Kesadaran Ekonomi dan Politik Ala Mbak Pur

“Bothok,  pepes,  urap-urap,… !”
Teriakan itu selalu membuat ‘ gaduh’ kampung kami setiap pagi. Dengan penuh semangat sang pemilik suara membangunkan kami yang sedang malas malasan atau bahkan masih lelap tertidur.

Namanya Mbak Pur. Perawakannya kecil tapi gesit. Di usia akhir 50 an ia masih tampak lincah. Barangkali karena aktivitasnya yang luar biasa.

“Mbaak, bothok kemangi, Mbaak..!” teriakan Mbak Pur demikian membahana.
Kadang senang, kadang bising juga rasanya saat mbak Pur mulai menjajakan dagangannya.  

Senang jika hari itu ada rencana untuk tidak memasak, Mbak Pur selalu datang dengan berbagai macam masakan di keranjangnya.

Bising karena suara Mbak Pur sangat keras. Saya curiga, jangan-jangan Mbak Pur semasa sekolah sering jadi komandan upacara.

Semenjak suaminya sakit, kiprah Mbak Pur untuk menghidupkan roda ekonomi sangat besar. Meski hidup hanya berdua dengan Pak Seto suaminya, yang namanya kebutuhan tiap hari harus tetap dipenuhi.

Dalam pengamatan saya semenjak suaminya sakit bisnis Mbak Pur justru semakin berkibar. Dengan membawa keranjang besar yang diletakkan di atas kepala dan sebagian lagi dijinjing, Mbak Pur berkeliling kampung membawa berbagai macam masakan, baik masakan sendiri atau masakan orang lain.

Urap-urap, sumber gambar: Fimela

Menurut saya pribadi masakan Mbak Pur jauh lebih enak daripada buatan orang lain. Sebutlah sambel pecel khas Ngawinya yang pedas dan sedap,  oseng pare yang pahit tapi membuat ketagihan,  juga lodeh yang sangat mak nyus rasanya.

Membicarakan Mbak Pur rasanya tidak lengkap jika tidak dikaitkan dengan politik. Mengapa? Mbak Pur sangat melek politik. Pembicaraan di antara kami di kampung sering nyerempet politik. Tentang pilpres, pileg bahkan calon presiden atau legislative yang diandalkan. Tentunya dengan ramesan dan tafsir sebisanya khas orang kampung seperti kami.

Pada saat ramai-ramainya pileg dan pilpres tahun lalu, Mbak Pur tampak begitu sibuk. Berkali-kali ia keluar rumah. Bahkan di depan rumahnya ada spanduk kecil yang berisi foto caleg dan lambang partai tertentu.

Jika biasanya ia berkeliling kampung membawa makanan,  kini kelilingnya membawa map. Wah,  penampilan baru,  pikir saya.

Sore itu dengan berbusana rapi, tak seperti biasanya Mbak Pur bertamu ke rumah saya. Sikapnya sedikit formal.
“Mbak,  sampeyan mau  pisau dapur yang bagus? ” tanya Mbak Pur pada saya sambil menunjukkan pisau stainless steel yang ada ‘rumahnya’. Khas pisau mahal.

“Ya mau, ” jawab saya tertarik. Pikir saya Mbak Pur jualan pisau dan dikreditkan.
Ternyata bukan..

” Syaratnya,  saya minta fotocopy KTP dan KK, ” kata Mbak Pur sambil membuka mapnya. Ada tertera nama- nama,  alamat dan no KTP dan KK warga di sana.  Saya tiba tiba merasa kurang enak. Pikiran saya langsung mengarah ke foto caleg yang ada di depan rumah Mbak Pur. Pasti untuk Pemilu, ini, pikir saya.

“Mboten pun Mbak Pur, saya pikir mau dijual? Siapa sih yang bagi-bagi pisau? ” tanya saya ingin tahu.

“Ooh,  ini caleg, mbak,  saya tim suksesnya, ” katanya bangga.
” Dari partai apa? ” tanya saya penasaran.
“Ya mbuh..,  bukan urusan saya.  Yang penting saya dapat pisau, ” jawabnya ringan. 
Dalam hati saya tertawa.  Kok bisa-bisanya tim sukses tidak tahu partainya?

