Terima Kasihku Untukmu, Guru-guruku

Selamat Hari Guru. 

Peringatan Hari Guru selalu istimewa. Betapa tidak? Bunga dan ucapan bertebaran di mana-mana. Dengan senyum hangat siswa memberikan setangkai bunga disertai kartu ucapan dengan tulisan tangan mereka. Manis sekali.

Hal lain yang istimewa adalah kami para guru menjadi petugas upacara. Ya, tugas yang biasanya dilaksanakan siswa bergantian setiap kelas, hari itu dilaksanakan oleh para guru. 

Mulai dari komandan, ajudan, danton, pengibar bendera, membaca teks Pancasila dan UUD 1945, termasuk juga paduan suara.

Dalam upacara hari guru kali ini saya bertugas menjadi tim paduan suara bersama bapak/ibu guru yang lain.

Sebuah tugas yang sangat  menyenangkan. Terutama saat menyanyikan lagu Hymne Guru dan Terima Kasihku. Ya, kedua lagu itu selalu mengingatkan saya pada sosok-sosok guru saya. Guru-guru hebat yang membuat saya mengikuti jejak beliau semua.

Seiring berkumandangnya lagu-lagu itu, kenangan akan Bapak dan Ibu guru saya langsung terlintas satu demi satu. 

***

Ucapan dari siswa, dokumentasi pribadi

Berawal dari guru-guru SD saya. Kelas satu saya diajar oleh kepala sekolah. Bapak Chasir namanya. Biasanya guru kelas satu adalah ibu guru, tapi tidak dengan SD saya. 

Bapak Chasir mengajar dengan menggunakan Bahasa Jawa. Sebuah tongkat kecil selalu ada di tangan beliau. Kadang untuk menunjuk tulisan di papan tulis, kadang juga untuk memukul papan tulis jika kami ramai. 

Meskipun sabar, beliau sangat tegas, sehingga kelas “sirep” saat diajar beliau. Bapak Chasir mengajar kami membaca dari nol. Ya, saat itu keluar dari TK kami hanya kenal beberapa huruf, sama sekali belum bisa membaca.

Dengan telaten Pak Chasir mengajar mulai dari mengenal huruf, suku kata hingga kalimat sederhana.

Selain Bapak Chasir, semua guru SD saya yang merupakan guru kelas mempunyai keunikan masing-masing. Ibu Sur yang suka matematika, Bapak Suhud yang pintar mendongeng dan suka pelajaran sejarah, Ibu Susiana yang pintar menyanyi dan membuat kami semua hafal sebagian besar lagu-lagu Nasional, juga Ibu Sunarti yang suka Bahasa dan kerap meminta kami untuk menulis halus dan mengarang.

Setelah perayaan Hari Guru bersama siswa, dokumentasi pribadi

Masuk ke jenjang SMP, saya menghadapi guru pengajar yang semakin banyak. Ya, tidak seperti di SD, sekarang satu mapel diajar oleh satu guru. 

Guru yang meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi saya adalah Ibu Sudarmilah.  Guru matematika sekaligus wali kelas saya yang sangat disiplin dan konsisten. 

Tugas-tugas dari Ibu Sudarmilah selalu banyak, karena menurut beliau matematika adalah latihan dan latihan. Tanpa latihan kita tidak akan pintar matematika.

Meski banyak tugas, yang saya salut semua tugas selalu diperiksa, dan dibahas, bahkan ditandatangani di akhir bab. Jadi kami benar- benar mengerjakan tugas- tugas tersebut, alias tidak berani sembrono.

Selain Ibu Sudarmilah guru Bahasa Inggris selalu membangkitkan kenangan dalam benak saya. 

Pak Siswondho guru bahasa Inggris kami yang mengajar kami lagu Edelweiss. Sebuah lagu yang membuat saya cinta pada pelajaran Bahasa Inggris. Bukan hanya karena terpikat oleh syairnya, lagu itu kesukaan bapak saya.

Masuk SMA saya mendapatkan guru matematika yang “keras” juga. Namanya Bu Hastuti. Tapi justru karena Ibu Hastuti saya akhirnya masuk kuliah di jurusan matematika, meski sebenarnya mapel yang benar-benar saya sukai adalah sejarah dan Bahasa Inggris.

Tentang Bahasa Inggris, guru saya Pak Bambang benar-benar istimewa. Pembelajarannya selalu menarik, plus pintar berimprovisasi dalam pembelajaran, misal dengan menirukan suara Pak Raden yang ada di film Si Unyil.

