Selamat Menempuh Ujian Sekolah, Siswa Kelas Sembilan…

Tinggal berapa lama lagikah kelas sembilan ‘menikmati’ pembelajaran di SMP Negeri 3 Malang? Tidak lama, karena sesudah ujian mereka akan belajar di rumah dan datang ke sekolah pada saat-saat tertentu saja hingga saat pengumuman kelulusan tiba.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Sesudah ujian tentunya nanti siswa disibukkan dengan pendaftaran ke jenjang sekolah berikutnya, sehingga berkumpul bersama teman akan sulit dilakukan.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Sesudah doa bersama hari itu, siswa kelas sembilan menunggu saat dilaksanakannya sholat Dhuhur dan Sholat Jumat dengan duduk dan bercengkrama dengan teman-teman di kelas maupun halaman sekolah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Ya, bukankah saat kebersamaan seperti ini hanya tinggal beberapa hari saja?

Dokumentasi pribadi

Selamat menjalani ujian semuanya..semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran 🤗

Doa Bersama Jelang Pelaksanaan Ujian Sekolah 2022/2023

Pagi itu aula Bintaraloka sudah kembali menunjukkan kesibukannya. Jam masih menunjukkan pukul tujuh lebih. Namun siswa kelas sembilan sudah memenuhi Bintaraloka satu.

Peserta doa bersama, dokumentasi pribadi

Di bagian depan bapak ibu guru, demikian juga wali murid telah siap dengan acara pagi itu. Ya, menjelang ujian sekolah, SMP Negeri 3 Malang mengadakan acara doa bersama dan motivasi bagi seluruh siswa kelas 9.

Beberapa wali kelas, dokumentasi pribadi

Permainan grup Al-Banjari dengan lagu-lagu sholawat membuka acara pagi itu. Permainan mereka yang begitu rancak membuat suasana terasa demikian hangat. Nampak persiapan dilakukan di mana-mana. Demikian juga bapak ibu guru wali kelas mengawasi putera-puterinya.

Al-Banjari, dokumentasi Bintaraloka

Pagi itu pra acara diisi dengan pembacaan Asmaul Husna dan membaca surah Al Insyiroh. Sedangkan acara inti adalah pembacaan ayat suci Alquran, sambutan dari Ibu Kepala sekolah, istighotsah sekaligus motivasi dan muhasabah oleh Ustadz Budi Sulistyo, S.Hi,M.Pd.

Sesudah motivasi semua kembali dihibur dengan lantunan sholawat dari grup Al-Banjari.

Acara pagi itu dipandu oleh Ibu Utien Kustianing, M.Pd dari awal hingga akhir. Di samping bisa diikuti secara langsung, orang tua juga bisa mengikuti doa bersama secara live streaming dari YouTube.

Dalam acara tersebut, Ibu Utien juga mengemukakan beberapa tips sukses ujian. Di antara tips sukses ujian adalah:

Pembawa acara, dokumentasi Bintaraloka

1. Meminta doa restu orang tua
2. Membaca doa sebelum mengerjakan ujian
3. Mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh dan teliti
4. Mengerjakan ujian dengan jujur
5. Senantiasa beryukur dan menyerahkan sepenuhnya hasil ujian pada Allah SWT.

Bertugas sebagai pembaca gema wahyu Ilahi pagi itu adalah Rava kelas 3.2.9.

Sesudah sambutan Ibu Kepala Sekolah,  acara dilanjutkan dengan Istighotsah, motivasi dan muhasabah.

Sambutan kepala sekolah, dokumentasi Bintaraloka

Dalam motivasi yang disampaikan, Ustadz Budi Sulistyo mengemukakan dua hal yang harus dilakukan agar kita senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti ujian.

Ustadz Budi Prasetyo, dokumentasi Bintaraloka

Dua hal tersebut adalah:
1. Selalu meminta kepada Allah, dengan cara rajin berdoa utamanya dengan memperbaiki sholat kita. Jika kita ingin sukses, mintalah pada Dzat yang bisa memberikan kesuksesan yaitu Allah SWT.
2. Berbuat baik kepada orang tua dan selalu minta doa pada keduanya. Ya, doa orang tua sangat makbul sebagai pengantar anak- anaknya menuju kesuksesan.

