Konser Pagi di Jumat Aksi

Jumat pagi selalu dinanti. Itu yang terjadi di Bintaraloka. Ada Jumat sehat, jumat bersih, Jumat literasi dan Jumat Aksi.

Aha, jika di Jumat kemarin kami senam dan bergoyang bersama, Jumat ini kami nonton konser bersama.

Acara yang dipandu Mister Heri ini benar benar menguras perhatian. Sejak pukul tujuh siswa sudah duduk di lapangan volly untuk menunggu aksi yang akan dimunculkan. Apalagi sekarang saatnya kelas sembilan beraksi. Pastinya mereka akan berusaha tampil dengan aksi terbaik supaya tidak kalah cetar dengan adik-adiknya.

Bersama Mister Hery pembawa acara, dokumentasi Apple

Jika kelas delapan di aksinya banyak menunjukkan aksi olah raga dan seni, kelas sembilan banyak menampilkan seni, khususnya tari dan nyanyi.

Tampilan tari kreasi dari kelas 3.5.1 dan 3.5.6 membuat suasana Jumat begitu semarak. Kostum putih-putih ataupun selendang orange yang berkilau tertimpa sinar matahari membuat tampilan tari dan dance demikian cantiknya.

Dance, dokumentasi Buz
Tari kreasi, dokumentasi Apple

Selain tari tampilan lagu-lagu membuat suasana lapangan volly Bintaraloka tak ubahnya lapangan konser. Lihat saja, penonton melambaikan tangan dan ikut menyanyi bersama saat lagu yang dibawakan sangat mereka kenal.

Ada yang menampilkan lagu Celengan Rindu, Jadi Kekasihku Saja , Asal Kau Bahagia , Cinta Terbaik juga Pupus. Sangat kekinian.

Kolaborasi 9.6 dan 9.3, dokumentasi Apple
Jadi Kekasihku Saja, tampilan 2.3.1, dokumentasi Apple
Duet 9.5, dokumentasi Apple
Cinta Terbaik, dokumentasi Apple

Tiap kali reffrain lagu, sontak satu lapangan ikut menyanyi.. Hmm, benar-benar lagu yang sangat mengena di hati penontonnya.

Berbeda dengan kelas 7 dan 8, pada tampilan kelas 9 ada kolaborasi antar kelas. Seperti antara kelas 9.7 dan 9.8, juga antara 9.7 dan 9.3.

Di samping aksi kelas 9, ada juga tampilan yel dari kelas 7. Yel yang ditampilkan adalah yel 7.2 yang seminggu sebelumnya ditampilkan di Perayaan Projek Tema Aku Bijak Berinternet.

Yel 7.2, dokumentasi Buz

Kelas 7.2 membawakan yelnya dengan penuh semangat dan percaya diri sehingga mendapat applaus meriah dari para penonton.

Pukul delapan pagi acara Jumat Aksi ditutup dengan penampilan lagu Pupus. Tampilan yang manis, dan sempat membawa penontonnya kembali ikut bersenandung.

Pupus, dokumentasi Apple

Bel berbunyi.., saatnya masuk kelas dan mengikuti pelajaran kembali.
Bagaimana kisah Jumat Aksi berikutnya? Tunggu ceritanya ya…

Bintaraloka Oke… 🙂

Nobar Bal-balan

Sumber gambar: Yoursay. id

“Ssh…Cup Le, ” bisik Mbak Sur lembut sambil menggoyang-goyangkan Danang dalam gendongannya .

Bayi berumur tujuh bulan itu meringkuk dengan napas yang agak memburu. Demam membuat badannya begitu panas.

” Sudah dibawa ke Puskesmas, Mbak? ” tanya Mbak Menur tetangganya.
“Sudah, kemarin, ” jawab Mbak Sur sambil terus menenangkan Danang yang makin gelisah.
“Apa kata dokter? ” tanya Mbak Menur lagi.
” Disuruh banyak makan, minum, memang musimnya flu .., “
“Dikasih sirup? “
“Bukan.. Puyer.., “
“Sekarang usum DB lho, “
Kata-kata Mbak Menur membuat Mbak Sur makin gelisah.

Danang menangis lagi
“Mbak, tak tidurkan dulu ya.., ” kata Mbak Sur pamitan dan segera masuk rumah.
“Iya Mbak.., ” jawab Mbak Menur sambil masuk ke rumahnya yang persis bersebelahan dengan rumah Mbak Sur.

