Dari Ayam Natalan sampai Takut Musyrik,  Sebuah Obrolan di Pasar Pagi

Hari masih begitu pagi, tapi di sudut pasar sebuah bedak sudah begitu ramai. Bedak Mbak Atun, penjual sayuran, buah dan berbagai belanjaan. 

Di samping karena penjualnya ramah, bedak Mbak Atun banyak dikunjungi karena lengkap, juga bukanya paling pagi. Tahu sendiri ‘kan, ibu-ibu di pagi hari pasti super sibuk, karenanya bedak yang paling pagi selalu menjadi ‘jujugan’.

“Berapa semuanya Mbak?” tanya Mbak Menik sambil mengeluarkan dompetnya. Sudah sepuluh menit yang lalu Mbak Menik belanja. Ia adalah pembeli pertama di bedak pagi ini.

 Mbak Atun segera membuka kresek merah besar, memasukkan belanjaan satu per satu dan mulai menghitung. Koordinasi yang bagus antara mata, tangan dan mulut membuat kalkulatornya otomatis bekerja.

“Tempe lima ribu, lombok tiga ribu, tomat dua ribu, tahu, terong, cambah,….,”

“Semua empat puluh lima ribu tiga ratus, penglaris pagi ini, ” kata Mbak Atun dengan senyumnya yang paling manis.

“Oh , tambah telornya satu kilo,” kata Mbak Menik tiba-tiba. Ia baru ingat hari ini Dito,  anaknya ingin dibuatkan bali telor.

“Sekilo berapa?” tanya Mbak Menik lagi.

Mbak Atun menyebut sebuah harga.

“Ya ampuun, naik lagi?” seru mbak Menik heran.

“Kemarin saya beli belum segitu?” protesnya lagi.

“Naik sedikit, yang penting masih ada telor ‘kan?” jawab Mbak Atun sabar. Tangannya terus memasukkan butiran-butiran berwarna coklat itu ke timbangan.

“Ayamnya natalan, libur bertelor,” seloroh seorang pembeli, yang sontak membuat yang lain tertawa. Mbak Menik juga.

“Natal ayamnya natalan, rioyo ayamnya riayan, lha ayam-ayam Iki kok manja ya.. males ngendhog..,” tambah yang lain.  Tawa semakin ramai. Meski demikian tangan ibu-ibu terus bekerja memilih  belanjaan yang akan dibeli.

“Lha iya ta… ayam kan bisa capek,.. saking dia gak gampang ‘sambat’ seperti manusia..,” tambah yang lain. Rupanya ia pembela ayam. Suasana makin gayeng. 

Ilustrasi menimbang telur, sumber gambar: Radar Kediri

Tiba-tiba seorang pembeli baru datang dan langsung protes. Dengan agak kesal dia langsung mendekati penjual.  

“Semangkane pucat Mbak Atun..,” katanya agak keras.

 Rupanya ia komplain karena semangka yang dibeli kemarin warnanya kurang merah seperti contoh yang ada.

Mbak Atun diam sejenak. Tapi seperti biasa dia punya jurus yang jitu untuk menjawab.

“Waduh, maaf.., tiap hari digantung.., sampai pucet semangkane..,” jawabnya.

“Keweden paling..,” timpal pembeli yang lain. Maksudnya semangka itu karena tiap hari digantung wajahnya jadi pucat karena ketakutan.

Pembeli yang komplain tadi ikut senyum mendengar alasan yang se ‘ngawur’ itu.  

“Mbak Atun, saya sudah, tolong dihitung,” kata Mbak Mona sambil meletakkan belanjaannya dekat “kasir”. Ya, Mbak Atun adalah penjual merangkap kasir setiap harinya.

Seperti tadi Mbak Atun mengeluarkan kresek merah dan mulai menghitung.

“Tempe lima ribu, tahu…., kentang.., semua dua puluh empat ribu,” kata Mbak Atun.

“Tahunya cuma satu? Kok dikit?” tanya Mbak Atun. 

“Ini ada yang baru, tahu sutera, sedikit mahal tapi wenakk pol,” tambah Mbak Atun sambil menyodorkan tahu berwarna putih dengan merek tertentu. He..he.. Mbak Atun jadi SPG sekarang.

Mbak Mona mengamati tahu dalam mika bening di tangannya.

“Kane lop , pokoknya, cuma sepuluh ribu,” kata Mbak Atun sambil mengacungkan jempolnya.Kane lop adalah istilah Malangan untuk enak pol atau enak sekali.

