Titah Gayatri, Sang Petarung di Atas Papan Hitam-Putih

Namanya Titah Gayatri. Jika melihat sekilas dari perawakannya saja, banyak orang mungkin akan berpikir ia hanya siswi SMP biasa, sedang berharap-harap cemas akan masuk SMA mana. Akan tetapi, tidak akan ada yang menyangka bahwa di balik tubuh gadis mungil tersebut, tersimpan segudang prestasi yang ia telah pupuk sejak dini, siap dituai sewaktu-waktu.

Berawal dari medali perunggu yang ia raih pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur untuk kelompok usia tujuh tahun di tahun 2015, karir siswi SMP Negeri 3 Malang tersebut melonjak drastis pasca Pandemi Covid-19 empat tahun silam. Berbagai penghargaan ia sabet, mulai dari medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022, Juara 3 Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri sebulan setelahnya, hingga yang terbaru adalah Juara 3 JAPFA Chess festival 2023 kategori putri kelompok usia 14 tahun.

Dengan segudang prestasi di genggamannya, saya merasa sangat antusias ketika mendapatkan kesempatan untuk berbincang ringan dengan Titah Gayatri pada hari Selasa (04/06). Darinya, saya mendapatkan banyak pandangan tentang lika-liku perjalanan atlet catur muda dalam mengejar mimpinya.

Bincang ringan dengan Titah Gayatri, pecatur berprestasi SMP Negeri 3 Malang.

Pewawancara (P): Let’s start with a general question. Mengapa catur? Sejak kapan mengenal papan catur dan apa yang membuat seorang Titah Gayatri mulai tertarik bermain catur?

Titah Gayatri (TG): Saya mulai bermain catur dari umur lima tahun, Mas.

P: Lima tahun?!

Jujur, saya cukup terkejut mendengar jawaban Titah. Saya yang memiliki keponakan berusia sekitar lima menuju enam tahun tahu persis betapa sulitnya mengajak anak seusia tersebut untuk duduk diam dan berkonsentrasi selama lebih dari setengah jam, belum pula mengajarkan konsep catur yang bisa dibilang rumit bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Pujian tidak hanya layak dilayangkan kepada Titah dan bakat luar biasanya, melainkan juga kepada pihak keluarga dan pelatih yang mampu bersabar membimbing Titah sejak dini.

TG: Iya, Mas. Saya mulai bermain catur sejak umur lima tahun. Waktu itu, ayah dan kakek yang mengenalkan saya kepada permainan papan catur ini.

P: Kalau begitu, profesi kakek dan ayah Titah..?

TG: Keduanya adalah pelatih catur.

Setelah menggali lebih dalam, putri bungsu dari empat bersaudara ini mengungkapkan bahwa ia memang berasal dari keluarga catur. Selain ayah dan kakeknya, ketiga kakak Titah juga bergelut di bidang catur. Bahkan, kakak laki-lakinya, Nayaka Budhidharma (18) telah mendapatkan gelar master FIDE (FM) di tahun ini, bertengger nyaman di posisi 26 dalam jajaran pecatur terbaik nasional saat ini.

Nayaka Budhidharma, Kakak dari Titah Gayatri dan pecatur nasional bergelar Master FIDE. Source:FIDE.

Akan tetapi, bukan Nayaka yang menjadi tokoh utama di wawancara kali ini, melainkan Titah yang sedang berjuang mengikuti jejak keberhasilan sang kakak.

P: Lalu, apa catur di mata Titah Gayatri saat ini? Apakah sekedar hobi? Lifestyle? Atau sudah menjadi mimpi yang ingin dikejar?

TG: Saat ini, mungking lebih ke mimpi yang ingin dikejar. Saya bahkan sedang berada di posisi saya lebih bersemangat untuk bermain catur daripada belajar.

P: Lantas, adakah kesulitan di sekolah karena harus bergelut di bidang catur juga?

TG: Kesulitan sih ada. Tapi mungkin banyak yang berasal dari diri saya sendiri, seperti susah menghafal di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) atau tidak mengerti materi pelajaran menjelang ujian. Untungnya, hingga saat ini saya masih tidak pernah mengalami kesulitan di sekolah akibat terlalu focus di bidang catur.

