Tebarkan Kasih Pada Sesama, Giat Pondok Kasih di Bumi Bintaraloka

Sebagai wujud pelaksanaan moderasi beragama di Bumi Bintaraloka, sementara siswa beragama Islam melaksanakan kegiatan Maulid Nabi, di aula dua Bintaraloka berlangsung kegiatan Pondok Kasih yang diikuti oleh seluruh siswa beragama Kristen dan Katolik (Kamis 04/09).

Kegiatan Pondok Kasih ini diikuti oleh sekitar 50-60 siswa dengan didampingi oleh tiga guru dan tiga mahasiswa Asistensi Mengajar dari UM.

Berbagi kasih, dokumentasi BBC

Diterangkan oleh Pak Gerry tema kegiatan ini adalah berbagi kasih. Dalam pelaksanaannya siswa diminta membawa makanan dari rumah lalu saling berbagi dengan teman-teman di sekolah.

Pemain musik dalam peribadatan , dokumentasi BBC

Kegiatan peribadatan dalam acara Pondok Kasih ini dilaksanakan dua kali yaitu peribadatan pembuka pada pukul 07.00 hingga 08.30, dan peribadatan penutup pada pukul 13.00 hingga pukul 14.30.

Pada peribadatan pagi pelayanan musik dibantu oleh Pak Abraham, Pak Arfin dan Ibu Melati dari UM, sedangkan pelayanan firman pada ibadah penutupan dilaksanakan oleh Pak Gerry.

Harapannya dengan acara ini siswa bisa meningkatkan rasa kasih sayang baik dengan saudara seiman maupun sesama manusia.

Pak Gerry dan Peserta Pondok Kasih, dokumentasi BBC

“Semoga kasih bisa terus disebarluaskan pada setiap insan yang ada,” ungkap Pak  Gerry , guru Pendidikan Agama Kristen SMP Negeri 3 Malang 

Bersama Podomoro, Perayaan Maulid Nabi Terasa Kian Hangat dan Berkah

Berkali kali saya melihat arloji di pergelangan tangan. Jam menunjukkan hampir pukul delapan. Lalu lalang kendaraan di depan sekolah kian siang kian ramai. “Belum datang ya?” pikir saya gelisah.

Namun kegelisahan itu tidak berumur panjang karena tak lama kemudian seorang pengemudi kendaraan bermotor moda daring berhenti di depan sekolah sambil membawa sebuah kresek besar.

Pasti itu, pikir saya. Tanpa pikir panjang saya menuju gerbang sekolah dan menerima kresek besar tersebut. Tepat. Ada nama saya di sana.

Setelah membayar ongkos pengiriman saya segera menuju ruang guru dengan membawa tas tersebut. 

“Alhamdulillah, sudah datang!” kata saya yang disambut dengan beberapa teman yang membawa semacam baki dan penjepit makanan. 

Siap menikmati hidangan podomoro, dokumentasi pribadi

Kresek kami buka dan taraaaa, tak menunggu lama aneka gorengan sudah berpindah dari kresek ke baki untuk disandingkan bersama hidangan yang lain.

Seperti biasanya gempita perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah kami selalu diisi dengan sholawatan, pengajian dan yang terakhir makan-makan. 

Jika para siswa makan bersama di kelas dengan bekal makanan yang sudah dibawa dari rumah, kami para guru juga mengadakan acara makan bersama. Supaya tidak terlalu ribet dan semua bisa ikut berbagi, acara makan kali ini dilakukan dengan cara “podomoro”. Aih apa pula ini?

Podomoro berasal dari bahasa Jawa yang berarti sama- sama datang. Dalam konteks ini difokuskan yang datang adalah makanannya. Jadi dalam pelaksanaan podomoro ini tiap kelompok mapel membawa makanan sendiri-sendiri yang nanti digabungkan di meja makan kemudian dimakan bersama. 

Agar makanan yang dibawa tidak sama, maka sebelumnya kami buat list di grup sehingga hidangan bisa saling menyesuaikan. 

Menata hidangan, dokumentasi pribadi

Dari kelompok saya sendiri yaitu matematika, kami membawa aneka gorengan dan peyek. Nah, kebetulan yang bertugas pesan gorengan dari kelompok matematika adalah saya, sejak pagi saya menunggu pesanan gorengan diantar ke sekolah.

Dalam bahasa kerennya podomoro ini dinamakan juga potluck. Potluck dalam segi bahasa artinya seadanya, jadi tiap peserta boleh membawa hidangan sesuai kemampuannya alias tidak memberatkan.