Di ruang tengah Mas Pardi sedang asyik dengan tabloidnya. Bal-balan. Dari hari ke hari pulang kerja langsung duduk dan baca. Itu saja kegiatannya. Bahkan anak sakitpun kadang tidak ditoleh.

“Mas, mbok anaknya dilihat.., ” kata Mbak Sur jengkel. Masak anak sakit dibiarkan saja, pikirnya. Tidak bingung sama sekali.

“Masih panas ta? ” tanya Mas Pardi sambil meletakkan korannya. Dipegangnya dahi Danang. Si Bayi menggeliat.
“Sudah obatan kan? ” tanya Mas Pardi lagi.
“Barusan…, biar tidur dulu wes, ” kata Mbak Sur sambil masuk kamar.

Sepuluh menit menemani si bayi membuat Mbak Sur bablas ketiduran. Seharian ia banyak menggendong Danang yang rewel sehingga badannya terasa begitu capek.

Mas Pardi melihat jam dinding. Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, bergegas diambilnya kresek kecil. Isinya kacang kulit dan rokok. Dengan pasti ia segera keluar menuju rumah tetangga sebelah.

“Sudah main, ta? ” tanya Mas Pardi pada Mas Tarno tetangganya.
“Masih iklan, ayo masuk, “
Keduanya duduk di depan TV. Di sana sudah siap gorengan dan akua.
“Tak tambahi.., ” kata Mas Pardi sambil meletakkan kreseknya. Mas Tarno tertawa senang. Sepak bola dan kacang…. pasangan yang benar- benar klop. Nonton bola terasa gayeng sambil nyamil kacang.

Televisi Digitec empat belas inchi benar-benar kotak ajaib yang menghipnotis keduanya. Mas Pardi dan Mas Tarno begitu khusyuk menatap para pemain yang begitu piawai menggocek bola.

Sebenarnya sudah lama Mas Pardi ingin punya televisi sendiri. Ia ingin bisa nonton sepak bola yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat tabloid atau koran.
Tapi begitulah. Tiap kali mengumpulkan uang, uangnya selalu katut untuk keperluan yang lain, hingga televisi yang diidam-idamkan belum juga bisa terbeli.

Tapi tak apa. Kebetulan Mas Tarno tetangganya bisa membeli TV. Karena daya listrik di rumahnya kurang, Mas Tarno mengambil listrik dari rumah Mas Pardi untuk menghidupkan televisi.

Nyalur kata orang kampung. Meski menurut aturan tidak boleh, yang penting tidak ketahuan karena rumah mereka hanya berjarak satu gang sempit. He..he.. Simbiosis mutualisme katanya.

Sebagai gantinya Mas Tarno sedikit memberikan uang listrik ke Mas Pardi tiap bulan. Berapa besarnya? Ah, itu urusan istri-istri mereka. Mbak Sur dan Mbak Menur. Yang penting semua lancar, semua senang.

Malam semakin larut. Danang kembali rewel. Mungkin lapar karena tadi sore belum sempat makan.
“Ayo maem dikit ya Le… ,”
Mbak Sur menggendong Danang sambil membawa mangkuk kecil berisi bubur instan .

“Ayo, sedikit lagi…, “
Meski sulit, akhirnya bubur dalam mangkuk habis juga, sekaligus puyer.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Karena gerah Mbak Sur mengajak Danang mencari udara segar di depan rumah.
Sejuknya angin juga kerja obat membuat Danang mulai mengantuk.

Mbak Sur tampak lega, meski juga resah. Ya, ibu mana yang tak gelisah jika anaknya sakit ? Dielusnya kepala si kecil yang mulai terkantuk-kantuk.

Gemerisik suara pertandingan bola terdengar dari rumah sebelah. Ah ya, ini kan malam Senin? Waktunya Liga Italia, Mas Pardi pasti di sebelah, pikir Mbak Sur.

Sesekali Mas Pardi suka nobar dengan teman-temannya di poskamling. Tapi sejak Mas Tarno punya televisi nobarnya pindah ke sebelah.

Ketika Danang semakin tenang Mbak Sur beranjak masuk rumah. Tiba tiba..
“Ayo.. Ayo… Oper.. !”
“Apik wes, goool!”
“Gool…!! “
teriakan terdengar silih berganti dengan begitu kerasnya. Bahkan ‘gol’ yang terakhir membuat Danang terlonjak dalam gendongan.

