Sebuah Perayaan Cinta di Bintaraloka

Wahai Abi

Wahai Umi

Wahai Akhi

Kami Badan Dakwah Islam

Serukan Kebenaran

Tinggalkan Kemungkaran  x2

Ref…

Ghirah kami membara

Demi Islam nan Jaya

Tegakkan Jihad Sabilillah

Mengharap akan ridho-Nya

Tegakkan Jihad  Sabilillah

Mengharap akan ridho-Nya …

(Lagu Mars BDI, tempo : bersemangat, irama lagu: Hubbul Wathon)

Di balik lagu Mars BDI , dokumentasi pribadi

Dengan berjajar rapi dan mengenakan dresscode hitam putih siswa yang  tergabung dalam kegiatan Badan Dakwah Islam menyanyikan lagu Mars BDI dengan penuh semangat. Lagu yang digubah oleh Bapak Muhaimin ini dinyanyikan dengan koreografi Ibu Utin Kustianing.

Wajah cerah tampak di mana mana.  Tidak seperti yang kami khawatirkan ternyata hari itu matahari terang benderang seolah tidak menyisakan hujan yang begitu deras mengguyur kota Malang sehari sebelumnya.

Peserta Maulid, dokumentasi BDI

Seluruh siswa yang beragama Islam kelas 7,8 dan 9 berbusana muslim dan khidmat mengikuti acara perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang di gelar di lapangan sekolah.

Tentang Perayaan Maulid Nabi

Maulid Nabi hakekatnya adalah perayaan akan cinta kita pada Nabi Muhammad saw.  Nabi akhir zaman yang membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.

Pembacaan Maulid Diba’, dokumentasi Anggita

Nabi yang diutus Allah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).  Nabi yang membawa contoh akhlak mulia. 

Ya,  siapa yang tak kenal akhlak nabi? 

Beliau yang selalu berprasangka baik, tidak pernah berbuat keburukan, tidak berkata kasar dan tidak pernah marah. Bahkan, beliau selalu mendoakan kebaikan kepada orang yang berbuat keji kepadanya.

Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21, bahwa Allah Swt berfirman:

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Sebagai umat Islam kita wajib mencintai Rasulullah Muhammad saw. Seperti firman Allah  dalam surat Ali Imron, ayat 31:

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 Artinya: Katakanlah wahai Muhammad (kepada ummatmu) jika kalian cinta kepada Allah, patuhlah kepadaku (Muhammad), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, sebab Allah maha pengampun dan penyayang

 Allah memerintahkan kita agar patuh dan mengikuti Rasulullah karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah melontarkan perkataan berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, sebab seluruh perintah dan larangan yang diucapkan adalah murni bersumber dari wahyu. Oleh karena itu cinta kepada Rasulullah sama halnya cinta kepada Allah.

Ada banyak cara kita mencintai Rasulullah, di antaranya adalah melakukan sunah-sunahnya,  memperbanyak shalawat,mencintai keluarga, sahabat, dan umat muslim, mempelajari shirah nabawiyah, juga rajin berdoa

Dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad saw Bintaraloka mengadakan berbagai macam kegiatan.  Kegiatan pagi itu diawali dengan pembacaan gema wahyu Ilahi oleh Ayra Firna Derlen dan sari tilawah oleh Zahra Rianty Derlen. Sesudahnya acara lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars BDI dan pembacaan sholawat Diba’ yang dimotori oleh siswa BDI. 

Mahalul Qiyam, dokumentasi BDI

Sesudah pembacaan sholawat, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Kepala sekolah dan mauidhotul khasanah yang disampaikan oleh Ustad Abdul Wahid, S.PdI, M.PdI.

Melalui mauidhotul khasanahnya  Ustad Abdul Wahid  menyampaikan tentang perlunya kita mencintai Rasulullah.

Diriwayatkan bahwa begitu gembiranya Abu Lahab dalam menyambut kelahiran nabi Muhammad , dia memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah di hari kelahiran Nabi.

Atas tindakannya ini meski Abu Lahab adalah seorang kafir dan selalu memusuhi nabi , dia mendapat keringanan siksa kubur di setiap hari Senin.

Sesudah mauidhotul khasanah siswa menuju kelas masing masing untuk makan bersama kue-kue yang sudah dibawa dari rumah. 

