Dalam sebuah barisan aritmatika dengan banyak suku ganjil, suku tengah adalah rata-rata dari suku pertama dan suku terakhir.
Uₜ = (a + Uₙ)/2
Diketahui barisan aritmatika: 2, 5, 8, …, 59.
Tentukan suku tengah dari barisan tersebut.
4. Suku ke-4 dan suku ke-9 suatu barisan aritmatika berturut-turut adalah 17 dan 37.
a. Tentukan suku pertama (a) dan beda (b).
b. Tentukan jumlah 20 suku pertama deret tersebut.
5. Soal Cerita (Penerapan dalam Kehidupan)
Seorang anak sedang menumpuk batu bata. Pada baris paling atas ada 15 batu bata, baris di bawahnya 18 batu bata, baris berikutnya 21 batu bata, dan seterusnya. Jika terdapat 20 baris tumpukan batu bata, tentukan:
a. Banyak batu bata pada baris paling bawah.
b. Total seluruh batu bata yang ditumpuk.
6. Tiga bilangan membentuk barisan aritmatika. Jika jumlah ketiga bilangan itu 24 dan hasil kalinya 384, tentukan ketiga bilangan tersebut.
Peta konsep pola bilangan, barisan dan deret aritmatika, dokumentasi pribadi
Untuk lebih memahami masalah pola bilangan, barisan dan deret aritmatika, kerjakan soal berikut ini:
Melalui UKS sekolah mempunyai peran penting dalam membiasakan Pola Hidup Bersih dan Sehat pada warga sekolah
Hari Jumat (03/10) Bintaraloka melaksanakan kegiatan jalan sehat yang dilanjutkan dengan konsumsi buah bersama- sama sebagai salah satu kegiatan Jumat Sehat sekolah.
Jumat Sehat adalah kegiatan yang dimotori Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Siswa berkumpul di lapangan untuk acara makan buah bersama, dokumentasi pribadi
UKS sendiri adalah upaya terpadu di lingkungan sekolah untuk meningkatkan kesehatan dan gaya hidup sehat siswa juga menciptakan lingkungan sekolah yang sehat.
Pelaksanaan kegiatan UKS mengacu pada Trias UKS yang meliputi : Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
Salah satu aspek dari Pendidikan Kesehatan adalah membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan kali ini difokuskan pada gerakan jalan kaki dan konsumsi buah segar.
Paparan tentang manfaat konsumsi buah dan jalan kaki, dokumentasi pribadi
Mengapa jalan kaki? Tidak bisa dipungkiri, mudahnya akses ke mana-mana baik karena jalan-jalan yang sudah bagus ataupun begitu banyaknya alat transportasi, membuat kita lebih suka menggunakan kendaraan daripada berjalan kaki.
Ditambah lagi budaya ‘mager’ yang membuat siswa lebih suka diantar ataupun naik transportasi moda online bahkan untuk pergi ke sekolah yang jaraknya tidak begitu jauh sekalipun.
Dengan kegiatan ini, kita semua diingatkan kembali tentang begitu banyak manfaat dari jalan kaki.
Jalan sehat bersama siswa, dokumentasi Fabi
Ya, jalan kaki. Kegiatan yang begitu sederhana ini menyimpan manfaat yang luar biasa, seperti peningkatan kesehatan jantung, pengelolaan berat badan, penguatan tulang dan sendi, peningkatan kualitas tidur, dan perbaikan kesehatan mental.
Aktivitas jalan kaki bisa melancarkan sirkulasi darah, mengontrol tekanan darah, mengurangi risiko diabetes, serta dapat meningkatkan fungsi kognitif dan memperbaiki suasana hati. Dari berbagai sumber didapatkan informasi bahwa untuk meningkatkan kebugaran kita perlu berjalan 7000-10.000 langkah setiap harinya.
Siswa siap makan buah bersama, dokumentasi Fabi
Setelah berjalan kaki pagi itu, siswa diajak bersama- sama makan buah. Buah yang dibawa siswa disajikan dalam bentuk jus ataupun buah potong. Beberapa kelas melibatkan paguyuban dalam penyediaan buah untuk dikonsumsi.
Sebelum kegiatan makan buah dimulai, Mister Sony menerangkan manfaat buah bagi kesehatan kita.
Diterangkan oleh Mister Sony bahwa serat yang terkandung pada buah mempunyai banyak manfaat seperti memperbaiki pencernaan, mencegah sembelit termasuk meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga keseimbangan berat badan. Buah juga memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, serta menjaga hidrasi tubuh kita.
