Sore itu hujan deras mengguyur kota Malang. Halaman dan sekitar sekolah basah dilanda hujan yang tiada henti-hentinya. Meski demikian, semangat siswa untuk berkegiatan tidak pernah surut. Aula Bintaraloka 1 sejak bakda sholat Ashar sudah diramaikan oleh berbagai kesibukan siswa.
Ya, hari itu kita semua sudah hampir berada di penghujung bulan Ramadhan. Karenanya Badan Dakwah Islam (BDI) mengadakan acara Khotmil Quran dan kirim doa bersama.
Briefing, dokumentasi Bu Utien
Acara diikuti oleh sekitar 27 siswa dan 3 guru pendamping yaitu guru PAI SMP Negeri 3 Malang; Pak Muhaimin, Bu Utien dan Pak Abid.
Peserta kegiatan, dokumentasi Bu Utien
Acara yang dimulai pukul 16.00 ini diisi dengan pembuatan video ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, pelatihan publik speaking, pengisian materi seputar Ramadhan, sholat Maghrib berjamaah, buka bersama, sholat Isyak dan Tarawih berjamaah serta khotmil Quran.
Azan penanda waktu masuknya sholat, dokumentasi Bu Utien
Bertindak sebagai imam sholat Maghrib adalah Pak Abid, dan imam sholat Isyak dan Tarawih adalah Pak Muhaimin.
Yang membanggakan dalam acara pelatihan publik speaking dan pengisian materi, siswa bergantian tampil untuk menunjukkan kepiawaiannya memberikan ‘ceramah’ di depan teman-temannya.
Lily dan Naura, dokumentasi Bu Utien
Adapun judul yang diangkat dalam publik speaking dan pengisian materi sekitar Ramadhan adalah Kemuliaan di Bulan Ramadhan (Addin dan Nadia), Godaan Bulan Puasa (Lily Avisha dan Fashli), Silaturahmi dan Persaudaraan (Febri dan Naura).
Public speaking, dokumentasi Bu UtienPeserta kegiatan, dokumentasi Bu Utien
Acara berjalan dengan lancar. Sesudah Sholat Maghrib berjamaah, berbuka bersama,sholat Isyak dan Tarawih berjamaah, acara dilanjutkan dengan Khotmil Quran.
Buka bersama, dokumentasi Bu Utien
Bulan Ramadhan, bulan yang begitu mulia. Di bulan ini pertama kali diturunkannya Al Qur’an. Karenanya sudah sepatutnya kita mengisi bulan ini dengan banyak membaca Al Qur’an.
Ya, bukankah Al Qur’an yang kelak akan memberikan kita syafaat di yaumil qiyamah kelak?
Peserta kegiatan, dokumentasi Bu Utien
Harapannya semoga kita semua bisa menjadi generasi yang cinta Al Qur’an, dan ke depan kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan ini.
Lebaran dan baju baru seolah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Meski banyak yang berpendapat bahwa lebaran tak harus berbaju baru, tapi mengenakan baju baru saat lebaran adalah kebahagiaan tersendiri. Tidak hanya bagi anak kecil, semua akan merasa bahagia jika berbaju baru pas lebaran.
Menyiapkan baju lebaran selalu mengingatkan saya di masa kecil. Lebaran yang penuh kenangan utamanya yang berkaitan dengan persiapan baju baru.
Lebaran dan baju baru, Sumber gambar: CNN
Ya, bapak dan ibuk saya adalah penjahit. Karenanya kami hampir tidak pernah membeli baju jadi di toko. Semua baju lebaran dirancang sekaligus dijahit ibuk dan bapak.
Sebagai keluarga penjahit kami pasti punya buku mode blad. Buku mode blad adalah buku yang berisi berbagai macam model pakaian. Mode blad selalu diletakkan di ruang tamu untuk orang yang akan menjahitkan pakaian.
Dua minggu menjelang lebaran kami mulai sibuk mencari dan merancang model. Ilham didapat dari buku mode blad lalu dimodifikasi.
Biasanya model dan kain baju kakak dan adik saya dikembar karena keduanya sama-sama laki-laki. Sementara saya paling berbeda karena perempuan sendiri dan dapat paling banyak. He..he.. Mengapa? Karena saya paling rajin membantu bapak memasang kancing, menyetrika baju ataupun membeli perlengkapan jahit, seperti jarum, benang , resluiting dan lainnya.
Di antara semua pelanggan bapak , yang paling saya ingat ada satu pelanggan yang selalu menjahitkan untuk sekeluarga tiap menjelang lebaran. Pelanggan favorit kami.
