Bapak Adalah Pahlawanku

(Naskah lomba cerpen anak)

Malam semakin larut. Jam dinding mengeluarkan bunyi tik…tik…tik… Jarum-jarumnya seperti berkejar-kejaran. Beberapa saat lagi pasti akan menunjukkan pukul delapan. 

Nodi mulai menguap. Anak yang masih duduk di kelas empat SD itu sudah mulai mengantuk. Berkali-kali dikucek-kuceknya matanya yang mulai terasa berat.

PR dari Bu Guru tinggal satu nomor lagi.

“Buk, pahlawan itu apa?” tanya Nodi sambil memandang Ibuknya yang duduk tak jauh darinya.

Ibuk meletakkan jahitan tangannya. Setiap malam Ibuk selalu menemani Nodi dan adik-adiknya belajar.

“Orang yang berjasa untuk bangsa dan negara,” jawab Ibuk.

“Orang yang berjuang untuk kemerdekaan?” tanya Nodi lagi.

“Bisa..,” kata Ibuk sambil  mengangguk.

“Kalau sudah merdeka berarti tidak ada pahlawan, ya?” lanjut Nodi.

“ Eh, orang yang berjuang untuk kemajuan lingkungan sekitarnya juga bisa disebut pahlawan, Le,” ralat Ibuk kemudian.

“Berarti bukan yang berjuang di zaman kemerdekaan saja ya Buk?”

Ibuk tersenyum melihat semangat bertanya Nodi, “Tidak, Nodi.., sekarangpun banyak pahlawan. Ada pahlawan kebersihan, pahlawan pendidikan, dan banyak lagi..,”

“PR Nodi sudah selesai?” tanya Ibuk sambil meraih buku tulis Nodi dan memeriksanya.

Nodi menggeleng.

“Nodi masih bingung dengan satu pertanyaan, tapi itu buat minggu depan, Buk,” jawab Nodi.

“Apa pertanyaannya?” tanya Ibuk.

“Sebutkan contoh sosok pahlawan atau pejuang di lingkungan sekitarmu,”jawab Nodi. Ia menguap lagi.

Demi melihat Nodi yang semakin mengantuk, Ibuk membantu Nodi merapikan buku-bukunya.

“Tidur saja,Le, besok dilanjutkan,”

Nodi mengangguk. Ia segera berangkat ke kamar dan tak berapa lama kemudian iapun mengikuti jejak kedua adiknya yang sudah tertidur pulas.

****

Minggu yang cerah. Tidak ada yang lebih indah daripada hari Minggu. Hari dimana semua bisa dikerjakan dengan irama yang santai. Hari di mana Nodi bisa berlama-lama dengan bapak, ibuk  dan adik-adiknya di rumah.

 Nodi berlari menyambut bapak yang membawa dua keranjang penuh belanjaan. Bapak baru saja pulang dari pasar. Cepat-cepat Nodi meraih satu keranjang. Dua adiknya yang masih kecil ikut di belakangnya.

 “Berat Le,  hati-hati.., ” kata bapak Nodi  sambil tersenyum.

 “Haa segini sih, keciiil..,  ” kata Nodi sambil menjentikkan jarinya.  Adin dan Sisi adiknya mengikuti tingkah Nodi dengan lucu.

Dengan cekatan Nodi membawa keranjang itu ke dapur di mana  Mas No dan Mas Pri sudah menunggu. Mas No dan Mas Pri adalah orang yang bekerja pada Bapak Nodi.  Keduanya  bekerja di rumah Nodi sejak Nodi masih duduk di TK.

Bapak Nodi adalah pembuat dan penjual bakso Malang.  Bakso yang terkenal lezat dengan isinya yang bermacam-macam.  Banyak yang mengatakan, jika pergi ke Malang selalu sempatkan membeli bakso Malang, ditanggung pasti ketagihan.

 Tiap hari di rumah Nodi selalu ada kesibukan membuat bakso. Aroma daging giling yang diberi bumbu dan berbentuk bulat itu selalu memenuhi rumah yang tak begitu besar itu. Selain membuat bakso, Mas No dan Mas Pri juga membuat  siomay,  tahu kukus dan siomay goreng.

 Saat libur Nodi selalu ikut membantu.  Tugasnya adalah menggulung mie. Dengan telaten bapak mengajarinya. Ya,  berbeda dengan bakso Solo yang mie nya diurai,  bakso Malang mienya digulung.

Biasanya semua pekerjaan itu selesai menjelang  duhur,  dan sesudah istirahat sejenak, bakso mulai dijual berkeliling kampung. 

 Nodi selalu ingat cerita ibuk tentang perjuangan bapak dalam berjualan bakso.  Dari mulai punya satu gerobak hingga akhirnya mempunyai tiga gerobak. Ketiganya dijalankan oleh bapak, Mas No dan Mas Pri.

