Categories
Cerita

De Karanganjar Koffieplantage : Tentang Blitar, Kopi dan Masa Lalu

Hari semakin sore ketika mobil kami memasuki kawasan De Karanganjar Koffieplantage Blitar. Ini adalah destinasi ketiga kami  dalam perjalanan sehari di Blitar setelah Kampung Coklat dan Museum Bung Karno.

Diiringi hujan yang begitu deras dan langit yang agak gelap kami segera menuju pintu masuk lokasi De Karanganjar Koffieplantage Blitar, atau perkebunan kopi Karanganjar.

Yang dinamakan pintu masuk bentuknya adalah serupa pintu gerbang besar yang dibukakan oleh penjaga yang bertugas di dalamnya. 

Dari informasi yang kami dapatkan di tempat ini kami bisa menemukan cafe, museum dan rumah Lodji.

Petunjuk lokasi di De Karanganjar Koffieplantage, dokumentasi Ayu

Sesudah membeli tiket masuk yang berbentuk kartu pos, kami segera masuk. Karena perut sudah lapar, tujuan pertama kami adalah cafe.

Sebenarnya untuk masuk ke cafe kami harus berjalan kaki, tapi karena cuaca kurang mendukung sore itu mobil kami dipersilakan masuk dan parkir tidak jauh dari cafe.

Ucapan selamat datang, dokumentasi Ayu

Van Harte Welkom in Onze Grootouders Cafe. Sebuah tulisan menyambut kedatangan kami di dekat pintu masuk. Artinya kurang lebih dengan sepenuh hati selamat datang di Onze Grootouders Cafe. Onze Grootouders sendiri bisa diartikan Our Grandparents. 

Begitu masuk cafe suasana tempo dulu langsung terasa. Deretan buku-buku, lukisan dan hiasan , termasuk juga radio, mesin hitung zaman dulu dan berbagai pernak pernik sangat menunjang tampilan lawas cafe ini.

Pernak pernik di OG cafe, dokumentasi Ayu
Lukisan dan pernak pernik di OG Cafe, dokumentasi pribadi
Lukisan dan foto lawas di OG cafe, dokumentasi pribadi

“Ayo kita duduk dulu, pesan makanan, lalu silakan jalan- jalan,” kata leader kami.

Setelah pesanan beres kamipun berjalan- jalan di sekitar cafe. Hanya bertiga, saya, Kimi anggota terkecil dari rombongan kami dan Mbak Ayu seorang penulis novel sejarah.

Saya dan Mbak Ayu sama-sama  mempunyai ketertarikan yang besar dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mbak Ayu sudah kedua kalinya ke sini, karena itu banyak dokumentasi di artikel ini hasil jepretannya saat berkunjung sebelumnya di mana saat itu cuaca sedang terang.

Dari berbagai informasi, ternyata De Karanganjar Koffieplantage ini berdiri sejak tahun 1874 dan termasuk salah satu perkebunan kopi tertua di Indonesia.

Karanganjar Koffieplantage , dokumentasi Ayu

Pada era Kolonial Belanda,  Blitar yang berada dekat gunung Kelud dijadikan salah satu daerah pusat pengembangan kopi di Jawa Timur. 

Saat itu banyak perkebunan kopi dibuka di sini dan salah satunya adalah De Karanganjar. 

De Karanganjar Koffieplantage didirikan oleh H. J. Velsink dan Hendrik Van Vredenberg kemudian dikelola oleh perusahaan Belanda NV. Kultuur Mij Karanganjar. 

Pada tahun 1957 perkebunan ini dinasionalisasi oleh  Sukarno, presiden pertama RI.

Bagian depan sebelum masuk Rumah Lodji, dokumentasi pribadi

Dari cafe kami terus berjalan memasuki Roemah Lodji. Lodji berasal dari kata lodge yang artinya benteng. Tentu saja bangunannya bukan berupa benteng, mungkin lodge di sini merujuk pada bangunan yang besar.