“Seru,” ungkap beberapa siswa terkait kegiatan hari ini.
Kegiatan yang luar biasa. Sambil menikmati jus buah, saya melihat peedometer yang menunjukkan angka 4000 langkah lebih. Lumayan.
4154 langkah untuk hari ini, dokumentasi pribadi
Akhirnya, kegiatan Jumat Sehat pagi ini berhasil mengemas sebuah pesan kesehatan dalam sebuah aksi yang begitu konkret.
Langkah kaki bersama, juga konsumsi buah segar membuat PHBS bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gaya hidup. Sebuah awal yang baik untuk membiasakan kebiasaan baik, demi masa depan siswa yang lebih sehat dan bersemangat.
Minggu siang itu hawa terasa begitu gerah. Mungkin karena mendung yang terus menggantung sementara hujan belum juga turun.
Setelah seharian sibuk membuat video untuk persiapan sebuah event lomba, kami berdiskusi di halaman sekolah tentang langkah lebih lanjut untuk memenuhi tugas dari event tersebut.
Ting ting…ting ting….
Sebuah gerobak berwarna putih tiba-tiba melintas. Gerobak dengan bagian depannya banyak gelas yang ditata dengan cantik.
“Pak.., tumbas..,”
Sebuah teriakan membuat si pemilik gerobak mendatangi kami yang sedang berada di halaman sekolah.
“Es Puter Moro Seneng” sebuah tulisan besar berwarna merah ada di bagian depannya.
“Pinten Bu?”
Tanya Si penjual ramah.
Setelah teman kami menyebut sebuah angka tertentu bergegas si Bapak menyiapkan cup-cup plastik kosong dan mengisi dengan bahan pelengkap es puter.
Potongan roti tawar, agar-agar dan bubur mutiara mulai dimasukkan dalam cup yang tersedia. Warna merah, putih, pink dan hijau berpadu yang kemudian ditutup dengan es puter yang berwarna kecoklatan. Hmm, maknyus tenan.
Cerita tentang Es Puter
Es puter, dokumentasi pribadi
Es puter adalah salah satu dessert khas Indonesia yang sangat populer. Kuliner ini sering dijual di pinggir jalan dengan gerobak ataupun sepeda.
Penjualnya biasanya menggunakan tabuh kecil semacam gong sehingga ada bunyi dung.. dung atau tung… tung, sehingga es puter dinamakan es tung tung, atau es dung dung. Namun berbeda dengan kali ini, yang dibunyikan adalah gelas dengan menggunakan sendok sehingga mengeluarkan bunyi ting..ting…
Es puter sudah sejak lama ada di Indonesia. Konon es ini tercipta karena keinginan masyarakat Indonesia untuk menikmati es krim yang tidak kesampaian.
Es krim sendiri diperkenalkan oleh orang Belanda pada pribumi. Es krim tersebut harganya mahal karena menggunakan susu sebagai bahan dasarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut dibuatlah es dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih terjangkau.
Pembuatan es puter tidak menggunakan susu tetapi santan. Ya, santan adalah bahan asli Indonesia sangat mudah didapat sehingga es puter ini menjadi jajanan yang murah meriah.
Penamaan es puter ini diambil dari cara pembuatannya. Es puter dibuat dengan cara
memasukkan semua adonan yang terdiri atas santan, gula, garam dan vanili bubuk ke dalam sebuah wadah tabung yang diselimuti dengan es batu dan garam.
Wadah tabung ini akan terus diputar sambil mengaduk adonan. Nah, proses inilah yang membuat kuliner ini akhirnya dinamakan es puter.
Berbeda dengan es krim yang creamy dan lembut, es puter terasa lebih kasar dan segar. Dalam penyajiannya es puter kadang dicampur dengan tambahan yang lain seperti meses, nangka, agar agar, roti atau mutiara.
Gerobak es puter Moro Seneng, dokumentasi pribadi
Sambil menunggu es puter diracik, saya sempat berbincang bincang dengan bapak penjualnya.
Menurut pengakuannya, bapak ini berjualan es puter di sekitar SMP Negeri 3 sejak tahun 1986.
Luar biasa. Berarti sudah 39 tahun beliau menekuni usaha berjualan es puter ini.
Meracik es puter, dokumentasi pribadi
“Saat itu es puter berapa harganya, Pak?” tanya saya.
“Wah, Tasik 150 Bu..,” katanya sambil tertawa.
