Cintai dan Teladani Akhlak Rasulullah, Semangat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

QS. Al Ahzab 21

Senin (24/08) adalah hari yang istimewa di Bintaraloka. Ya, pada hari itu dilaksanakan Peringatan Maulid , hari kelahiran nabi tercinta Muhammad SAW.

Dengan pembawa acara dari BDI, acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan terjemahannya. Suasana terasa demikian teduh, ketika semua yang hadir menyimak  pembacaan kalam ilahi sekaligus terjemah yang dibawakan oleh siswa kelas tujuh ini.

Pembacaan ayat suci Alquran, dokumentasi pribadi

Selanjutnya shalawat Thibbil Qulub mengalun indah dengan dipandu oleh Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang dan diiringi oleh al banjari.

“Bukan sekedar berbagi bahagia, Perayaan Maulid adalah sebuah cara bagi kita semua untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, panutan kita,” ungkap Bapak Teguh Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Dalam sambutan pagi itu Bapak Teguh juga memberikan pertanyaan yang mendalam pada siswa.

 “Seandainya Nabi Muhammad menjadi gurumu pagi ini, apa yang diharapkan beliau pada siswa SMP Negeri 3?”

Kuis dari Bapak Kepala Sekolah, dokumentasi Fabi

Dengan lancar siswa menjawab bahwa Nabi mengharapkan siswa meniru akhlak beliau yaitu shidiq, amanah, fathonah dan tabligh.

Keempatnya adalah akhlak mulia yang harus senantiasa kita teladani dari Sang Uswatun Hasanah; shidiq artinya jujur, amanah bisa dipercaya fathonah artinya cerdas dan  tabligh artinya menyampaikan.

Suasana terasa demikian hangat ketika KH Zainal Arifin, M.Ag memberikan tausiyah dengan materi yang serasa begitu dekat dengan keseharian kita. Lewat gayanya yang kocak namun tetap berisi KH  Zainal Arifin, M.Ag menegaskan agar kita tidak lupa meminta doa ibu dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. 

Tausiyah dari KH Zainal Arifin, dokumentasi pribadi

Dijelaskan oleh beliau agar kita meneladani nabi lewat berbagai kebiasaan yang dicintai Nabi Muhammad SAW yaitu sholat jamaah, sholat tahajud, sholat dhuha, membaca Alqur’an, menyayangi anak yatim, menyayangi fakir miskin, membaca istighfar, senang bersiwak dan berwudhu.

Akhir acara hari itu ditandai dengan berbagai kuis, dan lantunan lagu-lagu Islami oleh para vocalis kebanggaan Bintaraloka; Farin, Anya, dan Rafarsya.

Farin dengan lantunan lagu Islami, dokumentasi pribadi

Sesudah acara di lapangan, siswa kembali ke kelas untuk menikmati buah dan kue yang sudah dibawa dari rumah atau disiapkan paguyuban. 

Datangnya beberapa orang paguyuban untuk membantu mempersiapkan konsumsi putra-putrinya menunjukkan sinergi positif antara sekolah dan orang tua di SMP Negeri 3 Malang.

Makan bersama di kelas sebagai bagian perayaan Maulid Nabi, dokumentasi pribadi

Apresiasi yang luar biasa patut diberikan pada BDI dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini sejak satu minggu sebelumnya.

“Persiapan acara ini sudah dilakukan secara sungguh-sungguh oleh BDI maupun Al Banjari, dan anak- anak melakukan gladi bersih di hari Sabtu malam,” tutur Ibu Ida ketua panitia pelaksana.

Foto bersama sesudah acara Maulid, sebagian panitia, kepala sekolah dan KH Zainal Arifin, dokumentasi Bintaraloka

Hari yang begitu indah, meriah namun tetap terasa khidmat. Semoga perayaan ini membawa hati kita untuk senantiasa mencintai nabi dan meneladani akhlak beliau.

Allahumma sholi ‘ala Muhammad

Nguri-uri Basa Jawi Melalui Pembiasaan Literasi

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng..,” ucap Ibu Guru Bahasa Jawa pagi itu. Para siswa kelas tujuh yang duduk lesehan di aula langsung fokus. 

Sak marine ayo podho nggawe rangkuman telung alinea wae,” ajak Bu Guru lagi.

Pembiasaan literasi adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah kami tiap pagi hari sekitar 20 menit. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Jika sekarang kelas tujuh, maka besok kelas delapan dan lusa kelas sembilan.

Selain membaca secara online, literasi juga diisi dengan membaca buku fisik atau nonton film bareng seperti yang dilakukan hari ini.