Di Rumah Lodji ini kita bisa mengenal lebih dekat  Keluarga Roeshadi yang telah tiga generasi mengelola perkebunan ini lewat berbagai koleksi barang-barangnya.

Suasana ‘lain’ sangat terasa. Apalagi ada sayup- sayup suara gending yang menemani perjalanan kami. Hujan yang turun semakin deras membuat suasana sepi kian terasa 

Kimi yang berjalan di dekat saya memegang tangan saya erat-erat. “Kok serem ya..,” bisiknya.

Satu hal menarik di Rumah Lodji ini adalah adanya kamar yang didedikasikan untuk Presiden Sukarno, yang pada tahun 1957 datang dan beristirahat di De Karanganjar Koffieplantage selama beberapa jam.

Kamar Bung Karno , dokumentasi Ayu

Dari Rumah Lodji kami masuk Moesioem Noegroho. Nama museum ini diambil dari nama salah satu pemilik perkebunan ini yaitu Herry Noegroho. 

Barang koleksi di museum ini sebagian besar milik Herry Noegroho dan puteranya Wima Brahmantya yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Herry Noegroho sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Blitar pada tahun 2005- 2016.

Di Moesioem Noegroho , dokumentasi Ayu
Koleksi benda benda antik, dokumentasi Ayu

Di dalam museum ini banyak terdapat koleksi benda-benda pusaka milik leluhur juga lukisan lukisan yang cantik. Satu hal yang menarik adalah adanya koleksi Batik Tutur asli Blitar yang pernah dibawa ke Negeri Belanda selama satu abad lebih.

Batik tutur, dokumentasi Ayu

Dari museum kami segera kembali ke cafe. Di luar rupanya ada acara perkemahan dari sebuah komunitas anak-anak. Ya, De Karanganjar Koffieplantage ini memang bisa menjadi destinasi wisata edukasi, karena di sini kita juga bisa belajar budidaya dan pengolahan kopi.

Kembali ke cafe, ternyata pesanan kami sudah siap. Berbagai macam makanan sudah menunggu demikian juga minuman hangat. 

Kami langsung makan. Hawa yang dingin membuat lapar kian terasa, dan membuat kami makan dengan lahap.

Satu hal yang menarik, peracik makanan bahkan yang menyajikan makanan di sini adalah orang bule.

Oh ya, kami sempat berkenalan dengan Benita, salah seorang bule asal Jerman yang sedang mengisi liburan di Indonesia dengan menjadi volunteer.

Berfoto bersama Benita, dokumentasi Buz

Untungnya leader kami, Ibu Arie adalah guru Bahasa Inggris, sehingga pembicaraan kami dan Benita terasa demikian hangat.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Cafe sudah tidak menerima  pesanan makanan dan minuman, karena pukul lima cafe sudah ditutup.

Setelah puas makan dan berkeliling , kami segera beranjak dari Onze Grootouders Cafe untuk menuju mobil. Kian sore hawa dingin kian terasa.

Hujan masih turun begitu deras.

Mobil kami terus berjalan meninggalkan halaman De Karanganjar Koffieplantage. Sebuah cafe di antara perkebunan kopi yang dikemas dengan nuansa sejarah yang demikian kental. Berjalan di area ini membuat kita seolah terlempar ke masa lalu menyusuri jejak peristiwa yang pernah terjadi Blitar era kolonial Belanda. 

Blitar ternyata punya banyak cerita. Sebenarnya kami ingin terus menjelajah, tapi karena waktu jua yang membuat kami harus segera balik ke Malang.

Roemah Lodji, dokumentasi pribadi

“Pulang?” tanya Kimi. Rupanya ia sudah mulai lelah dan mengantuk.

“Ya, kita pulang,” kata saya sambil tersenyum. 

Mobil kami terus melaju melalui jalan yang berkelok-kelok. 

