Sebuah prestasi yang membanggakan kembali diraih Barakuda Cempaka di awal bulan Mei ini (03/05). Ya, regu Pramuka SMP Negeri 3 Malang berhasil mendapatkan gelar juara umum dalam event AUSTERN 4.0.
AUSTERN4.0 atau Al Uswah Treasure Hunt 4.0 adalah ajang perlombaan pelajar tingkat SMP/MTs sederajat se-Jawa & Madura yang diselenggarakan oleh SMAIT Al Uswah Surabaya.
Dalam event yang berlangsung dari bulan April hingga Mei 2026 ini dilaksanakan kompetisi berbagai cabang lomba, dari Pramuka, olahraga juga lomba akademik.
AUSTERN4.0 ini dirancang sebagai ajang kompetisi dan ajang unjuk bakat bagi pelajar tingkat menengah di wilayah Jawa dan Madura
Berbagai kejuaraan yang diperoleh Pramuka Bintaraloka dalam ajang ini adalah:
1. Juara 1 SMS Putra
2. Juara 1 Scout Chef Putra
3. Juara 1 Scout Chef Putri
4. Juara 1 Pionering Putra
5. Juara 1 Pionering Putri
6. Juara 2 SMS Putri
7. Juara 2 Cerdas Cermat Putra
8. Juara 2 Cerdas Cermat Putri
9. Juara 2 Batle Yel Pangkalan
10. Regu Tergiat 1 Putra
11. Regu Tergiat 1 Putri
12. Juara Umum GPP AUSTERN 4.0
Luar biasa. Hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi siswa yang lain untuk memberikan yang terbaiknya bagi SMP Negeri 3 tercinta.
Semangat peserta dalam berlatih akhirnya memberikan prestasi yang manis. Dengan sebelas kejuaraan, akhirnya gelar juara umum berhasil direbut Barakuda Cempaka.
Pelatih, pembina dan alumni, dokumentasi Pramuka
Peran serta pelatih dan pembina, serta motivasi dari alumni adalah sumber energi yang tak kalah penting untuk mendapatkan prestasi yang sangat gemilang ini.
Akhirnya selamat atas prestasi yang diraih Pramuka Bintaraloka. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi siswa yang lain untuk menyumbangkan prestasi terbaiknya bagi SMP Negeri 3 tercinta.
Pada bulan Pebruari 2026 tim Pokja inovasi teknologi dan Kompos SMP Negeri 3 Malang melakukan sosialisasi penggunaan eco enzim pada ibu-ibu PKK Kelurahan Bunulrejo Kota Malang.
Sosialisasi dilakukan oleh Ibu Ahfi bersama tim. Dalam acara tersebut dipaparkan tentang apakah eco enzim itu, bagaimana cara membuatnya, serta apa saja manfaatnya bagi kita semua.
Proses pembuatan eco enzim, dokumentasi Bintaraloka
Mengapa yang disasar adalah ibu-ibu?. Ibu-ibu sebagai para aktivis utama di dapur, hampir tiap hari berkecimpung dengan masalah sampah.
Ya, dapur adalah penghasil sampah organik yang utama di rumah, seperti kulit buah, sisa sayur, sisa makanan dan lainnya. Jadi melalui kegiatan ini ibu ibu diajak untuk memanfaatkan sisa sampah organik dari dapur untuk dibuat eco enzim.
Apakah ECO enzim itu?
Eco enzyme adalah cairan organik serbaguna limbah dapur (kulit buah/sayuran), gula merah, molase, dan air. Cairan ini diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengolah sampah organik menjadi bahan lain yang bermanfaat.
Cara membuat ECO enzim adalah dengan mencampurkan potongan kulit buah ke dalam larutan gula merah dan molase. Setelah tercampur dalam sebuah wadah, tutup wadah tersebut, dan jangan lupa sering membuka tutup wadah karena selama proses fermentasi akan dihasilkan gas metana.
Setelah tiga puluh hari eco enzim siap dipanen.
Potongan kulit pisang dan kulit jeruk dalam larutan gula marah dan molase, dokumentasi Bintaraloka
Eco enzim bisa dimanfaatkan untuk pembersih lantai, deterjen pakaian,pupuk organik cair, nutrisi tanaman, pestisida nabati alami dan banyak lagi.
