Edukasi Industri Jamur, Kader NGTS Kunjungi PT Etira Mushroom

Outdoor Learning! Aha, belajar di luar kelas adalah hal yang sangat menyenangkan. Betapa tidak? Lewat belajar di luar kita bisa mendapatkan berbagai pengetahuan baru yang memperluas cakrawala berpikir kita.

Lewat belajar di luar kelas banyak hal baru yang kita pelajari yang tidak kita dapatkan di sekolah.

Sebelum berangkat ODL, dokumentasi pribadi

Berkaitan dengan belajar di luar kelas ini, pada hari Rabu (31/07) SMP Negeri 3 Malang mengadakan ODL ke PT Eka Timur Raya atau PT Etira Mushroom yang berlokasi di Nongkojajar Pasuruan.

ODL ini dilaksanakan oleh 36 siswa dengan didampingi 7 orang guru. Sebagian besar siswa adalah kader NGTS (Nutrition Goes to School).

Di atas truk, dokumentasi pribadi

Setelah di minggu sebelumnya para kader belajar tentang hidroponik dan penanaman jamur tiram, kali ini mereka belajar tentang pembibitan jamur, nutrisi, pengalengan dan distribusi jamur.

Rombongan peserta ODL berangkat dari sekolah sekitar pukul tujuh pagi. 

Setelah sambutan dari Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dan doa yang dipimpin oleh Mister Heri,  semua peserta menaiki truk yang sudah menunggu di depan sekolah. Ada dua truk yang akan membawa peserta menuju lokasi ODL.

Sambutan dan pembekalan dari ibu kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Setelah kira-kira 50 menit perjalanan akhirnya peserta memasuki area PT Eka Timur Raya.

Pabrik pengolahan jamur kancing terbesar se Asia Tenggara ini berdiri sejak tahun 1999.

Wilayah budidaya jamur kancing memerlukan tempat yang memiliki suhu tidak begitu tinggi, karenanya PT Eka Timur Raya memiliki tempat penanaman budidaya jamur kancing yang terletak di dekat Gunung Bromo, yaitu Desa Ngadirejo dan Kalitejo, Pasuruan yang memiliki ketinggian 1850 mdpl.

Mempersiapkan tugas sebelum edukasi, dokumentasi pribadi

Dalam kegiatan ODL peserta mendapat berbagai materi dari Ibu Dyah, Ibu Ninik dan Bapak Haydar selaku narasumber.

Materi meliputi  cara pembibitan jamur kancing, nutrisi yang terkandung dalam jamur dan pengalengan serta pemasarannya.

Tentang Jamur Kancing

Jamur kancing, sumber gambar :Shopee

Jamur kancing (Agaricus bisporus) atau  champignon adalah jenis jamur tertua dan yang paling banyak dibudidayakan di dunia. 

Jamur ini banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki kandungan nutrisi yang kompleks, yaitu karbohidrat, protein, serat, dan berbagai macam vitamin serta mineral, seperti vitamin B kompleks, seperti riboflavin, niacin, dan asam folat.

Proses edukasi. Dokumentasi pribadi

Berkaitan dengan hal tersebut berbagai manfaat dari jamur kancing adalah  menjaga imunitas dan keseimbangan tubuh, menurunkan kolesterol, mencegah serangan jantung termasuk perlindungan antioksidan dan kesehatan tulang.

Jamur dari PT Etira sebelum dipasarkan harus melalui proses pengalengan yang higienis dan berbagai uji yang cukup ketat. Karenanya kualitas jamur kancing yang dipasarkan sudah tidak diragukan lagi. 

Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan, dokumentasi NGTS

Dalam satu hari menurut keterangan dari narasumber PT Etira bisa menghasilkan sekitar 15 ton jamur kancing, dan memperkerjakan lebih dari 1000 orang.

Hal yang menarik, dari industri ini tidak ada sama sekali bahan buangan yang sia sia. Seperti yang diterangkan oleh narasumber, media penanaman bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Bahkan sisa pengolahan jamur bisa dimanfaatkan untuk penyedap karena jamur memiliki rasa umami (gurih).

Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan, dokumentasi NGTS

Acara edukasi berjalan dengan hangat dan menyenangkan. Antusiasme peserta demikian besar. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari siswa maupun guru.