Tanpa menunggu lama filmpun diputar. Sebuah film pendek berjudul “TOPI” dengan durasi sekitar 12 menit. Ketika adegan per adegan muncul, semua langsung fokus, baik siswa maupun pendamping literasi. Sesekali penonton tertawa ketika ada adegan yang lucu dalam film.

Film berjudul TOPI ini  bercerita tentang Gesang, siswa yang masih duduk di tingkat SD dan keluarganya.

Topi menjadi pusat cerita karena dari sinilah masalah bermula. Diawali ketika Gesang berangkat ke sekolah dan ternyata di tengah jalan ia baru sadar bahwa topinya ketinggalan.

Kakek yang membonceng Gesang setiap berangkat ke sekolah segera balik ke rumah, dan Gesang diminta menunggu di tengah sawah. Sesampai di rumah, ternyata pintu sudah dikunci karena Ibu Gesang berangkat mengantar kakak Gesang yang bersekolah di SMP. Sementara kakek sibuk minta dibukakan pintu untuk mengambil topi yang ketinggalan, Gesang bertemu tetangganya dan ‘dibawa’ ke sekolah supaya tidak terlambat.

Fokus nonton film bareng, Dokumentasi Pribadi

Betapa terkejutnya kakek tatkala melihat cucunya tidak ada di tempat dimana tadi ia ditinggal. “Gesaaang…,” teriak kakek mencari cucu kesayangannya, dan di sinilah penonton mulai terpancing, ada yang tertawa tapi juga kasihan.

Film yang penuh nasehat tatakrama atau suba sita ini sangat cocok untuk anak SD atau SMP. Lewat adegan-adegan yang sederhana namun sangat mengena film ini memberikan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh: jangan mengambil makanan dengan tangan kiri, bagaimana memberikan barang dengan sopan pada orang lain, termasuk juga tatakrama saat makan yaitu tidak boleh mengeluarkan bunyi berkecap-kecap.

Dikaitkan dengan kegiatan literasi, kegiatan ini mengajak anak anak untuk berliterasi secara visual dengan cara mengambil pelajaran penting dari sebuah film pendek. Sebuah kegiatan yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna, karena menonton film dalam durasi 12 menit ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi generasi alpa yang relatif memiliki konsentrasi pendek karena sering menonton reels yang berdurasi rata-rata 1-3 menit.

Di akhir cerita, Ibu Guru memberikan sedikit ulasan tentang film yang baru saja ditonton. Siswa tampak demikian antusias dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Guru.

“Bu, rangkumannya dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?” tanya seorang siswa sebelum kegiatan literasi berakhir.

“Basa Jawa,” kata Bu Guru sambil tersenyum. 

“Wahhh..,” keluh siswa. 

“Sulit, Bu.., sambung yang lain.

“Ora opo-opo.., ngoko wae,” jawab Bu Guru lagi.

Pertanyaan dari siswa, Dokumentasi Pribadi

Kami para pendamping literasi tertawa. Merangkum dengan menggunakan Bahasa Indonesia saja kadang sulit apalagi  Bahasa Jawa. Tapi setidaknya melalui kegiatan ini kami mengajak siswa untuk “nguri-uri Basa Jawa”, teriring harapan mudah-mudahan wong Jawa ora nganti lali Jawane.

Arti istilah:

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina Iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng : selamat pagi anak anak, hari ini literasi Bahasa Jawa diisi dengan nonton film bareng

Ngoko : bahasa Jawa biasa, bukan yang halus

Nguri-uri Basa Jawa : melestarikan Bahasa Jawa

Wong Jawa ora nganti lali Jawane : Orang Jawa tidak melupakan adat Jawa.

SMP Negeri 3 Malang Raih Juara Umum dalam Airlangga Scout Competition 2026

Di bulan Juli ini Pramuka Bintaraloka kembali meraih sebuah prestasi yang membanggakan. Ya, gelar Juara Umum mereka raih dalam Airlangga Scout Competition yang diadakan pada tanggal 18-19 Juli di Kampus C Universitas Airlangga, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Surabaya.

Airlangga Scout Competition (ASC) adalah ajang lomba pramuka tingkat nasional untuk golongan Penggalang and Penegak. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pramuka Universitas Airlangga Gugus Depan Kota Surabaya 09.622-09.623.

Dalam acara ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan 2 regu, masing-masing 1 regu putra (Barakuda) dan 1 regu putri (Cempaka) dimana tiap regu berisi sepuluh orang.

