Latihan PBB, Sebuah Kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Bintaraloka

Matahari bersinar lembut. Hawa pagi terasa begitu dingin. Beberapa hari ini cuasa begitu dingin di Malang. 

Kata orang jika di daerah-daerah ada dua musim yaitu musim hujan dan kemarau, maka di Malang ada tiga musim yaitu kemarau, hujan dan bediding.

Ya, satu hal istimewa menjadi pelajar di kota Malang adalah tahun ajaran baru selalu ditandai dengan adanya bediding.

Meski begitu, dinginnya hawa tidak mengurangi semangat orang-orang yang  berkegiatan di area Rampal. Banyak orang berolah raga ataupun melakukan kegiatan yang lain. Seperti halnya siswa kelas sembilan yang akan melakukan kegiatan PBB pagi ini.

Mengikuti pengarahan dari Bapak TNI, dokumentasi pribadi Meiy

Selama siswa kelas tujuh melakukan MPLS, kelas delapan dan sembilan melakukan kegiatan  Pramuka aktualisasi dan penguatan pendidikan karakter.

PBB adalah salah satu dari rangkaian kegiatan Pembinaan Karakter bagi siswa kelas sembilan. Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 07.00 hingga 11.30 wib ini diikuti seluruh siswa dengan  pelatih  dari TNI Dodik (Depo Pendidikan) Belanegara.

Setelah melakukan presensi dan mendapat sedikit pengarahan dari guru pendamping, kegiatan PBB dimulai. Seluruh siswa yang berjumlah kira-kira 280 orang dibagi dalam lima regu yaitu A,B, C, D dan E. Setiap regu dilatih oleh satu orang TNI.

Presensi, dokumentasi pribadi

Berbagai aba-aba dan petunjuk yang diberikan oleh Bapak bapak TNI membuat siswa begitu bersemangat. Rasa dingin yang menyergap sejak tadi langsung hilang begitu saja.

Pembagian regu, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu kegiatan yang di adakah sekolah di masa MPLS, PBB mempunyai banyak manfaat. Di antara berbagai manfaat kegiatan ini adalah:

Siap mengikuti kegiatan PBB, dokumentasi pribadi

1. Menumbuhkan rasa disiplin. Dengan baris-berbaris siswa bisa belajar disiplin karena harus mendengarkan dan menjalankan aba-aba yang diberikan. 

2. Menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas dan setia kawan. Pelatihan baris berbaris bisa menumbuhkan rasa kebersamaan di antara peserta karena mereka harus bekerja dan bergerak bersama dalam satu komando.

Para guru pendamping , dokumentasi pribadi

3.Meningkatkan daya konsentrasi. Baris berbaris membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, mulai dari mendengarkan setiap instruksi yang diberikan hingga bergerak sesuai dengan aba-aba.

Ikut terlibat dengan kegiatan ini adalah para petugas dari OSIS yang stand by bersama para guru pendamping.

Bersama petugas dari OSIS , dokumentasi pribadi

Akhirnya semoga siswa kelas sembilan bisa mengikuti kegiatan PBB ini dengan sungguh-sungguh sehingga berbagai manfaat baik bisa mereka peroleh, utamanya untuk membina diri menjadi siswa yang disiplin dan berkarakter baik.

Berbagai Filosofi di Balik Kelezatan Bubur Suro

Pagi itu saya tiba tiba mendapatkan kiriman semangkuk bubur dari seorang teman. “Bubur Suro,” katanya. Aha.., senang sekali..karena teman saya ini pintar sekali memasak. Ia sering menerima pesanan berbagai macam masakan.

Sepulang teman saya, dengan tak sabar saya membuka wadah plastik dalam bentuk mangkuk tersebut. Pasti lezat, pikir saya. Dan tara…. Tampak sajian cantik di depan saya. Isinya bubur, sambal goreng , rawis, telor dadar dan kacang. Tak lupa ada seledri sebagai pemanis.
Sendok segera saya ambil, dan segera saya icipi. Hmmm, tidak hanya cantik, bubur Suro ini juga demikian lezat.

