Categories
Reportase

Taman Langit, Keindahan di Ketinggian Berbalut Dongeng dan Fantasi

Usai berjalan- jalan dan mengamati para penerbang paralayang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Langit.
Apa yang tergambar dalam benak kita saat mendengar nama Taman Langit? Benar.. sebuah keindahan di tempat yang begitu tinggi.

Menuju Taman Langit, dokumentasi Buz

Taman Langit yang merupakan destinasi terakhir jalan-jalan di Pujon ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Istimewanya disamping indah dan banyak spot foto menarik, Taman Langit mempunyai keunikan yaitu pengunjung diajak masuk dalam dunia fantasi atau dunia dongeng.

Yang khas dari Taman Langit adalah banyaknya patung besar yang di dalamnya menyimpan kisah-kisah tertentu.

Gapura Taman Langit, dokumentasi Buz
Dua Garuda besar yang siap ‘mengawal’ perjalanan kami, dokumentasi Buz

Tidak jauh dari gapura, ada dua patung garuda di kiri kanan kami. Keduanya seolah siap mengawal kami untuk mengeksplor keindahan di dalam Taman Langit.

Jalan berpaving dengan kiri kanan penuh dengan bunga benar- benar terasa menyejukkan mata. Semua tertata apik dan cantik.

Semua tertata apik dan cantik di Taman Langit, dokumentasi pribadi
Duduk menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi Buz

Kami mulai berfoto dengan back ground patung patung yang ada di Taman Langit. Ya iyalah… Berfoto adalah acara wajib saat dolan kemana saja.

Tidak semua tempat bisa kami eksplor. Ya, hari semakin sore. Ini juga destinasi ketiga, tentunya kaki sudah terasa pegal-pegal. Ini bisa ditandai dengan berkali-kali kami duduk menikmati alam sekitar dan menyesap keindahan Taman Langit yang luar biasa.

Menyesap keindahan Taman Langit dalam diam, dokumentasi pribadi
Mas Rudy, driver dan fotografer kami menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi pribadi

Dari sekian banyak patung yang ada, beberapa di antaranya yang sempat kami kunjungi adalah :

Satu : Tigan Sigar Menga (Telur Pecah), yang menggambarkan tentang kelahiran Sanghyang Antaga (Batara Togog), Sanghyang Ismaya (Batara Semar) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). Kisah yang sangat akrab dengan masyarakat Nusantara.

Cerita tentang Tigan Sigar Menga, dokumentasi pribadi
Berfoto di Tigan Sigar Menga, dokumentasi Buz

Dua : Dwala Hamsaria (Angsa Putih yang Anggun). Kehadiran angsa di sini adalah pengingat bahwa zaman dahulu di sekitar gunung ini banyak terdapat angsa. Dalam berbagai dongeng disebutkan bahwa angsa putih adalah binatang surgawi yang dicintai para dewa. Kepak sayap angsa putih melambangkan perjalanan ke surga menuju alam keabadian.

Bersama angsa putih , dokumentasi Buz

Tiga: Batari Lengleng Mulat (Dewi Lengleng Mandanu). Patung ini menceritakan salah satu bidadari dalam cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Bidadari ini demikian cantik dan penuh pesona sehingga di Kahyangan pun ia menjadi rebutan para dewata.

Menari bersama Batari Lengleng Mulat, dokumentasi Buz

Selain cantik Batari Lengleng Mulat juga penuh perhatian dan kasih sayang pada sesama. Ini ditunjukkan dengan gerakan tangannya menyapa burung dan tangan satunya seolah siap mengajak bergandengan tangan siapa saja.

Masih banyak patung yang lain. Bukan dari khazanah dongeng Nusantara saja, bahkan dari luar negeri, seperti adanya patung Tinker Bell di Taman Langit.

Berfoto bersama di salah satu sudut Taman Langit, dokumentasi Buz
Sudut yang sayang untuk tidak diabadikan, dokumentasi Buz

Kami terus menyusuri jalan berpaving. Berfoto dan berfoto. Semua tampak begitu indah dan sayang jika tidak diabadikan.