Pak Ganjar dan pak Mahfud, sumber gambar: politik

Di akhir tahun 2020 Mbak Pur mengadakan arisan putaran baru untuk orang-orang kampung. Sebagai borg yang sangat dipercaya kredibilitasnya, begitu arisan lama habis harus ada arisan baru penggantinya.

Arisan baru dengan besaran Rp 100.000 ini sangat seru, karena pengikutnya banyak sehingga dapatnya lumayan.  Sekitar lima juta rupiah.

Sampai tahun 2023 ini saya belum mendapat tanda-tanda kapan arisan akan selesai. Saya mulai resah. Maklumlah, kalau sudah dapat arisan, rasanya seperti bayar hutang saja.

Suatu saat saya ada kesempatan untuk ngobrol dengan Mbak Pur masalah arisan ini.
” Ini masih lama ya, Mbak Pur? ” tanya saya.
“Lho..  Masih lama,  Mbak, “jawab Mbak Pur.
“Ooh, ? ” tanya saya agak kecewa.
“Pokoknya arisan ini nanti habisnya pas Pak Joko turun.  Dapatnya lima juta lebih, ” jawabnya mantap.

“Pak Joko siapa?” kejar saya. Kok rasanya akrab sekali cara Mbak Pur memanggilnya.
“Pak Jokowi,” jawabnya ringan.
“Ooh, begitu ya…” kata saya sambil tertawa.

Asli, saya suka dengan cara mbak Pur menyebut nama Pak Joko. Sepertinya Pak Joko itu kenalan dekatnya, atau tetangga sebelah rumah.

Mungkin karena Mbak Pur dan suaminya penggemar berat Pak Jokowi, dan merasa Pak Jokowi begitu dekat dengan hati mereka.He..he..

Pagi ini ketika berjualan dan hendak keluar gang Mbak Pur agak tertegun. Ada banyak bendera bertebaran dimana-mana, berwarna hijau dan merah. Bendera NU dan di sela- selanya ada bendera PDI.

Sementara di kampung seberang bendera NU dan PKS berjajar dengan manisnya. Sebuah pemandangan yang sangat langka.

Aha, rupanya ada angin segar yang berhembus di mana-mana. Pencalonan Pak Ganjar dan Pak Mahfud membuat bendera NU dan PDI bersanding mesra, sementara pencalonan Pak Anis dan Pak Muhaimin membuat bendera NU berkibar di kampung seberang yang selama ini agak berbeda paham dengan kampung kami.

Jelasnya kampung kami masih setia dengan Manaqiban, Dibaan, Yasinan, sementara kampung seberang tidak melaksanakan segala ritual itu. Perbedaan yang membuat sedikit ada keengganan kami untuk berakrab-akrab dengan saudara di kampung seberang.

Mbak Pur tersenyum cerah. Pemilu kali ini rupanya membawa berkah tersendiri. Biasanya ia agak segan masuk kampung seberang, namun tidak untuk kali ini.

Dengan langkah pasti Mbak Pur berjalan ke seberang untuk menawarkan barang dagangannya.

Ya, barokah pencapresan membuat daerah spreadingnya menjadi lebih luas dan harapannya rezekinya akan semakin bernas.

Karena Ucapan Adalah Doa

Sore itu selepas sholat Ashar kami duduk- duduk di mushola. Sambil menunggu jam pulang yaitu pukul tiga, kami biasanya ngobrol sebentar. Sambil melepas lelah dan membicarakan keunikan dan tingkah laku anak-anak hari ini. 

Di sekolah kami biasanya para bapak jamaah di masjid sedangkan ibu-ibu di musholla putri. Jarak ke masjid agak jauh, para ibu memilih musholla putri yang dekat dengan ruang guru. Otomatis yang ngobrol semua ibu guru, jadi suasananya selalu gayeng. 

“Bu, tahu tidak , saya kemarin dapat WhatsApp dari siswa saya angkatan 2006,” kata Bu Tri membuka percakapan.

“Oh ya?” seru kami tertarik. Tahun 2006, tentunya Bu Tri belum mengajar di sekolah kami sekarang. Beliau dimutasi di sekolah kami sejak empat tahun yang lalu.

 Bu Tri adalah senior kami. Orangnya ramah sekaligus rame. Pada anak-anak sangat dekat, namun tetap tegas. 