Setelah bertanya pada ibu Yuli Anita, wali Kelas dari Titah Gayatri, beliau mengungkapkan bahwa Titah sendiri masuk dalam golongan siswa yang pintar. Meskipun berada di kelas empat semester dan harus menyelesaikan Pendidikan jenjang SMP hanya dalam waktu dua tahun, Titah masih selalu konsisten mendapat nilai di atas rata-rata. Hal ini membuktikan bahwa meskipun Titah sudah membulatkan tekad pada dunia catur, sekolah masih menjadi prioritas utamanya hingga kini.

P: Apa yang menyebabkan perubahan pola pikir tersebut? Sejak kapan Titah menganggap bahwa catur bukan hanya sekedar hobi saja?

TG: Mungkin sejak pandemi Covid-19 ya, Mas. Meskipun sebelumnya, saya juga sudah memiliki prestasi, tapi karena saya masih terlalu kecil, saya belum pernah membayangkan ingin menjadi apa ketika dewasa kelak. Akan tetapi, ketika sekolah berubah menjadi dari rumah, saya menggunakan banyak waktu luang saya untuk belajar lebih dalam tentang catur. Setelah sekian lama, saya mulai berpikir, kenapa tidak?

Ya, berbeda dari remaja lainnya yang banyak menghabiskan waktu mereka di kala pandemi dengan hanya bermain Tiktok atau aplikasi sejenisnya, Titah memutuskan untuk memanfaatkannya secara produktif dengan memperdalam ilmu catur yang ia miliki. Hal tersebut berbuah manis dua tahun pasca pandemi, ketika Titah baru saja menjadi siswi SMP Negeri 3 Malang. Ia berhasil menyabet medali emas pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022 serta meraih Juara 3 pada Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri pada bulan Oktober di tahun yang sama, sebuah lonjakan prestasi yang luar biasa dalam kurun waktu dua tahun.

Titah Gayatri ketika memenangkan medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur 2022 kategori putri KU 13.
Titah Gayatri, peraih juara 3 ajang JAPFA Chess Festival 2023 kategori putri KU 14.

P: Adakah sesuatu yang Titah belajar banyak dari dunia catur dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

TG: Mungkin karena catur adalah olahraga yang menuntut akurasi tinggi dalam waktu terbatas, yang paling banyak diterapkan adalah manajemen waktu dan selalu berpikir untuk beberapa Langkah ke depan.

P: Dan mungkin ini akan menjadi pertanyaan terakhir saya hari ini. Apa target yang ditetapkan untuk diri sendiri di tahun ini dan apa harapan seorang Titah Gayatri untuk karir caturnya di masa depan?

TG: Untuk tiap tahun, target yang saya tetapkan selalu sama, yaitu memenangkan kejuaraan nasional. Karena jika saya berhasil berprestasi di kejuaraan nasional, besar kemungkinan bagi saya untuk diberangkatkan ke luar negeri (Untuk kompetisi internasional). Sedangkan untuk harapannya, saat ini saya masih tetapkan di gelar FIDE Master Wanita (WFM) terlebih dahulu. Setidaknya, gelar WFM ini adalah lower ceiling saya. Untuk harapan setelah itu, saya akan pikirkan lagi setelah satu (harapan gelar WFM) ini tercapai.

Kejuaraan nasional. Setelah memenangkan medali emas di kejuaraan provinsi Jawa Timur dua tahun silam, Titah mengalihkan targetnya menuju kejuaraan tertinggi di Indonesia. Dan benar katanya, mereka yang mampu meraih gelar di gelaran ini mendapatkan kesempatan besar untuk diberangkatkan oleh Persatuan Catur Indonesia (PERCASI) menuju kompetisi internasional.

Dan melihat dari perjalanan karirnya, memenangkan kejuaraan nasional bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Titah. Buktinya, ia mampu meraih 6 poin dari 9 permainan di kejuaraan nasional pertamanya tahun lalu, dimana Titah berhasil menduduki posisi 9 di klasemen akhir. Jika ia mampu lolos menuju kejuaraan nasional tahun ini di Gorontalo, pengalaman dari tahun lalu akan menjadi bekal berharga untuk meraih hasil yang lebih baik lagi.

