Pagi itu suasana Stadion Gajayana sudah demikian ramai. Pengunjung datang dari berbagai sekolah dengan seragam berwarna warni. Kondisi lapangan yang basah tidak mengurangi semangat kami semua.
Pengunjung Stadion Gajayana, dokpri
Di dalam stadion suara musik yang menghentak memberikan semangat pada semua peserta. Peserta yang terdiri atas siswa dan guru mulai TK sampai dengan SMA dan SMK menggerakkan badan mengikuti gerakan sang pemandu senam. Aha, hari itu stadion Gajayana diramaikan dengan acara Peringatan HUT PGRI ke 77, Hari Guru Nasional dan Hari Anti Korupsi.
Suasana pagi di Stadion Gajayana, dokumentasi Apple
Acara yang diperkirakan dihadiri oleh 15 ribu orang itu tampak begitu meriah. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia penyelenggara, sambutan dari Bapak Walikota dan diakhiri dengan senam bersama.
Sesuai salah satu temanya yaitu Hari Anti Korupsi Nasional semua siswa diminta membawa spanduk ataupun slogan anti korupsi. Ya, korupsi yang menggerogoti ekonomi negara dan membuat rakyat sengsara memang harus diperangi bersama-sama.
Spanduk anti korupsi, dokpriRombongan siswa SMP3, dokumentasi Apple
Tiba pada acara senam bersama, Walikota dan semua undangan bersama-sama menggerakkan badan dengan pemandu pemandu dan irama musik yang begitu enerjik.
Wajah ceria tampak di mana mana. Tentu saja bergerak mengikuti irama lagu bersama memberikan efek rasa gembira pada semua yang datang.
Ada ceria di mana mana, dokumentasi Apple
Sesudah senam acara dilanjutkan dengan pengundian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah menarik. Harap- harap cemas sambil mengamati kupon yang dipegang. Meski peluangnya sangat kecil, peluang tetap peluang. Jangan- jangan mendapat hadiah utama… He.. He..
Sekecil apapun, peluang tetap peluang, dokumentasi AppleAda ceria di mana mana, dokumentasi Apple
Acara pagi itu juga dimeriahkan oleh stand gizi yang diadakan para guru TK. Stand gizi adalah stand yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Sangat pas, karena setelah senam bersama pasti banyak peserta yang lapar atau haus.
Bapak/ibu guru SMP negeri 3 ,siswa kelas 2.3 dan kelas 3.3 turut hadir di stadion Gajayana pagi itu. Semua mengikuti acara demi acara dengan antusias dan gembira.
Guru Bintaraloka, dok Bu Maria
Ketika matahari semakin naik acarapun berakhir, satu demi satu peserta meninggalkan stadion Gajayana. Tapi eits.. Sebelum pulang wajib foto dulu.. Ciiis… 🙂
Pendamping siswa, dokumentasi AppleSebelum pulang, dokumentasi Apple
Pagi ini matahari bersinar cerah. Hari yang istimewa. Ya, tanggal 25 Nopember bertepatan dengan peringatan Hari guru yang ke 77.
Hari Guru Nasional ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Hari Guru Nasional bertepatan dengan berdirinya PGRI.
Jalannya Upacara Hari Guru di Bintaraloka
Pembina upacara, dokumentasi Jojo
Sejak pagi lapangan sudah disiapkan oleh OSIS dan kesiswaan untuk persiapan upacara Hari Guru tahun ini.
Ketika jam menunjukkan hampir pukul 7 pagi upacara dimulai. Upacara kali ini demikian istimewa. Semua petugas adalah bapak /ibu guru. Mulai dari pemimpin, danton, pembawa acara, pembaca teks pancasila, pembaca teks pembukaan UUD 1945 pembaca doa juga pengibar bendera.
Menyanyi bersama, dokumentasi Bu Maria
Bertindak sebagai pemimpin upacara adalah Pak Gerry dan pembina upacara adalah Pak Akhsan wakakur SMP Negeri 3 Malang.
Setelah persiapan, dilakukan pengibaran bendera dengan petugas Pak Ardillah, Bu Hertika dan Pak Fabi.