Sekitar 30 menit kemudian acara lomba-lombapun dimulai.  Berbagai acara lomba yang diadakan pagi itu adalah lomba:

Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Anggita

1. Adzan

2. Tartil

3. Pidato PAI

4. Desain infografis

5. Desain poster

6. Kaligrafi

7. Asmaul Husna

8. Cerdas cermat PAI

Dengan penilai atau juri tiap nomor lomba adalah dua orang bapak/ ibu guru yang bertugas.

Lomba asmaul Husna, dokumentasi pribadi
Penampilan peserta lomba asmaul Husna, dokumentasi pribadi

Secara umum lomba-lomba berjalan lancar dan meriah.  Ya,  setiap kelas wajib mengirimkan perwakilannya untuk berlaga di setiap nomor lomba, sehingga tidak ada siswa yang tidak terlibat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.

Sekitar pukul 14.00 acara lomba berakhir,  dan pengumuman nanti akan dijadwalkan oleh Bapak/Ibu guru PAI bersama BDI.

Sie konsumsi, dokumentasi pribadi

Kelancaran acara Maulid Nabi ini tidak luput dari kerja keras bapak/ibu guru termasuk sie konsumsi yang sudah sibuk di dapur menyiapkan hidangan sejak pagi.

Bersama sebagian anggota BDI, dokumentasi Aneira

Semoga perayaan Maulid kali ini semakin meningkatkan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad saw sehingga di yaumil qiyamah nanti kita akan mendapatkan syafaat dan berkumpul bersama beliau .

Sesuai sabda Nabi Muhammad saw:  ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai’,” (Muttafaq ‘alaih).

Allahumma sholli ‘ala Muhammad..

Duka dan Doa Kami Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Dua hari ini mendung menggayut kota Malang.  Sinar matahari tidak begitu cerah. Beberapa daerah dihiasi gerimis kecil. Alam seolah mewakili suasana hati kami yang sedang berduka.

Malang benar-benar berduka. Begitu banyak korban yang jatuh di Stadion Kanjuruhan gara-gara menonton sepak bola. Postingan teman-teman di grup wa banyak bercerita tentang korban di Stadion Kanjuruhan.  Banyak video amatir beredar berisi barisan ambulan yang membawa jenazah korban.

Kejadian yang sungguh tak pernah diduga.  Sepak bola yang biasanya menjadi hal yang menyenangkan,  hari ini ternyata menyisakan cerita yang memilukan.  Korban tragedi Kanjuruhan begitu banyak.  Hampir dua ratus nyawa melayang gara- gara sepak bola. 

Tragedi Kanjuruhan, sumber gambar: JPNN.com

Sabtu malam menjelang tragedi saya bersepeda bersama anak saya.  Tak seperti biasanya suasana jalan tak begitu ramai,  padahal sekitar Jalan Kawi dan Ijen biasanya lumayan ramai.

“Kok agak sepi ya, Le? ” tanya saya heran.

“Arema main,  Buk.., pada berangkat ke Kanjuruhan, ” jawabnya.

“Ooh…,”Saya langsung maklum.

Di sekitar tempat tinggal saya setiap ada pertandingan Arema suasana selalu menjadi agak sepi. 

Banyak yang berbondong-bondong ke Kanjuruhan,  terutama anak -anak muda.  Mereka selalu datang ke stadion dengan penuh cinta. Ya,  cinta pada club sepak bola kebanggaan kota Malang .

Para orang tua selalu memberikan izinnya, karena menonton bola adalah kesenangan bersama.

Sampai malam hari kami tidak mendengar berita apa- apa tentang pertandingan tersebut. Namun begitu terkejutnya kami ketika Minggu pagi di grup RT maupun grup sekolah sudah ramai dengan berita dan foto-foto peristiwa Kanjuruhan. Rupaya terjadi kerusuhan semalam.

Korban yang jatuh demikian banyak.  Dalam sehari jumlah korban terus merangkak naik.  Suasana terasa agak menegangkan . Apalagi ketika ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan bahwa masing -masing sekolah harus mendata barangkali ada siswanya yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan. 

Mulailah kami para wali kelas mengumumkan di grup orang tua barangkali ada yang putera puterinya menjadi korban atau belum pulang sejak semalaman. 

