Ini Film Horor, Jadi Tolong Hargai Saya, Sebuah Review Film “Rumah Dinas Bapak”

“Jadi nonton yang jam berapa?” tanya anak saya Minggu pagi itu. Ia memang berjanji akan mengajak saya melihat Rumah Dinas Bapak, film Dodit yang terbaru.  Demi melihat ekstra film ini ketika kami menonton film Sekawan Limo, saya benar-benar penasaran dengan film ini. 

“Ini horor ‘kan? Jam satu siang saja ya Le..,” kata saya. 

He.. he..sengaja saya pilih jam satu siang karena cuaca terang benderang. 

Aslinya saya memang agak penakut, kurang suka film horor. Tapi karena pemain utamanya Dodit, saya langsung kepingin lihat. Bagaimana bisa tampilan seperti Dodit hendak menakut-nakuti para penonton, pikir saya 

Akhirnya deal, kami menonton film jam 13.15 di Dieng Cyber Mall yang jaraknya kira-kira 15 menit dengan berkendara sepeda motor dari rumah kami.

Dokumentasi pribadi

“Ini film horor, jadi tolong hargai saya,” 

Kalimat itu muncul di awal cerita dan memaksa penonton tertawa melihat gaya Dodit yang sok serius 

Film ini bercerita tentang masa kecil Dodit. Keluarganya harus pindah karena ayah, sang kepala keluarga (diperankan oleh Dodit Mulyanto) mendapat tugas baru di hutan terpencil di kawasan Blitar.

Adegan dibuka dengan pindahan sebuah keluarga menuju daerah lain. Pick up yang berisi berbagai macam barang sudah siap membawa keluarga ini berangkat menuju tempat tugas baru.

Mereka berangkat ke tempat baru pada hari Kamis Kliwon. Ibu (Putri Ayudya), Dodit kecil (Oktavianus Fransiskus), Mbak Lis (Yasamin Jasem), dan Mas Dewo (Elang El Gibran) meski berat hati juga ikut pindah.

Begitu datang di rumah dinas, berbagai pertanda buruk muncul. Tempat yang mereka tinggali ternyata angker dan menyimpan cerita sedih di masa lalu. Rumah mereka ternyata dulunya adalah penjara bagi blandong atau pencuri kayu di zaman penjajahan Belanda.

Di bagian depan rumah terdapat bangunan seukuran kamar yang dulunya dipakai untuk memenjarakan Mimin, kekasih pemilik rumah yang dalam keadaan hamil hingga melahirkan dan meninggal di situ.

Poster dekat pintu masuk bioskop, dokumentasi pribadi

Arwah Mimin yang penasaran selalu melakukan teror pada keluarga yang tinggal di rumah ini setiap hari Kamis Kliwon. 

Akhirnya film ini banyak berisi  teror yang dilakukan Mimin setiap Kamis Kliwon. 

Teror Mimin kian menjadi ketika Mbak Lis melahirkan. Bahkan Mimin berani menculik bayi Mbak Lis dan dibawa ke kamarnya yang merupakan ruangan penjara di rumah itu.

Ketika film dibuka dengan monolog Dodit di atas, saya berpikir pasti film ini tidak begitu menakutkan. Tapi ternyata dugaan saya salah. Film ini terasa menegangkan apalagi settingnya sebagian besar malam hari. 

Sumber gambar : Foto X Dodit Mulyanto, rri co.id

Efek  dari gambar maupun suara berhasil membangun kesan seram film ini. Untungnya ada Kasno dan Sugeng, dua orang pegawai jogowono yang  membuat ketegangan berkurang karena kelucuan mereka.

Kehadiran Mbah Slamet yang menyingkap cerita masa lalu tentang sejarah rumah itu  membuat alur cerita semakin menarik.

Satu hal yang saya catat , bapak, ibu dan Dewo sama sekali tidak pernah diganggu oleh hantu Mimin. Yang sering diganggu adalah Dodit kecil, Mbak Lis, Kasno dan Sugeng. 

Jika diamati, bapak,Ibu, juga Dewo adalah sosok yang lebih tenang dan tidak penakut dibanding yang lain, jadi secara tersirat film ini memberikan pesan bahwa ketenangan dan keberanian membuat makhluk tak kasat mata lebih sulit mengganggu kita.

