Manisnya Sehari Perjalanan di Bumi Bung Karno

Bagaimana jika emak- emak pergi mbolang bersama? He.. he.. rame pokoknya, bahkan kadang kadang mengalahkan ramainya anak kecil.. eh..😅

Mbolang, adalah istilah yang sering kami gunakan untuk bepergian. Mbolang  berasal dari kata bolang. Inspirasi kata ini berasal dari sebuah acara televisi yang  berjudul Si Bolang, artinya Bocah Petualang alias anak yang suka bepergian ke sana kemari dan menemukan kebahagiaan dalam petualangannya.

Pak Gito yang batal ikut, dokumentasi pribadi

Perjalanan mbolang kali ini diikuti oleh alumni SD  Bareng yang berjumlah sembilan orang. Seharusnya ada sepuluh. Tapi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggal, Pak Gito salah satu teman kami batal ikut meski sudah terlanjur pesan tiket.

Tujuan utama kami  adalah ke kota Blitar. Makam Bung Karno, Istana Gebang dan Candi Penataran adalah destinasi utama kami. Namun karena keterbatasan waktu tujuan ke Penataran akhirnya tidak bisa terlaksana.

Suasana di stasiun, dokumentasi pribadi

Tiket sudah dipesankan seminggu sebelumnya. Lewat aplikasi seorang teman, sepuluh tiket pulang pergi Malang -Blitar berhasil dibeli dengan harga tiket sekali perjalanan Rp12.000,00.

Hari dan jam keberangkatan sudah ditentukan yaitu Sabtu, 3 Juni 2023 , kereta Penataran berangkat pukul 07.14.

Sebagai antisipasi supaya jangan sampai terlambat, kami berjanji untuk bertemu di Stasiun Kota Baru Malang pukul 06.30.

Maka demikianlah, sepagi itu kami sudah siap di depan stasiun dengan dresscode yang sudah ditentukan. Baju kotak-kotak, celana jeans dan bersepatu. Biar cantik saat dipotret. He..he..

Pak Gito mengantarkan sampai kereta, dokumentasi pribadi

Sebagai wujud perhatiannya, meski tidak jadi ikut Pak Gito mengantarkan kepergian kami di stasiun Kota Baru Malang sampai naik Kereta Api. Barangkali Pak Gito takut emak emak ini tidak tahu jalan ya…

Sekitar pukul tujuh kami menaiki kereta Penataran gerbong enam. Suasana begitu ramai. Libur panjang empat hari di awal bulan Juni ini membuat penonton melimpah di stasiun.

Tiba di Stasiun Blitar, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul sembilan lebih kami sampai di Stasiun Blitar. Setelah istirahat sejenak, agenda selanjutnya adalah mencari sarapan. Dari berbagai info yang masuk akhirnya pilihan kami jatuh pada Rumah Makan Padang Murah yang berlokasi di Jalan Mastrip Blitar.

Sarapan dulu, dokumentasi pribadi
Sarapan dulu, dokumentasi pribadi

Berbagai macam hidangan disediakan. Kami tinggal ambil, menunjukkan makanan yang ada di piring dan harga langsung ditentukan. Praktis sekali.

Lezatnya sayur singkong, ayam goreng dan sambel ijo, ditemani segelas teh hangat benar-benar  memberikan semangat pagi itu.

Setelah sarapan kami bergegas meneruskan perjalanan. Mulanya kami akan pesan gocar untuk pergi ke Makam
Bung Karno. Namun apa daya, sampai setengah jam kami tidak juga mendapatkan driver. Akhirnya rencana langsung diubah dengan menyewa becak.

Berkeliling Blitar dengan becak, dokumentasi pribadi

Karena ada sembilan orang dalam rombongan, maka ada lima becak yang disewa. Empat becak dinaiki dua penumpang, satu becak satu penumpang.

Setelah deal dengan ongkos dan perjalanan yang akan dilakukan dengan para penarik becak, perjalanan pun dilanjutkan menuju Makam Bung Karno.

Aha… Berkeliling Kota Blitar dengan becak sungguh mengasyikkan. Ritme kehidupan tiba tiba terasa begitu santai, jauh dari segala ketergesaan. Apalagi suasana jalanan kota Blitar yang jauh lebih sepi dibanding kota Malang.