“Huaaaa…! ” teriak Danang ketakutan. Bayi itu menangis keras-keras.
“Astaghfirullah..! Kebacuut…,”teriak Mbak Sur gemas.

Kejengkelannya pada Mas Pardi kian menjadi. Sudah anak panas tidak ikut nunggu, ditinggal nonton bal-balan, teriak-teriak pula.

Tanpa banyak cakap Mbak Sur masuk rumah. Ia tahu benar apa yang harus dilakukan. Dilepasnya steker yang menghubungkan TV rumah sebelah dengan rumahnya. Steker itu tersembunyi di dekat pintu dapur.

Pedhot wes, pikirnya puas.

“Lhoooo! “
“Waduh, mati…! “
teriakan gembira di rumah sebelah langsung berubah jadi kecewa.

Bergegas Mbak Sur masuk ke kamar dan segera menutup pintu.

Tak berapa lama ada sedikit suara kesibukan dari arah dapur.

“Lepas ya cop- copannya? ” tanya Mas Tarno.
“Iya, paling dipancal kucing ini tadi.., “jawab Mas Pardi.
Sementara keduanya sedang sibuk memeriksa steker dan stop kontak, Mbak Sur cepat-cepat memejamkan mata. Senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya.


Gempita Perayaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema ‘Aku Bijak Berinternet’

Berfoto setelah penandatanganan komitmen, dokumentasi pribadi Fabi

Mana semangatmu?
Ini semangatku!

Gempita semangat benar-benar terasa di aula Jumat pagi itu. Semua siswa kelas tujuh, bapak ibu guru wali kelas dan penanggung jawab tema satu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila bersama sama menyiapkan perayaan Projek Aku Bijak Berinternet.

Perayaan ini menandai akhir dari Projek Tema satu, dan mulai minggu depan kami akan masuk pada Projek Tema dua.

Semua bekerja bahu membahu. Ada yang menyiapkan kursi, sound, LCD dan yang paling penting menyiapkan siswa agar bisa menunjukkan performa terbaik mereka di depan wali murid pagi ini.

Oh ya, selain guru dan kepala sekolah acara perayaan ini juga dihadiri perwakilan wali murid dan ketua komite SMP Negeri 3 Malang.

Suasana aula juga diramaikan dengan pajangan karya infografis siswa di dinding aula.

Sekitar pukul 8 lebih lima menit acara dimulai. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Ibu Utien, acara dilanjutkan dengan sambutan Ibu Kepala Sekolah.

Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang menyapa siswa dengan penuh semangat. Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya penanaman karakter baik pada siswa.

Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dokumentasi pribadi Fabi

Sesudahnya acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu dan tepuk Pelajar Pancasila yang dipandu oleh Ibu Ami dan Ibu Novi.

Ibu-ibu wali murid tampak surprise. Tentu saja, anak-anak menyanyi dengan kompak dan irama lagunya sangat familier. Lagu Pelajar Pancasila menggunakan irama lagu Naik Becak karya Ibu Sud.

Menyanyikan lagu dan tepuk Pelajar Pancasila, dokumentasi pribadi Fabi
Memimpin lagu dan tepuk Pelajar Pancasila, dokumentasi pribadi Fabi

Sesudah ‘naik becak’ bersama-sama acara dilanjutkan dengan penampilan yel tiap kelas.
Yel yang ditampilkan harus tetap memuat konten yang dipelajari yaitu bijak berinternet

Yel salah satu kelas, dokumentasi pribadi Fabi

Kreatifitas siswa benar-benar luar biasa. Yel dirancang hari Rabu, dilatihkan hari Kamis dan ditampilkan hari Jumat. Bermacam lagu bisa dimodifikasi menjadi yel. Ada lagu Apuse, Laskar Pelangi, Menanam Jagung, bahkan Hey Tayo. Waktu yang demikian pendek tidak menghalangi mereka untuk tampil bagus dan penuh percaya diri.

Tepuk tangan bergema di akhir tiap yel yang ditampilkan.
Sesudah yel, acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen tiap kelas. Ya, yang paling penting dari projek ini adalah kesadaran dan komitmen siswa untuk lebih bijak berinternet.

Penandatanganan komitmen dilakukan siswa beserta wakil dari paguyuban masing masing kelas dan wali kelas.

