Ketika Waktu Serasa Diputar Ulang di Kampoeng Heritage Kajoetangan 

Sebuah pagi di Kayutangan. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Suasana tidak begitu ramai, beberapa toko masih belum buka, sementara yang lain sedang bersiap- siap menerima pengunjung.

Bertiga, saya dan dua orang keponakan berjalan di sepanjang jalan Kayutangan sambil menikmati segarnya udara pagi. 

“Ke Kampung Heritage ya?” ajak saya.

“Siyap…,” jawab keponakan-keponakan cantik ini. Ya, dalam dua hari mereka ada tugas ke UM dan menginap di rumah saya. Rencananya siang nanti akan balik, dan sebelum berangkat ke stasiun mereka saya ajak jalan- jalan ke Kayutangan Heritage.

Kami terus berjalan memasuki gerbang  Kampoeng Heritage. Dinginnya bediding tidak mengurangi semangat kami.

“Monggo..,”

Deretan pedagang yang berjajar di sebelah kanan jalan menyapa ramah. Ada berbagai macam makanan dan cinderamata yang dijual.

Di sebuah pos kecil kami membayar tiket masuk dan sebagai gantinya kami mendapat tiga buah postcard tanda masuk dengan gambar foto bangunan di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Loket pembayaran tiket, dokumentasi Tya
Tiket tanda masuk, dokumentasi pribadi

“Bangunan ini nanti bisa dicari di dalam kampung, Bu,” kata si Bapak ramah sambil menunjukkan foto ukuran postcard.

Tiket masuk ke sini terbilang murah yaitu Rp5000,00 per orang.

Tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan

Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kawasan cagar budaya di Kota Malang yang diresmikan sebagai destinasi wisata pada 22 April 2018. 

Kampung ini berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmad Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Malang.

Siap menjelajah Kampoeng Heritage Kajooetangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu pemukiman tua di Kota Malang, kampung ini ada sejak zaman kolonial dan diperkirakan memiliki akar sejak abad ke 13. Karenanya kampung Kajoetangan adalah saksi perjalanan sejarah dan berbagai perubahan yang ada di Kota Malang 

Di Kampoeng Kajoetangan kita bisa melihat  perpaduan bangunan rumah perkampungan khas Indonesia yang berdampingan dengan bangunan bernuansa kolonial yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hal yang sangat unik karena bukan hanya menunjukkan estetika, tapi juga bukti adanya  adaptasi budaya yang sudah berjalan dari masa ke masa.

Bertiga kami terus berjalan. Beberapa orang menyapa ramah. Menurut bapak yang menjual tiket,  pengunjung kawasan ini selalu banyak. Selain ingin menikmati suasana perkampungan, banyak pengunjung yang melakukan selfie karena perpaduan tempat tinggal dan gerai-gerai kopi menciptakan tempat-tempat foto yang menarik.

Ah ya, di sebuah spot foto, saya menemukan Radio Siegfried. Radio besar buatan Jerman di era 1950-1960 dan  pernah menjadi radio kebanggan keluarga kami.

Bertemu radio Siegfried , dokumentasi pribadi Tya

Menurut keterangan Kampoeng Kajoetangan ini memiliki 23 spot rumah yang bernuansa heritage. Bangunan tertua di sini dibangun tahun 1870 dengan arsitektur atap yang tinggi, jendela dan ventilasi yang besar menyesuaikan dengan daerah tropis.

Rumah 1870, sumber gambar: detik.com

Nuansa lawas sangat terasa dari bentuk pintu, jendela, lantai juga bagian atas rumah. Menurut pemiliknya sejak tahun 1870 rumah ini hanya mengalami satu kali renovasi yaitu ketika menambahkan satu kamar di bagian belakang dan pengecatan rumah.

Kembali kami berjalan.

Di depan rumah dengan cat hijau kami berhenti. Tulisan Hamur Mbah Ndut atau Rumah Mbah Ndut terpampang di bagian depannya, sementara di sebelah kiri ada kedai kopi cantik yang siap melayani pengunjung jika mau ngopi di tempat itu.

Kedai Hamur Mbah Ndut , dokumentasi pribadi

Menjelajah rumah Mbah Ndut membuat kita seakan terlempar ke masa lalu. Rumah yang dibangun tahun 1923 itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Bentuk pintu, jendela juga ubinnya yang berwarna kuning, ditambah dengan berbagai perabot lama, membuat suasana jadul sangat terasa. 

Suasana lawas makin kental dengan adanya  susunan barang pecah belah di lemari kaca. Benar-benar serasa bernostalgia. Zaman dulu lemari atau bupet yang berisikan barang pecah belah adalah hiasan yang ada di setiap rumah.

