
Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.
Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.
Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum.
Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta.
Tentang Surat Cinta

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa. Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.
Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.
Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.
Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.
Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.
Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.
Lalu bagaimana skenarionya?

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.
Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.
Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.
Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.
“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.
Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.
“Untuk bunda,”
“Buat ayah tercinta”
“Dariku untuk bunda,”
Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.
“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.
“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.
“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.
Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.
Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya
Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.
Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial.
Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk masa depan anak yang lebih baik.