Categories
Sekolah

Selamat Memasuki Masa Purna Tugas Ibu Ninik dan Pak Helmy

Pagi itu lapangan volly kembali dipenuhi siswa kelas tujuh sampai dengan kelas sembilan. Apakah ada upacara atau apel?Bukan. Hari itu akan diadakan sebuah acara istimewa yaitu perpisahan dengan Ibu Ninik dan Pak Helmy yang sejak bulan Maret ini memasuki masa purna tugas.

Acara perpisahan dimulai pukul tujuh seperempat, dan diikuti oleh seluruh siswa, guru, karyawan juga Ibu komite sekolah.

Siswa bersiap di lapangan volly, dokumentasi pribadi

Ibu Ninik mulai mengajar di SMP Negeri 3 sejak tahun 1988. Luar biasa. Sampai sekarang beliau sudah bertugas selama 35 tahun 4 bulan di SMP Negeri 3 Malang

Jalannya acara perpisahan, dokumentasi pribadi

Karena itu perjalanan SMP Negeri 3 selama tiga dasawarsa lebih beliau kenal benar, karena beliau adalah bagian dari sejarah tersebut.

Demikian juga Pak Helmy mulai dinas di SMP Negeri 3 Malang sejak tahun 1994. Berbagai jabatan sudah pernah beliau pegang. Mulai dari wakasis, wakahumas, koordinator tatib dan banyak lagi. Karenanya beliau faham betul bagaimana kondisi SMP Negeri 3 Malang dari waktu ke waktu.

Pak Helmy memberikan sambutan, dokumentasi pribadi

Dalam acara perpisahan dengan siswa, Bu Ninik memberikan nasehat agar siswa SMP Negeri 3 tetap menjaga nama baik sekolah dengan terus berprestasi dan menunjukkan karakter yang baik.

Kepada siswa kelas tujuh dan delapan beliau berpesan supaya meninggalkan segala kebiasaan yang kurang baik dan segera bisa beradaptasi dengan budaya baik yang ada di SMP Negeri 3 Malang.

Khusus kepada siswa kelas sembilan, beliau berpesan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin guna menghadapi ujian yang kurang satu setengah bulan lagi.

Berfoto bersama, dokumentasi Pak Vigil

Acara berjalan meriah namun begitu mengharukan. Lagu Sampai Jumpa dari Endank Sukamti menemani kami berfoto pagi itu.

Beberapa siswa bahkan meneteskan air mata karena harus berpisah dengan sosok yang sangat dekat dengan mereka. Ya, Bu Ninik adalah guru BK, beliau sering menjadi ‘jujugan’ curhat siswa yang sedang ada masalah.

Ibu Kepala Sekolah menyerahkan cindera mata, dokumentasi Bu Any

Pada perpisahan dengan di ruang guru Bu Ninik dan Pak Helmy menceritakan secara singkat berbagai pengalaman sejak masuk SMP Negeri 3 hingga sekarang. Dari cerita tersebut pelajaran yang bisa diambil adalah tentang perjuangan, dedikasi juga loyalitas pada sekolah.

Diungkapkan beliau berdua bahwa SMP Negeri 3 bisa menjadi yang terbaik di kota Malang adalah karena komitmen guru gurunya yang tinggi terhadap kemajuan sekolah, dan sinergi yang baik di antara guru-gurunya.

Karenanya beliau berdua berharap guru guru tetap kompak menjaga kebersamaan demi kemajuan SMP Negeri 3 tercinta.

Berfoto bersama, dokumentasi Bu Any

Acara perpisahan ditutup dengan penyerahan cindera mata, bersalam salaman dan berfoto bersama.

Akhirnya selamat memasuki masa purna tugas Bu Ninik dan Pak Helmy. Semoga senantiasa sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta.

Teriring harapan semoga kami semua bisa meneruskan semangat, dedikasi dan terus bersinergi demi kemajuan SMP Negeri 3 tercinta.

Berfoto bersama, dokumentasi Bu Any

Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah

( Sampai Jumpa, Lagu : Endank Sukamti)

https://youtu.be/wYNqJtG1Sao
Categories
Reportase

Pondok Ramadhan dan Pondok Kasih, Sebuah Potret Moderasi Beragama di Bumi Bintaraloka

Pagi itu jam hampir menunjukkan pukul setengah delapan. Lewat pengeras suara Bu Utin mengumumkan agar siswa segera mengambil air wudhu karena kegiatan sholat Dhuha akan segera dimulai.

