Bintaraloka Goes to Gresik, Mengunjungi Resepsi Pernikahan Pak Faqih Romadhon

Menunggu kedatangan bus, dokumentasi pribadi

Sabtu pagi ini warga Bintaraloka mendapat undangan istimewa. Ya, salah seorang Bapak guru yaitu Pak Faqih akan melangsungkan resepsi pernikahan di daerah asal beliau yaitu Gresik.

Menikmati singkong goreng, dokumentasi pribadi
Menuju bus, dokumentasi pribadi

Sehari sebelumnya acara akad nikah dilaksanakan di Pakisaji Malang yang merupakan daerah asal dari mempelai wanita. Jadi di Gresik adalah acara ngunduh mantu dari keluarga Pak Faqih.

Sejak pukul enam pagi kami sudah siap di sekolah. Menurut pemberitahuan sebelumnya kami harus datang jam 6 karena sekitar pukul setengah tujuh kami harus berangkat menuju Gresik supaya tidak terlalu panas.

Siap berangkat, dokumentasi pribadi

Jumlah peserta perjalanan kali ini adalah 40 orang, dan kendaraan yang digunakan adalah Bus Halokes dan mobil sekolah. Karena kapasitas bus sekolah adalah 34 orang, maka yang berada di mobil sekolah ada 6 orang.

Seperti yang dijanjikan Bus Halokes masuk halaman Bintaraloka sekitar pukul setengah tujuh. Kami yang saat itu sedang menunggu sambil menikmati singkong goreng segera berkemas dan menuju bus dan mobil sekolah.

Setelah semua beres, dengan dipimpin Pak Muhaimin semua berdoa bersama. Tak lama kemudian buspun melaju membelah keramaian lalu lintas kota Malang menuju Gresik.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi
Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Semua tampak gembira. Sesudah lima hari kami harus menyelesaikan berbagai target pekerjaan, perjalanan hari ini tak ubahnya refreshing untuk menyegarkan pikiran dan mempererat silaturahmi di antara warga Bintaraloka.

Suasana semakin segar ketika satu demi satu lagu dikumandangkan dari karaoke. Suara merdu Bu Diana, Pak Gerry, Pak Vigil mengalunkan lagu-lagu dari Dewa 19, Pance Pondaag , Glenn Fredly atau Panbers dengan begitu manis. Ditambah lagi dengan penganan yang mengalir tiada henti. Mulai dari pisang rebus, bentoel maknyus, snack jagung , kerupuk dan banyak lagi.

Membagi Snack, dokumentasi pribadi
Bentoel maknyus, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul setengah sepuluh kami tiba di tempat resepsi. Karena suatu hal, rombongan pengantin belum tiba dari Pakisaji dan akhirnya kami harus sabar menunggu hingga rombongan tiba.

Cak Pandi in action, dokumentasi pribadi

Untunglah masa tunggu yang agak panjang tidak terasa menjenuhkan karena Cak Pandi mampu menghidupkan suasana sehingga semua terasa demikian gayeng. Cak Pandi adalah seorang pembawa acara serba bisa. Selain MC ia juga merangkap sebagai DJ, penyanyi, juga pemandu sholawat. Luar biasa.

Hitam manis…., dokumentasi pribadi

Dengan bersenjatakan laptop, sound dan suara yang merdu Cak Pandi membawakan lagu-lagu dari Rhoma Irama, A.Rafiq juga lagu Melayu lawas lainnya. Lagu “Ani” dari Rhoma Irama dieksekusi dengan cantik oleh Cak Pandi hingga membuat suasana semakin hangat.

Menunggu datangnya mempelai, dokumentasi pribadi
Menunggu datangnya mempelai, dokumentasi Cyin Any

Beberapa penonton ikut bergoyang, bahkan Pak Gerry dan Bu Any juga menyumbangkan lagu Hitam Manis dan Ojo Dibanding-bandingke.

Acara resepsi hari ini juga diramaikan oleh grup Al Banjari yang membawakan sholawat nabi dengan merdu dan rancak.

Al Banjari, dokumentasi pribadi

Ketika pengantin sudah siap, acara seremonial pun dimulai. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur an dan pembacaan sholawat bersama, acara dilanjutkan dengan penyerahan mempelai wanita pada pihak keluarga mempelai laki-laki.