Tentang Bubur Suro

Bubur Suro, Sumber gambar: Kompas.com

Suro adalah adaptasi dari kata Asyura (10 Muharam). Karenanya bubur Suro dibuat setiap bulan Muharam. Ada yang membuatnya tanggal 1 Muharam ataupun 10 Muharam.
Bubur Suro terbuat dari beras yang dimasak dengan aneka bumbu dan rempah tradisional seperti santan, serai, dan daun salam.

Ada yang membuatnya dengan bahan baku nasi, ada pula yang dari beras. Rasa bubur Suro lebih gurih dibandingkan bubur biasanya.

Bubur Suro biasanya didampingi oleh berbagai lauk yang berbeda-beda sesuai daerahnya.

Tradisi membuat bubur Suro mulai ada sejak masa Sultan Agung. Bubur Suro ini mempunyai makna rasa syukur atas segala berkah dan keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Sedikit tentang Sultan Agung, beliau adalah raja besar Mataram yang mempunyai banyak keahlian, baik dalam ilmu politik, sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Sultan Agung berusaha menyesuaikan kebudayaan Hindu, Islam dan Jawa. Karena itu dalam budaya Jawa kita mengenal kalender Jawa yang banyak memiliki kesamaan dengan kalender Hijriyah.

Jika dalam kalender Hijriyah tahun baru ditandai dengan tanggal satu Muharam, maka dalam kalender Jawa dinamakan satu Suro.

Yang khas dalam penyajian bubur suro ini selalu ada unsur biji-bijian. Seperti yang saya terima hai ini unsur biji bijian ya adalah kacang.

Bubur Suro, dokumentasi pribadi Ami

Mengapa demikian? Hal tersebut merujuk dari kitab I’anah Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati juz 2/267 yang menceritakan tentang bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan umatnya saat terjadi bencana banjir. Penyelamatan itu terjadi pada tanggal 10 Muharam atau Asyura.

Dalam kitab tersebut diterangkan bahwa sesudah banjir besar dan terombang ambing di lautan Nabi Nuh pun berlabuh dan turun dari kapal. dalam kondisi lapar, sementara perbekalan mereka sudah habis.

Nabi Nuh lalu memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang ada. Nah, serentak umat Nabi Nuh mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Ada yang membawa dua genggam biji gandum, biji adas, biji kacang ful, dan ada pula yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.

Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, memasaknya, dan setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama. Meskipun tidak banyak, semua merasa kenyang karena berkah doa Nabi Nuh.

Tampilan lain bubur Suro, sumber gambar: Kompas.com

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa tradisi penyajian bubur Suro selalu diikuti dengan berbagai ubo rampe yang meliputi sirih lengkap, kembar mayang dan sekeranjang buah-buahan.

Sirih lengkap menggambarkan penghormatan pada para leluhur, kembar mayang yang terdiri atas untaian bunga mawar merah, putih, juga untaian melati dan daun pandan.

Bunga mawar dan putih menggambarkan bahwa kita harus terus bersemangat melakukan segala langkah kita yang dilandasi dengan niat yang suci. Pada akhirnya apa yang kita lakukan bertujuan untuk mengharumkan kehidupan umat manusia seperti yang dilambangkan dengan harumnya melati dan daun pandan serta memberikan ‘kemanisan ‘ atau kebahagiaan yang dilambangkan dengan hadirnya aneka buah-buahan.

Sebuah filosofi yang indah. Meskipun sekarang penyajian bubur Suro tidak disertai dengan berbagai ubo rampe, saling mengantar bubur Suro masih dilakukan dengan semangat berbagi dan ungkapan rasa syukur atas segala karunia Ilahi.

Artikel ini dimuat di Kompasiana 140724

Catatan Lain dari Film “Sekawan Limo”

Sekawan artinya empat, dan limo artinya lima. Jika kita berlima sekarang ini , berarti satu dari kita bukan manusia (dialog dalam film Sekawan Limo)

Catatan tentang film Sekawan Limo ini saya buat setelah Rabu siang saya diajak anak saya nonton di Dieng Cyber Mall. Film dimulai pukul 13.15 dan diakhiri pukul 15.15 wib.

Ulasan tentang Sekawan Limo sudah pernah ditulis oleh beberapa Kompasianer. Jujur, saya tertarik melihat film ini karena membaca review dari teman-teman di Kompasiana.