Perwskilan kelas, dokumentasi pribadi Fabi
Penandatanganan komitmen, dokumentasi pribadi Fabi

Sesudah penandatanganan acara dilanjutkan dengan berfoto bersama tiap kelas bersama wali kelas, Ibu Kepala Sekolah, Ibu Ketua Komite dan paguyuban.

Sesudahnya acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang. Dalam sambutannya Ibu Vivi yang juga alumnus SMP Negeri 3 Malang itu mengungkapkan perlunya penanaman karakter baik pada siswa dalam suasana yang fun seperti yang dilakukan sekolah pada hari itu.

Sambutan Ibu Ketua Komite, dokumentasi pribadi Fabi
Kesan orang tua siswa, dokumentasi pribadi Fabi

Begitu antusiasnya wali murid dengan acara ini tampak dari pesan dan kesan yang disampaikan oleh perwakilan walimurid. Pada prinsipnya walimurid mendukung penyelenggaraan acara yang sangat menyenangkan ini.

Berakhirnya projek adalah hal yang patut dirayakan karena telah sekian lama kita belajar bersama, dan bekerjasama untuk menumbuhkan karakter baik pada diri siswa.

Perlu diketahui pula hasil akhir dari projek tema satu ini adalah video kampanye bijak berinternet, dimana video yang terbaik akan diupload di channel youtube sekolah.

Sesudah berdoa, siswa diperbolehkan beristirahat dan acara dilanjutkan dengan sosialisasi Projek tema dua oleh Ibu Arie Susanie dan tim penanggung jawab projek tema dua.

Sosialisasi projek tema dua, dokumentasi pribadi Fabi
Tim penanggung jawab projek tema dua, dokumentasi pribadi Fabi

Sosialisasi ini sangat penting karena dukungan dan partisipasi orang tua sangat diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan projek.

Tentang apa dan bagaimana projek tema dua silakan tunggu di tulisan berikutnya…:)
Semoga bermanfaat dan Salam Pelajar Pancasila!

Srimulat, Bahwa Melawak Memerlukan Kerjasama dan Kekuatan Karakter

Sumber gambar: IDN Times

Layar dibuka. Seorang pembantu rumah tangga dengan membawa kemoceng dan berkalung serbet sedang asyik bersih-bersih di ruang tamu. Tidak hanya tangannya yang bekerja,  mulutnya juga terus bekerja alias menggumam, mengeluhkan sikap majikannya (Bahasa Jawa: ngrasani).  Yang dibicarakan tentang kebiasaan-kebiasaan buruk majikannya.

Biasanya yang paling dijadikan bahan rasanan adalah sifat majikan yang pelit, atau suka bertengkar dengan istrinya.

Tak berapa lama ketika asyik ngomong sendiri tiba-tiba majikan perempuan datang.  Majikan perempuan ini biasanya cantik,  manis,  berkebaya dan bersanggul.  Diam diam pembantu ini naksir pada majikan perempuannya.  Dari sini muncul dialog yang ger- geran.  Baik ucapan ataupun tindakan selalu mengundang tawa.

Demikian sekilas pembukaan acara lawak Srimulat.  Acara yang menjadi favorit baik tua maupun muda.  Lawak yang pernah mengalami kejayaan di masanya. Acara lawak biasanya dibuka dengan instrumen yang begitu khas,  suara orang bertepuk tangan dan setting panggung yang menggambarkan ruang tamu. 

Srimulat adalah grup lawak yang didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo dan istrinya yang bernama Srimulat tahun 1950 di Surakarta dengan nama Gema Malam Srimulat.

Pada awalnya Gema Malam Srimulat adalah kelompok seni keliling yang melakukan pertunjukan dari satu kota ke kota lain dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah. Srimulat memulai lawakan pertama mereka pada 30 Agustus 1951.

Pada tahun 1961 grup ini mulai menancapkan kakinya di THR Surabaya dengan nama Srimulat review. Meski  ada beberapa  grup  lain yang menyampaikan kritik social lewat lawak, Srimulat tidak ikut terbawa arus.  Dalam lawakannya Srimulat benar-benar hadir untuk menghibur dengan membawa subkultur Jawa. 

Dalam perkembangannya Srimulat akhirnya bisa mendirikan cabang-cabangnya di Jogja,  Semarang,  Surabaya dan Jakarta.

