Arrow Generation, Melatih Kebersamaan dan Meningkatkan Keimanan Melalui Kegiatan Retret Bintaraloka

Jumat siang itu sementara siswa muslim sholat Jumat dan keputrian, ada kegiatan juga yang dilaksanakan oleh siswa Kristen dan Katholik. Ya, hari itu siswa Kristen dan Katholik akan melaksanakan kegiatan retret di Rumah Khalwat Betlehem Jedong.

Tentang Retret

Kegiatan retret, dokumentasi Jojo

Retret memiliki makna menjauhkan diri sendiri dari lingkungan keseharian untuk sementara waktu. Kegiatan retret dapat dilakukan untuk alasan yang berhubungan dengan kebutuhan spiritual, menghindari stres, menjaga kesehatan, bagian dari gaya hidup, ataupun hal-hal lainnya.

Sambutan Ibu Kepala sekolah, dok. Bu Any
Bu Diana dan Bu Maria, dokumentasi Bu Maria

Retret yang diadakan pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 16 -17 Desember kemarin diikuti oleh 45 siswa dan 4 guru pendamping. Ini adalah retret Bintaraloka pertama sesudah dihentikan selama dua tahun karena pandemi.

Di samping merupakan kegiatan tahunan retret juga bertujuan untuk memperingati natal, karenanya selalu diadakan di sekitar bulan Desember.

Pemateri dan pendamping, dokumentasi Jojo

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Ibu Kepala Sekolah, Ibu Any, Ibu Diana dan Ibu Maria, sedangkan pendamping siswa dalam kegiatan adalah Ibu Cahya, Pak Gerry, Pak Vigil dan Ibu Hertika.

Kegiatan retret, dokumentasi Jojo

Mengapa tema yang diambil adalah Arrow Generation? Siswa bisa diibaratkan anak panah dari seorang pahlawan. Karakter dari sebuah anak panah adalah cepat dan tepat sasaran , karenanya diharapkan ke depan siswa akan menjadi generasi yang cepat dan tepat sasaran dalam mengambil langkah dan menghadapi segala tantangan kehidupan.

Acara retret dua hari itu diisi dengan renungan pagi dipimpin oleh Ibu Cahya, khotbah tentang narkoba yang disampaikan oleh bapak Ismail Al ikhlas Hakim, juga outbond.

Kebersamaan dalam retret, dokumentasi Jojo

Dalam kesehariannya Pak Ismail berada dalam satu layanan dengan Pak Gerry untuk mengurusi orang-orang yang masuk dalam jeratan narkoba.

Setelah berbagai kegiatan yang padat tapi akrab, di hari Sabtu pukul satu siang semua peserta meninggalkan Rumah Khalwat Betlehem Jedong, untuk kembali menuju Bintaraloka.

Kegiatan pagi, dokumentasi Jojo

Wajah gembira tampak dimana-mana. Tentu saja. Retret, sebuah acara yang sangat berkesan di hati siswa, karena melalui berbagai kegiatan yang menyenangkan siswa bisa melakukan ibadah bersama untuk meningkatkan kualitas keimanan mereka.

Salam Bintaraloka…😊

Pagi yang Penuh Inspirasi Bersama dr Gamal Albinsaid, M.Biomed

Suasana lapangan pecah dengan yel yel dan sambutan yang begitu meriah pagi itu. Ibu Kepala sekolah, ketua komite juga bapak ibu guru berdiri di dekat lobby untuk menyambut kedatangan tamu istimewa hari itu. 

Ya,  hari  Selasa itu dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed, alumni Bintaraloka angkatan tahun 2005 datang di Bumi Bintaraloka. 

Gamal Albinsaid adalah seorang dokter, wirausahawan sosial, CEO Indonesia Media, dan penggagas berdirinya Klinik Asuransi Sampah dan Bank Sampah. Benar-benar tokoh muda kebanggaan Indonesia. 

Sambutan atas kehadiran dr Gamal Albinsaid, M. Biomed begitu meriah.  Dengan dipandu oleh Mister Sony, Pak Vigil dan tim. siswa menyajikan atraksi sambutan yang luar biasa. Lebih lebih ketika menyanyikan lagu Meraih Prestasi bersama seraya melambaikan tangan.  Meriah,  sekaligus mengharukan. 