Peserta Ponram dan Irama, dokumentasi pribadi

Bergegas siswa menuju tempat wudhu. Penampilan siswa tampak berbeda hari ini. Mereka mengenakan busana muslim yang berwarna warni. Ya, di hari Senin hingga Rabu semua siswa yang beragama Islam wajib mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan dan Ibadah Ramadhan atau disingkat Ponram dan Irama.

Tentang Pondok Ramadhan dan Ibadah Ramadhan (Ponram dan Irama)

Ponram bekerja sama dengan Ma’had UIN, dokumentasi Nesya

Ponram dan Irama adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan amal sholeh dan pengetahuan keislaman siswa.

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan pengaturan hari sebagai berikut:
Hari Senin siswa yang mengikuti Ponram dan Irama adalah kelas 9, Hari Selasa siswa kelas 8 dan hari Rabu siswa kelas 7.

Peserta Ponram dan Irama, dokumentasi Nesya
Materi di kelas, dokumentasi Anggita

Bagaimana dengan kelas yang bukan waktunya Pondok Romadhon? Tentu saja mereka harus menjalani pembelajaran biasa.

Ya, bulan Ramadhan adalah saat yang bagus untuk meningkatkan amal ibadah dan salah satu amal ibadah yang bisa dilakukan siswa adalah menuntut ilmu.

Pondok Romadhon dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim. Kegiatan yang dimotori oleh guru PAI SMP Negeri 3 Malang ini dibantu oleh 14 ustadz dan ustadzah yang siap memberikan berbagai materi pada siswa.

Guru PAI, Dokumentasi pribadi
Guru PAI dan pemateri dari Ma’had UIN, dokumentasi pribadi

Berbagai materi yang dipelajari dalam kegiatan ini adalah fiqih, akidah, ahlaq, tahsin Qur an, taddarus Quran, pelaksanaan sholat wajib berjamaah, buka bersama juga sholat tarawih dan witir berjamaah.

Pada pagi hari materi diberikan di aula juga di kelas-kelas (Ponram). Setelah materi pagi sore siswa kembali ke sekolah untuk melaksanakan Ibadah Ramadhan (Irama) yang dimulai pukul setengah lima.

Jika kegiatan Ponram adalah pemberian materi, maka Irama adalah implementasi dari materi yang sudah didapatkan.

Taddarus, dokumentasi Anggita

Pelaksanaan Irama diawali dengan taddarus Qur an bersama, dilanjutkan dengan tausiyah jelang berbuka dan takjil bersama sebelum sholat Maghrib berjamaah.

Menyiapkan takjil, dokumentasi Anggita

Sesudah sholat berjamaah siswa berbuka puasa bersama . Di hari pertama karena hujan terus menerus turun, acara taddarus dan sholat dilaksanakan di aula dan buka dilaksanakan di kelas-kelas. Di hari kedua dan ketiga taddarus dan sholat dilaksanakan di masjid dan buka bersama dilaksanakan di aula.

Buka bersama di aula, dokumentasi Anggita
Buka bersama di kelas, dokumentasi pribadi
Buka bersama di kelas, dokumentasi pribadi

Ada banyak hal yang bisa dipelajari siswa dari acara buka bersama ini. Di antaranya adalah belajar bertanggung jawab, bekerja sama, juga berbagi.

Mengapa demikian? Sebelum buka bersama dimulai siswa harus menyiapkan tempat, menata hidangan bersama teman -teman. Di akhir acara merekapun harus bersama-sama membersihkan kelas agar bisa dipakai pembelajaran keesokan harinya.

Menyiapkan buka bersama, dokumentasi pribadi

Selama berbuka kelas yang mempunyai kelebihan hidangan akan memberikan kepada yang lain. Di sini siswa belajar untuk berbagi.

Wali kelas dan panitia, dokumentasi Anggita
Pendamping kegiatan siswa, dokumentasi Anggita

Selama kegiatan Ponram dan Irama, wali kelas dan panitia mendampingi siswa mulai pagi hingga malam hari.

Tentang Pondok Kasih

Pondok Kasih di Bintaraloka dua, dokumentasi Jojo

Sementara siswa yang beragama Islam melaksanakan Ponram dan Irama, siswa beragama Katholik dan Kristen yang bernaung di bawah Bintaraloka Persekutuan Kristiani (BPK) melaksanakan kegiatan Pondok Kasih.

