“Permisi Mbak, Kami Mau Naik Kuda dan Gajah…”

Jumat siang itu tiba-tiba saya mendapat untuk makan siang dari teman grup Sidohealing. Meski semula agak ragu menerima ajakan tersebut (takut kalau ada agenda tertentu sesudah sholat jumat, juga karena saya dititipi cucu), namun sungguh ajakan itu sangat menggoda.

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung dalam jalan-jalan siang hari itu.
Tujuan langsung ditetapkan setelah rapat sebentar di depan kelas 9.1. Matahari Food Court.

Aha, sudah lama sekali saya tidak ke sini.

Sekitar pukul setengah dua belas grab yang kami pesanpun datang. Berenam kami segera naik dan cuz…. langsung menuju lokasi.

Food court siang itu sudah mulai ramai. Saatnya kantor-kantor istirahat makan siang.

Kesibukan di berbagai stand tampak begitu nyata. Penjual berbagai makanan sibuk melayani pembelinya. Ada yang berjualan soto Lamongan, berbagai masakan China, lalapan, bakso dan banyak lagi.

Sambil pesan, saya memperhatikan keadaan sekitar. Rupanya persis di depan tempat duduk kami adalah lokasi bermain anak-anak, makanya suaranya ramai sekali.

Suara melodi dari berbagai alat permainan terdengar sangat menggoda, ditambah dengan warna-warni lampu yang ada. Melihat semua itu Si kecil Kimi sudah mulai gelisah.
“Ayo, main Uti…, ” bisiknya pada saya. Mula-mula saya menolak dengan alasan Kimi masih pakai seragam sekolah. Tapi demi
melihat Kimi terus- menerus melihat tempat bermain sayapun tidak tega.

“Bu, saya ke tempat bermain sebentar ya..,” kata saya sambil mengajak Kimi ke tempat permainan.

Teman-teman mengiyakan sambil meneruskan obolan sembari menunggu pesanan.

Melihat mobil- mobilan ataupun kendaraan dengan hiasan bermacam-macam binatang membuat mata Kimi berbinar.

Naik mobil mobilan, dokumentasi pribadi

“Boleh naik kuda, Uti?” pintanya.
“Boleh …,” jawab saya otomatis. Ketika mau saya naikkan , lho saya baru sadar kalau saya tidak pernah sama sekali masuk arena permainan semacam itu. Prosedur mainnya bagaimana saya tidak tahu. Mateng aku ..

Bergegas saya menuju Mbak penjaga mainan. “Mbak, mau naik kuda,” kata saya pada si Mbak.
Mbaknya melihat saya sejenak, lalu sambil menahan senyum ia berkata,
“Ibu beli coin dulu,”
“Oh, ya? Untuk naik kuda bayarnya berapa?” tanya saya lagi.
“Satu coin. Percoin harganya dua ribu,” jawab Si Mbak ramah.

Naik kuda kudaan, dokumentasi pribadi

“Oh, begitu ya, saya beli tiga coin ,” kata saya sambil mengeluarkan uang enam ribu.
“Mau naik kuda sama naik gajah Mbak,” lanjut saya

Setelah menerima tiga coin , Kimi segera saya naikkan ke atas kuda-kudaan. Ada masalah lagi, coinnya dimasukkan di mana?

Saya melihat ke Mbak Penjaga lagi. Mau tanya, tapi malu..
“Tunggu ya, Nduk,”kata saya sambil mencari di bagian mana dari kuda itu yang bisa dimasuki coin.
Tiba-tiba,
“Uti, coinnya masuk sini,” kata Kimi sambil menunjukkan lubang mirip celengan.
Aha, benar saja.. begitu coin masuk, klunting…. kuda langsung bergoyang naik turun selama sekian menit.

Setelah kuda berhenti bergoyang, kami masih punya dua coin. Buat mainan apa ini? batin saya.

Mulanya mau saya naikkan gajah. Tapi karena mainan gajah tidak ada pegangannya, Kimi segera saya naikkan mobil-mobilan.

Dua coin dimasukkan. Saya pikir mobilnya jalan, eh, ternyata gerakan mobil sama bergoyang-goyang seperti kuda, naik turun, tapi dengan durasi yang lebih lama.

“Uti,kok lama sih…?” kata Kimi mulai bosan. Lha iya, habis digoyang goyang kuda, kok sama mobil digoyang goyang lagi.