Agenda haul Bung Karno, dokumentasi pribadi

Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Begitu keterangan Pak penarik becak pada kami. Ada tiga event besar di kota Blitar dalam bulan Juni ini, yaitu tanggal 1, 6 dan 21 Juni.

Tanggal 1 Juni adalah hari lahirnya Pancasila dimana Bung Karno adalah penemu dan  penggagas Pancasila, tanggal 6 Juni adalah hari lahir Sang Proklamator, dan 21 Juni adalah hari wafatnya Bung Karno.

Setiap tanggal diperingati dengan perayaan khusus. Dengan tumpengan, brokohan ataupun peringatan haul.

Hal tersebut dipertegas dengan keterangan Mbak Nurin dari Perpustakaan Bung Karno. Perpustakaan yang berlokasi di bagian depan area Makam Bung Karno ini ditata demikian apik. Ada ruang koleksi buku juga memorabilia.

Salah satu koleksi memorabilia, Bung Karno, Dr Sama dan Mister Iskaq pendiri PNI, dokumentasi pribadi
Koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadi
Riwayat Bung Karno, koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadi
Teks proklamasi tulisan tangan Bung Karno, koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadi

Memorabilia adalah tempat koleksi barang- barang kenangan tentang Bung Karno. Ada banyak foto-foto beliau mulai dari zaman sekolah, menjadi presiden hingga akhirnya wafat, juga barang -barang yang sering dipakai Bung Karno.

Menurut Mbak Nurin dalam bulan Juni ini banyak kesibukan yang dilakukan untuk memperingati jasa-jasa Sang Proklamator. Antusias warga pada bulan Bung Karno ini ditampakkan dengan banyaknya kunjungan ke makam Bung Karno di bulan Juni.

Para pedagang cinderamata di jalan menuju makam Bung Karno, dokumentasi pribadi

Banyaknya pengunjung adalah berkah rezeki bagi para pedagang di depan maupun di tempat pembelian oleh-oleh di bagian belakang makam.

Saat kami datang ke makam Bung Karno, banyak sekali peziarah, sehingga yang berdoa ataupun nyekar di makam dibuat bergantian.

Suasana ziarah di makam Bung Karno dibuat bergantian, dokumentasi pribadi

Adalah Pak Juni, petugas di area tersebut yang dengan sabar mengarahkan para peziarah, bahkan rela menjadi juru potret dari masing masing rombongan.

Ziarah di makam Bung Karno, dokumentasi pribadi

Lepas ziarah kami meninggalkan area makam lewat jalan keluar yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga kami harus berputar di kawasan oleh-oleh.

Ada berbagai barang dagangan ditawarkan. baju-baju, aneka makanan khas Blitar seperti bumbu pecel, jenang dan dodol, beraneka ragam cindera mata, mainan dan banyak lagi. Saya sendiri membeli bros dan gelang dengan harga yang begitu murah. Lima belas ribu rupiah untuk tiga bros dan dua buah gelang.

Sesudah berputar- putar di pasar oleh-oleh kami menuju becak yang sudah menunggu di tempat parkir. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Istana Gebang, tempat kediaman Bung Karno di masa kecil dan remaja.

Tiba di Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Balai Kesenian Istana Genbang, dokumentasi pribadi

Pak penarik becak melayani kami dengan ramah meski harus menunggu lama. Sambil menunggu teman lain yang berbelanja kami berbincang-bincang dengan bapak-bapak penarik becak.

Dari obrolan kami siang itu ternyata keberadaan becak sebagai kendaraan wisata yang dipakai berkeliling kota Blitar sudah mulai tergerus dengan berbagai angkutan online. Jika dulu mereka bisa mendapatkan beberapa order dalam satu hari , kini satu order saja sudah bagus.

Bagi saya pribadi, menggunakan becak berkeliling sekitar kota Blitar sangat nyaman. Ongkosnya tak begitu mahal, bapak-bapaknya sabar menunggu pula.

Kira-kira pukul satu kami tiba di Istana Gebang. Tampak nyata ada kesibukan di sana. Tenda-tenda didirikan dan pengunjung gedung kesenian begitu banyak.

Baliho event Bung Karno Run 2023, dokumentasi pribadi
Pendaftaran Bung Karno Run 2023, dokumentasi pribadi

Aha, rupanya kedatangan kami bertepatan dengan akan diadakannya Bung Karno Run 2023. Lomba lari ini diadakan tanggal 4 Juni 2023 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Blitar.