Hidangan olahan jamur melengkapi acara hari itu. Ada sate jamur, sambosa isi jamur, keripik jamur dan kentang goreng yang begitu maknyus.

Hidangan olahan jamur, dokumentasi NGTS

Di akhir acara diadakan sesi kuis, dimana peserta yang menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan, akan mendapatkan hadiah. Ada sekitar enam siswa yang mendapat hadiah pada sesi tersebut.

Sebelum acara berakhir, PT Etira Mushroom dan SMP Negeri 3 Malang saling memberikan cindera mata. Sesudah berfoto bersama semua peserta sholat Dhuhur dan makan siang bersama di tempat yang sudah ditentukan.

Suasana makan siang, dokumentasi pribadi
Suasana makan siang, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul satu semua peserta kembali naik truk untuk menuju sekolah.

Sebuah pengalaman yang luar biasa. Lewat edukasi yang dikemas dengan ODL ini kami bisa mendapatkan banyak ilmu tentang industri jamur.  

Para pendamping , dokumentasi pribadi

Jamur, yang kelihatannya tidak begitu bermanfaat ternyata menyimpan banyak kandungan gizi , dan bisa memberikan manfaat ekonomi yang luar biasa.

Semoga bermanfaat dan salam edukasi..😊

Catatan NGTS, Sosialisasi dan Edukasi untuk Wujudkan Siswa yang AWESOME

Pagi itu beberapa siswa dengan penuh semangat berbicara di depan para audiens yang terdiri atas siswa kelas 7,8 dan 9. 

Bergantian, siswa yang merupakan kader NGTS itu memberikan penjelasan tentang program NGTS yang akan dilakukan oleh sekolah ke depannya.

Tentang NGTS

Sosialisasi program NGTS, dokumentasi pribadi

NGTS atau Nutrition Goes to School (NGTS) adalah salah satu program utama SEAMEO RECFON yang bertujuan untuk mendukung kegiatan siswa dalam mencapai siswa yang aktif, sehat, bergizi baik dan cerdas.

SEAMEO RECFON singkatan dari Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutrition, merupakan pusat pangan dan gizi regional Asia Tenggara.

Para kader NGTS memberikan sosialisasi, dokumentasi pribadi

Sebagai organisasi di bidang pangan dan gizi SEAMEO RECFON mempunyai 3 program unggulan  yaitu Anakku Sehat dan Cerdas / Early Childhood Care Nutrition and Education, Gizi Untuk Prestasi/ Nutrition Goes to School, dan Gizi Untuk Produktivitas/ Nutrition Goes to Workplace.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa sejak bulan Mei 2024 SMP Negeri 3 Malang menjadi salah satu sekolah sasaran program  Nutrition Goes to School (NGTS) di kota Malang.

Setelah sosialisasi pada para guru di bulan Juni, pada hari Jumat (26/7) dilaksanakan sosialisasi program NGTS yang memiliki empat komponen yaitu: 

Sarapan pagi bersama sebagai wujud pelaksanaan NGTS, dokumentasi pribadi

1. Edukasi gizi

2. Kantin Sehat Sekolah

3. Kebun Sekolah

4. Kewirausahaan Gizi

Dari keempat komponen tersebut ada dua hal yang harus lebih dikembangkan oleh sekolah yaitu Kebun Sekolah dan Kewirausahaan Gizi.

Edukasi hidroponik , dokumentasi Bintaraloka

Untuk menunjang terlaksananya program NGTS berkaitan dengan dua komponen tersebut, pada hari Kamis (25/7) lima kader NGTS dengan didampingi bapak dan ibu guru mengunjungi “Dodolan Hidroponik” dan PT Asimas untuk belajar tentang hidroponik dan budi daya jamur tiram.

Panen jamur tiram , dokumentasi Bintaraloka

Dalam kunjungan tersebut siswa belajar banyak tentang bagaimana menanam tanaman dengan metode hidroponik, termasuk pemeliharaan, sampai pemasarannya.

Siswa juga belajar langsung bagaimana melakukan pembudidayaan jamur tiram.

Panen jamur tiram, dokumentasi Bintaraloka

Antusias siswa tampak dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Apalagi dalam kesempatan tersebut siswa maupun guru diajak bersama-sama memanen jamur tiram.