Penjahit, sumber gambar: tribun Bogor
Mengapa favorit? Pelanggan ini puteranya lima. Jadi sekali menjahitkan ada tujuh stel baju. Untuk ibu , bapak, dan kelima anaknya. Senang? Tentu saja. Banyak jahitan berarti bapak mempunyai banyak uang bukan?
Di zaman itu penjahit sedang berjaya. Toko baju tidak sebanyak sekarang. Akibatnya dua minggu menjelang lebaran bapak mulai menolak jahitan yang diminta untuk berlebaran. Saat seperti itu biasanya bapak hanya mau menerima jahitan yang akan dipakai sesudah lebaran.
Saat itu di rumah ada lemari besar khusus untuk kain para pelanggan . Kami namakan itu lemari garapan. Ketika menjelang lebaran, lemari itu sampai tidak bisa ditutup saking penuhnya. Bisa dibayangkan betapa banyak jahitan bapak saat itu.
Banyaknya jahitan bapak kadang membuat kami anak-anaknya khawatir. Jangan- jangan bapak tidak punya waktu untuk menjahit baju kami bertiga? Apakah lebaran kami juga berbaju baru?
Kadang dua hari menjelang lebaran, baju kami masih berupa potongan kain. Duh, benar-benar hati jadi deg-degan. Jangan-jangan bapak lupa dengan baju-baju kami saling banyaknya baju pelanggan yang harus diselesaikan.
Tapi kekhawatiran kami itu tak pernah terjadi. Bapak dan ibuk sering melembur baju baru kami di malam takbiran, dan baru disetrika esok hari menjelang sholat Id. Yang jelas, pas lebaran kami pasti mengenakan baju baru
Masa kejayaan penjahit mulai meredup ketika toko-toko baju banyak berdiri di mana-mana. Ya, orang-orang banyak yang lebih memilih untuk membeli pakaian jadi.
Alasannya bajunya bisa langsung dipakai, dan modelnya bermacam-macam pula. Sementara kalau menjahitkan harus menunggu beberapa hari baru bisa dipakai.
Sampai akhirnya jahitan bapak semakin sepi dan bapak pindah profesi. Sesekali bapak masih menerima jahitan dan yang banyak adalah permak. Ya, biasanya dari orang yang membeli baju di toko, lalu karena ukuran yang kurang pas, baju dibawa ke rumah untuk dipermak.
Toko baju, sumber gambar: Kompas.com
Begitu sepinya jahitan, bahkan kamipun akhirnya ikut-ikutan membeli baju jadi saat lebaran. Sudah tidak ada lagi kesibukan menyiapkan baju lebaran di malam takbiran.
Tahun demi tahun berlalu, keberadaan penjahit di kampung semakin tergusur. Bapak sudah lama meninggal. Tapi nuansa persiapan menyambut kedatangan lebaran, termasuk persiapan baju barunya selalu mengingatkan saya pada suara deru mesin jahit bapak di ruang tengah.
Suara deru mesin yang membuat kami begitu bahagia. Karena suara mesin itu menggambarkan ramainya jahitan bapak. Ramainya jahitan bapak berarti sangu lebaran yang akan kami terima nanti pasti akan banyak. Aha..😀
Arin menunduk penuh rasa sesal. Sungguh, dalam hatinya ada rasa jengkel , gemas jadi satu. Penilaian Tengah Semester baru saja berlalu. Dan dia mendapat nilai yang sama sekali tidak memuaskan. Kok bisa? pikirnya jengkel. Padahal dalam keseharian Arin sangat aktif, rajin mengerjakan. Hanya satu kekurangannya. Ia tak punya catatan.
Lha untuk apa mencatat? Apa yang diterangkan guru dia bisa tangkap semua. Buktinya nilai hariannya selalu bagus. Dalam beberapa materi misal perbandingan dan aritmatika sosial ia bahkan menjadi tutor baginteman-teman sebayanya. Tapi entah mengapa kali ini justru di ulangan tengah semester, nilainya tidak begitu bagus.