Alhamdulillah semua siswa selamat. Ada satu siswa yang ikut menonton,  tapi bisa sampai di rumah dengan selamat meski matanya masih pedih. 

Rasa syukur kami masih berbalut kesedihan.

Ada beberapa sekolah yang ternyata siswanya menjadi korban peristiwa tersebut. Baik SMA,  SMK maupun SMP.

Agak siang ada pengumuman dari Pak RT bahwa ada warga kampung kami yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan.  Yang dua orang adalah suami istri, sementara satunya anak seusia SMA.

Yang membuat kami begitu terharu adalah suami istri ini meninggalkan seorang anak yang masih kecil.  Kira- kira kelas satu atau dua SD.

Menunggu kedatangan Ibu Khofifah di rumah korban, dokumentasi Eddy

Menjelang pemakaman, Ibu Khofifah  menyempatkan mengunjungi rumah korban di daerah kami. 

Sedih sekali rasanya.  Menonton sepak bola yang selama ini adalah bagian penting dari kesenangan kami semua kini tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyeramkan.  Korban yang berjatuhan mayoritas muda usia.  Bahkan ada pula anak kecil. 

Tahlil dan doa bersama, dokumentasi Imam

Sebagai ungkapan duka pagi ini lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa.  Mereka duduk dengan rapi sambil membawa Qur an. Ya,  hari ini upacara bendera tiap hari Senin diganti dengan doa bersama untuk korban peristiwa Kanjuruhan. 

Sekolah yang lain juga melaksanakan kegiatan yang serupa.  Kiriman foto dari seorang teman menunjukkan kegiatan doa bersama dan sholat ghoib untuk para korban Kanjuruhan.

Lantunan surah Yasin dan tahlil membuat kami semakin tertunduk.  Sungguh,  apalah daya manusia.  Kapan harus menghadap Sang Kuasa manusia tak pernah mengetahuinya.

Tiada yang menyangka,  mereka yang berangkat dengan riang gembira ternyata pulang tinggal nama.

Sumber gambar: tangkapan layar pribadi

Hari ini betapa banyak orang tua atau anak yang menangis karena kehilangan orang-orang tercinta.

Siapa yang harus bertanggung jawab kiranya biar yang berwenang mengusut masalah ini sampai tuntas. 

Tidak ada pertandingan sepak bola yang setara dengan nyawa manusia. Yang pergi tak akan kembali.  Kini yang tersisa adalah rasa takut dari keluarga untuk mengizinkan anak atau orang tuanya menuju ke stadion hanya untuk sekedar melihat pertandingan sepak bola. 

Ya, sepak bola kali ini menyisakan trauma, kesedihan juga air mata.

Memorabilia, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil

Malam itu saya berkesempatan melihat pameran yang diadakan di UM gedung B1.  Pameran bertajuk Posko Memori ini  diadakan oleh program studi Desain Komunikasi Visual ini diikuti oleh mahasiswa dan umum. 

Posko Memori, dokumentasi pribadi panitia

Suasana tidak begitu ramai namun menyenangkan. Mungkin karena durasi pameran yang  dua hari membuat yang datang silih berganti sehingga tidak sampai terjadi kerumunan.  Hal yang patut diapresiasi.  Dengan pengunjung yang tak terlalu padat kami bisa berlama lama menikmati karya yang disajikan dan sesekali bertanya pada yang stand by di sana.

Ada sekitar 80 karya yang disajikan dalam berbagai tehnik.  Kreatifitas peserta pameran dalam hal ini benar-benar patut diacungi jempol. Ada yang berupa kolase,  digital,  sketsa tangan ataupu karya permainan yang mengingatkan kita pada masa kecil.

Kembali ke masa lalu, dokumentasi pribadi

Terlempar ke masa lalu.  Itu yang sangat terasa tatkala kami menikmati karya itu satu persatu.  Tema Memorabilia yang diusung benar benar sukses membawa para penikmatnya berkelana kembali ke masa kecil.

Banyak hal yang diangkat oleh mahasiswa tentang masa kecil dalam karya mereka.  Pada umumnya gambaran tentang masa kecil yang bisa dilihat dari karya- karya yang ditampilkan adalah keceriaan,  petualangan dan kenangan bersama orang tercinta.