Penghargaan juara Dance Semaphore , salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Lomba yang diadakan dalam event ini adalah Sandi Morse Semaphore, pioneering, PUPP (Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Pramuka), hasta karya, dance semaphore (Lomba pangkalan), yel-yel (Lomba pangkalan). Yang dimaksud dengan lomba pangkalan adalah lomba gabungan dari regu putra dan putri yang  terdiri dari 5 putra dan 5 putri untuk tiap bidang lomba pangkalan.

Penghargaan lomba Hasta Karya Putri, salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Nah, apa yang diperoleh Barakuda Cempaka dalam event ini? Tidak tanggung-tanggung berbagai gelar juara disabet oleh Pramuka kebanggaan Bintaraloka ini dengan rincian sebagai berikut:

– Juara Umum

– Juara Utama 1 Putra

– Juara 1 PUPP Putra 

– Juara 2 Pioneering Putra 

– Juara Harapan 3 Pionering Putri

– Juara 3 Sandi Morse Semaphore Putra 

– Juara Harapan 3 Sandi Morse Semaphore Putri

– Juara Harapan 2 Hasta Karya Putra

– Juara Harapan 3 Hasta Karya Putri

– Juara 3 Dance Semaphore 

– Juara 2 Yel-yel

“Lomba ini seru karena banyak pangkalan yang mengikuti dan adalah lomba berskala nasional, lomba ini juga memberikan tantangan baru terutama di mata bidang Pioneering dan Sandi Morse Semafor, ” ungkap Hagi salah satu peserta lomba.

Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang

Bintaraloka raih berbagai kejuaraan dalam Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Pendamping yang berasal dari alumni  juga pembina yang selalu memberikan semangat pada peserta mempunyai kontribusi yang besar sehingga prestasi luar biasa ini bisa diraih.

Akhirnya selamat pada Pramuka Bintaraloka, semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang. Salam Pramuka 😊

Regu Pramuka Bintaraloka Raih Juara Umum dalam Giskaga Fire Competition

Jangan berhenti untuk raih prestasi. Barangkali demikian tekad dari Barakuda Cempaka. Betapa tidak? Pada hari Sabtu (13/06) regu pramuka kebanggaan Bintaraloka ini kembali meraih prestasi yang membanggakan. Ya, kali ini mereka mendapatkan berbagai kejuaraan di Giskaga Fire Competition yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya, dan berhak mendapatkan gelar juara umum.

Kontingen Pramuka Bintaraloka, dokumentasi Pramuka

Giskaga Fire Competition adalah perlombaan kepramukaan bergengsi tingkat pelajar (SD dan SMP)  se Jawa yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya. 

Acara yang diadakan setiap tahun ini  menguji kreativitas dan keterampilan kepramukaan melalui berbagai cabang perlombaan.

Dalam kompetisi ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan satu tim yang terdiri atas dua regu, dan setiap regu terdiri atas 8 siswa putra dan 8 siswa putri.

 Latihan persiapan untuk mengikuti lomba ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Sebuah perjuangan yang luar biasa, Para peserta all out memberikan penampilan terbaiknya dengan didampingi oleh Kak Mubin, Kak Dwi (pelatih), Kak Alam (pelatih), dan beberapa kakak alumni.

Aksi Pramuka putri, dokumentasi pramuka

Berbagai gelar juara yang diraih Barakuda Cempaka adalah: 

– Juara 1 yel yel putra

– Juara 1 SMS

– Juara 2 pionering

– Juara 2 bisnis plan putra

– Juara 2 bisnis plan putri

– Juara harapan 1 yel yel putri

– Juara umum

“Sungguh pengalaman yang berkesan karena kami dapat bertemu teman-teman dari luar kota, memenangkan beberapa perlombaan serta meraih juara umum,” ungkap Lili salah satu peserta dari regu putri.

Pioneering, dokumentasi pramuka

Akhirnya selamat pada Barakuda Cempaka atas segala prestasi yang diraih. Semoga gelar juara ini tidak membuat kalian berpuas diri, dan harapannya ke depan prestasi kalian akan semakin gemilang. 

Salam Pramuka!

Panggung Kreatif Nusa Loka : Mari Cintai dan Lestarikan Budaya Nusantara

Gamelan Bali yang menghentak mengiringi tarian gemulai siswa dan siswi dengan balutan busana daerah yang begitu cantik ditambah dengan hiasan anekabunga Kamboja di kepala.  Mereka terus melenggak lenggok selaras irama. 

