Tahukah kalian di era dimana terjadi kelimpahan informasi seperti sekarang ini justru semangat belajar kian menurun? Benar- benar terjadi paradoks, di era di mana sumber belajar melimpah, semangat untuk maju kian lemah.
Ada banyak hal yang menyebabkan hal ini seperti:
1. Terlalu banyak sumber dan platform belajar sehingga siswa sibuk memilah dan memilih tapi tak kunjung memulai.
2. Terlalu banyak distraksi. Media untuk belajar (HP) adalah media yang sama untuk bersismed atau betmain. Jadi tengah tengah belajar sering ada notifikasi yang “membuyarkan” konsentrasi.
3. Terlalu tegang dan takut menghadapi ujian. Saat ujian (TKA) yang semakin dekat membuat siswa makin tegang dan mengalami kelelahan mental.
4. Tidak bisa menentukan skala prioritas dan melakukan manajemen waktu. Mengejar kesenangan sesaat dengan terus bermain akan membuat tugas- tugas terbengkalai.
Nah, berikut adalah tips praktis menghadapi ujian (seperti TKA) di tengah paradoks pilihan dan godaan digital yang luar biasa:
Siap hadapi ujian, gambar by AI chat gpt
1. Tetapkan “Komitmen Tunggal” untuk Sumber Belajar. Jangan jadi “kolektor buku” atau “pengoleksi akun platform”. Pilih maksimal 1-2 sumber utama lalu commit untuk menghabiskan sumber itu sampai tuntas. Percayalah, mengerjakan 1 buku 5 kali lebih baik daripada memiliki 5 buku tapi tidak ada yang selesai.
2. Gunakan Teknik “Atomic Habits” (Kebiasaan Kecil)
Ini untuk mengatasi Rasa Malas Memulai dan Rasa Kewalahan. Mengerjakan satu atau dua soal setiap hari adalah salah satu cara membangkitkan diri dari rasa malas.
3. Rekayasa Lingkungan (Bentengi Diri dari Distraksi) terutama untuk mengatasi Godaan Digital. Saat belajar, aktifkan mode pesawat atau gunakan aplikasi focus mode di HP.
Langkah kecil yang konsisten lebih baik daripada lompatan besar yang terhenti
4. Jangan langsung baca pembahasan! Sebelum belajar satu topik, coba kerjakan beberapa soal acak dulu (meskipun belum diajari). Proses ini memaksa otak untuk “gagal” terlebih dahulu. Setelah itu, baru baca materi atau pembahasannya.
Nah, pada intinya di era banjir informasi ini, strategi belajarnya harus berubah. Bukan lagi “siapa yang punya akses terbanyak”, tetapi “siapa yang bisa menyaring dan konsisten”.
Di era seperti ini, kualitas dan konsistensi mengalahkan kuantitas.
Satu soal yang dianalisis dengan benar sampai paham konsepnya lebih berharga daripada 10 soal yang dikerjakan asal-asalan sambil buka HP.
Paradigma belajar harus diubah, bukan lagi “siapa yang punya akses terbanyak”, tetapi “siapa yang bisa menyaring dan konsisten”.
Ingat, konsisten sangat penting, seperti sebuah kata bijak bahwa: “langkah kecil yang konsisten lebih baik daripada lompatan besar yang terhenti”.
Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar lapar puasa,
Ada anak bertanya pada bapaknya, tadarus tarawih apalah gunanya
Syair lagu Ada Anak Bertanya pada Bapaknya
Di antara banyak lagu religi, lagu satu ini paling mempunyai tempat di hati saya. Dulu bapak sering menyetel lagu ini karena beliau penggemar Bimbo.
Ya, ini adalah salah satu lagu religi dari Bimbo. Syair lagu diciptakan oleh Taufiq Ismail dan dinyanyikan oleh Bimbo di kisaran tahun 1980. Lagu ini dinyanyikan lagi oleh Tompi pada tahun 2023.