Pengibaran bendera, dokumentasi Bu Maria
Pengibaran bendera dilanjutkan dengan mengheningkan cipta dan membacakan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Bertindak sebagai pembawa teks Pancasila adalah Pak Fajar, dan pembaca pembukaan UUD 1945 adalah Ibu Any.
Pembukaan UUD 45, dokumentasi Jojo
Yang membedakan upacara hari ini dengan upacara biasanya adalah adanya pembacaan sejarah berdirinya PGRI. Yang menjadi petugas adalah Pak Helmy Rahman.
Inti dari sejarah PGRI yang dibacakan oleh Pak Helmy adalah bahwasanya jauh sebelum organisasi ini berdiri, para guru membentuk organisasi guru pribumi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912.
Anggota PGHB terdiri dari guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah.
Pembawa acara, dokumentasi Jojo
Selain PGHB, ada berbagai organisasi guru lain yang berkembang dan 100 Hari setelah Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 23-25 November 1945, diselenggarakan Kongres Guru Indonesia yang pertama.
Kongres yang berlangsung di Surakarta itu menghasilkan kesepakatan yaitu segala perbedaan antara organisasi guru yang didasarkan perbedaan tamatan di lingkungan pekerjaan, daerah, aliran politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan.
Sejarah PGRI, dokumentasi Jojo
Sejak Kongres Guru Indonesia tersebut semua guru di Indonesia menyatakan bersatu dalam satu wadah yaitu PGRI.
Sesudah pembacaan sejarah PGRI sampailah pada acara sambutan dari pembina upacara
Dalam pidatonya Pak Akhsan membacakan sambutan dari bapak menteri pendidikan Nadiem Anwar Makarim.
Tema Hari Guru tahun ini adalah Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar.
Dalam sambutan tersebut disampaikan ajakan pada semua guru untuk tidak ragu berinovasi.
Ya, tantangan zaman yang demikian kompleks menuntuk guru agar senantiasa berinovasi demi kemajuan anak didiknya.
Sesudah upacara, dokumentasi Jojo
Guru tidak boleh berhenti belajar. Melalui aplikasi Merdeka Mengajar para guru bisa langsung berbagi ilmu. Jarak yang berjauhan bisa diatasi dengan saling berbagi ilmu secara daring.
Tidak hanya guru yang harus berubah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga memacu diri untuk berinovasi, mengubah cara pandang dan cara kerja dalam memberikan layanan terbaik bagi pendidik dan peserta didik.
Upacara berlangsung semakin khidmat tatkala semua peserta menyanyikan lagu Terima Kasihku dan Himne Guru dengan panduan konduktor Ibu Utin Kustianing.
Menutup upacara hari itu adalah doa yang dipimpin oleh Pak Muhaimin.
Sesudah upacara, dokumentasi Jojo
Selesai?
Belum. Peringatan Hari Guru masih dilanjutkan dengan menyanyi bersama lagu Cinta Luar Biasa. Suara merdu Bu Any dan Pak Gerry, serta pembacaan puisi dari Bu Maria, Bu Sherly dan Mister Sonny membuat suasana terasa demikian hangat dan mengharukan. Apalagi tatkala siswa menyanyikan lagu ulang tahun dari Jamrud dengan iringan gitar Pak Vigil.
Setelah upacara, dokumentasi pribadi
Seiring dengan berkumandangnya lagu teesebut siswa yang bertugas masuk lapangan sambil menyerahkan bunga pada bapak/ibu guru.
Aih, hari yang begitu manis.
Dalam peringatan hari guru ini ada yang terasa kurang. Ya, ada dua kelas dan beberapa pendamping tidak bisa hadir karena haris mengikuti ODL masalah lingkungan di Glintung. Kelas yang mendapat giliran untuk melaksanakan ODL tersebut adalah kelas 9.5 dan 9.6.
ODL, dokumentasi Bu Maskunin
Akhirnya selamat Hari Guru bagi Bapak/Ibu guru hebat semua. Semoga dengan peringatan hari guru ini bapak/ibu guru senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak bangsa.