Sesudah tiga coin habis, kami segera menuju meja. Aha, sepiring bakmi, tiga porsi lalapan dan KFC buat Kimi telah tersedia. Tak ketinggalan sari jeruk sebagai penutup hidangan.

Subhanallah. Makan siang yang terasa menyenangkan. Tidak hanya lezat dan akrab, namun juga memberikan pengalaman yang lucu sekaligus memalukan.

Setiap membayangkan betapa culunnya saya saat bilang sama Si Mbak bahwa Kimi mau naik kuda dan gajah, saya tersenyum sendiri. Hadeeh, malu-maluin. Si Mbak mana peduli kita mau naik apa saja? Yang penting kan beli coin..

Babatrip, Menikmati Lezatnya Bakso dengan Sensasi Berbeda

Bakso, siapa tidak kenal makanan satu ini? Hmm, semangkuk bakso lezat dengan saus tomat, kecap dan sambal sesuai selera, dinikmati sambil ngobrol bersama teman, aih sedap rasanya.

Sebenarnya dari manakan asal muasal hidangan penuh citarasa ini?

Sejarah bakso berasal dari negeri Tiongkok.
Adalah seorang pemuda bernama Meng Bo yang hidup di kota Fuzou Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368-1644).

Meng Bo begitu sayang pada ibunya. Ia merasa sedih melihat sang ibu yang semakin tua dan tidak bisa makan daging yang disukainya.

Menikmati bakso bakar Babatrip, dokumentasi pribadi

Terinspirasi dari kue mochi yang terbuat dari ketan yang ditumbuk halus, Meng Bo lalu membuat daging yang digiling lembut lalu diberi bumbu dibentuk bulatan-bulatan kecil untuk ibunya. Menghidangkannya dengan semangkuk kaldu hangat.

Mungkin karena ada rasa ikhlas dan kasih sayang di dalamnya, hidangan yang dibuat Meng Bo akhirnya terkenal se antero kota Fuzou hingga seluruh Tiongkok.

Hidangan tersebut akhirnya dikenal sebagai bakso dan diwariskan turun-temurun oleh bangsa Tiongkok.

Tentang Bakso Bakar Babatrip

Bakso bakar, original dan minuman, dokumentasi pribadi

Malang sebagai salah kota yang terkenal akan baksonya boleh berbangga hati, karena kelezatan bakso Malang banyak dicari.

Bakso Malang mempunyai ciri yang berbeda dengan bakso yang lain. Di antara yang membedakan adalah bakso Malang memiliki banyak varian isi. Di antaranya ada tahu, siomay, mie , goreng, bakso halus dan bakso kasar.

Nah, yang menarik, ternyata ada inovasi lebih lanjut dari bakso Malang ini, yaitu bakso bakar. Aha…, apa pula ini?

Sesuai namanya bakso bakar terbuat dari bakso yang di bakar dan diberi bumbu-bumbu tertentu.

Nah, berkaitan dengan bakso bakar ini ada sebuah pengalaman menarik sepulang kami healing di Pujon. 

Persiapan pulang sesudah healing Pujon, dokumentasi pribadi

Berawal dari seorang teman yang tiba-tiba mendapat rezeki tak diduga, akhirnya kami ditraktir makan bareng di Bakso Bakar Babatrip. Syukuran arisan, demikian kata teman saya.

Sungguh, saya baru tahu ternyata di Jl Pahlawan Trip ada tempat untuk makan bakso bakar yang demikian nyaman.

Saat itu kami berlima tiba di Babatrip kira-kira pukul enam sore. Hawa Malang yang dingin dan badan yang lelah sehabis healing sebenarnya mengajak kami untuk cepat-cepat pulang saja. Tapi begitu melihat lokasi Bakso Bakar Babatrip yang menarik, kami langsung semangat lagi.

Bagian luar Bakso Bakar Babatrip ditandai dengan lampu yang berkelap-kelip sehingga tampak demikian mencolok di dalam gelapnya malam.

Begitu masuk, suasana tampak begitu nyaman. Tempat duduk berderet-deret, dan beberapa sudah terisi pengunjung.

Sambil menikmati hidangan, pengunjung dihibur dengan lagu-lagu karaoke yang dibawakan dengan merdu oleh seorang penyanyi.