Tak berapa lama irama gamelan berubah dengan irama khas Nusantara yang lain. Sebutlah Jawa Timur dengan gending reogan, Jawa Tengah dengan Gundul-gundul Paculnya, tak ketinggalan Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan, Si Patokaan dari Sulawesi dan dilanjut dengan Sajojo, Yamko Rambe Yamko dan Apuse dari Papua.

Aksi salah satu peserta, dokumentasi pribadi

Semua tersaji indah di pagelaran seni kokurikuler kelas 7 yang bertajuk Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara, dan diadakan pada hari Kamis (18/06).

Dalam pembelajaran mendalam kokurikuler adalah kegiatan penguatan dan pengayaan yang dirancang agar siswa dapat mengaitkan materi di kelas dengan dunia nyata. Kokurikuler membantu siswa untuk menemukan makna, relevansi, dan nilai dari apa yang dipelajari sehingga pemahaman tidak sekadar dihafal, melainkan benar-benar dikuasai dan diterapkan. 

Tarian Bali, dokumentasi pribadi

Nusa Loka sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna dunia pulau atau wilayah kepulauan. Hal ini merujuk pada wilayah negara kita yang terdiri atas ribuan pulau  dan menyimpan berbagai adat istiadat juga seni yang beraneka ragam.

Lewat Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara ini siswa kelas 7 hendak menunjukkan betapa kayanya Nusantara kita tercinta.

Sumatera Utara, dokumentasi pribadi

Kegiatan kokurikuler kelas 7 merupakan kegiatan akhir semester genap. Jadi setelah siswa sibuk berkutat dengan kegiatan penilaian akhir tahun, selama dua minggu mereka disibukkan dengan kegiatan mengeksplor tari dan lagu daerah Nusantara.

Dalam kegiatan kokurikuler kali ini siswa tidak hanya belajar lagu dan tari secara teori. Tapi mereka juga belajar untuk membuat sebuah event, membuat buku ensiklopedia daerah Nusantara dan terakhir menyajikan drama musikal dengan tema yang berbeda setiap kelasnya.

Gemulai tari peserta, dokumentasi pribadi

Pertunjukan pagi itu diakhiri dengan pagelaran tari kolosal yang merupakan gabungan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Dengan koreografer Ibu Tya pengajar seni budaya SMP Negeri 3 Malang, tarian yang dipertunjukkan begitu rancak, dinamis sekaligus meriah.

Pagelaran tari kolosal, dokumentasi pribadi

Dengan empat orang pembawa acara, Nasrul, Ghiena, Pak Mubin dan Ibu Putri acara berjalan lancar dari pukul 07.00 hingga jelang Dhuhur.

Acara hari itu ibarat sebuah perjalanan kecil keliling Nusantara. Langkah-langkah lincah, suara-suara ceria yang lantang, serta senyum ceria siswa  yang menjadi bukti bahwa kekayaan budaya kita akan terus hidup selama ada anak-anak yang mencintainya. 

Pembawa acara, dokumentasi pribadi

Lewat acara ini juga siswa tidak sekedar bergerak menirukan heran dan langkah, tapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang kita tentang gotong royong, keberagaman, dan rasa hormat pada alam. 

Para siswa dengan busana Jawa Barat, Dokumentasi Pribadi
Madura, Jawa Timur, dokumentasi pribadi
Siap tampil dari Jawa Tengah, dokumentasi pribadi
Para penari dari Jawa Timur, dokumentasi pribadi

Apresiasi positif diberikan oleh Bapak Anton ketua komite SMP Negeri 3 Malang atas terselenggaranya acara ini.

Semangat Bapak/ibu guru dan seluruh siswa dalam mengikuti acara ini ditunjukkan dengan warna warni busana daerah yang dikenakan pada hari itu.

Mengenakan busana daerah, dokumentasi Bintaraloka

“Meriah sekali,”

“Sangat menyenangkan,” ungkap siswa di sela menunggu saat untuk tampil.

Di akhir acara dibagikan hadiah pada kelas yang menjadi pemenang untuk berbagai kategori, seperti kategori proposal terbaik, kategori tampilan tari terbaik, ensiklopedia terbaik dan banyak lagi. Hadiah diserahkan oleh Ibu Raddin selalu ketua kokurikuler kelas 7 dan Ibu Arie koordinator kokurikuler sekolah.

Para pemenang, dokumentasi Buz

Hari yang luar biasa 

Harapannya semoga lewat rangkaian acara kokurikuler ini  pada diri siswa akan terus terpatri rasa cinta pada budaya Nusantara dan terus berusaha melestarikannya.