Pesanan jamur para ibu guru, dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan para ibu guru di sekolah juga pesan jamur tiram langsung dari tempat budi daya jamur. Harganya? Tentu jauh lebih murah daripada di pasar.

Sangat menyenangkan. Seperti ikut panen jamur rasanya.

Akhirnya, seperti yang diungkapkan Ibu Indah, semoga semua program NGTS berjalan dengan baik dan memberikan dampak yg luar biasa bagi semua siswa, sesuai dengan tujuan awal adanya program NGTS yaitu menginginkan siswa yang AWESOME (Active, Well Nourished, and Smart OF ME/Aktif, Bergizi Baik, dan Cerdas)

Gempita MPLS, Aktualisasi Pramuka dan Penguatan Pendidikan Karakter di Bumi Bintaraloka

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) selalu istimewa di Bintaraloka. Masa di mana siswa banyak belajar tentang kebiasaan dan lingkungan sekolah ini disambut dengan antusias utamanya oleh siswa kelas tujuh.

MPLS tahun ini diadakan pada tanggal 15-17 Juli 2014. 

Bapak PJ Walikota Malang berfoto bersama Kadinas, Ibu Kepala sekolah, wakasis, pelatih dan duta FLS2N SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bintaraloka

Seperti biasa masa pengenalan siswa baru ini diisi dengan berbagai macam kegiatan baik di kelas ,lapangan, tempat ibadah maupun di aula. 

Dalam kegiatan ini siswa kelas tujuh mendapatkan materi tentang kebiasaan di SMP Negeri 3 Malang, tata tertib, kurikulum, melakukan ibadah bersama, dan tak  ketinggalan mereka menonton demo ekstrakurikuler dari kakak kelas delapan dan sembilan.

Satu hal yang membuat MPLS kali ini terasa istimewa adalah karena kehadiran Bapak PJ Walikota juga Bapak Kadinas di dalamnya. 

Bapak PJ dan Pak Kadinas hadir dalam rangka penyerahan sumbangan baju seragam untuk siswa afirmasi SMP se kota Malang.

Pembukaan MPLS, dokumentasi Bintaraloka

Pembukaan MPLS dilakukan dengan apel pagi yang dipimpin oleh Ibu Dra Mutmainah Amini, M.Pd kepala SMP Negeri 3 Malang.

Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan penyerahan seragam secara simbolis oleh Pak PJ Walikota Malang. Acara berlangsung meriah, karena dalam acara tersebut ditampilkan ansamble dan vokal solo dari para duta FLS2N SMP Negeri 3 Malang.

Bapak Kadinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang di antara para siswa baru, dokumentasi Bintaraloka

Setelah apel, siswa segera berkegiatan sesuai dengan jadwal untuk tiap angkatan. 

Maureen, salah satu duta FLS2N, dokumentasi pribadi

Untuk kelas tujuh kegiatan dilanjutkan dengan materi MPLS, kelas delapan Aktualisasi Pramuka dan kelas sembilan penguatan pendidikan karakter.

Kegiatan aktualisasi Pramuka dilaksanakan di lapangan volley dengan pemateri dari Dewan Galang dan pelatih Pramuka. 

Peserta Aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi

Melalui kegiatan ini siswa belajar banyak hal, tentang penanaman karakter baik juga berbagai teknik kepramukaan.

Semaphore, dokumentasi pribadi

Dalam kegiatan Penguatan Pendidikan  Karakter, siswa kelas sembilan tidak hanya diajak berlatih PBB di lapangan Rampal, tapi mereka juga mendapatkan banyak materi, seperti tentang kesehatan organ reproduksi, materi dari BNN dan Kepolisian.

Hal positif yang bisa dicatat adalah siswa mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Mereka mengikuti jalannya pemberian materi dengan tertib, dan di akhir acara banyak pertanyaan yang timbul dari siswa.

Sosialisasi dari kepolisian, dokumentasi Chiara

Bagi siswa yang aktif bertanya atau menyampaikan pendapat, mereka akan mendapat hadiah dari panitia ataupun pemateri.

Mendapat hadiah dari event sosialisasi dari kepolisian, dokumentasi Chiara
Mendapat hadiah dari event BNN, dokumentasi Chiara

MPLS, Aktualisasi Pramuka dan Penguatan Pendidikan Karakter ditutup pada hari Rabu 17 Juli 2024 sekitar pukul 12 siang. Jika pada  pembukaan yang menjadi petugas apel adalah anggota Paskibra, maka pada penutupan petugas apel adalah dari Pramuka.