Lagu yang sederhana tapi selalu menimbulkan rasa haru, bukan karena melodinya yang syahdu, tapi juga mengingatkan kita bahwa sebelum guru di sekolah ada figur yang menjadi guru anak di rumah yaitu orang tua.
Seperti judulnya lagu ini berisi tentang dialog anak dengan bapaknya. Di mana si anak bertanya untuk apa kita harus berpuasa? Untuk apa kita harus tadarus dan tarawih?
Dan dengan sederhana Sang Bapak menjawab bahwa puasa mengajarkan kita kerendahan hati lewat rasa lapar, tadarus artinya membaca sekaligus memahami Al Qur’an, tarawih adalah ibadah sholat di bilang Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Ilahi.
Dialog yang sederhana namun penuh makna. Dari percakapan ini ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil, seperti:
1. Dialog antar generasi yang tulus
Lagu ini menggambarkan momen langka dan berharga terutama saat ini. Di era serba cepat dan dunia seolah dalam genggaman dialog antara orang tua dan anak terasa kian jarang. Ya, anak sudah mempunyai ‘guru’ yang ada dalam perangkat digital mading-masing, sehingga jarang ngobrol atau dialog dengan orang tua
Ramadhan adalah bulan yang mempertemukan keluarga, terutama saat sahur, berbuka, atau tarawih. Di saat-saat inilah “ruang dialog” itu sangat terasa. Anak bertanya dengan penuh keingintahuannya, sementara orang tua menjawab dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.
2. Transfer nilai, bukan sekadar pengetahuan
Pertanyaan anak dalam lagu itu tersebut bukan sekadar mencari informasi faktual, ia sedang mencari makna.
Di sinilah peran orang tua sebagai guru kehidupan memberikan jawaban bahwa puasa bukan hanya untuk menahan haus dan lapar tapi mengajar kita tentang empati, kesabaran dan ketaatan.
Proses transfer nilai inilah yang akan membentuk karakter dan akan selalu diingat anak di masa yang akan datang.
3. Keteladanan (Uswatun Khasanah) Sang Bapak
Mungkin tidak digambar kan jelas dalam lagu itu, tapi lewat dialog dengan sang bapak terjadilah “ruang kelas”, dan inti dari sebuah ruang kelas adalah keteladanan. Ketika anak bertanya, bukankah ia juga mengamati mengapa bapak saya harus bangun djnpagi buta untuk sahur, menahan haus dan lapar dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan?
Dan sebuah teladan lebih baik daripada seribu nasehat.
Keluarga adalah tempat bersemainya pendidikan yang paling utama, karena di sanalah anak-anak mengalami proses ‘among’ atau asah, asih, asuh dari orang tuanya
Ki Hadjar Dewantara
Singkat cerita betapa lagu Ada Anak Bertanya pada Bapaknya mengingatkan kita tentang peran keluarga sebagai ruang kelas yang pertama bagi anak. Keluarga adalah sekolah pertama anak, dimana lewat keteladanan dan interaksi orang tua memberikan pendidikan pertama bagi anak anaknya.
Tanpa kurikulum formal, tapi cara berkomunikasi, menghormati serta saling menyayangi yang dicontohkan orang tua akan terus dibawa oleh si anak sepanjang hayat. Seperti nasehat dari Ki Hadjar Dewantara bahwa: “Keluarga adalah tempat bersemainya pendidikan yang paling utama, karena di sanalah anak-anak mengalami proses ‘among’ atau asah, asih, asuh dari orang tuanya.”
Awal Pebruari adalah hari yang begitu sibuk di Bintaraloka. Ya, sejak tanggal 2 hingga 9 Pebruari siswa akan menjalani ujian praktik sebagai salah satu syarat kelulusan dari SMP Negeri 3 Malang.
Ujian praktik ini diadakan dalam waktu satu Minggu dan diikuti sekitar 280 siswa. Semua mapel diuji praktekkan dengan menggunakan semua ruang kelas sembilan
Pemandangan berbeda sangat tampak sejak kita masuk dari lorong depan kelas 9.1 di pekan ujian ini.