Diterangkan oleh Ibu Ahfi ketua Pokja inovasi bahwa pembuatan eco enzim di SMP Negeri 3 Malang akan lebih difokuskan dengan menggunakan bahan utama kulit jeruk dan kulit pisang sebagai limbah utama dari MBG.
Jadi dalam keseharian, sisa sampah MBG berupa kulit pisang dan kulit jeruk tersebut bakal dikumpulkan untuk selanjutnya diolah menjadi eco enzim
Yang menarik selain menjelaskan tentang pembuatan eco enzim, pada ibu-ibu PKK juga dikenalkan kalkulator eco enzim, dimana dengan alat tersebut bisa ditentukan dengan mudah jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat eco enzim dalam jumlah tertentu.
Calculator eco enzim, dokumentasi AhfiSosialisasi eco enzim, dokumentasi Bintaraloka Sosialisasi pada ibu PKK Bunulrejo, dokumentasi Bintaraloka
Acara sosialisasi berjalan lancar. Hal ini terlihat dari antusiasme para ibu PKK dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada pemateri.
Akhirnya lebih dari sekadar cairan serbaguna, Eco Enzyme adalah bukti nyata bahwa solusi krisis lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana dan kolektif. Ibu-ibu PKK, sebagai pengelola utama rumah tangga, memiliki peran strategis dalam mewujudkan perubahan untuk bumi yang lebih baik.
Bisa dibayangkan bagaimana jika setiap rumah di lingkungan kita mampu mengolah setengah kilogram sampah dapur menjadi Eco Enzyme, betapa banyak sampah organik yang tidak lagi dibuang ke TPA dan puluhan pohon akan tumbuh lebih subur karena ECO enzim tersebut.
Ya, bumi sebagai tempat tinggal satu satunya harus terus kita jaga kelestariannya untuk kehidupan yang lebih baik untuk sekarang, juga generasi mendatang. Bukankah ada kata bijak yang mengatakan bahwa alam semesta bukan warisan nenek moyang, tapi ia adalah pinjaman dari anak cucu kita yang harus terus kita jaga kelestariannya?
Awal Pebruari adalah hari yang begitu sibuk di Bintaraloka. Ya, sejak tanggal 2 hingga 9 Pebruari siswa akan menjalani ujian praktik sebagai salah satu syarat kelulusan dari SMP Negeri 3 Malang.
Ujian praktik ini diadakan dalam waktu satu Minggu dan diikuti sekitar 280 siswa. Semua mapel diuji praktekkan dengan menggunakan semua ruang kelas sembilan
Pemandangan berbeda sangat tampak sejak kita masuk dari lorong depan kelas 9.1 di pekan ujian ini.
Semangat persiapan ujian, dokumentasi pribadi
Semangat! Itu yang terasa di mana-mana.
Di depan ruang- ruang ujian siswa demikian sibuk. Ada yang menyanyikan lagu-lagu wajib, menghafalkan teks dialog, orasi, deklamasi, termasuk juga presentasi tentang pembuatan topeng Malangan.
Semangat persiapan ujian, dokumentasi Bintaraloka Siap mengikuti ujian, dokumentasi pribadi
Di tempat lain, siswa dalam balutan busana daerah Jawa siap menyajikan drama. Berbagai macam properti disiapkan untuk tampilan kelompok mereka.
Selesai? Belum. Di ruangan lain peralatan band sudah siap untuk dimainkan siswa. Di depan ruang tersebut siswa menyiapkan diri agar bisa tampil maksimal saat mendapat giliran.
Siswa tampak demikian sungguh-sungguh. Tentu saja, mereka ingin mendapatkan nilai yang maksimal sekaligus memberikan persembahan karya yang terbaik untuk sekolah.
Siap ujian praktik matematika, dokumentasi pribadi
Berbagai materi diujikan pada siswa, seperti; peribadatan dan membaca kitab suci (mapel agama), praktik olah raga, uji larutan asam basa dan praktikum ayunan bandul (mapel IPA), penggunaan konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari, keberanian berpendapat dan hafalan lagu wajib ( mapel PKN), membuat vlog “A Day in My Life” ( mapel TIK), termasuk juga membaca deklamasi, dialog juga drama untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.