Kegiatan Pondok Kasih, dokumentasi Jojo

Kegiatan Pondok kasih dilaksanakan di hari Senin dan Selasa. Di hari Senin siswa mendapatkan berbagai materi di aula Bintaraloka dua, sedangkan di hari Selasa siswa dan para guru pendamping melaksanakan kegiatan bakti sosial.

Bakti sosial di Panti Asuhan Oikos, dokumentasi Jojo

Kegiatan yang bertajuk Bakti Sosial BPK Berbagi ini dilaksanakan di Panti Asuhan Oikos Malang.

Kegiatan yang berintikan berbagi kasih dari Pra Paskah menuju Paskah ini diisi dengan peribadatan dengan anak-anak panti asuhan, game, juga Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Ita.

Kegiatan dalam bakti sosial, dokumentasi Jojo
Ibu Ita, dokumentasi Jojo

Ibu Ita adalah ibu asuh anak-anak Panti Asuhan Oikos.
Melalui berbagi kasih dan berbagi hadiah kegiatan bakti sosial ini diharapkan bisa mempererat silaturahmi antara siswa SMP Negeri 3 Malang dan anak anak Panti Asuhan Oikos.

Berbagi hadiah , dokumentasi Jojo
BPK dan Panti Asuhan Oikos, dokumentasi Jojo

Tiga hari yang istimewa di Bintaraloka. Kegiatan Ponram dan Irama serta Pondok Kasih adalah potret moderasi beragama di Bumi Bintaraloka.

Moderasi beragama penting dilaksanakan di sekolah. Melaluinya, semua belajar menjalankan agama dengan menghargai perbedaan dan kemaslahatan bersama.

Ya, perbedaan adalah keniscayaan, bisa hidup berdampingan dalam perbedaan akan menciptakan kedamaian seperti yang kita impikan.

Salam Bintaraloka ๐Ÿ˜Š

Categories
Renungan

Tuhan Ada Di Mana?

Suatu saat ketika masih kecil anak saya bertanya. โ€œIbuk, Tuhan ada di mana? Di langit atau di masjid? โ€œtanyanya penuh rasa ingin tahu.
Saya agak terkejut mendapat pertanyaan yang tidak biasa seperti itu.
โ€œKenapa tanya seperti itu, Le? โ€ saya balik bertanya. Dengan serius ia menjawab.
โ€œKan kalau sholat kita harus ke masjid? Berarti Tuhan ada di masjid? Kalau kita berdoa kok menghadap atas?(maksudnya menengadahkan tangan ke atas) Berarti Tuhan ada di langit? โ€œ

Saya sungguh takjub dengan logika sederhananya. Logika anak kelas TK A. Selalu saya tekankan sejak kecil bahwa sholat adalah menghadap dan berdoa kepada Tuhan. Berarti yang dibayangkan anak saya saat datang ke masjid atau berdoa adalah mendatangi wujud Tuhan secara fisik dan minta sesuatu padaNya.

Hal yang sama saya bayangkan pada saat saya masih kecil. Sering saya membayangkan saat melihat langit biru bahwa Tuhan ada di balik langit melihat hamba-hambanya.

Sholat di masjid, sumber gambar: Madaninews

Lalu pada malam hari saat semua tertidur, Tuhan akan datang pada kami sambil membagikan pahala yang sudah dilakukan seharian. Bedanya saya dulu tidak berani bertanya, tapi anak saya berani.

Sulit juga menjawab pertanyaan seperti itu. Apalagi jika yang bertanya anak kecil. Namun tidak menjawab juga bukan langkah yang bijaksana karena akan memudarkan nalar dan rasa ingin tahunya.

โ€œTuhan ada di dekat kita saat kita berdoa, โ€ jawab saya hati-hati.
โ€ Bukan di masjid? โ€œ
โ€œBukan hanya di masjid. โ€˜Kan ibuk juga lebih sering sholat di rumah? โ€ jawab saya.
Dalam kebiasaan keluarga saya laki laki sebaiknya sholat wajib berjamaah di masjid, sedangkan perempuan boleh sholat di rumah saja.

โ€œOh iya ya.. Masak Tuhan tidak mau datang ke rumah-rumah? Kan juga banyak orang berdoa di rumah.. โ€ katanya puas.