“Masak sih?” tanya Mbak Mona lagi.

“Lhaa, gak percaya sama saya,” kata Mbak Atun sambil tersenyum.

Mbak Mona tertawa. “Lha..ngapain percaya sama sampeyan.., musyrik itu.., gak jadi beli wes,” kata Mbak Mona sambil meletakkan kembali tahu sutera di tangannya lalu ngeloyor pergi. Ia baru ingat, kembaliannya tadi cuma enam ribu. Berarti kurang empat ribu untuk sekotak tahu sutera.

Pengunjung tertawa melihat Mbak Atun yang kena batunya. 

Walah.., musyrik tenan percaya sama bakulnya,” timpal seorang pembeli yang disambut gelak tawa yang lain juga Mbak Atun.

Semua kembali pada kesibukaannya. Ada yang memilih sayur, ikan teri, pepaya, tak ketinggalan tempe dan tahu. Mbak Atun juga  kembali sibuk, jadi penjual, kasir sekaligus promosi. Ramai sekaligus gayeng, meski kadang pembeli protes tentang ini dan itu.

“Walah, tempenya jadi cilik-cilik Iki…,” 

Ilustrasi belanja di pasar, sumber gambar: Sonora.id

Pagi di bedak Mbak Atun selalu penuh cerita. Tawar-menawar, seloroh teman, sambat, terasa begitu akrab dan hangat. Pasar pagi bukan sekedar tempat transaksi, melainkan tempat dimana cerita tulus dan kadang lucu terjalin di antara para pengunjung yang mayoritas ibu-ibu.

Seiring mentari yang semakin meninggi, keramaian di bedak Mbak Atunpun beringsut untuk kembali dirindukan kedatangannya di esok hari.

Arti istilah :

Bedak : semacam toko, tempat berjualan

Bakul : penjual

Rioyo : Hari Raya

Sambat : mengeluh

Optimislah, Karena Masih Ada Allah

Ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim

Pengajian Filsafat

Setiap orang ingin melakukan perubahan yang lebih baik dalam hidupnya. Namun ada kecenderungan untuk menunggu momen yang tepat dalam melakukan perubahan itu. Misal menunggu nanti kalau mencapai usia tertentu, menunggu jika lulus ujian dan sebagainya. 

Apa akibatnya? Karena menunggu momentum, akhirnya perubahan tidak segera dieksekusi.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah berharap di moment tertentu itu akan ada kekuatan luar biasa yang mendorong kita melakukan perubahan, padahal hakekatnya semua itu hanyalah penundaan terhadap eksekusi yang akan kita lakukan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah hakekatnya semangat untuk melakukan eksekusi atas perubahan yang ingin kita lakukan harus tumbuh dari dalam jiwa kita sendiri.

Sebuah nasehat mengatakan bahwa ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim.

Bukankah kita sering mengucapkan doa ini yang berarti Ya Allah, tunjukkan kami ke jalan yang lurus? Jadi jika ada desir gerak hati untuk melakukan kebaikan mari segera dieksekusi semampu kita.

Apa yang sering membuat kita menunda? Keraguan dan kecemasan, atau over thinking.

Terlalu banyak pertimbangan membuat kita selalu ragu dalam mengeksekusi kebaikan.

Lalu bagaimana cara kita melawan rasa cemas dan ragu untuk melakukan sesuatu?

Sumber gambar: Beautynesia

1. Tanyakan pada dirimu apakah kemungkinan terjelek yang mungkin terjadi jika hal tersebut kita lakukan?

2. Lakukan hal-hal yang bisa meminimalisir terjadinya  hal buruk tersebut.

3. Jika sudah terjadi, bertindaklah dengan tenang untuk memperbaiki hal buruk tersebut.

Optimisme 

Dalam hidup ini sangat penting bagi kita untuk menanamkan optimisme. Optimislah, Allah akan mengabulkan keinginanmu.

Selalu ada hal baik dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita,

Selalu optimis membuat kita lebih ceria dalam menghadapi hidup, sebaliknya rasa pesimis membuat kita muram dan tidak semangat dalam menghadapi hidup.

Mari kita camkan nasehat berikut ini:

Tangkapan layar pribadi

Selalu ada kebaikan dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita, karena itu optimislah, jangan selalu murung dan bermuram durja. Optimislah, karena masih ada Allah. Apa yang tidak mungkin bagi Dia yang Maha Segala?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Selamat Datang Tahun 2026, Perlukah Kita Mereset Diri Kita Sendiri?

