
Kunci jawaban :
1. -71
2. 39
3. 299
4. 15
5. 4
6. 53
7. Suku pertama -30, beda 7
8. Un =-7n +12
9. 28
10. 2.600.00
11. 50
12. 620
13. 1900
14. 18.000

Kunci jawaban :
1. -71
2. 39
3. 299
4. 15
5. 4
6. 53
7. Suku pertama -30, beda 7
8. Un =-7n +12
9. 28
10. 2.600.00
11. 50
12. 620
13. 1900
14. 18.000
Untuk meningkatkan pemahaman kalian pada materi barisan dan deret aritmatika, kerjakan soal soal berikut ini. Ingat, rumus yang kita gunakan adalah sebagai berikut:

Gunakan dan kembangkan rumus tersebut sesuai kondisi soal yang dihadapi.
Soal barisan dan deret aritmatika:
1. Suku ke-40 dari barisan 7, 5, 3, 1, … adalah …
2. Suku pertama dari barisan aritmatika adalah 3 dan bedanya = 4, suku ke-10 dari barisan aritmatika tersebut adalah …
3. Carilah suku ke-100 dari barisan aritmetika 2, 5, 8, 11, …
4. Diketahui barisan aritmetika –2, 1, 4, 7, …, 40. Tentukan banyak suku barisan tersebut.
5. Diketahui suatu barisan aritmatika suku pertamanya adalah 7 dan suku ke-15 adalah 63. Tentukan beda barisan aritmatika tersebut!
6. Suku pertama dari barisan aritmatika adalah -2 dan bedanya 5, tentukan suku ke-12 dari barisan aritmatika tersebut adalah …
7. Suku ke -3 dan suku ke -16 dari barisan aritmatika adalah 13 dan 78. Tentukanlah suku pertama dan bedanya.
8. Rumus suku ke-n dari barisan 5, –2, –9, –16, … adalah …
9. Suatu barisan 1, 4, 7, 10, … memenuhi pola Un = an + b. Suku ke 10 dari barisan itu adalah
10. Dania sejak tahun ini menjalani kehidupan sebagai MABA. Sebagai mahasiswa, mulai 1 Juli ia menerima uang saku sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk satu triwulan. Uang saku ini diberikan setiap permulaan triwulan. Untuk setiap triwulan berikutnya uang saku yang diterimanya dinaikkan sebesar Rp. 25.000. Berapa besar uang saku yang akan diterima Dania pada pertengahan tahun 2025?

11. Dalam suatu gedung pertunjukan disusun kursi dengan baris paling depan terdiri dari 12 kursi, baris kedua berisi 14 kursi, baris ketiga berisi 16 kursi, dan seterusnya. Banyaknya kursi pada baris ke-20 adalah …
12. Berapa banyak seluruh kursi dalam gedung tersebut?

13. Malino adalah anak yang gemar menabung. Setiap hari ia menabung seratus rupiah lebih banyak daripada hari kemarin. Jika pada tanggal 1 September Malino menabung Rp500,00, berapa uang yang ditabung Malino pada tanggal 15 September?

14. Berapa jumlah tabungan Malino seluruhnya pada tanggal itu?
Selamat Belajar.. Bertanyalah jika ada kesulitan. Ingat, bertanya bukan berarti bodoh..😊
Jumat pagi yang demikian segar. Hari masih menunjukkan sekitar pukul sepuluh ketika kendaraan yang kami naiki terus melaju membelah keramaian lalu lintas kota Malang.
Wajah -wajah peserta kegiatan hari itu demikian cerah. Bagaiman tidak? Hari itu, sehari sebelum peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 79, kami akan mengikuti sebuah kegiatan yang akan di adakan di Pujon Kidul.
Mobil terus berjalan. Suasana jalan raya tidak begitu padat. Ketika jam menunjukkan pukul sebelas lebih mobil kami sudah memasuki Desa Wisata Pujon Kidul , sebuah wilayah di Pujon Kidul yang kaya akan tempat wisata alam yang memadukan keindahan gunung dan hamparan sawah serta pemandangan alam sekitarnya.