Sesudah sambutan dari siswa dr Gamal dipersilakan memberikan sedikit pesan pada para adik kelas sebagai motivasi.

Dalam pesan singkatnya dr Gamal mengemukakan bahwa tidak ada jalan instan menuju sukses.  Semua perlu perjuangan keras, dan doa orang tua sangat berperan di dalamnya.

Sesudah beramah tamah sebentar di ruang kepala sekolah dr Gamal dan tim segera menuju aula Bintaraloka 1 karena di sana sudah siap wali murid siswa kelas 3.5 dan 2.3 untuk mendapatkan materi parenting yang bertajuk Mendidik Buah Hati Menjadi Pemuda Level Dunia.

Sesudah sambutan dari Ibu Kepala Sekolah dan Ibu Ketua Komite acara parenting dimulai.

Dalam paparannya dr Gamal mengemukakan pentingnya orang tua untuk mengetahui potensi anak dan mengembangkannya.

Mengajak anak memperjuangkan mimpi dan mendoakannya adalah hal yang harus dilakukan orang tua.  Apapun kondisinya jangan sampai membatasi mimpi dan cita-cita anak.  Never limit you vision based on your current resources. Hold the vision,  trust the process and your vision pulls you.

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. 
Tidak ada jalan instan untuk sukses, maka kita harus melewati anak tangga. Nikmatilah tantangan karena disanalah orang hebat, orang tangguh, dibesarkan.

Satu peristiwa yang membuat dr Gamal melakukan inovasi dalam bidang kesehatan adalah kisah seorang anak kecil bernama Khairunnisa, yang meninggal digerobak sampah sang ayah karena sakit diare dan tidak mampu membiayai obat anaknya.

Sang ayah saat itu memapah anaknya yang meninggal di atas Kereta Rel Listrik (KRL). Dari situ muncullah gagasan membuat klinik sampah yang terus dikembangkan hingga menjadi salah satu inovasi dalam bidang kesehatan. Dimana dengan sampah masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Berbagai prestasi diraih oleh dr Gamal bahkan hingga tingkat dunia.  Berbagai negara sudah dikunjungi, bercengkerama dengan  BJ Habibie,  menjadi undangan  Pangeran Charles,  mengobrol dengan Putin semua adalah buah dari kerja keras yang telah dilakukannya selama ini.  Kerja keras yang memberikan banyak kontribusi bagi kemanusiaan.

Satu jam yang benar benar mengesankan. Yang hadir di aula benar benar antusias.  Sayang karena keterbatasan waktu tanya jawab hanya dibatasi sampai dua pertanyaan saja.

Pagi yang penuh hikmah. Ada banyak nasehat dan kata bijak yang terucap.  Namun dari semua itu yang paling mengesankan adalah bahwa orang tidak akan peduli setinggi apapun prestasimu, karena yang paling diingat  adalah seberapa besar kamu memberi manfaat bagi sesama manusia. 

Salam inspirasi… 🙂

Radio dan Berbagai Kenangan yang Menyertainya

Benda kotak berbentuk persegi dengan warna kombinasi coklat tua dan muda itu berdiri dengan manis di meja depan. Benda yang menjadi favorit kami bersama. Ia selalu setia menemani hari hari kami sekeluarga saat itu. Ya, radio, sahabat setia kami sekeluarga.

Radio Sieghfried buatan Jerman dibeli bapak sejak kami masih kecil. Suaranya mantap, putaran untuk mencari channel ataupun volume sering saya jadikan mainan, meski jika ketahuan bapak akan dilarang.

Radio di rumah mulai menunaikan tugasnya sejak pagi pukul lima pagi. Acara favorit bapak tiap pagi adalah siaran pedesaan dari RRI Malang.

Lagu Lesung Jumengglung yang selalu dikumandangkan di awal dan akhir acara membawa kami pada indahnya suasana pedesaan. Biasanya saat lagu Lesung Jumengglung diputar volume radio agak dikeraskan untuk membangunkan kami yang masih mengantuk.

“Ayo.. Ayo… Sekolah.., ” kata ibuk sambil mengerjakan pekerjaan dapur dengan background Lesung Jumengglung.

