Indonesia tanah air kita tercinta adalah salah satu negeri yang memiliki begitu banyak keragaman.
Perbedaan suku, ras, etnik, agama, budaya ,bahasa ,dan adat istiadat yang dimiliki bangsa Indonesia sesungguhnya aset bangsa yang tak ternilai, jika kita bisa mengelolanya. Namun jika tidak, hal tersebut bisa menjadi potensi penyebab desintegrasi bangsa.
Sebelum tampil, persiapan di kelas, dokumentasi pribadiPersiapan kelas sebelum tampil, dokumentasi pribadi
Bhinneka Tunggal Ika, berbeda- beda tetapi tetap satu adalah semboyan negara kita. Dengan kesadaran akan Bhinneka Tunggal Ika, kita berusaha selalu menjaga dan merawat perbedaan yang ada.
Derasnya arus informasi membuat kesadaran akan kekayaan budaya mutlak dilakukan pada siswa di sekolah. Betapa tidak? Dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat, budaya dari luar begitu mudah masuk negara kita, bahkan bisa jadi siswa lebih memahami budaya luar negeri daripada milik sendiri.
Berbagai busana adat siswa, dokumentasi pribadi Siap tampil maksimal, dokumentasi pribadi
Berkaitan dengan hal tersebut, maka di SMP Negeri 3 Malang diadakan Konser Musik Nusantara. Sebuah acara yang berisi pagelaran tari, lagu juga teater. Konsep yang diusung adalah kekayaan lagu daerah Nusantara.
Konser Musik Nusantara adalah kegiatan puncak dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema ke tiga tahun ini.
Bu Ari koordinator Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menerima buket bunga dari siswa, dokumentasi pribadi Persiapan di kelas sebelum tampil, dokumentasi pribadi
Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema tiga sudah berlangsung kira kira dua bulan lebih, dan kini saatnya siswa unjuk diri dalam Konser Musik Nusantara.
Dalam konser ini setiap kelas wajib menampilkan tari, nyanyi ataupun drama dari tiga provinsi yang berbeda. Jika jumlah kelas tujuh adalah sepuluh kelas berarti ada tiga puluh provinsi yang terwakili. Wow.. mantap sekali…
Persiapan di kelas sebelum tampil, dokumentasi pribadi
Skenario penampilan hari itu adalah murni hasil kreativitas siswa. Mulai dari cerita, koreografi juga lagu- lagu pengiring mereka rancang bersama. Dan hasilnya adalah pagelaran yang demikian memukau di Rabu pagi itu.
Pak Fabi, ketua tim projek tema tiga, dokumentasi pribadi
Acara pagi itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Ibu Maria, dan dilanjutkan dengan sambutan Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, Bapak Pengawas dan dari komite sekolah.
Bu Maria memimpin lagu Indonesia Raya, dokumentasi BBC
Dalam sambutannya Ibu Kepala Sekolah Dra Mutmainah Amini menerangkan manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan tema-tema projek yang sudah dilakukan di SMP Negeri 3 sebelumnya yaitu Aku Bijak Berinternet dan Aku Keren dengan 4R.
Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan, dokumentasi BBC
Sesudah sambutan Ibu Kepala Sekolah, Bapak Sutikno, pengawas SMP negeri 3 Malang menjelaskan pentingnya menjaga karakter baik dalam diri kita.
Bapak-bapak Pengawas dan komite sekolah, dokumentasi BBC
Karakter tersebut di antaranya adalah kejujuran dan selalu mau belajar. Ya, betapa pentingnya karakter mau belajar, karena masalah kehidupan yang datang pada kita selalu silih berganti. Dan dalam menjalani kehidupan kejujuran sangatlah diperlukan.
Sambutan terakhir adalah dari komite sekolah yang disampaikan oleh Ibu Nuke Limanov.
Dalam sambutannya Ibu Nuke mengucapkan selamat atas berlangsungnya Konser Musik Nusantara sebagai perayaan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema tiga. Beliau juga berpesan pada siswa agar senantiasa melakukan kegiatan positif. Karena kegiatan positif siswa akan selalu didukung oleh komite sekolah.