ujian praktik IPS, dokumentasi Bintaraloka
Kemeriahan ujian praktik sangat terasa ketika kita memasuki area ujian seni dan bahasa. Ya, di sana para siswa bersama kelompok band mereka membawakan lagu-lagu bergenre pop, jazz, rock, hingga dangdut dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Bukan sekedar untuk mencari nilai yang bagus, penyelenggaran ujian praktik memiliki banyak hal baik yang merupakan investasi berharga pada diri siswa. Hal baik tersebut misalnya:
1. Menggali dan Melestarikan Budaya Bangsa
Melalui ujian bahasa Jawa siswa belajar untuk mencintai warisan leluhur. Lewat drama bahasa Jawa mereka tidak hanya belajar bahasa daerah, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur, unggah-ungguh, tata krama, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Deklamasi, ujian praktik Bahasa Indonesia, dokumentasi Bintaraloka Ujian praktik Bahasa Jawa, dokumentasi Bintaraloka
Melalui puisi dan deklamasi siswa belajar menghargai seni dan sastra. Deklamasi puisi mengajarkan mereka untuk meresapi keindahan bahasa, mengekspresikan perasaan, dan memahami makna mendalam dari setiap rangkaian kata. Hal tersebut menumbuhkan kepekaan estetika dan emosional.
2. Membangun Karakter dan Mental yang Tangguh
Dengan ujian praktik olah raga, orasi, presentasi dan dialog siswa belajar tentang keberanian, rasa percaya diri sekaligus bagaimana berkomunikasi di depan orang banyak. Lewat kegiatan ini juga mereka belajar tentang sportivitas, kerjasama tim, merayakan kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada.
Persiapan ujian praktik PJOK, dokumentasi pribadi Dialog, ujian praktik Bahasa Inggris, dokumentasi Bintaraloka
3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
Lewat ujian matematika mereka belajar bagaimana menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Matematika realistik mengajarkan siswa bahwa matematika tidak hanya tentang rumus di kertas, tetapi ada di mana-mana.
Matematika realistik , dokumentasi pribadi
Lewat ujian di laboratorium siswa belajar bagaimana mengasah keterampilan proses sains, mulai dari merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan.
Ini melatih mereka untuk berpikir logis, sistematis, dan tidak mudah percaya pada informasi tanpa bukti.
Ujian praktik IPA, dokumentasi Bintaraloka
Tidak semua eksperimen akan langsung berhasil, dari sini siswa juga akan belajar dari kegagalan. Mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, dan akan segera melakukan perbaikan.
4. Menanamkan Nilai-nilai Spiritual dan Sosial
Lewat ujian praktik agama siswa belajar untuk memperdalam penghayatan agama sekaligus toleransi dan saling menghormati. Ya, lingkungan sekolah yang beragam membuat ujian agama dilakukan bermacam-macam sesuai dengan agama yang dipeluk siswa.
Siswa dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.
Membaca Al Quran , dokumentasi Bintaraloka
Akhirnya secara keseluruhan, rangkaian ujian praktik ini mengajarkan satu hal yang sangat mendasar bahwa belajar adalah untuk kehidupan, bukan hanya untuk ujian.
Lewat kegiatan ini siswa belajar menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual , tetapi juga terampil dan berkarakter baik.
Ujian praktik PKN, dokumentasi Bintaraloka
Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.
Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.
Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.
Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum.
Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta.
Tentang Surat Cinta
Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz
Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa. Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.
Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.
Surat Cinta dan Penerimaan Rapor
Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz
Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.
Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.
Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.
Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.
Lalu bagaimana skenarionya?
Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi
Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.
Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.
Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.
Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.
“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.
Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.
“Untuk bunda,”
“Buat ayah tercinta”
“Dariku untuk bunda,”
Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.
“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.
“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.
“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.
Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz
Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.
Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.
Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya
Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.
Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2
Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.
Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial.
Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk masa depan anak yang lebih baik.
Demikian yang diucapkan siswa ketika sebuah sesi kegiatan kokurikuler berakhir.
Sesudah kurang lebih selama sembilan puluh menit siswa diajak belajar tentang sejarah dan filosofi topeng Malangan bersama, acara hari itu ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, guru pendamping dan narasumber.
Belajar sejarah dan filsafat topeng Malangan adalah salah satu sesi kegiatan siswa pada kegiatan kokurikuler. Kegiatan yang fokus pada pembangunan karakter siswa kali ini mengambil tema pembuatan topeng Malangan dan difokuskan pada siswa kelas sembilan.
Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi Topeng peng Malangan sangat penting agar siswa bisa lebih memahami dan menghayati cerita di balik keunikan topeng Malangan, sekaligus lebih menghargai topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara.