Bersalaman, dokumentasi Bintaraloka

Di akhir acara, semua bapak ibu guru juga orang tua dan siswa bersalam- salaman untuk saling memaafkan. Harapannya dengan leburnya dosa antar sesama manusia siswa akan diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan ujian sehingga pada akhirnya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Doa bersama di Bintaraloka dua, dokumentasi Bu Maria

Selain diadakan di Bintaraloka satu, acara doa bersama pagi ini juga  diadakan di Bintaraloka dua dan perpustakaan.

Doa bersama di Bintaraloka dua, dokumentasi Bu Maria

Di Bintaraloka dua doa bersama dilaksanakan oleh seluruh siswa beragama Kristen dan Katholik, sedangkan di perpustakaan doa dilakukan oleh siswa beragama Hindu.

Doa bersama berjalan begitu khusyuk. Ya, doa hakekatnya adalah ungkapan kerendahan hati manusia. Betapa manusia tak punya arti apa-apa tanpa pertolongan Sang Maha Segala yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.

Link YouTube acara doa bersama:

https://www.youtube.com/live/6uJK8DKNfUY?feature=share

Baca juga:

Gerakan Merdeka Belajar, Transformasi untuk Memperkuat Sinergi Tripusat Pendidikan

Hari itu langit terasa lebih cerah dari biasanya. 2 Mei 2023. Hari pertama masuk sekolah bagi siswa sesudah libur lebaran tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Memperingati Hari Pendidikan Nasional berarti kita memperingati jasa- jasa Ki hadjar Dewantara.Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal  2 Mei 1889 di Yogyakarta. Pada masa kolonial beliau sangat dikenal karena keberaniannya menentang kebijakan pendidikan saat itu.Saat itu hanya anak-anak keturunan Belanda yang diperbolehkan duduk di bangku pendidikan. 

Petugas upacara Hardiknas, dokumentasi pribadi

Kritik yang berulang kali membuat pemerintah kolonial gerah dan akhirnya beliau diasingkan sampai ke negeri Belanda.

Kembali dari pengasingan ternyata semangat beliau semakin menyala untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Terbukti beliau mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama mereka yang kurang mampu.

Prinsip yang diterapkan dalam pendidikan di Taman Siswa adalah  kebebasan, kemandirian, dan demokrasi. Ya, dasar dari prinsip Merdeka Belajar sudah diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara sejak berdirinya Taman Siswa pada tahun 1922.

Tentang Merdeka Belajar dan Transformasi Pendidikan

Merdeka belajar, dokumentasi pribadi

Sejak diluncurkannya episode-episode merdeka Belajar ( kini sudah sampai pada episode ke 24) nuansa belajar terasa demikian berbeda di dunia sekolah. Ya, sangat terasa adanya transformasi dalam dunia pendidikan kita.

Banyak perubahan yang terasa. Dalam pengamatan penulis  suasana perubahan sangat terasa dalam pembelajaran di sekolah, hubungan antar guru, juga hubungan antar sekolah dengan orang tua dan masyarakat sekitar.

Dalam kelas, siswa maupun guru kini lebih leluasa mengembangkan diri dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan .

Guru merancang proses pembelajaran yang menyenangkan sesuai kreativitasnya dengan selalu memperhatikan perbedaan dalam diri siswa, atau dikenal dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Diharapkan dengan pembelajaran berdiferensiasi siswa akan lebih semangat belajar karena mereka merasa terlayani dengan baik.

Belajar dari narasumber Kominfo, dokumentasi pribadi

Ya, guru bisa diibaratkan petani. Jika petani bisa mengolah tanah dan merawat bibit tanaman dengan baik,  pada akhirnya nanti bibit akan tumbuh dan memberikan hasil yang baik pula.