Tentang indahnya kenangan masa kecil bisa tampak pada karya Back To The Past  yang mengungkapkan bahwa masa kecil merupakan masa masa yang begitu menarik untuk diingat dan diceritakan kembali. Menceritakannya kembali membuat kita sejenak melupakan segala masalah yang timbul di masa dewasa., atau juga karya berjudul The Mirror  yang menceritakan orang gadis berumur 20 tahun yang menemukan cermin ajaib dan mempertemukannya dengan dirinya saat kecil. Bayangan itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.

The Mirror, dokumentasi pribadi

Masa kecil adalah masa penuh petualangan.  Lewat bermain mereka juga belajar, seperti diungkapkan dalam karya Let’s We See the World : Dunia anak yang penuh petualangan dan rasa ingin tahu, atau Dream Big : Dunia anak selalu menyimpan impian-impian besar. Seperti jadi astronaut misalnya.

Let’s We See the World, dokumentasi pribadi

Petualangan dan permainan adalah hal yang sangat akrab dengan masa kecil. Seperti terungkap pada karya Di Kala Minggu Pagi. Karya yang bercerita tentang  pandangan anak berusia 8 tahun tentang koran di hari Minggu. Saat itu di mana yang lain sibuk membaca koran Minggu si anak kecil juga ikut sibuk. Ya, sibuk melihat koran. Melihat teka teki silang yang tak mungkin dimenangkannya.

Karena jiwa petualangan mereka yang begitu tinggi tak jarang orang tua memberikan banyak larangan.  Namun dalam memberikan larangan orang tua harus berhati-hati karena dari apa yang dilihat, anak kecil akan mengerjakan. 

What They See, They Do It, dokumentasi pribadi

Hal tersebut diungkapkan dalam karya What They See, They Do It : Anak adalah peniru ulung, apa yang diklakukan orang tua akan terekam dalam memori dan ditiru oleh anak.

Dalam pameran ini juga diungkapkan berbagai macam permainan, jajanan kenangan ataupun kartun yang disukai di masa kecil.

Let’s Play, dokumentasi pribadi

Tentang gembiranya bermain di masa kecil terungkap pada karya Let’s Play , di dalamnya ada  anak kecil bermain engklek dengan wajah ceria. Keceriaannya dilambangkan dengan nuansa warna-warni.

Yang tak kalah menarik adalah Wake Up . Karya ini  mengambil tema Jaran Kepang Jathilan. Berkisah tentang mainan jaran kepang di masa kecil.  Karya ini berusaha mengemas budaya lokal dengan gaya komik Jejepangan

Wake Up, dokumentasi pribadi

Tentang hal yang berkaitan dengan masa kecil ada hal yang sangat menarik yaitu  mainan yang biasanya ada di bagian depan krinyo atau pensil warna-warni.  Jika plastik penutup digerakkan maka gambar harimau akan ikut bergerak. Jadi kesannya harimau sedang berlari.

Kucing Oranye, dokumentasi pribadi

Ada juga permainan ular tangga.  Ah,  permainan yang sangat akrab dengan anak-anak.  Hanya saja pada pameran ini ular diganti sulur sementara tangga diganti bunga. 

Pernak pernik masa kecil terungkap pada karya Launch the Memory, yang mengambil gambar  permen berbentuk kaki atau  hot hot pop.  Juga karya Our Treasure di mana setiap anak mempunyai harta karun, bisa mainan, surat, foto maupun ingatan dengan orang yang sangat berarti , seperti halnya juga gambar perangko kartun anak, ada Doraemon, Sin chan, Chibi Maruko Chan, Power Puff Girl dan yang lain.

Our Treasure, dokumentasi pribadi

Kenangan bersama orang tercinta juga diungkapkan dengan indah seperti karya Comboran  yang bercerita di masa kecil ketika diajak ayah berjalan-jalan di Comboran. Melihat cincin berlama-lama dan makan es tape, juga yang tak kalah menarik adalah Peaceful days Back in the past ,  tatkala kita sering minta digendong dan di gendong di punggung adalah sesuatu yang sangat membahagiakan karena kita bisa melihat banyak segala sesuatu yang sebelumnya tak bisa kita lihat.