Berjalan-jalan sehari di Blitar memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Kampung Coklat, Museum Bung Karno, De Karanganjar Koffieplantage, semua punya cerita sendiri-sendiri bagaikan mozaik yang memperindah tampilan kota ini.

Menurut rencana sebenarnya satu destinasi lagi akan kami datangi yaitu Candi Penataran. Tapi waktu tidak memungkinkan, karena sebentar lagi langit akan gelap.

Matahari perlahan tenggelam dan mobil kami terus berjalan menuju kota Malang. Deretan pepohonan seolah berlarian dilihat dari dalam mobil kami yang melaju kencang. 

Blitar, kami akan kembali, bisik hati saya.

Categories
Cerita

Menyusuri Jejak Sang Proklamator: Refleksi di Museum, Perpustakaan dan Makam Bung Karno

Mobil kami berjalan laju di tengah  lalu lintas kota Blitar yang tidak begitu ramai.

“Selanjutnya kita ke Museum?” tanya Bu Ari pada Mas Andre driver kami.

“Siapp,” jawab Mas Andre. Jawaban favorit kami. Ya, Mas Andre selalu siap mengantar kami ke mana saja.

Dari Kampung Coklat, destinasi berikutnya adalah Makam sekaligus Museum dan Perpustakaan Bung Karno.

Ini adalah kunjungan saya kedua ke Makam Bung Karno. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu saya ke sini bersama teman- teman SD.

Suasana jalan menuju museum terasa lebih ramai dari biasanya. Sangat berbeda. Ya, banyak orang mengenakan baju putih dan bawahan hitam di jalanan.

“Ada apa ya? Sepertinya ada acara?” tanya saya. Saya ingat, dulu pernah diberi tahu oleh Bapak penarik becak di daerah museum ini bahwa di Bulan Juni selalu ada banyak acara di Blitar terutama di area Makam Bung Karno.

“Bulan Bung Karno, Bu. Bung Karno itu lahir di bulan Juni, wafat di bulan Juni dan menemukan Pancasila tanggal 1 Juni,” kata Si Bapak waktu.

Mobil kami terus melaju menuju parkiran. Turun dari mobil kami kami bisa membaca beberapa spanduk yang terpasang di jalan jalan.

Ternyata hari itu bertepatan dengan diadakannya haul Bung Karno. Kami baru sadar bahwa kami datang ke Museum pas hari wafatnya Bung Karno yaitu tanggal 21 Juni.

Tentang Makam,  Perpustakaan dan Museum Bung Karno 

Koleksi lukisan Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Perpustakaan dan Museum Bung Karno  ini berlokasi di kompleks Makam Bung Karno Jl. Kalasan No. 1, Blitar, Jawa Timur.

Komplek makam sendiri menempati area seluas 1,8 hektar dan dibagi menjadi tiga yaitu halaman, teras, dan pendopo/mausoleum. Pembagian  ini sesuai dengan kepercayaan Jawa mengenai tiga tahap kehidupan  yaitu janin, kehidupan, kematian.

 Proses pembangunan Museum Bung Karno diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo, arsitek asal ITB, dan  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2004.

Pesan Bung Karno, Koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Dalam museum ini kita bisa lebih mengenal sosok besar tersebut lewat berbagai barang koleksi yang dipamerkan, seperti jas yang digunakan Bung Karno saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, koper yang digunakan Bung Karno saat keluar masuk tahanan,  termasuk koleksi keris yang demikian kental dengan budaya Jawa.

Dalam museum ini juga dipamerkan berbagai macam lukisan dan foto- foto, seperti rumah masa kecil Bung Karno atau Kusno (nama kecil beliau), foto di masa sekolah, masa perjuangan, pesan-pesan, juga foto-foto ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama.

Sebuah foto yang sangat mengesankan bagi saya adalah ketika Bung Karno sungkem pada Ibunda beliau Ida Ayu Nyoman Rai. 