Acara berlangsung dengan hangat namun tetap khidmat. Kedua mempelai tampil begitu serasi dan tampak sekali rona bahagia dari wajah keduanya. Berbagai nasehat disampaikan oleh yang ‘dituakan’ dari pihak keluarga kedua mempelai.

Sekitar pukul setengah satu setelah menikmati hidangan kami segera berpamitan. Ya, tamu begitu banyak. Supaya tidak terlalu berjubel kami harus segera meninggalkan tempat.

Namun sebelum pulang semua menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Ciiz….senyum paling manispun terukir di wajah kami masing masing.

Berfoto bersama, dokumentasi Cyin Any
Berfoto bersama, dokumentasi Cyin Any

Akhirnya selesai sudah kunjungan kami ke acara resepsi pernikahan Pak Faqih Romadhon di Gresik.

Mengutip kalimat dari Cak Pandi, kami semua mendoakan agar kedua mempelai bisa membangun keluarga yang samarasa (sakinah, mawaddah warrahmah dan sentosa) dan samaraba (sakinah, mawaddah warrahmah dan barokah).

Amiin YRA.

Kebaya, Satu Khazanah Budaya Nusantara

Kamis pertama tahun 2023 yang cerah. Jika biasanya mendung menggantung di langit kota Malang, hari ini cuaca begitu bersahabat. Tidak ada awan mendung. Mentari terasa begitu hangat sehangat senyum kami pagi ini.

Seperti biasanya Kamis ditandai dengan busana kebaya dan Malangan yang dikenakan oleh Bapak/Ibu guru di Bintaraloka.

Ada yang istimewa di Kamis ini. Banyak ibu ibu guru yang mengenakan kebaya Malangan hitam dan putih dengan motif yang hampir sama. Aih, semua tampak cantik. Yang ‘kembaran’ maupun tidak. Lebih-lebih ketika semua berfoto bersama dengan senyum yang hangat dan ceria.

Kebaya Malangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia sudah selayaknya kebaya kita lestarikan dengan cara lebih sering mengenakannya utamanya di acara-acara yang istimewa.

Berkebaya di sekolah, dokumentasi pribadi

Lebih-lebih melalui keputusan hasil rapat bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK), dan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Pemerintah RI telah mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda UNESCO secara single nomination.

Sebelumnya Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei juga mendeklarasikan kebaya untuk diajukan kepada Intergovernmental Committee for Intangible Cultural Heritage and Humanity UNESCO.

Keempat negara itu juga mengajak negara serumpun termasuk Indonesia untuk bergabung dalam joint multinational nominations sesuai dengan operational guideline yang akan diajukan Maret 2023.

Apakah keistimewaan kebaya sebagai kekayaan budaya Indonesia?

  1. Kebaya menunjukan karakteristik unik dari masing-masing daerah di Indonesia. Tiap daerah punya kekhasan kebaya sendiri
  2. Kebaya menjadi identitas bangsa yang mampu menaikan derajat dan martabat Indonesia di mata dunia
  3. Kebaya menjadi daya tarik Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai aset pariwisata
  4. Kebaya bisa menjadi inspirasi bagi industri fashion di kancah nasional dan internasional.

Last but not least .., kebaya tidak hanya cantik, tapi juga mampu membuat pemakainya tampil lebih anggun dan menarik. Tidak percaya? Mari kita lihat foto foto yang ada di halaman ini.

Kebaya membuat pemakainya lebih cantik dan menarik, dokumentasi pribadi

Ciiiz….:)

Tahun Baru 2023, Harshad Numbers dan Sukacita

Sumber gambar: terasjabar.id

Gempita menyambut datangnya tahun baru sudah terasa sejak Sabtu sore. Paling tidak itu yang saya rasakan tatkala saya bersepeda motor di sekitar Museum Brawijaya Jalan Ijen Malang.

Sejak siang para pedagang sudah menyiapkan stand di sekitar museum. Meski angin bertiup agak kencang dan daun daun yang berguguran memaksa petugas kebersihan berkali kali menyapu jalan, hal tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk merayakan malam pergantian tahun.

Menjelang pergantian tahun di depan Museum Brawijaya, dokumentasi pribadi

Bahkan di beberapa lokasi di kampung atau perumahan sudah menyiapkan terop untuk nobar dan makan bareng , atau bakar jagung dan kumpul- kumpul bersama.