Turut hadir dalam acara tersebut adalah Bapak Pengawas PAI dari Kemenag Malang.
Sesudah berbagai sambutan, acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Pak Abid. Dan….Konser Musik Nusantara dari tiap kelas pun dimulai.
Pak Mahmud sebagai pembawa acara, dokumentasi BBC Pembawa acara dari siswa, dokumentasi BBC
Acara yang luar biasa. Penampilan siswa benar- benar jauh lebih bagus dari gladi sehari sebelumnya.
Yang istimewa, di sela-sela acara, Pak Vigil , guru seni budaya sekaligus seniman kebanggaan Bintaraloka, menyumbangkan lagu-lagu dengan alat musik sape. Sebuah alat musik tradisional Kalimantan.
Pak Vigil memainkan alat musik sape, dokumentasi BBC
Acara berjalan lancar dari awal hingga akhir dengan dipandu oleh Bapak Mahmud Mushoffa dan empat orang MC dari siswa.
Drama yang disajikan peserta, dokumentasi BBCTari Saman, dokumentasi BBCLagu Tanduk Majeng, dokumentasi BBCTampilan salah satu peserta dalam balutan busana Jawa, dokumentasi BBCTarian tunggal, dokumentasi pribadi Peserta dengan busana Betawi, dokumentasi BBC
Sementara siswa kelas tujuh mengadakan konser, para guru yang bertugas melakukan penilaian, dan siswa kelas delapan mengamati dan membuat apresiasi dari penampilan para adik kelas mereka.
Penonton dari kelas tujuh dan delapan, dokumentasi pribadi Penonton dilihat dari belakang, dokumentasi pribadi
Dalam acara pagi itu bapak/ibu guru juga tak mau kalah. Semua tampil dengan mengenakan pakaian adat Nusantara.
Bapak/Ibu guru SMP Negeri 3 memeriahkan acara dengan berbusana adat Nusantara, dokumentasi Bu Any
Sebuah acara yang sangat mengesankan. Pagi itu semua menyanyi, menari, dan bergembira dalam kesatuan rasa cinta pada budaya Nusantara.
Siapa tidak kenal dengan hidangan nasi jagung? Nasi yang kehadirannya selalu ditemani urap-urap, sayur pedas, ikan asin , sambal, kadang ditambah mendol, bakwan atau menjes goreng, benar benar maknyus rasanya.
Sarapan nasi jagung, dokumentasi pribadi Bu Ami
Apalagi jika dimakan bersama, kelezatan seakan bertambah. Benar, satu hal yang tidak bisa diungkapkan namun bisa dirasakan adalah dengan kebersamaan sebuah kenikmatan akan lebih terasa berlipat ganda.
Nasi jagung pada awalnya adalah hidangan yang melambangkan keprihatinan. Kok bisa? Pada zaman dahulu, paceklik atau masa sulit tanam mengakibatkan beras atau nasi menjadi makanan yang eksklusif. Karena saat itu nasi sulit didapatkan, mulai dipikirkan makanan lain sebagai pengganti nasi.
Orang -orangpun beralih ke jenis tanaman yang mudah tumbuh sekaligus mampu menghasilkan panen yang baik pada saat itu, dan jagung adalah pilihannya.
Persiapan sarapan nasi jagung, dokumentasi pribadi Bu Ami
Mengapa jagung? Tanaman jagung tidak terlalu memerlukan banyak perawatan dan asupan air, hasil panennya juga bisa dikeringkan dan disimpan dalam waktu lama.
Oleh karena itu, secara kreatif mulai banyak yang memanfaatkan biji jagung menjadi berbagai macam makanan pengganti nasi.
Nah, dari uraian di atas nyata bahwa diversifikasi pangan yang sering dikampanyekan akhir-akhir ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu kala.
