Berbagai Kenangan tentang ‘Ngeteh’ Bersama

Sudahkah anda ‘ngeteh’ hari ini?

Mendengar kata ‘ngeteh’ yang langsung tergambar dalam benak saya adalah minum teh bersama dengan keluarga. 

Aih, terbayang cangkir rumah lengkap dengan lepeknya yang berwarna putih kekuningan. Di dalamnya ada teh buatan ibuk yang hangat sedikit panas dengan aroma melati. Sedap sekali. 

Tradisi ‘ngeteh’ di pagi hari selalu dilakukan  sejak kami masih kecil. Saya ingat teh favorit kami adalah Teh 999 dan Teh Gopek. Keduanya memiliki wangi  segar. Begitu dituang air panas, kesegarannya langsung menguar mewarnai pagi kami.

Tradisi ‘ngeteh’ bersama paling terasa dilakukan di hari Minggu. Hari yang selalu diisi dengan kesibukan bapak dengan jahitannya, dan ibuk yang duduk bersama kami menikmati teh dalam cangkir masing-masing.

Tentu saja minum teh bersama dilakukan ketika kami sudah selesai bersih-bersih. Ah  ya, tugas saya ketika itu menyapu dan mengepel lantai, adik menyapu halaman sementara mas saya menimba air.

Selesai dengan tugas masing masing kami duduk di ruang depan. Saat ngeteh adalah saat yang sangat menyenangkan. Saat dimana bapak bercerita tentang apa saja, ditambah candaan kami dan tak ketinggalan lagu-lagu yang disetel dari tape kesayangan kami.

Ada lagu-lagunya Jim Reeves, Andy William, Deep Purple, Francis Goya, Bimbo, Ebiet dan banyak lagi. Ya, lagu-lagu Bapak yang akhirnya menjadi lagu kegemaran kami. Bahkan sampai sekarang playlist saya di hp maupun laptop isinya lagu-lagu itu.

Ilustrasi minum teh bersama keluarga, sumber gambar; Depositphotos

Kegemaran ‘ngeteh’ terus terbawa di keluarga saya sendiri, mulai anak-anak masih kecil hingga besar. Saat ini kami mulai mengenal teh celup. Untuk anak-anak saya lebih suka membuatkan teh celup karena lebih praktis. 

Ketika akan makan di luar, untuk memilih tempat makan, satu hal  yang saya jadikan pertimbangan adalah rasa tehnya. Ya, warung yang tehnya sedap pasti akan sering kami kunjungi 

Dari berbagai macam teh yang disajikan yang menjadi teh favorit saya adalah nesgitel. Artinya teh yang panas, legi  dan kenthel (panas, manis dan kental).  Begitu minum teh ini, byar…, rasanya mata langsung melek dan capek-capek terasa hilang.

Dari sekian banyak teh yang saya nikmati ada satu teh yang sangat berkesan di hati saya, dan saya anggap sebagai teh tersedap yang pernah saya rasakan.

Teh tersebut adalah ketika saya pergi ke Jogjakarta untuk menjenguk anak saya yang baru pindah kos.

Ya, anak saya ketika itu pindah ke kawasan Jalan Kaliurang untuk mendekati kampusnya. Ia masih duduk di semester satu saat itu. Jadi hitungannya masih maba.

“Ibuk ke tempat kos mu ya..,” kata saya lewat telpon saat itu. Ia baru saja mengabarkan kalau seminggu yang lalu pindah kos dengan dibantu teman temannya.

“Ibuk sama siapa?” tanya anak saya.

“Sama adikmu, nanti habis ujian,” jawab saya 

Di hari yang ditentukan kami berangkat. Berdua saya dan anak saya naik travel. Mengapa travel? Saat itu saya belum biasa naik kereta api, dan anak saya masih baru di Jogja. Saya tidak mau dia nanti repot harus menjemput di stasiun.

“Kos an ku dekat Rumah Makan Sederhana, ya Buk,” kata anak saya sambil memberikan sebuah alamat.

Sesuai janji travel, kami dijemput pukul sebelas. Dan menurut perkiraan kami akan sampai di Jogja sekitar maghrib.

Perjalanan berjalan lancar, travel berisi penuh penumpang. Ternyata yang mempunyai tujuan Jogja lumayan banyak. Jadinya begitu masuk kota Jogja kami berputar- putar dulu mengantar para penumpang ke tempat tujuannya.