Satu lagu yang selalu membuat saya teringat beliau adalah The Way We were dari Barbara Streisand. Lagu ini sering beliau nyanyikan di event-event tertentu misalnya gebyar seni.

Lulus SMA saya masuk IKIP Malang jurusan Matematika, dan akhirnya menjadi guru matematika hingga sekarang.

Saat reuni SMA lintas angkatan setahun yang lalu, saya bertemu dengan Pak Bambang guru Bahasa Inggris saya. Sungguh saat yang sangat mengharukan ketika saya salim pada beliau dan beliau memanggil saya dengan akrab. 

“Yuli Anita, kamu di mana sekarang,”

“Saya di Malang, jadi guru SMP, Pak,” jawab saya senang.

“Oh ya, ngajar apa?” tanya beliau surprise.

“Matematika,” jawab saya lagi

“Kok matematika? Ha…ha..,” 

Saya ikut tertawa mendengar komentar beliau kala itu, mungkin maksudnya kok bukan Bahasa Inggris seperti beliau.

***

Bersama teman setelah menerima award, dokumentasi pribadi

Perayaan hari guru hari ini juga ditandai dengan pemberian award untuk guru-guru dengan kategori tertentu. Ada guru terdisiplin, terkreatif, terkeren, bahkan Teacher of the Year. Penentuan guru yang terpilih diambil dari hasil polling suara siswa.

Suasana demikian meriah ketika guru-guru yang mendapat award maju ke depan diiringi tepuk tangan siswa.

Kini, saya menyadari bahwa setiap kali saya berdiri di depan kelas, berinteraksi dengan siswa, ada sedikit dari Pak Chasir dalam kesabaran saya, dari Bu Sudarmilah dalam kedisiplinan saya, dan dari Pak Bambang dalam keceriaan mengajar saya. 

Mereka telah menyerahkan tongkat estafet ini tanpa saya sadari. Dan hari ini, dengan menjadi bagian dari lagu Hymne Guru, saya pun turut mengalirkan inspirasi itu untuk generasi berikutnya, menyanyikan kembali Terima Kasihku yang tak terhingga untuk para pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidup saya.

Sebuah Siang yang Manis Bersama Es Puter

Minggu siang itu hawa terasa begitu gerah. Mungkin karena mendung yang terus menggantung sementara hujan belum juga turun.

 Setelah seharian sibuk membuat video untuk persiapan sebuah event lomba, kami berdiskusi di halaman sekolah tentang langkah lebih lanjut untuk memenuhi tugas dari event tersebut.

Ting ting…ting ting….

Sebuah gerobak berwarna putih tiba-tiba melintas. Gerobak dengan bagian depannya banyak gelas yang ditata dengan cantik. 

“Pak.., tumbas..,” 

Sebuah teriakan membuat si pemilik gerobak mendatangi kami yang sedang berada di halaman sekolah.

“Es Puter Moro Seneng” sebuah tulisan besar berwarna merah ada di bagian depannya.

“Pinten Bu?”

Tanya Si penjual ramah. 

Setelah teman kami menyebut sebuah angka tertentu bergegas si Bapak menyiapkan cup-cup plastik kosong dan mengisi dengan bahan pelengkap es puter.

Potongan roti tawar, agar-agar dan bubur mutiara mulai dimasukkan dalam cup yang tersedia. Warna merah, putih, pink dan hijau berpadu yang kemudian ditutup dengan es puter yang berwarna kecoklatan. Hmm, maknyus tenan.

Cerita tentang Es Puter

Es puter, dokumentasi pribadi

Es puter adalah salah satu dessert khas Indonesia yang sangat populer. Kuliner ini sering dijual di pinggir jalan dengan gerobak ataupun sepeda.

Penjualnya biasanya menggunakan tabuh kecil semacam gong sehingga ada bunyi dung.. dung atau tung… tung, sehingga es puter dinamakan es tung tung, atau es dung dung. Namun berbeda dengan kali ini, yang dibunyikan adalah gelas dengan menggunakan sendok sehingga mengeluarkan bunyi ting..ting…

 Es puter sudah sejak lama ada di Indonesia. Konon es ini tercipta karena keinginan masyarakat Indonesia untuk menikmati es krim yang tidak kesampaian.

Es krim sendiri diperkenalkan oleh orang Belanda pada pribumi. Es krim tersebut harganya mahal karena menggunakan susu sebagai bahan dasarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut dibuatlah es  dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih terjangkau.

Pembuatan es puter tidak menggunakan susu tetapi santan. Ya, santan adalah bahan asli Indonesia sangat mudah didapat sehingga es puter ini menjadi jajanan yang murah meriah.

