Membuka Ruang Berpikir dengan Soal Open Ended  Matematika 

Sore itu saya tiba tiba mendapat pertanyaan dari seorang ibu yang putranya masih duduk di kelas dua SD. Pertanyaannya simpel, tapi cukup membuat ibu ini geregetan. 

Ceritanya putrinya mendapatkan soal matematika yang perintahnya diminta membuat kumpulan beberapa benda yang sejenis, lalu membuat arsiran yang menunjukkan pecahan 1/2.

Zizi, siswa kelas dua ini langsung membuat empat buah segitiga yang di tiap segitiga dibagi dua lalu setengah bagiannya diarsir.

Di contoh berikutnya Zizi membuat empat lingkaran dengan ukuran sama, dan seperti halnya segitiga, tiap lingkaran dibagi dua lalu setengah bagiannya diarsir.

Alhasil jawabannya disilang oleh Ibu guru alias salah semua.

“Kok salah ya jawabannya?” tanya Ibu Zizi gemas 

Padahal kalau ada empat lingkaran atau segitiga atau apapun bangunnya, jika masing masing dibagi dua dan setengah bagiannya diarsir itu kan menunjukkan bahwa pecahannya 4/8 atau 1/2?” lanjutnya.

Ilustrasi pelajaran matematika pecahan tingkat dasar, sumber gambar : iStock

“Coba Ibu tanyakan Bu Guru yang benar bagaimana?’ kata saya pada Ibu Zizi.

Tak berapa lama sebuah jawaban dikirim oleh Bu Guru. Intinya sebenarnya sama, menunjukkan pecahan 1/2. Hanya saja gambar dari Bu Guru benda-benda tidak dibagi dua, tapi dibiarkan utuh. Jadi gambar pertama ada empat lingkaran dan dua bagian diarsir, gambar kedua ada enam segitiga dengan tiga bagian diarsir dan seterusnya. 

Saya mulai memahami bahwa ibu guru ingin membuat soal open ended tentang pecahan dengan harapan siswa bisa memahami masalah pecahan dan membuat sendiri ilustrasi pecahan dengan menggunakan berbagai bentuk gambar.

Penggunaan soal open ended memang sering dilakukan dalam pembelajaran untuk menguji daya nalar serta kreativitas siswa.

Ilustrasi pecahan 1/2, dokumentasi pribadi

Apakah soal yang open ended itu?

Soal open-ended adalah masalah atau pertanyaan matematika yang dirancang dengan kondisi awal yang terbuka dan prosedur penyelesaian yang tidak tunggal, sehingga memungkinkan beragam jawaban atau solusi yang benar. 

Yang menjadi ciri dari soal ini adalah merangsang proses berpikir tingkat tinggi (seperti analisis, evaluasi, dan kreasi) dengan menekankan pada jalan pikiran (proses) dan argumen logis. 

Soal open ended bukan sekadar bertujuan pada pencapaian satu jawaban final yang pasti. Singkatnya, soal open ended ini akan bermuara pada banyak jawaban benar.

Soal open-ended adalah masalah atau pertanyaan matematika yang dirancang dengan kondisi awal yang terbuka dan prosedur penyelesaian yang tidak tunggal, sehingga memungkinkan beragam jawaban atau solusi yang benar. 

Selain open ended, adapula soal yang hanya menuntut satu jawaban yang benar atau close ended.

Contoh berikut menunjukkan perbedaan soal open ended dengan close ended. 