Lemari berisikan barang pecah belah, dokumentasi pribadi

Dari Hamur Mbah Ndut kami mampir ke rumah Nya’ Abbas Akub. 

Nya’ Abbas Akup adalah seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang bernada komedi dan fenomenal. Sebutlah Bing Slamet Koboi Cengeng, Ateng Minta Kawin dan banyak lagi.

Di rumah ini kita bisa melihat poster-poster film lawas karya Nya’ Abbas Akub yang  sangat booming di masanya, juga berbagai barang termasuk sepeda motor era tahun 70 an.

Sebuah sudut di rumah Nya’ Abbas Akub, dokumentasi Zifa

Sebelum pulang kami menyempatkan dulu untuk berfoto di sekitar sungai Kayutangan. Sebagai orang yang pernah tinggal di kawasan ini saya pernah merasakan meluapnya air sungai Kayutangan tatkala hujan deras. 

Bagusnya sekarang sudah dipasang dinding pembatas sungai yang memungkinkan air tidak meluber kemana- mana ketika hujan deras. Uniknya lagi dinding- dinding di sekitar sungai disulap menjadi tempat foto yang menarik dengan tambahan mural atau ornamen tertentu. Di sini juga terdapat kedai ice cream ‘de Lepen’. Lepen dalam bahasa Jawa artinya sungai. Jadi maksudnya kedai ice cream di dekat sungai. Aha… sangat kreatif.

Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan

De Lepen, kedai ice cream di dekat sungai, dokumentasi pribadi

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tak terasa sudah satu jam kami berputar- putar di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

“Capek?” goda saya pada keponakan-keponakan cantik.

“Mboten Bude,” 

Aih, meski berkeringat, wajah mereka masih tampak begitu bersemangat.

“Kereta berangkat jam berapa?” tanya saya

“Jam 11.45 , Bude,”

“Wah, ayo segera sarapan dan pulang. Jam 11 kalian harus sudah di stasiun,” 

Langkah kami percepat untuk keluar dari Kampoeng Heritage. Mencari sarapan, itu target berikutnya. Sesuai rencana pagi itu kami sarapan di warung soto yang tak jauh dari Kayutangan.

Kami terus berjalan. Kesibukan warga kian terasa. Warung dan kedai kopi makin banyak yang buka, demikian juga banyak ibu-ibu yang berangkat atau pulang dari pasar.

“Monggo, Bu,” sapa seorang ibu yang menjinjing belanjaan yang saya jawab dengan sebuah anggukan ramah.

Jalan-jalan, saling menyapa, juga menikmati nuansa lawas dari tempat tempat yang kami kunjungi sungguh membuat pagi kami  terasa hangat. Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan.

Salam jalan-jalan…😊

Es Talun, Ketika Rasa Dingin dan Hangat Berkolaborasi dengan Begitu Manis

Kamis Minggu ketiga Desember adalah hari terakhir pembagian rapor di Bintaraloka. Cuaca terasa begitu gerah. Mungkin karena rasa lelah persiapan rapor dipadu dengan berbagai kegiatan ‘menuntut ilmu’ yang dilakukan secara marathon akhir akhir ini.

Tak seperti biasanya jam setengah dua kami sudah ‘cabut’ dari sekolah. Es Talun itu tujuan utama, sebab ada satu teman yang sama sekali belum pernah ke Es Talun. 

Pembicaraan mengalir hangat, dokumentasi pribadi Ahfi

Masya Allah, ‘belum pernah’ lho… Makanya sebagai sesama teman kami punya kewajiban untuk memperkenalkan situs situs bersejarah seperti Depot Es Talun ini pada teman kami. Ya, masa Arema tidak kenal Es Talun? Apa kata dunia, coba?

Depot Es Talun berlokasi di Jl AR Hakim nomor 2 Malang. Sangat mudah dijangkau karena pas berdiri di dekat perempatan Jl. Kawi dan Jl. AR Hakim.

Di depan Depot Es Talun, dokumentasi pribadi Ahfi

Sampai di depan lokasi, kami segera masuk. Yang membedakan suasana Depot yang berdiri sejak tahun 1950 ini di masa sekarang dengan dahulu adalah sekarang lebih bernuansa rumahan dan heritage . 

Terakhir saya ke sana, sekitar sepuluh tahun yang lalu, nuansa depot atau rumah makan sangat terasa. Sekarang tidak. Kita sepertinya masuk rumah dengan dekorasi yang kuno. Ada banyak tape recorder, piring seng oval atau bahkan rantang susun ditata untuk menghidupkan suasana ‘kuno’ di sekitar kita.

Dekorasi dengan barang barang bernuansa heritage, dokumentasi pribadi

Tak lama pesanan kamipun datang. Empat es campur dan satu es teler. Semua diletakkan dalam gelas toast besar yang bentuknya sangat khas. 