Comboran, dokumentasi pribadi

Berbagai serpihan kenangan akhirnya akan membentuk cerita hidup yang berwarna-warni sepeti tertuang dalam karya Journey.

Sebenarnya masih banyak karya karya yang lain.  Kreatifitas peserta benar benar patut diacungi jempol. Caption yang ditampilkan seolah memberi nyawa bagi karya yang disajikan.

Ya,  karya-karya yang dipamerkan Memorabilia sukses membawa pengamatnya sejenak bernostalgia mengingat masa lalu yang penuh kenangan .

Time Flies but Memories Don’t, dokumentasi pribadi

Waktu bisa berlalu, namun kenangan akan tetap abadi seiring berjalannya sang waktu. Time Flies but Memories Don’t.

Semangat Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2022

Sabtu yang istimewa. Jika biasanya di hari Sabtu kami menikmati libur di rumah, hari ini tidak. Tentu saja karena Sabtu ini bertepatan dengan tanggal 1 Oktober, berarti saat dilaksanakannya upacara Hari Kesaktian Pancasila.

Menyanyikan lagu Mars Garuda Pancasila, dokumentasi Bu Maria

Ada yang tidak biasa dengan upacara hari ini yaitu kami melakukannya dua kali. Satu kali di sekolah, dan yang lain di Balai Kota.

Aha, bagaimana ceritanya? Ayo kita simak bersama..:)

Pagi ini sejak pukul setengah tujuh lapangan volly sudah penuh siswa.  Dengan berseragam pramuka, siswa sudah berbaris rapi di lapangan.  Tak lupa topi baret untuk siswa putra dan laken  untuk siswa putri ikut melengkapi penampilan mereka.

Mister Hery berkali-kali memberikan aba-aba untuk mengatur posisi siswa.  Di bagian depan,  bapak/ibu guru juga sudah berdiri berjajar rapi.

Tepat pukul 06.50 upacara dimulai.  Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Pembina upacara Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bu Any

Ada yang sedikit berbeda dibandingkan dengan upacara bendera setiap Senin.  Di upacara pagi ini tidak ada acara pengibaran bendera, jadi upacara dilakukan dengan bendera sudah dikibarkan. Perbedaan yang lain adalah di upacara kali ini dibacakan ikrar, sementara di upacara bendera tidak ada pembacaan ikrar.

Ikrar berisi tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai  Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan,menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ikrar ditandatangani atas nama bangsa Indonesia oleh ketua DPR RI yaitu Dr (HC) Puan Maharani.

Pembacaan ikrar, dokumentasi Bu Any

Bertindak sebagai pembaca ikrar di upacara kali ini adalah Bapak Rahman Helmy.

Secara umum upacara berjalan khidmat.  Petugas maupun peserta melaksanakan kewajiban masing-masing dengan baik.  Dalam sambutannya Ibu Kepala Sekolah menekankan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari, dan kesaktian Pancasila akan semakin tampak jika kita selalu mengamalkannya di manapun kita berada.

Upacaraberjalan khidmat, dokumentasi Bu Any

Sesudah sambutan acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Garuda Pancasila  dan doa. Sekitar pukul setengah delapan upacara berakhir dengan ditandai pembubaran peserta.

Kami pikir acara sudah berakhir hari itu.  Namun ketika semua bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang bahwa 31 guru diminta mengikuti upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Balai Kota.

Tanpa menunggu lama, kamipun berangkat menuju Balai Kota.  Karena lokasi sekolah yang tidak begitu jauh dari Balai Kota banyak yang berboncengan sepeda motor ke sana.

Berbaris menuju tempat upacara, dokumentasi pribadi

Titik kumpul kami adalah di halaman gedung DPRD.  Sampai di halaman gedung DPRD kami berbaris tiga-tiga. Sesudah semua siap, kamipun dikomando untuk  menuju lokasi upacara di depan Balai Kota Malang.

Upacara berjalan demikian khidmat dan mengharukan.  Apalagi sebelum upacara disajikan lagu- lagu dari paduan suara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan musikalisasi puisi dari diswa SD Al Kautsar.

Paduan suara, dokumentasi pribadi

Dalam catatan saya ada tiga lagu yang ditampilkan yaitu Maju Tak Gentar,  Garuda Pancasila dan Syukur.