Soal close ended (bermuara pada satu jawaban benar) :

Berapakah hasil dari 4+6? (jawaban: 10)

Berapakah luas dari persegi panjang yang panjangnya 10 dan lebarnya 4?  (jawaban: 40)

Jika harga satu buku 1500 dan satu pensil 1000 berapakah harga 4 buku dan 2 pensil? (jawaban :8000)

Soal open ended (ada lebih dari satu jawaban benar)

Buatlah penjumlahan yang hasilnya 10.(jawaban: 3+7, 2+8 , 4+6 dst)

Jika sebuah persegi panjang luasnya adalah 50 satuan luas, berapa panjang dan lebarnya?  (jawaban : bisa 10×5, 12,5 x 4 , 2x 25 dan seterusnya)

Jika harga satu buku 1500 dan satu pensil 1000 berapakah  buku dan pensil yang bisa diperoleh dengan uang 10.000 rupiah?( jawaban: Bisa 4 pensil dan 4 buku, bisa 1 pensil dan 6 buku, 3 pensil dan 4 buku  dan banyak lagi)

Nah, tampak jelas perbedaan soal open ended dan close ended bukan?

Lalu apa manfaat memberikan soal open ended pada siswa?

1. Mengembangkan Berpikir Kritis dan Kreatif

Soal open-ended tidak memiliki satu jawaban atau cara penyelesaian tunggal. Hal ini membuat siswa terus bereksplorasi dan melakukan berbagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah.

2. Memahami Konsep secara Mendalam

Dengan soal open ended siswa belajar mengapa suatu cara bekerja, bukan hanya bagaimana mengerjakannya. Ini membangun pemahaman yang lebih kuat dan tahan lama.

3. Membangun Keterampilan Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Soal open-ended sering kali menyerupai masalah dunia nyata yang kompleks dan tidak terstruktur. Siswa belajar merumuskan strategi, melakukan pengujian dan mengevaluasi solusi, keterampilan yang sangat berharga dalam kehidupan dan karir.

4. Mendorong Komunikasi Matematis

Dengan soal open ended siswa didorong untuk menjelaskan hasil jawaban mereka baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini meningkatkan kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan gagasan  matematika secara logis dan sistematis.

5. Mengakomodasi Perbedaan jawaban

Soal open-ended memungkinkan setiap siswa untuk lebih memahami perbedaan pendapat. Ya, berbeda belum tentu salah karena setiap orang pasti punya dasar atau alasan sendiri untuk mengeluarkan pendapat. 

Masih banyak lagi manfaat penggunaan soal open ended dalam pembelajaran. Namun demikian penggunaan soal ini juga mempunyai tantangan tersendiri karena , memerlukan kreativitas guru dalam pembuatannya dan lebih banyak waktu dalam melakukan koreksi .

Soal open ended membuka ruang diskusi yang lebih luas di kelas, dokumentasi : Pngtree

Satu hal lagi yang unik adalah  dalam penggunaan soal jenis ini guru harus siap dengan jawaban siswa yang di luar prediksi ataupun jawaban yang aneh , karena daya nalar kritis siswa yang beragam seperti masalah Zizi di atas.

Adalah penting untuk menanamkan pada diri siswa bahwa  perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Dengan memahami perbedaan maka pembelajaran akan lebih bermakna dan khazanah ilmu  akan menjadi lebih terbuka.

Guru harus siap menerima berbagai macam argumen siswa, dan membuka ruang diskusi bahkan dengan orang tua siswa, agar tidak ada perasaan segan atau takut pada siswa kita untuk berargumentasi. 

Adalah penting untuk menanamkan pada diri siswa bahwa  perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Dengan memahami perbedaan maka pembelajaran akan lebih bermakna dan khazanah ilmu  akan menjadi lebih terbuka.

Semoga bermanfaat, salam matematika 😃

Tentang Solidaritas Tanpa Banyak Retorika

“Mbak , saya buat jangan pedes. Krecek sama kacang tolo, mau pesan?” 

Sebuah tawaran manis tiba-tiba masuk notifikasi wa saya. Dari Mbak Sur, tetangga saya.

Dalam istilah Jawa Timuran, jangan artinya sayur. Jadi jangan pedes artinya sayur pedes, jangan bayem artinya sayur bayem. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan “tidak boleh”.

Wah, sudah lama saya tidak makan sambal goreng krecek, pedes pula, pikir saya.

“Ada gudegnya juga?” tanya saya kemudian.

“Ada, komplit, ini tetangga belakang yang pesan ikut a?