Untuk pesta pesta yang bernuansa sederhana dan akrab, potluck ini sering dilakukan. Biasanya disela-sela potluck disisipi game-game yang menyenangkan.

Dengan potluck, podomoro ataupun botram (Sunda) penghematan bisa dilakukan karena biaya konsumsi ditanggung bersama-sama. Podomoro juga bisa membuat suasana terasa hangat apalagi ketika kami mempromosikan hidangan yang kami bawa.

“Ayo, monggo gorengan khas Bareng..”

“Ayo diicipi oseng ikan asin petai, kelompok kami buat sendiri tadi..,”

“Peyeknya kami buat sendiri lho…,”

“Sayur pedesnya.., Wenak, mantap..,”

“Pala Pendem..pala pendem..,”

Aneka pala Pendem, dokumentasi pribadi

Aha. Suasana pun semakin semarak dengan pesta podomoro atau potluck ala kami. Meja guru berubah menjadi buffet penuh warna dengan aneka hidangan  yang menggugah selera. Kami saling mencicipi, memuji, dan berbagi cerita di balik setiap masakan. 

Sungguh, podomoro membuat moment  Maulid Nabi terasa begitu istimewa, hangat, dan penuh berkah kebersamaan.

Meriahnya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bumi Bintaraloka

Pagi yang istimewa di Bintaraloka. Gema shalawat dikumandangkan bersama. Iringan banjari membuat suasana makin meriah.

Dengan mengenakan busana muslim tampilan semua menjadi sangat istimewa.

Ya, pagi itu Kamis (04/09) telah dilaksanakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bumi Bintaraloka.

Acara yang bertema “Menghadapi Tantangan Global dengan Semangat Integritas Keteladanan Nabi Muhammad SAW” ini, diselenggarakan mulai pukul tujuh pagi di lapangan volly SMP Negeri 3 Malang dan diikuti seluruh guru, siswa, juga komite sekolah.

Pembawa acara, dokumentasi BBC

Bertindak sebagai pembawa acara pagi itu adalah Anindya dan Maulidya siswa kelas sembilan.

Dalam sambutan pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang menyampaikan harapan semoga dengan acara peringatan Maulid ini semakin ditumbuhkan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad SAW, serta semua warga Bintaraloka senantiasa diberikan keikhlasan untuk melaksanakan berbagai tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Sambutan Bapak Teguh Edy Purwanta, dokumentasi BBC

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Anas Fauzi, seorang penghulu kondang dari kota Malang.

Dalam tausiyah tersebut Bapak Anas menyampaikan tentang kunci kesuksesan. Setiap kita pasti ingin mencapai sukses. Dan menurut Bapak Anas agar bisa meraih kesuksesan kita harus menghormati orang tua, dermawan, rajin membaca Al Qur’an juga tidak melupakan kebaikan yang telah diperbuat orang lain pada kita.

Bapak Anas Fauzi, dokumentasi BBC

Setelah tausiyah, siswa kembali ke kelas masing masing untuk menikmati buah- buahan yang telah dibawa dari rumah. Suasana terasa demikian gayeng dan meriah.

Menikmati buah buahan bersama , dokumentasi Mister Sony

Sesudah menikmati buah bersama  tibalah acara yang ditunggu-tunggu yaitu penyelenggaraan aneka macam lomba. 

Ada lima macam lomba yang diadakan untuk memeriahkan peringatan Maulid kali ini yaitu kaligrafi, MTQ, cerdas cermat , da’i dan adzan.

Lomba dai, dokumentasi pribadi
Lomba azan, dokumentasi BBC
Lomba Cerdas Cermat , dokumentasi BBC
Lomba kaligrafi , dokumentasi pribadi
Lomba MTQ, dokumentasi Maulidya

Lewat berbagai kegiatan yang dilaksanakan hari ini semua belajar tentang berbagai karakter yang dicontohkan Nabi besar Muhammad SAW, seperti amanah, tabligh, fathonah juga shidiq 

Acara yang luar biasa, apresiasi setinggi-tingginya pada semua pihak yang telah bekerja keras sehingga acara ini bisa berjalan dengan lancar. 

Peserta lomba MTQ, dokumentasi pribadi
Peserta Maulid , dokumentasi BBC

“Tahun ini lebih meriah, dan semoga ke depan lebih bagus lagi,” ungkap beberapa siswa yang tergabung dalam panitia acara.

