Pagi itu suasana Aula Tugu lebih ramai dari biasanya. Guru-guru dari berbagai sekolah datang dengan berseragam PGRI. Ya, sebagai salah satu rangkaian peringatan HUT PGRI ke 77 dan Hari Guru Nasional Kota Malang mengadakan Simposium Bersama dan pameran dari karya inovasi para guru se kota Malang.
Apresiasi Kadinas pada guru penulis, dokumentasi B. Utien
Karya para guru bisa berupa PTK, Best Practice atau buku.
Acara dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang sekitar pukul 09.00. Sesudahnya Bapak Kadinas meninjau pameran buku hasil karya para guru dan sebagai wujud apresiasi para guru diajak berbincang satu persatu.
Sekitar pukul setengah sebelas acara simposium pun dimulai. Oh ya, ada 250 peserta, 30 pemateri dan 40 penulis yang hadir hari itu mulai dari tingkat TK, SD, SMP juga SMA/SMK.
Pelaksanaan simposium dibagi dalam ruang ruang. Kami guru SMP dijadikan satu dengan guru TK, sementara guru SD dan SMA/SMK di ruang yang lain.
Ibu Nuraini memandu jalannya simposium, dokumentasi B. Utien
Simposium berjalan begitu gayeng. Dengan panduan Ibu Nuraini, presentasi dan tanya jawab berjalan dengan akrab.
Inovasi para guru juga sangat menarik. Beberapa yang sempat saya catat adalah Matematika Laba-laba, sebuah cara mengajarkan matematika di TK, Penggunaan Barcode untuk Presensi Sholat Dhuhur siswa di sekolah, sedangkan saya memaparkan tentang Penggunaan Kartu Pipolondo untuk Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung.
Dalam paparan Matematika Laba-Laba, guru memaparkan bagaimana mengajak siswa TK belajar berhitung dengan menggunakan boneka laba-laba. Sangat menarik, hanya sayang saya tidak sempat memotretnya.
Dalam Penggunaan Barcode untuk Presensi Sholat Dhuhur siswa di sekolah, guru agama Islam memaparkan penggunaan barcode dalam presensi sholat Dhuhur di sekolah.
Presentasi Bu Utien, dokpri
Aha, sebuah inovasi menarik. Pembiasaan sholat Dhuhur berjamaah kiranya perlu ditekankan pada siswa. Di usia anak-anak pembiasaan perlu sedikit ‘dipaksa’ dengan harapan nantinya siswa akan merasakan ibadah sebagai sebuah kebutuhan.
Presentasi penggunaan kartu pipolondo, dokumentasi B. Utien
Tanya jawab mengalir dengan semangat berbagi ilmu. Ya, kami berusaha sharing barangkali ada hal hal baik yang sudah diterapkan di sekolah bisa diadaptasi di sekolah yang lain.
Sebenarnya mengapa guru harus selalu berinovasi?
Di samping karena tuntutan profesi, ada beberapa alasan yang membuat guru harus berinovasi. Di antaranya adalah: 1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian pesat menimbulkan banyak perubahan dalam kehidupan. Baik itu yang positif maupun negatif. Tentunya dibutuhkan juga pembelajaran di sekolah yang bisa memberikan kecakapan pada siswa untuk dapat memecahkan berbagai masalah dalam hidup juga menggunakan tekologi secara bijak.
2. Perubahan Kurikulum Secara berkala kurikulum selalu berganti. Tentu saja karena kehidupan sosial banyak berubah dan tuntutan zamanpun berubah. Hal tersebut mengakibatkan sekolah harus melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kondisi yang ada sehingga menghasilkan output sesuai tuntutan masyarakat dan dunia kerja.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu dan semangat belajar pada siswa. Pembelajaran yang inovatif bisa mewadahi rasa ingin tahu siswa sehingga mereka akan lebih semangat untuk belajar atau menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Ya, zaman yang selalu berubah menuntut guru selalu berinovasi. Dengan inovasi diharapkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna tercipta di dalam kelas, sehingga siswa bisa merasakan indahnya belajar, dan mereka merasakan belajar adalah sebagai sebuah kebutuhan dalam hidup mereka.
Pagi itu suasana Stadion Gajayana sudah demikian ramai. Pengunjung datang dari berbagai sekolah dengan seragam berwarna warni. Kondisi lapangan yang basah tidak mengurangi semangat kami semua.