Foto Bung Karno sungkem pada Ibunda, koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Foto ini dibuat pada tahun 1953 ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Foto yang menunjukkan betapa besar bakti beliau pada sosok Ibunda ini seolah memberikan nasehat bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, Ibunda adalah tetap sosok yang yang harus kita hormati dan kita sayangi, karena beliaulah yang selalu tulus berdoa di setiap langkah kita .

Di museum ini juga banyak miniatur yang menunjukkan rumah tempat Bung Karno diasingkan. Seperti rumah di Bengkulu, Ende juga Brastagi.

Dari Museum kami masuk ke area perpustakaan yang berada di sampingnya persis.

Bung Karno adalah sosok yang gemar membaca, karena itu perpustakaan, museum dan makam dijadikan dalam satu kompleks.

Ah ya, kami sempat berfoto-foto di depan patung besar Bung Karno yang sedang membaca.

Berfoto di depan patung Bung Karno, dokumentasi Buz
Berfoto di depan patung Bung Karno sedang membaca, dokumentasi Buz

Begitu masuk museum , bau buku dan kamper langsung menyambut kedatangan kami. Aura adem dan nyaman sangat terasa. Setelah mengisi daftar tamu, kami mulai masuk menyusuri lorong di sekitar rak buku.

Beberapa buku yang sudah dibaca ada di atas meja. Luar biasa, buku- buku yang sangat bagus. Kebanyakan buku sejarah, ataupun tokoh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Ketika jam sudah menunjukkan jam setengah dua kami bergegas mencari mushola untuk sholat Dhuhur.

Sesudah sholat rencananya kami langsung menuju makam yang tidak jauh dari perpustakaan.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Untuk menuju makam kami harus melalui beberapa tangga naik. Ternyata di area makam baru saja ada acara, dan ketika kami tiba di sana ada kesibukan pembongkaran tenda- tenda sesudah dipakai acara di pagi harinya.

Dari baliho besar yang ada di depan makam, di bulan ini ada acara Haul ke 55 Bung Karno. Tiga acara besar dalam haul tersebut diadakan pada tanggal 6, 20 dan 21 Juni.

Baliho Haul Bung Karno ke 55, dokumentasi pribadi

 Acara meliputi doa dan tahlil, kenduri brokohan, selametan Akbar, pagelaran wayang kulit, pengajian dan ziarah nasional.

Sebagai catatan Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga, saatnya kami harus meninggalkan lokasi menuju destinasi berikutnya. Apalagi langit sudah tampak mendung.

Sebelum balik ke mobil kami sempat berfoto-foto dan membeli asesoris kecil- kecil seperti gelang, cincin dari manik-manik pada pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. 

Membeli gelang dan cincin manik-manik, dokumentasi pribadi

Berjalan-jalan di Perpustakaan, Museum juga area Makam Bung Karno ini membuat kita bisa begitu merasakan aura semangat, perjuangan dan kegigihan Sang Proklamator.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri

Bung Karno

Semangat dan cita-cita yang tak henti menginspirasi generasi masa kini agar tetap gigih dalam perjuangan untuk  menghadapi berbagai macam tantangan yang ada.

Ya, kita semua terus berjuang. Meski dalam bentuk yang berbeda dengan masa Bung Karno dulu, tidak berarti perjuangan kita lebih ringan, bahkan bisa jadi lebih berat.

Tekadkan semangat juang, dokumentasi Buz

Bukankah Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Categories
Cerita

Satu Hari di Blitar, Sebuah Perjalanan Manis di Kampung Coklat

“Saya OTW dari Arjosari,”

Sebuah pesan singkat masuk WhatsApp saya. Bergegas saya menyiapkan tas yang berisi berbagai macam perbekalan (isinya cuma makanan ringan, mukena dan minyak kayu putih), dan taraaa, kami siap untuk melakukan perjalanan pagi itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih ketika ,mobil kami terus melaju di tengah ramainya lalu lintas kota Malang. Kali ini perjalanan kami lakukan berenam. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu anak kecil.

Oh ya, tiga orang dewasa sudah termasuk Mas Andre driver, teman, sekaligus fotografer kami.