Sehari sebelum review itu tayang, saya berjalan-jalan ke Matos dan membaca poster film ini di Cinepolis. 

Poster Sekawan Limo, dokumentasi pribadi

“Sepertinya bagus ya Buk?” kata anak saya.

“Horor ya..,” kata saya

“Pasti banyak misuhnya,” tambah saya sambil tertawa ketika melihat wajah Bayu Skak ada di sana.

Ya, saya  pernah melihat film dari Bayu Skak sebelumnya  yang berjudul Yo Wis Ben. Dan memang disitu banyak dialog yang memunculkan satu kata khas daerah Malang dan Surabaya. 

Bagi yang terbiasa menggunakannya kata tersebut tidak kasar, bahkan justru menggambarkan keakraban. Namun bagi yang tidak biasa, kata tersebut terasa kasar dan kami menyebutnya “misuh”. 

Membelu tiket masuk, dokumentasi pribadi

Mulanya saya kurang berminat juga karena ini film horor. Tapi ketika diterangkan dalam review bahwa film ini mengandung unsur komedi tapi juga mengharukan, saya jadi tertarik.

Film ini bercerita tentang lima orang yang melakukan pendakian ke gunung Madyopuro. Lima orang tersebut baru bertemu di lokasi (kecuali Bagas dan Leni) yang akhirnya bergabung menjadi satu rombongan.

Banyak peristiwa yang mereka alami selama melakukan pendakian. Dalam film ini digambarkan pergulatan dalam diri masing-masing tokohnya yaitu Bagas, Leni, Dicki, Andrew dan Juna dengan masalah yang membebani diri masing-masing. 

Dokumentasi pribadi

Ya, setiap tokoh di sini mempunyai masalah masing-masing sehingga punya tujuan yang berbeda dalam perjalanan mendaki Gunung Madyopuro. 

Leni ingin menghapus rasa berdosa karena ia merasa menjadi penyebab meninggalnya ibunya, Dicki ingin mencari jimat di Gunung Madyopuro karena ia terlibat judi online sehingga mempunyai banyak hutang.

Juna yang sering di-bully karena anak koruptor, juga Andrew yang kekasihnya hamil dan hubungannya kurang direstui oleh orang tuanya karena keluarga mereka berbeda ‘kasta’. Satu satunya tujuan yang paling sederhana adalah Bagas yang ingin mengantar Leni karena ia suka pada gadis ini.

Ada satu mitos yang mengatakan bahwa jumlah pendaki dalam satu rombongan harus genap, dan dalam perjalanan mereka tidak boleh menoleh ke belakang. 

Di sini cerita berjalan semakin asyik. Karena jumlah mereka dalam satu rombongan adalah lima akhirnya mereka mulai sadar bahwa satu di antara mereka bukan manusia alias dhemit. 

Rasa curiga mulai timbul di antara mereka karena dalam perjalanan mereka terus berputar-putar dan selalu dibayangi hantu masing-masing. 

Menoleh ke belakang. Kata yang berlawanan dengan mitos ini ternyata justru menjadi kunci pemecahan masalah.

Di depan pintu masuk, dokumentasi pribadi

Dengan petunjuk Bagas yang mengajak mereka ‘menoleh ke belakang’, akhirnya satu per satu Leni, Juna, Andrew, Dicki bisa berdamai dengan diri mereka, memaafkan masa lalu mereka dan berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuat. 

Dengan menoleh ke belakang. Kita bisa berdamai dengan masa lalu, memaafkan kesalahan diri dan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi. Karena masalah seharusnya dihadapi, bukan dihindari. 

Berdamai dengan diri sendiri, menerima dengan ikhlas atas semua masalah sangat diperlukan agar langkah ke depan kita lebih ringan. Mungkin karena itu, tokoh Bagas tidak pernah didatangi sosok hantu, karena ia bisa ikhlas atas masalah yang dihadapi. Masalah yang tidak ringan sebenarnya, karena Bagas yatim piatu sejak kecil.

Mulai awal hingga akhir kita diajak tertawa, tegang, sekaligus terharu secara berganti-ganti. Kadang di titik di mana kita sangat terharu karena dialog-dialog yang tercipta (seperti dalam adegan ketika dhemit yang sesungguhnya mengaku), tiba-tiba kita dibuat tertawa oleh celetukan- celetukan para tokohnya.