“Ikuuut,” jawab saya tanpa pikir panjang. 

Sayur sambal goreng krecek, sumber gambar: Cookpad

Siapa yang tidak kenal masakan Mbak Sur? Tetangga saya satu ini pintar sekali memasak dan sering menerima pesanan dari orang orang kampung.

Berbagai masakan hasil olahan tangannya  benar-benar maknyus. Sebutlah bothok, pepes, lodeh, soto komplit dan yang terakhir gudeg komplit. Sekali coba, ditanggung nambah. Benar-benar nendang, kata anak saya. 

Di sebuah kesempatan lain tiba- tiba Mbak Sur datang ke rumah dengan membawa keranjang besar berisi aneka masakan. Ada oseng daun pepaya, ayam krispi, garang asem, bihun bahkan cilok.

“Monggo..oseng daun pepaya,” 

Aih, Mbak Sur selalu ingat kalau saya paling suka oseng ini.

“Wah.., ganti menu ini?” tanya saya sambil memilih aneka makanan di depan saya.

“Enggeh, biar tidak bosan,” katanya sambil tertawa. 

“Kapan masaknya? Malam ya..,” kata saya lagi. 

” Ooh, niku masakan saya sama Mbak Rosi dan Mbak Yayat. Masakan saya hari ini cuma oseng daun pepaya,”

“Oh ya, kalau mau pesan ayam krispi atau cilok tinggal telpon, kami buatkan lalu diantar,” tambah Mbak Sur semangat.

Dua nama yang disebut Mbak Sur terakhir adalah orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya. Masih ada hubungan saudara.

Dalam banyak hal mereka sangat akrab. Ketika satu sedang sibuk, yang lain pasti membantu. 

Pernah suatu kali Mbak Sur mendapat pesanan untuk memasak hidangan di acara khitanan, ketiga orang ini memasak bersama di rumah Mbak Sur. Karena rumahnya tak begitu besar, beberapa kompor bahkan diletakkan di depan rumah.

Tidak apa, yang penting bisa masak dan  gayeng ngobrol bersama.

Pagi itu saya mengambil sebungkus garang asem, oseng pepaya dan ayam krispi.

“Pinten sedoyo?”

Kalkulator otomatis Mbak Sur langsung bekerja.

“Garang asem lima belas ribu, oseng lima ribu, ayam krispi sepuluh ribu, total tigapuluh ribu,”  jawabnya sigap. 

Oseng daun pepaya, sumber gambar: Cookpad

Setelah memberikan uang kembalian Mbak Sur mengangkat lagi keranjangnya. “Besok saya buat oseng pare sama bothok teri,” katanya kemudian.

“Wah, enak itu… Saya mau,” jawab saya senang.

Dengan cekatan Mbak Sur mengangkat dagangannya. 

“Garang asem, bihun..!”teriakannya memecah sepinya kampung kami di pagi hari.

Ya, bagi Mbak Sur usia hanya sekedar angka. Di usia kepala enam ia tetap sigap semangat. 

“Lha menawi mboten kerjo, sinten sing nyukani mangan?” katanya suatu saat ketika kami berbincang-bincang.

Ya, Mbak Sur tinggal sendiri. Suaminya Pak Parno sudah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu , sementara anak dia tidak punya. Untung saudaranya banyak, termasuk Mbak Rosi dan Mbak Yayat tadi.

Siang hari itu setelah beres-beres tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk di hp saya. Mbak Sur.

“Nggih, Mbak Sur? Wonten nopo nggeh?”

“Mbak, jadi cari tukang setrika?”

Oh ya, saya baru ingat kalau kemarin saya minta dicarikan orang yang mau membantu menyetrika pakaian. Beberapa hari ini cucian tidak cepat kering karena hujan sehingga setrikaan numpuk. Biasanya saya setrika sendiri, tapi kalau banyak begini saya perlu bantuan orang lain.

“Enggeh, jadi, siapa Mbak Sur?” tanya saya cepat.