Semangat persiapan ujian, dokumentasi pribadi
Semangat! Itu yang terasa di mana-mana.
Di depan ruang- ruang ujian siswa demikian sibuk. Ada yang menyanyikan lagu-lagu wajib, menghafalkan teks dialog, orasi, deklamasi, termasuk juga presentasi tentang pembuatan topeng Malangan.
Semangat persiapan ujian, dokumentasi Bintaraloka Siap mengikuti ujian, dokumentasi pribadi
Di tempat lain, siswa dalam balutan busana daerah Jawa siap menyajikan drama. Berbagai macam properti disiapkan untuk tampilan kelompok mereka.
Selesai? Belum. Di ruangan lain peralatan band sudah siap untuk dimainkan siswa. Di depan ruang tersebut siswa menyiapkan diri agar bisa tampil maksimal saat mendapat giliran.
Siswa tampak demikian sungguh-sungguh. Tentu saja, mereka ingin mendapatkan nilai yang maksimal sekaligus memberikan persembahan karya yang terbaik untuk sekolah.
Siap ujian praktik matematika, dokumentasi pribadi
Berbagai materi diujikan pada siswa, seperti; peribadatan dan membaca kitab suci (mapel agama), praktik olah raga, uji larutan asam basa dan praktikum ayunan bandul (mapel IPA), penggunaan konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari, keberanian berpendapat dan hafalan lagu wajib ( mapel PKN), membuat vlog “A Day in My Life” ( mapel TIK), termasuk juga membaca deklamasi, dialog juga drama untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.
ujian praktik IPS, dokumentasi Bintaraloka
Kemeriahan ujian praktik sangat terasa ketika kita memasuki area ujian seni dan bahasa. Ya, di sana para siswa bersama kelompok band mereka membawakan lagu-lagu bergenre pop, jazz, rock, hingga dangdut dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Bukan sekedar untuk mencari nilai yang bagus, penyelenggaran ujian praktik memiliki banyak hal baik yang merupakan investasi berharga pada diri siswa. Hal baik tersebut misalnya:
1. Menggali dan Melestarikan Budaya Bangsa
Melalui ujian bahasa Jawa siswa belajar untuk mencintai warisan leluhur. Lewat drama bahasa Jawa mereka tidak hanya belajar bahasa daerah, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur, unggah-ungguh, tata krama, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Deklamasi, ujian praktik Bahasa Indonesia, dokumentasi Bintaraloka Ujian praktik Bahasa Jawa, dokumentasi Bintaraloka
Melalui puisi dan deklamasi siswa belajar menghargai seni dan sastra. Deklamasi puisi mengajarkan mereka untuk meresapi keindahan bahasa, mengekspresikan perasaan, dan memahami makna mendalam dari setiap rangkaian kata. Hal tersebut menumbuhkan kepekaan estetika dan emosional.
2. Membangun Karakter dan Mental yang Tangguh
Dengan ujian praktik olah raga, orasi, presentasi dan dialog siswa belajar tentang keberanian, rasa percaya diri sekaligus bagaimana berkomunikasi di depan orang banyak. Lewat kegiatan ini juga mereka belajar tentang sportivitas, kerjasama tim, merayakan kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada.
Persiapan ujian praktik PJOK, dokumentasi pribadi Dialog, ujian praktik Bahasa Inggris, dokumentasi Bintaraloka
3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
Lewat ujian matematika mereka belajar bagaimana menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Matematika realistik mengajarkan siswa bahwa matematika tidak hanya tentang rumus di kertas, tetapi ada di mana-mana.
Matematika realistik , dokumentasi pribadi
Lewat ujian di laboratorium siswa belajar bagaimana mengasah keterampilan proses sains, mulai dari merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan.
Ini melatih mereka untuk berpikir logis, sistematis, dan tidak mudah percaya pada informasi tanpa bukti.