Meski begitu petani tidak bisa mengubah bibit tersebut agar tumbuh menjadi tanaman lain. Jika petani menanam padi, maka akan tumbuh tanaman padi. Demikian juga jika petani  menanam jagung, maka akan tumbuh tanaman jagung.

Demikian juga siswa. Tiap anak bagaikan benih yang punya potensi berbeda. Karenanya ia butuh tangan trampil petani dalam hal ini guru agar bisa tumbuh maksimal sesuai kodratnya.

Lalu bagaimana guru bisa merancang berbagai proses pembelajaran yang menyenangkan? Selalu belajar dan berbagi, dan untuk ini disediakan sebuah platform yaitu Platform Merdeka Mengajar.

 Platform Merdeka Mengajar bisa membantu guru dalam mendapatkan referensi, inspirasi, dan pemahaman tentang Kurikulum Merdeka.

Platform ini juga disediakan untuk menjadi teman penggerak bagi guru dan kepala sekolah dalam mengajar, belajar, dan berkarya.

Indonesia kita yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki kondisi alam dan geografis yang sangat berbeda. Sehingga sangat mungkin terjadi kesenjangan dalam banyak hal antara satu daerah dengan daerah lain termasuk di antaranya kesenjangan mutu pendidikan.

Melalui platform ini harapan besar digantungkan agar kesenjangan mutu pendidikan antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia  perlahan mulai bisa diatasi.

Platform Merdeka Mengajar membuat guru satu dan yang lain terkoneksi dalam nafas selalu belajar dan berbagi agar bisa memberi layanan yang terbaik bagi para siswa.

Satu ciri yang membedakan Kurikulum Merdeka dengan yang lain adalah adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Belajar dari lingkungan, dokumentasi pribadi

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai  kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila

Melalui projek ini berbagai kegiatan dilakukan untuk memperkuat karakter pelajar Pancasila yang meliputi enam dimensi yaitu

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia

2.  Mandiri;

3.  Bergotong-royong;

4. Berkebinekaan global;

5.  Bernalar kritis;

6. Kreatif.

Dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan siswa tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, tapi juga mengalami sendiri ilmu pengetahuan itu dengan cara mempelajari isu isu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Seperti yang pernah dilakukan di sekolah penulis , berangkat dari keprihatinan pemakaian gadget yang berlebihan pada siswa,maka salah satu tema yang diambil dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah Bijak Berinternet.

Dalam tema tersebut siswa diajak untuk menggunakan gadgetnya secara lebih bijak. Pelaksanaan projek dilakukan dengan belajar dari guru dan berbagai narsum dari luar, misalnya kepolisian, dinas Kominfo, tokoh agama,  juga mengundang content creator agar siswa bisa menggunakan gadgetnya untuk hal hal yang bermanfaat.

Belajar menjadi konten kreator, dokumentasi pribadi

Dengan adanya kegiatan projek, siswa menjadi lebih berani berekspresi juga berinovasi dalam kelompok-kelompok kerjanya dengan kegiatan yang tetap difokuskan untuk penanaman karakter Profil Pelajar Pancasila.

Sejalan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah nasehat Ki hadjar Dewantara yang berbunyi:

“… perlulah anak-anak (Taman Siswa) kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat ‘mengalaminya’ sendiri , dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.”

Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sekolah bisa memberikan kontribusi kepada komunitas dan masyarakat lingkungan sekitarnya, juga lebih  terbuka terhadap partisipasi masyarakat sekitarnya.

Sesuai tema  Hari Pendidikan Nasional 2023, mari  terus Bergerak Bersama Semarakkan  Merdeka Belajar, karena melalui gerakan ini transformasi pendidikan terus dilaksanakan secara masif.

Dimensi Profil Pelajar Pancasila, Kemdikbud

Transformasi pendidikan yang sudah dilakukan diharapkan bisa semakin memperkuat sinergi sekolah, orang tua dan masyarakat sekitar.