“Ibuknya Rafi, mangke kersane dipendet enggeh,”

Ibuknya Rafi adalah tetangga Mbak Sur juga. Menurut cerita Mbak Sur ibuknya Rafi sedang bingung cari kerjaan karena suaminya sering libur.

Saya tersenyum. Luar biasa Mbak Sur, ia benar benar punya peranan penting bagi orang- orang sekitarnya.

Betapa solidaritas, bagi- bagi rezeki juga pekerjaan dilakukan Mbak Sur tanpa banyak bicara. Tanpa teori yang muluk-muluk ia menjadi motor bagi orang-orang sekitarnya untuk terus berjuang dan berdaya dalam menghadapi tantangan hidup yang kian berat.

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Tanpa banyak retorika Mbak Sur mengajak orang sekitarnya bahwa kebaikan bisa dilakukan lewat hal-hal kecil di sekitar kita. Kebaikan yang satu akan menular pada kebaikan yang lain dan semua dilakukan lewat hal hal sederhana.

Mbak Sur memberikan pelajaran bahwa setiap langkah yang dilakukan tidak sekedar untuk mencari nafkah, tapi juga bagaimana merajut tali kebersamaan, saling menguatkan dan saling memberikan manfaat. Karena seperti kata sebuah nasehat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

“Ibuk kuat jalan agak jauh?” tanya anak saya . Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Stasiun MRT Bencoolen. Sebuah stasiun yang paling dekat dari hotel kami.

“Wah ngenyek kamu Le, ibuk tiap hari jalan lho.. minimal 4000 langkah,” kata saya sambil tertawa diikuti anak saya.

Tapi benar lho. Setiap hari saya selalu upayakan jalan, jalan dan jalan. Menurut rekomendasi dari berbagai sumber idealnya satu hari kita berjalan sekitar 10.000 langkah. Tapi saya tidak sampai sebanyak itu,  sekuatnya saja, yang penting gerak terus. Setiap hari jalan dari ruang guru, perpustakaan dan kelas-kelas total bisa mencapai hampir 4000 langkah.

Jalan kaki. Nah, ternyata aktivitas satu ini banyak sekali kami lakukan di Singapura. Ya, kemana-mana kami banyak jalan atau naik MRT. Di samping murah, nyaman kami juga lebih banyak waktu untuk berbincang bincang.

Banyak berjalan kaki di Singapura, dokumentasi pribadi

Berjalan tidak terasa melelahkan karena banyak sekali pejalan kaki di sini. Tata kota yang bersih dan nyaman membuat jalan kaki terasa mengasyikkan. Sambil ngobrol kami bisa melihat pemandangan di sekitar kami.

“Kemana kita hari ini?” tanya saya sambil terus melangkah.

“Kita ke stasiun, lalu naik MRT arah Bayfront,” jawab anak saya sambil membuka map di HP nya.

Ya, hari itu kami akan menuju kawasan Marina Bay, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Singapura.

Melihat map di Garden Bay, dokumentasi pribadi

Di stasiun Bencoolen kami segera naik MRT. Setelah beberapa pemberhentian sampailah kami di Bayfront, sebuah stasiun dekat area Marina Bay.

Pagi di Marina Bay terasa begitu segar. Matahari bersinar cerah. Dari kejauhan pemandangan teluk yang berwarna biru tampak begitu indah. Airnya beriak lembut diterpa angin pagi. Marina Bay Sands berdiri megah dengan tiga tiangnya yang menjulang, dan dibagian atasnya dihias oleh Sands Sky Park, sebuah kapal yang melayang di angkasa.

Pagi di Marina Bay, dokumentasi pribadi

Di sekelilingnya taman hijau Gardens by the Bay menawarkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Supertree Grove, pohon-pohon baja raksasa yang dililit tanaman hidup berdiri perkasa dengan dihiasi kicauan  burung di sekitarnya. Banyak orang yang berolahraga raga atau berjalan- jalan seperti yang kami lakukan pagi itu.