Pengunjung Stadion Gajayana, dokpri
Di dalam stadion suara musik yang menghentak memberikan semangat pada semua peserta. Peserta yang terdiri atas siswa dan guru mulai TK sampai dengan SMA dan SMK menggerakkan badan mengikuti gerakan sang pemandu senam. Aha, hari itu stadion Gajayana diramaikan dengan acara Peringatan HUT PGRI ke 77, Hari Guru Nasional dan Hari Anti Korupsi.
Suasana pagi di Stadion Gajayana, dokumentasi Apple
Acara yang diperkirakan dihadiri oleh 15 ribu orang itu tampak begitu meriah. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia penyelenggara, sambutan dari Bapak Walikota dan diakhiri dengan senam bersama.
Sesuai salah satu temanya yaitu Hari Anti Korupsi Nasional semua siswa diminta membawa spanduk ataupun slogan anti korupsi. Ya, korupsi yang menggerogoti ekonomi negara dan membuat rakyat sengsara memang harus diperangi bersama-sama.
Spanduk anti korupsi, dokpriRombongan siswa SMP3, dokumentasi Apple
Tiba pada acara senam bersama, Walikota dan semua undangan bersama-sama menggerakkan badan dengan pemandu pemandu dan irama musik yang begitu enerjik.
Wajah ceria tampak di mana mana. Tentu saja bergerak mengikuti irama lagu bersama memberikan efek rasa gembira pada semua yang datang.
Ada ceria di mana mana, dokumentasi Apple
Sesudah senam acara dilanjutkan dengan pengundian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah menarik. Harap- harap cemas sambil mengamati kupon yang dipegang. Meski peluangnya sangat kecil, peluang tetap peluang. Jangan- jangan mendapat hadiah utama… He.. He..
Sekecil apapun, peluang tetap peluang, dokumentasi AppleAda ceria di mana mana, dokumentasi Apple
Acara pagi itu juga dimeriahkan oleh stand gizi yang diadakan para guru TK. Stand gizi adalah stand yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Sangat pas, karena setelah senam bersama pasti banyak peserta yang lapar atau haus.
Bapak/ibu guru SMP negeri 3 ,siswa kelas 2.3 dan kelas 3.3 turut hadir di stadion Gajayana pagi itu. Semua mengikuti acara demi acara dengan antusias dan gembira.
Guru Bintaraloka, dok Bu Maria
Ketika matahari semakin naik acarapun berakhir, satu demi satu peserta meninggalkan stadion Gajayana. Tapi eits.. Sebelum pulang wajib foto dulu.. Ciiis… 🙂
Pendamping siswa, dokumentasi AppleSebelum pulang, dokumentasi Apple
Pagi itu suasana terasa demikian istimewa di Balaikota Malang. Di bagian dalam ratusan siswa dan pembina berseragam pramuka siap apel, sementara di bagian luar orang tua atau pengantar siswa mengikuti acara dengan sabar.
Menjelang berangkat, dokumentasi P.Gerry
Ya, hari itu Sabtu, 12 Nopember 2022 akan diberangkatkan rombongan peserta long march, napak tilas jejak perjuangan pahlawan Hamid Rusdi dari Balaikota hingga Wonokoyo sebagai bagian dari Peringatan Hari Pahlawan 2022.
Mengenal Pahlawan Hamid Rusdi
Patung Hamid Rusdi, Sumber gambar : Malang Times
Hamid Rusdi adalah pahlawan nasional yang berasal dari kota Malang. Pahlawan Hamid Rusdi diabadikan dalam sebuah patung yang terletak di Jalan Simpang Balapan Ijen Malang
Hamid Rusdi merupakan pahlawan tiga masa, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang, serta kemerdekaan.
Hamid Rusdi lahir pada 1911 di Desa Sumbermanjingkulon, Pagak, Kabupaten Malang.
Ketika penjajahan Belanda, beliau aktif di bidang kepanduan.
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Hamid Rusdi menyusup ke dalam PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943. Saat itu Hamid Rusdi berpangkat Sudanco (Letnan I) dan ditugaskan di Malang.
Di hadapan Jepang, Hamid Rusdi sibuk latihan militer. Secara underground, beliau sibuk mempersiapkan laskar perlawanan Jepang.