Sangat sulit bagi saya untuk menerangkan padanya bahwa Tuhan ada dekat dengan manusia, bahkan melebihi dekatnya urat leher manusia. Seperti firman Allah yang artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. โ€˜ Surah Qaf:16

Ayat yang menggambarkan betapa dekatnya Tuhan dengan kehidupan kita. Ia tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan kehadirannya. Lewat banyak peristiwa, lewat tanda tanda alam, semua menunjukkan hadirnya Tuhan dalam kehidupan kita.

Perasaan kedekatan Tuhan dengan manusia tampak dari sebuah kisah tentang gadis penjual susu pada zaman Umar bin Khatab.

Suatu saat Khalifah Umar yang suka melakukan kunjungan diam-diam di malam hari pada penduduk berdialog dengan seorang gadis penjual susu.
Khalifah berkata, โ€œWahai gadis penjual susu, kenapa tidak kau campur susu yang akan kau jual itu dengan air supaya kamu mendapat untung lebih banyak? Kujamin, tidak akan ada yang tahu.โ€

Gadis penjual susu menghentikan pekerjaannya dan menatap Khalifah dengan heran.
โ€œLalu Allah ada di mana? โ€ jawabnya singkat. Jawaban yang singkat namun sangat menohok dan membuat khalifah begitu terharu. Betapa gadis itu merasakan keberadaan Allah yang begitu dekat dengan dirinya.

Ada hal menarik yang saya ambil dari nasehat Habib Husein Jaโ€™farAl dalam sebuah pengajiannya bahwa Tuhan tidak hanya berada di masjidil Haram, di Vatikan atau di Tembok Ratapan. Tiga tempat istimewa yang selalu diziarahi umat manusia. Tapi Ia ada dalam hati kita. Keberadaan Tuhan begitu dekat kita.

Sholat jamaah di masjid, sumber gambar: NUonline

Kedatangan pandemi yang sempat mengakibatkan umat manusia tidak bisa mendatangi berbagai tempat ibadah atau bahkan tempat tempat istimewa tersebut , seolah sebuah penegasan dari Tuhan bahwa, โ€œJika kau tidak bisa mendatangi tempat-tempat ibadah tersebut, tetaplah โ€˜datang padaKuโ€™ karena Aku ada di hatimu.โ€

Salam Ramadan..๐Ÿ˜Š

Categories
Cerita

Di Makam Bapak

Suasana TPU demikian sepi. Hari masih begitu pagi. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju makam daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Sesekali burung- burung kecil mencerecet sambil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain.

Berdua kami berjalan di antara makam- makam. Dekat mushola TPU langkah kami berhenti. Kami memandang ke sana kemari dengan lebih teliti.

“Seingatku di daerah sini, Mas,” kataku sambil terus memeriksa nisan-nisan di sekitarku. Mas diam. Matanya tetap  memperhatikan sekitarnya lebih seksama.

“Iya.., aku juga ingat tak jauh dari mushola ini.. ,” jawab Mas kemudian.  Rasa penasaran terus membuatnya mencari-cari seperti halnya aku.  Membaca nama demi nama dari nisan-nisan tersebut.

“Masa hilang?” kataku resah.
Mas mendesah. Ada kesedihan tergambar di wajahnya. Hari ini seperti tahun- tahun terakhir ini  kami gagal menemukan makam bapak.

Bapak meninggal di akhir tahun 90 an. Cukup lama. Saat itu aku dan Mas kira-kira di awal usia dua puluhan.

Jarak usia yang tak terpaut jauh membuat kami begitu akrab. Kemana-mana bersama, sering juga bersama bapak.

Tapi itu dulu. Sejak bapak meninggal dan kami berumah tangga semua tiba-tiba berubah.

Aku tinggal di Malang bersama ibuk sementara Mas merantau dan akhirnya tinggal dengan keluarganya di luar kota.

Komunikasi jarang kami lakukan. Ya, kami sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Merintis keluarga dari nol bukan hal yang mudah dan itu membuat kami konsentrasi dengan kehidupan kami masing-masing.

Akan halnya ibuk, beliau menyusul bapak beberapa tahun kemudian. Ya, kondisi kesehatan ibuk terus menurun sejak kepergian bapak.

Kepergian bapak dan ibuk membuat kami makin jarang bertemu. Bahkan lebaran pun kadang kami tak saling berkunjung. Saat lebaran Mas berkumpul dengan keluarga besar istrinya, demikian juga aku.

