tapi belum “suka membaca” , yang berakibat pada tidak atau kurang mengerti dengan apa yang sudah dibaca.

Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Berkaca dari data tersebut penting sekali menguatkan budaya baca tulis di lingkungan sekolah, karena tanpa kemampuan baca yang baik, mustahil siswa akan belajar dengan baik. Kemampuan baca yang baik juga akan membuat siswa bisa menulis dengan baik. 

Literasi sekolah, dokumentasi Richa

Akhirnya pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum kegiatan pembelajaran adalah sebuah langkah sederhana yang membawa dampak luar biasa di kemudian hari. Lewat kegiatan ini siswa diajak untuk tidak sekadar bisa membaca tapi juga suka membaca. Gerakan ini juga mengajak siswa untuk menggunakan gadget dengan lebih  bijak dan membuka wawasan mereka tentang dunia.

Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk pribadi yang cinta belajar dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Kemampuan membaca dan menulis membuat siswa lebih bisa mengenal diri dan  sekitarnya, terkoneksi dengan dunia yang dipelajarinya serta bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa dipahami orang lain.

Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan :  “Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Salam Literasi

Cintai dan Teladani Akhlak Rasulullah, Semangat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

QS. Al Ahzab 21

Senin (24/08) adalah hari yang istimewa di Bintaraloka. Ya, pada hari itu dilaksanakan Peringatan Maulid , hari kelahiran nabi tercinta Muhammad SAW.

Dengan pembawa acara dari BDI, acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan terjemahannya. Suasana terasa demikian teduh, ketika semua yang hadir menyimak  pembacaan kalam ilahi sekaligus terjemah yang dibawakan oleh siswa kelas tujuh ini.

Pembacaan ayat suci Alquran, dokumentasi pribadi

Selanjutnya shalawat Thibbil Qulub mengalun indah dengan dipandu oleh Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang dan diiringi oleh al banjari.

“Bukan sekedar berbagi bahagia, Perayaan Maulid adalah sebuah cara bagi kita semua untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, panutan kita,” ungkap Bapak Teguh Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Dalam sambutan pagi itu Bapak Teguh juga memberikan pertanyaan yang mendalam pada siswa.

 “Seandainya Nabi Muhammad menjadi gurumu pagi ini, apa yang diharapkan beliau pada siswa SMP Negeri 3?”

Kuis dari Bapak Kepala Sekolah, dokumentasi Fabi

Dengan lancar siswa menjawab bahwa Nabi mengharapkan siswa meniru akhlak beliau yaitu shidiq, amanah, fathonah dan tabligh.

Keempatnya adalah akhlak mulia yang harus senantiasa kita teladani dari Sang Uswatun Hasanah; shidiq artinya jujur, amanah bisa dipercaya fathonah artinya cerdas dan  tabligh artinya menyampaikan.

Suasana terasa demikian hangat ketika KH Zainal Arifin, M.Ag memberikan tausiyah dengan materi yang serasa begitu dekat dengan keseharian kita. Lewat gayanya yang kocak namun tetap berisi KH  Zainal Arifin, M.Ag menegaskan agar kita tidak lupa meminta doa ibu dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. 

Tausiyah dari KH Zainal Arifin, dokumentasi pribadi

Dijelaskan oleh beliau agar kita meneladani nabi lewat berbagai kebiasaan yang dicintai Nabi Muhammad SAW yaitu sholat jamaah, sholat tahajud, sholat dhuha, membaca Alqur’an, menyayangi anak yatim, menyayangi fakir miskin, membaca istighfar, senang bersiwak dan berwudhu.

Akhir acara hari itu ditandai dengan berbagai kuis, dan lantunan lagu-lagu Islami oleh para vocalis kebanggaan Bintaraloka; Farin, Anya, dan Rafarsya.

Farin dengan lantunan lagu Islami, dokumentasi pribadi

Sesudah acara di lapangan, siswa kembali ke kelas untuk menikmati buah dan kue yang sudah dibawa dari rumah atau disiapkan paguyuban. 

Datangnya beberapa orang paguyuban untuk membantu mempersiapkan konsumsi putra-putrinya menunjukkan sinergi positif antara sekolah dan orang tua di SMP Negeri 3 Malang.

Makan bersama di kelas sebagai bagian perayaan Maulid Nabi, dokumentasi pribadi

Apresiasi yang luar biasa patut diberikan pada BDI dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini sejak satu minggu sebelumnya.

“Persiapan acara ini sudah dilakukan secara sungguh-sungguh oleh BDI maupun Al Banjari, dan anak- anak melakukan gladi bersih di hari Sabtu malam,” tutur Ibu Ida ketua panitia pelaksana.

Foto bersama sesudah acara Maulid, sebagian panitia, kepala sekolah dan KH Zainal Arifin, dokumentasi Bintaraloka

Hari yang begitu indah, meriah namun tetap terasa khidmat. Semoga perayaan ini membawa hati kita untuk senantiasa mencintai nabi dan meneladani akhlak beliau.

Allahumma sholi ‘ala Muhammad