Lantunan suara merdu siswa juga menghiasi kemeriahan acara perayaan Maulid hari itu.

Lantunan merdu suara siswa, dokumentasi BBC

Acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW hari itu ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan penyerahan hadiah pada para pemenang.

Penyerahan hadiah, dokumentasi Bu Ida
Penyerahan hadiah pemenang lomba, dokumentasi BBC
Para pemenang lomba, dokumentasi BBC

“Semoga kita dapat memetik hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, juga menjadi manusia yang lebih baik dan lebih dekat dengan ajaran beliau,” tambah Bu Ida ketua panitia acara ini.

Allahumma sholi ‘ala Muhammad

Pelajaran Berharga Buat Axel

Cerpen ini dibuat untuk partisipasi dalam lomba cerpen anak Pulpen

Axel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh, ia tak berani menatap mata Bu Inggrid. Guru matematika sekaligus wali kelasnya.

Bu Inggrid yang biasanya ramah dan hangat pada Axel sekarang begitu marah. Tanpa berkata-kata memang. Tapi tatapan Bu Inggrid sudah cukup mengungkapkan semuanya.

Sebuah kertas putih disodorkan oleh Bu Inggrid. Kertas  HVS ukuran A4 dengan tulisan tangan dan tanda tangan. Di situ tertera namanya. 

Di bagian atas tertulis tanggal pembuatan surat itu. Ya, baru seminggu yang lalu surat itu dibuat Axel karena melanggar peraturan sekolah, dan kini ia membuat pelanggaran lagi yang sejenis.

Axel sebenarnya bukan anak yang bodoh. Pintar bahkan. Nilai nilainya selalu di atas KKM sekolah yaitu 80. Dalam setiap pembelajaran Axel selalu banyak menjawab. Bahkan menurut para guru ia. Adalah anak yang paling cepat daya tangkapnya. 

Karena keistimewaan ini pada saat perayaan hardiknas kemarin ia dipercaya mewakili kelasnya dalam lomba cerdas cermat antar kelas, dan menang. Sungguh, Axel sebenarnya kebanggan Bu Inggrid. Karena itu pelanggaran yang dibuatnya benar-benar membuat Bu Inggrid kecewa.

Sebenarnya apa pelanggaran yang dibuat Axel? Tidak mengerjakan PR. Ya, hanya karena tidak mengerjakan PR ia dianggap melanggar. Sepele sekali. Bukankah setiap ia ditanya tentang pelajaran matematika ia selalu bisa menjawab? pikir Axel.

Terdengar helaan nafas Bu Inggrid. Axel merasa benar- benar tersiksa dengan diamnya Bu Inggrid.

“Kenapa tidak mengerjakan PR lagi?” tanya Bu Inggrid dingin. 

Axel merasakan jantungnya berdebar-debar. Tangannya dingin. 

“Ma maaf, Bu…, saya sore sudah ketiduran,” jawabnya bohong. 

“Tidur jam berapa?” tanya Bu Inggrid lagi.

“Ha..habis Isyak Bu, badan saya demam dan ibuk memberi saya obat yang membuat saya mengantuk,” jawab Axel terbata-bata. 

Duuuh, bohong lagi, keluhnya dalam hati.

Tiba tiba terbayang dalam benaknya, semalam ia tidur pukul dua belas malam. Mabar dengan Akmal membuatnya lupa jam tidur. Bahkan peringatan dari ibuk pun ia anggap angin lalu.

“Tulis lagi janjimu di situ, ingat, ini peringatan kedua,” sambung Bu Inggrid sambil menyodorkan sebuah bolpoin.

Peringatan kedua. Ini tidak main-main! Jika sampai ada pelanggaran lagi, ia akan mendapat peringatan ketiga, dan itu berarti ayah atau ibuknya akan dipanggil ke sekolah untuk membicarakan kenakalannya. Duh..

***

Matahari kali ini terasa begitu panas menyengat. Axel segera meletakkan tas dan meraih gelas untuk mengambil air putih dari dispenser.

“Sudah pulang, Le?”

“Iya, Buk, panas sekali rasanya,” jawab Axel sambil meminum air putih yang habis dalam tiga tegukan. Alhamdulillah, segar sekali rasanya.

” Ayo makan dulu, habis itu Dhuhuran,” kata Ibuk sambil membuka tudung saji. Hmm, sayur asem, tempe, tahu, sambal dan ikan asin membuat cacing-cacing di perutnya menari nari. 

