Lomba Memasak, Sebuah Catatan dari Arena Kemah Blok Bintaraloka

Pagi ini dengan bersepeda motor saya menuju Bintaraloka. Meski seharusnya Sabtu libur, di sekolah ada acara kemah blok untuk siswa kelas 3.5 dan 2.3. Hmm, sebuah acara yang menarik dan sayang jika dilewatkan begitu saja.

Kira kira pukul setengah delapan saya tiba di lokasi. Tidak seperti yang saya bayangkan ternyata di lapangan volly suasana agak sepi. Tenda-tenda tertutup rapi ditinggalkan penghuninya.

“Acaranya apa sekarang?” tanya saya pada seorang dewan galang.
“Lomba masak Bu, di lapangan basket.., ” jawab Sang Dewan Galang.

Setelah mengucapkan terima kasih bergegas saya menuju lapangan basket. Aha…, bau sedap masakan menguar di mana-mana. Tiap regu sibuk dalam kelompoknya. Ada yang menggoreng, merebus, mengupas, membuat sambal, menghias makanan juga ada yang masih asyik makan.

Satu demi satu saya mendatangi regu-regu tersebut. Wah, banyak hal menarik yang bisa dicatat dari kegiatan memasak ini, di antaranya adalah:

Satu : Masakan siswa sangat kekinian. Ya, zaman sudah berubah, termasuk selera makan juga berubah banyak.

Dulu saat saya masih sekolah, jika ada pelajaran memasak yang kami buat tak jauh dari menu keseharian kami. Sayur bening, tempe, tahu dan sambal. Kadang kadang ditambah ayam goreng, tapi itu jarang sekali.

Di lomba masak ini menu yang dibuat siswa sungguh beraneka ragam. Ada yang membuat chicken katzu, sop jagung dan telur, sosis asam manis, sop sayur, nugget dipenyet dengan sambel… Wow, mantap pokoknya…
Tapi dari semua menu yang ada, sepanjang pengamatan saya nasi goreng masih jadi favorit

Dua : Alat masak yang dibawa sangat praktis. Saya bandingkan dengan zaman dulu jika pelajaran masak, pasti ada yang bagian mengangkat kompor minyak tanah untuk dibawa ke sekolah. Sampai ‘gotongan’ bawanya. Sekarang alat masak siswa tak begitu besar, seperti kompor portable, wajan kecil, grill, penanak nasi kecil juga.

Tiga : Siswa pintar mengolah masakan dan plating. Bisa jadi karena siswa sudah terbiasa membantu orang tua memasak di rumah, mendapat kursus singkat dari orang tua atau melihat tutorial dari internet.

Ya, sumber belajar yang begitu banyak membuat kreasi siswa sangat beraneka ragam dan tampaknya sangat lezat juga.

Hal penting melalui lomba memasak pagi ini siswa membuktikan bahwa mereka bukan generasi strawberry, yang salah satu cirinya hanya pintar memesan masakan secara online seperti yang diungkapkan Mister Heri di apel pembukaan Kemah Blok Pramuka 2022.

Semoga ke depan mereka akan menjadi generasi yang tangguh, serba bisa dan selalu mau belajar dari apa yang ada di sekitar mereka.

Salam pramuka..

Serentak Berinovasi Wujudkan Merdeka Belajar

Pagi itu suasana Aula Tugu lebih ramai dari biasanya.  Guru-guru dari berbagai sekolah datang dengan berseragam PGRI.  Ya,  sebagai salah satu rangkaian peringatan HUT PGRI ke 77 dan Hari Guru Nasional Kota Malang mengadakan Simposium Bersama dan pameran dari karya inovasi para guru se kota Malang.

Karya para guru bisa berupa PTK,  Best Practice atau buku.

Acara dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang sekitar pukul 09.00. Sesudahnya Bapak Kadinas meninjau pameran buku hasil karya para guru dan sebagai wujud apresiasi para guru diajak berbincang satu persatu.