Memilih menu, dokumentasi pribadi

Kami menulis pesanan lalu segera sholat Maghrib di musholla yang tersedia.

Sesudah sholat, ternyata pesanan kami sudah datang. Aha… Bakso bakar, bakso original, teh juga kopi susu. Tanpa banyak kata, hidanganpun disantap bersama.

Bakso bakar memang mempunyai sensasi yang berbeda. Rasanya sedikit lebih kenyal. Bumbunya yang yang didominasi kecap, dan taburan bawang goreng membuat bakso bakar terasa demikian khas. Ada rasa gurih, kenyal, manis juga pedas yang ada dalam tiap gigitan bakso bakar. Mantap sekali ..

Malam semakin larut. Azan Isyak mulai berkumandang dari kejauhan. Bergegas kami menuju mobil untuk segera pulang.

Perut terasa begitu kenyang. Lezatnya santap bersama malam itu membuat kami berkesimpulan bahwa tidak salah jika bakso bakar menjadi salah satu hidangan favorit para penggemar kuliner di Malang.

Bagaimana pembaca? Tertarik untuk mencoba bakso bakar Babatrip..? Ajak saya ya..😁

Serunya Hari Pertama Masuk Sekolah di Bintaraloka

Pagi yang cerah di Bintaraloka. Setelah hampir tiga minggu siswa libur kenaikan kelas, Senin tanggal 17 Juli 2023 adalah hari pertama masuk sekolah. Hari Senin ini menandai dimulainya tahun pelajaran 2023/2024.

Sebagian orang tua siswa kelas tujuh mengikuti apel, dokumentasi pribadi

Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu diawali dengan apel bersama seluruh siswa juga guru dan karyawan sekolah. Apel juga diikuti sebagian perwakilan orang tua siswa kelas tujuh dan ketua komite sekolah.

Istimewanya pagi ini siswa datang ke sekolah dengan seragam yang berwarna- warni. Kelas sembilan dengan seragam putih biru, kelas delapan dengan seragam pramuka dan kelas tujuh dengan seragam SD mereka yang tampak ‘unyu’.

Mengapa demikian? Ada tiga macam seragam yang berbeda karena hari ini ada tiga agenda di sekolah. Ya, acara tiap tingkatan kelas berbeda-beda.

Pengalungan tanda peserta sebagai tanda MPLS dan Aktualisasi Pramuka bisa dimulai, dokumentasi Bu Any

Hari ini siswa kelas tujuh mulai menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), kelas delapan menjalani Aktualisasi Pramuka sedangkan kelas sembilan perkenalan dengan walikelas dan mendapatkan materi di aula Bintaraloka satu.

Luar biasa. Di hari pertama masuk sekolah Bintaraloka sudah menampakkan geliat kesibukan yang demikian nyata.

Sejak pagi Bapak/Ibu guru yang tergabung dalam panitia MPLS dan OSIS sudah tampak mempersiapkan apel, juga mengecek kesiapan aula Bintaraloka satu dan dua yang nantinya akan dipakai untuk pretest maupun pemberian materi pada kelas sembilan.

Sementara itu persiapan di lapangan basket juga dilakukan untuk Aktualisasi Pramuka.

Sekitar pukul 7 apel segera dimulai. Setelah memberikan sambutan, Ibu Kepala sekolah secara resmi membuka pelaksanaan MPLS dan Aktualisasi Pramuka.

Apel juga ditandai dengan penyerahan secara simbolis siswa dari orang tua ke sekolah, yang melambangkan kepercayaan orang tua agar anak mendapatkan pendidikan yang terbaik di SMP Negeri 3 Malang.

Penyerahan secara simbolis siswa dari orang tua ke sekolah, dokumentasi Bu Any

Wajah gembira tampak dimana-mana. Bagi siswa kelas tujuh tentunya ini pengalaman yang berkesan. Perubahan suasana sekolah saat mereka duduk di SD dengan di SMP sangat bisa dirasakan.

Yang paling nyata adalah jumlah siswa satu angkatan tentunya lebih banyak di SMP dari pada di SD, demikian juga guru-gurunya.

Di akhir apel dilakukan pengenalan seluruh guru dan wali kelas serta karyawan SMP Negeri 3 Malang pada siswa dan orang tua kelas tujuh.

Sesudah apel, siswa langsung menuju area masing-masing sesuai yang sudah ditetapkan.