Ya, seperti yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara,  keberhasilan pendidikan bergantung pada sinergi yang baik antara Tripusat Pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat.

Semoga bermanfaat, dan majulah pendidikan Indonesia.

Catatan: naskah diikutkan dalam lomba menulis di Kompasiana

#Semarak Merdeka Belajar

Mozaik Indah Lebaran

Hangatnya suasana Lebaran, dokumentasi pribadi

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul delapan. Suasana lalu lintas kota Malang tak begitu ramai. Kendaraan kami terus melaju menuju terminal Arjosari.

Di lebaran hari keempat itu, kami berlima akan mengunjungi keluarga adik di Mojosari. Sebuah perjalanan tahunan yang menyenangkan.

Seperti tahun kemarin perjalanan dilakukan dengan bus. Karena harus berhenti di Japanan lalu oper, kami tak bisa naik bus patas. Bus patas langsung berhenti di Surabaya lewat tol. Karenanya kami baru bisa turun di Bungurasih Surabaya.

Rencananya sebelumnya kami ingin naik kereta api ke Bangil, lalu naik bus kecil ke arah Mojosari. Tapi ternyata bus arah Bangil berangkat jam 05.10 pagi. Wah, ruwet sekali pasti persiapannya. Apalagi dalam rombongan kami ada dua anak kecil.

Terminal Arjosari, dokumentasi pribadi

Dekat arah terminal, di daerah Polowijen kepadatan lalu lintas mulai terasa. Lebih- lebih ketika kami memasuki gerbang terminal.

Kedatangan kami mulai disambut oleh pencari penumpang dan penjual makanan.
“Jember? Probolinggo? “
“Boyo… Boyo..?”
“Yang anget..yang anget.. lumpia..lumpia . Sarapan dulu .. sarapan ..”
“Kacang..kacang .. mente..mente…”

Seorang pencari penumpang mendekati kami.
“Mbak, Ten pundi?
“Japanan , Mas.!” jawab saya singkat sambil melihat lalu-lalang bus yang keluar masuk.

Depan terminal, dokumentasi pribadi

“Oh Japanan.., bus hijau Mbak itu..” kata Mas nya sambil menunjuk bus hijau bergambar panda besar dengan rute Malang-Surabaya.

Lalu-lalang orang di jalan begitu ramai. Banyak yang masih mengenakan baju lebaran. Mungkin juga seperti kami yang ingin menuntaskan silaturahmi ke sanak famili.

Bergegas kami masuk bus. Penumpang sudah hampir penuh. Untunglah kami semua masih kebagian tempat duduk. Semua dalam kapasitas yang wajar, dalam artian semua duduk, kecuali kondektur yang jalan ke sana-kemari untuk menarik uang karcis.

Melalui beberapa halte beberapa penumpang mulai naik dan turun. Jumlah penumpang yang naik, masih lebih banyak daripada yang turun. Alhasil penumpang dalam bus mulai berjubel dan banyak yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Jika saat masuk bus lagu dangdut koplo dari sound masih bisa kami dengar, mulai Singosari lagu-lagu mulai tenggelam oleh suara ramainya penumpang.

Penumpang mulai banyak, dokumentasi pribadi

Wes kebek Pak .,” protes seorang ibu ketika penumpang masih saja dinaikkan.
“Belakang, Mas,” kata kondektur pura-pura tidak mendengar protes tersebut sambil mengarahkan penumpang yang baru masuk.

“Ayo..ayo… Kalem..kalem…,” teriak kondektur.

Suasana semakin berdesakan ketika kondektur harus lewat untuk menarik karcis.
Ampun .. meski saya duduk, tapi badan saya terdesak oleh ransel penumpang lain.

“Kalem..kalem…,” Teriak kondektur lagi. Maksudnya ia minta diberi jalan supaya bisa lewat.

Kalem..kalem apane… Podho lemune ngene..,” kata ibu protes tadi. Rupanya beliau merasa jengkel karena protesnya tadi tidak ditanggapi oleh sang kondektur.