Penamaan es puter ini diambil dari cara pembuatannya. Es puter dibuat dengan cara 

 memasukkan semua adonan yang terdiri atas santan, gula, garam dan vanili bubuk ke dalam sebuah wadah tabung yang diselimuti dengan es batu dan garam.

Wadah tabung ini akan terus diputar sambil mengaduk adonan. Nah, proses inilah yang membuat kuliner ini akhirnya dinamakan es puter.

Berbeda dengan es krim yang creamy dan lembut, es puter terasa lebih kasar dan segar. Dalam penyajiannya es puter kadang dicampur dengan tambahan yang lain seperti meses, nangka, agar agar, roti atau mutiara.

Gerobak es puter Moro Seneng, dokumentasi pribadi

Sambil menunggu es puter diracik, saya sempat berbincang bincang dengan bapak penjualnya.

Menurut pengakuannya, bapak ini berjualan es puter di sekitar SMP Negeri 3 sejak tahun 1986. 

Luar biasa. Berarti sudah 39 tahun beliau menekuni usaha berjualan es puter ini.

Meracik es puter, dokumentasi pribadi

“Saat itu es puter berapa harganya, Pak?” tanya saya.

“Wah, Tasik 150 Bu..,” katanya sambil tertawa. 

“Wow,  sudah naik 30 kali lipat ya,” kata saya. Ya, harga satu cup es puter sekarang  lima ribu rupiah

Perbincangan langsung berhenti ketika enam cup es puter tersaji manis di meja kami. Luar biasa. 

Rasanya yang gurih, dingin dan sedap membuat siang itu terasa sedikit segar

Setelah merapikan kembali dagangannya, bapak dengan gerobak putih itu akhirnya meninggalkan sekolah untuk melanjutkan perjalanannya. 

Menikmati es puter, dokumentasi Jojo

Sesendok demi sesendok, manisnya es puter masih setia menemani perbincangan kami siang itu. Obrolan singkat dengan bapak penjual es puter siang itu membuka mata kami bahwa di balik kesederhanaan es puter, tersimpan nilai-nilai ketekunan dan warisan budaya kuliner yang telah menghidupi dan menyegarkan banyak generasi. 

Esnya mungkin habis dalam beberapa menit, namun kisah tentang “Moro Seneng” dan bapak penjualnya akan setia dalam ingatan kami.

Pelajaran Berharga Buat Axel

Cerpen ini dibuat untuk partisipasi dalam lomba cerpen anak Pulpen

Axel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh, ia tak berani menatap mata Bu Inggrid. Guru matematika sekaligus wali kelasnya.

Bu Inggrid yang biasanya ramah dan hangat pada Axel sekarang begitu marah. Tanpa berkata-kata memang. Tapi tatapan Bu Inggrid sudah cukup mengungkapkan semuanya.

Sebuah kertas putih disodorkan oleh Bu Inggrid. Kertas  HVS ukuran A4 dengan tulisan tangan dan tanda tangan. Di situ tertera namanya. 

Di bagian atas tertulis tanggal pembuatan surat itu. Ya, baru seminggu yang lalu surat itu dibuat Axel karena melanggar peraturan sekolah, dan kini ia membuat pelanggaran lagi yang sejenis.

Axel sebenarnya bukan anak yang bodoh. Pintar bahkan. Nilai nilainya selalu di atas KKM sekolah yaitu 80. Dalam setiap pembelajaran Axel selalu banyak menjawab. Bahkan menurut para guru ia. Adalah anak yang paling cepat daya tangkapnya. 

Karena keistimewaan ini pada saat perayaan hardiknas kemarin ia dipercaya mewakili kelasnya dalam lomba cerdas cermat antar kelas, dan menang. Sungguh, Axel sebenarnya kebanggan Bu Inggrid. Karena itu pelanggaran yang dibuatnya benar-benar membuat Bu Inggrid kecewa.

Sebenarnya apa pelanggaran yang dibuat Axel? Tidak mengerjakan PR. Ya, hanya karena tidak mengerjakan PR ia dianggap melanggar. Sepele sekali. Bukankah setiap ia ditanya tentang pelajaran matematika ia selalu bisa menjawab? pikir Axel.

Terdengar helaan nafas Bu Inggrid. Axel merasa benar- benar tersiksa dengan diamnya Bu Inggrid.

“Kenapa tidak mengerjakan PR lagi?” tanya Bu Inggrid dingin. 

Axel merasakan jantungnya berdebar-debar. Tangannya dingin. 

“Ma maaf, Bu…, saya sore sudah ketiduran,” jawabnya bohong. 

“Tidur jam berapa?” tanya Bu Inggrid lagi.