Statistik akhir Titah Gayatri pada gelaran kejuaraan nasional 2023.

Selain berbincang masalah catur, saya juga sempat bertanya seputar pribadi Titah; mulai dari hobi, keseharian, hingga masalah sekolah. Dari pembicaraan tersebut, saya sedikit banyak dapat melihat seperti apa diri Titah Gayatri yang sebenarnya.

Meskipun bertubuh kecil dan agak pendiam, Titah Gayatri adalah sosok yang ambisius. Dan meskipun di dunia catur profesional, ia bukanlah sosok super jenius yang mampu menggemparkan jagat dunia layaknya para pecatur ulung India, Titah adalah seorang petarung. Demi mewujudkan mimpi-mimpinya, Titah adalah seorang petarung tangguh di atas papan hitam-putih yang siap membantai lawan-lawannya.

Penulis: Achmad Zulfikar.

Editor: Yuli Anita.

Doa Bersama, Pembentukan Karakter dan Adab yang Harus Diperhatikan

Rabu pagi di Bintaraloka. Seperti hari sebelumnya, hari ini siswa berkumpul di lapangan volley untuk melaksanakan doa bersama. 

Doa bersama adalah salah satu pembiasaan di SMP Negeri 3 Malang yang dilaksanakan untuk pembentukan karakter baik pada diri siswa. 

Jika hari Selasa kemarin doa bersama dilakukan oleh kelas 7, 8 dan 9, maka pagi ini yang melaksanakan adalah siswa kelas 7 dan 8, dengan dipandu oleh para guru agama.

Setelah doa bersama pagi ini ada sedikit pengarahan dari Ibu Utien dan Pak Herianto selaku wakasis SMP Negeri 3 Malang.

Pengarahan dari Bu Utien, dokumentasi pribadi

Dalam pengarahannya Ibu Utien menerangkan tentang perlunya kesungguhan dalam berdoa. Ya, bukankah semua doa yang kita lantunkan semua ditujukan pada Allah yang telah memberikan kita segalanya? 

Ia yang memberikan kita kehidupan, kesehatan, sanak famili juga teman-teman yang bisa membuat kita merasa bahagia menjalani kehidupan. 

Demikian banyak karunia Allah pada kita karenanya sudah menjadi kewajiban kita untuk senantiasa berdoa dan mendekatkan diri kepada Nya dengan cara yang baik.

Pengarahan dari Pak Herianto, dokumentasi pribadi

Lewat pengarahannya Pak Herianto mengibaratkan segala doa dan perbuatan kita adalah seolah file file yang kita simpan di dalam cloud. Saat diperlukan file itupun akan dibuka satu per satu. Dan supaya kita tidak sampai rugi atau menyesal kita harus mengisi file tersebut dengan hal -hal yang baik.

Tentang Doa dan Adabnya

Ilustrasi berdoa, sumber gambar: Pexels

Allah memerintahkan umat muslim untuk senantiasa rajin dalam berdoa . Dalam Surah  Al Baqarah ayat 186 Allah berfirman : 

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ada aturan atau adab yang harus selalu diperhatikan dalam berdoa, di antaranya adalah:

1. Memilih Waktu Terbaik

Waktu terbaik dinamakan juga  waktu yang  istijabah untuk berdoa. Waktu yang istijabah tersebut  misalnya sepertiga malam terakhir, saat berbuka puasa, antara azan dan iqamah, saat azan berkumandang, sujud dalam salat, dan saat turun hujan. 

2. Menghadap Kiblat

Imam Al Ghazali juga menganjurkan muslim untuk berdoa menghadap kiblat. Hal ini tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 149-150,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَاِنَّهٗ لَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ – ١٤٩

Artinya: Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ .

3. Berdoa dengan Rendah Hati (tawadhu)

Ilustrasi berdoa, sumber gambar: berita satu

Selanjutnya, Imam Al Ghazali mengatakan agar muslim dapat berdoa dengan wajar, lembut dan merendahkan diri serta tidak menggunakan kata yang berlebih-lebihan. 