Ilustrasi mengajar di kelas, sumber gambar : Republika.co.id

Bagaimana tidak dekat, ketika seragam anak -anak jahitannya ‘dhedhel’ atau rusak, Bu Tri selalu menjadi penyelamat.  

“Cari pinjaman baju sana,” begitu kata beliau pada anak yang bajunya ‘dhedhel’.

Biasanya anak tersebut langsung mencari pinjaman baju dan menyerahkan bajunya tadi untuk diperbaiki Bu Tri.

 Oh ya, di sekolah kami biasanya anak-anak yang lulus menyumbangkan bajunya yang layak pakai ke sekolah, barangkali bisa dimanfaatkan untuk adik-adiknya. Jadi stok baju seragam lumayan banyak.

Karena yang sering bermasalah dengan seragam biasanya anak- anak yang aktifnya di atas rata-rata (tingkahnya luar biasa), mereka jadi sangat dekat dengan Bu Tri. Saat istirahat atau pulang mereka mampir ke Bu Tri yang selalu stand by di ruang koperasi sekolah.

Kembali ke cerita tadi Bu Tri kemudian membuka HPnya dan membacakan pesan dari mantan siswa tadi.

“Selamat pagi, Bu Tri, saya Astuti, siswa Ibu angkatan tahun 2006, yang dulu pernah disumpahi oleh, Ibu,” kata Bu Tri sambil menghentikan bacaannya. 

Mendengar kata ‘disumpahi’ membuat kami terkejut.

“Disumpahi bagaimana?” tanya saya ingin tahu. Bu Tri lalu melanjutkan membaca pesan di Hpnya.

“Dulu Ibu pernah menyumpahi saya karena saya selalu ramai di kelas, kata ibu mudah- mudahan saya nantinya jadi guru sejarah. Saya sekarang jadi guru sejarah, Bu, dan barusan diangkat P3K..,”

“Subhanallah..,” kata kami hampir bersamaan. Bu Tri tersenyum penuh haru sambil melanjutkan ceritanya. 

Jadi Astuti adalah siswa yang cukup ramai di kelas. Sebelum ada mapel IPS, di SMP ada mapel ekonomi, geografi dan sejarah, dan Bu Tri adalah guru mapel sejarah.

Ceritanya waktu itu Astuti duduk di kelas sembilan. Waktu pelajaran sejarah ia banyak bicara di kelas, tidak fokus ke pelajaran.

Karena tiap pelajaran sejarah Astuti berperilaku seperti itu, akhirnya Bu Tri mengingatkan Astuti, “Astuti, kalau kamu ngomong terus saja, Ibu doakan mudah-mudahan kamu jadi guru sejarah..” 

Astuti langsung diam sambil menahan senyum diikuti tawa teman-teman sekelas. 

Mungkin saat mengucapkan doa itu malaikat langsung mengamini atau bagaimana, tidak ada yang tahu. 

Lepas SMA Astuti kuliah mengambil jurusan kependidikan sejarah. Akhirnya Astuti  menjadi guru sejarah, dan tahun 2023 ini diangkat menjadi P3K. Mungkin karena bahagianya, Astuti langsung ingat Bu Tri.

Ilustrasi mengajar di kelas, sumber gambar: jabarekspres.com

Sebuah kisah yang lucu sekaligus mengharukan. Sebuah pelajaran bagi kami supaya hati-hati dalam berucap, karena kita tidak tahu dari mulut siapa doa atau ucapan akan dikabulkan. Sejengkel apapun, harus tetap berucap yang baik pada siswa, karena mereka anak-anak kita.  

Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih. Bergegas kami meninggalkan musholla putri untuk segera finger print dan pulang.

Dalam perjalanan menuju ruang guru tiba-tiba …deg .. saya ingat, dulu saya sering disetrap guru matematika saya saat SMA. Tapi lulus SMA saya masuk IKIP jurusan matematika, dan sekarang menjadi guru matematika.

Jangan jangan saya menjadi guru matematika karena doa beliau? He..he..

Sekedar catatan ringan.. selamat berhari Minggu…

Buka Hati dengan Matahati, Sebuah Perayaan Maulid dengan Nuansa yang Berbeda

Dan demi nafas

Yang telah kau hembuskan

Dalam kehidupanku

Ku berjanji

Ku akan menjadi yang terbaik

(Lagu Dengan Nafas Mu -Ungu)

Suara merdu penyanyi yang diiringi grup band Bintaraloka membuat sebagian besar yang hadir hari itu ikut bersenandung.