Sekitar jam 10 malam suara petasan mulai berbunyi sesekali dan mencapai puncaknya saat pukul 12 malam. Pesta kembang api tampak dari lantai atas rumah saya. Wih meriah sekali.. yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Persiapan perayaan pergantian tahun dekat Museum Brawijaya, dokumentasi pribadi
Nobar dan makan bersama di sebuah RT, dokumentasi Yanti

Angka 2023 yang Istimewa
Banyak prediksi yang mengatakan bahwa tahun 2023 akan terjadi resesi, karenanya kita harus lebih berhati-hati. Nasehat yang sangat penting. Bagaimanapun juga persiapan untuk menghadapi berbagai kondisi sangat diperlukan agar kita bisa mengambil langkah yang tepat ketika terjadi masalah.

Namun begitu kita tidak boleh kehilangan rasa optimis dalam menghadapi tahun 2023.

Nah, bagaimana pandangan matematika tentang tahun 2023? He .he.. ternyata ada yang istimewa di balik angka 2023.

Mari kita tinjau 2023 menurut ilmu bilangan. Selain termasuk bilangan real 2023 juga termasuk Harshad Number atau bilangan Harshad.
Apakah bilangan Harshad itu?

Bilangan Harshad, dokumentasi P. Yos

Bilangan Harshad dinamakan juga bilangan Niven adalah bilangan bulat yang habis dibagi dengan jumlah digitnya. Bilangan Harshad bisa ditinjau dari berbagai basis. Untuk bahasan kita kali ini kita ambil basis 10 karena basis inilah yang paling sering kita pakai.

Contoh bilangan Harshad adalah 27, mengapa? 2+7= 9 dan 27 habis dibagi 9. Contoh lain adalah 24, karena 2+4 = 6 dan 24 habis dibagi 6.

Urutan bilangan Harshad mulai dari 1 adalah :

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10 , 12 , 18 , 20 , 21 , 24 , 27 , 30 , 36 , 40 , 42 , 45 , 48 , 50 , 54 , 60 , 63 , 70 , 72 , 80, 81 , 84 , 90 , 100 , 102 , 108 , 110 , 111 , 112 , 114 , 117 , 120 , 126 , 132 , 133 , 135 , 140 , 144 , 150 , 152 , 151 , dst

Bagaimana dengan 2023? Mari kita jumlahkan, 2+0+2+3 = 7, dan 2023:7 = 289. Aha, ternyata 2023 habis dibagi (2+0+2+3). Berarti 2023 adalah Harshad number. Istimewa sekali..

Bilangan Harshad didefinisikan oleh Dr Kaprekar , seorang ahli matematika dari India, dan kata Harshad berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya pemberi sukacita.
Sedangkan istilah Bilangan Niven muncul dari makalah yang disampaikan oleh Ivan M. Niven pada konferensi tentang teori bilangan pada tahun 1977.

Akhirnya selamat datang tahun 2023 yang istimewa, dan selamat tinggal tahun 2022 yang penuh kenangan.
Sesuai makna Harshad, semoga tahun 2023 ini banyak memberikan sukacita untuk kita semua.

Sekedar catatan di awal tahun..:)

Salam Matematika:)

Ketika Radio Kembali Menyapa Kami

Radio transistor, Sumber gambar: Dara.co.id

Catatan manis sebelum menutup 2022 ini adalah berkumandangnya kembali radio di ruang dengar keluarga saya. Padahal sudah lama sekali saya tak begitu dekat dengan benda satu ini.

Bagaimana bisa? Begini ceritanya..


Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan
Kuteringat akan dirimu

Lagu itu berkumandang lembut dari radio KDS 8 yang channel-nya saya temukan kembali pagi ini. Lagu yang bercerita tentang sebuah kerinduan. Seperti rindu saya pada radio dan segala suasana yang mengiringinya.
Ya, bertahun-tahun sudah saya tak pernah mendengarkan radio.

Tepatnya sejak bapak meninggal. Saya tidak suka mendengarkan radio. Sungguh , radio memberikan kesan yang dalam tentang kedekatan saya dengan bapak. Mendengarkan radio berarti ingat bapak, dan itu sungguh membuat saya begitu rindu.

Bagaimana saya bisa kembali mendengarkan radio?

Kemarin saat piket di sekolah saya berbincang-bincang dengan teman satu angkatan. Satu guru Bahasa Inggris dan satunya guru IPA. Biasalah, kalau teman seangkatan bertemu pasti cerita tentang indah dan uniknya masa lalu.
Dari perbincangan itu tiba-tiba teman saya bercerita kalau dia sering mendengarkan radio KDS8.