Ujian praktik IPA, dokumentasi Bintaraloka
Tidak semua eksperimen akan langsung berhasil, dari sini siswa juga akan belajar dari kegagalan. Mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, dan akan segera melakukan perbaikan.
4. Menanamkan Nilai-nilai Spiritual dan Sosial
Lewat ujian praktik agama siswa belajar untuk memperdalam penghayatan agama sekaligus toleransi dan saling menghormati. Ya, lingkungan sekolah yang beragam membuat ujian agama dilakukan bermacam-macam sesuai dengan agama yang dipeluk siswa.
Siswa dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.
Membaca Al Quran , dokumentasi Bintaraloka
Akhirnya secara keseluruhan, rangkaian ujian praktik ini mengajarkan satu hal yang sangat mendasar bahwa belajar adalah untuk kehidupan, bukan hanya untuk ujian.
Lewat kegiatan ini siswa belajar menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual , tetapi juga terampil dan berkarakter baik.
Ujian praktik PKN, dokumentasi Bintaraloka
Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia nyata yang kompleks, di mana yang dibutuhkan bukan hanya hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.
Suatu hari di ruang kelas. Siswa duduk dengan kelompoknya, berpasang-pasangan dan tampak asyik berdiskusi. Ada dua bungkusan permen di hadapan mereka. Di setiap bungkusan tertera harga, dan keduanya sedang menghitung berapa harga satuan tiap permen.
“Permen jenis pertama kita misalkan x ya?” kata anak pertama dalam sebuah kelompok. Temannya mengangguk langsung menulis di buram
“Berarti permen kedua kita misalkan y,” tambah anak kedua sambil meneruskan hitungan. Dua buah persamaan matematika terbentuk dan keduanya langsung menyelesaikannya dengan berbagai metode yang pernah dipelajari yaitu eliminasi, subtitusi , campuran dan metode grafik.
Siswa mengerjakan ujian praktik matematika, dokumentasi pribadi
Diskusi terus berlangsung dan senyum kelegaan tampak ketika penyelesaian diperoleh. “Berarti harga permen jenis pertama lima ratus, jenis kedua tiga ratus,” kata mereka setengah berbisik supaya jangan sampai mengganggu peserta yang lain.
“Yes, ayo gambar grafiknya,”
Selembar kertas milimeter dikeluarkan, penggaris, pensil spidol mulai ikut berbicara. Ya, tugas mereka sekarang membuat grafik penyelesaian soal yang ada.
“Bu, apakah permen boleh dikeluarkan dari plastik?” tanya seorang anak pada guru pengawas ujian. “Tidak boleh, karena kalau salah masuk, nanti kalian akan mendapatkan hasil pecahan,” jawab Bu Guru.
“Walah..,” tangan yang sudah hendak membuka kantong plastik tempat permen langsung batal. Daripada mendapat hasil pecahan, pikirnya.
Di atas adalah suasana ujian praktik matematika yang kami adakan di dalam satu minggu ini. Ujian dilaksanakan di bulan Pebruari supaya sesudahnya kami bisa lebih fokus untuk persiapan TKA juga ujian tulis sekolah.
Jika di ujian praktek sebelumnya kami menguji ketrampilan siswa dalam menggunakan alat alat matematika seperti jangka, busur, penggaris dan meminta siswa untuk menggambar transformasi, kali ini kami mencoba menerapkan matematika realistik dalam ujian praktik.
Apakah matematika realistik itu?
Matematika Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan matematika sebagai aktivitas manusia yang harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari atau situasi nyata.
Pendidikan Matematika Realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) dicetuskan pertama kali oleh Prof. Hans Freudenthal di Belanda pada tahun 1971.
Di Indonesia, pendekatan ini diterapkan lewat program Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) sekitar tahun 1998-1999 dan dipelopori oleh tim dosen dari berbagai LPTK yang belajar langsung di Belanda.