Meja dan kursi di Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Salah satu sudut ruangan Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Foto-foto dan kamar tidur di Istana Gebang, dokumentasi pribadi

Memasuki Istana Gebang membuat kami seolah terlempar ke masa lalu. Suasana terasa demikian adem. Di ruang tamu sebuah lukisan besar Bung Karno di antara banyak orang seolah menyambut kedatangan kami.

Meja kursi kuno dengan taplak dan hiasan hiasan di tembok rumah seolah bercerita bagaimana keseharian kehidupan di rumah itu. Semua demikian cantik dan tertata apik.

Ramainya pengunjung di Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Salah satu ruang di Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Mobil Bung Karno, dokumentasi pribadi
Kayu bertuliskan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dalam bahasa Jepang di salah satu sudut istana Gebang, dokumentasi pribadi

Kami berkesempatan melihat kamar tamu, kamar pribadi Bung Karno, ruang dapur, ruang makan, juga mobil Bung Karno.

Halaman Istana begitu luas, menurut keterangan yang bertugas di sana, halaman rumah istana Gebang di masa lalu ada sekitar dua hektar. Wow, luas sekali.

Berfoto di istana Gebang, dokumentasi pribadi

Ada kesan yang begitu hangat di Istana ini. Ketika kami baru datang,  delapan gelas kopi menyambut kedatangan kami. Rupanya dari sponsor  penyelenggaraan event Bung Karno Run 2023.

Aih, nikmat sekali. Jam-jam sekian ngopi memang sangat mengasyikkan.

Setelah berfoto dan sholat di mushola Istana Gebang, kamipun melanjutkan perjalanan.

Segelas kopi penghangat suasana, dokumentasi pribadi

Stasiun Blitar menjadi tujuan utama. Ya, jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga. Memang kereta kami baru berangkat menuju Malang jam 16.50 wib. Tapi jauh lebih aman berada di sekitar stasiun di jam-jam menjelang pukul empat.

Perjalanan dengan becak berakhir. Kami segera membayar ongkos perjalanan. Bapak-bapak penarik becak menerima pembayaran kami dengan wajah sumringah.

Siap balik kembali ke Malang, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk stasiun kami menyempatkan diri dulu ke kedai bakso urat tak jauh dari situ. Hangatnya bakso dan manisnya minuman jeruk menutup perjalanan kami hari itu.

Ya, semua terasa hangat dan manis, semanis kesan sehari perjalanan kami di Bumi Bung Karno.

Salam….😊😊





Dari Arena Latihan Persiapan Wisuda Siswa Bintaraloka 2023

Siang itu setelah penyelenggaraan PAT kelas 7 dan 8, tampak lagi geliat kesibukan di aula Bintaraloka satu.

Pengisi acara tari, dokumentasi Bu Sherly

Lagu-lagu mengalun merdu dari para vokalis Bintaraloka, diiringi musik band yang begitu mantap. Selain itu suara gamelan yang mengiringi tarian atau pager ayu dan pager bagus membuat suasana terasa begitu manis.

Salah satu pengisi acara vokal, dokumentasi Bu Sherly

Ya, dalam beberapa hari ini dilakukan latihan untuk para pengisi acara pelepasan siswa kelas sembilan atau wisuda yang rencananya akan diadakan pada pertengahan bulan Juni 2023.

Sie acara wisuda, dokumentasi pribadi
Arahan dari Mister Sony, dokumentasi pribadi

Sie acara tampak begitu sibuk. Berbagai arahan diberikan pada siswa yang akan tampil. Berkali-kali Mister Sony dan tim mengingatkan siswa, baik tentang ekspresi, tampilan, penghayatan, juga posisi saat tampil di panggung nanti.

Sebagian pengisi acara wisuda dari paski, dokumentasi pribadi
Salah satu band pengisi acara, dokumentasi pribadi
Salah satu band pengisi acara, dokumentasi pribadi

Siswa pengisi acara yang berasal dari kelas tujuh, delapan dan sembilan, memperhatikan berbagai arahan itu dengan sungguh sungguh.

Jason, salah satu pengisi acara wisuda, dokumentasi pribadi

Ada berbagai latihan yang dilakukan meliputi : latihan pembawa bendera, pager ayu dan pager bagus, band, tari, puisi, juga vokal.