Kemuliaan manusia terletak pada ilmu, dan ilmu kita peroleh dari belajar, karenanya mari terus belajar

Fahruddin Faiz

Selamat Tahun Baru 2026 pembaca… Setiap memasuki tahun baru kita akan selalu berharap bahwa hidup kita di tahun yang kita masuki ini akan jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Pengajian Fahruddin Faiz kali ini dimulai dengan sebuah pertanyaan : mungkinkah kita melakukan reset atas hidup kita? Kembali dari settingan awal, mulai nol lagi?

Tentu bisa. Jika hidup terasa demikian ruwet, jalan yang kita tempuh terasa tidak karuan, sepertinya kita perlu melakukan reset kembali terhadap hidup kita.

Nah bagimana tahapan untuk melakukan reset ini?

1. Berhenti sebentar, hentikan rutinitas dan luangkan waktu, untuk melakukan refleksi. Apa saja langkah yang kita lakukan selama ini?

2. Berikan jeda atau ruang kosong untuk kita melakukan evaluasi diri. Apa sebenarnya yang kita inginkan? Apa yang kita rindukan? Mengapa saya selalu merasa gelisah dan tidak nyaman? 

3. Tuliskan hal hal apa saja yang diinginkan, ditambahkan, dipertahankan dan apa yang ingin kita lepaskan dengan jujur.

4. Melepaskan beban lama. Hal ini  berkaitan dengan masalah yang terus membebani dan seperti ‘tak pernah selesai’. Beban ini berkaitan dengan masalah hubungan sosial, kebiasaan ataupun pola pikir. 

Jika masalah tersebut tidak penting, membebani pikiran dan tidak produktif lepaskan saja. Termasuk di dalamnya hubungan dengan orang lain yang bersifat toksik, lepaskan saja. 

Sumber gambar: Pixabay

Jika kita tidak mau melepaskan, kita akan tetap terbebani dengan masalah yang tidak kunjung selesai

5. Tentukan ulang arah tujuan yang lebih baik. Misal kita ingin lebih rajin, lebih sholeh di tahun mendatang. Sebagai catatan, hidup kita harus punya arah. Tanpa arah kita kita tidak akan pernah  tahu apakah hidup kita mengalami progres atau tidak.

6. Lakukan aktivitas untuk sampai pada tujuan dan dimulai dari hal- hal kecil. Buat rutinitas baru untuk mencapai tujuan. Aktivitas kecil yang Istiqomah lebih bermakna daripada aktivitas besar tanpa mengukur kemampuan diri. Lakukan habit yang kecil tapi bermanfaat.

7. Cari circle yang cocok, jika tidak ada bangun circle yang bagus. Buat lingkungan baru, cari teman yang satu visi, orang yang bisa memberikan dukungan pada kita, karena kemajuan kita sangat dipengaruhi oleh dukungan orang sekitar kita.

8. Dukungan aspek spiritual. Buang kebiasaan lama yang kurang bagus dan mulai melakukan tahap yang lebih tinggi dalam beragama. Beragama yang sadar makna, tidak asal- asalan.

Marilah kita mencoba mereset hidup kita, memaknai hidup sesuai keinginan kita sesuai versi kita. Tidak perlu terlalu peduli apa komentar orang lain atas diri kita, yang penting kita terus berusaha lebih baik lagi menurut versi kita sendiri.

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Ngopi, Sebuah Cerita tentang Pergeseran Makna dan Budaya

Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang ketika sepeda motor saya masuk sebuah pelataran parkir bangunan cafe. Cafe yang lumayan besar dengan arsitektur dan mebel yang bernuansa kuno. 

Di teras ada jajaran kursi rotan dan pintu depannya berbentuk kupu tarung berwarna hijau. Khas bangunan lawas. Nama kafe tertulis besar besar di bagian atas bangunan dengan warna hijau senada dengan warna pintu. Bento Kopi, sebuah Cafe yang terletak di jalan Ade Irma Suryani 5 Malang.

Bento Kopi, dokumentasi pribadi

Saya segera masuk, dan tiga orang teman sudah menunggu di dalam. Ya, hari ini kami sedikit mengadakan pertemuan setelah sekian lama tidak bersua.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa ngopi bareng,” ungkap kami dengan wajah-wajah ceria.

Kami segera membaca buku menu yang tersedia di meja. 