Kami segera menuju Cafe Sawah. Cafe Sawah Pujon Kidul adalah sebuah tempat wisata menarik di Kabupaten Malang. Sesuai namanya, objek wisata ini adalah tempat kulineran yang mengusung konsep sawah.
Dari pintu masuk Cafe Sawah kami terus berjalan menuju Cafe Lumintu.
Kolam ikan koi dengan dasar biru di bagian depan cafe membuat suasana terasa demikian segar.

Ikan koi yang menari-nari dan kecipak air pancuran seakan gembira menyambut kedatangan kami.
Setelah sholat Dhuhur dan Jumatan acarapun dimulai. Kami berkumpul di tempat pertemuan, dan dengan dipandu Ibu Hertika acara pembubaran panitia HUT SMP Negeri 3 Malangpun dimulai.

Acara diawali dengan sambutan Ibu Kepala Sekolah, sambutan dari Pak Vigil selalu ketua panitia HUT SMP Negeri 3 Malang dan dilanjutkan dengan pemberian hadiah pemenang lomba Agustusan serta kuis berhadiah.
Semua berjalan demikian meriah. Ada taburan hadiah di mana -mana. Banyak yang mendapatkan hadiah dari berbagai lomba juga kuis yang berisikan pertanyaan yang berkaitan dengan Spenti.
Semua semakin terasa guyub ketika di akhir acara kami bergoyang dan menyanyikan lagu Kemesraan bersama.

Sebelum balik ke Malang kami menyempatkan diri lebih dahulu memetik strawberry di dekat lokasi cafe.

Aih, kebersamaan yang demikian indah. Lewat bertandang ke Cafe Sawah kami bisa memper erat silaturahmi dan menguatkan sinergi demi kejayaan Bintaraloka tercinta.
Saya mendapatkan kiriman novel ini dari Kompasianer Mbak Widz bulan Juli kemarin. Ketika banyak Kompasianer mereview novel ini saya ingin segera pesan. Tapi karena di sebuah event menulis yang diadakan oleh KPB diberitahukan bahwa salah satu hadiah untuk pemenang adalah mendapat novel ini, maka saya menunggu pengumumannya dulu.
Event KPB saat itu adalah membuat tulisan dengan tema dendam, dan Alhamdulillah saya berhasil menjadi salah satu pemenang lomba tersebut. Artinya saya bisa mendapatkan novel Kapak Algojo dan Perawan Vestal ini.

Novel sampai di tangan saya pada tanggal 21 Juli, dan tak sabar saya langsung membuka halaman demi halamannya.
Luar biasa. Itu kesan saya setelah membaca novel ini. Novel yang dibuat secara keroyokan oleh 33 penulis ini mampu mempertahankan ritme cerita yang begitu bagus dari awal hingga akhir. Dalam novel yang digagas oleh komunitas blog Secangkir Kopi Bersama ini karakter penulis seakan melebur jadi satu bersama-sama membangun sebuah konflik cerita yang menarik dengan akhir yang tak terduga. Meski di beberapa bab karakter tersebut masih tampak, tapi bisa tertutup oleh alur cerita yang sangat bagus.