Sarapan Nasi Jagung di Bintaraloka
Doa dipimpin oleh Pak Muhaimin, dokumentasi pribadi Bu Ami
Ada yang istimewa di Bintaraloka pada hari Jumat kemarin. Seiring dengan selesainya tugas panitia PAT kelas 7 dan 8, maka diadakan acara makan bersama. Menunya,? Nasi jagung dan teman temannya.
Wow, sejak pagi kesibukan sudah mulai tampak. Berbagai makanan sudah berjajar rapi di meja depan. Mulai dari nasi jagung, sayur tewel, urap-urap, sambel, bakwan, menjes, ikan asin, peyek juga kerupuk.
Hmm, semua tampak begitu menggoda. Belum lagi minumnya yang terbuat dari mentimun, jeruk nipis, sirop dicampur dengan es. Benar-benar minuman yang menyegarkan sekaligus mendinginkan.
Nasi jagung dan teman temannya, dokumentasi pribadi Bu Utien
Acara yang bertajuk Pembubaran Panitia PAT Kelas 7 dan 8 ini diawali dengan doa yang dipiimpin oleh Pak Muhaimin dan langsung dilanjutkan dengan makan bersama.
Suasana terasa demikian hangat, ya suasana yang tercipta dari kebersamaan yang demikian indah.
Harapannya semoga kebersamaan di antara warga Bintaraloka selalu terjaga, dan siapa tahu acara ini bisa menjadi Ilham bagi sekolah untuk membuat acara yang serupa saat sebuah kegiatan selesai dilaksanakan. He..he…
Bagaimana jika emak- emak pergi mbolang bersama? He.. he.. rame pokoknya, bahkan kadang kadang mengalahkan ramainya anak kecil.. eh..😅
Mbolang, adalah istilah yang sering kami gunakan untuk bepergian. Mbolang berasal dari kata bolang. Inspirasi kata ini berasal dari sebuah acara televisi yang berjudul Si Bolang, artinya Bocah Petualang alias anak yang suka bepergian ke sana kemari dan menemukan kebahagiaan dalam petualangannya.
Pak Gito yang batal ikut, dokumentasi pribadi
Perjalanan mbolang kali ini diikuti oleh alumni SD Bareng yang berjumlah sembilan orang. Seharusnya ada sepuluh. Tapi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggal, Pak Gito salah satu teman kami batal ikut meski sudah terlanjur pesan tiket.
Tujuan utama kami adalah ke kota Blitar. Makam Bung Karno, Istana Gebang dan Candi Penataran adalah destinasi utama kami. Namun karena keterbatasan waktu tujuan ke Penataran akhirnya tidak bisa terlaksana.
Suasana di stasiun, dokumentasi pribadi
Tiket sudah dipesankan seminggu sebelumnya. Lewat aplikasi seorang teman, sepuluh tiket pulang pergi Malang -Blitar berhasil dibeli dengan harga tiket sekali perjalanan Rp12.000,00.
Hari dan jam keberangkatan sudah ditentukan yaitu Sabtu, 3 Juni 2023 , kereta Penataran berangkat pukul 07.14.
Sebagai antisipasi supaya jangan sampai terlambat, kami berjanji untuk bertemu di Stasiun Kota Baru Malang pukul 06.30.
Maka demikianlah, sepagi itu kami sudah siap di depan stasiun dengan dresscode yang sudah ditentukan. Baju kotak-kotak, celana jeans dan bersepatu. Biar cantik saat dipotret. He..he..
Pak Gito mengantarkan sampai kereta, dokumentasi pribadi
Sebagai wujud perhatiannya, meski tidak jadi ikut Pak Gito mengantarkan kepergian kami di stasiun Kota Baru Malang sampai naik Kereta Api. Barangkali Pak Gito takut emak emak ini tidak tahu jalan ya…
Sekitar pukul tujuh kami menaiki kereta Penataran gerbong enam. Suasana begitu ramai. Libur panjang empat hari di awal bulan Juni ini membuat penonton melimpah di stasiun.