Di samping kesetiakawanan dan kegigihan, sekilas film ini juga memberikan pelajaran tentang betapa jahatnya bullying, judi online juga jangan sampai kita melakukan korupsi. Mengapa? Bukan hanya pelaku korupsi yang mendapatkan hukuman, tapi keluarganya juga akan mendapat sanksi dari orang sekitarnya.

Salut pada Sekawan Limo yang hampir seluruh adegannya diisi dengan bahasa daerah. Munculnya dialek Malang, Surabaya bahkan Jogja membuat kita merasakan perbedaan di antara kita terasa begitu indah dan unik.

Menariknya film ini juga menggandeng Kartolo dan Ning Tini, pasangan seniman ludruk yang sangat terkenal. Meski muncul cuma sebentar, dialog antara Kartolo sebagai dukun dan Dicky membuat film ini terasa semakin segar.

Satu catatan terakhir, mungkin sebaiknya kosa kata khas Malang dan Surabaya yang saya sebut di atas sebagai ‘ misuh’ itu dikurangi agar dialog tidak terkesan kasar sehingga film bisa lebih enak untuk dinikmati..😃

Artikel ini ditayangkan di Kompasiana 120724

Mengunjungi Jemaah yang Baru Pulang Haji, Sebuah Tradisi untuk Silaturahmi dan Motivasi

Berkunjung ke rumah sesama muslim yang baru pulang dari Ibadah haji adalah sebuah tradisi yang sering kita lakukan sejak dulu. Hal yang sangat menyenangkan, apalagi jika yang berhaji adalah famili ataupun teman dekat kita.  

Seperti yang kami lakukan pada hari Selasa (2/7) kemarin ketika orang tua teman kami (Ibu Ahfi)  baru pulang dari Ibadah Haji.

Berlima kami berangkat dari sekolah pagi itu. 

hujan gerimis yang mengguyur kota Malang  tidak mengurangi semangat kami untuk meneruskan perjalanan ke daerah Wagir Malang.

Kedatangan kami disambut dengan begitu hangat. Kami duduk di karpet. Berbagai macam kue terhidang manis  menemani obrolan yang mengalir tiada henti. 

Obrolan tentang apa saja, yang paling banyak adalah tentang pengalaman beliau yang berhaji selama di tanah suci, dan tentu saja disertai cerita yang kadang lucu namun sarat dengan pelajaran yang bermakna.

Tentang Tradisi Mengunjungi Orang yang Pulang dari Ibadah Haji

Suasana silaturahmi, dokumentasi pribadi

Sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia jika ada orang saudara, tetangga atau kenalan yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji maka kita akan bersilaturahmi kepadanya.

Ada bermacam-macam tujuan bersilaturahmi, bisa melepas rindu, ikut berbahagia dan meminta doa agar bisa segera ‘ketularan’ bisa melaksanakan ibadah haji.

Jamaah haji yang baru tiba tentunya menyambut kedatangan tamu yang hadir dengan penuh sukacita. 

Biasanya akan dihidangkan juga makanan khas dari Arab seperti kurma, kismis, dan yang lain. Satu yang tak boleh dilupakan adalah air zamzam.  Ya, meskipun disuguhkan dalam gelas mungil, kehadiran air zamzam seolah penyambung kerinduan dan harapan para tamu untuk bisa segera mengunjungi tanah suci.

Berfoto sebelum pulang, dokumentasi pribadi

Dari NU Online dalam artikel berjudul Tradisi Menyambangi Orang Baru Pulang Haji, dasar dari mengunjungi orang yang baru pulang dari ibadah haji adalah dari kitab Hasyiyah Qaliyubi yang ditulis oleh Syihabuddin al-Qaliyubi salah satu ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i.

Diterangkan dalam kitab itu bahwa  bagi orang yang berhaji dianjurkan mendoakan atau memintakan ampunan kepada orang yang tidak berhaji meskipun orang tersebut tidak memintanya.

Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak berhaji disunahkan untuk meminta didoakan agar dosanya diampuni. Para ulama menyebutkan bahwa waktunya sampai 40 hari dihitung sejak kedatangannya.