Lagu Dengan nafasMu dari Ungu yang pernah hits beberapa tahun yang lalu, membuat suasana terasa teduh meski tetap meriah. 

Band yang membawakan lagu pop Islami, dokumentasi Bintaraloka

Ya, pagi itu warga Bintaraloka merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Seperti yang dijelaskan Pak Abid selalu ketua panitia, sudah selayaknya milad, hari lahir atau hari ulang tahun nabi Muhammad kita rayakan dalam suasana yang meriah. Nabi Muhammad, Sang Al Amin yang telah mengajak kita semua menuju ke jalan kebenaran.

Acara Maulid Nabi kali ini dibuka dengan sholawat dari  Al Banjari dan lagu-lagu pop Islami. Lagu lagu Islami dibawakan oleh Kirana dan band pengiring yang terdiri atas Medina, Sybia, Duke dan Addin. 

Aksi Al Banjari, dokumentasi Bintaraloka

Karena lagu yang dibawakan sangat akrab dengan telinga, yang hadir bahkan ikut menyanyi bersama. Acara hiburan dipandu oleh pembawa acara Lily dan Saka. 

Pembawa acara dari siswa, Lily dan Saka, dokumentasi Bintaraloka

Sekitar pukul tujuh lebih acarapun dimulai. Acara dibuka dengan bacaan surat Al Fatihah yang dipimpin oleh pembawa acara Pak Faqih dan Bu Triana. Sesudahnya acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an.

PaknFaqih dan Bu Triana, pembawa acara dari guru, dokumentasi Bintaraloka

Sejenak terbuai dengan suara lembut Ayra Firna Derlen, acara kembali dilanjutkan dengan sambutan dari ibu Kepala sekolah dan Bapak pengawas PAI, Drs Junaedi, M.Pd. 

Lewat sambutan tersebut diterangkan tentang  pentingnya merayakan Maulid Nabi dan meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw.

Sambutan kepala SMPN 3 Malang, dokumentasi pribadi
Sambutan pengawas PAI, dokumentasi BDI

Ada yang berbeda dari acara Maulid nabi kali ini. Bersama tim Matahati, Bintaraloka mengadakan acara muhasabah diri dan motivasi sebagai acara inti.

Lewat pembicara dari tim Matahati, diterangkan tentang betapa jahatnya tindakan bullying dan perlunya kita hadapi tindakan bullying dengan keberanian dan kesabaran.

Dalam acara tersebut juga diterangkan betapa besar jasa orang tua yang telah membesarkan dan mendidik kita semua.

Suasana muhasabah dan motivasi , dokumentasi pribadi

Suara Kak Acun dengan intonasinya yang lembut dan diksi yang bagus membuat  suasana begitu mengharukan. 

Pemateri dari Matahati ini memiliki nama lengkap Muhammad Syamsun, ST, M.Pd, dan telah mengikuti berbagai program pelatihan bahkan menjadi pembicara baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kak Acun, pemateri muhasabah dan motivasi dari Matahati, dokumentasi BDI

Menurut cerita alumni universitas Brawijaya (S1) dan Universitas negeri Malang (S2) ini, beliau semasa kecil pernah menjadi korban bullying. Dan Kak Acun mengatakan bahwa bullying adalah perbuatan yang benar- benar merugikan orang lain.

Dalam acara ini sebagian besar siswa maupun guru meneteskan air mata karena terharu.

Suasana muhasabah dan motivasi , dokumentasi pribadi
Suasana muhasabah dan motivasi, dokumentasi pribadi

Sungguh sebuah acara yang sarat pesan. Tidak hanya memberikan nuansa baru, acara Maulid kali ini benar-benar memberikan kesan yang begitu dalam pada para pesertanya.

Panitia Maulid, dokumentasi pribadi

Akhirnya terima kasih pada Pak Abid, Bu Utin, Bu Ida juga panitia Maulid yang lain. Semoga dengan berkah Maulid, siswa Bintaraloka akan tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik dengan karakter yang membanggakan.  

Allahumma Sholli ala Muhammad.