Tiba di Stasiun Blitar, dokumentasi pribadi
Sekitar pukul sembilan lebih kami sampai di Stasiun Blitar. Setelah istirahat sejenak, agenda selanjutnya adalah mencari sarapan. Dari berbagai info yang masuk akhirnya pilihan kami jatuh pada Rumah Makan Padang Murah yang berlokasi di Jalan Mastrip Blitar.
Berbagai macam hidangan disediakan. Kami tinggal ambil, menunjukkan makanan yang ada di piring dan harga langsung ditentukan. Praktis sekali.
Lezatnya sayur singkong, ayam goreng dan sambel ijo, ditemani segelas teh hangat benar-benar memberikan semangat pagi itu.
Setelah sarapan kami bergegas meneruskan perjalanan. Mulanya kami akan pesan gocar untuk pergi ke Makam Bung Karno. Namun apa daya, sampai setengah jam kami tidak juga mendapatkan driver. Akhirnya rencana langsung diubah dengan menyewa becak.
Berkeliling Blitar dengan becak, dokumentasi pribadi
Karena ada sembilan orang dalam rombongan, maka ada lima becak yang disewa. Empat becak dinaiki dua penumpang, satu becak satu penumpang.
Setelah deal dengan ongkos dan perjalanan yang akan dilakukan dengan para penarik becak, perjalanan pun dilanjutkan menuju Makam Bung Karno.
Aha… Berkeliling Kota Blitar dengan becak sungguh mengasyikkan. Ritme kehidupan tiba tiba terasa begitu santai, jauh dari segala ketergesaan. Apalagi suasana jalanan kota Blitar yang jauh lebih sepi dibanding kota Malang.
Agenda haul Bung Karno, dokumentasi pribadi
Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Begitu keterangan Pak penarik becak pada kami. Ada tiga event besar di kota Blitar dalam bulan Juni ini, yaitu tanggal 1, 6 dan 21 Juni.
Tanggal 1 Juni adalah hari lahirnya Pancasila dimana Bung Karno adalah penemu dan penggagas Pancasila, tanggal 6 Juni adalah hari lahir Sang Proklamator, dan 21 Juni adalah hari wafatnya Bung Karno.
Setiap tanggal diperingati dengan perayaan khusus. Dengan tumpengan, brokohan ataupun peringatan haul.
Hal tersebut dipertegas dengan keterangan Mbak Nurin dari Perpustakaan Bung Karno. Perpustakaan yang berlokasi di bagian depan area Makam Bung Karno ini ditata demikian apik. Ada ruang koleksi buku juga memorabilia.
Salah satu koleksi memorabilia, Bung Karno, Dr Sama dan Mister Iskaq pendiri PNI, dokumentasi pribadi Koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadiRiwayat Bung Karno, koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadi Teks proklamasi tulisan tangan Bung Karno, koleksi ruang memorabilia, dokumentasi pribadi
Memorabilia adalah tempat koleksi barang- barang kenangan tentang Bung Karno. Ada banyak foto-foto beliau mulai dari zaman sekolah, menjadi presiden hingga akhirnya wafat, juga barang -barang yang sering dipakai Bung Karno.
Menurut Mbak Nurin dalam bulan Juni ini banyak kesibukan yang dilakukan untuk memperingati jasa-jasa Sang Proklamator. Antusias warga pada bulan Bung Karno ini ditampakkan dengan banyaknya kunjungan ke makam Bung Karno di bulan Juni.
Para pedagang cinderamata di jalan menuju makam Bung Karno, dokumentasi pribadi
Banyaknya pengunjung adalah berkah rezeki bagi para pedagang di depan maupun di tempat pembelian oleh-oleh di bagian belakang makam.
Saat kami datang ke makam Bung Karno, banyak sekali peziarah, sehingga yang berdoa ataupun nyekar di makam dibuat bergantian.
Suasana ziarah di makam Bung Karno dibuat bergantian, dokumentasi pribadi
Adalah Pak Juni, petugas di area tersebut yang dengan sabar mengarahkan para peziarah, bahkan rela menjadi juru potret dari masing masing rombongan.