Pohon raksasa di Marina Bay, dokumentasi Zahri

 Di hari sebelumnya sebenarnya kami sudah datang ke Kawasan Telok Ayer yang berada di seberang Marina Bay. Jadi pagi itu, dari kejauhan kami bisa memandang kawasan Telok Ayer dari Marina Bay.

Sands Sky Park di malam hari, dokumentasi Zahri

Kawasan ini benar-benar hidup ketika senja tiba. Saat matahari mulai terbenam, kota mulai bercahaya. Lampu-lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Central Business District mulai bersinar, menciptakan kerlip gemerlap di atas air. 

Perahu yang berjalan di atas air sambil membawa para wisatawan membuat pemandangan terasa begitu syahdu. 

Singapore Flyer, dokumentasi Zahri

Dari kejauhan tampak Singapore Flyer berdiri perkasa. Singapore Flyer adalah sebuah bianglala raksasa setinggi 165 meter yang dengan wahana ini kita bisa melihat  pemandangan 360 derajat kota Singapura, termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia saat cuaca cerah. 

Di antara berbagai bangunan yang ada, tampak Merlion berdiri tegak menjadi ‘penjaga’ dan menyemburkan air dari mulutnya dengan tenang. Merlion seolah saksi perpaduan antara mitos dan modernitas yang ada di Marina Bay.

Di sekitar patung Merlion, dokumentasi pribadi

Tiga hari di Singapura membuat kami semakin rajin berjalan kaki. Aplikasi penghitung langkah di HP saya menunjukkan angka lebih dari 10 ribu langkah tiap harinya.

Aih, jalan kaki benar benar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan, apalagi bersama orang tersayang.

Sepulang jalan- jalan saya langsung sholat, selonjor di hotel sambil ngobrol dan ngeteh bersama anak saya.

“Ibuk besok Minggu dijemput jam berapa?”sebuah notif pesan masuk di WhatsApp saya. Dari anak saya di Malang. Saat itu hari Sabtu, hari ketiga saya di Singapura.

“Menurut rencana pesawat tiba di Juanda jam sembilan , Le,”

“Baik, besok kami tunggu di Juanda,” jawabnya lagi.

Malam hari kami segera packing- packing. Ya, semanis apapun perjalanan, semua harus berakhir. Besok dengan pesawat pukul setengah delapan saya akan terbang ke Juanda sementara anak saya langsung kembali ke Tokyo.

“Ibuk jaga kesehatan ya, jangan lupa olah raga, nanti kita jalan-jalan lagi,” kata anak saya di bandara.

“Iya Le, baik-baik di negeri orang, jaga diri, jangan lupa sholat,” kata saya terharu.

Sore di Telok Ayer, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lebih kami berpisah karena gate kami berbeda. Ada haru yang terasa dalam hati. Sungguh, perjalanan ini sangat memukau , menyenangkan dan mengharukan. Tuhan Maha Baik. Dia telah memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan perjalanan yang tak pernah saya bayangkan.

Di balik keramaian bandara Changi yang tak pernah tidur, kami pun melangkah menuju destinasi masing-masing. Sebelum masuk pesawat saya sempatkan melihat aplikasi penghitung langkah kaki di HP. Lima ribu langkah lebih untuk pagi ini. 

Selamat tinggal, Singapura. Terima kasih telah menjadi saksi betapa Tuhan menghadirkan keajaiban dalam bentuk pertemuan ibu dan anak yang begitu dirindu. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertualang lagi di hari-hari mendatang.

Salam jalan-jalan…

Jelajah Singapura, Mengunjungi Masjid Malabar dan Masjid Sultan di Kampong Glam

Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya ditawari anak saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Ceritanya dia mendapatkan cuti dan ada sesuatu yang harus dikerjakan di Singapura. Karena sudah dekat Indonesia, dan belum pernah ke sana, saya diajak ketemuan di Singapura.

Terus terang saya tidak begitu berani. Di samping karena jauh, saya belum pernah sekalipun keluar negeri. Tapi karena yang mengajak sangat bersemangat akhirnya dengan menguatkan tekad sayapun berangkat.

Skenarionya, saya berangkat dari Juanda  sementara anak saya berangkat dari Tokyo dan pukul sepuluh malam waktu Singapura kami bertemu di Changi Airport. 

Changi Airport , dokumentasi pribadi

Hari yang dinantikan tiba. Setelah bertemu di Changi kami langsung menuju hotel yang terletak di kawasan Queen St tidak jauh dari Stasiun MRT Bencoolen.

Setelah istirahat semalam, pagi hari sekitar jam setengah sepuluh kami keluar dari hotel. Matahari bersinar redup karena sebagian tertutup mendung, suasana tidak begitu panas sehingga jalanan terasa nyaman.

Banyak pejalan kaki, dokumentasi pribadi

“Kita kemana Le?” tanya saya pada anak saya yang full menjadi ‘pemandu wisata’ selama kami di Singapura.

“Ayo, jalan-jalan ke Arab St, sambil cari makanan khas Indonesia,” katanya. Aha, hari itu kami mulai  jelajah Singapura.

Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, jalanan yang teratur dan bersih serta lalu lalang orang -orang yang tampak begitu sibuk. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah di Singapura banyak sekali pedestrian. Trotoar demikian nyaman dan bersih, sehingga nyaman untuk berjalan kaki.

Suasana jalan di pagi hari, dokumentasi pribadi
Jalan Victoria , dokumentasi pribadi

Ada banyak manusia dari berbagai bangsa. Buktinya saat bersimpangan dengan orang lain, selalu terdengar dialog dalam berbagai  bahasa. Ada bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India , Thailand bahkan Jawa Timuran. Wah,  benar- benar menarik.

Kendaraan kecil dan besar lalu lalang di jalan raya.  Lalu lintas lancar, dan uniknya saya hanya sesekali menjumpai sepeda motor. Mungkin karena banyak yang memilih menggunakan MRT di Singapura, atau barangkali juga karena jalan yang kami lalui adalah jalan-jalan besar seperti Victoria St, Bras Basah juga Bencoolen.

Kami terus berjalan. Memasuki wilayah Kampong Glam suasana mulai terasa ramai. Sekilas bau aroma parfum atau dupa Arab mulai menerpa. Mengingatkan saya ketika masuk daerah Embong Arab di Malang.

Sebuah sudut di Kampong Glam, Dokumentasi pribadi

Kampong Glam atau Kampung Gelam adalah nama yang berasal dari Bahasa Melayu yang merujuk pada nama tanaman yang dulu banyak tumbuh di sini yaitu pohon gelam (Melaleuca cajuputi atau paperbark tree). Pohon gelam ini banyak digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat kapal, obat, hingga bumbu masak.

Jalan Arab, dokumentasi pribadi

Kampong Glam sering disebut juga Arab Street dan dikenal sebagai kawasan Melayu atau Muslim di Singapura yang kaya akan warisan budaya dan tempat menarik seperti Masjid Sultan, Istana Kampong Glam, dan Haji Lane. 

Niat semula untuk mencari makanan Indonesia langsung batal ketika semerbak aroma martabak menghentikan langkah kami untuk segera mengajak mampir.

” Di sini saja ya?” kata anak saya sambil mencari tempat duduk. Rupanya ia sudah  lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan roti sisa semalam.

Tanpa menunggu lama saya ikut masuk sebuah tempat makan yang catnya didominasi dengan warna kuning.

Kedai di sekitar Kampong Glam, dokumentasi pribadi

Kami segera memesan jus apel, jus semangka serta satu piring martabak.

Only one?” tanya sang penjual heran, demi melihat pesanan martabak yang cuma sepiring.

Only one,” jawab anak saya.

” Tidak tambah nasi tah? ” tanya saya setengah berbisik. Makan sepiring martabak untuk dua orang mana kenyang pikir saya.

Tapi tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Satu porsi besar martabak dalam wadah serupa daun pisang. Ah ya, kedai ini bernama Banana Leaves, karenanya piring atau wadah makanannya berbentuk daun pisang.

Begitu martabak diletakkan dimeja, kami langsung terkesima. Waow, porsinya besar sekali. Satu piring besar martabak yang sudah dipotong- potong, masih ditambah semacam kuah kari dan kentang. Mantap nian.. untung tidak tambah nasi, pikir saya.

Martabak , dokumentasi pribadi

Rasa lelah karena berjalan kaki ditambah lapar membuat hidangan martabak cepat berpindah ke perut kami. Jus membuat perut kami kian kenyang, dan ini waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan.

Jelang sholat Dhuhur kami menuju ke sebuah masjid yang terletak di persimpangan Victoria Street dan Jalan Sultan di Kampong Glam. Masjid Malabar, namanya. Masjid ini didirikan oleh komunitas Muslim Malabar dari India Selatan dan diresmikan tahun 1963. 

Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Ketika Memasuki masjid Malabar siang itu suasana begitu sepi. Hanya ada dua petugas masjid dan dua turis yang melihat lihat di aula masjid, selain saya dan anak saya yang mau melaksanakan sholat dhuhur.

Sebuah keteledoran yang saya lakukan adalah lupa membawa mukena. Karena masjid tidak menyediakan mukena,  akhirnya sholat Dhuhur siang itu saya mengenakan gamis yang disediakan dekat lift.

Dekat lift masjid, dokumentasi pribadi
Bagian samping Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Setelah sholat dan mengambil foto-foto, kami keluar dari masjid untuk menyusuri jalan Victoria atau Victoria St. 

Ternyata tidak jauh dari Masjid Malabar ini terdapat komplek pemakaman tua bagi masyarakat Islam. Menurut keterangan, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh sejarah penting termasuk keturunan Sultan Johor.

Komplek pemakaman muslim, dokumentasi pribadi

Areanya cukup luas. Karena dekat dengan tempat pemakaman, maka jalan di sini di namakan Jalan Kubor (kuburan).

Berbeda dengan Masjid Malabar, Masjid Sultan mempunyai ukuran yang lebih besar. Masjid ini berlokasi di Jl Muscat masih dalam wilayah Kampong Glam. 

Arsitektur Masjid Sultan dan Masjid Malabar mempunyai kemiripan, karenanya Masjid Malabar dinamakan ‘sepupu kecil’ Masjid Sultan.

Masjid Sultan merupakan masjid utama yang dibangun tahun 1824 dan menjadi pusat kegiatan komunitas muslim Melayu. 

Bagian dalam Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Kami menjalankan sholat Ashar di masjid ini. Berbeda dengan Malabar, Measjid Sultan suasananya ramai. Banyak pengunjung yang akan menunaikan sholat. Seperti di Malabar, tempat untuk jamaah laki-laki dan perempuan terletak di lantai yang berbeda.

Habis sholat, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Akhirnya perjalanan kami tertahan sambil sejenak menunggu hujan berhenti. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil foto-foto bagian dalam maupun sekitar masjid. 

Sudut lain dari Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Sangat menyenangkan. Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang bergerak tak kenal henti, kunjungan ke Masjid Malabar dan Masjid Sultan seolah menjadi oase penyejuk jiwa di hari pertama perjalanan ini. 

Tempat jamaah perempuan di Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Selain untuk menunaikan kewajiban sholat, momen ini adalah kesempatan berharga untuk sejenak berhenti, menyepi, dan meresapi ketenangan yang menyapa di balik pintu-pintu, jendela dan ornamen masjid yang begitu khas. Sungguh, awal petualangan yang menyenangkan dan besok masih ada hari untuk membuat cerita yang lain lagi.

Salam jalan-jalan..😊

Bujuk Rayu, Tentang Sedapnya Rasa dan Rayuan Aroma

“Jangan coba-coba merayuku”  balas saya dalam sebuah chat di grup perpesanan siang itu. Emoticon tertawa saya sematkan di bagian akhir.

He..he.. mengapa seperti itu? 