Penutupan MPLS, dokumentasi Chiara

Tiga hari yang begitu sibuk, namun sarat dengan pembelajaran. Melalui MPLS, Aktualisasi Pramuka dan Penguatan Pendidikan Karakter, SMP Negeri 3 berusaha mewujudkan generasi yang tidak hanya handal dalam pengetahuan dan ketrampilan, namun juga mempunyai karakter yang dapat dibanggakan.

Cerita tentang CFD, Bukan Sekedar Jalan-jalan Bersama Teman

“Kutunggu depan perpustakaan umum ya…,” Sebuah pesan masuk WhatsApp saya pagi itu. Dari seorang teman SD. Aha, pagi ini kami memang berjanji untuk jalan-jalan di Car Free Day Jl. Ijen Malang.

Sepeda motor saya langsung melaju menembus dinginnya Kota Malang. Di sepanjang jalan Kawi juga jalan Gelanggang sudah banyak orang berolahraga ringan.

Banyak pejalan kaki di CFD, dokumentasi pribadi

Suasana Jl. Ijen begitu ramai. Ada yang berjalan sendiri, tapi lebih banyak yang jalan bareng teman atau keluarga. Selain berjalan, banyak pula yang  bersepeda, senam, berkumpul bersama komunitas ataupun sekedar duduk-duduk di tepi jalan. 

Sesuai namanya yaitu Car Free day, tidak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas. Kalaupun ada kendaraan, itu adalah sepeda pancal atau sepeda listrik. Tapi tidak begitu banyak.

Di area parkir, dokumentasi pribadi

Karenanya hawa terasa begitu segar. Lain sekali dengan suasana Jl Ijen di hari biasa yang selalu dipadati kendaraan yang lalu lalang.

Saya terus berjalan menuju tempat senam, tepatnya di depan perpustakaan umum. Pengunjung sudah begitu banyak. Ada panggung kecil yang didirikan tepat di pertigaan Jl Ijen dan Semeru untuk tempat para pemandu.

Senam dengan iringan lagu campur sari, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama iringan musikpun  berkumandang. Lagunya? Campur sari! 

Ada lagu Didi Kempot, Niken Salindri, Via Vallen dan banyak lagi. 

Kami bergerak mengikuti para pemandu. Gerakan senam semi bergoyang.. he..he.. gayeng sekali.

Ketika irama campur sari berganti dengan lagu lain yang lebih menghentak, satu persatu di antara kami mulai keteteran. 

“Jalan-jalan saja yuk.., ” ajak saya pada teman teman.

“Iya, jalan-jalan saja,” kata yang lain. Semua sudah ngos-ngosan mengikuti senam aerobik yang baru saja dimulai.

Penjual balon, dokumentasi pribadi

Kamipun berjalan-jalan sambil ngobrol sepanjang Jalan Ijen dan sekitar Dempo. 

CFD benar- benar bagai magnet bagi warga Malang. Di sepanjang jalan yang kami lalui tampak berbagai macam aktivitas. Ada yang berjualan makanan, mainan, promosi event tertentu, bertemu teman lama dan banyak lagi.

Dinosaurus, tempat yang diserbu anak anak, dokumentasi pribadi

CFD juga merupakan sarana hiburan yang murah bagi anak-anak kecil. Ada tempat menyewa kendaraan scooter, naik dokar, belajar menggambar, memancing ikan dan berbagai permainan yang lain. 

Setelah berjalan-jalan, kami memasuki area museum Brawijaya yang setiap hari Minggu digunakan para pedagang untuk berjualan. Di sepanjang jalan masuk museum banyak pedagang makanan, asesoris, baju atau barang yang lain. 

Duduk-duduk di CFD, dokumentasi pribadi

Khasnya emak-emak jalan-jalan kurang lengkap rasanya tanpa belanja. Dari melihat-lihat akhirnya ada beberapa barang yang kami beli. 

Membeli bumbu rentengan, dokumentasi pribadi

Ya, pagi hari di CFD bukan sekedar jalan-jalan ataupun bertemu teman. Buktinya pagi itu kami mendapatkan bros, aneka bumbu rentengan berupa kemiri, merica, bawang, makaroni, ebi, bahkan kami juga membeli penambal panci. He..he… Lengkap pokoknya.