Mendengar ‘keributan’ itu dengan malas kamipun bangun dan bergantian menuju kamar mandi.

Menjelang pukul enam kami sarapan. Saat itu radio mengumandangkan lagu-lagu penyemangat. Kalau tidak salah acaranya bertajuk Pagi Gembira Cerah Ceria.
Kami cepat-cepat makan, karena menuju pukul enam jarum jam seperti berputar cepat sekali.

Sumber Gambar: Memoria Radio



Nah, ketika acara Pagi Gembira Cerah Ceria berakhir, lagu instrumen “Rayuan Pulau Kelapa” pun berkumandang. Kami bergegas mengambil tas dan berangkat sekolah.
Instrumen tersebut penanda jam sudah menunjukkan pukul enam, ketika itu sekolah masuk pukul setengah tujuh.

Sementara kami sekolah radio tetap menemani bapak. Ya, bapak adalah seorang penjahit dan dalam beraktivitas beliau selalu ditemani oleh radio.

Bapak selalu ditemani oleh acara Mitra Karya dari KDS8. Acara yang berisikan lagu lagu Indonesia yang tidak terlalu baru.
Pada pukul setengah sepuluh bapak akan pindah channel ke stasiun lain guna menikmati sandiwara radio.

Menjelang pukul satu siang saya tiba di rumah. Sambil makan di sebelah mesin jahit bapak kami menikmati acara tembang kenangan. Hmm, acara favorit kami ini. Lagu lagu barat lawas langsung memanjakam telinga kami. Sebutlah lagu dari Danny Boy dari Jim Reeves, Can’t Help Falling in Love nya Elvis Presley, Walk Awaynya Matt Monroe. Aih.. Manis sekali rasanya.

Dari semua lagu itu, lagu bapak yang paling saya suka adalah Belladona dari UFO. Suara gitar di awal lagu terasa begitu manis dalam pendengaran saya.

Masih berkisar dengan lagu lawas, pukul satu siang acara berganti dengan tembang kenngan Indonesia. Muncul lagu dari Tetty Kadi, Panbers, AKA dan banyak lagi.

Saat lagu lawas Indonesia diperdengarkan, itu adalah saat bapak beristirahat siang. Ketika bapak tertidur chanel saya ganti ke acara ludruk. He.. He.. Ludruk Sidik cs adalah favorit saya.

Di rumah hanya saya yang suka ludruk, sementara bapak lebih suka wayang.

Pukul empat sore sambil bersih-bersih kami mendengarkan sandiwara radio. Aha, ada banyak sandiwara radio favorit kami utamanya yang berlatar belakang sejarah, seperti Saur Sepuh, Mahkota Mayangkara juga Tutur Tinular.

Tutur Tinular mengisahkan tentang sejarah runtuhnya Kerajaan Singasari hingga berdirinya Kerajaan Majapahit. Tokoh ceritanya adalah Arya Kamandanu dengan pedang saktinya Naga Puspa.


Saur Sepuh cerita dengan latar belakang masa kerajaan Majapahit tersebut, sosok Brama Kumbara menjadi tokoh utama sebagai raja dari kerajaan Madangkara yakni masih berada di kekuasaan Majapahit bagian Selatan Nusantara.

Mahkota Mayangkara adalah lanjutan dari Tutur Tinular. Sandiwara ini berlatar belakang sejarah Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Jayanagara, di mana pada akhirnya terjadi pemberontakan Ra Kuti yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada.

Suara pengisi sandiwara radio seperti Ferry Fadli, Elly Ermawati, Ivone Rose atau M. Abud yang demikian mantap membuat imajinasi kami tentang tokoh-tokohnya melayang begitu tinggi.

Menjelang maghrib radio Sieghfrid berhenti bertugas. Ya, tiba saatnya bagi kami untuk belajar. Televisi kami belum punya saat itu, jadi hiburan hanya radio dan sesekali tape recorder.

Sambil belajar ada radio kecil yang menemani. Waktu itu radio kecil kami mereknya Telesonic berwarna hitam dengan isi empat baterai kecil.

Retro AM/FM solid state transistor radio. Cross processed.

Untuk menemani belajar, kami sudah janjian dengan teman teman sekelas untuk mendengarkan radio yang sama yaitu TT 77.