“Pesan apa?” tanya teman saya yang bertugas untuk mencatat. 

Satu- satunya teman dari generasi milenial ini sangat sigap dalam segala urusan. Dalam urusan perngopian ia selalu bertugas melakukan survey lapangan baik tentang kemudahan transportasi ataupun menu jika kami akan mengunjungi suatu tempat. Karena kesigapan ini acara-acara ngopi selalu gayeng dan lancar.

Setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk pesan minuman leci, blueberry, coklat dan cappucino. Sementara untuk makanan adalah pisang goreng, mendoan, lumpia dan menu nasi karena ada teman yang belum sempat sarapan.

Memilih menu, dokumentasi pribadi

Sejenak kami tertawa. Katanya ngopi, lha kopinya kok cuma satu? 

Tak perlu menunggu lama, minuman dan makanan yang kami pesan pun datang.

” Sudah semua pesanannya ya Kak?” kata mbak waiters dengan ramah.

“Sudah, terima kasih..,” jawab kami tak kalah ramah

Tentang kopi dan Budaya Ngopi

Hidangan teman ngopi, dokumentasi pribadi

Siapa yang tidak kenal kopi? Biji yang menjadi cikal bakal minuman yang sangat nikmat ini ternyata bukan tanaman asli Indonesia.

Adalah VOC yang membawa bibit kopi arabika ini ke Jawa dari Malabar (India). Di Hindia penanaman kopi dilakukan pertama kali di sekitar Batavia dan Priangan dan dilanjutkan dengan penanaman dalam skala besar di abad 18. Penanaman dilaksanakan di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) dan Sumatera (dataran tinggi Gayo, Mandailing). 

Di masa ini kopi Jawa (Java Coffee) menjadi komoditas internasional yang termasyhur. Saat itu minum kopi adalah kebiasaan elit kolonial serta sebagian kecil bangsawan pribumi yang berpengaruh, sementara rakyat yang menanam kopi justru tidak pernah menikmatinya karena hampir seluruh hasil panen harus disetorkan VOC.

Pada akhir abad ke 19 budaya minum kopi makin menyebar. Kopi mulai diminum oleh para priyayi, saudagar dan masyarakat urban. Kopi juga mulai menjadi bagian hidangan keluarga, ketika ada tamu atau pertemuan -pertemuan.

Seiring berjalannya waktu mulai muncul warung kopi Tionghoa (kophi-tiam) yang menjadi cikal bakal tempat “ngopi” sebagai aktivitas sosial, terutama bagi kaum lelaki untuk berdiskusi dan saling bertukar informasi.

Kopi sebagai hidangan terus mengalami perkembangan. Lama-kelamaan mulai dikenal apa yang dinamakan kopi tubruk, kopi instan termasuk juga kopi latte.

Sekitar tahun 2000 an terjadi booming budaya cafe yang membuat cafe menjadi third place selain rumah dan tempat bekerja/sekolah.

Pembukaan cafe di berbagai tempat menciptakan ruang publik baru yang menjadi tempat bertemu ataupun sekedar bersantai dan ngobrol dalam suasana yang hangat.

Ngopi bersama teman, dokumentasi pribadi

Hidangan yang disajikan di cafe semakin beragam. Bukan hanya kopi, tapi juga teh, jus, minuman herbal atau bahkan es krim.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi  bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama

Cafe juga menyajikan berbagai kudapan agar pelanggan lebih asyik ngobrol di dalamnya. Di sini makna ngopi mulai bergeser dari sekedar minum kopi bareng menjadi  sebuah aktivitas bersosialisasi dengan atau tanpa kopi.

Orang datang ke kafe tidak selalu untuk kopi tapi bisa coklat, jus, atau makanan ringan, dan aktivitasnya tetap disebut “ngopi”, seperti yang kami lakukan hari ini.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama.

Lewat interaksi dan obrolan sederhana, justru bisa tercipta suasana yang segar,  hangat, lepas, ceria dan penuh tawa.

Jadi, sudahkah anda ngopi hari ini?

Ketika Surat Cinta Bercerita 

Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.

Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.

Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum. 

Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta. 

Tentang Surat Cinta

Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa.  Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.

Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.

Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.

Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.

Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.

Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana skenarionya?

Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.

Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.

Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.

Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.

“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.

Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.

“Untuk bunda,”

“Buat ayah tercinta”

“Dariku untuk bunda,”

Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.

“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.

“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.

“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.

Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya

Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.

Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial. 

Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk  masa depan anak yang lebih baik.