Categories
Serba-serbi

Ada Kehangatan yang Tersimpan Dalam Semangkuk Bakso Malang

Topik Pilihan Kompasiana

Hujan baru saja reda. Akhir-akhir ini tiap sore hujan rajin menyapa kota Malang dengan disertai petir yang sesekali menyambar.

Tanpa menunggu lama saya segera menuju parkiran untuk mengambil helm. Ya sebuah pesan sudah masuk whatsapp saya, dari Naknang ( pinjam istilah Mbak Yuliyanti).
“Sudah di depan sekolah, Buk, ” kata pesan itu.

“Monggo Pak, wangsul rumiyin nggih.., ” pamit saya pada Pak Satpam. Beberapa anak masih latihan ekskul paduan suara di kelas yang saya lewati.

“Monggo Bu.., ” jawab Pak Satpam ramah.

Sepeda yang kami naiki langsung menerobos lalu lintas kota Malang yang lumayan ramai. Tentu saja, pukul empat adalah jam pulang sekolah dan pulang kantor. Apalagi tadi banyak yang tertahan pulang karena hujan.

” Mampir Gangsar? ” tanya saya. Naknang mengangguk. “Asiik.. Lama tidak ke sana, ” jawabnya senang.

Gangsar adalah nama warung bakso langganan kami. Tempatnya tidak begitu luas, tapi nyaman, dan yang paling penting tidak jauh dari rumah pun yang jual juga ramah.

Bakso Malang, Sumber gambar: Tribun Travel



Mbakso adalah acara yang sering saya lakukan dengan anak-anak di akhir pekan. Sejak mereka SD akhir pekan sering kami isi dengan jalan ke perpustakaan umum, pulangnya mampir warung bakso.

Kenapa bakso? Aih, di Malang kuliner ini ada di mana-mana. Siang hari selepas Dhuhur biasanya gerobak bakso mulai menjajakan dagangannya. Ada macam macam merek atau nama armadanya. Bakso Rahayu, Sugeng, Sahabat, Al Amin, Hepi Pol , Bakso Gunung dan banyak lagi.

Semua dengan kekhasannya sendiri-sendiri. Harganya sangat bersahabat, rasanya juga enak.

Paling senang jika kompor yang digunakan penjual bakso adalah anglo dan menggunakan arang. Baunya sedap sekali.

Sepeda motor kami masuk parkiran Bakso Gangsar. Setelah mengunci, kami masuk warung dan tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya.

Tepak wes.., mudah mudahan selesai makan , hujan reda lagi, pikir saya.

“Monggo, ” kata Mas penjual ramah. Di warung tersebut kami selalu mengambil mangkok dan mengisi sendiri apa yang mau dimakan. Begitu juga mengambil kuah, brambang daun maupun brambang goreng sendiri.

“Wes, ambil sendiri, ” kata saya pada Nak nang. Saya sendiri mengisi mangkok dengan dua bakso, tahu, siomay dan mie.

Bakso Malang, Sumber gambar: detik.com

Tanpa disuruh dua kali Nak Nang mengisi mangkoknya. Satu bakso besar, dua bakso kecil, siomay, tahu, goreng panjang dan goreng bundar. Belum diberi kuah mangkok sepertinya tampak penuh.

Bakso halus terbuat dari daging yang digiling halus lalu diberi bumbu bawang, merica, garam, penyedap dan sedikit tepung lalu dicetak bulat bulat dan direbus.
Sedangkan bakso kasar, sama dengan bakso halus hanya saja kualitas dagingnya agak beda.

Jika bakso halus dagingnya tanpa lemak, bakso kasar ada sedikit lemak, dan kadang ada tulangnya yang lunak sehingga teksturnya agak kasar. Rasanya? Hmm, maknyus pokoknya, Apalagi dicocol dengan saos tomat atau sambal.

Siomay juga tak kalah lezat. Hidangan dari adonan ayam, sedikit udang, brambang, bawang, merica garam dan penyedap yang dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus ini menyimpan pesona tersendiri.

Goreng bunder terbuat dari siomay yang digoreng. Sedangkan goreng panjang, isi adonannya mirip siomay hanya ditambahi usus. Cara membungkusnya juga memanjang sehingga kami namakan goreng panjang.