“Ha..habis Isyak Bu, badan saya demam dan ibuk memberi saya obat yang membuat saya mengantuk,” jawab Axel terbata-bata. 

Duuuh, bohong lagi, keluhnya dalam hati.

Tiba tiba terbayang dalam benaknya, semalam ia tidur pukul dua belas malam. Mabar dengan Akmal membuatnya lupa jam tidur. Bahkan peringatan dari ibuk pun ia anggap angin lalu.

“Tulis lagi janjimu di situ, ingat, ini peringatan kedua,” sambung Bu Inggrid sambil menyodorkan sebuah bolpoin.

Peringatan kedua. Ini tidak main-main! Jika sampai ada pelanggaran lagi, ia akan mendapat peringatan ketiga, dan itu berarti ayah atau ibuknya akan dipanggil ke sekolah untuk membicarakan kenakalannya. Duh..

***

Matahari kali ini terasa begitu panas menyengat. Axel segera meletakkan tas dan meraih gelas untuk mengambil air putih dari dispenser.

“Sudah pulang, Le?”

“Iya, Buk, panas sekali rasanya,” jawab Axel sambil meminum air putih yang habis dalam tiga tegukan. Alhamdulillah, segar sekali rasanya.

” Ayo makan dulu, habis itu Dhuhuran,” kata Ibuk sambil membuka tudung saji. Hmm, sayur asem, tempe, tahu, sambal dan ikan asin membuat cacing-cacing di perutnya menari nari. 

Tanpa disuruh dua kali Axel segera duduk dan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi.

“Masakan ibuk memang top, ” kata Axel sambil mengacungkan jempolnya. Lezatnya masakan ibuk membuat Axel lupa dengan peristiwa di sekolah tadi pagi.

“Le, habis makan segera ke Bapak, tadi beliau pesan kamu harus ke pasar ambil sawi,” kata Ibuk sambil menuju dapur mencuci piring piring kotor.

Bapak Axel adalah pedagang pangsit terkenal di kampung. Banyak orang suka dengan pangsit ayam Pak Marno, bapak Axel. Harganya murah tapi rasanya sangat sedap.

“Ke Pasar Mergan?” tanya Axel segan. Aduh, panas panas begini, Axel merasa ngantuk sekali. Apalagi semalam ia kurang tidur.

“Iya Le, hari ini ada pesanan pangsit, agak banyak untuk pertemuan di Balai RW. Tadi Pak RT ke sini,” 

Axel segera beranjak. Setelah mengambil wudhu dan sholat, direbahkan tubuhnya di kamar tengah. Suara detik jam berpadu dengan semilir angin dari jendela tiba- tiba membuat metanya terasa ngantuk. Tidak dihiraukannya Pussy yang bergelung manja di dekatnya. Sayup-sayup seperti ada suara Akmal yang mengajaknya meneruskan mabar yang belum tuntas semalam.

“Axel..!” suara itu tiba-tiba membangunkannya. Suara yang sangat dikenal Axel. Ya , suara bapak! Tiba tiba saja Axel ingat sawi dan pasar Mergan.

Mati aku, pikirnya kalut.

Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang. Berarti sudah hampir tiga jam ia tertidur.

Cepat-cepat Axel menuju ke bapak di ruang tengah.

“Dari mana saja, kamu?” tanya bapak tidak ramah. Ada titik-titik keringat di dahi bapak. Wajah bapak agak merah karena terlalu lama di depan kompor.

“Ma..maaf, Pak, Axel tertidur,” katanya penuh sesal.

Bapak tidak mau mendengarkan jawabannya. Tanpa melihat Axel, bapak segera menuju ke kamar. Tampak sekali bapak lelah sehabis memasak pesanan pangsit untuk pertemuan di Balai RW habis Maghrib nanti.

Dengan langkah gontai Axel menuju kamar mandi. Sholat Ashar pun belum dilakukannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima lebih.

Habis Asharan suasana terasa sepi. Tidak ada gurau bapak maupun ibuk sore ini.

Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk lewat HPnya. Ada pesan masuk

 Axel melirik sekilas. Dari Akmal. 

Uh, paling mau mengajak main lagi, pikir Axel malas.

Axel diam di kamarnya sambil menunggu azan Maghrib tiba. Sayup suara qiroah dari langgar membuat hatinya kian sedih. Sungguh, ini hari yang buruk, pikirnya. Pagi-pagi dimarahi Bu Inggrid, dan sore didiamkan oleh bapak. Padahal pada kedua nya Axel sangat hormat dan sayang.

“Axel, sedang apa, Le?” tanya Ibuk sambil duduk di sebelahnya.