“Ini ke mana saja?” tanya Mas Andre pada kami.

“Ke mana dulu terserah Mas Andre, yang penting destinasi kita ada empat yaitu Kampung Coklat, Museum Bung Karno, Cafe de Karanganjar dan Candi Penataran,” jawab kami. Ya, sesuai rencana hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Blitar, atau istilah kerennya eksplor Blitar.

“Siyaap..,” jawab Mas Andre ramah.

Perjalananpun dimulai.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Kondisi lalu lintas normal saja. Tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Mungkin libur sekolah baru saja dimulai sehingga masih banyak yang menikmati liburan di rumah. 

Memasuki Kabupaten Blitar terasa suasana yang sedikit berbeda di Malang. Jalan di sini tidak terlalu ramai, tidak terlalu lebar namun suasananya begitu nyaman.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di kawasan Kampung Coklat. Sebuah bangunan tinggi dengan dominasi warna coklat seolah menyapa kehadiran kami.

Dekat pintu masuk Kampung Coklat , dokumentasi pribadi
Dinding -dinding yang penuh informasi, dokumentasi pribadi

Berbagai informasi mengenai coklat ada di mana-mana. Sangat cocok jika Kampung Coklat ini menyatakan dirinya sebagai tempat wisata edukasi tentang coklat.

Setelah membeli tiket kami pun masuk. Dua puluh ribu per orang, sangat murah untuk tempat wisata edukasi sebagus itu.

Sejarah coklat dan Kampung Coklat

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Mendengar kata coklat, yang sering tergambar dalam benak kita adalah minuman berwarna coklat yang sedap dan manis, atau bahkan permen kecil kecil dalam bentuk batangan dengan rasanya yang begitu khas. Tidak salah, tapi dengan melihat tanaman coklat dan buahnya, kita akan memahami bahwa untuk mengolah biji coklat  menjadi minuman, permen atau campuran kue tentu memerlukan proses yang  lumayan panjang.

Coklat adalah bahan makanan yang diperoleh dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan tanaman tropis. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah dibudidayakan di berbagai daerah tropis di seluruh dunia.

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Dikutip dari history.com, coklat pertama kali dikonsumsi  oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Sekitar tahun 1544 coklat mulai masuk benua Eropa lewat Spanyol, di mana saat itu delegasi dari Guatemala  mengunjungi Istana Spanyol dan membawa hadiah yang di antaranya adalah minuman cokelat. 

Di awal abad ke-17, cokelat mulai banyak disuka dan menjadi minuman yang digemari di kalangan istana di Eropa. 

Coklat akhirnya menyebar di kalangan kaum elit Eropa dan seiring berjalannya waktu permintaan akan coklat terus meningkat dan makin terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sejarah Kampung Coklat, dokumentasi Ayu

Mengenai sejarah Kampung Coklat sendiri, bermula di tahun 2004 ketika seorang peternak ayam bernama H. Kholid Mustofa mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung. 

Kholid lalu merintis usahan baru dengan merawat 120 pohon kakao milik keluarganya yang ditanam pada tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

 Sejak saat itu, ia mulai fokus menjalankan usaha tersebut dan mempertimbangkan untuk membuka lapangan pekerjaan demi kesejahteraan para petani coklat di daerahnya.

Melalui magang di PTPN XII Penataran, Nglegok, Blitar dan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Kholid terus mendalami teknik budidaya kakao yang benar

Kholid terus berusaha memberikan edukasi lewat kelompok-kelompok taninya tentang budidaya kakao ini.

Usaha Kholid terus maju dengan semakin banyaknya bibit kakao yang dikembangkan dan berakibat semakin banyaknya coklat yang dipasok ke tempat industri pengolahan coklat.

Tidak berhenti di situ, Kholid lalu belajar bagaimana cara mengolah coklat sendiri yang kemudian dipasarkan di Blitar dan Solo..