Yang membuat siswa lebih bersemangat, latihan siang itu juga dihadiri oleh panitia wisuda yang berasal dari orang tua.

Panitia wisuda dari orang tua, dokumentasi pribadi
Penabuh gamelan, dokumentasi Bu Sherly

Harapannya dengan latihan yang sungguh-sungguh, nantinya semua siswa yang bertugas bisa mempersembahkan tampilan yang maksimal di acara wisuda nanti.

Selamat berlatih dan tetap semangat….!

Antara Cwi Mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara Inul Daratista

Siapa tidak kenal cwi mie Malang? Hmm, hidangan lezat yang sangat menggugah selera ini memang tiada duanya. Dari aromanya yang menggoda sudah terbayang bagaimana kelezatannya.

Cwie mie atau kami sering juga menyebutnya dengan pangsit mie banyak disebut sebagai salah satu kuliner asli Malang.

Cwie mie biasanya disajikan dengan taburan ayam yang dicincang halus dan dilengkapi oleh daun sawi.

Rasa bumbu mie dan kuahnya gurih serta lezat. Perpaduan antara kaldu rebusan ayam, cincangan bawang putih, seledri, daun bawang, bawang goreng, membuat cwie mie benar-benar maknyus rasanya.

Di Bintaraloka ada kedai yang selalu menyajikan cwi mie yang lezat yaitu kedai Mas Rizal.

Kedai ini juga menyediakan siomay Wonton juga jamur krispi. Tapi yang paling saya suka adalah cwi mienya.

Kedai Mas Rizal di kantin Bintaraloka, dokumentasi pribadi

Ada sebuah cerita unik dalam dua hari ini Ternyata ada hubungan di antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara. Iya, benar.. Mie Burung Daranya Inul Daratista.
Tidak percaya? Simak terus ceritanya..😊

Setiap hari kedai mie Mas Rizal selalu menaburkan bau yang menggoda bagi kami. Setiap aroma cwi mie menguar rasanya perut langsung berontak. Cacing-cacing dalam perut menari-nari minta segera diberi mie.

Cwi mie mentah dalam kemasan, dokumentasi pribadi

Nah, suatu hari saya ingin sekali membeli cwi mie. Sesudah menyelesaikan sedikit pekerjaan, laptop saya sleep dan bergegas menuju kantin. Cwi mie Mas Rizal jadi tujuan utama saya.

Aih, ternyata karena istirahat PAT lebih panjang daripada biasanya, cwi mie dan makanan yang lain sudah ludes diserbu anak-anak. Saya hanya menjumpai kursi dan meja kosong, demikian juga banyak dari para penjual sudah pada pulang.

“Mau cari apa, Bu?” tiba-tiba seorang teman menyapa saya.
“Mau cari pangsit, Bu, kehabisan,” jawab saya. Saya biasa menamakan cwi mie dengan pangsit.

Bumbu dan topping cwi mie, dokumentasi pribadi

Teman saya langsung menawarkan sesuatu yang menarik.
“Bu Yuli mau pangsit? Tapi dimasak sendiri?”
Aha, pangsit tapi dimasak sendiri? Sesuatu yang baru bagi saya.
“Lha , Ibu bagaimana?” saya balik bertanya.
“Saya beli dua, yang satu buat Bu Yuli, satu buat saya..,”
Alhamdulillah….Saya tersenyum lebar. Rezeki ini namanya.

Ternyata selain dalam bentuk matang, Mas Rizal juga menjual cwi mie dalam bentuk mentah.

Setelah mengucapkan terima kasih sebuah kotak dus kecil saya terima dengan hati gembira. Asyik, pulang mau buat pangsit, pikir saya.

Sampai di rumah, saya langsung mengecek magic jar. Nasi habis. Tak apa.. saya punya pangsit, pikir saya.

Kompor saya nyalakan, di atasnya saya beri panci kecil dengan air setengah panci. Kotak dus saya buka, dan mangkuk saya siapkan di sampingnya.
Tapi lho….kok isinya bumbu-bumbu dan topping ya?
Ada kecap, kuah, bawang daun, bawang goreng, pangsit , cabe, daging ayam giling, dan krupuk .

“Kok tidak ada mie nya ya, Buk?” tanya anak saya.
Saya juga heran.
“Mungkin paketannya begitu ya, Le? Pakai mie Burung Dara di kulkas saja wes,” jawab saya memutuskan.