Srimulat mempunyai banyak pemain dan komposisinya selalu berganti-ganti.Walau demikian lawakannya selalu lucu dan mengena di hati. 

Sumber gambar: Kompaspedia.com

Meski materi lawakannya sering diulang-ulang , grup lawak yang dikomandani oleh Asmuni,  Bambang Gentolet,  Didik Mangkuprojo , Tarzan, Paimo , Tessy,  Isye dkk ini sangat sukses mengocok perut penonton dikarenakan para pemainnya yang memiliki karakter yang kuat.

Bambang Gentolet dengan gayanya yang ‘lholak-lholok’,  Didik Mangkuprojo yang sok ilmiah,  Asmuni dan Tarzan yang sok bijaksana , Isye yang genit dan menggemaskan dan Tessy yang wow,  sungguh merupakan perpaduan yang memberikan  hiburan hampir di setiap akhir pekan.

Selain masalah-masalah  dalam rumah tangga, Srimulat juga pernah mengangkat kisah horor.  Yang paling saya ingat ada satu episode horor yang berjudul Suntikan Darah Drakula dengan pemeran utamanya Paimo. Saat menonton acara tersebut kami anak-anak kecil sampai menjerit-jerit ketakutan tapi sambil tertawa terpingkal-pingkal. 

Bisa ditebak esok harinya cerita horror tersebut menjadi bahan pembicaraan yang ramai di sekolah.  Saat itu stasiun TV cuma satu,  sehingga kami pasti menonton di channel yang sama yaitu TVRI.

Di televisi biasanya acara Srimulat tampil sendiri,  atau sering juga disisipkan dalam acara Galarama. Acara hiburan musik dari TVRI Surabaya saat itu.

Ada masanya dimana Srimulat mengalami pasang surut. Namun sejak pentas kembali di sebuah stasiun televisi swasta Srimulat kembali lagi pada kejayaannya.

Beberapa pemain Srimulat bahkan ada yang menjadi selebriti.  Sebutlah Nunung, Gepeng,  Kadir, Doyok, Basuki jugaThukul.

Proses regenerasi dalam Srimulat berjalan terus. Seiring berjalannya waktu pelawak yang lama satu demi satu mulai pensiun.  Entah karena sudah tua atau meninggal dan digantikan oleh pelawak-pelawak baru yang tak kalah lucunya.

Berbeda dengan lawakan stand up komedi lawakan Srimulat mengandalkan kerjasama antar pemain si dalamnya.  Saling memberi umpan adalah cara untuk menciptakan dialog-dialog lucu di dalamnya.  Karena itu tak heran jika pemain Srimulat tampil solo tidak akan selucu saat tampil bersama.  Sebab kekuatan grup ini adalah pada kebersamaan yang bisa saling melengkapi.

Ya,  dari Srimulat bisa diambil pelajaran bahwa yang diperlukan dalam melawak tidak sekedar lucu,  tapi perlu juga adanya kerjasama dengan tetap menguatkan karakter masing-masing personil.

Di Balik Kegalakan Seorang Guru

Sumber gambar: detik.com

Masa sekolah selalu menyimpan banyak cerita. Ketika sekolah pasti ada guru yang memberikan kesan pada diri kita. Misal karena keramahannya, kelembutannya, kedisiplinannya bahkan ke’galak’annya. Berikut adalah kisah tentang satu guru saya yang termasuk galak dan membuat takut pada kami para siswanya. Tapi ternyata di balik kegalakannya ada pelajaran berharga dan hikmah yang bisa dipetik di kemudian hari.

******.

Bel panjang berbunyi menunjukkan datangnya saat istirahat. Kami menghela napas lega. Selesai sudah dua jam pelajaran matematika.

Bu Milah menata buku- buku besar di hadapannya lalu memandang kami.
“Ya, siapkan! “
Tanpa senyum, selalu seperti itu.

Tanpa banyak kata ketua kelas memberikan komando dengan lantang dan kami serempak mengikutinya.
Selesai mengucap salam, Bu Milah meninggalkan kelas, dan kamipun bertebaran ke luar kelas untuk memanfaatkan waktu istirahat yang hanya dua puluh menit.

Bu Milah adalah satu guru kami yang sangat disiplin. Tegas dalam menegakkan aturan dan tidak segan segan menegur kami yang melanggar. Karena sikapnya yang seperti itu kami anak anak SMP menafsirkannya sebagai kereng, galak bahkan jahat.