Ah ya, saya baru ingat bahwa gelas ini adalah gelas yang khas dipakai Depot Es Talun sejak dulu.

Es campur dan es teler sudah siap untuk dinikmati. Tampilannya begitu menggoda. Ada paduan warna merah, kuning, coklat dan putih yang sangat menggoda.

Bau durian juga mulai menguar di antara kami. Harga per porsinya juga sangat terjangkau. Dari daftar menu yang ada ternyata ada banyak varian es yang disediakan dengan harga yang bersahabat.

Tapi eits, tahukah pembaca apa beda es campur dan es teler?

Es campur dan es teler, dokumentasi pribadi

Menurut sejarah es campur dikembangkan oleh para pedagang dari Tiongkok sementara es teler dikembangkan oleh pedagang dari Semarang.

Perbedaan lainnya adalah es campur mempunyai varian buah yang lebih bermacam-macam daripada es teler, juga sirup yang dipakai oleh es campur lebih encer daripada es teler. 

Pendeknya es teler satu tingkat lebih pekat, gurih dan manis. Benar-benar membuat teler. He..he…

Dinginnya es mulai memasuki tenggorokan kami. Rasa dingin menjalar ke kepala membuat kepala jadi dingin dan pikiran lebih jernih. Dinginnya kepala dan hati membuat diskusi terus mengalir hangat di antara kami. 

Diskusi tentang apa saja. Tentang siswa, balerina, bullying, branding, wuih banyak sekali.

Banyak varian es yang disediakan Depot Es Talun, dokumentasi pribadi

Ya, kehadiran es campur dan es teler ikut mewarnai manisnya pertemuan kami siang itu. Pertemuan untuk sekedar refreshing sejenak melupakan kesibukan kami akhir-akhir ini.

Duduk bersama di Depot Es Talun makin menyadarkan kami bahwa hidup penuh berisi hal-hal yang kadang kontradiktif namun tetap terasa indah.

Seperti hari ini.. ternyata rasa dingin dan hangat bisa berpadu dengan manis di ruang tengah Depot Es Talun.

Kajoetangan Heritage, Sebuah Perjalanan yang Tak Terlupakan

Kayutangan selalu menyimpan banyak cerita. Siang ini selepas Dhuhur kami menginjakkan kaki kembali di Kajoetangan. Salah satu destinasi wisata kebanggaan Arema ini kembali menyapa kedatangan kami.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Sepeda motor kami parkir di depan Telkom dan… perjalanan pun dimulai. Berenam, kami teman satu alumni SD Bareng menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage kota Malang.

Menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Di depan gang kami segera mengisi buku tamu. Ada tanda masuk yang harus dibayar. Tidak mahal, cukup lima ribu rupiah. Tapi sebagai gantinya kami mendapat foto bangunan di Kampoeng Kajoetangan tempo dulu.

Mengisi buku tamu, dokumentasi pribadi

Setelah mengisi buku tamu kamipun terus berjalan di gang besar yang membawa kami menuju tempat-tempat yang lain. Tiba-tiba seorang ibu dengan ramah mengajukan toples yang berisi kue kering. “Monggo, onbitjkoek,” kata Si Ibu.

Onbitjkoek, dokumentasi pribadi

Kami mengambilnya masing-masing satu. Aih, sambutan yang manis, pikir kami.

Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Berjalan di sepanjang Kampoeng Kajoetangan, melewati jembatan dekat sungai, melihat rumah tua dan pernak perniknya adalah sebuah pesona tersendiri. Di beberapa tempat selalu kami sempatkan berfoto bersama. Biasalah, emak-emak. Soal foto pasti nomor satu. Tak perlu ditanya lagi.

Berfoto ala emak emak, dokumentasi pribadi
Di sebuah rumah tua, dokumentasi pribadi

Kampung yang pernah mendapatkan penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia Bangkit ini terus berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang semakin menarik.

Penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno untuk Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Hanya sayang siang ini tidak begitu banyak yang bisa kami lihat. Seandainya kami datang sore atau lebih pagi mungkin banyak hal yang bisa kami eksplor. Seperti rumah Jacoeb, atau para penjual yang berada di Kampoeng Kajoetangan.

Rumah Jacoeb, salah satu rumah tua di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Lelah berkeliling Kampoeng, sekitar pukul setengah dua siang kami segera keluar. Namun sebelum pulang, kami sempatkan dulu mampir ke bakso Telkom yang berada tak jauh dari Kampoeng Kajoetangan.

Hangatnya bakso Telkom, dokumentasi pribadi Nor

Hmm, bakso yang lezat dan harga yang bersahabat menutup perjalanan kami siang itu.

Ya, sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Perjalanan yang manis, semanis persahabatan dan keakraban yang terjalin di antara kami selama ini.