Berkunjung ke makam hanya kami lakukan menjelang puasa dan lebaran. Meski sesudah sholat kami selalu mendoakan   ibuk  dan bapak.

Sejak kepergian ibuk kami tak pernah mengunjungi makam bersama-sama. Sungguh, berbagai kesibukan membuat kami menyepelekan kebersamaan di antara kami. Padahal kebersamaan itu dulu selalu mengisi hari kami.

Ketika tiba-tiba makam bapak tak ditemukan sekitar empat tahun yang lalu,  kami mulai saling menyalahkan. Kami memang belum memasang kijing untuk makam bapak.

Sumber gambar: suara.com

“Kamu kan yang di Malang? Kok bisa hilang?”
“Kalau jarang diziarahi ya nanti dipakai orang lain..,”kata Mas saat itu.
“Lha Mas kan juga anak bapak? Kenapa Mas jarang ziarah?” balasku tak mau kalah. Sungguh, rasa penyesalan dan amarah membuat aku merasa ‘tak terima’ saat itu.

Sejak saat itu komunikasi di antara kami semakin jarang. Ketika ziarah ke makam ibuk, Mas biasanya tidak berkabar padaku. Demikian juga aku. Tak pernah sekalipun menyinggung masalah makam bapak atau ibuk. Biarlah ziarah menjadi urusan kami sendiri-sendiri.

Namun tahun ini beda. Usia yang semakin bertambah mungkin membuat kami lebih bijak untuk menerima dan memaafkan segala kekurangan kami.

Menjelang Ramadhan tahun ini tiba-tiba  Mas datang ke Malang dan mengajakku ziarah ke makam ibuk dan bapak. Dan itu yang membawa kami berdua ke TPU pagi ini.

Makam ibuk lebih mudah dicari karena lokasinya dekat dengan makam keluarga yang lain. Makam bapak yang agak jauh. Dan celakanya ‘hilang’ pula.

Kenyataan yang menyedihkan. Makam bapak sendiri sampai hilang!.
Anak macam apa kami ini, sesalku.

Lelah mencari kamipun berhenti. Dalam jarak antara beberapa nisan kami duduk terpekur dalam diam.

Doa-doa mulai kami langitkan. Meski makam bapak tak ditemukan bukankah Allah maha mendengar semua doa?

Selesai berdoa mataku mulai membasah. Rasa sesal kembali menelusup dalam hati.

Sungguh rasa berdosa ini selalu muncul  sejak makam bapak tak ditemukan.

Sumber gambar: Hi tekno.com

Bapak, maafkan kami.. betapa  kami tak bisa hanya  sekedar untuk  merawat makam bapak.

Diam-diam kuamati Mas yang masih khusyuk dalam doanya.
Mas tampak semakin tua. Guratan-guratan  usia mulai menghiasi wajahnya. Beberapa rambut putih mulai bermunculan tak ubahnya diriku.

Ketika Mas mengusap wajahnya sebagai tanda selesai berdoa, aku segera berdiri  untuk segera meninggalkan makam.

Tapi entah mengapa seakan ada yang menahan langkah kakiku. Seperti ada yang mencegahku meninggalkan area pemakaman.

“Jangan pulang dulu.., cari lagi..,” bisik hatiku.

Kembali kuamati nisan di sekitarku satu persatu.
“Ayo.. ,” kata Mas yang sudah menungguku.
“Sek.. tunggu..,” kataku pada Mas.

Mataku tiba-tiba berhenti pada nisan tak bernama tidak jauh dari tempatku berdiri. Segera kuhampiri nisan itu. Rupanya tertutup lumut yang lama sudah mengering.

“Kenapa?” tanya Mas heran.
“Jangan-jangan ini Mas?” kataku sambil membersihkan nisan itu. Mas segera mendekat sambil  membawa potongan batu kecil untuk membantuku. Dan .. tiba tiba sebuah tulisan muncul di situ. Nama bapak!

“Ini kan tulisanku, Dik,” kata Mas gembira. Dengan gerakan yang lebih cepat nisan kami bersihkan. Ada nama, lahir dan wafat bapak di situ. 

Kami saling berpandangan. Rasa haru dan syukur berpadu jadi satu. Melihat tulisan itu tiba-tiba aku ingat saat meninggalnya bapak. Ketika itu Mas membuat tulisan itu sementara aku memegang kaleng cat kecil di sebelahnya. Bagaimana warna hatiku saat itu, sungguh aku masih bisa membayangkannya.