Upaya Hamid Rusdi membawa hasil dimana akhirnya Karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, dan pasukan tentara Jepang di Malang bisa dilucuti.
Hamid Rusdi juga pencetus Malang Lautan Api. Di tahun 1947 ketika terjadi agresi militer pertama, beliau menjadi perwira tertinggi di Malang yang bertugas mempertahankan kota dari serbuan Belanda.
Di sinilah aksi legendaris Hamid Rusdi terjadi. Beliau berkeliling kota mengendarai jeep dan memerintahkan seluruh rakyat menghanguskan bangunan Belanda. Inilah peristiwa Malang Lautan Api.
Pada 8 Maret 1949, Hamid Rusdi pulang dan berpamitan pada istri beliau, Siti Fatimah. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir dengan sang istri karena sesudahnya Hamid Rusdi gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Wonokoyo.
Hamid Rusdi dikenal cakap berstrategi. Beliau pandai memainkan strategi komunikasi menggunakan bahasa walikan. Bahasa yang merupakan sandi pertempuran ini sampai sekarang menjadi bahasa khas arek Malang.
Long March Napak Tilas Jejak Perjuangan Pahlawan Hamid Rusdi 2022
Dari Sabang sampai Merauke, dokumentasi P. Gerry
Long March yang diadakan oleh Kwarcab Pramuka dan Pemerintah Kota Malang ini mengambil start di Balaikota Malang.
Suasana pemberangkatan demikian meriah. Bendera merah putih tegar berdiri dengan tongkat dalam genggaman tangan siswa.
Lagu lagu nasional yang demikian menggugah semangat dikumandangkan. Lagu Maju Tak Gentar, Hari Merdeka dan terakhir Dari Sabang sampai Merauke.
Di saat menyanyikan dari Sabang sampai Merauke bendera dikibar-kibarkan dengan penuh semangat. Suasana demikian mengharukan. Ada pesan penting yang disampaikan bahwasanya harus tetap digelorakan dalam dada para generasi muda untuk menghargai setiap perbedaan yang ada di dalam negara tercinta Indonesia.
Setelah apel, sekitar pukul setengah delapan peserta diberangkatkan untuk memulai long march. Ada 107 regu yang mengikuti long march ini, dan tiap regu terdiri atas lima orang. Jadi total peserta long march adalah 535 orang. Bintaraloka mendapat urutan regu ke 65 dan 66.
Regu putera dan puteri Bintaraloka, dokumentasi P.Gerry
Adapun rincian tiap regu sesuai jenjang sekolah adalah sebagai berikut : 2 regu SD 80 regu SMP 21 regu SMA dan SMK 2 regu perguruan tinggi 6 regu sekolah disabilitas
Peserta berangkat dengan begitu bersemangat. Jarak yang lumayan jauh (kira-kira 10 km) pasti bisa diatasi dengan semangat yang gigih, dan saling memberi semangat dan kekuatan.
Kebersamaan peserta dalam regu Bintaraloka benar- benar terasa. Sepanjang perjalanan regu putera maupun puteri selalu berjalan bersama. Tidak saling mendahului karena yang dipentingkan di sini adalah kerjasama dan kekompakan team, seperti yang dicontohkan mayor Hamid Rusdi bersama anak buahnya di masa perjuangan dulu.
Setelah melalui beberapa pos, sekitar pukul 11 regu pramuka Bintaraloka tiba di monumen Hamid Rusdi Wonokoyo.
Mengheningkan cipta, dokumentasi P.Gerry
Setelah mengheningkan cipta dan mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur, siswa segera mendirikan tenda dan langsung mengikuti rangkaian acara yang sudah disiapkan panitia, seperti kerja bakti, kegiatan mencari teman, karang pamitran juga lomba puisi dan membuat poster.
Kesan siswa dalam mengikuti acara ini adalah sangat excited. Ya, ini adalah pengalaman baru bagi mereka mengikuti long march dengan jarak yang lumayan jauh.
Perjalanan yang melelahkan namun sangat berkesan. Melalui kegiatan ini hendak dibangkitkan lagi jiwa-jiiwa pahlawan muda untuk berbuat sesuatu yang bisa mengharumkan nama tanah air tercinta.