Unsur- utama dalam Matematika Realistik adalah penggunaan masalah kontekstual sebagai titik awal, pengembangan model sendiri oleh siswa (modelling), kontribusi aktif siswa, interaktivitas, dan keterkaitan antar topik matematika. Pendekatan ini menekankan bahwa matematika adalah aktivitas manusia, bukan sekadar rumus.
Materi yang kami ambil dalam ujian praktik kali ini adalah penggunaan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel untuk memecahkan masalah.
Dalam pelaksanaannya pada siswa diberikan dua buah bungkusan yang berisi permen. Tiap bungkus berisi dua jenis permen dengan jumlah yang berbeda dengan bungkusan yang lain, dan ada harga yang tertera di setiap bungkus.
Media ujian praktik matematika, dokumentasi Fathim
Contoh: bungkus pertama berisi permen A lima buah dan permen B dua buah dengan harga Rp 1900,00, sedangkan bungkusan kedua berisi empat permen A dan tiga permen B seharga Rp 1800,00. Pada siswa diminta mencari harga tiap butir permen, menjawab beberapa pertanyaan serta menggambar grafik penyelesaian soal tersebut di atas.
Soal dikerjakan dalam waktu 120 menit secara berkelompok.
Nah, mengapa pelaksanaan ujian praktik matematika di atas bisa dikatakan menggunakan pendekatan matematika realistik?
1. Konteks Nyata dan Bermakna
Penggunaan permen adalah merupakan konteks nyata dan sangat familiar bagi siswa. Masalah menghitung harga satuan adalah masalah yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Modelling Matematika
Dalam ujian ini untuk mencari harga satuan siswa diajak untuk mentransformasi situasi nyata (dua paket permen dengan harga berbeda) menjadi model matematika berupa sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV).
· Contoh:
Paket A: 5 permen A dan 2 permen B harga Rp 1900
Paket B: 4 permen A dan 3 permen B= harga Rp 1800
dengan memisalkan x = harga permen A dan y = harga permen B akan muncul persamaan:
5x + 2y = 1900
4x+ 3y = 1800
3. Kontribusi aktif siswa dalam proses penemuan dan penyelesaian
Di sini siswa bisa menggunakan berbagai strategi sendiri (coba-coba, eliminasi, substitusi, grafik atau campuran.
4. Interaktivitas dan Diskusi
Aktivitas mencari harga satuan yang dilaksanakan berkelompok akan mendorong diskusi untuk menemukan hubungan antara paket permen dan persamaan, juga grafik yang sudah dibuat.
5. Keterkaitan antar topik matematika
Dalam proses mencari harga satuan siswa akan banyak menggunakan prinsip aljabar, ataupun persamaan garis lurus ketika mereka menggunakan metode grafik.
Dengan matematika realistik siswa bisa diajak untuk ‘merasakan’ matematika dalam konteks nyata, sehingga pemahaman mereka lahir dari pengalaman, bukan hafalan
Sesudah satu soal selesai, setiap kelompok bisa saling bertukar media untuk menyelesaikan soalBu Bu. Waktu dua jam cukup untuk mengerjakan dua soal, dan yang paling menyita waktu adalah saat pembuatan grafik.
Suasana ujian praktik, dokumentasi pribadi
“Tidak sulit, kami harus teliti saja, “
“Menyenangkan, tidak begitu tegang,” komentar beberapa siswa tentang ujian yang baru saja dilaksanakan.
Akhirnya penerapan matematika realistik dalam ujian praktik tidak hanya bisa menjadi alternatif yang menarik, tapi juga membuka kesadaran siswa bahwa matematika sangat dekat dengan kehidupan kita.
Dengan matematika realistik siswa bisa diajak untuk ‘merasakan’ matematika dalam konteks nyata, sehingga pemahaman mereka lahir dari pengalaman, bukan hafalan, dan inilah yang akan membuat matematika konsep tertanam kuat dalam benak mereka.
Sebuah mobil berwarna biru memasuki area sekolah. Setelah parkir di tempat yang strategis, dua orang turun sambil tersenyum ramah.