Cwi mie Burung Dara yang Mak nyus, dokumentasi pribadi

Tanpa banyak tanya, mie Burung Dara saya rebus dan dicampur dengan bumbu-bumbu yang ada di kotak tadi. Rasanya? Hmm, wenak.. saya makan berdua dan langsung habis.

Selesai makan tiba-tiba ada pesan masuk lewat WhatsApp saya. Walah, dari teman yang mentraktir mie tadi.

Intinya beliau minta maaf karena sesampai di rumah dan membuka dosnya, ternyata isinya cuma mie. Topping dan bumbunya ada pada saya.

He..he.. kami tertawa. Mungkin ada miskomunikasi sehingga ketika mie dijadikan satu dengan mie, dan bumbu dengan bumbu oleh Mas Rizal, hal tersebut tidak disampaikan pada pembeli, sehingga kami berpikir bahwa satu dos kecil itu isinya lengkap; mie, bumbu dan toppingnya.

“Besok saya ganti ya, Bu..,” kata teman saya.
Waduh, mana ada ceritanya orang mentraktir merasa bersalah dan mentraktir lagi. Saya langsung menolak.

Tapi begitulah, besok menjelang pulang sudah ada dos kecil cwi mie di meja saya. Dua pula.
“Bu, pangsitnya sudah tak letakkan di meja, tadi sama Mas Rizal sudah ditulisi biar tidak salah ,” kata teman saya menjelang pulang.

“Terima kasih, Bu,” jawab saya.
Duh, tidak enak juga.. tapi lha sudah dibelikan mau bagaimana lagi?

Pulang sekolah, seperti kemarin kompor langsung saya hidupkan dan merebus air setengah panci. Mau masak pangsit, pikir saya.

Tas berisi pangsit saya buka. Dua kotak tersaji manis di sana dengan tulisan yang begitu rapi : “1 porsi lengkap cwi mie mentah”.
Aha, mantap ini, pikir saya. Ketika air mendidih, kotak saya buka… dan .. alamak… mie nya tidak ada lagi.

Saya tertawa geli. Salah lagi ini. Kompor segera saya matikan dan lari ke warung beli Mie Burung Dara lagi.. he..he…

Ada WhatsApp masuk lagi. Tanpa saya buka saya sudah tahu isinya. Pasti teman saya di rumah sedang masak mie, dan bumbunya katut di kotak saya.

Sore itu saya kembali makan cwi mie yang spesial. Bumbu racikan Mas Rizal, plus Mie Burung Dara.

Nah, benar ‘kan, ada hubungan tertentu antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara punya Inul Daratista?

Mie Burung Dara…
Enaknya nyambung terus ….

NB: terima kasih traktirannya Bu Ari ..😀🙏

Persiapan Jelang Konser Musik Nusantara, Sebuah Catatan Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Suara musik mengiringi siswa yang sedang menyanyi bersama. Tidak hanya menyanyi, ada juga gerak dan kadang ditambah dengan drama.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka
Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka

Satu atau beberapa orang berperan menjadi penata gaya, sementara yang lain menjalankan peran masing-masing sebaik-baiknya. Ada yang membawa alat musik, ataupun properti tertentu.

Latihan pesiapan konser, dokumentasi Bintaraloka

Jika ada gerakan atau lagu yang kurang pas, maka akan diulang di latihan berikutnya. Bapak /Ibu guru pendamping kelas sesekali memberikan pengarahan pada siswa jika ada masalah.

Berbagai alat musik digunakan, dokumentasi pribadi

Di atas adalah gambaran pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema tiga di Bintaraloka.

Acara puncak dari Projek tema tiga adalah Konser Musik Nusantara yang akan diadakan tanggal 14 Juni 2023 di lapangan volly.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi pribadi

Dalam persiapan ini siswa bekerja dengan sungguh-sungguh. Tentu saja. Konser Musik Nusantara adalah konser mereka. Sukses ataupun tidaknya konser tergantung pada kerja keras dan kekompakan mereka.

Semua hal berkaitan dengan konser seperti; perencanaan, konsep, alat musik yang digunakan dan lainnya semua murni dari siswa. Sebagai bekal, sebelumnya siswa sudah mendapat banyak materi tentang aransemen musik, juga materi tari dari berbagai narasumber.

latihan di gazebo, dokumentasi pribadi

Narasumber yang sudah memberikan materi adalah Pak Vigil dan Pak Fabi untuk lagu dan musik, dan Kak Y untuk seni tari.