Sontak kami melirik ke arah ibu dan kondektur tersebut yang ternyata sama sama berbadan besar.
Penumpang lain termasuk saya senyum- senyum mendengar dialog tersebut.

Ya, suasana yang demikian ramai membuat dialog-dialog lucu kadang terucap. Meski sebenarnya dialog tersebut adalah sebuah ungkapan kejengkelan.

Calon penumpang di halte, dokumentasi pribadi

Di halte-halte berikutnya penumpang sudah tak dinaikkan. Lha bagaimana bisa naik ? Lorong bus sudah penuh penumpang. Tampak banyak calon penumpang di halte menunggu dan menyambut kedatangan bus dengan antusias. Namun mereka kembali kecewa ketika bis sudah penuh dan tidak bisa naik.

Ya, hari keempat Idul Fitri bersamaan dengan limpahan arus balik. Cuti lebaran tinggal sehari. Tentunya banyak yang harus kembali ke rumah untuk persiapan aktivitas normal seperti biasanya.

Di Japanan kami segera turun dari bus besar untuk oper bus yang lebih kecil ke arah Mojosari. Kami namakan kendaraan ini bus kuning karena mayoritas berwarna kuning.

Mas pencari penumpang mendekati kami.
“Mau ke mana Mbak?”
“Mojosari,”
“Oke.. Mojosari, bus depan.. siap berangkat!” kata Si Mas bersemangat.

Kami segera naik bus kuning. Dan tak berapa lama buspun melaju menuju Mojosari. Seperti biasa dengan kecepatan tinggi. Kadang kami mengatakan ini ‘bus tercepat di dunia’. Jalannya yang begitu kencang sampai membuat kaca jendelanya berbunyi.

Kira-kira habis Dhuhur kami sampai di Mojosari. Sambil menunggu jemputan adik, kami mampir ke warung rujak tidak jauh dari terminal Mojosari. Ya, setelah berhimpitan di kendaraan ngobrol dengan ibu penjual rujak ternyata mengasyikkan juga.

Ibu penjual rujak, dokumentasi pribadi

Dibungkus mawon nggih, Buk,” kata saya.
Inggih, pinarak rumiyin..,” kata Bu penjual ramah.

Aroma bumbu kacang, petis, cabe, pisang kluthuk yang menguar menimbulkan rasa segar. Dengan cekatan ibu penjual meracikkan pesanan kami.
Dari obrolan kami ternyata beliau sudah lama sekali berjualan rujak. Mulai saat anaknya berumur dua tahun sampai sekarang beliau sudah bercucu enam.
Wow, pantas.. rujaknya mantap sekali.

Tak berapa lama tampak adik sudah datang untuk menjemput kami. Perjalananpun kami teruskan ke perumahan Pungging Mojosari.

Segala kelelahan seakan terbayar ketika suasana lebaran yang hangat plus aneka kue dan segelas teh hangat menyambut kedatangan kami.

Kue lebaran, dokumentasi pribadi
Kehangatan lebaran, dokumentasi pribadi

Aih, Lebaran selalu punya banyak cerita. Lebaran dengan segala pernak- pernik nya adalah mozaik indah dari masa ke masa. Semoga di tahun-tahun mendatang mozaik indah Lebaran akan selalu mengisi bingkai kenangan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

Ceria Lebaran dalam Bingkai Kehangatan Silaturahmi

Depan Masjid Quba’, dokumentasi pribadi

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa Ilaha illallah huwallahu Akbar
Allahu Akbar walillahil hamd.

Gema takbir bersahut sahutan menandakan hari Kemenangan telah tiba. Setelah satu bulan menjalani puasa Ramadhan kini saatnya kita kembali dipertemukan dengan bulan Syawal.

Persiapan sholat Id, dokumentasi pribadi

Ada rasa gembira sekaligus sedih.
Gembira karena saat kemenangan telah tiba, sedih karena berpisah dengan Ramadhan, bulan yang begitu mulia.