Bertindak selaku inspektur upacara pagi itu adalah Bapak Walikota Malang, sedangkan pembaca ikrar Bapak Ketua DPRD kota Malang.

Peserta upacara, dokumentasi pribadi

Dalam upacara kali ini tidak ada sambutan inspektur upacara sehingga sekitar pukul setengah sembilan upacara berakhir. Sebelum meninggalkan Balai Kota pagi ini kami menyempatkan untuk berfoto sejenak.  Ya,  berfoto adalah acara yang wajib ada apapun momennya.

Berfoto bersama sesudah upacara, dokumentasi Bu Any

Sesudahnya kami mengambil kendaraan dan segera meninggalkan Balai Kota Malang.

Semoga upacara pagi ini menjadi penyemangat bagi kita bersama untuk bangkit, bergerak dan tetap setia mempertahankan Pancasila sebagai idiologi negara, sesuai tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2022 yaitu Bangkit Bergerak Bersama Pancasila.

Salam semangat….:)

Giat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Membuat Aneka Kerajinan dari Bahan Bekas

Jumat yang benar-benar sibuk. Setelah berkegiatan pokja di pagi hari, menjelang pukul 08.00 seluruh siswa kelas tujuh segera berkumpul di aula. Ya, sekarang saatnya kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan yang selalu dinanti oleh para siswa.

Dalam kegiatan projek tema Aku Keren Dengan 4R ini sekolah menghadirkan narasumber istimewa. Tiga orang ibu yang merupakan orang tua dari alumni SMP Negeri 3 Malang.
Ibu Ratna, Bu Eka dan Bu Nopi, beliau bertiga adalah pengusaha, juga pelaku UMKM komunitas sulam di kota Malang.

Bu Ari memperkenalkan ketiga narasumber, dokumentasi P.Fabi

Siswa masuk aula dengan penuh semangat. Alat dan bahan yang diperlukan sudah pula dibawa. Sebelum acara dimulai, untuk meningkatkan semangat seperti biasa siswa diajak menyanyi dahulu oleh Ibu Ami dan Ibu Triana.

Wajah berseri tampak dimana-mana. Tergambar rasa penasaran pada siswa, mereka akan diajak membuat karya apa.

Membuat mangkuk kancing,dokumentasi P. Fabi

Sesudah menyanyi, doa dan sambutan Ibu Kepala Sekolah, acara intipun dimulai. Siswa dibagi menjadi empat kelompok besar. Tiap kelompok mendapatkan materi yang berbeda.

Menyiapkan bahan, dokumentasi P.Fabi

Adapun materi yang dipelajari siswa adalah:

  1. Membuat gantungan kunci bunga dari kain perca
  2. Memanfaatkan compact disc untuk membuat lukisan mozaik
  3. Membuat kipas lukis
  4. Membuat mangkuk kancing

Proses pembuatan karya berjalan lancar. Siswa tampak bersungguh sungguh mengikuti arahan dari ibu-ibu narasumber.

Guru pendamping, dokumentasi P.Fabi
Guru pendamping membagikan bahan, dokumentasi P.Fabi

Kelancaran acara hari ini juga tak luput dari kerja keras bapak/ibu guru pendamping projek yang selalu menemani siswa dan siap membantu jika ada yang mengalami kesulitan.

Sesudah mendapatkan ilmu tentang ketrampilan tersebut, diharapkan siswa bisa mentransfernya pada teman yang lain, sehingga dalam satu kelompok bisa membuat keempat jenis ketrampilan tersebut.

Kerajinan dari CD, dokumentasi P.Fabi

Sekitar pukul sepuluh acara di aula diakhiri dan nantinya akan dilanjutkan di kelas masing-masing pada jam ke 5 -6.

Melalui acara ini selain bisa belajar berkolaborasi, meningkatkan kreatifitas juga kesungguhan dalam menghasilkan suatu karya, siswa juga belajar menghargai benda-benda bekas di sekitar kita.

Gantungan kunci bunga, dokumentasi pribadi
Berfoto di akhir acara, dokumentasi P.Fabi

Begitu banyak barang bekas di sekitar kita. Dan ternyata dari barang tersebut bisa dihasilkan sebuah karya yang tidak hanya cantik namun juga bisa memiliki nilai ekonomi yang menarik.

Salam Bintaraloka.. 🙂