Pada puncaknya pada tahun 2014 Kholid  memutuskan untuk membuat wisata edukasi tentang coklat yang diberi nama Kampung Coklat dan berlokasi di jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,

Potongan-potongan cerita sejarah coklat, termasuk sejarah berdirinya Kampung Coklat ini ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar yang ada di dinding di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tempat wisata ini. Selain mengetahui tentang coklat yang meliputi sejarah, budidaya dan pengolahannya, kita juga  bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat coklat bagi kesehatan.

Kami sebenarnya ingin melihat cara pengolahan coklat, tapi sayang saat itu stand pengolahan coklat sedang tutup. Namun tak apa, banyak masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa kami kunjungi.

Animal Feeding, dokumentasi pribadi
Kebun kakao, dokumentasi Buz

Selain berbagai informasi tentang coklat, di sini kita juga bisa melihat Kebun Kakao yaitu perkebunan coklat, juga Animal Feeding yang merupakan tempat peternakan berbagai macam binatang.

Lahan keduanya begitu luas, karenanya jika tidak ingin berjalan kaki, pengunjung bisa naik kendaraan yang disediakan untuk berkeliling di sekitar Kampung Coklat.

Di kebun coklat , dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan berbagai wahana permainan anak juga ada. Oh ya, kami sempat naik Perahu Ceria. Apa itu? Dengan tiket sepuluh ribu rupiah per orang, kami bersama naik  perahu di sepanjang sungai kecil yang di kiri kanannya banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Sangat mengasyikkan. Benar-benar membuat hati ceria.

Perahu Ceria, dokumentasi Buz

Dua jam  mengitari Kampung Coklat sepertinya belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu kami tentang coklat dan segala pernak- perniknya. Maksud hati ingin menjelajah lebih jauh lagi, namun kami harus segera meneruskan perjalanan menuju destinasi yang lain.

Sebelum meninggalkan Kampung Coklat kami sejenak duduk di cafe untuk menikmati aneka minuman coklat dan cemilan. Suasana ramai kian terasa. Semakin siang pengunjung semakin banyak.

Gallery Coklat tempat membeli oleh oleh, dokumentasi pribadi

Paduan kopi dan coklat dari minuman hangat yang saya pesan terasa begitu sedap juga manis. Saya tiba tiba tersenyum membaca sebuah quotes di salah satu sudut area ini.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya, he..he…, bisa saja.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya

Kampung Coklat

Setelah belanja oleh-oleh sebentar di Gallery Coklat, kami segera menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. 

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kampung Coklat bukan sekedar tempat wisata, tapi kaya akan edukasi, baik lewat informasi di sudut-sudutnya, maupun berbagai wahana yang ada di dalamnya.

Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Kampung Coklat

Blitar ternyata menyimpan banyak cerita, padahal ini baru destinasi pertama. Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Categories
Reportase

Tingkatkan Kebersamaan dan Rasa Syukur, Jamaah Pengajian An Nisa’ Selenggarakan Tadabbur Alam dan Rihlah Religi

Hari masih pagi. Jam  menunjukkan pukul tujuh kurang. Meski demikian di sepanjang jalan Manggar Malang telah tampak kesibukan yang demikian nyata.

Ibu-ibu tampak sudah siap dengan tas  besar. Wajah gembira tampak di mana-mana. Tentu saja. Hari Minggu itu mereka akan melaksanakan kegiatan Tadabbur Alam dan Rihlah Religi dengan tujuan Blitar.

Tadabbur alam adalah sebuah cara untuk merasakan tanda -tanda kebesaran Allah dengan cara hadir langsung melihat dan merasakan ciptaan Allah, sedangkan rihlah religi adalah melaksanakan perjalanan menuju ke tempat yang mempunyai nuansa keagamaan.