Sekitar pukul setengah sebelas acara simposium pun dimulai.  Oh ya,  ada 250 peserta, 30 pemateri dan 40 penulis yang hadir hari itu mulai dari tingkat TK,  SD,  SMP juga SMA/SMK.

Pelaksanaan simposium dibagi dalam ruang ruang.  Kami guru SMP dijadikan satu dengan guru TK,  sementara guru SD dan SMA/SMK di ruang yang lain.

Simposium berjalan begitu gayeng. Dengan panduan Ibu Nuraini, presentasi dan tanya jawab berjalan dengan akrab.

Inovasi para guru juga sangat menarik.  Beberapa  yang sempat saya catat adalah Matematika Laba-laba, sebuah cara mengajarkan matematika di TK, Penggunaan Barcode untuk Presensi Sholat Dhuhur siswa di sekolah, sedangkan saya memaparkan tentang Penggunaan Kartu Pipolondo untuk Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung.

Dalam paparan Matematika Laba-Laba, guru memaparkan bagaimana mengajak siswa TK belajar berhitung dengan menggunakan boneka laba-laba.  Sangat menarik, hanya sayang saya tidak sempat memotretnya.

Dalam Penggunaan Barcode untuk Presensi Sholat Dhuhur siswa di sekolah, guru agama Islam memaparkan penggunaan barcode dalam presensi sholat Dhuhur di sekolah. 

Aha,  sebuah inovasi menarik.  Pembiasaan sholat Dhuhur berjamaah kiranya perlu ditekankan pada siswa. Di usia anak-anak pembiasaan perlu sedikit ‘dipaksa’ dengan harapan nantinya siswa akan merasakan ibadah sebagai sebuah kebutuhan. 

Sementara paparan saya tentang penggunaan kartu pipolondo sebenarnya sudah pernah saya tulis di Kompasiana dengan link https://www.kompasiana.com/yuli91129/6065a693d541df2fc12952b2/dengan-kartu-pipolondo-mereka-belajar-operasi-hitung-matematika?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile
hanya bentuknya diubah menjadi best practice.

Tanya jawab mengalir dengan semangat berbagi ilmu.  Ya,  kami berusaha sharing barangkali ada hal hal baik yang sudah diterapkan di sekolah bisa diadaptasi di sekolah yang lain. 

Sebenarnya mengapa guru harus selalu berinovasi?

Di samping karena tuntutan profesi, ada beberapa alasan yang membuat guru harus berinovasi. Di antaranya adalah:
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian pesat menimbulkan banyak perubahan dalam kehidupan.  Baik itu yang positif maupun negatif.  Tentunya dibutuhkan juga pembelajaran di sekolah yang bisa memberikan kecakapan pada siswa untuk dapat memecahkan berbagai masalah dalam hidup juga menggunakan tekologi secara bijak.

2. Perubahan Kurikulum
Secara berkala kurikulum selalu berganti.  Tentu saja karena kehidupan sosial banyak berubah dan tuntutan zamanpun berubah.  Hal tersebut mengakibatkan sekolah harus melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kondisi yang ada sehingga menghasilkan output sesuai tuntutan masyarakat dan dunia kerja.

3. Mengembangkan rasa ingin tahu dan semangat belajar pada siswa.   Pembelajaran yang  inovatif  bisa mewadahi rasa ingin tahu siswa sehingga mereka akan lebih semangat untuk belajar  atau menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Ya, zaman yang selalu berubah menuntut guru selalu berinovasi.  Dengan inovasi diharapkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna tercipta di dalam kelas, sehingga siswa bisa merasakan indahnya belajar, dan mereka merasakan belajar adalah sebagai sebuah kebutuhan dalam hidup mereka.

Salam Edukasi… 🙂

Meriahnya Senam Bersama Peringatan HUT PGRI ke 77 dan Hari Anti Korupsi 2022

Pagi itu suasana Stadion Gajayana sudah demikian ramai. Pengunjung datang dari berbagai sekolah dengan seragam berwarna warni. Kondisi lapangan yang basah tidak mengurangi semangat kami semua.

