Selamat Datang di Bumi Bintaraloka Rombongan MKKS Kota Bontang

Menerima tamu.. Aha, agenda yang selalu ada di Bumi Bintaraloka. Hari Kamis tanggal 8 Desember 2022 kemarin Bintaraloka kembali disibukkan dengan persiapan penerimaan tamu dari MKKS Bontang.

Persiapan sudah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Dengan arahan Mister Sony, Bu Ninik, Pak Vigil, Pak Ardillah dkk persiapan berjalan dengan serius tapi tetap menyenangkan.

Tiba di hari yang ditentukan, yaitu Kamis sekitar pukul delapan, sebuah bus berhenti di depan sekolah. Ya, rombongan tamu yang berisikan kurang lebih 30 orang tiba dan segera memasuki halaman Bintaraloka.

Sambutan pada tamu dimulai. Yel yel, juga menyanyikan lagu Meraih Prestasi dinyanyikan siswa dengan penuh semangat. Acara dipandu oleh MC handal Bintaraloka Mister Sony.

Dalam kesempatan tersebut Mister mengucapkan selamat datang pada rombongan MKKS dari kota Bontang.

Sambutan demikian meriah, apalagi tatkala lagu Meraih Prestasi dinyanyikan bersama. Semua melambaikan tangan saat sampai pada reffrain lagu.

Dalam kesempatan tersebut Mister Sony juga memperkenalkan Pak Vigil, guru seni budaya Bintaraloka sebagai penggubah lagu Meraih Prestasi pada para tamu. Ah ya, perlu digaris bawahi Pak Vigil adalah seorang putera Kalimantan dengan banyak prestasi.

Sesudah sambutan di lapangan para tamu menuju Bintaraloka dua. Di sana sudah disiapkan acara yang lain yaitu sharing tentang Implementasi Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 3 Malang.

Acara tetap dipandu mister Sony dan diawali dengan pidato ketua MKKS, dilanjutkan dengan pidato kepala SMP Negeri 3 Malang dan paparan pelaksanaan IKM oleh tim kurikulum.

Dalam paparannya Bapak Ketua MKKS menceritakan tentang kondisi masyarakat dan geografis kota Bontang, sementara Ibu Kepala SMP Negeri 3 menceritakan sekilas tentang penerapan Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 3.

Pada sesi paparan IKM bergantian tim kurikulum menerangkan tentang pelaksanaan Kurikulum Merdeka baik pembelajaran maupun pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Karena kunjungan ini bersifat sharing yang terjadi adalah saling diskusi tentang IKM dan berbagai kendalanya di lapangan.

Menjelang pukul sepuluh tanya jawab selesai dan sesudah penyerahan cindera mata dari MKKS Bontang pada Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang acarapun berakhir.

Sebelum meninggalkan sekolah, tamu dan tuan rumah menyempatkan berfoto bersama di depan lobbi SMP Negeri 3 Malang untuk kenang kenangan.

Sebuah pengalaman yang sangat bermanfaat. Semoga di tahun berikutnya SMP Negeri 3 Malang bisa mengadakan kunjungan balasan ke Bontang.

Bagaimanapun juga saling berkunjung, diskusi, bertukar ilmu dan pengalaman baik akan menguatkan pemahaman guru tentang kurikulum yang harus diimplementasikan.

Ya, mari belajar bersama, maju bersama dan hebat bersama..
Majulah pendidikan Indonesia..
Salam edukasi

Lontongan, Tradisi yang Perlu Kita Lestarikan Bersama

Pagi itu ada suasana yang berbeda di dapur Bintaraloka. Beberapa kresek berisi kerupuk, sayur manisah telur dibumbu petis plus satu karung lontong siap di atas meja makan.

Beberapa ibu guru menyiapkan piring rotan, kertas, sendok juga menata lontong dalam sebuah piring besar.

Wow, lontongan lagi..

Lontong berasal dari kata alon alon dipotong (Jawa) , melambangkan filosofi bahwa sedikit demi sedikit jatah hidup manusia selalu berkurang. Ya, hakekatnya kita semua sedang dalam perjalanan menuju Sang Pemilik Kehidupan.

Di Jawa lontong telah ada sejak zaman Sunan Kalijaga. Lontong dipakai sebagai media dakwah saat itu untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam pada masyarakat setempat.

Apa yang terasa saat makan lontong? Rasa lontong yang lembut, berpadu dengan lezatnya sayur manisah, juga gurih dan sedapnya telor bumbu petis membuat suasana mirip lebaran.