“Eh, KDS 8 itu masih ada?” tanya saya antusias.
“Lho ada…, Sekarang pemancarnya pindah di daerah Sawojajar..,”
“Wah, nanti aku cari.. ,” kata saya lagi.
“Beli radio transistor kecil Bu.., asyik.. ,” kata teman saya lagi. Saya tertawa.. benar, asyik nih..

Pulang sekolah saya segera mengecek radio tape yang sudah lama sekali ada di meja tengah. Radio tape adalah radio sekaligus bisa dipakai nyetel kaset yang masih memakai pita. Kaset-kaset sudah dibawa adik saya karena dia yang suka nyetel dengan menggunakan tape besar. Jadi otomatis radio tape saya lama sekali tidak disetel.

Radio lawas, sumber gambar: Merdeka.com

Saya tekan tombol on. Ketika tombol yang lain saya arahkan ke radio, lalu channel saya putar.., amazing ! Ada suara Ajeng di sana. Saya senyum sendiri. Ajeng adalah satu penyiar KDS8 favorit saya. Bawaannya rame sehingga yang mendengarkan jadi bersemangat.

Mendengar radio rasanya memang beda. Apalagi jika penyiarnya sangat menyenangkan dan punya kekhasan saat menyapa. Radio bukan sekedar memutar lagu atau memberi informasi, tapi juga menciptakan suasana yang bisa kita terjemahkan sendiri menurut rasa kita.

Sejenak saya terpaku. Nuansanya sama seperti dulu. Rame, semangat, lagunya enak-enak. Biasanya suara radio bercampur dengan gemuruh suara mesin jahit bapak.

Mendengar iklan dan jingle membuat saya ingat anak-anak. Ya, anak-anak dulu selalu ikut menyanyikan jingle KDS 8.

Di sini KDS8
Selalu setia di hari-hari anda….

Teman saya langsung saya whatsApp.
“KDSnya sudah ketemu..!” kata saya
“Wes asyik Bu.. beli radio kah?”
“Tidak, radio lawas ini,” jawab saya lagi.
“Beli yang baru Bu.. , supaya tidak grodok grodok..,”
“Oke..,” jawab saya senang.

Sementara itu satu demi satu lagu terus mengalun. Mulai dari lagu sinetron Tersanjung, lagu dari Naif, sampai lagunya Virzha yang berjudul Tentang Rindu.

Ah, lagu yang terakhir ini memang selalu membuat rindu. Syairnya membuat saya rindu pada masa lalu dengan segala pernak-perniknya.
Gemuruh suara mesin jahit, anak- anak yang masih kecil dan selalu heboh, apalagi menjelang tahun baru seperti ini.

Radio memang tak henti membuka kenangan juga menciptakan kenangan baru bagi para pendengarnya.

Terima kasih pada Mister Sony dan Bu Arie yang banyak bercerita pada saya tentang KDS8. Nanti kita kirim-kiriman lagu ya… he..he…


Kayutangan yang Penuh Kenangan

Pagi ini cuaca agak mendung di kota Malang. Lalu lintas jalan Kawi tak begitu ramai. Tentu saja, ini adalah hari pertama libur akhir semester. Biasanya jalan raya di pagi hari padat dengan anak – anak yang akan berangkat sekolah, sekarang tidak.

Vario saya berjalan pelan. Nyaman sekali tidak dikejar-kejar jam seperti biasanya. Dari Jalan Kawi sepeda terus berjalan ke Talun. Sampai di perempatan Alun alun Merdeka sepeda belok ke kiri ke arah Kayutangan.

Berkendara sepanjang Kayutangan membuat mata dimanjakan dengan berbagai bangunan tua yang terjaga keasliannya.

Di kanan jalan tampak Gereja Katolik Hati Kudus Yesus yang populer dengan nama Gereja Kayutangan. Gereja ini memiliki gaya arsitektur yang unik dan mempunyai nilai sejarah dan arsitektur bergaya Gothic.
Hingga saat ini bangunan gereja masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik.

Tidak jauh dari gereja terdapat toko Oen. Sebuah restoran yang memiliki gaya klasik Belanda di setiap sudut bangunan juga koki dan pelayannya.