Nomor kode Bu Milah adalah 13. Lengkap sudah. Angka menakutkan untuk guru galak, pikir kami saat itu.

Bu Milah selalu mendapat jam pertama di kelas kami. Mungkin karena beliau mengajar matematika jadi diletakkan di jam jam awal saat pikiran masih segar.

Senin jam pertama sesudah upacara bendera adalah saat bertemu Bu Milah. Ya, karena beliau juga walikelas kami , saat itu juga dimanfaatkan untuk pembinaan wali kelas. Biasanya pembinaan berisi bagaimana belajar yang baik, mengatur waktu dengan benar dan yang paling banyak adalah tentang disiplin.

Bu Milah paling tidak suka jika kami datang terlambat, apapun alasannya. Juga pada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan. Itu akan beliau usut sampai tuntas.

Pernah ada teman yang sedikit- sedikit tidak masuk sekolah. Melihat hal tersebut Bu Milah langsung melakukan home visit, dan hasilnya keesokan harinya teman saya langsung rajin masuk tiap hari. Tidak pernah membolos lagi sampai naik kelas dua.

Mulai dari hal yang paling kecil Bu Milah menerapkan aturan dalam kelasnya. Contohnya saat memulai pelajaran dimana pada mapel lain kami mengucap salam sambil duduk, di kelas matematika kami harus memberi salam sambil berdiri.

Saat itu Bu Milah akan berkeliling melihat kelengkapan seragam kami. Termasuk ikat pinggang , kaos kaki bahkan rambut. Apakah terlalu panjang untuk siswa putra atau tidak rapi untuk siswa putri. Jika semua sudah rapi baru memberikan salam dan pelajaran dimulai.

Masih tentang salam, saat mengucapkannya tidak boleh tolah toleh. Jika ada yang seperti itu salam harus diulang.

Ada lagi satu aturan dalam pembelajaran matematika yaitu jangan sampai waktu diterangkan kita mainan bolpoin. Mungkin karena saat itu anak anak banyak yang suka mainan bolpoin. Maklumlah saat itu pilot cetetan adalah barang mewah.

Suatu ketika, saat Bu Milah menerangkan, ada seorang teman bermain bolpoin dengan cara dicetet-cetet. Beliau langsung berhenti dan bolpoin diminta, untuk selanjutnya dikembalikan lewat orang tuanya saat rapor semesteran.

Untuk melibatkan pengawasan orang tua dalam pembelajaran, Bu milah selalu meminta kembali kertas ulangan yang sudah dibagikan dan harus sudah ditanda tangani orang tua. Nah, apa akibatnya? Sebelum ulangan kami belajar sungguh sungguh supaya bisa mengerjakannya dengan baik. Sebab jika hasil ulangan bagus tidak masalah.. Tapi kalau dapat jelek haduuuh. Takut sekali rasanya mau minta tanda tangan orang tua.

Tidak hanya ulangan yang ditandatangani, buku PR juga. Akibatnya dibandingkan buku pekerjaan mapel yang lain buku PR matematika kami paling lengkap dan rapi. Bagaimana tidak? Sebelum masuk tas harus ditandatangani bapak/ibuk lebih dahulu. Malu kalau pekerjaannya acak acakan.

Banyaknya aturan membuat kami takut juga saat menjelang pembelajaran matematika. Tapi semua itu membuat kami lebih berhati-hati dan mengerjakan tugas sebaik baiknya. Melihat Bu Milah tersenyum puas dengan pekerjaan kami adalah hal yang sangat membahagiakan.

Melalui aturan Bu Milah juga sebenarnya ada hal hal baik yang bisa diambil, seperti menghargai orang lain, menghormati guru juga menjaga etika dan kerapian.

Satu hal yang sangat saya rasakan adalah karena takut dengan pelajaran Bu Milah, buku pekerjaan matematika saya jadi begitu lengkap dan rapi. Saya berani maju ke depan kelas hingga akhirnya teman teman yang kurang paham banyak bertanya pada saya. Mungkin ini yang akhirnya menjadikan saya guru matematika sampai saat ini. He.. He..

Meskipun mengajar dengan metode seperti itu kurang relevan di masa sekarang, tapi saya yakin dibalik galaknya seorang guru ada banyak hikmah dan tujuan baik di dalamnya.