Teriring harapan agar Bapak/ Ibu guru tidak berhenti berinovasi demi kemajuan para siswa, Ya, inovasi para guru adalah wujud cinta guru yang luar biasa pada para siswa
Pagi itu suasana terasa demikian istimewa di Balaikota Malang. Di bagian dalam ratusan siswa dan pembina berseragam pramuka siap apel, sementara di bagian luar orang tua atau pengantar siswa mengikuti acara dengan sabar.
Menjelang berangkat, dokumentasi P.Gerry
Ya, hari itu Sabtu, 12 Nopember 2022 akan diberangkatkan rombongan peserta long march, napak tilas jejak perjuangan pahlawan Hamid Rusdi dari Balaikota hingga Wonokoyo sebagai bagian dari Peringatan Hari Pahlawan 2022.
Mengenal Pahlawan Hamid Rusdi
Patung Hamid Rusdi, Sumber gambar : Malang Times
Hamid Rusdi adalah pahlawan nasional yang berasal dari kota Malang. Pahlawan Hamid Rusdi diabadikan dalam sebuah patung yang terletak di Jalan Simpang Balapan Ijen Malang
Hamid Rusdi merupakan pahlawan tiga masa, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang, serta kemerdekaan.
Hamid Rusdi lahir pada 1911 di Desa Sumbermanjingkulon, Pagak, Kabupaten Malang.
Ketika penjajahan Belanda, beliau aktif di bidang kepanduan.
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Hamid Rusdi menyusup ke dalam PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943. Saat itu Hamid Rusdi berpangkat Sudanco (Letnan I) dan ditugaskan di Malang.
Di hadapan Jepang, Hamid Rusdi sibuk latihan militer. Secara underground, beliau sibuk mempersiapkan laskar perlawanan Jepang.
Upaya Hamid Rusdi membawa hasil dimana akhirnya Karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, dan pasukan tentara Jepang di Malang bisa dilucuti.
Hamid Rusdi juga pencetus Malang Lautan Api. Di tahun 1947 ketika terjadi agresi militer pertama, beliau menjadi perwira tertinggi di Malang yang bertugas mempertahankan kota dari serbuan Belanda.
Di sinilah aksi legendaris Hamid Rusdi terjadi. Beliau berkeliling kota mengendarai jeep dan memerintahkan seluruh rakyat menghanguskan bangunan Belanda. Inilah peristiwa Malang Lautan Api.
Pada 8 Maret 1949, Hamid Rusdi pulang dan berpamitan pada istri beliau, Siti Fatimah. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir dengan sang istri karena sesudahnya Hamid Rusdi gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Wonokoyo.
Hamid Rusdi dikenal cakap berstrategi. Beliau pandai memainkan strategi komunikasi menggunakan bahasa walikan. Bahasa yang merupakan sandi pertempuran ini sampai sekarang menjadi bahasa khas arek Malang.
Long March Napak Tilas Jejak Perjuangan Pahlawan Hamid Rusdi 2022
Dari Sabang sampai Merauke, dokumentasi P. Gerry
Long March yang diadakan oleh Kwarcab Pramuka dan Pemerintah Kota Malang ini mengambil start di Balaikota Malang.
Suasana pemberangkatan demikian meriah. Bendera merah putih tegar berdiri dengan tongkat dalam genggaman tangan siswa.
Lagu lagu nasional yang demikian menggugah semangat dikumandangkan. Lagu Maju Tak Gentar, Hari Merdeka dan terakhir Dari Sabang sampai Merauke.
Di saat menyanyikan dari Sabang sampai Merauke bendera dikibar-kibarkan dengan penuh semangat. Suasana demikian mengharukan. Ada pesan penting yang disampaikan bahwasanya harus tetap digelorakan dalam dada para generasi muda untuk menghargai setiap perbedaan yang ada di dalam negara tercinta Indonesia.
Setelah apel, sekitar pukul setengah delapan peserta diberangkatkan untuk memulai long march. Ada 107 regu yang mengikuti long march ini, dan tiap regu terdiri atas lima orang. Jadi total peserta long march adalah 535 orang. Bintaraloka mendapat urutan regu ke 65 dan 66.