Hujan di luar masih terus turun. Di tengah gayengnya perbincangan, semangkuk bakso disajikan dan membuat suasana di antara kami terasa semakin hangat.

Sekitar pukul setengah satu hujan mulai reda. Setelah didoakan oleh tuan rumah, kami segera berpamitan dan melakukan perjalanan kembali ke sekolah. 

Sungguh sebuah kunjungan yang indah. Kunjungan kali ini bukan hanya bermakna silaturahmi namun juga memberikan motivasi bagi kami agar segera bisa berkunjung ke Tanah Suci guna melaksanakan ibadah haji.

Keterangan: foto-foto by Aqilah

Ketika Pesona Orem-orem Membuat Mereka Menjadi Juara

Di musim hujan seperti ini enaknya makan apa? Bakso? Pangsit? Soto? 

Berbagai makanan khas dari Malang memang tiada dua. Lezat dan mantap. Apalagi jika ditambah dengan sambal yang membuat kita lebih semangat karena pedasnya rasa.

Berkaitan dengan makanan khas daerah Malang, bagaimana kalau kita mencoba kuliner khas Malang Yaang lain yaitu orem-orem. Aha, apa pula ini?

Tentang Orem-orem Makanan Khas Malang 

Orem orem adalah makanan khas daerah Malang yang terbuat dari tempe dan tahu diiris persegi kecil-kecil dengan kuah bersantan yang berwarna kuning.

Bumbu yang digunakan dalam orem-orem adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, sedikit kunyit, daun jeruk dan lengkuas.

Orem-orem dan ketupat, tangkapan layar pribadi

Cara menyajikan orem-orem sangat simpel. Cukup siapkan potongan ketupat, letakkan taoge diatasnya kemudian siram dengan orem-orem panas.

Orem-orem bisa dipadukan dengan  mendol, telur asin ataupun ayam goreng dan perkedel. Oh ya, tidak lupa kerupuk tentunya.

Sejarah orem- orem sebenarnya menceritakan tentang keprihatinan kita saat masa penjajahan Jepang. Karena saat itu harga bahan makanan demikian mahal, para ibu membuat kreasi masakan yang lezat tetapi dengan harga murah. 

Orem-orem tidak disajikan dengan kuah kaldu, harga daging demikian mahal.  Karenanya rasa orem-orem terasa lebih ‘datar’ dan sederhana.

Mendol, tangkapan layar pribadi

Yang menarik adalah kehadiran taoge dalam orem-orem. Produk kuliner mencerminkan kekayaan hasil bumi daerah sekitarnya. Malang adalah daerah yang kaya akan sayur mayur. Tapi karena harga sayuran juga mahal saat itu maka taoge dihadirkan sebagai sayuran dengan cara  merendam kacang hijau hingga berkecambah. 

Telor asin pelengkap orem-orem, tangkapan layar pribadi

Sungguh hidangan yang sederhana namun terasa lezat.

Berkaitan dengan orem-orem ini satu prestasi membanggakan telah diraih oleh tiga siswa Bintaraloka yaitu Sybia, Nadhifa dan Irsyad. Di bulan Juni 2024 ketiganya telah meraih juara satu Lomba Vlog “Kuliner Tradisional Jawa”.

Saat pembuatan vlog, dokumentasi Sybia

Lomba ini diadakan oleh MGMP Bahasa Jawa Kota Malang dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Shooting atau pengambilan gambar dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2024 di daerah Comboran dan Balai Kota Malang dengan pendampingan Pak Vigil, Pak Faby dan Ibu Happy.

Mengapa mengambil makanan khas orem-orem? Menurut Sybia, karena orem orem ini unik, belum banyak dikenal,  berbeda dengan bakso dan keripik tempe yang sudah sangat umum.

Orem-orem plus mendol, sumber gambar: Malang Retro

Ditengah gempuran berbagai makanan impor, lomba ini memberikan semangat pada kita semua untuk mengenal sekaligus mencintai makanan khas kita sendiri. 

Betapa kayanya Nusantara kita akan berbagai makanan khas yang kelezatannya tak perlu diragukan lagi. Siapa lagi yang akan mencintai kekayaan khazanah kuliner kita jika bukan kita sendiri?

Vlog yang menjadi juara bisa dilihat di sini: