Taman Langit, Keindahan di Ketinggian Berbalut Dongeng dan Fantasi

Usai berjalan- jalan dan mengamati para penerbang paralayang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Langit.
Apa yang tergambar dalam benak kita saat mendengar nama Taman Langit? Benar.. sebuah keindahan di tempat yang begitu tinggi.

Menuju Taman Langit, dokumentasi Buz

Taman Langit yang merupakan destinasi terakhir jalan-jalan di Pujon ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Istimewanya disamping indah dan banyak spot foto menarik, Taman Langit mempunyai keunikan yaitu pengunjung diajak masuk dalam dunia fantasi atau dunia dongeng.

Yang khas dari Taman Langit adalah banyaknya patung besar yang di dalamnya menyimpan kisah-kisah tertentu.

Gapura Taman Langit, dokumentasi Buz
Dua Garuda besar yang siap ‘mengawal’ perjalanan kami, dokumentasi Buz

Tidak jauh dari gapura, ada dua patung garuda di kiri kanan kami. Keduanya seolah siap mengawal kami untuk mengeksplor keindahan di dalam Taman Langit.

Jalan berpaving dengan kiri kanan penuh dengan bunga benar- benar terasa menyejukkan mata. Semua tertata apik dan cantik.

Semua tertata apik dan cantik di Taman Langit, dokumentasi pribadi
Duduk menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi Buz

Kami mulai berfoto dengan back ground patung patung yang ada di Taman Langit. Ya iyalah… Berfoto adalah acara wajib saat dolan kemana saja.

Tidak semua tempat bisa kami eksplor. Ya, hari semakin sore. Ini juga destinasi ketiga, tentunya kaki sudah terasa pegal-pegal. Ini bisa ditandai dengan berkali-kali kami duduk menikmati alam sekitar dan menyesap keindahan Taman Langit yang luar biasa.

Menyesap keindahan Taman Langit dalam diam, dokumentasi pribadi
Mas Rudy, driver dan fotografer kami menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi pribadi

Dari sekian banyak patung yang ada, beberapa di antaranya yang sempat kami kunjungi adalah :

Satu : Tigan Sigar Menga (Telur Pecah), yang menggambarkan tentang kelahiran Sanghyang Antaga (Batara Togog), Sanghyang Ismaya (Batara Semar) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). Kisah yang sangat akrab dengan masyarakat Nusantara.

Cerita tentang Tigan Sigar Menga, dokumentasi pribadi
Berfoto di Tigan Sigar Menga, dokumentasi Buz

Dua : Dwala Hamsaria (Angsa Putih yang Anggun). Kehadiran angsa di sini adalah pengingat bahwa zaman dahulu di sekitar gunung ini banyak terdapat angsa. Dalam berbagai dongeng disebutkan bahwa angsa putih adalah binatang surgawi yang dicintai para dewa. Kepak sayap angsa putih melambangkan perjalanan ke surga menuju alam keabadian.

Bersama angsa putih , dokumentasi Buz

Tiga: Batari Lengleng Mulat (Dewi Lengleng Mandanu). Patung ini menceritakan salah satu bidadari dalam cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Bidadari ini demikian cantik dan penuh pesona sehingga di Kahyangan pun ia menjadi rebutan para dewata.

Menari bersama Batari Lengleng Mulat, dokumentasi Buz

Selain cantik Batari Lengleng Mulat juga penuh perhatian dan kasih sayang pada sesama. Ini ditunjukkan dengan gerakan tangannya menyapa burung dan tangan satunya seolah siap mengajak bergandengan tangan siapa saja.

Masih banyak patung yang lain. Bukan dari khazanah dongeng Nusantara saja, bahkan dari luar negeri, seperti adanya patung Tinker Bell di Taman Langit.

Berfoto bersama di salah satu sudut Taman Langit, dokumentasi Buz
Sudut yang sayang untuk tidak diabadikan, dokumentasi Buz

Kami terus menyusuri jalan berpaving. Berfoto dan berfoto. Semua tampak begitu indah dan sayang jika tidak diabadikan.

Kabut mulai turun, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul empat kabut mulai muncul. Bergegas kami akhiri perjalanan di Taman Langit, dan kami langsung menuju mobil.

Hmm, perjalanan sehari yang begitu manis

Selamat tinggal Santerra, Cafe Sawah, Paralayang Batu dan Taman Langit… Insya Allah kami akan segera remidi..

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga:

Paralayang, Melihat Keindahan Kota Batu dari Atas Ketinggian

Masih dalam rangkaian jalan-jalan bersama dolan_4six, tulisan kali ini akan menceritakan pengalaman jalan-jalan kami ke Paralayang Batu.

Perjalanan yang sangat berkesan, karena mata benar-benar dimanjakan oleh berbagai pemandangan alam yang indah menakjubkan.

********

Azan Ashar baru saja berkumandang ketika mobil kami memasuki tempat parkir Paralayang Batu yang terletak di kawasan Gunung Banyak. Hawa terasa demikian sejuk dan bersama sama kami terus menyusuri tangga naik menuju lokasi

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa tempat wisata ini berada di ketinggian 1315 mdpl, sehingga hawanya begitu sejuk.

Menuju Paralayang Batu, Dokumentasi pribadi

Paralayang Batu adalah salah satu tempat paralayang terbaik di Indonesia. Yang menjadi ciri khasnya adalah lintasannya yang panjang dan pemandangan yang begitu indah di sekitarnya.

Berfoto dekat Paralayang Batu, dokumentasi pribadi

Ya, dari atas ketinggian kita bisa melihat panorama pegunungan yang mengelilingi kota Batu. Benar-benar menakjubkan.

Persiapan terbang, dokumentasi pribadi

Karena tidak puas melihat dari jauh kami mencoba melihat para wisatawan yang mencoba naik paralayang ini. Wih, benar-benar sebuah olah raga yang memerlukan keberanian tinggi.

Terbang dengan didampingi tandem, dokumentasi pribadi

Betapa tidak? Bergantungan sendiri di angkasa dengan badan terombang-ambing oleh angin. Sementara arah paralayang hanya bisa dikendalikan oleh gerakan dua tangan kita.

Melihat dari dekat persiapan para penerbang paralayang membuat kami tahu betapa rumit dan hati-hati persiapan yang harus dilakukan sebelum terbang dengan paralayang.

Persiapan salah seorang penerbang paralayang, dokumentasi pribadi

Dilansir dari IDN Times ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum terbang dengan paralayang. Hal tersebut adalah:

  1. Perhatikan cuaca. Yang harus dicermati meliputi kecepatan angin dan awan. Kecepatan angin yang ideal untuk olahraga paralayang antara 0 s.d. 25 km per jam. Melalui kondisi awan bisa dilihat apakah akan terjadi hujan atau badai. Semakin berawan, harus semakin hati-hati berparalayang.
  2. Perhatikan parasut. Ada berbagai macam ukuran parasut. Pilih ukuran parasut sesuai dengan berat badan.
  3. Lakukan manuver sesuai kemampuan.
  4. Perhatikan kondisi kesehatan. Penerbang paralayang harus dalam kondisi sehat dan tidak boleh berada di bawah pengaruh minuman beralkohol

Bagi wisatawan yang berani mereka bisa terbang sendiri, sedangkan bagi yang tidak berani (pemula) disediakan tandem yang menemani mulai dari terbang sampai mendarat lagi.

Berfoto di jalan menuju Paralayang Batu, dokumentasi pribadi

Aha……Berani coba? 😀

Baca juga :

Cafe Sawah, Sensasi Makan Bersama di antara Cantiknya Hamparan Sawah

Waktu kira- kira menunjukkan pukul setengah satu siang ketika mobil kami memasuki kawasan Cafe Sawah. Langit mulai meredup, tidak sepanas tadi ketika kami meninggalkan Santerra de Laponte.

Berfoto dekat pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Cafe Sawah Pujon Kidul berlokasi di Desa Wisata Pujon Kidul, Pujon, Malang, Jawa Timur. Kawasan ini termasuk wilayah Desa Wisata Pujon Kidul.

Jalan menuju kawasan Cafe Sawah dipenuhi oleh pedagang yang menjual aneka baju, cindera mata, aneka sayur, buah, hasil bumi juga aneka makanan.

Pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Ya, Pujon yang terletak di dataran tinggi terkenal sebagai penghasil sayuran dan buah-buahan. Karenanya di kiri kanan jalan banyak dijual brokoli, wortel, jeruk, sawi, kentang, terong, cabe, tomat, bahkan bentul dan jahe.

Penjual pohon keju, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk Cafe Sawah kami mampir untuk membeli pohong keju dan tahu. Mbak penjual pohong bercerita bahwa Cafe Sawah dibuka sampai sekitar jam setengah enam sore. Dan selama liburan ini pengunjung demikian banyak.

Perjalanan dilanjutkan. Kami melewati tempat wisata petik sawi. Tampak di situ beberapa anak dengan dipandu para petani diajak untuk memetik sawi.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi

Sampai di bagian dalam Cafe Sawah, kami langsung menuju tempat makan. Berbagai hidangan disajikan di sini dengan nuansa yang begitu akrab.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi
Menuju tempat makan, dokumentasi pribadi

Kami bisa mengambil sendiri hidangan yang sangat familiar dengan keseharian kami. Nasinya ada tiga macam, nasi putih, nasi jagung dan nasi empog. Sementara pendamping nasi adalah urap, karedok, sayur pedas, sayur tewel, sayur belalo, bakwan, mendol , ayam goreng dan banyak lagi. Pendeknya semua lezat dan sedap.

Aneka hidangan yang akrab di lidah, dokumentasi pribadi

Saya sendiri mengambil nasi empog, tewel, belalo, mendol, telor dan sambal. Subhanallah.. mantap sekali rasanya. Ditambah dengan minumnya sari jeruk hangat.

Pemandangan cafe sawah dari tempat makan, dokumentasi pribadi

Makan siang kali ini benar benar terasa beda. Tentu saja, makan bersama sambil melihat hamparan sawah di kaki gunung memiliki sensasi tersendiri. Aih, sungguh nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan?

Kolam dengan ikan yang besar dan jinak, dokumentasi

Setelah makan kami berfoto foto sebentar. Sejuknya hawa, indahnya sawah dan kecipak ikan di kolam, sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.

Dekatvkolam ikan Cafe Sawah , dokumentasi pribadi

Acara terakhir adalah … belanja. Nah, ini acara yang sangat menyenangkan. Segarnya sayuran dan aneka hasil bumi membuat kami ingin membeli apa saja.

Penjual bentul, dokumentasi pribadi
Berbelanja aneka sayuran, dokumentasi pribadi
Puas berbelanja, dokumentasi pribadi

Di antara teman-teman ada yang membeli tomat, sawo, bentul, klampok, mangga dan slada. Saya sendiri membeli tomat dan terong. Wah, bisa dibayangkan bagian belakang mobil langsung penuh usai belanja di kawasan Cafe Sawah.

Matahari semakin turun ke barat. Explore di Cafe Sawah berakhir, dan saatnya kami meneruskan perjalanan ke Paralayang dan Taman Langit…

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga :

Santerra de Laponte, Indahnya Hamparan Bunga dan Pesona Replika Bangunan Mancanegara

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke WhatsApp saya.
“Bu, saya sudah dapat dua penumpang, dan sekarang otw Mbareng,”
Aha, akhirnya jadi juga apa yang sudah kami rencanakan beberapa hari ini. Healing-healing  bersama pesonatrans_dolan4six.

Sebelumnya kami sudah pernah melakukan perjalanan bersama pesonatrans_dolan4six, tepatnya ke Bedengan.

Indahnya bunga berbadu dengan replika bangunan Eropa, dokumentasi Buz
Replika berbagai bangunan mancanegara, dokumentasi pribadi

Nah, karena penasaran ingin healing lagi, berempat kami kembali menggunakan jasa biro perjalanan ini untuk jalan-jalan. Kali ini destinasi kami adalah ke daerah Pujon.

Bu Ari berperan sebagai guide. Ya, Bu Ari sangat faham dengan daerah Batu dan Pujon, dan sering mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah sana.

Bahkan sambil bergurau kami mengatakan beliau adalah penguasa daerah Batu dan Pujon.

Bu Ari, sangat memahami daerah Batu dan Pujon, dokumentasi pribadi

Setelah melakukan perbincangan lewat grup WhatsApp, akhirnya diputuskan tujuan wisata adalah Santerra de Laponte, Cafe Sawah, Paralayang dan Taman Langit.

Setelah barang sejam perjalanan, sekitar pukul sepuluh mobil kami mulai memasuki kawasan wisata Santerra de Laponte.  Kami segera turun , sementara driver sekaligus fotografer kami Mas Rudy lebih memilih menunggu dengan sabar di mobil.

Bunga begonia yang berjajar rapi di kiri kanan jalan seakan menyambut kedatangan kami. Warnanya yang merah sedikit oranye menyala tertimpa sinar matahari.

Indahnya bunga begonia di kiri kanan jalan, dokumentasi pribadi
Deretan bunga lili , dokumentasi pribadi

Aih, bunga yang begitu cantik. Saya tiba-tiba ingat di masa kecil, saya dan teman-teman sering bermain-main bunga ini karena banyak tumbuh di kampung kami. Tapi tentu saja tidak secantik begonia yang kami lihat pagi ini.

Bunga lili dan tapak dara juga berjajar indah. Warnanya yang merah menyala dan oranye benar benar memanjakan penglihatan kami.

Tapak dara oranye, Dokumentasi pribadi

Kami segera masuk menuju tempat pembelian tiket. Di antara bunga-bunga yang ada di sekitar kami banyak dipasang peringatan-peringatan ataupun peraturan bagi para pengunjung Santerra de Laponte.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Setelah membeli tiket masing masing Rp30.000,00 kamipun masuk lokasi wisata. Ah ya, harga tiket termasuk vocher untuk membeli minuman dan bunga di Santerra de Laponte.

Papan peringatan pengunjung, dokumentasi pribadi
Papan peringatan pengunjung, dokumentasi pribadi

Cantik dan menarik, itu kesan saya begitu terus masuk semakin jauh lokasi wisata ini.
Ya, konsep dari Santerra de Laponte adalah taman rekreasi beribu bunga yang dipadu dengan replika bangunan mancanegara. Ada sekitar 700 jenis tanaman bunga di sini. Luar biasa. Semua tertata dengan rapi dan indah.

Semua sudut tertata rapi dan indah di Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi
Satu sudut Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi

Di Santerra de Laponte juga terdapat  banyak replika bangunan dengan nuansa Korea, Jepang dan Eropa terutama  Belanda. Ya, hal tersebut tampak pada bangunan kincir angin, banyaknya pohon sakura dan replika bangunan rumah dan pertokoan yang berwarna-warni.

Di antara replika bangunan, dokumentasi Buz

Di tempat ini juga disediakan persewaan baju bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi berfoto dengan mengenakan pakaian dari Jepang, Belanda atau Korea. Aha, sangat menarik. Banyak pengunjung yang antri ataupun berfoto di lokasi tersebut.

Berfoto dengan latar belakang pertokoan Korea, dokumentasi Buz

Tempat rekreasi yang terletak di Jalan Truno Joyo, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon ini tidak hanya menyajikan hamparan bunga yang begitu cantik dan spot foto yang menarik.
Santerra de Laponte  juga menyediakan berbagai wahana permainan seperti Rainbow Slide, Virtual Reality, Perahu Putar, Mini Outbound, Trampolin, Istana Balon, Mini Flying Fox, Santerra Flight, House Of Terror, Mobil Golf, Cinema 7D, Ontang-Anting, Robot Electric, Komedi Putar juga Bombom Car.

Rainbow Slide, dokumentasi pribadi

Karena areanya yang begitu luas yaitu sekitar 4ha, Santerra de Laponte juga menyediakan sewa sepeda dan mobil golf untuk berkeliling lokasi.

Berkeliling dengan mobil di Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi

Jika kita lelah berkeliling, disediakan cafe sekaligus tempat rehat sambil melihat keindahan Gunung Banyak sebagai view-nya. Benar-benar tempat yang indah dan mengesankan.

Rehat, di belakang adalah view Gunung Banyak, dokumentasi pribadi

Sesudah azan Dhuhur berkumandang kami bersiap untuk kembali ke mobil. Tapi sebelumnya kami menggunakan voucher untuk membeli empat gelas minuman. Dua minuman coklat, satu lemon tea dan satu lychee tea

Sebenarnya kami juga hendak menggunakan voucher pembelian tanaman. Tapi tidak jadi karena kami pikir akan kesulitan meletakkannya di dalam mobil.

Tempat pembelian tanaman, dokumentasi pribadi
Menuju pintu keluar, dokumentasi pribadi

Seiring dengan mentari yang semakin naik kami meninggalkan Santerra de Laponte. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir bunga-bunga di kiri kanan kami seolah memberikan senyum yang terindah.

Ya, dengan perawatan dan kasih sayang yang baik, dengan senang hati tanaman akan mempersembahkan keindahannya bagi semesta.

Santerra de Laponte dilihat dari atas, dokumentasi pribadi

Akhirnya selamat tinggal Santerra de Laponte. Keindahan dan kecantikanmu akan senantiasa terpatri dalam ingatan kami.

Salam bunga…🤗

Sebuah Pagi di Car Free Day

Rungkad……Entek entekan
Kelangan kowe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu

Lagu dari Happy Asmara menghentak semangat kami pagi itu. Pertigaan Jalan Semeru dan Ijen sudah dipenuhi manusia. Ada yang menggunakan kostum komunitas masing-masing, banyak pula yang tidak. Tiap orang mengambil jarak sekitar dua lengan agar tidak saling bertabrakan ketika melakukan gerakan.

Pas di pertigaan ada sebuah panggung kecil untuk para pemandu senam.

Suasana Car Free Day, dokumentasi pribadi

Aha, itu adalah suasana Car Free Day di kawasan Semeru dan Ijen pagi ini.

Suasana Car Free Day kota Malang seperti biasa selalu ramai. Event yang di adakan setiap hari Minggu itu sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semua bergerak ( atau bergoyang?) selaras irama mengikuti sang pemandu senam. Ada sekitar lima orang yang menjadi pemandu senam di atas panggung. Gerakannya lincah, gemulai namun bertenaga.

Bergerak bersama , bergoyang bersama, dokumentasi pribadi

Wajah ceria tampak di mana-mana. Sedikit berlawanan dengan cuaca kota Malang pagi ini yang begitu mendung.

Selesai lagu Rungkad, irama mulai sedikit selow. Lagu Malang Seger berkumandang. Peserta senam semakin banyak, semua bergoyang sesuai irama. Saya dan dua orang teman menjadi bagian dari semuanya

Ketika irama beralih lebih keras, mulai dilakukan senam aerobik. Nah, ini…. Gerakan kami mulai tak karuan.

Ya, kami jarang ikut senam bersama seperti ini, jadi gerakannya jadi sering salah. Kami berpandangan sejenak lalu tertawa.

Jalan-jalan di CFD, dokumentasi pribadi

“Gak apa-apa… yang penting keluar keringat..,” kata teman saya menghibur diri, dan kamipun terus bergerak dengan penuh semangat.

Setelah empat lagu dan berkeringat, kamipun beranjak meninggalkan tempat senam. Jalan-jalan, itu agenda kami pagi itu.

Bagi kami warga Malang, Car Free Day selalu memiliki magnet tersendiri. Di kawasan itu tua, muda, anak kecil ikut bergembira bersama. Ada yang berjalan-jalan bersama keluarga, bertemu komunitas, bermain, mencari hiburan, promosi kegiatan, dan yang lainnya.

Berdatangan ke CFD, dokumentasi pribadi

Begitu banyaknya yang datang di CFD dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangannya. Dagangan bisa berupa makanan, baju, aksesoris juga mainan.

Penjual mainan di CFD, dokumentasi pribadi

Pedagang mainan ada di mana-mana. Persewaan mainan juga. Ada persewaan scooter yang mematok harga Rp10.000 tiap15 menit pemakaian. Wah, sangat menarik. Apalagi saya lihat penyewa scooter selalu datang silih berganti.

Persewaan scooter anak anak, dokumentasi pribadi

Di CFD kita juga bisa naik dokar (delman). Ongkosnya Rp10.000 perorang untuk satu kali naik. Sebenarnya kami ingin juga naik, tapi saat itu penumpang didominasi anak kecil, akhirnya kami mundur dulu.

Dokar dengan tarip Rp10.000,00 per orang, dokumentasi pribadi

Setelah sekian tahun tidak ke CFD, ada banyak yang berbeda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah makanan yang dijual.

Satu stand makanan yang begitu laris adalah stand yang menjual makanan kekinian. Nama makanannya banyak yang menggunakan bahasa asing sehingga kami tidak berani mampir.

Makanan kekinian, dokumentasi pribadi

He..he.. benar benar kurang update. Masalahnya sebenarnya cuma takut tidak cocok di lidah saja.

Setelah berputar-putar di lokasi perbelanjaan yang berada di halaman Museum Brawijaya, kami memutuskan untuk istirahat dan makan soto ayam di pujasera. Menurut informasi dari teman- teman, pujasera ini selalu buka meski tidak pas penyelenggaraan CFD.

Soto ayam maknyus, dokumentasi pribadi

Nah, di pujasera ini makanan yang dijual cukup akrab dengan lidah kami. Seperti rawon, ayam geprek, soto ayam, soto daging dan lain-lain. Minumnya? Kami pilih es degan saja. Tapi esnya sedikit, maklum, hari masih pagi.

Duduk di pujasera sambil mengamati lalu lalang orang-orang sungguh mengasyikkan. Kebetulan di dekat Pujasera adalah stand mainan anak berupa kolam tempat memancing. Banyak sekali anak kecil yang duduk di situ dengan didampingi orang tuanya.

Kolam pemancingan anak anak, dokumentasi pribadi

Tak lama menunggu, soto ayam yang kami pesan datang. Wow, satu mangkuk penuh. Nasi, soto ayam, telur, sambel dan kerupuk. Benar-benar hidangan pagi yang mantap.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Pulang, itu tujuan utama. Ya, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saatnya kami melakukan kegiatan yang lain di rumah.

Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan diri mampir ke pedagang aksesoris. Biasalah, emak-emak, selalu tidak tahan melihat barang-barang cantik. Di situ kami membeli beberapa jepit dan karet pengikat rambut.

Membeli aksesoris, dokumentasi pribadi

Menuju tempat parkir, kami harus melewati tempat kami senam tadi. Di lokasi senam pengunjung semakin banyak, irama lagu semakin menghentak dan tampak pesertanya banyak yang masih muda. Aih, cocok sekali dengan iramanya.

Di tempat parkir bergegas kami mengambil sepeda. Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas parkir sepeda kami melaju keluar lokasi CFD di sepanjang jalan Semeru.

Tampak banyak pengunjung yang berdatangan, demikian pula yang pulang seperti kami. Ada yang sekedar berkeringat seperti kami, banyak pula yang pulang dengan membawa banyak belanjaan.

Ada yang datang dan pergi, di CFD. Ada yang datang untuk berkegiatan ataupun rehat dari segala kegiatan yang sudah dilakukan selama satu minggu.

Ya, meski banyak yang berubah dari waktu ke waktu, CFD tetap menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang setiap hari Minggu.

Semoga bermanfaat, salam Minggu pagi…😊