Di dalam stadion suara musik yang menghentak memberikan semangat pada semua peserta. Peserta yang terdiri atas siswa dan guru mulai TK sampai dengan SMA dan SMK menggerakkan badan mengikuti gerakan sang pemandu senam. Aha, hari itu stadion Gajayana diramaikan dengan acara Peringatan HUT PGRI ke 77, Hari Guru Nasional dan Hari Anti Korupsi.

Acara yang diperkirakan dihadiri oleh 15 ribu orang itu tampak begitu meriah. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia penyelenggara, sambutan dari Bapak Walikota dan diakhiri dengan senam bersama.

Sesuai salah satu temanya yaitu Hari Anti Korupsi Nasional semua siswa diminta membawa spanduk ataupun slogan anti korupsi. Ya, korupsi yang menggerogoti ekonomi negara dan membuat rakyat sengsara memang harus diperangi bersama-sama.

Tiba pada acara senam bersama, Walikota dan semua undangan bersama-sama menggerakkan badan dengan pemandu pemandu dan irama musik yang begitu enerjik.

Wajah ceria tampak di mana mana. Tentu saja bergerak mengikuti irama lagu bersama memberikan efek rasa gembira pada semua yang datang.

Sesudah senam acara dilanjutkan dengan pengundian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah menarik. Harap- harap cemas sambil mengamati kupon yang dipegang. Meski peluangnya sangat kecil, peluang tetap peluang. Jangan- jangan mendapat hadiah utama… He.. He..

Acara pagi itu juga dimeriahkan oleh stand gizi yang diadakan para guru TK. Stand gizi adalah stand yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Sangat pas, karena setelah senam bersama pasti banyak peserta yang lapar atau haus.

Bapak/ibu guru SMP negeri 3 ,siswa kelas 2.3 dan kelas 3.3 turut hadir di stadion Gajayana pagi itu. Semua mengikuti acara demi acara dengan antusias dan gembira.

Ketika matahari semakin naik acarapun berakhir, satu demi satu peserta meninggalkan stadion Gajayana. Tapi eits.. Sebelum pulang wajib foto dulu.. Ciiis… 🙂

Long March Napak Tilas Jejak Perjuangan Pahlawan Hamid Rusdi

Pagi itu suasana terasa demikian istimewa di Balaikota Malang. Di bagian dalam ratusan siswa dan pembina berseragam pramuka siap apel, sementara di bagian luar orang tua atau pengantar siswa mengikuti acara dengan sabar.

Menjelang berangkat, dokumentasi P.Gerry

Ya, hari itu Sabtu, 12 Nopember 2022 akan diberangkatkan rombongan peserta long march, napak tilas jejak perjuangan pahlawan Hamid Rusdi dari Balaikota hingga Wonokoyo sebagai bagian dari Peringatan Hari Pahlawan 2022.

Mengenal Pahlawan Hamid Rusdi

Patung Hamid Rusdi, Sumber gambar : Malang Times

Hamid Rusdi adalah pahlawan nasional yang berasal dari kota Malang. Pahlawan Hamid Rusdi diabadikan dalam sebuah patung yang terletak di Jalan Simpang Balapan Ijen Malang

Hamid Rusdi merupakan pahlawan tiga masa, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang, serta kemerdekaan.

Hamid Rusdi lahir pada 1911 di Desa Sumbermanjingkulon, Pagak, Kabupaten Malang.

Ketika penjajahan Belanda, beliau aktif di bidang kepanduan.

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Hamid Rusdi menyusup ke dalam PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943. Saat itu Hamid Rusdi berpangkat Sudanco (Letnan I) dan ditugaskan di Malang.

Di hadapan Jepang, Hamid Rusdi sibuk latihan militer. Secara underground, beliau sibuk mempersiapkan laskar perlawanan Jepang.

Upaya Hamid Rusdi membawa hasil dimana akhirnya Karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, dan pasukan tentara Jepang di Malang bisa dilucuti.