Toko Oen pernah menjadi tempat para peserta kongres KNIP beristirahat makan siang saat kongres yang diadakan tanggal 25 Februari 1947.

Toko Oen, sumber gambar: Kumparan

Bangunan bersejarah lain adalah Tugu jam penunjuk arah di pertigaan Celaket di kawasan jl J.A Suprapto, Jl. Brigjen Slamet Riyadi dan Jl. Basuki Rahmat. Tugu yang berperan sebagai jam kota dan papan penunjuk arah.

Tugu penunjuk arah, sumber gambar: terakota

Di depan tugu tersebut terdapat bangunan tua PLN. Bangunan ini memiliki beberapa ruang bawah tanah sebagai tempat berlindung atau menyelamatkan dan melindungi alat-alat vital listrik, dari perang dunia ke-II.

Gedung PLN, Sumber gambar: Kekunaan

Suasana jalan tak begitu ramai. Aktivitas tampak begitu nyata di gereja dekat masjid Jamik juga gereja Kayutangan. Beberapa jemaah datang, namun ada juga yang bersiap pulang. Ya, hari ini umat Kristiani sedang merayakan Natal.

Pagi di Kayutangan, dokpri

Sepeda saya terus melaju, sampai di depan dealer sepeda motor hentakan musik tiba tiba memaksa saya berhenti. Suara penyanyi yang mantap, diiringi suara musik yang sangat cetar sungguh sangat menyita perhatian saya.
‘Semut Hitam’ dari God Bless dibawakan demikian rancak.

Beberapa pengendara sepeda juga berhenti seperti saya. Sambil manggut- manggut mengikuti hentakan irama kami turun dari sepeda dan berdiri di trotoar.

Lagu God Bless, dokpri

Lagu berganti. Raungan gitar listrik ditambah hentakan drum yang mengiringi sebuah lagu yang lain membuat ingatan kembali terlempar ke masa lalu. Saat di mana God Bless beberapa kali konser di kota Malang dan kami heboh membicarakannya.

Saya ingat saat saat itu ketika Achmad Albar datang ke kota Malang , teman saya ikut nyanggong di daerah Embong Arab karena kabarnya Achmad Albar mau mampir sana. He..he…

Mendengarkan lagu God Bless selalu mengingatkan saya pada adik. Ya, kami dulu sering ngopi bareng sambil mendengarkan lagu bersama, dan God Bless salah satu yang kami gemari.

Dua lagu selesai. Yang menonton semakin banyak. Beberapa menyempatkan diri memesan lontong bahkan mungkin juga ngopi di Teras Heritage yang tidak jauh dari situ.

Teras Heritage, dokpri

Menginjak lagu berikutnya cepat- cepat saya ambil sepeda. Wah, bisa kepanjer ini. Kalau mendengar lagu enak bisa lupa waktu.

Sepeda kembali melaju. Tidak jauh dari tempat pertama, saya berhenti lagi. Kali ini lagu-lagu Utha Likumahua yang didendangkan oleh sebuah grup band membuat ingatan kembali salto ke masa lalu, hingga tak terasa jadi ikut bersenandung mengikuti reffrainnya.

Lagu Utha Likumahua, dokpri

Bersama bayanganmu kasih
Aku mencoba berdiri dan melangkah lagi…

Ingatan saya kembali ke masa SMA di mana saat pulang sekolah bersama teman-teman berjalan kaki melalui Kayutangan.

Lagu-lagu terus mengalun manis. Beberapa penonton ada yang berdiri seperti saya, sementara yang duduk juga banyak. Ya, sejak pembangunan Kayutangan Heritage dilaksanakan ada banyak kursi yang berjajar sepanjang Kayutangan.

Ketika langit semakin gelap rintik gerimis mulai turun. Ah, baru ingat.. saya tidak membawa jas hujan pagi ini. Bergegas saya mengambil sepeda di parkiran untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Kendaraan mulai ramai, musik terus mengalun. Kayutangan terus berbenah. Jalan-jalan terus dipercantik dan geliat ekonomi masyarakat kampung sekitarnya semakin terasa.

Kayutangan tak berhenti membangkitkan kenangan dan membuat kenangan yang baru lagi.

Kontak saya putar. Tapi sebelum mesin sepeda dihidupkan, sebuah pesan whatsapp saya kirimkan buat adik.

Ayo.. kapan ngopi nang Kayutangan..?