Novel ini bercerita tentang dendam Daeng Marradia atau Craen Mark pada keluarga Segara. Penyebab dendam adalah Karmila Daeng Macora gadis pujaan sekaligus yang ‘digadang-gadang’ menjadi perawan Vestal oleh Daeng Marradia, diambil oleh Bayu Daeng Saloko dan dijadikan istrinya. Karmila dan Bayu Saloko adalah orang tua dari Segara.
Novel dibuka dengan adegan seorang anak berumur kira- kira empat tahun yang harus melihat kematian bapaknya yang dibunuh dengan sebuah kapak algojo. Tidak hanya itu, ibu dari anak ini diculik oleh si pembunuh.
Sebelum meninggalkan anak kecil ini sang pembunuh berkata bahwa si anak, Segara dibiarkan hidup untuk membalas dendam kelak ketika ia sudah mempunyai kekuatan. Sebuah pembukaan cerita yang sangat mantap sekaligus mengerikan..
Cerita lalu berlanjut dengan masa dewasa Segara, yang dengan dendam membara berusaha mencari sang pembunuh ayah dan penculik ibunya.
Dalam perjalanan mencari pembunuh ini Segara mengalami berbagai cerita yang rumit sekaligus menyedihkan yang akhirnya bisa mempertemukan dia dengan ibu dan adiknya.
Perawan Vestal adalah pendeta wanita dari dewi perapian Romawi . Perawan Vestal bertugas menjaga nyala api Dewi Vesta, yang menjaga Roma dari bahaya.
Ada sekitar 4-6 wanita yang bertugas sebagai perawan Vestal ini dan mereka telah mengalami masa pingitan sejak berumur enam sampai tujuh tahun dan harus menjaga kemurnian dirinya hingga 30 tahun ke depan.
Widz Stoop menerangkan perawan Vestal ini dengan mengaitkannya dengan lagu the Whiter Shade of Pale dari Procol Harum. Aih, itu lagu kesukaan saya.

Lalu apa hubungan antara Perawan Vestal, pembunuh, Segara dan keluarganya? Mengapa mereka terlibat dalam dendam yang tak berkesudahan? Sepertinya membaca novel ini akan terasa lebih mengasyikkan daripada ‘diceritani’.
Setting tempat dari Berlin, Paris, Jakarta, Purwosari, Singosari dan Jeneponto membuat novel ini semakin hidup. Apalagi di sana-sini ada sentuhan sejarah. Adat dan budaya Makassar yang begitu kental membuat novel ini semakin berisi.
Bagi penggemar novel action, romance dengan sentuhan sejarah dan budaya novel ini sangat recommended.
Akhirnya satu pelajaran penting yang bisa diambil dari novel Kapak Algojo dan Perawan Vestal ini adalah dendam yang tak berkesudahan hanya akan membawa kita pada penderitaan.
Ya, seperti sebuah nasehat bijak yang diungkapkan Korrie ( Karmila) dalam novel ini bahwa dendam ibarat pisau bermata dua. Satu mata akan melukai diri sendiri dan mata lainnya akan menyakiti orang lain.
Semoga bermanfaat dan salam ….😊
Pramesti Wikrama Cetta Suryaputri.
Nama yang panjang dan cukup unik ini pertama kali terdengar di telinga saya beberapa hari lalu, ketika tawaran untuk mewawancarai siswa berprestasi datang kembali. Ketika saya mulai melakukan research, saya cukup terkejut melihat segudang prestasi yang telah ia raih. Meskipun nama siswi yang akrab dipanggil Pramesti tersebut jarang terdengar di telinga orang awam, siswi SMP Negeri 3 Malang berusia 14 tahun ini telah meraih sejumlah penghargaan baik di lingkup kota Malang atau bahkan sampai provinsi Jawa Timur.
Mulai dari menyabet Poomsae Individual Cadet Putri Indonesia Super Fighting Taekwondo Championship yang diadakan pada bulan Desember tahun 2023 silam, juara 2 Poomsae grup 012 piala PJ Walikota Malang pada bulan Mei tahun ini, juara 1 F poomsae grup 87 Taekwondo Championship Jatim Reborn dua minggu kemudian, hingga yang terbaru, juara 1 F poomsae frup 055 kejuaraan taekwondo Jatim Open pada awal Agustus lalu, semua berhasil ia sabet, melejitkan namanya sebagai salah satu rising star di dunia taekwondo Jawa Timur.