Saya tersenyum melihat isi mangkok Naknang.
“Luwe ya Le? “
Naknang melihat mangkoknya sambil tertawa
“Iya Buk, niki luwe pol…, ” katanya.

Bakso langganan kami memang istimewa. Kuahnya bening, namun gurihnya kaldu dengan paduan bumbu bawang , brambang dan merica terasa begitu khas. Apalagi ditambah dengan hadirnya saus tomat, sambal dan kecap.

Rasa gurih, manis, pedas dan sedap benar-benar membuat bakso menjadi hidangan yang begitu menggod, apalagi di hujan hujan begini.

Penjual bakso, sumber gambar: Cendana News

Naknang menyendok saos tomat dan sambal lalu dimasukkan dalam mangkoknya.
“Le, ojo pedhes pedhes, ” kata saya demi melihat ia mengambil dua sendok sambal langsung dimasukkan ke mangkok, lalu ditambah sedikit kecap.

Duh, padahal saya sambal satu sendok saja sudah terasa panas di mulut, “
“Mboten kok, ” katanya sambil terus mengaduk isi mangkoknya.

“Ibuk mau tambah brambang daun? ” tanya Naknang. Ia hafal betul saya suka bakso dengan banyak brambang daun. Sampai suatu saat teman saya sambil bergurau mengatakan mangkok saya mirip penghijauan.
“Cukup,  Le, ” tolak saya. Sebenarnya mau juga. Tapi sungkan sama Masnya.

“Tahu tidak, apa beda bakso Malang dengan bakso yang lain? ” tanya saya pada Naknang.
Sejenak ia menghentikan suapannya.
“Lebih enak? ” katanya kemudian.
” He.. He, itu karena kamu orang Malang.., makanya merasa bakso Malang paling enak.., ” jawab saya.
“Eh, teman saya kuliah dari kota lain juga bilang kalau bakso Malang paling enak? “jawab Nak Nang lagi.
“Maksud ibuk kekhasannya apa? “
“Apa ya? ” tanya Naknang sambil terus makan.
“Variannya banyak Le.., kita punya banyak isi bakso. Ada tahu, mie, siomay, goreng panjang, goreng bunder, pentol halus, juga pentol kasar.., seperti isi mangkokmu itu.., ” gurau saya.
Kali ini Naknang tertawa.
“Waduh, ibuk nyindir ini? “
“Nggak, dari dulu makanmu memang banyak kok,” kata saya lagi.

“Bakso Malang paling enak karena makannya sama Ibuk,” kata Naknang serius.

“Iya, kalau sama Ibuk yang bayar kan ibuk,” timpal saya.

Naknang kembali tertawa, dan… ups.., dia mengambil lagi dua siomay dan satu bakso kasar.

Ya, bakso selalu menyimpan kehangatan. Tidak hanya nyaman di perut tapi juga hangat di hati.

Dengan mbakso diskusi berbagai masalah kami bisa berjalan dalam suasana yang begitu gayeng, santai dan menyenangkan.

Sumber gambar: Merdeka.com
Categories
Serba-serbi

Tidak Hanya Baju Adat, Bahasa Daerah Juga Perlu Kita Lestarikan Bersama

Topik pilihan  Kompasiana kali ini sangat menarik yaitu tentang aturan penggunaan baju adat/ tradisional  sebagai seragam sekolah di samping seragam yang lain. 

Peraturan tentang penggunaan baju adat untuk seragam sekolah  dikeluarkan Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022 tentang Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah menyebutkan bahwa para peserta didik diperbolehkan mengenakan adat pada hari atau acara adat tertentu.

Tujuan peraturan ini adalah menanamkan/menumbuhkan nasionalisme, memberikan wawasan keragaman budaya, serta meningkatkan kesetaraan antar siswa tanpa memandang latar belakang.

Beberapa tahun yang lalu sebelum pandemi di event event tertentu seperti HUT sekolah,  HUT kota Malang atau hari Kartini, guru dan siswa di kota Malang sering merayakannya dengan mengenakan baju adat.  Baju Malangan.

Penggunaan baju adat Malangan pernah dianjurkan pada siswa di kota Malang tepatnya saat HUT Malang atau pas hari Kartini. 

Penggunaan baju khusus juga pernah dianjurkan pada siswa ketika hari batik.  Pada saat batik mereka boleh mengenakan batik bebas di luar seragam sekolah.