Ziarah di makam Bung Karno, dokumentasi pribadi
Lepas ziarah kami meninggalkan area makam lewat jalan keluar yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga kami harus berputar di kawasan oleh-oleh.
Ada berbagai barang dagangan ditawarkan. baju-baju, aneka makanan khas Blitar seperti bumbu pecel, jenang dan dodol, beraneka ragam cindera mata, mainan dan banyak lagi. Saya sendiri membeli bros dan gelang dengan harga yang begitu murah. Lima belas ribu rupiah untuk tiga bros dan dua buah gelang.
Sesudah berputar- putar di pasar oleh-oleh kami menuju becak yang sudah menunggu di tempat parkir. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Istana Gebang, tempat kediaman Bung Karno di masa kecil dan remaja.
Pak penarik becak melayani kami dengan ramah meski harus menunggu lama. Sambil menunggu teman lain yang berbelanja kami berbincang-bincang dengan bapak-bapak penarik becak.
Dari obrolan kami siang itu ternyata keberadaan becak sebagai kendaraan wisata yang dipakai berkeliling kota Blitar sudah mulai tergerus dengan berbagai angkutan online. Jika dulu mereka bisa mendapatkan beberapa order dalam satu hari , kini satu order saja sudah bagus.
Bagi saya pribadi, menggunakan becak berkeliling sekitar kota Blitar sangat nyaman. Ongkosnya tak begitu mahal, bapak-bapaknya sabar menunggu pula.
Kira-kira pukul satu kami tiba di Istana Gebang. Tampak nyata ada kesibukan di sana. Tenda-tenda didirikan dan pengunjung gedung kesenian begitu banyak.
Baliho event Bung Karno Run 2023, dokumentasi pribadi Pendaftaran Bung Karno Run 2023, dokumentasi pribadi
Aha, rupanya kedatangan kami bertepatan dengan akan diadakannya Bung Karno Run 2023. Lomba lari ini diadakan tanggal 4 Juni 2023 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Blitar.
Meja dan kursi di Istana Gebang, dokumentasi pribadiSalah satu sudut ruangan Istana Gebang, dokumentasi pribadi Foto-foto dan kamar tidur di Istana Gebang, dokumentasi pribadi
Memasuki Istana Gebang membuat kami seolah terlempar ke masa lalu. Suasana terasa demikian adem. Di ruang tamu sebuah lukisan besar Bung Karno di antara banyak orang seolah menyambut kedatangan kami.
Meja kursi kuno dengan taplak dan hiasan hiasan di tembok rumah seolah bercerita bagaimana keseharian kehidupan di rumah itu. Semua demikian cantik dan tertata apik.
Ramainya pengunjung di Istana Gebang, dokumentasi pribadi Salah satu ruang di Istana Gebang, dokumentasi pribadiMobil Bung Karno, dokumentasi pribadiKayu bertuliskan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dalam bahasa Jepang di salah satu sudut istana Gebang, dokumentasi pribadi
Kami berkesempatan melihat kamar tamu, kamar pribadi Bung Karno, ruang dapur, ruang makan, juga mobil Bung Karno.
Halaman Istana begitu luas, menurut keterangan yang bertugas di sana, halaman rumah istana Gebang di masa lalu ada sekitar dua hektar. Wow, luas sekali.
Berfoto di istana Gebang, dokumentasi pribadi
Ada kesan yang begitu hangat di Istana ini. Ketika kami baru datang, delapan gelas kopi menyambut kedatangan kami. Rupanya dari sponsor penyelenggaraan event Bung Karno Run 2023.
Aih, nikmat sekali. Jam-jam sekian ngopi memang sangat mengasyikkan.
Setelah berfoto dan sholat di mushola Istana Gebang, kamipun melanjutkan perjalanan.
Stasiun Blitar menjadi tujuan utama. Ya, jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga. Memang kereta kami baru berangkat menuju Malang jam 16.50 wib. Tapi jauh lebih aman berada di sekitar stasiun di jam-jam menjelang pukul empat.
Perjalanan dengan becak berakhir. Kami segera membayar ongkos perjalanan. Bapak-bapak penarik becak menerima pembayaran kami dengan wajah sumringah.
Siap balik kembali ke Malang, dokumentasi pribadi
Sebelum masuk stasiun kami menyempatkan diri dulu ke kedai bakso urat tak jauh dari situ. Hangatnya bakso dan manisnya minuman jeruk menutup perjalanan kami hari itu.
Ya, semua terasa hangat dan manis, semanis kesan sehari perjalanan kami di Bumi Bung Karno.
Kayutangan selalu menyimpan banyak cerita. Siang ini selepas Dhuhur kami menginjakkan kaki kembali di Kajoetangan. Salah satu destinasi wisata kebanggaan Arema ini kembali menyapa kedatangan kami.
Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi
Sepeda motor kami parkir di depan Telkom dan… perjalanan pun dimulai. Berenam, kami teman satu alumni SD Bareng menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage kota Malang.
Menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Di depan gang kami segera mengisi buku tamu. Ada tanda masuk yang harus dibayar. Tidak mahal, cukup lima ribu rupiah. Tapi sebagai gantinya kami mendapat foto bangunan di Kampoeng Kajoetangan tempo dulu.
Mengisi buku tamu, dokumentasi pribadi
Setelah mengisi buku tamu kamipun terus berjalan di gang besar yang membawa kami menuju tempat-tempat yang lain. Tiba-tiba seorang ibu dengan ramah mengajukan toples yang berisi kue kering. “Monggo, onbitjkoek,” kata Si Ibu.
Onbitjkoek, dokumentasi pribadi
Kami mengambilnya masing-masing satu. Aih, sambutan yang manis, pikir kami.
Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Berjalan di sepanjang Kampoeng Kajoetangan, melewati jembatan dekat sungai, melihat rumah tua dan pernak perniknya adalah sebuah pesona tersendiri. Di beberapa tempat selalu kami sempatkan berfoto bersama. Biasalah, emak-emak. Soal foto pasti nomor satu. Tak perlu ditanya lagi.
Berfoto ala emak emak, dokumentasi pribadiDi sebuah rumah tua, dokumentasi pribadi
Kampung yang pernah mendapatkan penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia Bangkit ini terus berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang semakin menarik.
Penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno untuk Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Hanya sayang siang ini tidak begitu banyak yang bisa kami lihat. Seandainya kami datang sore atau lebih pagi mungkin banyak hal yang bisa kami eksplor. Seperti rumah Jacoeb, atau para penjual yang berada di Kampoeng Kajoetangan.
Rumah Jacoeb, salah satu rumah tua di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Lelah berkeliling Kampoeng, sekitar pukul setengah dua siang kami segera keluar. Namun sebelum pulang, kami sempatkan dulu mampir ke bakso Telkom yang berada tak jauh dari Kampoeng Kajoetangan.
Hangatnya bakso Telkom, dokumentasi pribadi Nor
Hmm, bakso yang lezat dan harga yang bersahabat menutup perjalanan kami siang itu.
Ya, sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Perjalanan yang manis, semanis persahabatan dan keakraban yang terjalin di antara kami selama ini.
Sebuah sore di Kajoetangan. Seperti biasa banyak yang lalu lalang di trotoar jalan ini. Ada yang pulang kerja, pulang sekolah atau bahkan baru berangkat bekerja.
Bangku- bangku yang ada mulai banyak terisi manusia.
Sore di Kajoetangan, dokumentasi pribadi
Ada yang tampak menunggu seseorang dan yang banyak adalah duduk-duduk bersama teman.
Ya, setelah aktivitas seharian, duduk dan rehat sebentar bisa sedikit mengurai kepenatan yang ada di kepala juga di badan.
Lalu lalang kendaraan tidak mengganggu keasyikan para penikmat sore di Kajoetangan. Apalagi sejak diberlakukannya arus searah , yang membuat Kajoetangan menjadi tempat yang nyaman karena kendaraan yang lewat tidak begitu padat.