“Nanti ada salam buat kamu,” kata-kata sakti itu membuat kami bertahan mendengar radio sampai malam hari. Surprise sekali kalau tiba-tiba ada salam dari seseorang yang istimewa.

Sampai saat tidur tiba radio ikut menemani dekat bantal. Ketika mata hampir terpejam suara gamelan dari radio tetangga mulai terdengar.
Ah, ya, malam itu saatnya siaran wayang kulit semalam suntuk dari stasiun radio tertentu.

Begitulah radio yang selalui setia menemani rutinitas kami saat itu. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Dengan radio kegiatan sehari hari yang kami lakukan, lebih terasa begitu hangat dan akrab.

Untuk bernostalgia kita nikmati lagu yang sering diputar di RRI yuk….:)

Gempita Pelaksanaan Kemah Blok Kelas 3.5 dan 2.3 di Bintaraloka

Jumat itu terasa istimewa. Betapa tidak? Jam sepuluh lebih semua siswa sudah diperbolehkan pulang. Sebuah moment yang sangat langka.

Kira-kira apa penyebabnya? Aha, ternyata akan diadakan Kemah Blok pada pukul 13 nanti siang. Acara apa lagi ini? Ayo kita cek bersama..

Tentang Pramuka Blok

Pendidikan Kepramukaan Sebagai Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Menengah telah dikukuhkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014

Maknanya kegiatan pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, Permendikbud tersebut juga menjelaskan bahwa kegiatan kepramukaan sendiri dilaksanakan dalam tiga model yaitu Model Blok, Model Aktualisasi, dan Model Reguler.

Penjelasan untuk masing masing model adalah sebagai berikut :

  1. Model Blok adalah kegiatan pramuka dalam bentuk perkemahan yang dilaksanakan setahun sekali dan diberikan penilaian.
  2. Model aktualisasi adalah kegiatan pramuka dalam bentuk penerapan sikap dan keterampilan yang dipelajari di dalam kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan kepramukaan secara rutin, terjadwal, dan diberikan penilaian formal.
  3. Model reguler dalam pendidikan kepramukaan adalah kegiatan kepramukaan yang bersifat sukarela (tidak wajib) berbasis minat peserta didik yang dilaksanakan pada Gugus Depan

Pelaksanaan Kegiatan Kemah Blok di Bintaraloka

Kegiatan Kemah Blok yang bertema “Satyaku Kudharmakan, Dharmaku Kubaktikan” ini dilaksanakan selama dua hari satu malam. Tujuannya adalah untuk memenuhi kewajiban mengikuti pramuka selama 36 jam sehingga di rapor siswa memiliki nilai ekstra kurikuler wajib sebagai salah satu syarat kenaikan atau kelulusan.

Menjelang pukul satu siang selepas Jumatan geliat pelaksanaan Kemah Blok mulai terasa. Peserta yaitu kelas 3.5 dan 2.3 mulai datang dengan membawa segala macam perbekalan dalam ransel ransel mereka.

Wajah mereka begitu bersemangat. Tentu saja. Lama sekali kegiatan Kemah Blok tidak dilaksanakan.
Semangat juga tampak pada wajah-wajah dewan galang yang bertugas di depan pintu masuk. Mereka bertugas menjaga presensi yang akan diisi oleh tiap peserta.

Sekitar pukul dua apel pembukaan dimulai. Persiapan dilakukan dengan teliti oleh Kak Gerry dan tim, sementara bertindak sebagai petugas adalah para dewan galang dan pembina upacara adalah Kak Herianto.

Dalam upacara ini seluruh wali kelas 3.5 dan 2.3 turut hadir guna memberikan semangat pada para peserta.

Dalam kesempatan tersebut Kak Herry menyematkan tanda peserta Kemah Blok pada dua perwakilan siswa yang diikuti seluruh peserta apel.

Sekitar tiga puluh menit apel berakhir dan kegiatanpun dimulai. Cuaca yang agak panas membuat beberapa peserta tumbang, tapi karena kesigapan petugas kesehatan semua bisa teratasi dengan baik.