Sumber gambar : Sonora.id

Meski alur ceritanya amat sederhana, Rumah Dinas Bapak bisa menjadi alternatif hiburan yang menyenangkan bersama keluarga. Film dengan batas usia 13 tahun ke atas ini bisa membuat kita tegang, sekaligus tertawa geli mendengar dialog dan ulah pemain

Gempita MOP 2024 Bintaraloka

Hari Jumat siang itu (2/8) siswa kelas tujuh berkumpul kembali di sekolah setelah mereka dipulangkan agak pagi.  

Setelah Dhuhur siswa tersebut datang kembali ke sekolah dengan seragam Pramuka lengkap, berbagai peralatan yang tersimpan dalam tas ransel plus tongkat yang setia menemani.

Ya, hari itu akan diadakan Masa Orientasi Pramuka di pangkalan SMP Negeri 3 Malang.

Apel pembukaan MOP, dokumentasi Bintaraloka /Naufal

Masa Orientasi adalah agenda rutin Pramuka Bintaraloka yang diadakan setiap awal tahun pelajaran. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kegiatan Pramuka di SMP Negeri 3 Malang sebelum nantinya siswa terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler ini.

Apel pembukaan, dokumentasi Bintaraloka/Naufal

Berbagai kegiatan diadakan dalam acara ini seperti pemberian materi kepramukaan, pendirian tenda, ibadah, pentas seni juga jelajah malam. Jadi selain memperkenalkan kegiatan Pramuka di Bintaraloka, lewat kegiatan ini juga  ditanamkan berbagai karakter baik pada diri siswa.

Kegiatan MOP diawali dengan apel pembukaan yang dilaksanakan pada pukul 13.00. Dalam kesempatan tersebut Ibu Dra Mutmainah Amini selaku pembina apel menyampaikan pesan agar siswa mengikuti semua kegiatan dengan sungguh-sungguh dan mengambil manfaat sebesar besarnya dari kegiatan MOP.

Mendirikan tenda, dokumentasi Bintaraloka/Naufal

Sesudah apel, kegiatan dilanjutkan pengarahan, pendirian tenda dan berbagai kegiatan yang lain sesuai rundown acara.

Setelah mendapatkan berbagai materi kepramukaan, ibadah dan ishoma, kegiatan di malam hari adalah pentas seni. 

Acara pentas seni, dokumentasi Bintaraloka / Naufal

Sebuah acara di mana siswa diberi kesempatan untuk menunjukkan berbagai talenta yang mereka miliki.

Pentas seni, dokumentasi Bintaraloka/ Naufal

Kegiatan  menarik lainnya yang dijalani siswa di malam hari adalah jelajah malam. Lewat kegiatan ini siswa belajar tentang  keberanian,  kerja sama dan kesetiakawanan. Jelajah malam dilaksanakan di sekitar sekolah dengan panduan guru dan Dewan Galang.

Pentas seni, dokumentasi Bintaraloka/Naufal

Dua hari yang begitu sibuk di Bintaraloka. . Lewat berbagai kegiatan yang diadakan siswa  bisa saling mengenal antara satu dengan yang lain dan dalam suasana yang akrab dan menyenangkan.

 MOP ditutup pada hari Sabtu siang dengan apel penutupan yang dipimpin oleh Pak Heri selaku wakasis dan pratama Hanasta.

Pemberrian materi di aula, dokumentasi Bintaraloka/ Naufal
Materi di lapangan, dokumentasi Bintaraloka /Naufal

Akhirnya semoga dengan berakhirnya kegiatan ini siswa akan lebih mengenal dan mencintai Pramuka Bintaraloka, dan ke depan bisa membentuk  generasi yang berjiwa Ta Ci Pa Pa Re Ra He Di Be Su seperti tema MOP tahun ini.

Keterangan: Ta Ci Pa Pa Re Ra He Di Be Su adalah akronim dari Dasa Dharma Pramuka, yaitu:

1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta alam jasih sayang sesama manusia

3. Patriot yang sopan dan perwira

4. Patuh dan suka bermusyawarah 

5. Rela menolong dan tabah

6. Rajin, riang dan terampil

7. Hemat, cermat dan bersahaja

8. Disiplin, setia dan berani

9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Sekotak Bekal Penuh Rasa Cinta

“Le, hari ini ibuk tidak masak, kemarin belum ngisi kulkas. Nanti beli soto saja ya,” kata saya  pagi itu. Jam sudah menunjukkan pukul 06.20. Saya harus cepat cepat berangkat.