“Wow, sudah naik 30 kali lipat ya,” kata saya. Ya, harga satu cup es puter sekarang lima ribu rupiah
Perbincangan langsung berhenti ketika enam cup es puter tersaji manis di meja kami. Luar biasa.
Rasanya yang gurih, dingin dan sedap membuat siang itu terasa sedikit segar
Setelah merapikan kembali dagangannya, bapak dengan gerobak putih itu akhirnya meninggalkan sekolah untuk melanjutkan perjalanannya.
Menikmati es puter, dokumentasi Jojo
Sesendok demi sesendok, manisnya es puter masih setia menemani perbincangan kami siang itu. Obrolan singkat dengan bapak penjual es puter siang itu membuka mata kami bahwa di balik kesederhanaan es puter, tersimpan nilai-nilai ketekunan dan warisan budaya kuliner yang telah menghidupi dan menyegarkan banyak generasi.
Esnya mungkin habis dalam beberapa menit, namun kisah tentang “Moro Seneng” dan bapak penjualnya akan setia dalam ingatan kami.
Johann Carl Friedrich Gauß adalah matematikawan, astronom, dan fisikawan Jerman yang memberikan beragam kontribusi; ia dipandang sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa selain Archimedes dan Isaac Newton.
Gauss lahir di Braunschweig, Jerman pada tanggal 30 April 1777, dan meninggal di usia 77 tahun , tepatnya pada tanggal 23 February 1855 di Göttingen Jerman.
Sejak kecil Gauss memperlihatkan keistimewaan dalam hal ilmu hitung. Saat umurnya belum genap 3 tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan daftar gaji tukang batu ayahnya.
Menurut sebuah cerita, pada umur 10 tahun, ia membuat gurunya terkagum-kagum dengan memberikan rumus untuk menghitung jumlah suatu deret aritmetika berupa penghitungan deret 1+2+3+…+100.
Pada saat itu, gurunya memberikan soal sulit pada anak muridnya yang juga termasuk Gauss di dalamnya. Saat itu Gauss terbilang masih muda untuk menyelesaikan soal perhitungan 1+2+3+4+…+100.
Gurunya bermaksud memberikan soal ini agar sang guru bisa mengajar kelas yang lain. Guru tersebut yakin bahwa untuk menyelesaikan soal tersebut, butuh waktu lama. Namun, ternyata Gauss berhasil memecahkannya dalam waktu yang cepat.
Sang guru pun terkagum-kagum dengan hasil pemecahan Gauss yang cepat dan tepat.Gauss menciptakan cara untuk menghitung deret aritmetika.
Cara yang Gauss ciptakan untuk menghitung deret aritmetika tersebut memang telah disederhanakan menjadi rumus Sn= n/2(a+Un) yang lebih sederhana, tetapi tetap berdasarkan cara yang ditemukan Gauss sendiri.
Dari rumus Sn= n/2 (a +Un) dan Un = a +(n-1)b bisa diperoleh rumus Sn = n/2(2a + (n-1)b).
The Two Frogs-A Short Story on Maintaining an Optimistic Outlook
Two frogs, Tom and Tim, were enjoying the summer sun near a pond. Tom was young and optimistic, while Tim was older and more pessimistic.
As Tom was hopping around the pond, he fell into a bucket that someone had left out. He tried to jump out, but the bucket was too deep. Tim came over and saw Tom’s struggle.
“It’s useless,” said Tim. “You’ll never get out.”
“Don’t be silly,” said Tom. “Someone will surely come and get me out.”
Just then, a little boy walked by and heard Tom’s calls. He lifted the bucket and tipped it over, freeing the frog. Tom hopped happily away, calling out to Tim:
“I told you I’d get out! An optimistic outlook always pays off.”
Tim grumbled as he hopped into the pond. A while later, Tim’s pessimism got the better of him again. As he was swimming, a big fish swam by and grabbed him in its mouth. Tim shrieked:
“Help! I’m going to be eaten!”
Tom heard the commotion and swam over. He told the fish:
“Please release my friend. He did not mean to disturb you.”
The fish opened his mouth and let Tim go. Tim was ashamed of his pessimism. He told Tom:
“You were right. Positivity and optimism do pay off. I will try to be more optimistic from now on.”
Moral of the story: Having an optimistic outlook can open up more opportunities and lead to better outcomes. Maintaining positive thinking and hopeful expectations can help overcome difficult situations. Like Tom, the frog approaches life with optimism and faith in good outcomes.