.

4. Berdoa dengan Rasa Harap

Adab berdoa selanjutnya yakni seorang muslim hendaknya berdoa dengan rasa harap dan cemas .

5. Yakin

Setiap muslim yang berdoa harus yakin  bahwa doa tersebut akan dikabulkan Allah SWT.  

6. Tidak Terburu-buru

Dalam berdoa kita tidak boleh  terburu-buru. Bahkan, Imam Al Ghazali menganjurkan untuk mengulang bacaan doa sebanyak tiga kali.

7. Didahului Asmaul Husna

Berdoa dengan rasa tawadhu’, Sumber gambar: Pexels

Terakhir, Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah berkata, orang yang membaca doa dengan menyematkan Asmaul Husna di dalamnya akan diperkenankan doanya tersebut. 

Demikian adab-adab yang harus selalu di laksanakan dalam berdoa. Ya, adab yang harus selalu kita pegang karena kita akan memohon sesuatu pada Dia Sang Maha Pemberi . 

Karena jika berhadapan dengan sesama manusia saja kita harus selalu memegang adab dan kesopanan, apalagi saat menghadap Allah yang telah memberi kita segalanya.

Tingkatkan Kebersamaan dan Rasa Syukur, Jamaah Pengajian An Nisa’ Selenggarakan Tadabbur Alam dan Rihlah Religi

Hari masih pagi. Jam  menunjukkan pukul tujuh kurang. Meski demikian di sepanjang jalan Manggar Malang telah tampak kesibukan yang demikian nyata.

Ibu-ibu tampak sudah siap dengan tas  besar. Wajah gembira tampak di mana-mana. Tentu saja. Hari Minggu itu mereka akan melaksanakan kegiatan Tadabbur Alam dan Rihlah Religi dengan tujuan Blitar.

Tadabbur alam adalah sebuah cara untuk merasakan tanda -tanda kebesaran Allah dengan cara hadir langsung melihat dan merasakan ciptaan Allah, sedangkan rihlah religi adalah melaksanakan perjalanan menuju ke tempat yang mempunyai nuansa keagamaan.

Bersama Bapak Ketua RT 08 RW 10, dokumentasi Utien

Kegiatan tadabbur alam dan rihlah religi kali ini diikuti oleh 51 ibu-ibu anggota Jamaah Pengajian An Nisa’ RW 10 Kelurahan Lowokwaru Malang

Adapun destinasinya adalah Kampung Coklat, Kebun Petik Belimbing, Rumah Jenang dan Masjid Ar Rahman.

Sekitar pukul 07.00, setelah sedikit sambutan dari Bapak Ketua RT 08 RW 10, semua peserta naik bus, dan perjalananpun dimulai.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi Utien

Perlahan bus bertolak menuju Blitar. Suasana dalam bus begitu gayeng. Berbagai obrolan muncul dan tak ketinggalan berbagai penganan dinikmati bersama. Khasnya ibu-ibu, saat bepergian selalu membawa camilan untuk keakraban bersama.

Sekitar pukul sepuluh sampailah bus di destinasi pertama yaitu Kampung Coklat.

Kampung Coklat adalah sebuah tempat wisata yang berlokasi di Jalan Banteng Blorok No. 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Di sini peserta diajak melakukan field trip berkeliling kebun coklat dengan didampingi pemandu.

Pada peserta juga dikenalkan tentang    proses pengolahan coklat dari awal hingga pengemasan sekaligus edukasi penjualan produk coklat.

Di Kampung Coklat, dokumentasi pribadi Utien
Berkeliling di Kampung Coklat, dokumentasi pribadi Utien

Setelah kurang lebih dua jam di Kampung Coklat perjalanan dilanjutkan menuju Rumah Jenang

Rumah Jenang atau Kampung Jenang ini berlokasi di Rejowinangun. Ada sekitar  45 rumah yang memproduksi jenang juga wajik. Setelah melihat dan mencoba proses pembuatan jenang dan wajik, tak lupa peserta membeli penganan tersebut untuk oleh-oleh. Harganya sangat bersahabat, satu besek jenang Rp25.000,00 dan Rp28.000,00 untuk wajik.