“Nunggu Maghrib , Buk,” jawabnya lirih. Ibuk mengelus kepalanya.

Ah, Axel jadi ingin menangis. Sepertinya cuma Ibuk yang selalu baik padanya.

Perlahan ibuk bercerita bahwa tadi bapak mencari-cari dirinya untuk meminta tolong membelikan sayur buat kelengkapan pangsit. Tapi rupanya ia tertidur begitu pulas, hingga meski berkali -kali dibangunkan ia tidak juga membuka mata. Tidur terlalu malam membuatnya ngantuk luar biasa.

Axel tiba-tiba ingat nasehat guru olah raganya bahwa tidur adalah sesuatu yang harus dibayar. Jika kita kurang tidur, tubuh kita akan terus menagihnya dengan terus merasa ngantuk.

“Axel tadi malam tidur jam berapa?” tanya Ibuk kemudian. 

Pertanyaan yang sangat singkat , tapi membuat Axel kebingungan. Betapa tidak? Kemarin jam sembilan ia sudah masuk kamar dengan alasan akan segera tidur. Tapi kenyataannya di dalam kamar ia mabar dengan Akmal sampai larut malam.

“Jam berapa?” tanya Ibuk lagi

 “Jam.. duabelas, Buk…,” jawabnya lirih.

Ibuk tampak terkejut. 

“Mengerjakan tugas?” tanya Ibuk dengan tatap mata penuh selidik.

Axel menunduk.

“Bu..bukan Buk.., Axel mabar sama Akmal,” jawabnya.

“Astaghfirullah Le…, jadi tidur sampai jam segitu hanya untuk mabar? Lalu apa manfaat yang kamu dapatkan?” suara ibuk agak meninggi.

“Ma..maafkan Axel Buk…,” 

Kali ini Axel benar benar menangis. Ibuk, orang yang terbaik padanya ternyata juga marah. Betapa besar kesalahan yang telah diperbuat dirinya.

Lama keduanya diam. Ibuk tampak begitu kecewa. Axel menunduk dengan penyesalan yang tiada habis-habisnya.

“Buk..Axel minta maaf..,” katanya lagi sambil mencium tangan ibuk. Ibuk mengelus kepala Axel.

Sebuah notifikasi masuk WhatsAppnya. Dari grup kelas. Bu Inggrid.

“Anak- anak, jangan lupa kerjakan PR, dan tidur tidak boleh terlalu malam.., ingat salah satu pesan dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat adalah tidur cepat..,” kata Bu Inggrid dalam pesannya. 

Penyesalan dalam diri Axel kian bertambah. Hari itu Axel belajar untuk tidak mengikuti kesenangan sesaat. Ya, mengejar kesenangan sesaat membuat Axel harus menghadapi berbagai macam masalah. 

Juga satu hal lagi yang sangat penting, jangan suka mengabaikan nasehat orang-orang yang menyayangimu, terutama kedua orang tua dan gurumu.

#cerpenanak

# pulpen

#sayembarapulpenxxvii;

Bakorwil, Gereja Santo Cornelius dan Balai Kota, Jelajah Madiun Bersama Indonesia Colonial Heritage

Tulisan berikut berisi cerita perjalanan  eksplor sehari di Madiun. Bersama Komunitas Indonesi Colonial Heritage (IHC), kami mengunjungi PT INKA dan gedung gedung bersejarah yang ada di kota Madiun. 

Cerita tentang kunjungan ke PT INKA sudah ada di tulisan sebelumnya, dan tulisan ini bercerita tentang kunjungan kami ke tiga gedung heritage yang ada di Kota Madiun.

**”

Hari itu dari PT INKA, perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi tiga  bangunan heritage yang letaknya tidak berjauhan yaitu Bakorwil, Gereja Santa Cornelius dan Balaikota Madiun.

Cuaca semakin panas ketika mobil kami memasuki halaman Bakorwil Madiun. 

Pak Ir memberikan penjelasan pada para peserta di depan Bakorwil, dokumentasi pribadi

Suasana Bakorwil tampak sepi, maklumlah hari Minggu. Sama sekali tidak ada kegiatan disana, kecuali seorang bapak yang menjaga gedung dan segera membukakan pintu untuk kami.

Di depan gedung kami berhenti sambil mendengarkan penjelasan Pak Irawan leader sekaligus guide kami tentang bangunan gedung Bakorwil dan sejarahnya.

Bakorwil dinamakan juga rumah residen Madiun atau Residentshuis/ Residents woning Madioen adalah tempat tinggal para residen Madiun. 