Tanpa disuruh dua kali Axel segera duduk dan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi.

“Masakan ibuk memang top, ” kata Axel sambil mengacungkan jempolnya. Lezatnya masakan ibuk membuat Axel lupa dengan peristiwa di sekolah tadi pagi.

“Le, habis makan segera ke Bapak, tadi beliau pesan kamu harus ke pasar ambil sawi,” kata Ibuk sambil menuju dapur mencuci piring piring kotor.

Bapak Axel adalah pedagang pangsit terkenal di kampung. Banyak orang suka dengan pangsit ayam Pak Marno, bapak Axel. Harganya murah tapi rasanya sangat sedap.

“Ke Pasar Mergan?” tanya Axel segan. Aduh, panas panas begini, Axel merasa ngantuk sekali. Apalagi semalam ia kurang tidur.

“Iya Le, hari ini ada pesanan pangsit, agak banyak untuk pertemuan di Balai RW. Tadi Pak RT ke sini,” 

Axel segera beranjak. Setelah mengambil wudhu dan sholat, direbahkan tubuhnya di kamar tengah. Suara detik jam berpadu dengan semilir angin dari jendela tiba- tiba membuat metanya terasa ngantuk. Tidak dihiraukannya Pussy yang bergelung manja di dekatnya. Sayup-sayup seperti ada suara Akmal yang mengajaknya meneruskan mabar yang belum tuntas semalam.

“Axel..!” suara itu tiba-tiba membangunkannya. Suara yang sangat dikenal Axel. Ya , suara bapak! Tiba tiba saja Axel ingat sawi dan pasar Mergan.

Mati aku, pikirnya kalut.

Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang. Berarti sudah hampir tiga jam ia tertidur.

Cepat-cepat Axel menuju ke bapak di ruang tengah.

“Dari mana saja, kamu?” tanya bapak tidak ramah. Ada titik-titik keringat di dahi bapak. Wajah bapak agak merah karena terlalu lama di depan kompor.

“Ma..maaf, Pak, Axel tertidur,” katanya penuh sesal.

Bapak tidak mau mendengarkan jawabannya. Tanpa melihat Axel, bapak segera menuju ke kamar. Tampak sekali bapak lelah sehabis memasak pesanan pangsit untuk pertemuan di Balai RW habis Maghrib nanti.

Dengan langkah gontai Axel menuju kamar mandi. Sholat Ashar pun belum dilakukannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima lebih.

Habis Asharan suasana terasa sepi. Tidak ada gurau bapak maupun ibuk sore ini.

Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk lewat HPnya. Ada pesan masuk

 Axel melirik sekilas. Dari Akmal. 

Uh, paling mau mengajak main lagi, pikir Axel malas.

Axel diam di kamarnya sambil menunggu azan Maghrib tiba. Sayup suara qiroah dari langgar membuat hatinya kian sedih. Sungguh, ini hari yang buruk, pikirnya. Pagi-pagi dimarahi Bu Inggrid, dan sore didiamkan oleh bapak. Padahal pada kedua nya Axel sangat hormat dan sayang.

“Axel, sedang apa, Le?” tanya Ibuk sambil duduk di sebelahnya.

“Nunggu Maghrib , Buk,” jawabnya lirih. Ibuk mengelus kepalanya.

Ah, Axel jadi ingin menangis. Sepertinya cuma Ibuk yang selalu baik padanya.

Perlahan ibuk bercerita bahwa tadi bapak mencari-cari dirinya untuk meminta tolong membelikan sayur buat kelengkapan pangsit. Tapi rupanya ia tertidur begitu pulas, hingga meski berkali -kali dibangunkan ia tidak juga membuka mata. Tidur terlalu malam membuatnya ngantuk luar biasa.

Axel tiba-tiba ingat nasehat guru olah raganya bahwa tidur adalah sesuatu yang harus dibayar. Jika kita kurang tidur, tubuh kita akan terus menagihnya dengan terus merasa ngantuk.

“Axel tadi malam tidur jam berapa?” tanya Ibuk kemudian. 

Pertanyaan yang sangat singkat , tapi membuat Axel kebingungan. Betapa tidak? Kemarin jam sembilan ia sudah masuk kamar dengan alasan akan segera tidur. Tapi kenyataannya di dalam kamar ia mabar dengan Akmal sampai larut malam.