Kami kembali berdoa. Kini benar- benar di depan makam bapak. Lama.

Ketika matahari semakin naik kamipun meninggalkan TPU. Berbeda dengan tadi, suasana tak begitu sepi. Beberapa pengunjung TPU mulai berdatangan.

Berdua kami menuju pintu keluar.
Mas merangkul pundakku seperti dulu. Hatiku begitu hangat sekaligus terharu. Betapa kebersamaan diantara kami sangat terabaikan selama ini.

Categories
Renungan

Bagaimana Meraih Derajat Taqwa di Bulan Ramadhan

Tak terasa kita sudah tiba di Ramadhan hari keempat. Bulan yang begitu istimewa. Bulan dimana kaum muslimin diperintah Allah untuk melakukan puasa dan memperbanyak amal ibadah lainnya.

Perintah puasa Ramadhan terdapat dalam firman Allah surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi :

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Meski perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan baru turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah, sebelumnya Nabi dan para sahabat telah mengerjakan puasa. Puasa yang dilaksanakan Nabi dan para sahabat adalah puasa setiap bulan selama tiga hari, yakni pada tanggal 13, 14, dan 15, juga puasa setiap tanggal 10 bulan Asyura (Muharam).

Ilustrasi puasa, sumber gambar: Halodoc

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bisa mencapai derajat taqwa. Namun betapa banyak manusia yang tidak mencapai derajat takwa tersebut. Mereka tidak mendapatkan pahala puasa dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Seperti sabda Rasulullah saw : Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja (Hadis riwayat Ath-Thabrani).

Karenanya penting bagi kita melaksanakan berbagai amalan dan menjauhkan diri dari berbagai godaan. Apalagi mengingat di era digital ini ‘gangguan’ terhadap puasa demikian besarnya.

Berbagai amalan yang perlu diperbanyak di bulan Ramadhan agar kita bisa mencapai derajat taqwa adalah:

Satu : Banyak bersedekah

Ilustrasi bersedekah, Sumber gambar: detik.com

Ramadhan adalah bulan sedekah. Rasulullah mengatakan bahwa sebaik baik sedekah adalah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan. Ya, pada bulan Ramadhan pahala sedekah akan dilipat gandakan

Dua : Banyak membaca Al Qur an

Perbanyak membaca Al Quran, sumber gambar: orami

Ramadhan adalah bulan dimana diturunkannya Al Qur an. Karenanya kita sangat dianjurkan mengisi bulan Ramadhan ini dengan banyak tilawah Al Qur’an. Lebih lebih Al Qur’an bisa memberikan syafaat pada kita di yaumul Qiyamah kelak.

Seperti sabda Rasulullah saw:
โ€œBacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.โ€ (Imam Muslim, Shahih Muslim)

Tiga : Melaksanakan sholat malam atau sholat tarawih.

Sholat tarawih, sumber gambar : Kompas.com

Jika kita melaksanakan sholat tarawih karena Allah dan mengharapkan pahala dari Nya, maka Allah akan mengampuni semua dosa-dosa kita yang telah lalu.

Rasulullah bersabda:
ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู

Artinya: “Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Empat : I’tikaf

I’tikaf, sumber gambar: Mantra Sukabumi
Itikaf adalah kegiatan berdiam diri di masjid dan melakukan amalan lainnya di dalam masjid seperti tadarus Al-Qurโ€™an hingga qiyamulail shalat malam.
 
Sebenarnya i’tikaf bisa dilakukan kapan saja, tapi di bulan Ramadhan sangat dianjurkan.
 
I’tikaf utamanya dilaksanakan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits berikut ini:
ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฒูˆุฌ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠุนุชูƒู ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ุญุชู‰ ุชูˆูุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุซู… ุงุนุชูƒู ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ู…ู† ุจุนุฏู‡

Artinya, โ€œDari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.โ€

Umat Islam dianjurkan melaksanakan i’tikaf karena di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan tersebut diturunkan malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qodar

Akhirnya semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan pada kita agar bisa melaksanakan berbagai amalan Ramadhan sehingga bisa mengangkat derajat kita menjadi manusia yang bertaqwa.

Referensi:

https://jabar.nu.or.id/ubudiyah/i-tikaf-sejarah-dan-waktu-pelaksanaan-yang-dianjurkan-nabi-muhammad-saw-ARyi5

Nu online

Kalbu hari ke 3