Kabut mulai turun, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul empat kabut mulai muncul. Bergegas kami akhiri perjalanan di Taman Langit, dan kami langsung menuju mobil.

Hmm, perjalanan sehari yang begitu manis

Selamat tinggal Santerra, Cafe Sawah, Paralayang Batu dan Taman Langit… Insya Allah kami akan segera remidi..

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga:

Categories
Reportase

Cafe Sawah, Sensasi Makan Bersama di antara Cantiknya Hamparan Sawah

Waktu kira- kira menunjukkan pukul setengah satu siang ketika mobil kami memasuki kawasan Cafe Sawah. Langit mulai meredup, tidak sepanas tadi ketika kami meninggalkan Santerra de Laponte.

Berfoto dekat pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Cafe Sawah Pujon Kidul berlokasi di Desa Wisata Pujon Kidul, Pujon, Malang, Jawa Timur. Kawasan ini termasuk wilayah Desa Wisata Pujon Kidul.

Jalan menuju kawasan Cafe Sawah dipenuhi oleh pedagang yang menjual aneka baju, cindera mata, aneka sayur, buah, hasil bumi juga aneka makanan.

Pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Ya, Pujon yang terletak di dataran tinggi terkenal sebagai penghasil sayuran dan buah-buahan. Karenanya di kiri kanan jalan banyak dijual brokoli, wortel, jeruk, sawi, kentang, terong, cabe, tomat, bahkan bentul dan jahe.

Penjual pohon keju, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk Cafe Sawah kami mampir untuk membeli pohong keju dan tahu. Mbak penjual pohong bercerita bahwa Cafe Sawah dibuka sampai sekitar jam setengah enam sore. Dan selama liburan ini pengunjung demikian banyak.

Perjalanan dilanjutkan. Kami melewati tempat wisata petik sawi. Tampak di situ beberapa anak dengan dipandu para petani diajak untuk memetik sawi.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi

Sampai di bagian dalam Cafe Sawah, kami langsung menuju tempat makan. Berbagai hidangan disajikan di sini dengan nuansa yang begitu akrab.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi
Menuju tempat makan, dokumentasi pribadi

Kami bisa mengambil sendiri hidangan yang sangat familiar dengan keseharian kami. Nasinya ada tiga macam, nasi putih, nasi jagung dan nasi empog. Sementara pendamping nasi adalah urap, karedok, sayur pedas, sayur tewel, sayur belalo, bakwan, mendol , ayam goreng dan banyak lagi. Pendeknya semua lezat dan sedap.

Aneka hidangan yang akrab di lidah, dokumentasi pribadi

Saya sendiri mengambil nasi empog, tewel, belalo, mendol, telor dan sambal. Subhanallah.. mantap sekali rasanya. Ditambah dengan minumnya sari jeruk hangat.

Pemandangan cafe sawah dari tempat makan, dokumentasi pribadi

Makan siang kali ini benar benar terasa beda. Tentu saja, makan bersama sambil melihat hamparan sawah di kaki gunung memiliki sensasi tersendiri. Aih, sungguh nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan?

Kolam dengan ikan yang besar dan jinak, dokumentasi

Setelah makan kami berfoto foto sebentar. Sejuknya hawa, indahnya sawah dan kecipak ikan di kolam, sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.

Dekatvkolam ikan Cafe Sawah , dokumentasi pribadi

Acara terakhir adalah … belanja. Nah, ini acara yang sangat menyenangkan. Segarnya sayuran dan aneka hasil bumi membuat kami ingin membeli apa saja.

Penjual bentul, dokumentasi pribadi
Berbelanja aneka sayuran, dokumentasi pribadi
Puas berbelanja, dokumentasi pribadi

Di antara teman-teman ada yang membeli tomat, sawo, bentul, klampok, mangga dan slada. Saya sendiri membeli tomat dan terong. Wah, bisa dibayangkan bagian belakang mobil langsung penuh usai belanja di kawasan Cafe Sawah.

Matahari semakin turun ke barat. Explore di Cafe Sawah berakhir, dan saatnya kami meneruskan perjalanan ke Paralayang dan Taman Langit…

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga :