Ada banyak peristiwa di tahun 2025. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya dan tim majalah berusaha kembali menerbitkan majalah sekolah yang sempat “mati suri” selama beberapa tahun.
Ya, dalam satu tahun ini kami berhasil tiga kali menerbitkan majalah sekolah. Sebuah perjalanan literasi yang penuh perjuangan tapi sangat menyenangkan.
***
“Bagaimana kalau kita hidupkan lagi majalah sekolah?” pertanyaan itu langsung muncul ketika kira-kira akhir tahun 2024 saya berdiskusi dengan seorang teman.
Wah, usul yang menarik ini, pikir saya.
“Tapi biayanya bagaimana?”
Sebagaimana diketahui semua kegiatan sekolah harus dianggarkan di awal lewat dana BOS. Jika tidak dianggarkan berarti biaya untuk kegiatan tersebut berarti tidak ada.
” Biar biayanya tidak banyak, atau bahkan tak berbiaya, kita buat e magazine saja. Pakai Canva, jadikan PDF lalu dimasukkan di website perpustakaan,” jawab teman saya yakin.
Ya, kami adalah teman yang sama sama penggemar baca, sering berdiskusi bareng dan sama-sama punya obsesi untuk terus meningkatkan kegemaran membaca di kalangan siswa. Dan majalah adalah salah satu media yang menarik untuk meningkatkan minat baca siswa, karena dengan media ini siswa diajak menelusuri kembali berbagai peristiwa yang ada di sekolah.

Tentang majalah sekolah, sebenarnya kami sudah punya. Majalah tersebut dicetak dengan ukuran A5 dan terbit setiap satu semester. Saat itu, setiap penerimaan rapor pada siswa akan akan satu majalah. Ketika itu masih ada SPP, jadi biaya diambil dari sini.
Seiring berjalannya waktu banyak perubahan kebijakan dalam pendidikan terutama dalam hal pembiayaan. Karena tidak ada dana akhirnya majalah pun berhenti di jilid 24. Apalagi pandemi melanda dan banyak kegiatan berhenti, akhirnya majalahpun mati suri.
Nah, kembali ke cerita di atas, setelah melalui beberapa diskusi lanjutan, akhirnya kami sepakat membentuk tim penyusun majalah.
Membuat tim majalah ternyata juga bukan hal yang mudah. Karena tidak semua siswa bisa desain Canva, bersama perpustakaan kami membuat pelatihan desain untuk anak- anak.
Karena beberapa anggota tim masih harus belajar menulis dengan baik, kami harus siap jadi editor, ataupun memberikan pelatihan singkat bagaimana cara membuat paragraf yang baik. Ya, dalam tim kami ada guru bahasa juga guru kesenian untuk mencermati tulisan dan desain yang dibuat anak-anak.

Ternyata dalam perjalanan, tidak semua siswa ‘tahan’ dengan kegiatan pembuatan majalah. Beberapa keluar dan akhirnya yang tersisa sekitar delapan anak yang menjadi tim inti. Tim inilah yang gigih , mau menyisihkan sebagian waktunya untuk bekerja menuntaskan majalah sekolah.
Tugas saya sebagai pengisi konten berita di website sekolah ternyata sangat membantu kerja tim karena berbagai peristiwa di sekolah sudah tercatat rapi di website sekolah.
Hasil tidak mengkhianati usaha. Setelah melalui proses yang lumayan lama (sekitar tiga bulan) akhirnya majalah sekolah kami kembali terbit di akhir bulan Februari 2025. Launching dilaksanakan pada saat perayaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pada majalah perdana ini kami tulis edisi 25, melanjutkan majalah terdahulu.
Agar tidak mengeluarkan banyak biaya majalah yang baru terbit ini dibuat dalam bentuk digital atau e magazine. Dan rencananya diterbitkan empat bulan sekali.
Pada penerbitan jilid ke 26 tim majalah kami semakin solid. Apalagi saat itu beberapa siswa yang pintar desain bergabung di tim.
Pada penerbitan kali ini selain dalam bentuk e magazine, majalah kami cetak lima eksemplar untuk perpustakaan. Jadi siswa yang ingin membaca majalah dalam bentuk fisik mereka bisa datang ke perpustakaan.
Menjelang penerbitan edisi 27 sebuah masalah timbul. Anggota tim berkurang drastis karena tim awal sebagian besar adalah siswa kelas 9. Ya, di kelas sembilan siswa sudah mulai lebih fokus ke pelajaran. Lebih-lebih mereka harus menghadapi TKA. Akhirnya kami harus mencari anggota tim lagi yang langsung kami ambil dari kader literasi yang berminat untuk bergabung.
Hal yang sungguh kami syukuri adalah tim yang baru ini mempunyai semangat yang tidak kalah dengan kakak- kakaknya.

Dengan tekad dan kesungguhan akhirnya majalah edisi 27 terbit saat penerimaan rapor semester gasal kemarin. Berbeda dengan dua edisi sebelumnya untuk edisi terbaru ini selain dalam bentuk e magazine kami juga open PO. Jadi bagi yang berminat boleh memesan edisi cetaknya pada perpustakaan.
Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.
Ide ini sebenarnya muncul begitu saja ketika beberapa orang tua siswa memesan majalah dalam bentuk cetak karena putra putri mereka kami masukkan dalam artikel siswa berprestasi. Selain itu beberapa orang tua juga pesan karena putra putri nya terlibat dalam penyusunan majalah ini. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kami duga.
Akhirnya di era di mana segala sesuatu menghilang dalam scroll, majalah sekolah memberikan sebuah pernyataan bahwa beberapa cerita pantas untuk dihentikan, dipegang, dan disimpan.

Sungguh, 2025 adalah tahun literasi yang luar biasa. Dengan menerbitkan kembali majalah sekolah, kami berusaha mengajak siswa untuk meninggalkan jejak literasi lewat berbagai peristiwa penting di sekolah.
Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.