“Selamat pagi, kami dari perpustakaan kota,”
Aha.., tanpa penjelasan tersebut sebenarnya kami sudah tahu siapa yang berkunjung dari berbagai tulisan yang ada di mobil.
Ya, hari ini sekolah kami mendapatkan kunjungan dari Perpustakaan Umum Kota Malang dalam bentuk Perpustakaan Keliling.
Mobil layanan perpustakaan keliling, dokumentasi pribadi
Perpustakaan Keliling Kota Malang adalah sebuah layanan dari Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang dengan menggunakan mobil operasional untuk mendekatkan akses buku ke masyarakat, khususnya anak-anak.
Sebuah layanan jemput bola, dimana selain melakukan kunjungan, perpustakaan ini juga beroperasi rutin di beberapa lokasi seperti Alun-Alun Kota Malang dan Taman Merjosari.
Setelah beramah-tamah sejenak, kami langsung menuju perpustakaan sekolah, dan di sana sudah ditunggu oleh siswa dan kader pustaka.
Acarapun dimulai. Dari berkenalan, petugas perpustakaan menjelaskan tentang cara menjadi anggota Perpustakaan Umum Kota Malang. Beberapa pertanyaan muncul dari siswa yang menunjukkan antusias mereka salam mengikuti acara ini.
Membaca bersama, dokumentasi pribadi Membaca bersama , dokumentasi pribadi
Sekitar sepuluh menit kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran film dan peminjaman buku untuk dibaca di tempat.
Adalah sebuah pemandangan menarik ketika melihat siswa duduk bareng di atas karpet sambil menonton film yang diputar di televisi. Ya, generasi sekarang pasti belum tahu sensasinya nonton TV rame- rame seperti yang sering dilakukan para generasi terdahulu (termasuk saya).
Nonton film bareng, dokumentasi pribadi
Begitu film berakhir siswa segera menuju mobil yang berisi penuh buku dan memilih sekaligus membacanya. Sangat menyenangkan. Bukunya begitu beragam mulai dari fiksi maupun non fiksi.
Satu hal membuat saya surprise. Ya, tiba-tibasaya menemukan buku serial Little House on the Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Buku yang lama saya cari dan sudah tidak ada di toko buku manapun.
Tentang Little House on the Prairie, ini adalah serial yang pernah diputar di TVRI di kisaran tahun 1980 an, dan saya adalah salah satu penggemarnya.
Buku Laura Ingalls Wilder, dokumentasi pribadi
Serial klasik Amerika ini mengisahkan kehidupan keluarga Ingalls, Charles, Caroline, dan anak-anak mereka yang berjuang, bertahan hidup, dan membangun kehidupan di Walnut Grove, Minnesota pada tahun 1870-an hingga 1880-an. Serial yang sarat dengan nilai persahabatan, kasih sayang dan kegigihan berjuang.
“Bukunya bagus-bagus,”
“Nonton filmnya asyik,” ungkap beberapa siswa.
Hari yang luar biasa. Lewat kegiatan ini siswa mendapatkan pengalaman baru, sekaligus lebih memahami program-program perpustakaan umum kota Malang yang belum diketahui.
Berfoto bersama di akhir acara, dokumentasi Dwikaa
“Sekarang di perpustakaan juga ada kitab kuning dan bacaan dalam huruf Braille,” ungkap Pak Ichwan yang menjadi narasumber pagi itu.
Ketika saya bertanya ada berapa sekolah yang harus dilayani Perpustakaan Keliling ini, Pak Ichwan menjawab bahwa ada 400 sekolah dan kelurahan yang akan dikunjungi perpustakaan keliling ini, dan armada yang dikerahkan ada lima buah.
Menurut informasi, perpustakaan keliling ini akan berkunjung setiap satu semester sekali.
Semoga kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.
Hari yang luar biasa.
Semoga dengan kegiatan perpustakaan keliling ini minat baca masyarakat semakin meningkat karena akses baca yang semakin mudah, serta kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.