Akan tetapi, prestasi Pramesti tidak hanya berhenti sampai di situ.
Di samping aktif di bidang taekwondo, ia juga kerap mengikuti perlombaan di bidang lainnya, seperti kala ia memenangkan kompetisi desain batik yang diadakan oleh DWP BMKG Jawa Timur pada tahun 2023 atau bahkan Olimpiade Pendidikan Agama Islam Tingkat Nasional yang berhasil Pramesti menangkan dua tahun silam. Selain itu, kini, ia juga masih aktif sebagai sekretaris 1 Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMPN 3 Malang, menjadikan Pramesti sebagai salah satu atau bahkan mungkin siswi teraktif yang pernah saya temui sepanjang hidup saya.
Oleh karenanya, bertemu dengan Pramesti dan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai siswi kelas 9 SMPN 3 Malang ini pada hari Jum’at silam (16/08) merupakan sebuah kehormatan bagi saya. Segudang pertanyaan pun telah saya siapkan untuk menggali informasi terkait pribadi sang siswi.
Pewawancara (P): Pramesti adalah salah satu siswi paling serba bisa yang pernah saya temui. Taekwondo bisa, desain batik jago, bahkan akademis pun juga disabet. Pertanyaan pertama saya, dulu waktu Pramesti masih kecil, apa bidang yang paling ditekuni?
Pramesti (Pr): Saya pertama kali menekuni justru di bidang melukis, Kak.
P: Melukis?!
Pr: Iya, Kak. Karena dulu waktu masih kecil saya sering diberikan crayon dan kertas, jadi saya banyak menghabiskan waktu dengan mencorat-coret. Dan karena pengaruh kakak sepupu saya yang gemar melukis menggunakan media cat semprot, saya jadi merasa menggambar itu seru, bahkan hingga saat ini, hobi tersebut masih terbawa dalam diri saya.

Hanya dari pertanyaan pertama, Pramesti berhasil membuat saya tercengang. Dari sederet prestasi yang ia dapat, jujur, saya membayangkan Pramesti menghabiskan masa kecilnya langsung di dunia taekwondo. Hal ini membuka mata saya bahwa siswi di depan saya kali ini adalah siswi multitalenta. Oleh karenanya, didorong rasa penasaran, saya menanyakan bakat apa lagi yang masih terpendam dalam diri Pramesti yang tidak banyak orang tahu.
Pr: Saya juga bermain piano dan gitar, kak.
P: Lalu, prestasi yang didapat mulai kecil hingga kini?
Pr: Justru Fashion show, Kak. Pertama waktu TK, kemudian mewakili sekolah dalam lomba desain dan model. Saya juga bermain piano solo dalam ajang FLS2N, dan saya juga sempat mengikuti kelas renang, dan ketika saya masuk SMPN 3 Malang ini, saya tergabung dalam ekstrakurikuler Olimpiade IPA, dan yang terbaru, saya juga sedang sibuk sebagai sekretaris 1 OSIS SMPN 3 Malang.
Dari semua daftar kegiatan yang ia ikuti, tentu ada satu potongan kecil yang hilang, yakni taekwondo.
P: Lalu, sejak kapan Pramesti mulai menekuni taekwondo?
Pr: Saya terjun di bidang taekwondo sejak kelas 8 SMP, Kak.

Dua tahun. Hanya dalam waktu dua tahun, Pramesti berhasil menyabet berbagai penghargaan bergengsi taekwondo di Tingkat kota Malang maupun provinsi Jawa Timur. Selain talenta, semua prestasi ini juga merupakan cerminan dari kerja keras yang ia jalani tiap hari.
P: Lantas dengan kegiatan sepadat itu, bagaimana cara Pramesti menyeimbangkannya dengan kewajiban di sekolah?
Pr: Untungnya, saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam studi saya. Meskipun terkadang, karena waktu Latihan taekwondo jatuh pada malam hari, saya harus mengerjakan tugas dan mencicil belajar ketika waktu istirahat di sekolah, saya tidak merasa terlalu terbebani.
Mungkin bagi Pramesti, hal yang ia katakan bukanlah sebuah beban, akan tetapi bagi saya yang menjadi pendengar, saya dapat membayangkan seberapa melelahkan semua kegiatan yang ia tekuni. Mungkin, inilah yang sering disebut dalam berbagai cerita epos, bahwa untuk mendaki ke puncak, selalu dibutuhkan pengorbanan besar dalam perjalanannya.
P: Lantas, dengan kegiatan sebanyak itu, apa yang sebenarnya Pramesti ingin capai?
Pr: Karena saya tahu, setiap bertambah umur, bertambah dewasa pikiran, maka berubah pulla lah cita-cita tiap orang. Karena itu saya merasa saya membutuhkan banyak recana, untuk jikalau saya gagal di satu rencana, saya masih mempunyai opsi yang lain untuk menyiapkan masa depan saya. Boleh dibilang, saat ini, saya masih dalam masa eksplorasi, Kak.
Eksplorasi. Mungkin itulah kata kuncinya mengapa Pramesti masih bersemangat mengikuti berbagai kegiatan. Cara berpikir yang logis, tentu, tapi tak banyak dapat ditemui di kalangan remaja saat ini.
P: Lalu, apa yang sekarang Pramesti sedang fokuskan?
Pr: Mungkin saat ini, saya sedang terpaku di bidang olimpiade IPA, taekwondo, dan menggambar.
P: Bagaimana dengan rencana tahun ini?
Pr: Untuk bidang olimpiade, saya sempat melihat informasi yang beredar terkait kompetisi yang diadakan platform Ruang Guru, dan saya cukup tertarik untuk mengikutinya. Sedangkan untuk taekwondo, saat ini, saya sedang menunggu turunnya informasi terkait kompetisi internasional yang diadakan di negara Korea Selatan dan mungkin saya akan mengikuti beberapa kompetisi antar pelajar juga.
Target yang tinggi telah dipatok oleh pramesti untuk dirinya sendiri. Tak akan mudah memang. Akan tetapi, saya dapat melihat keyakinan pada raut wajah Pramesti.
P: Mungkin ini akan jadi pertanyaan terakhir hari ini.Tadi, Pramesti menyinggung cita-cita yang akan berubah seiring bertambah usia. Lantas, apa cita-cita Pramesti saat ini?
Pr: Antara ingin menjadi dokter militer atau bekerja di Lembaga BMKG, karena orang tua saya bekerja di sana.
Sekali lagi, cita-cita yang tinggi dipatok oleh Pramesti terhadap dirinya sendiri. Jujur, ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan siswi SMP yang telah mengetahui apa yang diinginkannya sejak remaja dan telah berusaha keras sejak dini. Akan tetapi, rasa khawatir tentu tak bisa luput, mengingat pada akhirnya, ia hanyalah seorang pelajar biasa.
P: Apakah Pramesti pernah mengalami burn out? Tiba-tiba berpikir, kenapa sih Pramesti harus seaktif ini? Lalu, apa yang Pramesti lakukan untuk mengatasinya?
Pr: Tentu pernah, ya Kak. Biasanya, kalua masih di tahap bosan, mungkin keluar jalan-jalan sebentar atau main game bisa jadi solusi. Kemudian, saya juga sering cerita kepada orang tua saya dan meminta nasihat kepada mereka, dan syukurlah, mereka selalu mendukung saya dalam setiap kegiatan yang saya lakukan.
Mungkin di situlah semua kekuatan dalam diri Pramesti berasal. Tidak bermaksud mengerdilkan semua jerih payah yang telah ia lakukan, akan tetapi, keberadaan orang tua yang selalu mendukung dari belakang dapat dikatakan sebagai alasan terkuat kenapa Pramesti dapat terus melangkah ke depan.
Selain berbicara tentang kegiatannya, kami juga membicarakan banyak hal, terkait hobi, sekolah, dan terkait teman-teman sekitarnya. Dari percakapan tersebut, saya semakin yakin terhadap impresi pertama saya, bahwa Pramesti adalah seorang eksplorator sejati, dan masa depan yang luas akan selalu terbentang di hadapannya, buah dari investasi yang telah ia tanam sejak kini.
Penulis : Achmad Zulfikar
Editor : Yuli Anita