“Jadi absen,Buk?” tanya anak saya selepas sholat Maghrib. Hujan baru saja reda. Sejak sore tadi Malang diguyur hujan yang lumayan deras.
“Jadi Le, antar Ibuk ya?” jawab saya sambil melipat mukena dan memasukkannya ke dalam gulungan sajadah.
Tanpa banyak bicara anak saya segera mengeluarkan sepeda motor dan saya mengikutinya dari belakang.
“Tolong mie nya direbus sebentar, sosisya dipotong ya Le, nanti ibuk pulang tinggal masak,” pesan saya pada anak saya yang paling kecil.
“Inggih siyap,”
Di liburan akhir semester ini kami para guru tetap harus absen pagi dan sore, kecuali yang cuti. Pagi hari absen jam 07.00 dan sore hari pukul 15.00. Jika ada tugas piket kami akan stand by di sekolah untuk menyelesaikan tugas atau membuat persiapan untuk semester depan.
Di hari terakhir tahun 2025 saya mendapat tugas piket ke sekolah. Lumayanlah, bisa mencicil pekerjaan, bertemu dan ngobrol dengan teman-teman.

Sesudah bersih-bersih dan menyelesaikan tugas perpustakaan, kami satu tim piket sepakat untuk pulang saat Dhuhur.
“Jangan lupa absen lagi jam tiga ya,” kata teman saya di parkiran.
“Oke,” jawab yang lain.
Jelang jam tiga langit kota Malang begitu mendung. Hawa mau hujan sangat terasa. Dan tepat seperti perkiraan saya, habis Ashar hujan turun. Mula-mula rintik, dan makin lama makin deras.
“Tetap ke sekolah, Buk?” tanya anak saya.
“Nunggu terang saja, Le, ” jawab saya.
Ternyata hujan sore itu turun tak henti-henti. Wah, tak berani keluar kalau hujan seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini banjir sering terjadi di kota kami.
Akhirnya habis Maghrib hujan mulai reda dan saya segera bersiap ke sekolah untuk absen.
“Anggap saja jalan-jalan tahun baruan,” kata anak saya.
Kami tertawa. Dari dulu sampai sekarang kami tidak pernah punya agenda merayakan malam pergantian tahun. Ya, malam tahun baru sepertinya identik dengan hujan, jadi paling enak dirayakan di rumah saja, dengan baca, nulis atau nonton film. Jika tidak karena absen, sungguh kami lebih suka tahun baruan di rumah daripada jalan-jalan. He..he..

Sepeda kami terus berjalan menyusuri jalan yang basah. Suasana terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda akan adanya keramaian perayaan Tahun Baru.
Mungkin karena ada himbauan agar tahun ini kita merayakan tahun baru dengan nuansa yang lebih sederhana, tidak ada mercon,kembang api atau sejenisnya. Beberapa orang tampak baru keluar dari masjid atau langgar sehabis Maghriban.
Dari Kasin sepeda kami menuju Talun, lalu berbelok ke Kayutangan. Kayutangan di jam setengah tujuh malampun tidak begitu ramai. Mungkin karena habis hujan.
Lampu- lampu pertokoan dan cafe yang berwarna-warni membuat suasana terasa meriah. Semakin malam pastinya pengunjung akan semakin banyak.
Sepeda kami terus menuju Alun- alun Bunder. Balaikota tampak semarak dengan lampu di mana-mana. Cafe-cafe bersolek untuk menarik para pengunjungnya.

“Nanti pulangnya beli bubur kacang hijau yuk? Dibawa pulang saja,” kata saya yang langsung dijawab dengan anggukan anak saya. Aih, dingin-dingin begini bubur kacang hijau hangat plus ketan hitam pasti enak. Kami punya langganan tetap di dekat Pasar Bareng.
Sampai di sekolah, dan melakukan finger print kami pun pulang. Rute sekarang lewat Celaket dan Kayutangan. Suasana mulai semakin ramai. Pejalan kaki semakin banyak dan alamak.., hujan turun lagi.

Mula-mula titik titik air , tapi lama- kelamaan deras juga. Aduh, tidak bawa jas hujan pula, pikir saya cemas.
“Gak usah mampir bubur kacang hijau Le, langsung pulang saja,” teriak saya di tengah derasnya hujan. Sepeda kami melaju semakin kencang, dan syukurlah pas azan Isyak kami tiba di rumah.
“Deres ya?” tanya si kecil sambil membukakan pintu pagar.
“Dueres Le…, sudah siap ya?” tanya saya begitu melihat mie rebus, irisan sosis , bawang dan tomat sudah siap di meja makan.
“Sudah la…,”
“Markimas.., mari kita masak,” jawab saya bersemangat. Setelah ganti baju sebentar kamipun bersama-sama memasak. Mie goreng Jawa ala ibuk, begitu anak-anak menyebutnya.

Bau bumbu digongso berpadu dengan suara derasnya hujan malam itu. Ramai.
Sekitar 15 menit kemudian, taraa… satu mangkuk besar mie sudah siap dinikmati. Agak pucat memang, karena kecapnya habis dan mau keluar rumah hujannya deras sekali.
“Makan yuk,” kata saya kemudian.
Sebuah komando yang tak perlu diulang karena pasukan langsung datang ke meja makan dengan membawa piring dan sendok masing-masing. Ternyata lapar, dingin dan hujan adalah kombinasi tepat untuk menuntaskan sebuah hidangan dalam waktu yang cepat.
Ya, satu mangkuk besar mie goreng langsung tandas.
Alhamdulillah, tak apalah gagal menikmati bubur kacang hijau. Yang jelas lezat dan hangatnya mie goreng mewarnai suasana malam tahun baru kami kali ini.
Akhirnya Selamat Tahun Baru 2026, semoga tahun yang akan datang lebih banyak memberikan kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.