Mengamati proses pembuatan jenang, dokumentasi pribadi Utien
Pembuatqn wajik, dokumentasi pribadi Utien

Dari Kampung Jenang perjalanan di lanjutkan ke tempat wisata Petik Belimbing.

Agrowisata yang berlokasi di  Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar memiliki ribuan pohon belimbing yang bisa dipetik oleh wisatawan di tempat.

Sayangnya ketika sampai di sana buah belimbing masih kecil-kecil sehingga belum bisa dipetik. Padahal sebagai salah satu ikon kota Blitar, belimbing Karangsari sangat terkenal kekhasannya yaitu berukuran besar dan manis.

Di agrowisata Petik Belimbing, dokumentasi pribadi Utien

Satu jam berkeliling di agrowisata Petik Belimbing, perjalanan dilanjutkan ke Masjid Ar Rahman.

Suasana Masjid Nabawi yang damai dan sejuk menyambut kedatangan peserta sore itu.

Ar Rahman adalah sebuah masjid yang berdiri megah di Kota Blitar dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk. Atmosfer beribadah di masjid ini  serasa seperti di Masjid Nabawi, Madinah. Baik aroma wewangiannya maupun lafaz adzannya.

Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi Utien

Masjid ini dibangun atas obsesi Abah Hariyanto seorang pengusaha ternama di Kota Blitar.

Dari pengalamannya merasakan suasana ibadah yang demikian khusyuk di Masjid Nabawi, masjid inipun dibangun di area seluas 5000 meter persegi.

Berfoto bersama di Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi Utien

Di masjid peserta rihlah memanfaatkan waktunya untuk sholat, dzikir dan berkeliling di area masjid. Sekitar pukul 18.30, kunjungan ke Masjid Ar Rahman diakhiri dan peserta  naik bus untuk kembali ke kota Malang

Sungguh sebuah perjalanan yang sangat  menyenangkan. Tadabbur alam dan rihlah religi tidak hanya memperluas pandangan dan pengetahuan, namun juga meningkatkan kerukunan dan kebersamaan antara jamaah serta merenungi dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Allah.

Mari Lakukan “Gebrakan”, Gerakan Bersama Melawan Kekerasan Anak

Pagi itu suasana aula begitu ramai. Banyak siswa mengambil posisi mengitari spanduk besar. Mereka sedang antre, bergantian membubuhkan tanda tangan pada spanduk tersebut dengan menggunakan spidol besar.

Penandatanganan deklarasi anti bullying, dokumentasi PPG

Spanduk berisi deklarasi anti bullying. Ya, saat itu siswa sedang mengikuti acara sosialisasi gerakan bersama melawan kekerasan anak (Gebrakan) yang diadakan di aula sekolah.

Tiga Dosa Besar dalam Pendidikan

Ibu Narsum menjelaskan tentang bullying, dokumentasi PPG

Pada tahun 2022 Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim menyebutkan ada tiga dosa besar dalam dunia pendidikan kita yakni kekerasan seksual, perundungan/kekerasan, dan intoleransi.

Penggunaan kosa kata dosa besar menunjukkan bahwa ini adalah masalah penting dan mendesak untuk segera di atasi bersama-sama.

Akibat yang timbul jika masalah tersebut tidak segera diselesaikan adalah sekolah tidak bisa menjadi lingkungan yang aman dan nyaman, bahkan bisa menjadikan ancaman dan trauma bagi kehidupan siswa.

Salah satu cara untuk mencegah tiga dosa besar tersebut adalah dengan cara sosialisasi , seperti yang telah dilakukan oleh para mahasiswa PPG Prajabatan UM Gelombang 1 tahun 2023 di SMP Negeri 3 Malang.

Peserta sosialisasi sedang menjawab pertanyaan, dokumentasi PPG

Sosialisasi kali ini bertajuk Gebrakan (Gerakan Bersama Melawan Kekerasan Anak), dan dilaksanakan pada Kamis Minggu ke tiga bulan ini.