Sumber gambar: Bakso Endeus

  Sesekali ibuk juga membantu membuat bakso, meski dalam keseharian  ibuk lebih  banyak disibukkan oleh menemani Nodi dan kedua adiknya.

Dengan berjualan bakso bapak bisa menampung tenaga kerja dari orang -orang sekitar rumah. Seperti Mas No dan Mas Pri. Bahkan Ketika ada pesanan yang banyak beberapa tetangga membantu di rumah, dan tentu saja oleh Bapak akan diberi sedikit uang lelah.

Dalam berbagai acara kampung bapak Nodi juga sering memberikan sumbangan. Misal ketika kemarin ada rapat persiapan HUT Proklamasi, Bapak Nodi  hadir dan menyediakan konsumsi untuk panitia yang hadir.

Apa konsumsinya? Semangkuk bakso tentu! Semua sudah kenal dengan lezatnya Bakso Pak Man, bapak Nodi.

Pendeknya bapak benar-benar sosok yang sangat membanggakan. Kerja keras, kesabaran dan kedermawanannya adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh Nodi dan adik-adiknya. 

Malam itu sehabis sholat Isyak bapak menghampiri Nodi yang sedang tekun belajar.

“PR ,ya Le? “

Nodi menghentikan pekerjaannya.

“Benar Pak, “jawabnya.

Bapak mengelus kepala Nodi dengan bangga. 

“Sekolah yang pinter ya Le,  biar nanti hidupmu enak..,  jauh lebih sukses dari Bapak, ” kata bapak Nodi lagi.

 Nodi tersenyum.

” Iya Pak,  tapi Nodi nanti ingin tetap berjualan bakso, seperti Bapak, ” jawab Nodi.

Bapak Nodi terkejut.

“Nodi ingin sekolah yang pintar,  berjualan bakso dengan armada yang lebih banyak, Nodi juga ingin punya restoran bakso dan bisa  buka cabang di mana-mana, ” lanjut Nodi yakin.

Bapak Nodi terpana sejenak lalu tertawa bangga sambil mengucek-ucek rambut anaknya.

Terima kasih Bapak, Bapak telah memberi banyak teladan pada Nodi. Tentang bagaimana berjuang dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan membantu orang-orang sekitar.

Tiba-tiba Nodi tahu, apa jawaban dari pertanyaan di PR kemarin. Ya, Nodi sudah menemukan sosok pahlawan atau pejuang itu. Bapak adalah pahlawanku, bisik hati kecil Nodi.

Babatrip, Menikmati Lezatnya Bakso dengan Sensasi Berbeda

Bakso, siapa tidak kenal makanan satu ini? Hmm, semangkuk bakso lezat dengan saus tomat, kecap dan sambal sesuai selera, dinikmati sambil ngobrol bersama teman, aih sedap rasanya.

Sebenarnya dari manakan asal muasal hidangan penuh citarasa ini?

Sejarah bakso berasal dari negeri Tiongkok.
Adalah seorang pemuda bernama Meng Bo yang hidup di kota Fuzou Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368-1644).

Meng Bo begitu sayang pada ibunya. Ia merasa sedih melihat sang ibu yang semakin tua dan tidak bisa makan daging yang disukainya.

Menikmati bakso bakar Babatrip, dokumentasi pribadi

Terinspirasi dari kue mochi yang terbuat dari ketan yang ditumbuk halus, Meng Bo lalu membuat daging yang digiling lembut lalu diberi bumbu dibentuk bulatan-bulatan kecil untuk ibunya. Menghidangkannya dengan semangkuk kaldu hangat.

Mungkin karena ada rasa ikhlas dan kasih sayang di dalamnya, hidangan yang dibuat Meng Bo akhirnya terkenal se antero kota Fuzou hingga seluruh Tiongkok.

Hidangan tersebut akhirnya dikenal sebagai bakso dan diwariskan turun-temurun oleh bangsa Tiongkok.

Tentang Bakso Bakar Babatrip

Bakso bakar, original dan minuman, dokumentasi pribadi

Malang sebagai salah kota yang terkenal akan baksonya boleh berbangga hati, karena kelezatan bakso Malang banyak dicari.

Bakso Malang mempunyai ciri yang berbeda dengan bakso yang lain. Di antara yang membedakan adalah bakso Malang memiliki banyak varian isi. Di antaranya ada tahu, siomay, mie , goreng, bakso halus dan bakso kasar.

Nah, yang menarik, ternyata ada inovasi lebih lanjut dari bakso Malang ini, yaitu bakso bakar. Aha…, apa pula ini?

Sesuai namanya bakso bakar terbuat dari bakso yang di bakar dan diberi bumbu-bumbu tertentu.

Nah, berkaitan dengan bakso bakar ini ada sebuah pengalaman menarik sepulang kami healing di Pujon. 