Hari Senin selalu identik dengan ketergesaan dan agak malas. Badan rasanya masih mager. 

 Mungkin masih terbawa dengan libur dua hari kemarin. Apalagi suasana  kota Malang sekarang sedang dingin-dinginnya. 

Katanya jika di daerah lain di Indonesia ada dua musim, yaitu kemarau dan hujan, maka di Malang ada tiga musim yaitu kemarau, hujan dan musim maba. 

Musim maba atau mahasiswa baru setiap sekitar Agustus selalu ditandai dengan bediding alis hawa yang begitu dingin. Musim yang membuat tidur terasa enak tapi juga agak malas berkegiatan. Inilah yang menyebabkan kemarin sore kami tidak belanja ke pasar sehingga kulkas jadi kosong.

“Iya Buk, nanti aku belanjakan saja,” kata anak saya.

“Tidak beli soto?” tanya saya .

“Kami masak saja,” jawab anak saya.

“Pinter,” jawab saya sambil tersenyum.

Saya mengambil sejumlah uang di dompet lalu saya berikan pada “anak lanang”.

“Beli tempe, tahu, sayur, lombok, tomat, jangan lupa telor,” kata saya. 

Setelah sedikit memberikan pesan yang lain-lain, bergegas saya menuju sepeda motor yang sudah siap di depan.

Sekitar jam sembilan pagi tiba-tiba sebuah pesan masuk lewat WhatsApp saya.

 Dari anak saya yang kecil. 

“Buk, bekal buat ibuk tak anter ya,” kata pesan itu.

Saya tersenyum, anak- anak tahu kalau saya sering lupa makan, makanya sampai dibuatkan bekal.

Bekal hari itu, dokumentasi pribadi

“Lho kok dibuatkan bekal barang, siapa yang masak?” tanya saya .

“Mas tadi masak, ini tinggal anter, sekalian ke kampus,” jawabnya.

Aih, saya sungguh terharu.

“Iya Le, sampai satpam ibuk di misscall ya,”

Singkat kata bekal sudah sampai ke tangan saya. Sesudah saya letakkan di meja, saya kembali mengajar. Jam sepuluh, ketika saat istirahat tiba, saya segera ke ruang guru untuk menikmati bekal tadi 

Kok ‘antep’ ya, pikir saya sambil membuka tas tempat bekal. Setelah bekal saya keluarkan, olala, ternyata memang diletakkan dalam tupperware besar. Tempat makan bundar dengan diameter kira-kira 25 cm dan ketebalan 5 cm itu penuh dengan makanan. 

Nasi, sambal goreng tempe tahu kecap dan oseng sawi. Hmm, pintar sekali.  Nasinya ditekan- tekan supaya padat sehingga muat nasi banyak. Ooh, ini yang membuat bekal terasa antep, pikir saya.

Ada empat ruang dalam Tupperware. Ruang paling besar diisi nasi, kedua dan ketiga diisi oseng tempe tahu dan sawi dan yang ke empat juga lauk, tapi bentuknya agak lain. 

Saya cermati benar- benar lauk tersebut . Warnanya kuning kecoklatan dengan bentuk persegi. Seperti nugget. Tapi bukan.. kalau nugget ini terlalu lembek..

Setelah saya teliti lagi, alamak, ternyata kue kabin yang bercampur dengan kuah kecap dari sambel goreng tempe tahu.

Kok aneh ya? Karena penasaran, saya segera whatsapp anak saya. “Le, terima kasih bekalnya ya.., enak,”

” He..he.., iya Buk, tadi di bekal juga ada kue kabin. Ibuk kan suka kabin. Buat camilannya..,”

Belum sempat bertanya, ternyata sudah dijelaskan tentang isi tupperware tadi. 

Lucu sekali. Seperti anak kecil saja. Dalam bekal diisi camilan pula. Rupanya ketika bekal diantar ke sekolah, Si Mas lupa pesan pada adiknya supaya berhati- hati membawanya, agar kuah sambel goreng kecap tidak bercampur dengan kabin.

Alhamdulillah sarapan yang lezat dengan bekal yang dikirimi anak lanang. Sekotak bekal yang dibuat dengan penuh cinta.. ada kabin kuah kecapnya pula…

Salam Kompasiana 

Matur Nuwun Gusti, Selalu Paring Rezeki

Diana membuka notes tebal di hadapannya. Benda yang selalu setia menemani hari-harinya. Notes coklat besar yang penuh berisi catatan pesanan kue dari para pelanggannya.