Dalamperjalanan, dokumentasi P. GerryDi GOR Ken Arok, dokumentasi P.Gerry
Melalui long march ini diharapkan siswa bisa lebih menghayati perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan terutama pahlawan Hamid Rusdi. Ya, perlu disadari bersama bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.
Pagi ini matahari bersinar cerah. Setelah bersih bersih lingkungan, siswa berkumpul kembali di lapangan volly Bintaraloka untuk melanjutkan gladi yang dilakukan sejak kemarin.
Persiapanpenyambutan, dokumentasi BBC
Ya, sekolah bersiap siap untuk menyambut kedatangan Sang Maestro tari kebanggaan Indonesia yaitu Didik Nini Thowok.
Tentang Didik Nini Thowok
Didik Nini Thowok, dokumentasi BBC
Didik Nini Thowok memiliki nama asli Didik Hadiprayitno. Seniman tari ini lahir di Yogyakarta, 13 November 1954. Tarian Didik Nini Thowok yang sangat terkenal adalah tarian ‘dua muka’, yaitu sebuah tarian yang menjalankan dua karakter wajah sekaligus dengan menggunakan topeng depan belakang.
Didik Nini Thowok menempuh studinya di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta dan memperoleh gelar SST (Sarjana Seni Tari).
Lulus dari ASTI, beliau ditawari ASTI untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain menjadi dosen di ASTI, Didik Nini Thowok juga menjadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.
Didik Nini Thowok menggeluti kesenian tari dengan kombinasi antara tari tradisional, modern dan tarian komedi. Sebagian besar tarian yang diciptakan digali dari tarian-tarian Sunda, Cirebon, Bali, dan Jawa.
Beliau menggeluti seni tari sejak usia muda, dan dulu sering ‘ngamen’ di Malioboro, sebuah kawasan kreativitas seniman Yogyakarta.
Pemimpin Didik Nini Thowok Foundation dan Didik Nini Thowok Entertainment ini pernah memperoleh penghargaan bergengsi Kick Andy Heroes Award kategori Seni dan Budaya (2009).
Penyambutan Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka
Persiapan penyambutan, dokpri
Persiapan penyambutan di Bintaraloka dilakukan di dekat pintu gerbang dan lapangan. Di dekat pintu gerbang Ibu Ninik beberapa kali memberikan briefing pada penyambut tamu yang terdiri dari satu orang siswa putra dan putri, sementara di lapangan volly Mister Sony memberikan arahan pada siswa penyambut tamu juga pengisi acara.
Sekitar pukul delapan lebih sebuah mobil hitam masuk Bintaraloka. Seseorang keluar dari mobil dengan wajah yang ramah. Ya, Didik Nini Thowok, Sang Maestro tari telah memasuki halaman Bintaraloka.
Tiba di Bintaraloka, dokpri
Setelah dilakukan pengalungan selendang oleh dua siswa yang bertugas, dengan diiringi bapak dan ibu guru Sang Maestro mengisi buku tamu dan langsung menuju lapangan volly.
Tepuk tangan yang begitu meriah menyambut kedatangan Didik Nini Thowok, dan tak lama sesudahnya lima orang penari menarikan tari Batik dengan gemulai namun lincah.
Tari yang menggambarkan tentang proses pembuatan batik Malangan ini dibawakan siswa yang kemarin berlaga di FLS2N dengan begitu indah.
Tari Batik, dokumentasi BBC
Setelah tari Batik, Imraan membawakan jula-juli dengan syair dan gaya yang menggelitik. Dalam syair jula-julinya Imraan mengucapkan selamat datang pada Didik Nini Thowok juga bercerita tentang siswa dan guru di Bumi Bintaraloka.
Jula juli, dokumentasi BBC
….
Sekolahe sing paling oke
Prestasine nggarai wedi dhewe
Arek arek e pinter dadine
Gurune pancen ksatria
Awak e bijak lan berwibawa
Aku dewe yo ora gelem kalah
Masi weteng maju
wajah idol Korea…
Setelah jula juli semua siswa berdiri dan menyanyikan lagu Mari Meraih Prestasi bersama sama.
Lagu yang digubah oleh Pak Vigil ini selalu membawa nuansa tersendiri, ada rasa semangat, bangga, sekaligus terharu saat bersama-sama menyanyikan lagu ini di bumi Bintaraloka.