Teh celup, sumber gambar: Kompas.com

Sampai Isyak kami belum juga menuju Kaliurang. Perut mulai lapar 

“Ibuk sampai di mana?” tanya anak saya lewat WhatsApp.

“Ini masih muter-muter antar penumpang, Le,” jawab saya.

Jam setengah delapan belum ada tanda tanda ke Jl Kaliurang. Penumpang tersisa tiga. Saya, anak saya dan satu orang penumpang. 

Ketika satu penumpang diturunkan di sebuah daerah (saya lupa namanya), mobil langsung menuju Jl Kaliurang.

“Ternyata kita terakhir, ” bisik anak saya sambil tersenyum. Tampak sekali dia sangat lelah.

“Kita nanti makan di Rumah Makan Sederhana dekat kos an masmu saja ya,” bisik saya. Seperti halnya saya, dia pasti lapar.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan . Mobil kami mulai masuk wilayah jalan Kaliurang.  Saya fokus ke kanan jalan.  Mencari tulisan Rumah Makan Sederhana, karena anak saya berjanji menunggu di depan rumah makan.

Akhirnya yang kami cari ketemu juga. Meski tulisan  Rumah Makan Sederhana tidak tampak oleh saya, tapi saya melihat anak saya berdiri di tepi jalan. 

“Di sini saja, Pak,” kata saya pada sopir. 

Saya segera turun dan anak saya langsung berlari menyambut kedatangan saya dan adiknya.

“Ayo makan dulu Le, adikmu lapar,” kata saya begitu tas saya dibawa anak saya.

“Ke Rumah Makan Sederhana yuk..,” ajak saya.

Anak saya tersenyum. 

“Mahal sepertinya Buk.. itu rumah makannya,” kata anak saya sambil menunjuk sebuah rumah makan besar dan tampak mewah. Tulisannya besar-besar dan bagus. “Restoran Sederhana”

Waduh..bayangan saya Rumah Makan Sederhana itu seperti di daerah saya. Rumah makan kecil dengan bangunannya yang sederhana, masakannya yang enak, dan harganya terjangkau.

Tapi yang ini…, melihat bangunnya saja  tiba- tiba saya khawatir kalau uang saya tidak cukup. Apalagi namanya bukan rumah makan tapi restoran. He..he…

Tidak sederhana ini.., pikir saya.

Niat makan di Rumah Makan Sederhana langsung batal. 

“Makan di mana ini enaknya, Le? ” tanya saya.

“Ayo cari magelangan saja,” katanya sambil menuju sebuah gerobak tak jauh dari  restoran. Di situ disediakan beberapa kursi plastik untuk yang pesan makanan.

Nasi magelangan, sumber gambar: detikfood

“Magelangan tigo, Pak..,” kata anak saya.

Magelangan adalah nasi goreng dengan tambahan mie dan disajikan dengan krupuk kecil-kecil.

“Teh e rumiyin nggih,” kata saya. Perjalanan yang lama membuat saya capek dan benar benar butuh ‘ngeteh’.

“Nggih, Bu,” jawab penjualnya sigap.

Tak berapa lama tiga gelas teh dihidangkan. Hangat agak panas dengan aromanya yang harum. Sangat cocok dinikmati di malam hari yang mulai terasa dingin

Begitu saya minum, ah..,  sedap sekali. 

“Alhamdulillah.. uenak Le,” kata saya lega. Anak- anak saya juga mulai menyeruput teh mereka.

Kami mulai berbincang. Hidangan yang datang membuat perbincangan kami semakin hangat. Lalu-lalang orang sama sekali tidak mengganggu keasyikan kami.

Menuangkan teh dalam cangkir, Sumber gambar: Kemenparekraf

Sungguh, rasa haus, lelah dan lapar membuat teh dan magelangan terasa begitu istimewa, seistimewa pertemuan kami malam itu.

Arti istilah:

Teh e rumiyin nggih: tehnya duluan ya

Potluck Sego Pecel di Hari yang “Sangat Bernilai”

Siapa yang tidak kenal pecel? Hidangan yang terbuat dari aneka sayur direbus lalu diberi toping satu kacang berbumbu ini sungguh menggugah selera. Apapun namanya;  pecel Madiun, pecel Blitar, pecel Malang, semua tampil dengan kekhasannya untuk memanjakan lidah penggemarnya.

Kata pecel atau pecal berasal dari bahasa Jawa yang artinya ditumbuk. Hidangan yang ada sejak zaman dahulu kala ini diperkirakan berasal dari daerah Mataram Kuno seperti Yogyakarta dan sekitarnya, lalu dibawa ke daerah sekitar JawaTimur.

Aneka hidangan dalam potluck , dokumentasi pribadi

Sekilas konsep penyajian pecel hampir sama dengan salad dari Eropa dimana berbagai sayuran disiram dengan saus berbumbu. 

Hidangan sederhana namun lezat ini baru- baru ini dinobatkan sebagai salah satu salad terbaik di dunia oleh Taste Atlas, sebuah majalah yang membuat ulasan tentang kuliner dari negara negara di berbagai belahan dunia.

Desember adalah bulan yang “sangat bernilai”. Betapa tidak? Tiap hari kami disibukkan dengan pengolahan nilai untuk persiapan penerimaan rapor semester gasal 2024/2025.

Meski demikian di tengah berbagai kesibukan tersebut, pada hari Selasa pagi (17/12)  kami mengadakan potluck sego pecel  di ruang guru Bintaraloka.

Ya, potluck adalah sebuah tradisi yang sering kami lakukan di di berbagai acara.

Semula potluck ini akan mengambil tema pecel punten, tapi karena pedagang punten ternyata sudah lama tutup, tema berubah menjadi sego pecel.

Bakwan, dokumentasi pribadi
Menjes kacang, dokumentasi pribadi
Mendol, dokumentasi pribadi

Layaknya potluck, hidangan dibawa para guru dari rumah, seperti sayuran, bumbu pecel, menjes kacang, bakwan, mendol, kerupuk, bothok juga pepes. Hanya nasi yang dimasak di sekolah.

Persiapan menanak nasi, dokumentasi pribadi
Menata hidangan, dokumentasi pribadi

Setelah hidangan disiapkan di meja guru,  makan bersama dimulai. Dengan wadah kertas bungkus, kami mulai menyendok nasi, mengambil sayur sekaligus menyiramnya dengan bumbu dan melengkapinya dengan lauk.

Aih, makan bersama selalu terasa lezat apapun hidangannya.

Makan bersama, dokumentasi Buz
Wadah kertas bungkus untuk menikmati hidangan, dokumentasi pribadi

Hari yang menyenangkan juga mengenyangkan. Aneka sayuran sederhana yang disiram bumbu kacang berpadu dengan aneka lauk dan topping kebersamaan ternyata bisa menciptakan harmoni yang lezat sekaligus indah.

Bapak dan Gulai Terlezat di Dunia

Membaca topik pilihan Kompasiana tentang makanan berempah ingatan saya langsung tertuju pada jenis makanan satu ini. Gulai.

Ya, gulai kambing, makanan yang begitu lezat dan rempahnya begitu terasa. Paduan tumbar, jintan, kayumanis membuat gulai kambing hadir dengan aroma yang begitu menggoda.

Tentang Makanan Berempah 

Makanan berempah di Indonesia banyak sekali jenisnya seperti gulai, rendang, soto, kare, rawon,opor, dan yang lain. 

 Kaya akan hasil rempah-rempah, membuat orang Indonesia bisa membuat berbagai kreasi masakan yang lezat menggoda selera. Bahkan beberapa di antaranya masuk dalam kategori hidangan terlezat di dunia. Sebutlah rawon atau pecel yang dinobatkan sebagai sup terenak dan salad terbaik di dunia versi Taste Atlas.

Dari berbagai sumber, diketahui bahwa gulai  adalah jenis masakan yang tumbuh dan berkembang di Sumatera. 

Gulai pada mulanya mendapat pengaruh dari India, namun cita rasa India diubah total dengan aneka bumbu dan rempah khas Nusantara

Dalam perkembangannya isi gulai pun kian bermacam. Berbagai macam hidangan protein hewani hingga aneka sayur bisa menjadi isi gulai khas Indonesia .

Hidangan gulai kambing mempunyai cerita tersendiri dalam hati saya. Tidak hanya lezat dalam rasa tapi juga indah pada kenangan yang tercipta.