Hamid Rusdi juga pencetus Malang Lautan Api. Di tahun 1947 ketika terjadi agresi militer pertama, beliau menjadi perwira tertinggi di Malang yang bertugas mempertahankan kota dari serbuan Belanda.

Di sinilah aksi legendaris Hamid Rusdi terjadi. Beliau berkeliling kota mengendarai jeep dan memerintahkan seluruh rakyat menghanguskan bangunan Belanda. Inilah peristiwa Malang Lautan Api.

Pada 8 Maret 1949, Hamid Rusdi pulang dan berpamitan pada istri beliau, Siti Fatimah. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir dengan sang istri karena sesudahnya Hamid Rusdi gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Wonokoyo.

Hamid Rusdi dikenal cakap berstrategi. Beliau pandai memainkan strategi komunikasi menggunakan bahasa walikan.
Bahasa yang merupakan sandi pertempuran ini sampai sekarang menjadi bahasa khas arek Malang.

Long March Napak Tilas Jejak Perjuangan Pahlawan Hamid Rusdi 2022

Dari Sabang sampai Merauke, dokumentasi P. Gerry


Long March yang diadakan oleh Kwarcab Pramuka dan Pemerintah Kota Malang ini mengambil start di Balaikota Malang.

Suasana pemberangkatan demikian meriah. Bendera merah putih tegar berdiri dengan tongkat dalam genggaman tangan siswa.

Lagu lagu nasional yang demikian menggugah semangat dikumandangkan. Lagu Maju Tak Gentar, Hari Merdeka dan terakhir Dari Sabang sampai Merauke.

Di saat menyanyikan dari Sabang sampai Merauke bendera dikibar-kibarkan dengan penuh semangat. Suasana demikian mengharukan. Ada pesan penting yang disampaikan bahwasanya harus tetap digelorakan dalam dada para generasi muda untuk menghargai setiap perbedaan yang ada di dalam negara tercinta Indonesia.

Setelah apel, sekitar pukul setengah delapan peserta diberangkatkan untuk memulai long march. Ada 107 regu yang mengikuti long march ini, dan tiap regu terdiri atas lima orang. Jadi total peserta long march adalah 535 orang.
Bintaraloka mendapat urutan regu ke 65 dan 66.

Regu putera dan puteri Bintaraloka, dokumentasi P.Gerry

Adapun rincian tiap regu sesuai jenjang sekolah adalah sebagai berikut :
2 regu SD
80 regu SMP
21 regu SMA dan SMK
2 regu perguruan tinggi
6 regu sekolah disabilitas

Peserta berangkat dengan begitu bersemangat. Jarak yang lumayan jauh (kira-kira 10 km) pasti bisa diatasi dengan semangat yang gigih, dan saling memberi semangat dan kekuatan.

Kebersamaan peserta dalam regu Bintaraloka benar- benar terasa. Sepanjang perjalanan regu putera maupun puteri selalu berjalan bersama. Tidak saling mendahului karena yang dipentingkan di sini adalah kerjasama dan kekompakan team, seperti yang dicontohkan mayor Hamid Rusdi bersama anak buahnya di masa perjuangan dulu.

Setelah melalui beberapa pos, sekitar pukul 11 regu pramuka Bintaraloka tiba di monumen Hamid Rusdi Wonokoyo.

Mengheningkan cipta, dokumentasi P.Gerry

Setelah mengheningkan cipta dan mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur, siswa segera mendirikan tenda dan langsung mengikuti rangkaian acara yang sudah disiapkan panitia, seperti kerja bakti, kegiatan mencari teman, karang pamitran juga lomba puisi dan membuat poster.

Kesan siswa dalam mengikuti acara ini adalah sangat excited. Ya, ini adalah pengalaman baru bagi mereka mengikuti long march dengan jarak yang lumayan jauh.