Aktualisasi Pramuka kelas 8 di lapangan basket, dokumentasi pribadi
Pengarahan Kak Gerry dalam aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi
Sebuah atraksi dalam Aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi

Siswa kelas tujuh melanjutkan MPLS di aula Bintaraloka satu, kelas delapan melaksanakan Aktualisasi Pramuka di lapangan basket sedangkan siswa kelas sembilan berkenalan dengan walikelas, dan selanjutnya mendapatkan materi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dari dr Gita dan tim.

Perkenalan dan pengarahan wali kelas 9, dokumentasi pribadi
Materi Kesehatan Reproduksi Remaja siswa putri, dokumentasi pribadi
Materi Kesehatan Reproduksi Remaja siswa putra, dokumentasi pribadi

Hari pertama sekolah yang luar biasa. Semoga semangat di awal tahun pelajaran 2023/2024 ini menjadi pemicu semangat seluruh warga Bintaraloka untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan SMP Negeri 3 tercinta.

Salam Bintaraloka.

Taman Langit, Keindahan di Ketinggian Berbalut Dongeng dan Fantasi

Usai berjalan- jalan dan mengamati para penerbang paralayang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Langit.
Apa yang tergambar dalam benak kita saat mendengar nama Taman Langit? Benar.. sebuah keindahan di tempat yang begitu tinggi.

Menuju Taman Langit, dokumentasi Buz

Taman Langit yang merupakan destinasi terakhir jalan-jalan di Pujon ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Istimewanya disamping indah dan banyak spot foto menarik, Taman Langit mempunyai keunikan yaitu pengunjung diajak masuk dalam dunia fantasi atau dunia dongeng.

Yang khas dari Taman Langit adalah banyaknya patung besar yang di dalamnya menyimpan kisah-kisah tertentu.

Gapura Taman Langit, dokumentasi Buz
Dua Garuda besar yang siap ‘mengawal’ perjalanan kami, dokumentasi Buz

Tidak jauh dari gapura, ada dua patung garuda di kiri kanan kami. Keduanya seolah siap mengawal kami untuk mengeksplor keindahan di dalam Taman Langit.

Jalan berpaving dengan kiri kanan penuh dengan bunga benar- benar terasa menyejukkan mata. Semua tertata apik dan cantik.

Semua tertata apik dan cantik di Taman Langit, dokumentasi pribadi
Duduk menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi Buz

Kami mulai berfoto dengan back ground patung patung yang ada di Taman Langit. Ya iyalah… Berfoto adalah acara wajib saat dolan kemana saja.

Tidak semua tempat bisa kami eksplor. Ya, hari semakin sore. Ini juga destinasi ketiga, tentunya kaki sudah terasa pegal-pegal. Ini bisa ditandai dengan berkali-kali kami duduk menikmati alam sekitar dan menyesap keindahan Taman Langit yang luar biasa.

Menyesap keindahan Taman Langit dalam diam, dokumentasi pribadi
Mas Rudy, driver dan fotografer kami menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi pribadi

Dari sekian banyak patung yang ada, beberapa di antaranya yang sempat kami kunjungi adalah :

Satu : Tigan Sigar Menga (Telur Pecah), yang menggambarkan tentang kelahiran Sanghyang Antaga (Batara Togog), Sanghyang Ismaya (Batara Semar) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). Kisah yang sangat akrab dengan masyarakat Nusantara.

Cerita tentang Tigan Sigar Menga, dokumentasi pribadi
Berfoto di Tigan Sigar Menga, dokumentasi Buz

Dua : Dwala Hamsaria (Angsa Putih yang Anggun). Kehadiran angsa di sini adalah pengingat bahwa zaman dahulu di sekitar gunung ini banyak terdapat angsa. Dalam berbagai dongeng disebutkan bahwa angsa putih adalah binatang surgawi yang dicintai para dewa. Kepak sayap angsa putih melambangkan perjalanan ke surga menuju alam keabadian.

Bersama angsa putih , dokumentasi Buz

Tiga: Batari Lengleng Mulat (Dewi Lengleng Mandanu). Patung ini menceritakan salah satu bidadari dalam cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Bidadari ini demikian cantik dan penuh pesona sehingga di Kahyangan pun ia menjadi rebutan para dewata.

Menari bersama Batari Lengleng Mulat, dokumentasi Buz

Selain cantik Batari Lengleng Mulat juga penuh perhatian dan kasih sayang pada sesama. Ini ditunjukkan dengan gerakan tangannya menyapa burung dan tangan satunya seolah siap mengajak bergandengan tangan siapa saja.

Masih banyak patung yang lain. Bukan dari khazanah dongeng Nusantara saja, bahkan dari luar negeri, seperti adanya patung Tinker Bell di Taman Langit.

Berfoto bersama di salah satu sudut Taman Langit, dokumentasi Buz
Sudut yang sayang untuk tidak diabadikan, dokumentasi Buz

Kami terus menyusuri jalan berpaving. Berfoto dan berfoto. Semua tampak begitu indah dan sayang jika tidak diabadikan.

Kabut mulai turun, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul empat kabut mulai muncul. Bergegas kami akhiri perjalanan di Taman Langit, dan kami langsung menuju mobil.

Hmm, perjalanan sehari yang begitu manis

Selamat tinggal Santerra, Cafe Sawah, Paralayang Batu dan Taman Langit… Insya Allah kami akan segera remidi..

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga:

Paralayang, Melihat Keindahan Kota Batu dari Atas Ketinggian

Masih dalam rangkaian jalan-jalan bersama dolan_4six, tulisan kali ini akan menceritakan pengalaman jalan-jalan kami ke Paralayang Batu.

Perjalanan yang sangat berkesan, karena mata benar-benar dimanjakan oleh berbagai pemandangan alam yang indah menakjubkan.

********

Azan Ashar baru saja berkumandang ketika mobil kami memasuki tempat parkir Paralayang Batu yang terletak di kawasan Gunung Banyak. Hawa terasa demikian sejuk dan bersama sama kami terus menyusuri tangga naik menuju lokasi

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa tempat wisata ini berada di ketinggian 1315 mdpl, sehingga hawanya begitu sejuk.

Menuju Paralayang Batu, Dokumentasi pribadi

Paralayang Batu adalah salah satu tempat paralayang terbaik di Indonesia. Yang menjadi ciri khasnya adalah lintasannya yang panjang dan pemandangan yang begitu indah di sekitarnya.

Berfoto dekat Paralayang Batu, dokumentasi pribadi

Ya, dari atas ketinggian kita bisa melihat panorama pegunungan yang mengelilingi kota Batu. Benar-benar menakjubkan.

Persiapan terbang, dokumentasi pribadi

Karena tidak puas melihat dari jauh kami mencoba melihat para wisatawan yang mencoba naik paralayang ini. Wih, benar-benar sebuah olah raga yang memerlukan keberanian tinggi.

Terbang dengan didampingi tandem, dokumentasi pribadi

Betapa tidak? Bergantungan sendiri di angkasa dengan badan terombang-ambing oleh angin. Sementara arah paralayang hanya bisa dikendalikan oleh gerakan dua tangan kita.

Melihat dari dekat persiapan para penerbang paralayang membuat kami tahu betapa rumit dan hati-hati persiapan yang harus dilakukan sebelum terbang dengan paralayang.

Persiapan salah seorang penerbang paralayang, dokumentasi pribadi

Dilansir dari IDN Times ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum terbang dengan paralayang. Hal tersebut adalah:

  1. Perhatikan cuaca. Yang harus dicermati meliputi kecepatan angin dan awan. Kecepatan angin yang ideal untuk olahraga paralayang antara 0 s.d. 25 km per jam. Melalui kondisi awan bisa dilihat apakah akan terjadi hujan atau badai. Semakin berawan, harus semakin hati-hati berparalayang.
  2. Perhatikan parasut. Ada berbagai macam ukuran parasut. Pilih ukuran parasut sesuai dengan berat badan.
  3. Lakukan manuver sesuai kemampuan.
  4. Perhatikan kondisi kesehatan. Penerbang paralayang harus dalam kondisi sehat dan tidak boleh berada di bawah pengaruh minuman beralkohol

Bagi wisatawan yang berani mereka bisa terbang sendiri, sedangkan bagi yang tidak berani (pemula) disediakan tandem yang menemani mulai dari terbang sampai mendarat lagi.

Berfoto di jalan menuju Paralayang Batu, dokumentasi pribadi

Aha……Berani coba? 😀

Baca juga :