Di masa kecil, sekitar tahun delapan puluhan sebagaimana anak anak seusia saya, setiap hari saya mengaji di sebuah masjid besar yang berlokasi dekat pasar, tak jauh dari rumah.

Di sebelah masjid kami terdapat sebuah warung yang lumayan besar. Warung itu beratap terpal dan ditutupi kain yang melingkar  dengan warna biru bersih.

Di kain tersebut terdapat tulisan dengan sablon warna merah. Warung Nasi Sate dan Gule Kambing “Sederhana”, begitu bunyinya.

Seperti namanya, fontnya demikian sederhana. Namun dibalik kesederhanaan itu kehadiran warung ini selalu menjadi perbincangan kami setiap pulang mengaji.

Mengapa? Aromanya sedap sekali. Bau gulai selalu menguar memenuhi udara  sore tatkala  yang jualan membuka tutup panci besar berisi penuh gulai di bagian belakang warung.

Belum lagi jika pada saat yang bersamaan penjual juga sedang membakar sate. Wah, paduan bau keduanya membuat cacing cacing di perut serasa menari nari.

Wenak paling yo..., ” kata teman saya sambil menghirup baunya dalam- dalam.

Iya lah… larang tapi,” jawab teman yang lain.

Ya, menurut ukuran kami saat itu gulai kambing adalah makanan yang mahal, sehingga jarang-jarang kami bisa menikmatinya kecuali pas Hari Raya Iedul Adha.

Seingat saya ibuk pernah membeli gulai di warung ini satu kali. Harga satu rantang kira kira 2000 rupiah. Mahal menurut kami. Dan dengan harga tersebut gulai hanya cukup dibagi kami bertiga. Bapak dan Ibuk makan dengan lauk lainnya.

Sesudah satu kali makan gulai itu (meski dengan kuah yang sedikit), saya semakin yakin bahwa ini adalah makanan yang paling lezat, juga mahal. Bahkan saking mahalnya saya tidak lagi berangan-angan untuk makan gulai tersebut. Paling juga tidak dibelikan pikir saya.

Tapi siapa sangka pada suatu hari saya tiba-tiba dajak bapak makan di warung “Sederhana” tersebut.

Gulai kambing, Sumber gambar: dapurkobe.co.id

Malam itu saya baru saja mengikuti latihan karate di Museum Brawijaya. Ya, di masa kecil latihan menari, karate, basket saya coba semua. Kata bapak, mumpung masih muda, harus banyak beraktivitas.

Nah, hari Minggu malam adalah jadwal saya untuk latihan di museum Brawijaya. Latihan dimulai pukul tujuh dan diakhiri sekitar pukul setengah sembilan.

Selesai latihan biasanya  Bapak sudah menunggu saya di bawah pohon dekat museum Brawijaya bersama sepeda motor Bebek 75 merah yang selalu setia menemaninya. 

Sepeda motor kami terus berjalan menembus malam. Jam setengah sembilan suasana  Kota Malang sudah terasa sepi. Jalan Ijen terasa agak lengang. Hanya satu dua sepeda motor yang lewat.

Saya duduk di belakang sepeda motor bapak yang berjalan pelan.

” Bagaimana latihannya?” tanya bapak.

“Asik juga. Mungkin habis ulangan umum, jadi yang latihan agak banyak,” jawab saya sambil memegang tas saya erat-erat.

Sepeda motor kami tiba- tiba berhenti di depan warung dengan tutup biru tersebut. “Sederhana”. Aih…

“Kok ke sini?” tanya saya heran.

Bapak tersenyum.

“Makan dulu.. habis olah raga, pasti lapar,” 

Bergegas saya turun dari boncengan dan ikut bapak masuk ke dalam warung.

Sekul gulai kalih, wedang jeruk kalih,” kata bapak pada sang penjual.

Gulai kambing, sumber gambar : Tastynesia

Rasanya seperti bermimpi. Membayangkan membeli gulai saja sudah tak pernah, apalagi makan di warungnya. 

Saya duduk di sebelah bapak. Aroma gulai kambing demikian menggoda hingga perut saya mulai berbunyi.

“Krupuk?” tanya bapak sambil mengambil dua bungkus krupuk puli dan meletakkan di depan saya.

Tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Dua mangkok nasi gulai lengkap dengan sambal dan jeruk nipis dalam piring kecil dan dua minuman jeruk nipis hangat.