Apa saja kegiatan siswa pada acara Kemah Blok ini? Banyak. Diterangkan oleh Kak Hertika selaku penanggung jawab dalam Kemah Blok ini, siswa akan mendapatkan berbagai materi tentang kepramukaan, jelajah malam, pentas seni, juga lomba memasak.

Wow.. seru sekali.

Di hari Sabtu penulis menyempatkan diri ke sekolah guna melihat pelaksanaan lomba memasak di lapangan basket.

Sebuah catatan yang perlu digaris bawahi, lancarnya kegiatan Kemah Blok ini tak lepas dari kompaknya kerja tim kesiswaan juga siswa yang bertugas.

Akhirnya pada dasarnya pendidikan kepramukaan dilaksanakan untuk menginternalisasikan nilai ketuhanan, kebudayaan, kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, dan kemandirian pada peserta didik.

Semoga melalui kegiatan Kemah Blok ini ke depan akan tercipta generasi yang cakap, cerdas, dan berkarakter baik sesuai dengan apa yang tercantum dalam Dasa Dharma Pramuka.

Salam Pramuka…

Lomba Memasak, Sebuah Catatan dari Arena Kemah Blok Bintaraloka

Pagi ini dengan bersepeda motor saya menuju Bintaraloka. Meski seharusnya Sabtu libur, di sekolah ada acara kemah blok untuk siswa kelas 3.5 dan 2.3. Hmm, sebuah acara yang menarik dan sayang jika dilewatkan begitu saja.

Kira kira pukul setengah delapan saya tiba di lokasi. Tidak seperti yang saya bayangkan ternyata di lapangan volly suasana agak sepi. Tenda-tenda tertutup rapi ditinggalkan penghuninya.

“Acaranya apa sekarang?” tanya saya pada seorang dewan galang.
“Lomba masak Bu, di lapangan basket.., ” jawab Sang Dewan Galang.

Setelah mengucapkan terima kasih bergegas saya menuju lapangan basket. Aha…, bau sedap masakan menguar di mana-mana. Tiap regu sibuk dalam kelompoknya. Ada yang menggoreng, merebus, mengupas, membuat sambal, menghias makanan juga ada yang masih asyik makan.

Satu demi satu saya mendatangi regu-regu tersebut. Wah, banyak hal menarik yang bisa dicatat dari kegiatan memasak ini, di antaranya adalah:

Satu : Masakan siswa sangat kekinian. Ya, zaman sudah berubah, termasuk selera makan juga berubah banyak.

Dulu saat saya masih sekolah, jika ada pelajaran memasak yang kami buat tak jauh dari menu keseharian kami. Sayur bening, tempe, tahu dan sambal. Kadang kadang ditambah ayam goreng, tapi itu jarang sekali.

Di lomba masak ini menu yang dibuat siswa sungguh beraneka ragam. Ada yang membuat chicken katzu, sop jagung dan telur, sosis asam manis, sop sayur, nugget dipenyet dengan sambel… Wow, mantap pokoknya…
Tapi dari semua menu yang ada, sepanjang pengamatan saya nasi goreng masih jadi favorit

Dua : Alat masak yang dibawa sangat praktis. Saya bandingkan dengan zaman dulu jika pelajaran masak, pasti ada yang bagian mengangkat kompor minyak tanah untuk dibawa ke sekolah. Sampai ‘gotongan’ bawanya. Sekarang alat masak siswa tak begitu besar, seperti kompor portable, wajan kecil, grill, penanak nasi kecil juga.

Tiga : Siswa pintar mengolah masakan dan plating. Bisa jadi karena siswa sudah terbiasa membantu orang tua memasak di rumah, mendapat kursus singkat dari orang tua atau melihat tutorial dari internet.

Ya, sumber belajar yang begitu banyak membuat kreasi siswa sangat beraneka ragam dan tampaknya sangat lezat juga.

Hal penting melalui lomba memasak pagi ini siswa membuktikan bahwa mereka bukan generasi strawberry, yang salah satu cirinya hanya pintar memesan masakan secara online seperti yang diungkapkan Mister Heri di apel pembukaan Kemah Blok Pramuka 2022.

Semoga ke depan mereka akan menjadi generasi yang tangguh, serba bisa dan selalu mau belajar dari apa yang ada di sekitar mereka.

Salam pramuka..