Pagi ini kami berangkat bersama-sama menuju masjid Quba’ yang lokasinya tak jauh dari rumah. Berjalan kaki saja. Ya, dengan berjalan kaki kami bisa saling tersenyum dan menyapa tetangga yang berangkat menuju arah yang sama.

Perjalanan ke masjid, dokumentasi pribadi

Para lelaki dengan baju koko dan berkopyah, juga para wanita yang beberapa sudah bermukena memenuhi jalan. Semua berjalan cepat. Tentu saja, jangan sampai kami terlambat mengikuti sholat Id yang diadakan setahun sekali ini.

Sekitar pukul enam pagi sholat Id dimulai. Jamaah meluber sampai keluar masjid saking banyaknya. Jamaah pria , wanita, anak anak memenuhi jalan depan masjid Quba’.

Sholat dilanjutkan dengan khotbah dan doa yang diikuti jamaah dengan tenang. Kecuali anak -anak kecil yang mulai gelisah dan mengajak orang tuanya untuk segera pulang.

Pulang dari masjid, dokumentasi pribadi

Berbeda dengan saat berangkat dimana banyak yang berjalan kaki, dalam perjalanan pulang berbaur antara pejalan kaki dan pengendara sepeda motor. Jalanan begitu penuh.

Pedagang makanan di sekitar masjid, dokumentasi pribadi

Para pedagang sudah siap di tepi jalan. Pedagang pecel, gado-gado, soto , siomay siap melayani pembeli. Yang antrepun banyak. Lebaran adalah saat yang bagus untuk mengais rezeki.

Pedagang mainan, dokumentasi pribadi

Pedagang lain yang juga mendapatkan ‘berkah’ di hari Raya Idul Fitri ini adalah pedagang mainan. Ya, banyak anak kecil yang minta mampir untuk membeli mainan dulu sebelum pulang.

Hangatnya Silaturahmi

Suasana silaturahmi , dokumentasi pribadi

Silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang berarti jalinan kasih sayang atau hubungan kasih sayang

Ada banyak manfaat dari silaturahmi, di antaranya adalah membawa kemudahan rezeki, umur yang panjang, serta limpahan kebaikan dan hidayah oleh Allah SWT.

Bertemu kerabat, dokumentasi pribadi

Lebaran identik dengan silaturahmi. Setelah sholat Id, pagi ini acara kami lanjutkan dengan silaturahmi. Pagi dengan tetangga, agak siang silaturahmi dengan saudara.

Silaturahmi kali ini terasa begitu menyenangkan sekaligus mengharukan. Dua tahun kami tidak bisa menjalankan kegiatan ini dengan bebas. Pandemi membuat kami harus menahan diri.

Mengunjungi kerabat, dokumentasi pribadi

Pertemuan dengan kerabat hari ini banyak membuat kami pangling. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama dua tahun ini.
Yang jelas kami merasa semakin tua. He..he.. Lebih-lebih melihat keponakan yang semakin besar-besar.

Kerabat yang datang dari berbagai usia, cemilan dan makanan yang beraneka macam, anak -anak kecil yang membawa angpao, membuat suasana terasa demikian hangat. Apalagi di antara hidangan tersebut ada juga bakso Malang yang tentu saja tak boleh dilewatkan.

Suasana silaturahmi, dokumentasi pribadi
Silaturahmi bersama keluarga KH M.Abd Hadi, dokumentasi Wachid
Ngopi dulu, dokumentasi Wachid

Sekitar pukul setengah lima sore acara silaturahmi selesai. Kami kembali masuk rumah. Hari yang benar-benar melelahkan.

Para keponakan, dokumentasi pribadi
Suasana silaturahmi di depan rumah, dokumentasi Wachid

Akhirnya selalu ada banyak cerita dari Lebaran. Semoga Lebaran tahun ini memberikan berkah dan kebahagiaan pada kita semua, dan semoga Allah mengampuni semua dosa kita sehingga di hari yang Fitri ini kita kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Selamat Idul Fitri 1444 H , mohon maaf lahir dan batin.