Persiapan pulang sesudah healing Pujon, dokumentasi pribadi

Berawal dari seorang teman yang tiba-tiba mendapat rezeki tak diduga, akhirnya kami ditraktir makan bareng di Bakso Bakar Babatrip. Syukuran arisan, demikian kata teman saya.

Sungguh, saya baru tahu ternyata di Jl Pahlawan Trip ada tempat untuk makan bakso bakar yang demikian nyaman.

Saat itu kami berlima tiba di Babatrip kira-kira pukul enam sore. Hawa Malang yang dingin dan badan yang lelah sehabis healing sebenarnya mengajak kami untuk cepat-cepat pulang saja. Tapi begitu melihat lokasi Bakso Bakar Babatrip yang menarik, kami langsung semangat lagi.

Bagian luar Bakso Bakar Babatrip ditandai dengan lampu yang berkelap-kelip sehingga tampak demikian mencolok di dalam gelapnya malam.

Begitu masuk, suasana tampak begitu nyaman. Tempat duduk berderet-deret, dan beberapa sudah terisi pengunjung.

Sambil menikmati hidangan, pengunjung dihibur dengan lagu-lagu karaoke yang dibawakan dengan merdu oleh seorang penyanyi.

Memilih menu, dokumentasi pribadi

Kami menulis pesanan lalu segera sholat Maghrib di musholla yang tersedia.

Sesudah sholat, ternyata pesanan kami sudah datang. Aha… Bakso bakar, bakso original, teh juga kopi susu. Tanpa banyak kata, hidanganpun disantap bersama.

Bakso bakar memang mempunyai sensasi yang berbeda. Rasanya sedikit lebih kenyal. Bumbunya yang yang didominasi kecap, dan taburan bawang goreng membuat bakso bakar terasa demikian khas. Ada rasa gurih, kenyal, manis juga pedas yang ada dalam tiap gigitan bakso bakar. Mantap sekali ..

Malam semakin larut. Azan Isyak mulai berkumandang dari kejauhan. Bergegas kami menuju mobil untuk segera pulang.

Perut terasa begitu kenyang. Lezatnya santap bersama malam itu membuat kami berkesimpulan bahwa tidak salah jika bakso bakar menjadi salah satu hidangan favorit para penggemar kuliner di Malang.

Bagaimana pembaca? Tertarik untuk mencoba bakso bakar Babatrip..? Ajak saya ya..😁

Ada Kehangatan yang Tersimpan Dalam Semangkuk Bakso Malang

Topik Pilihan Kompasiana

Hujan baru saja reda. Akhir-akhir ini tiap sore hujan rajin menyapa kota Malang dengan disertai petir yang sesekali menyambar.

Tanpa menunggu lama saya segera menuju parkiran untuk mengambil helm. Ya sebuah pesan sudah masuk whatsapp saya, dari Naknang ( pinjam istilah Mbak Yuliyanti).
“Sudah di depan sekolah, Buk, ” kata pesan itu.

“Monggo Pak, wangsul rumiyin nggih.., ” pamit saya pada Pak Satpam. Beberapa anak masih latihan ekskul paduan suara di kelas yang saya lewati.

“Monggo Bu.., ” jawab Pak Satpam ramah.

Sepeda yang kami naiki langsung menerobos lalu lintas kota Malang yang lumayan ramai. Tentu saja, pukul empat adalah jam pulang sekolah dan pulang kantor. Apalagi tadi banyak yang tertahan pulang karena hujan.

” Mampir Gangsar? ” tanya saya. Naknang mengangguk. “Asiik.. Lama tidak ke sana, ” jawabnya senang.

Gangsar adalah nama warung bakso langganan kami. Tempatnya tidak begitu luas, tapi nyaman, dan yang paling penting tidak jauh dari rumah pun yang jual juga ramah.

Bakso Malang, Sumber gambar: Tribun Travel



Mbakso adalah acara yang sering saya lakukan dengan anak-anak di akhir pekan. Sejak mereka SD akhir pekan sering kami isi dengan jalan ke perpustakaan umum, pulangnya mampir warung bakso.

Kenapa bakso? Aih, di Malang kuliner ini ada di mana-mana. Siang hari selepas Dhuhur biasanya gerobak bakso mulai menjajakan dagangannya. Ada macam macam merek atau nama armadanya. Bakso Rahayu, Sugeng, Sahabat, Al Amin, Hepi Pol , Bakso Gunung dan banyak lagi.

Semua dengan kekhasannya sendiri-sendiri. Harganya sangat bersahabat, rasanya juga enak.

Paling senang jika kompor yang digunakan penjual bakso adalah anglo dan menggunakan arang. Baunya sedap sekali.

Sepeda motor kami masuk parkiran Bakso Gangsar. Setelah mengunci, kami masuk warung dan tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya.