Tanpa dikomando dua kali saya segera makan. Sambil bergurau saya menceritakan asyiknya latihan karate hari itu. Bapak sesekali tertawa. Ya, dalam banyak hal, beliau adalah teman ngobrol yang sangat menyenangkan.

Malam semakin larut. Setelah membayar, bapak mengajak saya untuk segera pulang. Perut saya terasa begitu hangat, apalagi hati saya.

“Kok malam?” tanya Ibuk sesampai di rumah. Saya dan bapak cuma tersenyum penuh rahasia. 

Cerita tentang nasi gulai kambing itu baru kami buka keesokan harinya. Seperti yang diperkirakan, mas dan adik saya langsung protes dan ingin diajak makan ke warung “Sederhana”.

Sejak saat itu saya merasa bahwa gulai kambing adalah hidangan terlezat yang pernah ada.

Mengapa ? Bukan hanya karena terasa begitu sedap dan kaya rempah, tapi selalu mengingatkan saya pada bapak dengan segala kenangan dan kasih sayangnya.

Arti istilah:

Sekul gulai kalih, wedang jeruk kalih : nasi gulai dua, minuman jeruk dua

Wenak paling yo… : sepertinya enak ya ..

Iya lah… larang tapi : iya, tapi mahal

Paskibra Kradika Raih Gelar Kejuaraan dalam Event LPBB AMUNISI 2.0

Di akhir bulan Oktober yang baru lalu, tim Paskibra  Kradika Bintaraloka kembali menorehkan sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

Dengan mengirimkan satu tim yang terdiri dari lima belas siswa, Paskibra Kradika berhasil meraih kejuaraan dalam event LPBB AMUNISI 2.0

LPBB AMUNISI 2.0 singkatan dari Lomba PBB Aksi Muda Mudi Indonesia. Lomba ini diadakan oleh SMA Sabilillah Malang dan diikuti oleh berbagai regu dari SMP dan Mts di Jawa Timur.

Penguman lomba, dokumentasi pribadi

Ada berbagai nomor yang dilombakan dalam event ini yaitu PBB murni, variasi dan kreasi, formasi dan kreasi, film pendek dan poster digital.

Dalam lomba tersebut khususnya di nomor variasi dan formasi Kradika mengambil  tema tentang Raden Kian Santang, seorang tokoh yang mempunyai nama besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Di variasi diceritakan  bagaimana sifat, kesaktian dan kegagahan dari Raden Kian Santang. Sementara di formasi, diceritakan bagaimana perjalanan dan perjuangan Raden Kian Santang dalam mencari ilmu dan juga menyebarkan agama Islam.

Kerja keras siswa dalam mempersiapkan lomba ini tidaklah sia-sia. Terbukti tiga gelar kejuaraan berhasil diraih yaitu Juara Harapan 2, Best Danton 2 dan Best Poster 1

Foto bersama, dokumentasi Munar

Ada banyak pengalaman baik yang diperoleh siswa selama mengikuti event tersebut, seperti disiplin, kerja keras juga kekompakan. 

Meski bangga dengan prestasi yang diperoleh, tim beranggapan masih perlu dilakukan kerja keras lagi agar prestasi yang didapatkan akan semakin baik

Support dari para senior adalah hal yang sangat berarti dalam keikutsertaan Kradika dalam event ini. Mengapa? Support tersebut  memberikan semangat dan energi luar biasa pada mereka untuk mengerahkan segala kemampuan yang ada dalam berlaga.

Berfoto di depan poster, dokumentasi Kamila

Harapan dari para senior adalah agar angkatan mendatang bisa berlatih dan berjuang  lebih keras lagi, supaya bisa mempersembahkan prestasi yang lebih baik  di berbagai event yang diikuti.

Tetap menyala Kradika…!

Dalam Bilik Suara

“Ayo.., ndang nyoblos..,” teriakan Mbak Sur warga RT 20 kampung Manggis sudah terdengar berapi-api. 

Hari sudah menunjukkan pukul sembilan. Mbak Sur sudah rapi dan siap pergi ke TPS bersama Mbak Menik dan Mbak Susi.

Ketiganya dengan dandanan yang simpel tapi cantik sudah siap berangkat ke TPS 11 yang berlokasi di sebuah SD di dekat rumah 

“Mbak Diin, Mbak Kholif.., ayo budhal…,” teriak Mbak Sur menambahkan. Blouse pink kembang-kembang dengan celana hitam membuat penampilannya pagi itu begitu cerah.