Setelah menyanyi bersama, dokumentasi BBC
Lebih-lebih pagi ini lagu dinyanyikan dengan iringan musik ansamble SMP Negeri 3 Malang.
Ansamble, dokumentasi BBC
Setelah lagu dinyanyikan, secara mengejutkan Didik Nini Thowok request pada semua untuk menyanyikan sekali lagi. Bahkan beliau ikut ‘turun’ dan melambaikan tangan mengikuti irama lagu.
Sekali lagi Bintaraloka kembali dimeriahkan oleh lagu Mari Meraih Prestasi yang kami nyanyikan bersama.
Menari bersama, dokumentasi BBC
Sesudah menyanyikan lagu, dua orang siswa maju ke depan untuk menyerahkan lukisan dan meminta tanda tangan pada lukisan yang sudah dibuat. Dengan ramah Didik Nini Thowok menerima dan menandatangani lukisan siswa dan mengajak mereka berfoto bersama.
Menari dan menyanyi bersama, dokumentasi BBC
Sebelum menuju aula atas guna memenuhi undangan MGMP Seni Budaya Kota Malang sebagai pemateri, beliau juga memberikan beberapa pesan pada semua siswa, di antaranya untuk selalu menjunjung tinggi budaya kita.
Sesudah acara penyambutan Pak Didik Nini Thowok segera menuju aula Bintaraloka 1 , karena di sana bapak ibu guru seni budaya kota Malang telah menunggu.
Berfoto setelah menandatangani karya siswa, dokumentasi BBC
Acara di aula begitu gayeng. Acara yang bertajuk Koreografi Anak Ini banyak membicarakan tentang pentingnya menggunakan metode yang tepat dalam mengajarkan tari pada anak-anak.
Dalam kesempatan ini Didik Nini Thowok juga mengajak bapak/ibu guru peserta MGMP menari bersama.
Suasana workshop di aula, dokpri
Kesan yang sangat terasa dari kunjungan Didik Nini Thowok di Bintaraloka hari ini adalah keramahan, kehalusan dan kerendahan hati beliau.
Betapa beliau tidak segan untuk menyapa dan mengajak siswa bicara, bahkan menari bersama kami semua.
Didik Nini Thowok juga menyampaikan kesan dan pesan dengan bahasa yang halus dan santun meski dengan gaya yang kocak.
Sungguh hari yang sangat berkesan. Ada banyak pelajaran yang bisa dari kedatangan Didik Nini Thowok ini, yaitu:
1. Terus pelajari seni budaya karena itu adalah kekayaan bangsa. Mempelajari seni budaya akan mengasah rasa sehingga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri tetap terjaga sehingga kita bisa menjadi lebih halus, lebih sabar, tidak mudah tersulut emosi.
2. Selalu menghargai dan menghormati jasa para guru dan orang tua. Didik Nini Thowok menerangkan bahkan sampai sekarang beliau masih ziarah ke makam guru-guru beliau, karena gurulah yang membuat beliau menjadi maestro seperti sekarang ini.
3. Jangan takut bereksplorasi dan berkreasi dalam seni. Tidak ada yang salah dalam seni. Karena seni berkaitan dengan olah rasa yang membuat manusia lebih halus dan berbudaya.
Bulan Oktober telah berlalu. Bulan yang menyisakan beberapa kisah yang menyedihkan tentang banyaknya korban dalam sebuah kerumunan.
Tragedi Kanjuruhan Malang, tragedy festival heloween di Itaewon, juga ambruknya jembatan gantung di India begitu menyita perhatian kita. Semua memberi gambaran betapa sangat rentannya berada dalam kerumunan karena mudah sekali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Keramaian saat karnaval, dokumentasi pribadi
Lama tidak diperbolehkan berkerumun ternyata menimbulkan euforia saat ada event tertentu Ya, dua tahun semua membatasi diri gara-gara pandemi, akhirnya ketika diberi kelonggaran dalam penyelenggaraannya, berbagai event selalu dipenuhi banyak orang.
Seperti halnya saya sendiri, sebenarnya saya kurang suka mendatangi keramaian. Tapi saat ada karnaval di bulan Agustus, saya bersama anak saya bergegas menuju lokasi. Mengapa? Sudah lama tidak ada acara semacam itu, lagipula lokasi karnaval tidak begitu jauh dari rumah.