Regu putera dan puteri Bintaraloka, dokumentasi P.Gerry
Adapun rincian tiap regu sesuai jenjang sekolah adalah sebagai berikut : 2 regu SD 80 regu SMP 21 regu SMA dan SMK 2 regu perguruan tinggi 6 regu sekolah disabilitas
Peserta berangkat dengan begitu bersemangat. Jarak yang lumayan jauh (kira-kira 10 km) pasti bisa diatasi dengan semangat yang gigih, dan saling memberi semangat dan kekuatan.
Kebersamaan peserta dalam regu Bintaraloka benar- benar terasa. Sepanjang perjalanan regu putera maupun puteri selalu berjalan bersama. Tidak saling mendahului karena yang dipentingkan di sini adalah kerjasama dan kekompakan team, seperti yang dicontohkan mayor Hamid Rusdi bersama anak buahnya di masa perjuangan dulu.
Setelah melalui beberapa pos, sekitar pukul 11 regu pramuka Bintaraloka tiba di monumen Hamid Rusdi Wonokoyo.
Mengheningkan cipta, dokumentasi P.Gerry
Setelah mengheningkan cipta dan mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur, siswa segera mendirikan tenda dan langsung mengikuti rangkaian acara yang sudah disiapkan panitia, seperti kerja bakti, kegiatan mencari teman, karang pamitran juga lomba puisi dan membuat poster.
Kesan siswa dalam mengikuti acara ini adalah sangat excited. Ya, ini adalah pengalaman baru bagi mereka mengikuti long march dengan jarak yang lumayan jauh.
Perjalanan yang melelahkan namun sangat berkesan. Melalui kegiatan ini hendak dibangkitkan lagi jiwa-jiiwa pahlawan muda untuk berbuat sesuatu yang bisa mengharumkan nama tanah air tercinta.
Dalamperjalanan, dokumentasi P. GerryDi GOR Ken Arok, dokumentasi P.Gerry
Melalui long march ini diharapkan siswa bisa lebih menghayati perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan terutama pahlawan Hamid Rusdi. Ya, perlu disadari bersama bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.
Hujan baru saja reda. Akhir-akhir ini tiap sore hujan rajin menyapa kota Malang dengan disertai petir yang sesekali menyambar.
Tanpa menunggu lama saya segera menuju parkiran untuk mengambil helm. Ya sebuah pesan sudah masuk whatsapp saya, dari Naknang ( pinjam istilah Mbak Yuliyanti). “Sudah di depan sekolah, Buk, ” kata pesan itu.
“Monggo Pak, wangsul rumiyin nggih.., ” pamit saya pada Pak Satpam. Beberapa anak masih latihan ekskul paduan suara di kelas yang saya lewati.
“Monggo Bu.., ” jawab Pak Satpam ramah.
Sepeda yang kami naiki langsung menerobos lalu lintas kota Malang yang lumayan ramai. Tentu saja, pukul empat adalah jam pulang sekolah dan pulang kantor. Apalagi tadi banyak yang tertahan pulang karena hujan.
” Mampir Gangsar? ” tanya saya. Naknang mengangguk. “Asiik.. Lama tidak ke sana, ” jawabnya senang.
Gangsar adalah nama warung bakso langganan kami. Tempatnya tidak begitu luas, tapi nyaman, dan yang paling penting tidak jauh dari rumah pun yang jual juga ramah.
Bakso Malang, Sumber gambar: Tribun Travel
Mbakso adalah acara yang sering saya lakukan dengan anak-anak di akhir pekan. Sejak mereka SD akhir pekan sering kami isi dengan jalan ke perpustakaan umum, pulangnya mampir warung bakso.
Kenapa bakso? Aih, di Malang kuliner ini ada di mana-mana. Siang hari selepas Dhuhur biasanya gerobak bakso mulai menjajakan dagangannya. Ada macam macam merek atau nama armadanya. Bakso Rahayu, Sugeng, Sahabat, Al Amin, Hepi Pol , Bakso Gunung dan banyak lagi.
Semua dengan kekhasannya sendiri-sendiri. Harganya sangat bersahabat, rasanya juga enak.