Ya, ini adalah hari istimewa. Hari dimana warganegara berhak menggunakan hak pilihnya untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah. 

Hak yang benar- benar harus dimanfaatkan karena akan menentukan arah pembangunan lima tahun ke depan, itu pesan guru PMP nya dulu.

Dari jendela sebuah rumah sesosok wajah muncul. “Aku nanti Mbak, lodehku belum mateng,” kata sang pemilik wajah.

“Oke, aman Mbak Dina…, silakan melodeh…, aku duluan ya..,” jawab Mbak Sur sambil terus melanjutkan perjalanan.

Suasana TPS sudah ramai. Beberapa petugas dan linmas sudah bersiap di tempat masing-masing.

“Nyoblos, Mbak Sur?” sapa seseorang berseragam linmas.

“Oalah, iya … Anton, pangling aku,” jawab Mbak Sur pada Anton sambil terus menuju meja pendaftaran. Anton adalah temannya semasa SD.

Usai mendapat surat suara Mbak Sur, Mbak Menik dan Mbak Susi menuju bilik suara. Dua surat suara dibuka perlahan, dan ..

“Bismillah,” tanpa ragu mereka mencoblos salah satu gambar.

Surat suara dilipat dan bergantian ketiganya memasukkannya ke dalam kotak suara yang dijaga oleh petugas.

Sumber gambar: detik.com

Sesudah surat suara masuk kotak, ketiganya dipersilahkan memasukkan kelingking dalam botol tinta.

“Foto dulu..,” ajak Mbak Sur ketika mereka keluar dari TPS.

“Ton, tolong foto sebentar,” kata Mbak Sur sambil menyerahkan HP nya pada Anton.

Ketiga wanita itupun mengambil tempat di dekat spanduk pilkada.

“Oke..,” Anton Sang Linmas segera mengambil posisi sementara Mbak Sur dan teman-teman mulai bergaya.

“Satu… Dua…,”

“Ciiiiiiz,” 

Senyum ketiganya mengembang.

“Ssst, tadi milih siapa?” tanya Mbak Menik dalam perjalanan pulang.

“Yo jelas nomor empat lah…, kemarin kita kan dapat bingkisan dari dia..,” jawab Mbak Susi cepat.

Gambar by AI (Ony)

Ya, seminggu yang lalu calon nomor empat memberikan bingkisan pada ibu ibu PKK Kampung Manggis berupa daster batik. Lumayan… apalagi hawa sedang panas- panasnya..

“Ho’oh, sama, aku ya nomor empat..” jawab Mbak Menik.

Mbak Sur membetulkan kerudungnya yang tertiup angin.

“Mbak Sur nyoblos nomor berapa? Sama toh?”tanya Mbak Susi. Mbak Susi ingat waktu penerimaan daster Mbak Sur juga ikut antri.

Mbak Sur mengangguk sambil tersenyum.

Dalam benaknya tiba- tiba terbayang ketika semalam Pardi adiknya yang menjadi timses calon nomor lima datang ke rumah sambil mengirim beras lima kilo, minyak dan amplop berisi uang.

Mbak Sur terkejut saat itu. “Kok banyak, Di?” katanya pada Pardi.

“Rapopo Mbak, pilih nomor lima ya,” 

Mbak Susi dan Mbak Menik masih ngobrol dan semakin seru.

“Mbak Sur kok ngelamun, se?”suara Mbak Menik membuyarkan lamunan Mbak Sur.  Karena lamunan Mbak Sur tadi tiba-tiba buyar, ia jadi teringat bagaimana urusan sederhana seperti memilih metode pembayaran di www.au.trustpilot.com juga butuh fokus agar tidak kelupaan langkah penting.

“Eh, enggak…, aku tiba tiba ingat tadi komporku apa sudah kumatikan ya?” kilah Mbak Sur terkejut.

“Halah, bahaya ini.. ayo cepet pulang..,” kata Mbak Susi.

Bergegas ketiganya menuju rumah. 

Sampai di rumah Mbak Sur berganti daster. 

Mbak Sur tersenyum kecil. Daster bingkisan seminggu yang lalu. Ya, apapun yang diberikan, di dalam bilik yang tahu hanya aku dan Tuhan, bisik hatinya.