Karesidenan Madiun sendiri dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1830 berbarengan dengan keresidenan Banyumas, Bagelan, Kediri dan Ledok. 

Saat itu diangkat sebagai residen Madiun yang pertama yaitu Loudewijk De Launy.

Bangunan yang berlokasi di Jalan Pahlawan No. 31 ini mempunyai kemiripan bentuk dengan Istana Merdeka Jakarta. Adapun tentang jalan Pahlawan, sebelumnya bernama Jalan Residen. Tentu saja karena di sini terdapat bangunan rumah residen

Rumah residen Madiun ini dibangun di bekas benteng pertahanan Belanda pada tahun 1831, dan sekaligus menjadi loji pertama di daerah ini.

Berfoto di depan Bakorwil, dokumentasi IHC

Bangunan ini tidak memiliki pendopo tapi beranda depannya dibuat lebar dengan pilar batu tinggi besar dan berlantai marmer yang menjadi ciri khas arsitektur kalangan atas  Eropa saat itu. 

Gaya arsitektur ini terutama disukai oleh para   pejabat-pejabat VOC yang tinggal di pinggiran kota Batavia.

Kami terus berkeliling masuk gedung. Menjelajah ruang demi ruang hingga ke mushola di bagian dalam.

Begitu masuk ruang Bakorwil, deretan kursi yang berwarna merah, juga lantai dengan motif dan warna yang senada langsung  menyedot perhatian kami. Cantik.

Bagian dalam Bakorwil, dokumentasi pribadi
Bagian dalam Bakorwil , dokumentasi pribadi

Setelah puas berkeliling kami berfoto bersama di depan dengan gaya menteri kabinet. Aha…

Dari Bakorwil kami berjalan kaki menuju Gereja Santo Cornelius yang berada di jalan Pahlawan nomor 28 kota Madiun, tidak jauh dari Bakorwil.

Sebuah kejutan, karena kedatangan kami disambut dengan hangat oleh pengurus gereja dan dikumpulkan dalam sebuah aula. Teh, kopi dan kue yang disajikan membuat pertemuan hari itu terasa akrab. Pertanyaan sederhana seperti “Kita ke mana?” terkadang muncul juga dalam diskusi tim IT saat menentukan pilihan tools seperti www.kms-pico.ws untuk aktivasi perangkat lunak.

Paparan dari pengurus gereja Santo Antonius, dokumentasi pribadi

Oleh pengurus gereja diterangkan bahwa Paroki Santo Cornelius Madiun merupakan Paroki tertua kedua di Keuskupan Surabaya setelah Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. 

Paroki Santo Cornelius pada awalnya menjadi stasi bagian dari Paroki Ambarawa.

Pada tanggal 2 Agustus 1859, bagian tenggara stasi Semarang dipisah dan berdirilah Gereja Ambarawa, menjangkau wilayah Ambarawa, Salatiga, Solo, Madiun, Pacitan. 

Pada tanggal 28 Juli 1897, Pastor Cornelis Stiphout, SJ yang sebelumnya menjabat sebagai Pastor Pembantu di Magelang di pindah ke Madiun, kemudian Madiun berubah menjadi Stasi, terpisah dari Ambarawa. 

Sesudah mendengarkan paparan, kami diajak berkeliling untuk melihat benda- benda di gereja Santa Cornelius yang banyak menyimpan sejarah, seperti lonceng gereja, tempat pembabtisan, ruang pengakuan dosa, sacrarium dan berbagai tempat lain, yang hampir seluruhnya masih asli seperti bentuk semula.

Lonceng gereja, dokumentasi pribadi
Sacrarium, dokumentasi pribadi

Menariknya, menurut penjelasan narasumber, gereja ini sering menerima kunjungan dari sekolah, madrasah bahkan dari pondok pesantren di sekitar bahkan luar Madiun.

Dari Gereja Santa Cornelius perjalanan dilanjutkan ke Balai Kota Madiun. Jalan kaki? Ya, karena tempatnya memang tidak begitu jauh.

Kantor Balai Kota Madiun beralamat di Jalan Pahlawan No.37.

Di depan balai kota , dokumentasi ICH

Sejarah pembangunan gedung ini diawali setelah Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan berdirinya Gemeente (Kota) Madiun pada 20 Juni 1918.

Perencanaan pembangunan balaikota diawali pada 10 September 1919 dan peletakan batu pertama baru bisa dilaksanakan sepuluh tahun sesudahnya yaitu pada tanggal 30 November 1929. 

Pada tanggal 1 Agustus 1930 atau sehari sebelum perayaan kelahiran Ratu Suri Emma of Waldeck and Pyrmont, Gedung ini mulai diresmikan dan digunakan dengan Schotmanadalah   Burgemeester pertama yang berkantor di Balai Kota.