Salam dari kota Malang..

“Hidup Pak Bejo..!”

Mbak Sur menuju rumah dengan wajah ceria. Kupon berwarna hijau muda dikipas- kipaskannya. Sesekali senandung kecil mengiringi langkah kakinya.  

Berkali- kali dipandanginya  kertas seukuran kartu  pos itu. 

Matanya berbinar-binar membaca tulisan di bagian belakangnya. Betapa tidak? Hidup lagi sulit-sulitnya tiba-tiba ada pembagian kupon untuk paket sembako gratis. 

Tidak main-main. Isi per paket adalah beras lima kilo, gula satu kilo dan minyak dua liter. Gratis. Sekali lagi gratis. Siapa yang tidak kepingin? 

Kalau ditotal harga satu paket tersebut kira kira 125.000. Wow, betapa baik hati orang yang membagi- bagi paket ini.

Sembako, sumber gambar: merdeka.com

“Eits.., jangan ndlereng..,” kata Mbak Ipah yang hampir bertabrakan di gang. Keduanya kebetulan berpapasan. 

“Aduh, sepurane.., ” kata Mbak Sur malu.

“Dari Pak Rahmat juga?” tanya Mbak Sur demi melihat Mbak Ipah membawa kupon yang sama

Mbak Ipah tersenyum lebar.

“Ya iyalah…,” katanya ringan.

“Alhamdulillah, dapat gratisan.. pas garapan bapaknya sepi,” lanjut Mbak Ipah. 

Mas Parno, suami Mbak Ipah adalah tukang talang. Di musim kemarau seperti ini garapan talang sepi. Tentu saja,  tidak ada hujan berarti tidak ada masalah talang bocor dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

“Sama…, pesenan jajanku ya sedang sepi .., mungkin karena tahun ajaran baru, orang butuh seragam, tidak butuh jajan,” timpal Mbak Sur. Keduanya tertawa. 

“Eh, ngomong-ngomong sumbangan ini dari mana ya?” tanya Mbak Ipah.

Mbak Sur memandang teman bicaranya dengan heran. “Lha tadi kan diterangkan Mbak Wati?” Jawabnya.

“Iya, pas diterangkan tadi Cenik menangis, terpaksa kutinggal keluar sebentar, beli jajan buat Si Cenik,” jawab Mbak Ipah. Cenik adalah anak Mbak Ipah yang paling kecil. Balita berumur satu tahun itu selalu ikut ke mana saja ibunya pergi.

“Oalah, ceritanya Pak Bejo kan mau nyalon lagi,” jawab Mbak Sur lagi.

“Pak Bejo lurah kita? Mau nyalon lagi?” 

“Iya.., istilahnya sekarang beliau petahana begitu,” jawab Mbak Sur meyakinkan.

“Ooh, lha ini untuk apa?” tanya Mbak Ipah sambil menunjukkan kuponnya. Polos.

“Halah…., ya biasa lah..,” kata Mbak Sur sambil tersenyum kecil.

“Kaum ‘Golek lemah‘ seperti kita kan selalu diingat pas ada pergantian lurah,” 

“Golek lemah?” tanya Mbak Ipah tidak mengerti.

Setengah tertawa Mbak Sur menjawab, “Golongan Ekonomi lemah,”

Mbak Ipah ikut tertawa. 

“Alhamdulillah.., rapopo.., rezeki jangan ditolak..,” kata Mbak Ipah yang disambung derai tawa keduanya.

***

Pagi yang cerah. Sebuah tenda terpal didirikan di depan rumah Pak Bejo. Beberapa kursi sofa diletakkan di depan sementara di belakang deretan kursi plastik sudah berjajar rapi. 

Hidangan pala pendem diletakkan dalam piring-piring dan tak ketinggalan minuman dalam kemasan tertata rapi di dekatnya.

Pak Rahmat ketua RT 20 sekaligus orang kepercayaan Pak Bejo sibuk mondar-mandir memberikan briefing ke sana- sini.

Alunan musik campur sari membuat suasana semakin gayeng. Satu demi satu tamu-tamu mulai hadir. Tamu hari itu adalah seluruh warga desa ‘Makmur Selalu’.