Tepak wes.., mudah mudahan selesai makan , hujan reda lagi, pikir saya.

“Monggo, ” kata Mas penjual ramah. Di warung tersebut kami selalu mengambil mangkok dan mengisi sendiri apa yang mau dimakan. Begitu juga mengambil kuah, brambang daun maupun brambang goreng sendiri.

“Wes, ambil sendiri, ” kata saya pada Nak nang. Saya sendiri mengisi mangkok dengan dua bakso, tahu, siomay dan mie.

Bakso Malang, Sumber gambar: detik.com

Tanpa disuruh dua kali Nak Nang mengisi mangkoknya. Satu bakso besar, dua bakso kecil, siomay, tahu, goreng panjang dan goreng bundar. Belum diberi kuah mangkok sepertinya tampak penuh.

Bakso halus terbuat dari daging yang digiling halus lalu diberi bumbu bawang, merica, garam, penyedap dan sedikit tepung lalu dicetak bulat bulat dan direbus.
Sedangkan bakso kasar, sama dengan bakso halus hanya saja kualitas dagingnya agak beda.

Jika bakso halus dagingnya tanpa lemak, bakso kasar ada sedikit lemak, dan kadang ada tulangnya yang lunak sehingga teksturnya agak kasar. Rasanya? Hmm, maknyus pokoknya, Apalagi dicocol dengan saos tomat atau sambal.

Siomay juga tak kalah lezat. Hidangan dari adonan ayam, sedikit udang, brambang, bawang, merica garam dan penyedap yang dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus ini menyimpan pesona tersendiri.

Goreng bunder terbuat dari siomay yang digoreng. Sedangkan goreng panjang, isi adonannya mirip siomay hanya ditambahi usus. Cara membungkusnya juga memanjang sehingga kami namakan goreng panjang.

Saya tersenyum melihat isi mangkok Naknang.
“Luwe ya Le? “
Naknang melihat mangkoknya sambil tertawa
“Iya Buk, niki luwe pol…, ” katanya.

Bakso langganan kami memang istimewa. Kuahnya bening, namun gurihnya kaldu dengan paduan bumbu bawang , brambang dan merica terasa begitu khas. Apalagi ditambah dengan hadirnya saus tomat, sambal dan kecap.

Rasa gurih, manis, pedas dan sedap benar-benar membuat bakso menjadi hidangan yang begitu menggod, apalagi di hujan hujan begini.

Penjual bakso, sumber gambar: Cendana News

Naknang menyendok saos tomat dan sambal lalu dimasukkan dalam mangkoknya.
“Le, ojo pedhes pedhes, ” kata saya demi melihat ia mengambil dua sendok sambal langsung dimasukkan ke mangkok, lalu ditambah sedikit kecap.

Duh, padahal saya sambal satu sendok saja sudah terasa panas di mulut, “
“Mboten kok, ” katanya sambil terus mengaduk isi mangkoknya.

“Ibuk mau tambah brambang daun? ” tanya Naknang. Ia hafal betul saya suka bakso dengan banyak brambang daun. Sampai suatu saat teman saya sambil bergurau mengatakan mangkok saya mirip penghijauan.
“Cukup,  Le, ” tolak saya. Sebenarnya mau juga. Tapi sungkan sama Masnya.

“Tahu tidak, apa beda bakso Malang dengan bakso yang lain? ” tanya saya pada Naknang.
Sejenak ia menghentikan suapannya.
“Lebih enak? ” katanya kemudian.
” He.. He, itu karena kamu orang Malang.., makanya merasa bakso Malang paling enak.., ” jawab saya.
“Eh, teman saya kuliah dari kota lain juga bilang kalau bakso Malang paling enak? “jawab Nak Nang lagi.
“Maksud ibuk kekhasannya apa? “
“Apa ya? ” tanya Naknang sambil terus makan.
“Variannya banyak Le.., kita punya banyak isi bakso. Ada tahu, mie, siomay, goreng panjang, goreng bunder, pentol halus, juga pentol kasar.., seperti isi mangkokmu itu.., ” gurau saya.
Kali ini Naknang tertawa.
“Waduh, ibuk nyindir ini? “
“Nggak, dari dulu makanmu memang banyak kok,” kata saya lagi.

“Bakso Malang paling enak karena makannya sama Ibuk,” kata Naknang serius.

“Iya, kalau sama Ibuk yang bayar kan ibuk,” timpal saya.

Naknang kembali tertawa, dan… ups.., dia mengambil lagi dua siomay dan satu bakso kasar.

Ya, bakso selalu menyimpan kehangatan. Tidak hanya nyaman di perut tapi juga hangat di hati.

Dengan mbakso diskusi berbagai masalah kami bisa berjalan dalam suasana yang begitu gayeng, santai dan menyenangkan.

Sumber gambar: Merdeka.com