Merdeka Berkreasi dalam Acara Karnaval Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 78

Hari masih menunjukkan sekitar pukul enam. Namun sepagi itu sudah tampak kesibukan yang demikian nyata di depan pintu masuk Perumahan Ijen Nirwana Malang.

Pria, wanita maupun anak-anak dengan kostum yang beraneka ragam sudah melakukan kegiatan masing-masing.

Ada yang menata bazaar, mempersiapkan gerak jalan, memasang rumbai-rumbai, bahkan juga menunggu teman.

Siap mengikuti karnaval, dokumentasi pribadi

Sebuah panggung didirikan di tempat yang strategis, dan di sepanjang jalan berjajar stand untuk para pedagang UMKM. Tampak semua bersiap dengan berbagai macam makanan yang akan dijual.

Suasana semakin meriah dengan adanya lagu-lagu diperdengarkan dari sound system yang diangkut oleh becak, bentor ataupun pick up. Ada yang menyetel lagu nasional ataupun lagu-lagu dangdut kekinian.

Bagian sound system , dokumentasi pribadi
Kreasi salah satu peserta, dokumentasi pribadi

Sungguh, kehadiran lagu-lagu tersebut membuat yang hadir semakin bersemangat mengikuti acara.

Di atas adalah gambaran suasana pelaksanaan Karnaval dan Bazaar peringatan HUT kemerdekaan RI yang ke 78. Acara tersebut diadakan oleh RW 03 Kelurahan Bareng Kota Malang.

Acara yang diikuti oleh 11 RT ini berjalan begitu meriah. Peserta merdeka berkreasi dengan mengenakan pakaian yang bertemakan bahan-bahan daur ulang. Ada yang mengenakan baju dari kresek, koran, plastik dan banyak lagi.

Peserta karnaval bapak-bapak, dokumentasi pribadi
Ibu-ibu peserta karnaval, dokumentasi pribadi
Kreativitas peserta karnaval, dokumentasi pribadi

Anak-anak kecil tampil dengan demikian lucu. Mereka mengenakan berbagai aksesoris yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu PKK sebelumnya.

Kreasi warga dalam membuat aksesoris benar benar patut diacungi jempol. Dalam waktu yang tidak begitu lama dari kertas dan tali rafia tercipta hiasan dan baju- baju cantik untuk anak-anak kecil. Dari barang- barang bekas lain juga bisa tercipta aksesoris yang menarik.

Peserta anak anak, dokumentasi pribadi

Hari itu persiapan untuk mengikuti karnaval sudah dilakukan semenjak dini hari.

Bisa dibayangkan betapa repotnya memasang aksesoris dan rumbai-rumbai pada sekian banyak anak kecil, plus make up. Namun semua bisa teratasi berkat kekompakan ibu-ibu PKK.

Lalu bagaimana dengan kostum ibu-ibu?Penampilan ibu-ibu tampak demikian manis dengan kebaya, sembong dan celana panjang. Penampilan tersebut masih dilengkapi dengan caping sehingga semua tampak cantik.

Yel dan tarian sepanjang perjalanan, dokumentasi pribadi

Ada juga ibu-ibu yang mengenakan kembaran merah putih. Wow yel-yel dan gerakannya demikian mantap.

Peserta dengan kostum merah putih , dokumentasi pribadi

Kostum bapak- bapak juga beraneka ragam. Ada yang mengenakan baju dari goni dan wajah yang demikian seram. Heboh pokoknya.

Peserta bapak-bapak, dokumentasi pribadi

Kegiatan yang dilaksanakan setahun sekali ini tentunya memerlukan persiapan yang luar biasa. Kekompakan dan kesabaran benar-benar diperlukan, utamanya saat berlatih yel dan koreografi yang diadakan setiap hari menjelang karnaval.

Pukul setengah delapan peserta diberangkatkan. Satu- persatu peserta menunjukkan performance mereka di depan juri sekitar lima menit. Sesudahnya peserta berjalan sesuai rute yang ditentukan.

Sepanjang jalan musik diperdengarkan untuk mengiringi aksi masing-masing peserta. Suasana benar-benar meriah.