Bersama Bapak Ketua RT 08 RW 10, dokumentasi Utien

Kegiatan tadabbur alam dan rihlah religi kali ini diikuti oleh 51 ibu-ibu anggota Jamaah Pengajian An Nisa’ RW 10 Kelurahan Lowokwaru Malang

Adapun destinasinya adalah Kampung Coklat, Kebun Petik Belimbing, Rumah Jenang dan Masjid Ar Rahman.

Sekitar pukul 07.00, setelah sedikit sambutan dari Bapak Ketua RT 08 RW 10, semua peserta naik bus, dan perjalananpun dimulai.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi Utien

Perlahan bus bertolak menuju Blitar. Suasana dalam bus begitu gayeng. Berbagai obrolan muncul dan tak ketinggalan berbagai penganan dinikmati bersama. Khasnya ibu-ibu, saat bepergian selalu membawa camilan untuk keakraban bersama.

Sekitar pukul sepuluh sampailah bus di destinasi pertama yaitu Kampung Coklat.

Kampung Coklat adalah sebuah tempat wisata yang berlokasi di Jalan Banteng Blorok No. 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Di sini peserta diajak melakukan field trip berkeliling kebun coklat dengan didampingi pemandu.

Pada peserta juga dikenalkan tentang    proses pengolahan coklat dari awal hingga pengemasan sekaligus edukasi penjualan produk coklat.

Di Kampung Coklat, dokumentasi pribadi Utien
Berkeliling di Kampung Coklat, dokumentasi pribadi Utien

Setelah kurang lebih dua jam di Kampung Coklat perjalanan dilanjutkan menuju Rumah Jenang

Rumah Jenang atau Kampung Jenang ini berlokasi di Rejowinangun. Ada sekitar  45 rumah yang memproduksi jenang juga wajik. Setelah melihat dan mencoba proses pembuatan jenang dan wajik, tak lupa peserta membeli penganan tersebut untuk oleh-oleh. Harganya sangat bersahabat, satu besek jenang Rp25.000,00 dan Rp28.000,00 untuk wajik.

Mengamati proses pembuatan jenang, dokumentasi pribadi Utien
Pembuatqn wajik, dokumentasi pribadi Utien

Dari Kampung Jenang perjalanan di lanjutkan ke tempat wisata Petik Belimbing.

Agrowisata yang berlokasi di  Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar memiliki ribuan pohon belimbing yang bisa dipetik oleh wisatawan di tempat.

Sayangnya ketika sampai di sana buah belimbing masih kecil-kecil sehingga belum bisa dipetik. Padahal sebagai salah satu ikon kota Blitar, belimbing Karangsari sangat terkenal kekhasannya yaitu berukuran besar dan manis.

Di agrowisata Petik Belimbing, dokumentasi pribadi Utien

Satu jam berkeliling di agrowisata Petik Belimbing, perjalanan dilanjutkan ke Masjid Ar Rahman.

Suasana Masjid Nabawi yang damai dan sejuk menyambut kedatangan peserta sore itu.

Ar Rahman adalah sebuah masjid yang berdiri megah di Kota Blitar dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk. Atmosfer beribadah di masjid ini  serasa seperti di Masjid Nabawi, Madinah. Baik aroma wewangiannya maupun lafaz adzannya.

Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi Utien

Masjid ini dibangun atas obsesi Abah Hariyanto seorang pengusaha ternama di Kota Blitar.

Dari pengalamannya merasakan suasana ibadah yang demikian khusyuk di Masjid Nabawi, masjid inipun dibangun di area seluas 5000 meter persegi.

Berfoto bersama di Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi Utien

Di masjid peserta rihlah memanfaatkan waktunya untuk sholat, dzikir dan berkeliling di area masjid. Sekitar pukul 18.30, kunjungan ke Masjid Ar Rahman diakhiri dan peserta  naik bus untuk kembali ke kota Malang

Sungguh sebuah perjalanan yang sangat  menyenangkan. Tadabbur alam dan rihlah religi tidak hanya memperluas pandangan dan pengetahuan, namun juga meningkatkan kerukunan dan kebersamaan antara jamaah serta merenungi dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Allah.