Perjalanan yang melelahkan namun sangat berkesan. Melalui kegiatan ini hendak dibangkitkan lagi jiwa-jiiwa pahlawan muda untuk berbuat sesuatu yang bisa mengharumkan nama tanah air tercinta.

Dalamperjalanan, dokumentasi P. Gerry
Di GOR Ken Arok, dokumentasi P.Gerry

Melalui long march ini diharapkan siswa bisa lebih menghayati perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan terutama pahlawan Hamid Rusdi.
Ya, perlu disadari bersama bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.

Merdeka…!

Gempita Sambut Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka

Pagi ini matahari bersinar cerah. Setelah bersih bersih lingkungan, siswa berkumpul kembali di lapangan volly Bintaraloka untuk melanjutkan gladi yang dilakukan sejak kemarin.

Persiapanpenyambutan, dokumentasi BBC

Ya,  sekolah bersiap siap untuk menyambut kedatangan Sang Maestro tari kebanggaan Indonesia yaitu Didik Nini Thowok. 

Tentang  Didik Nini Thowok

Didik Nini Thowok, dokumentasi BBC

Didik Nini Thowok memiliki nama asli Didik Hadiprayitno. Seniman tari ini lahir di Yogyakarta, 13 November 1954. Tarian Didik Nini Thowok yang sangat terkenal adalah  tarian ‘dua muka’,  yaitu sebuah tarian yang menjalankan dua karakter wajah sekaligus dengan menggunakan topeng depan belakang.

Didik Nini Thowok menempuh studinya di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta dan memperoleh gelar SST (Sarjana Seni Tari).

 Lulus dari ASTI,  beliau ditawari ASTI untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain menjadi dosen di ASTI,  Didik Nini Thowok juga menjadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.

Didik Nini Thowok menggeluti kesenian tari dengan kombinasi antara tari tradisional, modern dan tarian komedi. Sebagian besar tarian yang diciptakan digali dari tarian-tarian Sunda, Cirebon, Bali, dan Jawa.

Beliau menggeluti seni tari sejak usia muda, dan dulu sering ‘ngamen’ di Malioboro,  sebuah kawasan kreativitas seniman Yogyakarta.

Pemimpin Didik Nini Thowok Foundation dan Didik Nini Thowok Entertainment ini pernah memperoleh penghargaan bergengsi Kick Andy Heroes Award kategori Seni dan Budaya (2009).

Penyambutan Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka

Persiapan penyambutan, dokpri

Persiapan penyambutan di Bintaraloka dilakukan di dekat pintu gerbang dan lapangan.  Di dekat pintu gerbang Ibu Ninik beberapa kali memberikan briefing pada penyambut tamu yang terdiri dari satu orang siswa putra dan putri, sementara di lapangan volly Mister Sony memberikan arahan pada siswa penyambut tamu juga pengisi acara.

Sekitar pukul delapan lebih sebuah mobil hitam masuk Bintaraloka.  Seseorang keluar dari mobil dengan wajah yang ramah. Ya, Didik Nini Thowok,  Sang Maestro tari telah memasuki halaman Bintaraloka. 

Tiba di Bintaraloka, dokpri

Setelah dilakukan pengalungan selendang oleh dua siswa yang bertugas, dengan diiringi bapak dan ibu guru Sang Maestro mengisi buku tamu dan langsung menuju lapangan volly.

Tepuk tangan yang begitu meriah menyambut kedatangan Didik Nini Thowok, dan tak lama sesudahnya lima orang penari menarikan tari Batik dengan gemulai namun lincah. 

Tari yang menggambarkan tentang proses pembuatan batik Malangan ini dibawakan siswa yang kemarin berlaga di FLS2N dengan begitu indah. 

Tari Batik, dokumentasi BBC

Setelah tari Batik,  Imraan membawakan jula-juli dengan syair dan gaya yang menggelitik.  Dalam syair jula-julinya  Imraan  mengucapkan selamat datang pada  Didik Nini Thowok juga bercerita tentang siswa dan guru di Bumi Bintaraloka.