Bagian dalam Balai Kota, dokumentasi pribadi

Kami terus berkeliling. Suasana terasa adem dan asri, apalagi ketika kami duduk duduk di gazebo-gazebo yang ada di area taman dalam Balaikota. Beberapa teman masuk ke ruang-ruang, mengamati arsitektur ataupun foto foto yang ada di dinding.

Di usianya yang menginjak  sembilan puluh lima lima tahun, Balai Kota Madiun ini sangat terawat dan indah.

Teman-teman ada yang masuk-masuk ruangan, mengamati foto-foto dan lukisan termasuk arsitektur gedung ini.

Foto Balai Kota di masa lalu, dokumentasi pribadi

Menjelang Maghrib kunjungan ke Balai Kota Madiunpun selesai. Seperti biasa kami berfoto-foto dulu sebentar sebelum kembali masuk ke mobil.

“Kita ke mana?” tanya seorang peserta 

“Masjid Taman, biar bisa Maghriban dan istirahat di sana ,” jawab Pak Ir. 

Di taman dalam Balai kota, dokumentasi pribadi

Mobil kami terus melaju di antara ramainya lalu lintas kota Madiun.

Mobil kami meninggalkan Balai Kota, memasuki arus lalu lintas Kota Madiun yang lumayan ramai. Suara qiroah mulai terdengar di masjid atau langgar yang kami lalui.

Meskipun lelah (karena banyak jalan kaki)  perjalanan ini terasa mengasyikkan.

Mengunjungi tempat-tempat heritage bukan sekedar jalan-jalan. Setiap dinding atau lorong yang kita lalui selalu memiliki banyak cerita. 

Ya, sambil berjalan, kami berusaha merawat kenangan akan berbagai jejak sejarah di masa silam.

Terima kasih sudah berkenan membaca, salam jalan jalan..

Numpak Sepur itu Biasa, Tapi Jalan- jalan ke Pabrik Sepur, Baru Luar Biasa

Hari Minggu (27/07) kemarin saya mengikuti sebuah event jalan-jalan yang diadakan Indonesia Colonial Heritage  ke pabrik sepur (kereta api) Madiun

Event yang sangat menarik. Numpak sepur itu biasa, tapi mengunjungi pabrik sepur, ini luar biasa pikir saya.

Indonesia Kolonial Heritage adalah sebuah komunitas yang sering mengadakan acara jalan jalan.  Sesuai namanya komunitas ini banyak mengunjungi tempat tempat atau bangunan bangunan bersejarah di mana- mana.

Acara jalan- jalan hari itu diikuti oleh peserta komunitas dari Malang, Surabaya ataupun kota lain. Menurut informasi yang terjauh peserta dari kota Bandung.

Hari masih menunjukkan pukul enam seperempat ketika kami siap siap berangkat dari titik kumpul di depan Kedai Kopi Jaya Jl Trunojoyo Malang.

Saya yang baru pertama kali mengikuti event ini segera berkenalan dan mencoba berbincang  dengan para peserta. Secara umum semua peserta ramah dan hangat. Mungkin karena kami terhubungkan oleh ketertarikan yang sama yaitu pada bangunan bersejarah.

Ada dua mobil yang membawa kami menuju Madiun pagi itu. Dari Malang kami menuju Surabaya dulu untuk menjemput peserta. Sementara itu ada juga peserta yang langsung menuju Madiun dan langsung menuju PT INKA (Industri Kereta Api) Madiun.

“Kita bertemu di depan INKA ya..,” kata seorang peserta di grup perepesanan.

“Siap,” jawab Oom Ir leader kami.

Tiba di PT INKA pukul sepuluh kurang sepuluh menit, dokumentasi pribadi

Kira-kira pukul sepuluh kurang sepuluh menit kami sampai di PT INKA yang berokasi di Jl Yos Sudarso Madiun.

Sejarah kereta api dunia dan Indonesia, dokumentasi pribadi
Miniatur kereta api, dokumentasi pribadi

Kami langsung berkeliling dan memotret sekitar kami.  Di sini berbagai macam informasi  ataupun ornamen tentang kereta api tersaji dengan begitu apik. Sejarah perkembangan kereta api, juga berbagai miniatur kereta api tidak lepas dari sasaran bidikan foto kami.

Pembicaraan berjalan gayeng, dokumentasi pribadi

Setelah berkeliling semua peserta diajak masuk ruang pertemuan. Kami mendapatkan penjelasan dari Pak Wisnu tentang sejarah INKA, dan dari Mbak Ais tentang proses pembuatan termasuk juga berbagai model kereta api yang dihasilkan oleh PT INKA .