Ditambah dengan kriuknya kerupuk benar-benar membuat hidangan terasa mantap. Apalagi sebelum menikmati lontong kami berdoa bersama dipimpin oleh Pak Muhaimin untuk keberkahan warga SMP Negeri 3 Malang.

Menikmati lontong bersama membuat suasana benar benar terasa hangat dan akrab. Karenanya tak salah jika warga Bintaraloka seyogyanya melestarikan tradisi yang sangat menyenangkan ini.

Ya, tak perlu menunggu lebaran untuk lontongan. Bukankah kita sudah punya pakar memasak lontong komplit yang begitu handal? Salam kuliner…. 🙂

Selamat Jalan Pak Burhan, Pembacaan Yasin dan Tahlil di Bumi Bintaraloka

Pagi ini langit begitu cerah. Sesuai jadwal di kegiatan pasca PAS hari yang pertama ini akan diadakan doa bersama yang berintikan pembacaan Yasin dan tahlil untuk almarhum Bapak Burhannudin yang wafat pada hari 27 November 2022.

Tahlil dan Yasin dipimpinPak Muhaimin danPak Abid, Dokumentasi Bu Any

Bapak Burhanuddin adalah sosok yang sangat akrab bagi warga Bintaraloka. Ya, beliau pernah menjabat sebagai kepala SMP Negeri 3 Malang dan banyak hal yang beliau lakukan selama itu.

Paparan dari Bu Ninik, dokumentasi Anggita

Menurut paparan Bu Ninik sebelum acara doa dimulai, Pak Burhan adalah perintis RSBI, peletak batu pertama pembangunan Masjid Bintaraloka, penggagas dikenakannya seragam celana dan rok panjang untuk siswa SMP Negeri 3 yang akhirnya banyak diikuti SMP lain di kota Malang, juga perintis sister school, kerjasama antara SMP Negeri 3 dengan sebuah sekolah di Singapura.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Bintaraloka tanggal 26 Juli 2013, dok. P. Helmy

Tidak hanya akrab di hati warga SMP Negeri 3 Malang, jabatan beliau sebagai ketua MKKS SMP kota Malang, juga ketua PGRI membuat Pak Burhan banyak berinteraksi dengan siapa saja sehingga banyak dikenal utamanya di lingkup dunia pendidikan.

Bahkan saya punya kenangan saat mengunjungi SMP Sleman Depok bersama rekan rekan guru matematika se Asean ketika acara Seameo di Jogjakarta.

Ketika acara ramah tamah saya ditanya oleh Kepala SMP Negeri Depok Sleman.
“Ibu dari Malang? ” tanya beliau
“Benar, Bu, ” jawab saya
“SMP berapa? “
“SMP negeri 3,” jawab saya lagi. Sejenak Ibu kepala sekolah terkejut dan langsung tertawa sambil menyalami saya.
” Ah, kami banyak belajar pada SMP Negeri 3.., salam saya buat Pak Burhan, ” kata beliau lagi.
Saya sungguh terkesan, bahkan sampai jauh di luar Malang beliau dikenal, pikir saya.

Acara pagi itu diawali dengan pembacaan Surah Yasin dengan dipandu oleh Pak Muhaimin dan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh Pak Abid.

Peserta doa bersama, dokumentasi Bu Any

Hari itu acara berjalan demikian khusyuk. Selain siswa, Bapak/Ibu guru dan Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang juga ikut serta dalam acara kirim doa ini.

Suasana doa bersama, dokumentasi Anggita

Acara yang dimulai pukul 07.00 itu berakhir hingga sekitar pukul 07.30.
Acara yang singkat namun cukup menjadikan renungan bagi kami bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Ya, jika Sang Pemilik Waktu sudah menghendaki, kemana lagi kita akan berlari?

Ucapan duka, dokumentasi Bintaraloka

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Karya dan kebaikan Pak Burhan membuat nama beliau akan selalu kami kenang.

Akhirnya selamat jalan Pak Burhan, semoga Bapak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt.

Kompasianival, Nominee dan Probabilitas Kemenangan

Awal menulis di Kompasiana saya tidak tahu ada Kompasianival atau event-event menarik di dalamnya. Yang penting nulis dan nulis begitu saja.

Apa yang saya tulis hampir semua adalah tentang pengalaman saya bersama siswa. Pengalaman berupa pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.