Tiba-tiba saja hari itu teman- teman mengajak maksi di sebuah kedai. Bujuk Rayu namanya. Dari namanya saja rasanya sudah menggelitik. Ada nuansa hangat, genit sekaligus menggoda.

“Letaknya dimana?” tanya saya

“Pasar Klojen, yang dulu Kopi Klojen,” jawab teman saya.

Aha,  dekat sekali. Pasar Klojen hanya sekitar lima menit dari sekolah. Jadi bukan dekat, tapi duekat. Kopi Klojen dulu pernah menjadi tempat jagongan kami. Berubah nama? Wah, harus dicek bareng ini..

Kedai Bujuk Rayu yang berlokasi di daerah Pasar Klojen, sumber gambar: tiktok kedai Bujuk Rayu

Ketika jam maksi tiba, tanpa menunggu lama kami menuju kedai Bujuk Rayu. Sebagian naik grab, sebagian naik motor. Tepat seperti yang diperkirakan, sepuluh menit kami sudah berkumpul di kedai, meski formasi kurang lengkap karena seorang teman berhalangan hari itu.

Suasana ramainya maksi sangat terasa. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengunjung kedai di jam itu. Maklumlah, jam dua belas siang adalah jam yang tepat untuk mengisi perut bersama.

Menurut pengamatan saya,  mungkin juga pengunjung yang banyak ini dikarenakan ada pertemuan dari komunitas tertentu.

“Enaknya pesan apa?” 

Berempat kami menekuni daftar menu yang yang ada. Senyum kami langsung mengembang.

 He..he… Nama menunya unik, dan memancing rasa ingin tahu. Coba bayangkan, nasi karam, nasi ceria, nasi rayu dan nasi sayang.

Teh kampung, dokumentasi pribadi

“Apa ya? ” tanya saya bingung. Asli. Saya tidak mengerti makanan apa yang disajikan kedai ini.

Nasi karam itu apa? Saya pikir semula nasinya banyak disiram kuah sehingga nasinya karam. Pastinya soto atau rawon.

Lha nasi rayu itu apa? Nasi ceria? Nasi sayang? Aih..

“Langsung pesan di resepsionis saja, sambil tanya,” kata teman saya. Sebuah cara yang jitu memang , karena setiap nama hanya resepsionis yang bisa menjelaskan. 

Dengan menahan senyum kami menerima penjelasan dari resepsionis. Nasi rayu artinya nasi rawon (tapi nanti akan kami tanyakan, yu nya itu apa), nasi karam artinya nasi kare ayam dan nasi ceria berarti nasi ceker, ahaay…

Bersama owner Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ahfi

Sungguh sebuah cara yang kreatif dalam mengemas nama- nama hidangan.  Istilah yang unik , menggelitik membuat pembeli tertarik untuk bertanya dan akhirnya membeli.

Setelah diskusi sejenak akhirnya kami memesan tiga nasi rayu alias rawon, tiga mendol, dan telor asin. Minumnya teh kampung hangat dan es teh kampung.  kampung. Teh kampung? Ya, maksudnya teh biasa, teh dengan rasa kebanyakan yang sering kita nikmati.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang, tiga nasi rayu dengan ditemani mendol dan telor asin dalam piring kecil. Tak ketinggalan tahu petis sebagai desert. Sedep pol.  Petisnya sangat terasa.

Suapan demi suapan ditemani obrolan membuat tak terasa hidangan habis tak bersisa. 

Luar biasa. Rasa lapar, vibes yang nyaman, dan keramahan layanan membuat jagongan di Bujuk Rayu terasa demikian singkat. Apalagi kami juga diajak ngobrol dengan ownernya yang ramah.

Sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma

“Wah, sudah jam satu, ayo kembali ke sekolah,” kata salah satu di antara kami. Bergegas kami menuju parkiran. Dua orang naik sepeda motor, dua orang naik miktolet.

Menu di Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ami

Aih, siang yang menyenangkan. Perut kenyang dan hati senang. 

Sst, sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma kedai Bujuk Rayu..