Semakin siang tamu yang datang semakin banyak. Pak Bejo duduk di depan ditemani istri tercinta. 

Bu Bejo yang demikian gandes luwes melemparkan senyum pada para hadirin. Dasar orangnya ayu, batik hijau yang dikenakan sarimbit dengan sang suami membuat penampilannya makin ayu.

Beberapa warga terutama kaum wanita menatap Bu Bejo dengan kagum bahkan sedikit iri. Duh..

“Monggo, ayo duduk,” kata Bu Bejo ketika  Mbak Sur dan Mbak Ipah datang. Mereka segera duduk di tempat yang ditentukan. Di sana sudah ada sekitar lima belas orang warga yang rupanya mendapat tempat khusus.

“Lho..,, Pak No,” kata Mbak Sur sambil duduk di sebelah Pak No. Jika ada pemberian sumbangan, Mbak Sur, Pak No dan Mbak Ipah selalu masuk dalam daftar penerima nya. Mereka warga RT 20.

“Inggih, Mbak Sur.., ambil rezeki,” kata Pak No sambil tertawa 

Pandangan mata tamu langsung terfokus pada pembawa acara yang mulai membacakan susunan acara hari itu.

Singkat kata hari itu adalah  syukuran ulang tahun Pak Bejo, sekaligus beliau meminta doa restu pada yang hadir karena akan mencalonkan diri lagi saat pemilihan lurah sebentar lagi.

Hadirin bertepuk tangan. Apalagi saat Pak Bejo membawakan pidatonya dengan santun dan teduh. Intinya marilah memilih pemimpin yang berpengalaman sekaligus peka pada kebutuhan warga. 

“Hidup Pak Bejo..!” teriak yang hadir. Ya, untuk apa memilih orang yang tidak peka pada kebutuhan warganya? Harusnya tiap pemimpin mempunyai kepekaan dan empati bukan?

Hadirin semakin semangat sekaligus terharu tatkala Pak Bejo mengatakan bahwa pemberian sumbangan sembako pada warga yang kurang mampu adalah wujud empati dan kasih sayang seorang pemimpin pada warga yang dipimpinnya.

“Dan kasih sayang lah yang membuat hidup kita lestari dan penuh harmoni,” kata Pak Bejo di akhir pidatonya.

Suasana haru makin menyergap.

“Hidup Pak Bejo!” 

Suara Pak Rakhmat langsung diikuti yang lain. 

“Hidup Pak Bejo!”

Tak mau kalah, dengan menjinjing tas berisi paket sembako di tangan kiri, tangan kanan Mbak Sur mengepal ke atas. 

“Supaya tetap ‘bejo’, kita harus pilih Pak Bejo!” teriaknya. 

Sejenak hadirin terpesona dengan pilihan kata Mbak Sur. Dan tak lama kemudian mereka membalas dengan teriakan, “Pilih Pak Bejo!” 

Suasana semakin hangat. Musik mengalun tiada henti. Berbagai jenis hidangan disediakan. Soto, rawon, pecel juga rujak. Dua hidangan yang terakhir untuk mereka yang mulai ada masalah dengan kolesterol.

“Ayo tambah, ” kata Pak Rahmat ramah.

Pak Min segera menuju ke stand pecel. Ini piring kedua setelah tadi ia menikmati rawon.

Pak Rahmat lari ke belakang sebentar karena tadi dijawil oleh Bu Bejo.

“Inggih Bu?” kata Pak Rakhmat sesampai mereka di dekat dapur.

“Semua sudah beres to? Pesan bapak apa tadi?” 

“Oh, sampun… Beres, semua sudah dibayar, termasuk tenda, catering juga timses,” kata Pak Rahmat senang.

Bu Bejo tersenyum lega.

“Kekurangannya?”

“Pokoknya beres Bu, pakai jimpitan warga dulu, dana ‘lain-lain’ juga dipakai..,” bisiknya.

Bu Bejo tersenyum senang. Musik terus mengalun , makanan terus dihidangkan , semua gayeng, semua seneng. 

Sesekali kembali terdengar teriakan,”Hidup Pak Bejo!”

*********

Tulisan ini diikutkan dalam sayembara cerpen Pulpen Kompasiana xvi

Tentang penulis: Yuli Anita, guru matematika yang sedang belajar menulis cerpen.

Dokumentasi pribadi