Kegiatan ini dilatar belakangi oleh masih banyaknya kasus kekerasan terhadap anak terutama di sekolah. Untuk diketahui, menurut studi Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2023 terhadap 78 negara, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan kasus bullying tertinggi di dunia. Sekitar 41 persen pelajar berusia 15 tahun di Indonesia mengalami kasus kekerasan atau bullying dalam satu bulan.

Tujuan utama diadakannya acara ini adalah :

1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang kekerasan pada anak

2. Mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, serta bebas dari bahaya kekerasan anak.

Siswa yang mendapat hadiah, dokumentasi PPG

Bertindak sebagai  narasumber dalam acara Gebrakan ini adalah Dr. Khairul Bariyyah,M.Pd., Kons. (Dosen Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Malang).

Dalam paparannya narasumber menjelaskan

pengertian bullying dan jenis-jenisnya, akibat bullying serta mengajak peserta melakukan refleksi “apakah aku seorang perundung?”

Tak kalah penting dalam acara ini juga dipaparkan bagaimana cara berhenti menjadi pembully, mencegah terjadinya bullying  dan bagaimana mendukung teman yang mengalami bullying.

Siswa sangat antusias dalam mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang mendapatkan hadiah dari panitia.

Berfoto bersama di akhir acara, dokumentasi PPG

Berbagai hadiah diberikan pada siswa yang bisa menyelesaikan pre test dan post test paling cepat, bisa menjawab pertanyaan dari pemateri , juga siswa yang bisa memberikan testimoni berupa video.

Acara hari itu ditutup dengan berfoto bersama, penyelenggara dan peserta. 

Harapannya dengan acara ini kesadaran siswa semakin meningkat untuk mencegah terjadinya tindak bullying di sekolah. 

Tidak ada pelaku maupun korban bullying, dan pada akhirnya tercipta sekolah sebagai tempat belajar yang aman dan menyenangkan bagi semuanya.

Semoga bermanfaat dan salam edukasi ..

Artikel ini sudah ditayangkan di Kompasiana

Regenerasi Pratama Pramuka Bintaraloka

Jumat pagi itu tampak sebuah kesibukan di dekat tiang bendera. Beberapa anak dengan atribut Pramuka lengkap tampak sibuk membuat pionering. 

“Ada acara apa ini?” tanya saya ingin tahu.

“Pionering Bu.. untuk persiapan Sertijab nanti siang,” jawab salah satu anak.

Aha, setelah sekian lama saya tidak meliput kegiatan Pramuka kini ada event lagi.

Suasana apel Sertijab, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Selepas sholat Jumat siswa sudah siap dalam posisi apel di lapangan volley. Mengingat pentingnya acara, sebelum penyelenggaraan apel dilakukan lebih dahulu gladi bersih.

Lewat jam 13.00 apel dilaksanakan sebagai penanda Sertijab organisasi Pramuka SMP Negeri 3 Malang. Sertijab ditandai dengan  penggantian Pratama.

Pratama (Pemimpin Regu Utama) adalah pimpinan dari seluruh regu Pramuka di sekolah. Ada dua orang Pratama di kepramukaan sekolah yaitu Pratama putra dan Pratama putri.

Proses Sertijab, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Serah terima jabatan Pratama putra dilakukan dari dari Prayoga (9.6) kepada Hanas (8.3), sedangkan putri dari Shafa (9.5) kepada Azalea (8.9).

Serah terima jabatan ini adalah sekaligus merupakan pengesahan dari Musyawarah Penggalang yang telah diadakan di sekitar bulan Maret 2024. Karenanya selain Sertijab pada hari itu juga dilakukan pembaharuan struktur pengurus Pramuka SMP Negeri 3 Malang.

Apel siang itu  berlangsung khidmat dengan pimbina  wakasis Pak Herianto dan pimpinan apel Daffa dari kelas 9.6.

Daffa sebagai pemimpin apel Sertijab, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Akhirnya Sertijab adalah bukti regenerasi kepemimpinan Pramuka yang ada di SMP Negeri 3 Malang. Harapannya akan selalu lahir calon-calon pemimpin masa depan yang handal dari bumi Bintaraloka tercinta. 

Satyaku ku dharmakan

Dharmaku kubaktikan

Agar jaya Indonesia…..