Paling senang jika kompor yang digunakan penjual bakso adalah anglo dan menggunakan arang. Baunya sedap sekali.
Sepeda motor kami masuk parkiran Bakso Gangsar. Setelah mengunci, kami masuk warung dan tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya.
Tepak wes.., mudah mudahan selesai makan , hujan reda lagi, pikir saya.
“Monggo, ” kata Mas penjual ramah. Di warung tersebut kami selalu mengambil mangkok dan mengisi sendiri apa yang mau dimakan. Begitu juga mengambil kuah, brambang daun maupun brambang goreng sendiri.
“Wes, ambil sendiri, ” kata saya pada Nak nang. Saya sendiri mengisi mangkok dengan dua bakso, tahu, siomay dan mie.
Bakso Malang, Sumber gambar: detik.com
Tanpa disuruh dua kali Nak Nang mengisi mangkoknya. Satu bakso besar, dua bakso kecil, siomay, tahu, goreng panjang dan goreng bundar. Belum diberi kuah mangkok sepertinya tampak penuh.
Bakso halus terbuat dari daging yang digiling halus lalu diberi bumbu bawang, merica, garam, penyedap dan sedikit tepung lalu dicetak bulat bulat dan direbus. Sedangkan bakso kasar, sama dengan bakso halus hanya saja kualitas dagingnya agak beda.
Jika bakso halus dagingnya tanpa lemak, bakso kasar ada sedikit lemak, dan kadang ada tulangnya yang lunak sehingga teksturnya agak kasar. Rasanya? Hmm, maknyus pokoknya, Apalagi dicocol dengan saos tomat atau sambal.
Siomay juga tak kalah lezat. Hidangan dari adonan ayam, sedikit udang, brambang, bawang, merica garam dan penyedap yang dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus ini menyimpan pesona tersendiri.
Goreng bunder terbuat dari siomay yang digoreng. Sedangkan goreng panjang, isi adonannya mirip siomay hanya ditambahi usus. Cara membungkusnya juga memanjang sehingga kami namakan goreng panjang.
Saya tersenyum melihat isi mangkok Naknang. “Luwe ya Le? “ Naknang melihat mangkoknya sambil tertawa “Iya Buk, niki luwe pol…, ” katanya.
Bakso langganan kami memang istimewa. Kuahnya bening, namun gurihnya kaldu dengan paduan bumbu bawang , brambang dan merica terasa begitu khas. Apalagi ditambah dengan hadirnya saus tomat, sambal dan kecap.
Rasa gurih, manis, pedas dan sedap benar-benar membuat bakso menjadi hidangan yang begitu menggod, apalagi di hujan hujan begini.
Penjual bakso, sumber gambar: Cendana News
Naknang menyendok saos tomat dan sambal lalu dimasukkan dalam mangkoknya. “Le, ojo pedhes pedhes, ” kata saya demi melihat ia mengambil dua sendok sambal langsung dimasukkan ke mangkok, lalu ditambah sedikit kecap.
Duh, padahal saya sambal satu sendok saja sudah terasa panas di mulut, “ “Mboten kok, ” katanya sambil terus mengaduk isi mangkoknya.
“Ibuk mau tambah brambang daun? ” tanya Naknang. Ia hafal betul saya suka bakso dengan banyak brambang daun. Sampai suatu saat teman saya sambil bergurau mengatakan mangkok saya mirip penghijauan. “Cukup, Le, ” tolak saya. Sebenarnya mau juga. Tapi sungkan sama Masnya.
“Tahu tidak, apa beda bakso Malang dengan bakso yang lain? ” tanya saya pada Naknang. Sejenak ia menghentikan suapannya. “Lebih enak? ” katanya kemudian. ” He.. He, itu karena kamu orang Malang.., makanya merasa bakso Malang paling enak.., ” jawab saya. “Eh, teman saya kuliah dari kota lain juga bilang kalau bakso Malang paling enak? “jawab Nak Nang lagi. “Maksud ibuk kekhasannya apa? “ “Apa ya? ” tanya Naknang sambil terus makan. “Variannya banyak Le.., kita punya banyak isi bakso. Ada tahu, mie, siomay, goreng panjang, goreng bunder, pentol halus, juga pentol kasar.., seperti isi mangkokmu itu.., ” gurau saya. Kali ini Naknang tertawa. “Waduh, ibuk nyindir ini? “ “Nggak, dari dulu makanmu memang banyak kok,” kata saya lagi.
