Motor Penggerak itu Bernama Mbak Sur

Anita Math >> Cerita >> Motor Penggerak itu Bernama Mbak Sur

“Mbak , saya buat jangan pedes. Krecek sama kacang tolo, mau pesan?” 

Sebuah tawaran manis tiba-tiba masuk notifikasi wa saya. Dari Mbak Sur, tetangga saya.

Dalam istilah Jawa Timuran, jangan artinya sayur. Jadi jangan pedes artinya sayur pedes, jangan bayem artinya sayur bayem. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan “tidak boleh”.

Wah, sudah lama saya tidak makan sambal goreng krecek, pedes pula, pikir saya.

“Ada gudegnya juga?” tanya saya kemudian.

“Ada, komplit, ini tetangga belakang yang pesan ikut a?

“Ikuuut,” jawab saya tanpa pikir panjang. 

Sayur sambal goreng krecek, sumber gambar: Cookpad

Siapa yang tidak kenal masakan Mbak Sur? Tetangga saya satu ini pintar sekali memasak dan sering menerima pesanan dari orang orang kampung.

Berbagai masakan hasil olahan tangannya  benar-benar maknyus. Sebutlah bothok, pepes, lodeh, soto komplit dan yang terakhir gudeg komplit. Sekali coba, ditanggung nambah. Benar-benar nendang, kata anak saya. 

Di sebuah kesempatan lain tiba- tiba Mbak Sur datang ke rumah dengan membawa keranjang besar berisi aneka masakan. Ada oseng daun pepaya, ayam krispi, garang asem, bihun bahkan cilok.

“Monggo..oseng daun pepaya,” 

Aih, Mbak Sur selalu ingat kalau saya paling suka oseng ini.

“Wah.., ganti menu ini?” tanya saya sambil memilih aneka makanan di depan saya.

“Enggeh, biar tidak bosan,” katanya sambil tertawa. 

“Kapan masaknya? Malam ya..,” kata saya lagi. 

” Ooh, niku masakan saya sama Mbak Rosi dan Mbak Yayat. Masakan saya hari ini cuma oseng daun pepaya,”

“Oh ya, kalau mau pesan ayam krispi atau cilok tinggal telpon, kami buatkan lalu diantar,” tambah Mbak Sur semangat.

Dua nama yang disebut Mbak Sur terakhir adalah orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya. Masih ada hubungan saudara.

Dalam banyak hal mereka sangat akrab. Ketika satu sedang sibuk, yang lain pasti membantu. 

Pernah suatu kali Mbak Sur mendapat pesanan untuk memasak hidangan di acara khitanan, ketiga orang ini memasak bersama di rumah Mbak Sur. Karena rumahnya tak begitu besar, beberapa kompor bahkan diletakkan di depan rumah.

Tidak apa, yang penting bisa masak dan  gayeng ngobrol bersama.

Pagi itu saya mengambil sebungkus garang asem, oseng pepaya dan ayam krispi.

“Pinten sedoyo?”

Kalkulator otomatis Mbak Sur langsung bekerja.

“Garang asem lima belas ribu, oseng lima ribu, ayam krispi sepuluh ribu, total tigapuluh ribu,”  jawabnya sigap. 

Oseng daun pepaya, sumber gambar: Cookpad

Setelah memberikan uang kembalian Mbak Sur mengangkat lagi keranjangnya. “Besok saya buat oseng pare sama bothok teri,” katanya kemudian.

“Wah, enak itu… Saya mau,” jawab saya senang.

Dengan cekatan Mbak Sur mengangkat dagangannya. 

“Garang asem, bihun..!”teriakannya memecah sepinya kampung kami di pagi hari.

Ya, bagi Mbak Sur usia hanya sekedar angka. Di usia kepala enam ia tetap sigap semangat. 

“Lha menawi mboten kerjo, sinten sing nyukani mangan?” katanya suatu saat ketika kami berbincang-bincang.

Ya, Mbak Sur tinggal sendiri. Suaminya Pak Parno sudah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu , sementara anak dia tidak punya. Untung saudaranya banyak, termasuk Mbak Rosi dan Mbak Yayat tadi.

Siang hari itu setelah beres-beres tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk di hp saya. Mbak Sur.

“Nggih, Mbak Sur? Wonten nopo nggeh?”

“Mbak, jadi cari tukang setrika?”

Oh ya, saya baru ingat kalau kemarin saya minta dicarikan orang yang mau membantu menyetrika pakaian. Beberapa hari ini cucian tidak cepat kering karena hujan sehingga setrikaan numpuk. Biasanya saya setrika sendiri, tapi kalau banyak begini saya perlu bantuan orang lain.

“Enggeh, jadi, siapa Mbak Sur?” tanya saya cepat.

“Ibuknya Rafi, mangke kersane dipendet enggeh,”

Ibuknya Rafi adalah tetangga Mbak Sur juga. Menurut cerita Mbak Sur ibuknya Rafi sedang bingung cari kerjaan karena suaminya sering libur.

Saya tersenyum. Luar biasa Mbak Sur, ia benar benar punya peranan penting bagi orang- orang sekitarnya.

Betapa solidaritas, bagi- bagi rezeki juga pekerjaan dilakukan Mbak Sur tanpa banyak bicara. Tanpa teori yang muluk-muluk ia menjadi motor bagi orang-orang sekitarnya untuk terus berjuang dan berdaya dalam menghadapi tantangan hidup yang kian berat.

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Tanpa banyak retorika Mbak Sur mengajak orang sekitarnya bahwa kebaikan bisa dilakukan lewat hal-hal kecil di sekitar kita. Kebaikan yang satu akan menular pada kebaikan yang lain dan semua dilakukan lewat hal hal sederhana.

Mbak Sur memberikan pelajaran bahwa setiap langkah yang dilakukan tidak sekedar untuk mencari nafkah, tapi juga bagaimana merajut tali kebersamaan, saling menguatkan dan saling memberikan manfaat. Karena seperti kata sebuah nasehat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Yuli Anita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post

Terima Kasihku Untukmu, Guru-guruku

Selamat Hari Guru.  Peringatan Hari Guru selalu istimewa. Betapa tidak? Bunga dan ucapan bertebaran di…

Al Khawarizmi, Bapak Aljabar Hingga Algoritma

Al-Khawarizmi memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Musa. Beliau dikenal dengan nama al-Khawarizmi karena…

Hari Buku Nasional, Kehadiran Buku yang Tak Tergantikan 

Selamat ulang tahun buku.., Anggap aku kekasih atau pacarmu.., semoga panjang umur dan cetak ulang…