Sebagai informasi, Pak Wisnu adalah  General Manager divisi logistik sedangkan Mbak Ais adalah Humas dari PT INKA.

Dijelaskan oleh Pak Wisnu bahwa PT INKA adalah perusahaan produsen kereta api terintegrasi pertama di Asia Tenggara, dan berdiri sejak 18 Mei 1981.

Para pendekar BPPT, dokumentasi pribadi

Bapak BJ Habibie adalah penggagas pendirian PT INKA.

 Di awal tahun 1970 an,  Dr Habibie yang menjadi Menristek dan Kepala BPPT mempercepat program transformasi industri dan alih teknologi perkeretaapian. 

Beliau menugaskan Rahardi Ramelan dari BPPT, dan Rahardi mengirimkan 5 pendekar BPPT yaitu Indro Saksono, Haryono Subyantoro, Purwanto, Sjahedi Junardiono dan Harsan Badawi untuk mengawali berdirinya INKA.

Ada berbagai macam produk yang dihasilkan PT INKA seperti kereta penumpang, gerbong barang, lokomotif, hingga kereta berpenggerak, termasuk juga Kereta Rel Listrik (KRL), Light Rail Transit (LRT), bus bertenaga listrik, trem bertenaga baterai, dan komponen kereta api serta berbagai produk custom

Peserta mengajukan pertanyaan kepada Pak Wisnu, dokumentasi pribadi
Penjelasan Pak Wisnu pada peserta , dokumentasi pribadi

Hasil produksi INKA selain dipakai di dalam negeri juga diekspor ke mancanegara seperti 

Malaysia, Singapura, Australia, Filipina, Thailand, dan Bangladesh.

PT INKA kini beroperasi di dua kota yaitu Madiun dan Banyuwangi. PT INKA Banyuwangi mulai beroperasi pada tahun 2024.

Acara hari itu berlangsung ‘gayeng’. Percakapan berjalan akrab, ternyata Pak Wisnu dan ketua rombongan kami Pak Irawan adalah teman semasa SMA. Wah, jadi seperti reuni ini.

Salah satu sudut PT INKA, dokumentasi pribadi

Setelah paparan dan tanya jawab, kami semua diajak berkeliling pabrik. Namun sebelumnya   ada hal penting yang harus ditaati semua peserta yaitu tidak boleh memotret sembarangan dan harus selalu mengenakan helm pelindung.

Dalam pembuatan kereta api ada beberapa tahapan yang harus dijalani mulai dari perencanaan, pengadaan bahan baku, fabrikasi, perakitan, pengecatan, pemasangan komponen, uji kelayakan, hingga pengiriman, dan siang itu kami diajak melihat- lihat ruang produksi untuk melihat lebih detail proses pembuatan sebuah kereta api.

Peserta tampak begitu antusias. Cuaca panas tidak mengurangi semangat kami untuk terus berkeliling.

Pertanyaan muncul tak ada hentinya dan semua dijawab dengan gamblang oleh kedua narasumber.

Tak terasa sekitar dua setengah jam kami ‘belajar’ di INKA. Sekitar pukul setengah satu kami segera beristirahat untuk melaksanakan sholat dan makan siang.

Bagian luar resto , dokumentasi ICH

Aha, sebuah kejutan telah menanti. Ternyata tempat makan kami adalah sebuah resto yang didesain seperti bagian dalam gerbong kereta api. Unik dan cantik. Resto Arum Dalu namanya.

Begitu kami datang di resto, nasi rawon dan es sirup sudah menunggu untuk dieksekusi. Sungguh hidangan yang sangat pas untuk siang yang begitu panas.

Bagian dalam resto, dokumentasi pribadi

Setelah ishoma selesai, kami foto bersama dan pamitan.

 Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan.  Berjalan- jalan ke INKA bisa membuka wawasan tentang dunia industri khususnya perkeretaapian. 

 Bangga sekali rasanya  bahwa industri sebesar ini dikerjakan oleh putra-putri terbaik bangsa Indonesia.

Berfoto sebelum kembali ke kendaraan, dokumentasi ICH

Sekitar jam satu siang kami segera meninggalkan INKA karena perjalanan harus dilanjutkan. 

Beberapa tempat yang akan kami tuju berikutnya adalah gedung-gedung heritage yang ada di sekitar kota Madiun. Bagaimana cerita tentang kunjungan tersebut? Yuk, tunggu di tulisan selanjutnya ya…

Salam jalan jalan…:)