Matanya terus menjelajahi tulisan di tanggal-tanggal terakhir. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tulisan Bu Tejo cake marmer 8 untuk tanggal …

Deg…. “Mateng aku…, ternyata cake marmer nya besok diambil, padahal besok pesanan lumpur Mbak Miska harus jadi,” pikirnya.

“Kok bisa lupa se…,” pikirnya gemas.

Diliriknya jam dinding di atas sofa. Sudah menunjukkan pukul 11 malam. Jam segini baru saja ia selesai membersihkan dapur setelah sejak pagi tadi membuatkan kue kering kemasan untuk cindera mata sebuah acara pernikahan.

Ilustrasi memasak di dapur, sumber gambar PNG tree

Pikirannya langsung menerawang membayangkan stok terigu, kentang, telur dan gula dapurnya.

Setelah sedikit mereka-reka hitungan, Diana langsung bernafas lega. “Aman wes,” pikirnya. Cukup untuk membuat cake dan lumpur besok.

Diana menghembuskan nafas panjang. Badan rasanya lelah, tapi lega. Pesanan kuenya besok pagi diambil, berarti ada uang masuk. 

Ya, beberapa hari ini Yeni minta seragam baru karena roknya terlalu pendek. 

Maklumlah, anak usia SMP memang pertumbuhannya pesat. Sepertinya baru kemarin anak itu tampak mungil dengan seragam merah putihnya. 

Sekarang di tahun kedua SMP tiba-tiba saja badannya mekar dan tingginya hampir sama dengan ibuknya.

Diana memejamkan matanya. Besok pagi ia harus sudah mulai ‘umek’ lagi di dapur. Episode cake marmer dan kue lumpur. Cake diambil habis Maghrib, kue lumpur diambil Ashar. 

Perpaduan rasa lelah dan kantuk membuat matanya terasa kian berat.

Bunyi jam dinding seperti hipnotis yang pelan-pelan membawanya ke alam mimpi.

***

“Nduk, tolong belikan kardus besar, ” kata Diana pada Yeni, anak perempuan semata wayangnya. Hari sudah menjelang sore. Dapur begitu lekat dengan harum aroma kue.

Di meja makan, kue lumpur dan delapan marmer cake sudah tertata manis.

“Sebentar Buk,” jawab Yeni sambil terus memandang hapenya.

Diana memandang gemas. 

“Ayo ta..agak cepet.. sebentar lagi Mbak Miska ke sini, lumpurnya mau buat tahlilan,” tambahnya. 

Tanpa banyak kata Yeni langsung berangkat ke toko di seberang jalan.

“Mbak Diana.., assalamualaikum,” 

Sebuah suara terdengar begitu renyah menyapa.  Mbak Miska, sang pemilik suara langsung masuk rumah. Demi melihat kue lumpur yang ‘menul-menul’ di meja Mbak Miska berseru,

“Walah, cantiknya .. lumpurku.,” 

Diana yang sedang memasukkan kue lumpur dalam tenong menghentikan pekerjaannya sejenak. 

“Lha iya lah .. yang buat yo cantik kok…, ” katanya sambil tertawa.

“Lebih cantik yang pesen,” timpal Mbak Miska. Tawa keduanya kembali berderai.

Sepeninggal Mbak Miska Diana langsung menuju ke dapur. Sedapnya kopi yang dibuatkan Yeni langsung menggelitik hidungnya dan membangkitkan simpul-simpul syaraf ingatannya. 

Ya, ingatan pada kenangan lama yang membuatnya jadi seperti ini.

Hari- hari Diana selalu diwarnai dengan berbagai kesibukan membuat kue. Ya, kue dan kue. Putu ayu, donat,  cake , lapis, roti kukus tak henti-henti keluar dari dapurnya. 

Ilustrasi membuat kue, sumber gambar: PNG tree

Aroma dapurnya adalah wujud optimisme dalam rumahnya. Aroma yang menunjukkan bawa roda ekonominya terus berputar 

Semenjak berpisah dengan Tarno, suaminya,  Diana memutuskan untuk lebih menekuni usaha kuliner. Tepatnya usaha kue, berangkat dari kegemarannya memasak sejak masa sekolah.

KDRT, sebuah kata yang klise. Tapi itulah yang menyebabkan ia berpisah dengan suaminya. 