“Jam berapa?” tanya Ibuk lagi

 “Jam.. duabelas, Buk…,” jawabnya lirih.

Ibuk tampak terkejut. 

“Mengerjakan tugas?” tanya Ibuk dengan tatap mata penuh selidik.

Axel menunduk.

“Bu..bukan Buk.., Axel mabar sama Akmal,” jawabnya.

“Astaghfirullah Le…, jadi tidur sampai jam segitu hanya untuk mabar? Lalu apa manfaat yang kamu dapatkan?” suara ibuk agak meninggi.

“Ma..maafkan Axel Buk…,” 

Kali ini Axel benar benar menangis. Ibuk, orang yang terbaik padanya ternyata juga marah. Betapa besar kesalahan yang telah diperbuat dirinya.

Lama keduanya diam. Ibuk tampak begitu kecewa. Axel menunduk dengan penyesalan yang tiada habis-habisnya.

“Buk..Axel minta maaf..,” katanya lagi sambil mencium tangan ibuk. Ibuk mengelus kepala Axel.

Sebuah notifikasi masuk WhatsAppnya. Dari grup kelas. Bu Inggrid.

“Anak- anak, jangan lupa kerjakan PR, dan tidur tidak boleh terlalu malam.., ingat salah satu pesan dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat adalah tidur cepat..,” kata Bu Inggrid dalam pesannya. 

Penyesalan dalam diri Axel kian bertambah. Hari itu Axel belajar untuk tidak mengikuti kesenangan sesaat. Ya, mengejar kesenangan sesaat membuat Axel harus menghadapi berbagai macam masalah. 

Juga satu hal lagi yang sangat penting, jangan suka mengabaikan nasehat orang-orang yang menyayangimu, terutama kedua orang tua dan gurumu.

#cerpenanak

# pulpen

#sayembarapulpenxxvii;

Tugas Pembelajaran Daring Peluang

Soal 1: Konteks Pelemparan Dadu

Sebuah dadu bersisi enam dilempar sekali. Tentukan peluang munculnya: a)Mata dadu bilangan prima b)Mata dadu lebih dari 4

Soal 2: Konteks Pengambilan Bola (Kombinasi)

Dalam sebuah kotak terdapat 5 bola merah, 3 bola hijau, dan 2 bola kuning. Jika diambil satu bola secara acak, berapakah peluang terambilnya bola berwarna hijau?

Soal 3: Konteks Pemilihan Hari

Hari ini adalah hari Rabu. Jika suatu hari dipilih secara acak dari tujuh hari dalam seminggu, berapakah peluang terpilihnya hari yang huruf awalnya bukan “S”?

Soal 4: Konteks Pelemparan Dua Koin

Dua keping uang logam dilempar bersama-sama sekali. Tentukan peluang munculnya: a)Sisi gambar pada kedua koin b)Paling sedikit satu sisi angka

Soal 5: Konteks Kartu Remi

Sebuah kartu diambil secara acak dari satu set kartu bridge (52 kartu). Tentukan peluang terambilnya: a)Kartu bernomor (As bukan termasuk nomor) b)Kartu Jack (J) berwarna hati

Soal 6: Konteks Pemilihan Siswa (Data)

Di sebuah kelas terdapat 15 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Jika satu siswa dipilih untuk menjadi ketua kelas, berapakah peluang terpilihnya siswa perempuan?

Soal 7: Konteks Pengetikan (Kesalahan)

Seorang sekretaris memiliki peluang melakukan kesalahan mengetik adalah 0,05. Berapakah peluang dia tidak melakukan kesalahan dalam mengetik suatu dokumen?

Soal 8: Konteks Perlombaan (Perkiraan)

Dalam 100 kali percobaan melempar sebuah peniti, ujungnya yang runcing menghadap ke atas sebanyak 45 kali. Berdasarkan percobaan ini, berapakah peluang peniti tersebut jatuh dengan ujung runcing menghadap ke atas?

Soal 9: Konteks Dadu dan Koin

Sebuah dadu dan sebuah koin dilempar bersama-sama satu kali. Berapakah peluang munculnya sisi gambar pada koin dan mata dadu genap pada dadu?

Soal 10: Konteks Pemilihan Ganda (Tanpa Pengembalian)

Dalam sebuah kotak terdapat 4 kelereng biru dan 6 kelereng putih. Jika diambil dua kelereng satu per satu tanpa pengembalian, berapakah peluang terambilnya kedua kelereng berwarna biru?