Seperti yang diperkirakan sebelumnya, pengunjung karnaval demikian membludak. Bahkan tulisan Ijen Boulevard dipenuhi anak- anak kecil yang ingin menonton karnaval.
Penonton karnaval duduk-duduk di tepi jalan, dokumentasi pribadi
Para pedagang makanan berjajar di sepanjang jalan memanfaatkan momentum tersebut guna mengais rezeki sebanyak-banyaknya.
Namun kondisi tersebut masih bisa dikendalikan karena kesigapan dari satpol PP dan kesadaran penonton untuk mengambil tempat di luar garis yang ditentukan, meski akhirnya para penonton termasuk saya rame-rame duduk di tepi jalan. He.. He.. Tak apalah.. Setahun sekali.
Pukul setengah satu meskipun masih banyak atraksi peserta yang belum muncul kami pulang. Kondisi berdesak-desakan membuat badan rasanya begitu lelah. Saat itu dari lokasi karnaval yaitu Jalan Ijen sampai ke rumah saya dibutuhkan waktu 1 jam lebih, sementara di hari biasa hanya sekitar 10 menit jalan kaki. Bisa dibayangkan betapa banyaknya penonton karnaval saat itu.
Nah, satu cerita lagi, baru-baru ini saya kembali menonton sebuah event dan akhirnya tak terasa saya terjebak dalam kerumunan.
Sabtu pagi tepatnya seminggu yang lalu saya bersepeda motor untuk berbelanja ke pasar. Rencananya dari pasar saya sedikit mau muter-muter untuk mencari pemandangan.
Ya, Sabtu pagi sekolah libur, jadi semua bisa dikerjakan dengan selow.
Vario saya terus berjalan menyusuri Jalan Kawi. Di pertigaan jalan arah menuju Stadion Gajayana tak seperti biasa suasana begitu ramai. Bahkan macet. Pasti ada acara di stadion, pikir saya.
Terjebak kemacetan membuat saya bisa lebih jeli melihat orang-orang di sepanjang jalan menuju Stadion. Ternyata di tepi jalan banyak orang berjualan makanan, mainan anak termasuk ayam kecil yang diberi warna-warni, juga keong yang diletakkan dalam rumah-rumahan kecil.
Suasana senam massal, dokumentasi pribadi
Eh, kok mainan anak ya? Tidak biasanya di Gajayana ada acara seperti ini, pikir saya heran.
“Mas, wonten acara nopo nggeh? ” tanya saya pada tukang parkir di tepi jalan.
“Senam massal Bu, anak PAUD dan TK se Malang, ” jawab si Mas.
Wah, menarik ini. Apalagi saat itu melintas beberapa anak kecil berseragam kaos olah raga berwarna cerah dan bertopi. Lucu sekali. Tanpa pikir panjang sepeda saya parkir dekat pintu masuk Stadion Gajayana dan masuk bersama para penonton yang lain.
Suasana di Gajayana sudah begitu ramai. Anak kecil, guru-guru, orang tua dan panitia memenuhi stadion. Sepagi itu saya sudah tidak kebagian tempat duduk. Tak masalah, pikir saya. ‘Kan cuma sebentar.
Sementara itu penonton dari luar terus berdatangan masuk stadion.
Ketika acara dimulai suasana semakin meriah. Menurut berita ada sekitar 6000 anak yang ikut senam pagi itu. Seragamnya berwarna warni. Tiap warna menunjukkan dari kecamatan mana TK/PAUD itu berasal.
Sambil menonton saya sungguh merasa salut dengan guru-guru TK dan PAUD yang dengan sabar mendampingi siswanya di lapangan. Tentunya bukan hal yang mudah melatih anak- anak sekecil itu senam bersama.
Oh ya, saat itu orang tua sama sekali tak boleh masuk lapangan. Jadi lapangan ‘dikuasai’ para guru, siswa TK dan PAUD dan tentunya panitia.
Acara senam selesai. Dengan dikomando siswa segera balik kanan untuk keluar dari stadion dengan tetap dalam panduan guru-guru mereka. Pemandangan yang menarik bagi saya adalah saat berjalan anak-anak memegang pundak teman di depannya supaya tidak lepas dari barisan. Dari kejauhan tampak seperti ulat yang berwarna warni.. He.. He..