Bayangkan, siapa yang tahan jika tiap pulang kerja, wajah suami selalu sumpek, marah-marah, bahkan suka membanting berbagai barang yang ada di dekatnya?

Kemarahan Tarno kadang dengan alasan yang tidak jelas. Masalah pekerjaan, capek, dan yang terakhir ia mendengar cerita dari teman- temannya bahwa Tarno punya ‘simpanan’, di luar kota.

Ooh, makanya Mas Tarno sering tidak pulang dengan berbagai macam alasan, pikirnya.

Sebagai seorang wiraswasta yang mulai berjaya Tarno sering keluar kota dan mempunyai banyak koneksi di mana-mana. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya ‘kecantol’ orang lain yang lebih cantik dari Diana tentunya.

Sakit hati Diana mendengarnya. Harga dirinya meronta. Sungguh, dikhianati seperti itu membuat stok kesabarannya habis. Emosinya memuncak, apalagi tatkala pulang dari kerja Tarno tiba-tiba marah- marah sambil membanting alat- alat dapur yang ada di sekitarnya.

Begitu Tarno meraih panci serbaguna yang ada di meja dan akan membantingnya, Diana langsung berteriak. “Stop, sudah cukup Mas..,tidak usah mbanting panci itu. Kreditannya belum lunas, kalau kamu sudah tidak suka sama aku, ‘buyar’ saja wes,” 

Ya, panci serbaguna, alat memasak yang sudah lama diimpikannya itu baru saja dibelinya dari PKK bulan kemarin.

Buyar. Mendengar kata itu Tarno seketika menghentikan tangannya dan  keluar rumah.

Diana menangis sambil memunguti barang pecah belah yang berserakan di lantai. Semua ambyar, seambyar hatinya.

Yeni yang sejak tadi bersembunyi di dalam kamar langsung berlari memeluk ibuknya.

Sejak hari itu Tarno semakin jarang pulang ke rumah dan proses perceraian antara keduanya terus dilakukan.

Setelah proses yang lumayan panjang, merekapun resmi bercerai. Diana begitu bersyukur. Ia merasa  lebih plong karena tidak selalu dikejar rasa takut akan amarah suaminya setiap hari.

Di satu sisi, secara ekonomi ia benar- benar harus mulai dari nol. Uang dari Tarno tidak pernah diberikan kepadanya dengan berbagai alasan. Tarno bahkan seperti lupa pada Yeni yang saat itu masih duduk di kelas tiga SD.

Sejak saat itu kebutuhan sehari-hari, bayar air, listrik dan sekolah Yeni menjadi tanggungan Diana.

Dalam kondisi seperti itu membuat kue menjadi satu- satunya harapan. Hobi yang yang agak lama ditinggalkannya, kini akan coba ditekuninya kembali.

Aneka kue, sumber gambar : Endeus TV

Dengan sedikit tabungannya Diana mengambil kursus membuat kue dan sesudahnya ia mulai berani menerima pesanan kue dalam berbagai varian. 

Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Karena ketekunannya, namanya semakin berkibar. Dalam berbagai event di kampung seperti tahlilan, khitanan juga pernikahan,  Diana mulai banyak menerima pesanan kue.

Selain itu Diana menjadi pemasok tetap di Toko Kue “Amanah”, satu- satunya toko kue di kampungnya. 

Kue donat buatannya sangat terkenal. Siapa yang tak kenal donat buatan Diana  yang  empuk, lezat juga cantik?

“Mbak Diana.., ambil marmer..,” sebuah suara langsung membuyarkan lamunan Diana. Bergegas, ia membuka pintu.

“Monggo Bu Tejo..,” katanya ramah.

Tanpa diperintah, Yeni langsung keluar membawakan dos-dos berisi cake marmer pada Bu Tejo. 

“Wiih… Ayune..,” kata Bu Tejo begitu membuka satu dos kue. Ia tampak begitu puas dengan cake marmer buatan Diana.

“Mbak , untuk Minggu depan pesen lagi ya… empat.. buat oleh-oleh besan di Jakarta,” tambah Bu Tejo sambil memberikan beberapa lembar uang pada Diana. 

Diana tersenyum senang, “Inggih, siap…apa sih yang tidak buat Bu Tejo..?”

“Bisa saja,” dengan gayanya yang kenes Bu Tejo berpamitan. 