Sesuai dengan dimensi dari Profil Pelajar Pancasila, ada tiga tujuan utama dari projek Konser Musik Nusantara, yaitu:

  1. Berkebhinnekaan global : Peserta didik diharapkan mampu mengenal dan mengidentifikasi ciri
    khas kebudayaan daerah di Indonesia.
  2. Bergotong royong : Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi
    dengan sukarela agar kegiatan projek yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancer dan
    mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.
  3. Kreatif : Peserta didik diharapkan mampu menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan yang
    orisinal dari kegiatan projek yang sudah mereka lakukan dalam bentuk pameran karya ciri khas
    kebudayaan daerah di Indonesia.

Dalam pelaksanaan projek, tentunya sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Dengan kata lain peran serta orang tua lewat paguyuban sangat diperlukan untuk kesuksesan penyelenggaraan Konser Musik Nusantara ini.

Menggunakan berbagai properti, dokumentasi Bintaraloka

Di sini tampak bahwa sinergi yang baik antara sekolah dan orang tua akan menunjang kelancaran dari proses pembelajaran di sekolah.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka

Hari Jumat tanggal 26 Mei kemarin, adalah hari terakhir latihan bagi siswa kelas tujuh untuk persiapan konser, dan nantinya sesudah PAT latihan akan dilanjutkan kembali.

Tetap semangat semuanya, tunjukkan perform terbaik kalian saat konser nanti, dan semoga kita semua semakin mencintai budaya Nusantara.

Salam Pelajar Pancasila…😀

Kajoetangan Heritage, Sebuah Perjalanan yang Tak Terlupakan

Kayutangan selalu menyimpan banyak cerita. Siang ini selepas Dhuhur kami menginjakkan kaki kembali di Kajoetangan. Salah satu destinasi wisata kebanggaan Arema ini kembali menyapa kedatangan kami.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Sepeda motor kami parkir di depan Telkom dan… perjalanan pun dimulai. Berenam, kami teman satu alumni SD Bareng menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage kota Malang.

Menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Di depan gang kami segera mengisi buku tamu. Ada tanda masuk yang harus dibayar. Tidak mahal, cukup lima ribu rupiah. Tapi sebagai gantinya kami mendapat foto bangunan di Kampoeng Kajoetangan tempo dulu.

Mengisi buku tamu, dokumentasi pribadi

Setelah mengisi buku tamu kamipun terus berjalan di gang besar yang membawa kami menuju tempat-tempat yang lain. Tiba-tiba seorang ibu dengan ramah mengajukan toples yang berisi kue kering. “Monggo, onbitjkoek,” kata Si Ibu.

Onbitjkoek, dokumentasi pribadi

Kami mengambilnya masing-masing satu. Aih, sambutan yang manis, pikir kami.

Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Berjalan di sepanjang Kampoeng Kajoetangan, melewati jembatan dekat sungai, melihat rumah tua dan pernak perniknya adalah sebuah pesona tersendiri. Di beberapa tempat selalu kami sempatkan berfoto bersama. Biasalah, emak-emak. Soal foto pasti nomor satu. Tak perlu ditanya lagi.

Berfoto ala emak emak, dokumentasi pribadi
Di sebuah rumah tua, dokumentasi pribadi

Kampung yang pernah mendapatkan penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia Bangkit ini terus berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang semakin menarik.

Penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno untuk Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Hanya sayang siang ini tidak begitu banyak yang bisa kami lihat. Seandainya kami datang sore atau lebih pagi mungkin banyak hal yang bisa kami eksplor. Seperti rumah Jacoeb, atau para penjual yang berada di Kampoeng Kajoetangan.

Rumah Jacoeb, salah satu rumah tua di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Lelah berkeliling Kampoeng, sekitar pukul setengah dua siang kami segera keluar. Namun sebelum pulang, kami sempatkan dulu mampir ke bakso Telkom yang berada tak jauh dari Kampoeng Kajoetangan.

Hangatnya bakso Telkom, dokumentasi pribadi Nor

Hmm, bakso yang lezat dan harga yang bersahabat menutup perjalanan kami siang itu.

Ya, sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Perjalanan yang manis, semanis persahabatan dan keakraban yang terjalin di antara kami selama ini.