Sejauh itu pelaksanaan berjalan lancar.  Siswa yang mempunyai baju adat mengenakan baju tersebut dan siswa yang tidak mempunyai baju adat memakai baju yang lain sesuai yang ditentukan sekolah.

Berbaju Malangan saat event tertentu, dokumentasi pribadi

Ada rasa bangga dan seru saat kita mengenakan baju adat.  Bisa ditebak,  pulang sekolah siswa akan berfoto-foto sebentar di lapangan sebagai bahan untuk diupload di sosmed mereka.

Sebagai catatan, baju adat yang dikenakan adalah baju adat yang bisa dipakai dalam keseharian, bukan baju untuk upacara adat yang mempunyai banyak asesoris.

Seperti kebaya yang sederhana untuk perempuan,  atau baju adat sederhana untuk laki- laki dengan ikat kepalanya yang khas. Jadi intinya baju adat yang simpel,  mudah dikenakan dan tidak mengganggu gerak kita.

Seperti di kota Malang sekarang saat hari Kamis akan banyak guru atau pegawai pemkot yang mengenakan baju Malangan. Saya juga berangkat ke sekolah dengan berkebaya simpel dengan naik sepeda motor. 

Ada sebuah pengalaman lucu tentang ketidak mengertian anak-anak tentang baju adat mereka.

Anak kecil berbaju Malangan, Sumber gambar: Bukalapak

Ketika itu anak saya masih duduk di TK dan sekolahnya mengadakan karnaval Peringatan Hari Kemerdekaan.

Anak saya dan temannya (keduanya sama sama laki-laki) menyewa baju di tempat yang sama yaitu baju Malangan berwarna hitam lengkap dengan udengnya. 

Berangkat karnaval saya dengar mereka bisik- bisik sambil tertawa geli.

“Weh,  lucu ya rasanya pakai baju dukun..,” kata teman anak saya disambut dengan tawa keduanya.

“Lho,  kok dukun? ” tanya saya heran bercampur geli.

“Di sinetron- sinetron itu ‘kan dukunnya selalu pakai baju hitam- hitam..? ” kata anak saya tertawa.

Mau tak mau saya ikut tertawa.  Betapa anak- anak tidak mengerti dengan baju adat mereka sendiri sehingga mengira baju adat Malangan adalah baju dukun.

Dalam pandangan saya penggunaan baju adat di saat-saat tertentu di sekolah banyak manfaatnya.  Salah satunya menanamkan kebanggan kita akan kekayaan budaya yang kita miliki berupa baju adat.  Sayang sekali jika anak- anak atau siswa tidak kenal baju adat mereka sendiri.

Tentunya dalam pelaksanaannya juga harus ada keluwesan dari pihak sekolah,  seandainya ada siswa yang belum bisa menyediakan baju adat. 

Setidaknya ada solusi dari sekolah misal memperbolehkan siswa mengenakan baju batik sambil menunggu orang tua bisa membelikan baju adat bagi mereka.

Manfaat lain dari memasukkan baju adat dalam ketentuan seragam sekolah adalah UMKM akan cepat menyikapi dengan menyediakan baju adat yang simpel dengan harga yang terjangkau.

Sentra penjualan baju batik, Sumber gambar : Tribun Travel

Seperti pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika siswa diminta menggunakan baju batik Malangan saat HUT Kota Malang, di pasar pagi langsung banyak penjual yang menyediakan baju batik Malangan dengan harga yang terjangkau.

Pada hemat saya jika tujuannya adalah untuk menanamkan/menumbuhkan nasionalisme, memberikan wawasan keragaman budaya, sebaiknya jangan hanya baju adat yang diperhatikan,namun sekolah juga perlu memperhatikan bahasa daerah.

Sebagaimana diketahui penggunaan bahasa daerah semakin lama semakin menurun. Dikhawatirkan perlahan-lahan bahasa daerah akan punah karena saat ini para penutur bahasa daerah banyak yang tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa ke generasi berikutnya

Jika di sekolah-sekolah tertentu sering ada English day di mana dalam sehari siswa maupun guru berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris,  akan sangat menarik juga jika  diadakan gerakan sehari berbahasa daerah setiap satu minggunya.

Karena selain busana adat, bahasa daerah juga satu kekayaan budaya yang harus kita lestarikan bersama.

Matur nuwun…