Ya, berinteraksi dengan siswa adalah sumber inspirasi yang tiada habis-habisnya. Dan menceritakan semuanya adalah hal yang sangat membahagiakan apalagi ketika mendapat apresiasi dari teman teman Kompasianer.

Namun ternyata dalam perjalanan banyak sekali yang saya dapatkan dari Kompasiana. Teman teman yang saling memberikan semangat, mengikuti berbagai event menarik dan yang terakhir adalah menjadi salah satu nominee Kompasianival 2022.

Menjadi nominee Best Teacher adalah sebuah penghargaan yang begitu besar bagi saya. Meski merasa agak ngeri dengan gelar tersebut, tapi saya ucapkan banyak terima kasih pada para sahabat yang menominasikan saya.

Ketika hari pengumuman tiba, saya sedang sakit flu. Agak berat. Badan panas, batuk yang agak bandel. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya selalu kehujanan saat pulang sekolah.

Tapi untungnya lewat grup whatsapp teman- teman yang datang ke Jakarta mengirim cerita dan foto-foto. Meski tak ikut hadir, kemeriahan begitu terasa. Rasanya pingin mencolot ke Jakarta. He.. He..

Malam sekitar pukul 22.00 saya kembali membuka grup whatsapp. Ya, sejak habis Isyak tidur karena pengaruh obat.

Wah, ternyata pengumuman sudah dilakukan, dan juara-juara untuk tiap kategori sudah ada. Nama saya? Tidak ada.. Tapi tak apa apa.. Para juara sangat layak untuk mendapat Kompasiana Award. Saya adalah penikmat tulisan mereka.

Jika pada tulisan sebelumnya saya menyinggung teori probabilitas bahwa sekecil apapun peluang tetaplah peluang, maka dalam tulisan saya kali ini saya kemukakan bahwa probabilitas juga mengajarkan bahwa kita harus siap menerima apapun hasil suatu peristiwa. Sebab dalam sebuah peristiwa, jika peluang kejadian A adalah x maka peluang kejadian bukan A adalah 1-x.

Jika dari 5 nominee kemarin peluang saya menang adalah 1/5, maka peluang saya tidak menang adalah 1-1/5 = 4/5. Lebih besar berarti.. He.. He..

Akhirnya selamat pada para juara, mudah mudahan para jawara semakin rajin berbagi inspirasi dan kebaikan di rumah belajar kita tercinta Kompasiana.

Tak lupa terima kasih banyak pada Kompasiana yang telah membuat perhelatan yang begitu menarik di penghujung tahun 2022 ini, juga terima kasih tak terhingga pada Kompasianer Muthia Al Hasany yang bersedia saya titipi nama karena saya tidak bisa hadir ke arena Kompasianival 2022.
(Mbak Muth.. Kapan kapan kita mbakso ya… )

Salam Kompasiana:)

Sehangat Bakso Gangsar

Siang itu tak seperti biasanya matahari bersinar cerah. Biasanya jam-jam sesudah Dhuhur mendung sudah menggantung di atas kota Malang.

Bergegas saya menuju Bakso Gangsar, ya, arisan alumni SD Bareng kali ini akan diadakan di sana.

Bertiga kami menghadap mangkok berisi bakso kasar, halus, siomay dan goreng yang dilengkapi saos, sambal dan kecap untuk cocolan. Ngobrol ngalor ngidul dimulai. Tentang apa saja. Tentang les lesan, kucing dan banyak lagi.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah satu. Dari tadi cuma tiga orang yang datang termasuk saya. Okelah, acara makan langsung dimulai saja.. Sungkan sama Mas nya kalau duduk terlalu lama di situ.

Kami mengambil bakso masing masing. Khasnya bakso Malang, isinya beragam dan kuahnya segar. Swalayan lagi. Sebelum makan, khasnya emak-emak selalu kami sempatkan untuk berfoto sejenak. Acara wajib itu.. Siapa fotografernya? Ya Mas penjualnya.. He.. He…

Hingga isi mangkuk kami habis, teman yang ditunggu- tunggu belum hadir juga..
Ah, ternyata ada teman yang mendapat instruksi mendadak dari tempatnya bertugas, ada juga yang masih punya kepentingan lain.

Tak apa, semoga di pertemuan berikutnya bisa lebih banyak yang datang. Hari ini setidaknya pertemuan berjalan lancar dan persahabatan serta silaturahmi di antara kami tetap terjaga.

Ya, persahabatan yang demikian hangat, sehangat bakso Gangsar..