Jula juli, dokumentasi BBC

….

Sekolahe sing paling oke

Prestasine nggarai wedi dhewe

Arek arek e pinter dadine

Gurune pancen ksatria

Awak e bijak lan berwibawa

Aku dewe yo ora gelem kalah

Masi weteng maju

wajah idol Korea…

Setelah jula juli semua siswa berdiri dan menyanyikan lagu Mari Meraih Prestasi bersama sama. 

Lagu yang digubah oleh Pak Vigil ini selalu membawa nuansa tersendiri, ada rasa semangat, bangga,  sekaligus terharu saat bersama-sama menyanyikan lagu ini di bumi Bintaraloka.

Setelah menyanyi bersama, dokumentasi BBC

Lebih-lebih pagi ini lagu dinyanyikan dengan iringan musik ansamble SMP Negeri 3 Malang.

Ansamble, dokumentasi BBC

Setelah lagu dinyanyikan,  secara mengejutkan Didik Nini Thowok request pada semua untuk menyanyikan sekali lagi.  Bahkan beliau ikut ‘turun’ dan melambaikan tangan mengikuti irama lagu.

Sekali lagi Bintaraloka kembali dimeriahkan oleh lagu Mari Meraih Prestasi yang kami nyanyikan bersama.

Menari bersama, dokumentasi BBC

Sesudah menyanyikan lagu,  dua orang siswa maju ke depan untuk menyerahkan lukisan dan meminta tanda tangan pada lukisan yang sudah dibuat.  Dengan ramah Didik Nini Thowok menerima dan menandatangani lukisan siswa dan mengajak mereka berfoto bersama.

Menari dan menyanyi bersama, dokumentasi BBC

Sebelum  menuju aula atas guna memenuhi undangan MGMP Seni Budaya Kota Malang sebagai pemateri,  beliau juga memberikan beberapa pesan pada semua siswa, di antaranya untuk selalu menjunjung tinggi budaya kita.

Sesudah acara penyambutan Pak Didik Nini Thowok segera menuju aula Bintaraloka 1 , karena di sana bapak ibu guru seni budaya kota Malang telah menunggu.

Berfoto setelah menandatangani karya siswa, dokumentasi BBC

Acara di aula begitu gayeng.  Acara yang bertajuk Koreografi Anak Ini banyak membicarakan tentang pentingnya menggunakan metode yang tepat dalam mengajarkan tari pada anak-anak. 

Dalam kesempatan ini Didik Nini Thowok juga mengajak bapak/ibu guru peserta MGMP menari bersama.

Suasana workshop di aula, dokpri

Kesan yang sangat terasa dari kunjungan Didik Nini Thowok di Bintaraloka hari ini adalah keramahan, kehalusan dan kerendahan hati beliau.

Betapa beliau tidak segan untuk menyapa dan mengajak siswa bicara,  bahkan menari bersama kami semua.

Didik Nini Thowok juga menyampaikan kesan dan pesan dengan bahasa yang halus dan santun meski dengan gaya yang kocak.

Sungguh hari yang sangat berkesan. Ada banyak pelajaran yang bisa dari kedatangan Didik Nini Thowok ini,  yaitu:

1. Terus pelajari seni budaya karena itu adalah kekayaan bangsa.  Mempelajari seni  budaya akan mengasah rasa sehingga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri  tetap terjaga sehingga kita bisa menjadi lebih halus,  lebih sabar,  tidak mudah tersulut emosi. 

2. Selalu menghargai dan menghormati jasa para guru dan orang tua.  Didik Nini Thowok menerangkan bahkan sampai sekarang beliau masih ziarah ke makam guru-guru beliau,  karena gurulah yang membuat beliau menjadi maestro seperti sekarang ini.

3. Jangan takut bereksplorasi dan berkreasi dalam seni.  Tidak ada yang salah dalam seni. Karena seni berkaitan dengan olah rasa yang membuat manusia lebih halus dan berbudaya.

Salam budaya….. 🙂