“Bakso Malang paling enak karena makannya sama Ibuk,” kata Naknang serius.
“Iya, kalau sama Ibuk yang bayar kan ibuk,” timpal saya.
Naknang kembali tertawa, dan… ups.., dia mengambil lagi dua siomay dan satu bakso kasar.
Ya, bakso selalu menyimpan kehangatan. Tidak hanya nyaman di perut tapi juga hangat di hati.
Dengan mbakso diskusi berbagai masalah kami bisa berjalan dalam suasana yang begitu gayeng, santai dan menyenangkan.
Pagi ini matahari bersinar cerah. Setelah bersih bersih lingkungan, siswa berkumpul kembali di lapangan volly Bintaraloka untuk melanjutkan gladi yang dilakukan sejak kemarin.
Persiapanpenyambutan, dokumentasi BBC
Ya, sekolah bersiap siap untuk menyambut kedatangan Sang Maestro tari kebanggaan Indonesia yaitu Didik Nini Thowok.
Tentang Didik Nini Thowok
Didik Nini Thowok, dokumentasi BBC
Didik Nini Thowok memiliki nama asli Didik Hadiprayitno. Seniman tari ini lahir di Yogyakarta, 13 November 1954. Tarian Didik Nini Thowok yang sangat terkenal adalah tarian ‘dua muka’, yaitu sebuah tarian yang menjalankan dua karakter wajah sekaligus dengan menggunakan topeng depan belakang.
Didik Nini Thowok menempuh studinya di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta dan memperoleh gelar SST (Sarjana Seni Tari).
Lulus dari ASTI, beliau ditawari ASTI untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain menjadi dosen di ASTI, Didik Nini Thowok juga menjadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.
Didik Nini Thowok menggeluti kesenian tari dengan kombinasi antara tari tradisional, modern dan tarian komedi. Sebagian besar tarian yang diciptakan digali dari tarian-tarian Sunda, Cirebon, Bali, dan Jawa.
Beliau menggeluti seni tari sejak usia muda, dan dulu sering ‘ngamen’ di Malioboro, sebuah kawasan kreativitas seniman Yogyakarta.
Pemimpin Didik Nini Thowok Foundation dan Didik Nini Thowok Entertainment ini pernah memperoleh penghargaan bergengsi Kick Andy Heroes Award kategori Seni dan Budaya (2009).
Penyambutan Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka
Persiapan penyambutan, dokpri
Persiapan penyambutan di Bintaraloka dilakukan di dekat pintu gerbang dan lapangan. Di dekat pintu gerbang Ibu Ninik beberapa kali memberikan briefing pada penyambut tamu yang terdiri dari satu orang siswa putra dan putri, sementara di lapangan volly Mister Sony memberikan arahan pada siswa penyambut tamu juga pengisi acara.
Sekitar pukul delapan lebih sebuah mobil hitam masuk Bintaraloka. Seseorang keluar dari mobil dengan wajah yang ramah. Ya, Didik Nini Thowok, Sang Maestro tari telah memasuki halaman Bintaraloka.
Tiba di Bintaraloka, dokpri
Setelah dilakukan pengalungan selendang oleh dua siswa yang bertugas, dengan diiringi bapak dan ibu guru Sang Maestro mengisi buku tamu dan langsung menuju lapangan volly.
Tepuk tangan yang begitu meriah menyambut kedatangan Didik Nini Thowok, dan tak lama sesudahnya lima orang penari menarikan tari Batik dengan gemulai namun lincah.
Tari yang menggambarkan tentang proses pembuatan batik Malangan ini dibawakan siswa yang kemarin berlaga di FLS2N dengan begitu indah.