Siswa selesai sena masal, ganti atraksi para guru, dokumentasi pribadiBerfoto bersama Ibu guru, dokumentasi Ima
Selesai atraksi siswa, ganti guru-guru menyajikan tari Profil Pelajar Pancasila. Pada foto di atas, barisan berbaju biru di elakang adalah guru-guru yang sedang menari.
Ketika itu tiba-tiba saya merasa baju saya ditarik-tarik dari belakang. “Bu, jangan berdiri disitu..Yang belakang tidak kelihatan,” kata Mbak yang menarik baju saya. Saya melihat sekitar. Saat itulah saya baru sadar bahwa sekitar saya semakin penuh manusia. Bahkan saya sudah tak bisa bergerak lagi. Orang-orang mulai ribut karena pandangannya tertutup yang lain.
“Ayo.. Ayo.. Yang berdiri itu pindah.., ” kata ibu-ibu yang duduk tidak sabar.
Saya bingung, agak jengkel juga. Pindah kemana? Masa mumbul? Tidak ada tempat begini.
Suasana di bangku penonton, dokumentasi pribadi
Melihat kondisi yang semakin kurang bagus dimana penonton makin banyak dan mulai emosi ditambah hawa yang juga mulai panas dengan sedikit memaksa saya mencari jalan keluar. “Amit enggeh… Amit…, ” kata saya sambil pelan-pelan terus menerobos kerumunan. Yang saya tuju satu, pintu keluar.
Betapa leganya saya ketika pintu keluar sudah tampak di depan mata. Kerumunan tidak sebanyak di dalam. Bergegas saya menuju parkiran. Beberapa ibu tampak duduk di parkiran dengan wajah lelah.
“Wes, di luar saja Bunda.. Lebih aman, ” kata mereka.
“Iya, benar, di luar saja, ” tambah saya.
Cepat-cepat saya hidupkan sepeda, dan meluncur meninggalkan Stadion Gajayana. Di sepanjang Jalan Semeru dekat Gajayana mikrolet berderet-deret banyak sekali. Rupanya mikrolet carteran peserta senam massal pagi itu.
Dari pengalaman hari itu saya belajar bahwa kadang kita tidak sengaja terjebak dalam sebuah kerumunan. Di awal kondisi sepertinya tidak begitu ramai, tapi tiba-tiba orang yang datang semakin banyak dan banyak, akhirnya terjadi kerumunan manusia yang semakin banyak.
Nah, kalau sudah seperti itu tidak ada salahnya jika kita memperhatikan beberapa tips saat kita terjebak kerumunan. Tips tersebut adalah:
1. Jangan emosi, banyaknya orang juga rasa panic biasanya membuat emosi gampang naik. Namun sedapat mungkin emosi harus tetap ditahan karena emosi membuat kita kurang control atau kurang waspada.
2. Tetap jaga keseimbangan. Jangan sampai limbung atau jatuh. Tetap jaga keseimbangan dan terus berjalan meski sedikit demi sedikit.
3. Jangan tersugesti oleh pikiran buruk. Jangan merasa. Aduh, orang begini banyak, kalau saya mumet atau semaput bagaimana. Tidak boleh. Pikiran buruk harus kita buang jauh- jauh saat itu.
4. Posisi tangan di dada. Dengan posisi tangan di dada setidaknya kita membuat space bagi kita untuk bergerak dan dada tidak tertekan oleh tubuh orang lain.
5. Segera cari pintu keluar. Nah, ini yang paling penting. Segera keluar dan tinggalkan arena kerumunan. Tapi saya juga tidak bisa membayangkan kejadian Kanjuruhan di mana orang orang berjuang mencari pintu keluar juga bertahan atas semprotan gas air mata. Malam hari pula. Ah, mudah mudahan tidak akan pernah terjadi lagi kejadian memilukan seperti itu.
Dan yang paling penting adalah berdoa sebelum bepergian.Ya, betapa pentingnya arti sebuah doa. Sebelum berangkat mari berdoa pada Sang Khalik agar kita senantiasa diberikan keselamatan.
Bukankah Dia adalah Sang Maha, tempat kita berlindung dalam segala urusan yang kita jalani?