All About Koffie by Kawisari, dokumentasi pribadi
Sore itu seorang teman mengajak saya ngopi di Kajoetangan sepulang sekolah. Aha, ajakan yang menarik. Apalagi sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu.
Dari banyak tempat ngopi di Kajoetangan, pilihan kami jatuh pada All About Koffie by Kawisari . Sebuah cafe bernuansa heritage dan begitu kental dengan budaya Jawa.
Kami memilih duduk di luar saja. Alasannya sederhana. Biar sambil ngopi kami bisa merasakan kehangatan suasana Kajoetangan dengan melihat orang yang lalu lalang di sekitar kami.
Kami duduk di kursi dengan meja bundar kecil di antara kami. Tak lama menunggu, pesananpun datang. Secangkir kopi tubruk untuk saya, dan teh serai untuk teman saya. Ditambah dengan singkong goreng dengan taburan keju yang garing dan terasa begitu gurih.
Kopi tubruk dan teh serai, dokumentasi pribadi
Harum kopi dan aroma teh serai menguar di antara kami. Aroma yang membuat suasana menjadi semakin akrab hingga obrolan terus mengalir hangat. Obrolan tentang apa saja. Tentang sekolah, ujian, anak-anak dan banyak lagi.
Sesekali ada tawa di antara kami ketika obrolan berkisar pada hal-hal yang lucu. Biasalah, emak-emak selalu gayeng kalau sedang ngobrol.
Duduk di All About Koffie by Kawisari memang menimbulkan rasa yang berbeda. Cafe yang demikian unik dan cantik, bahkan sejak dari desain luarnya.
Suasana nostalgia di dalam cafe, dokumentasi pribadi
Suasana yang diusung cafe adalah Malang Tempo Doeloe. Dari berbagai sumber yang saya baca ternyata sebelum menjadi cafe, di sini dulu berdiri salon Madame Fung yang sangat berjaya di tahun 1935-an.
Belum banyak perubahan pada interiornya, demikian juga etalase-etalase yang dipakai sehingga suasana nostalgia sangat terasa saat kita memasuki cafe ini.
Sesuai dengan namanya, All About Koffie by Kawisari menyajikan kopi yang berasal dari perkebunan kopi Kawisari, milik Tugu Hotels di Desa Ngadirenggo, Wlingi, Jawa Timur. Ini bisa dilihat di keterangan yang ada di dekat pintu masuk.
Tentang perkebunan Kawisari, dokumentasi pribadi
Perkebunan ini ada sejak tahun 1870 dan berada pada ketinggian sekitar 1.000 mdpl.
Dengan lahan seluas kira kira 850 hektare, perkebunan ini selalu menjadi tonggak penghasil kopi Robusta dan Arabica premium di Jawa Timur.
Begitu juga dengan hasil kebun lainnya seperti sayur organik, buah-buahan, bahkan madu kopi. Semua bahan tersebut dibawa ke All About Koffie by Kawisari sehingga tercetus konsep “from farm to table”.
From farm to table, dokumentasi pribadi
Karenanya All About Koffie by Kawisari tidak hanya menyediakan kopi, tapi juga makanan dan dessert dengan harga yang cukup terjangkau, sehingga bisa menjadi tempat yang cocok bagi semua kalangan.
Yang unik, desain yang ditampilkan di tempat ini menggambarkan suasana kehidupan penduduk desa Kawisari . Penduduk desa ini dikenal dengan budaya kekeluargaan, kebersamaan, dan kesederhanaannya yang kuat.
Suasana bagian dalam cafe, dokumentasi pribadi
Senja mulai turun. Kopi di cangkir, dan singkongpun mulai tandas. Meski obrolan belum lagi berhenti, tapi sudah saatnya kami harus kembali.
Bergegas kami menuju tempat parkir dan mengambil sepeda untuk segera pulang.
Aha, duduk sebentar sambil ngopi bersama teman benar-benar bisa mengurai segala kekusutan yang ada di kepala.
Sore itu kami berpisah dengan satu pertanyaan yang sama. Kapan ngopi lagi?