Tari Batik, dokumentasi BBC
Setelah tari Batik, Imraan membawakan jula-juli dengan syair dan gaya yang menggelitik. Dalam syair jula-julinya Imraan mengucapkan selamat datang pada Didik Nini Thowok juga bercerita tentang siswa dan guru di Bumi Bintaraloka.
Jula juli, dokumentasi BBC
….
Sekolahe sing paling oke
Prestasine nggarai wedi dhewe
Arek arek e pinter dadine
Gurune pancen ksatria
Awak e bijak lan berwibawa
Aku dewe yo ora gelem kalah
Masi weteng maju
wajah idol Korea…
Setelah jula juli semua siswa berdiri dan menyanyikan lagu Mari Meraih Prestasi bersama sama.
Lagu yang digubah oleh Pak Vigil ini selalu membawa nuansa tersendiri, ada rasa semangat, bangga, sekaligus terharu saat bersama-sama menyanyikan lagu ini di bumi Bintaraloka.
Setelah menyanyi bersama, dokumentasi BBC
Lebih-lebih pagi ini lagu dinyanyikan dengan iringan musik ansamble SMP Negeri 3 Malang.
Ansamble, dokumentasi BBC
Setelah lagu dinyanyikan, secara mengejutkan Didik Nini Thowok request pada semua untuk menyanyikan sekali lagi. Bahkan beliau ikut ‘turun’ dan melambaikan tangan mengikuti irama lagu.
Sekali lagi Bintaraloka kembali dimeriahkan oleh lagu Mari Meraih Prestasi yang kami nyanyikan bersama.
Menari bersama, dokumentasi BBC
Sesudah menyanyikan lagu, dua orang siswa maju ke depan untuk menyerahkan lukisan dan meminta tanda tangan pada lukisan yang sudah dibuat. Dengan ramah Didik Nini Thowok menerima dan menandatangani lukisan siswa dan mengajak mereka berfoto bersama.
Menari dan menyanyi bersama, dokumentasi BBC
Sebelum menuju aula atas guna memenuhi undangan MGMP Seni Budaya Kota Malang sebagai pemateri, beliau juga memberikan beberapa pesan pada semua siswa, di antaranya untuk selalu menjunjung tinggi budaya kita.
Sesudah acara penyambutan Pak Didik Nini Thowok segera menuju aula Bintaraloka 1 , karena di sana bapak ibu guru seni budaya kota Malang telah menunggu.
Berfoto setelah menandatangani karya siswa, dokumentasi BBC
Acara di aula begitu gayeng. Acara yang bertajuk Koreografi Anak Ini banyak membicarakan tentang pentingnya menggunakan metode yang tepat dalam mengajarkan tari pada anak-anak.
Dalam kesempatan ini Didik Nini Thowok juga mengajak bapak/ibu guru peserta MGMP menari bersama.
Suasana workshop di aula, dokpri
Kesan yang sangat terasa dari kunjungan Didik Nini Thowok di Bintaraloka hari ini adalah keramahan, kehalusan dan kerendahan hati beliau.
Betapa beliau tidak segan untuk menyapa dan mengajak siswa bicara, bahkan menari bersama kami semua.
Didik Nini Thowok juga menyampaikan kesan dan pesan dengan bahasa yang halus dan santun meski dengan gaya yang kocak.
Sungguh hari yang sangat berkesan. Ada banyak pelajaran yang bisa dari kedatangan Didik Nini Thowok ini, yaitu:
1. Terus pelajari seni budaya karena itu adalah kekayaan bangsa. Mempelajari seni budaya akan mengasah rasa sehingga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri tetap terjaga sehingga kita bisa menjadi lebih halus, lebih sabar, tidak mudah tersulut emosi.
2. Selalu menghargai dan menghormati jasa para guru dan orang tua. Didik Nini Thowok menerangkan bahkan sampai sekarang beliau masih ziarah ke makam guru-guru beliau, karena gurulah yang membuat beliau menjadi maestro seperti sekarang ini.
3. Jangan takut bereksplorasi dan berkreasi dalam seni. Tidak ada yang salah dalam seni. Karena seni berkaitan dengan olah rasa yang membuat manusia lebih halus dan berbudaya.