Semangat peserta karnaval, dokumentasi pribadi

Regu kami sendiri mendapatkan nomor urut 5 dengan jumlah peserta berkisar 35 orang yang terdiri atas ibu-ibu, bapak-bapak juga anak-anak

Sepanjang jalan kami melakukan berbagai gerak yang dipandu oleh koreografer yang membuat perjalanan terasa mengasyikkan.

Sekitar pukul setengah sepuluh kami mencapai finish. Acara dilanjutkan dengan mengunjungi bazaar UMKM dan berbagai hiburan.

Bazaar UMKM, dokumentasi pribadi

Acara undian untuk mendapatkan berbagai doorprize yang menarik membuat penonton tak beranjak dari lokasi lomba hingga acara usai.

Di akhir acara diumumkan para pemenang lomba karnaval. Juara pertama sampai ketiga berturut-turut adalah RT 04, RT08 dan RT 03.
Juara harapan satu dan dua adalah RT 02 dan RT 01, sedangkan juara favorit adalah RT 11.

Pengumuman juara, dokumentasi pribadi

Ada senyum gembira di mana-mana. Akhirnya kerja keras selama beberapa hari ini membuahkan hasil yang begitu manis.

Sebuah prestasi yang benar-benar membanggakan, karena penampilan dari semua peserta benar-benar bagus.

Akhirnya selamat pada para pemenang. Selamat ulang tahun negeriku tercinta, semoga semakin jaya, dan mari terus melaju untuk Indonesia maju.

Salam Merdeka 🇮🇩🇮🇩

Hangatnya Semangkuk Kolak dan Berbagai Filosofinya

Ada yang istimewa di hari Jumat pagi itu. Ya, selepas doa bersama dan istighotsah yang dilaksanakan seluruh warga sekolah, ada kesibukan tersendiri di dapur Bintaraloka.

Memotong waluh, dokumentasi Bu Ami
Memasak kolak, dokumentasi pribadi

Tampak beberapa guru mengupas dan memotong pisang, nangka dan waluh. Sementara di kompor, satu panci besar santan sedang dimasak.

Aha, rupanya sedang ada kesibukan membuat hidangan istimewa berupa kolak.

Tentang kolak

Santan , pisang, dan daun pandan direbus bersama, dokumentasi pribadi


Dari berbagai sumber didapatkan keterangan bahwa kolak berasal dari kata khalik yang artinya pencipta.

Zaman dulu para wali menggunakan adat dan kebiasaan setempat sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ada banyak hidangan yang dipakai sebagai media penyebaran agama. Hidangan hidangan tersebut mempunyai filosofi tertentu dan kolak adalah salah satunya.

Nama kolak yang berasal dari kata khalik mengandung makna bahwa kita harus selalu mengingat pada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Pembuatan kolak sendiri tidak begitu rumit. Pertama, siapkan bahan berupa santan kelapa, gula merah atau gula putih, daun pandan dan isian kolak. Isi bisa bermacam-macam sesuai selera. Yang digunakan sebagai isi siang itu adalah waluh, pisang dan nangka.

Kedua, rebus semua bahan jadi satu , kecuali nangka. Ya, nangka dimasukkan terakhir saat santan sudah mendidih supaya aromanya tidak hilang.

Jika sudah mendidih, masukkan kolak ke dalam mangkuk dan siap untuk dinikmati.

Apa filosofi lain dari kolak?

Kolak sudah hampir matang, dokumentasi pribadi

Kolak selalu menggunakan santan (santen dalam bahasa Jawa). Santen bermakna pangapunten atau mohon maaf. Artinya sebagai sesama manusia kita harus bisa saling memaafkan karena manusia tempatnya salah. Kita sering melakukan kesalahan pada sesama baik disengaja maupun tak disengaja.

Dalam kolak sering digunakan umbi-umbian atau polo pendem. Maknanya jika sudah saling memaafkan mari kita pendam segala kesalahan yang sudah dilakukan.

Kolak selalu mempunyai rasa manis, maknanya dengan selalu mengingat pada Sang Khalik, saling memperbaiki hubungan dengan sesama manusia semoga hidup kita akan terasa manis.

Hmm, filosofi indah dari sebuah hidangan kolak. Dan ups… Ternyata kolak sudah matang dan siap dinikmati.

Siap untuk dinikmati , dokumentasi pribadi

Mari kita nikmati hangatnya semangkuk kolak lengkap dengan keindahan filosofinya…. 🙂