Bapak Gatot Kasujono narasumber hari itu adalah seorang seniman sekaligus kolektor topeng Malangan. Beliau menggeluti dunia topeng sejak tahun 1986, dan sampai sekarang memiliki sekitar 1500 koleksi topeng.
“Semua karena tidak sengaja,” tutur Pak Gatot ketika saya bertanya kenapa tiba-tiba jatuh cinta pada Topeng Malangan.
Berawal ketika beliau mendapat tugas untuk kuliah di Jogjakarta sekitar tahun delapan puluhan. “Saya kuliah di Geodesi,” kata Pak Gatot lagi.
“Lha.., dari Geodesi ke Topeng Malangan sepertinya jauh jaraknya ya, Pak?” tanya saya yang disambut dengan tawa Pak Gatot.
Berbincang dengan Pak Gatot , dokumentasi Buz
“Ketika itu saya kan kos, Bu. Nah, pas libur saya merasa bosan, tidak ada yang dikerjakan( istilah sekarang mungkin gabut) di kos kosan, dan akhirnya diajak teman jalan jalan ke Gunung Kidul. Di sana saya menemukan sebuah kampung di mana kegiatan penduduknya mayoritas adalah pembuat topeng. Dari situ rasa cinta saya pada topeng berawal.”
Kecintaan pada topeng diwujudkan Pak Gatot dengan terus belajar. Beliau pernah belajar pada generasi ke empat dari Mbah Moen, seorang maestro Topeng Malangan dari sanggar Asmorobangun Pakisaji Malang.
Setelah pensiun dari Perhutani, Pak Gatot terus aktif di membuat topeng Malangan dan setiap tahun diundang menjadi narasumber Topeng Malangan di SMP Negeri 3 Malang.
Dalam penjelasan pada siswa siang itu Pak Gatot menerangkan bahwa Topeng Malangan adalah seni tradisional dari Malang, Jawa Timur, berupa seni pertunjukan drama tari yang menggunakan topeng kayu berkarakter.
Seni ini sudah ada sejak zaman kerajaan kuno dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta religiusitas yang tinggi. Topeng Malangan sering dipentaskan dengan mengangkat cerita, dengan pementasan yang mengangkat cerita-cerita seperti Panji.
Warna warni Topeng Malangan mempunyai filosofi tersendiri, sumber gambar: Radar Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan, contoh : warna merah melambangkan watak pemberani dan pemarah (misalnya, Klana Sewandana), warna putih menggambarkan watak suci, lembut, dan baik hati (misalnya, Dewi Sekartaji), hijau menggambarkan sifat baik hati (misalnya, Panji Asmoro Bangun), kuning menggambarkan watak senang dan gembira (misalnya, Dewi Ragil Kuning) dan warna hitam melambangkan kebijaksanaan.
Acara pemberian materi sejarah dan filosofi topeng Malangan ini berlangsung hangat, lebih-lebih ketika di sela sela acara, seorang siswa dari ekskul menari maju memperagakan tari topeng Bapang
Antusias siswa ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dari siswa yang dijawab satu persatu oleh narasumber.
Siswa menarikan tari Topeng, dokumentasi Buz
Siswa banyak bertanya di sesi pemberian materi, dokumentasi pribadi
Ya, dedikasi serta rasa cinta Pak Gatot pada topeng Malangan membuat beliau sabar meladeni pertanyaan anak- anak.
“Semoga semakin banyak anak anak yang cinta Topeng Malangan, dan pembuatan topeng supaya diikuti dengan pagelaran tari topeng agar filosofinya semakin terasa,” ungkap Pak Gatot di akhir perbincangan kami hari itu.
Pagelaran Tari Topeng Malangan, sumber gambar: Hotel Tugu Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan
Menjelang pukul dua Pak Gatot segera berpamitan. Kami mengantar beloau sampai depan parkiran. Semangat yang luar biasa. Di usianya yang ke 72, beliau masih naik sepeda motor sendiri dari Jl. Dr Cipto menuju Sawojajar dua.
Hari yang luar biasa. Hari ini kami semua belajar bahwa membuat topeng Malangan bukan hanya tentang mencintai budaya dan kearifan lokal. Tapi lebih dari itu, ada banyak pelajaran tentang kesabaran, kesetiaan dan ketekunan di dalamnya.