Yeni masuk kamar. Rumah kembali terasa sepi.  Diana diam. Ia sungguh tak menyangka, dalam kondisi sulit, ternyata justru hobinya yang bisa menjadi penolong. Ia tidak bisa membayangkan, seandainya tak punya ketrampilan membuat kue, bagaimana nasib keluarga kecilnya?

Alhamdulillah…Terima kasih Gusti, selalu paring rezeki.. 

Cerpen ini dimuat di Kompasiana Sabtu 10082024

Kegiatan Keputrian, Karena Wanita yang Akan Menentukan Kualitas Generasi 

Siang itu saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan keputrian di aula sekolah. Sesuai namanya kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa putri dan beberapa guru pendamping.

Kegiatan keputrian ini dilaksanakan setiap hari Jumat siang. Jadi sementara siswa putra melaksanakan sholat Jumat di masjid, siswa putri diberikan kegiatan lain yang bermanfaat.

Sebuah pemandangan yang menarik di aula.

Satu orang berdiri di depan dengan sebuah mic, sementara yang lain duduk di sajadah masing-masing. 

Siswa memberikan ‘tausiyah’ di depan teman yang lain, dokumentasi Jihan

Semua bermukena (kecuali yang berhalangan), karena sesudah keputrian acara dilanjutkan dengan shalat Dhuhur berjamaah.

Sementara  siswa di depan memberikan ‘tausiyah’, yang lain menyimak. Siang itu tausiyah berkisar pada masalah hikmah memperbanyak dzikir Laa Ilaha illallah.

Di sesi tanya jawab dan kuis, animo peserta demikian besar. Apalagi ketika pada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan akan diberi sedikit reward dari guru pendamping. Aha…

Penjabaran program Keputrian , dokumentasi pribadi

Dalam acara tersebut koordinator keputrian yang juga adalah guru PAI menjabarkan program keputrian selama satu semester ke depan. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan akan diisi dengan berbagai materi baik keagamaan maupun non keagamaan. 

Materi keagamaan difokuskan pada keimanan, ibadah, adab juga kebersihan. Pemateri masalah keagamaan adalah para guru PAI.

Bagaimana dengan materi keagamaan? Banyak materi yang menarik akan disajikan,  misalnya tentang kesehatan, sopan santun berinternet dan bermedsos, ketrampilan, bahkan fashion juga masuk dalam materi ini.

Membuat batik ecoprint, salah satu giat keputriannnon keagamaan, dokumentasi pribadi

Pemberian kegiatan keputrian adalah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran siawi untuk peduli pada diri dan lingkungannya serta selalu meningkatkan kapasitas diri masing-masing.

Sebagaimana diketahui siswa SMP masuk dalam masa remaja awal. Masa  dimana mereka mulai peduli pada diri sendiri juga lawan jenis. 

Masa dimana mereka mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan penuh semangat untuk mencoba berbagai hal baru.

Jamaah peserta Keputrian , dokumentasi Jihan

Untuk itu adalah kewajiban orang tua ataupun orang dewasa di sekitar mereka untuk memberikan pendampingan dan memberikan rambu-rambu tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

Dalam usia tersebut mereka butuh ‘teman’ untuk sharing tentang masalah yang ada pada diri mereka, juga teman yang memberi motivasi pada mereka agar bisa mengembangkan diri.

Pada masa tersebut juga remaja putri banyak yang mulai mendapatkan menstruasi. Karenanya materi tentang kesehatan juga thaharah banyak menyinggung masalah ini.

Menjelang keputrian, dokumentasi Jihan

Berbagai manfaat yang bisa diambil dari kegiatan keputrian di sekolah adalah:

1. Meningkatkan wawasan keilmuan baik agama maupun non agama.

2. Mengajarkan adab dan sopan santun

3. Meningkatkan ketrampilan siswa putri

4. Mendidik siswa putri agar menjadi generasi yang cerdas dan siap menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.

Masih banyak lagi manfaat kegiatan keputrian. Pada prinsipnya kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas siswi baik secara keilmuan maupun karakter dan keagamaan.

Akhirnya betapa penting memberikan pengajaran yang baik pada siswa putri karena kelak mereka akan menjadi wanita  yang akan melahirkan generasi. Baik buruknya generasi sangat bergantung pada yang melahirkan, mendidik dan membesarkannya.

Seperti yang dipesankan oleh Drs Moh Hatta bahwa jika kamu mendidik satu laki-laki maka kamu mendidik satu orang, namun jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.

Semoga bermanfaat, salam edukasi 😊