Ulangan semester, dokumentasi pribadi
Di atas adalah contoh hal yang sering terjadi pada siswa dalam pembelajaran matematika. Nilai harian bagus , tapi saat ulangan nilai menjadi jeblok. Hal yang sangat mengecewakan. Baik bagi siswa maupun guru. Ya, pada beberapa siswa, kadang mereka mendapat nilai ulangan yang jauh lebih rendah daripada yang diharapkan.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Ternyata dalam mengikuti pembelajaran matematika tanpa sadar siswa sering melakukan kesalahan. Kesalahan yang tampaknya sepele tapi memberikan dampak yang kurang baik bagi siswa utamanya dalam memahami berbagai materi matematika. Kesalahan tersebut di antaranya adalah:
1. Malas mencatat
Pentingnya mencatat, sumber gambar: suara.com
Masalah ini seperti yang terjadi pada Arin di
atas. Banyak siswa yang merasa tidak perlu mencatat dengan alasan materinya mudah ataupun sudah jelas. Hal yang tidak boleh dilakukan. Bagaimanapun juga manusia punya keterbatasan ingatan. Jika materi sudah menumpuk, maka untuk membuka ingatan kita perlu membuka catatan. Mencatat sangat diperlukan agar apa yang dipelajari lebih melekat dalam ingatan. “Ikatlah ilmu itu dengan mencatatnya,” demikian nasehat bijak dari Imam Syafi i ra.
2.Malas bertanya.
Bertanya saat pembelajaran, sumber gambar: Aku Pintar
Beberapa siswa malas bertanya meskipun dia belum mengerti. Ada banyak alasan yang membuat siswa takut bertanya. Takut pada guru, atau malu jika terlihat bodoh. Padahal tidak ada pertanyaan yang bodoh dalam pembelajaran. Setiap pertanyaan pasti bermanfaat, baik untuk membuka ilmu bagi diri sendiri maupun siswa yang lain. Kadang pertanyaan yang dilontarkan bisa membantu siswa lain yang belum jelas pada masalah yang serupa.
3. Tidak memahami konsep dasar.
Karena malas bertanya akhirnya konsep dasar tidak dimengerti. Akibat tidak memahami konsep dasar, belajar materi berikutnya semakin sulit dan pada akhirnya siswa merasa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit.
4. Malas berlatih.
Nah, ini penyakit yang paling umum . Sesudah mempelajari satu konsep, latihan sangat diperlukan. Jika latihan soal yang mudah sudah lancar sebaiknya mengembangkan diri sendiri dengan mengerjakan soal sedang ataupun sulit. Mengerjakan soal dengan berbagai variasi akan membuat kemampuan memecahkan soal matematika semakin meningkat.
5. Suka menggunakan alat bantu hitung (kalkulator).
Menghitung dengan kalkulator, sumber gambar: Kumpulan rumus
Ini penyakit yang banyak dialami siswa setelah pandemi. Belajar dengan gadget di rumah membuat mereka mudah sekali menggunakan kalkulator saat memecahkan masalah hitungan. Matematika memang bukan hanya berhitung . Tapi tanpa kemampuan hitung yang baik siswa juga akan kesulitan dalam mengerjakan soal matematika.
6. Kurang sabar dan ulet Jika mengalami kegagalan dalam mengerjakan soal matematika dengan satu cara, maka harus terus berusaha dengan cara lain.
Jika gagal coba lagi, begitu terus sampai berhasil. Ya, hakekatnya matematika mengajarkan pada kita untuk ulet dan sabar.
Demikian beberapa kesalahan yang sering dilakukan siswa pada saat belajar matematika.
Berkaca dari kesalahan tersebut diperlukan peran guru untuk selalu mengingatkan siswa untuk mencatat atau mengerjakan latihan. Yang tak kalah penting juga membuat pembelajaran matematika yang menyenangkan agar siswa tidak takut untuk bertanya atau berpendapat.
Latihan soal bersama, dokumentasi pribadi
Hakekatnya matematika bukan pelajaran yang sulit. Asal kita sabar, telaten dan tahu bagaimana trik untuk mempelajarinya.
Ya, seperti yang dikatakan Maryam Mirzakhani seorang matematikawan dari Iran bahwasanya matematika akan menampakkan keindahannya pada para pengikutnya yang sabar.
Mentari bersinar begitu terik. Kami bersandar di bawah pohon mangga di tengah lapangan kampung. Tempat favorit kami. Teduhnya pohon mangga yang rimbun membuat suasana panas tidak begitu terasa.
Hari ini lelah sudah kami bertualang. Kami adalah trio Yayan, Bobi dan aku yang kemana -mana selalu bersama. Di mana ada Yayan pasti di situ ada aku dan Bobi.
Bermain bertiga membuat hari-hari selalu mengasyikkan. Meski kami tahu, orang-orang kampung menganggap salah satu di antara kami, yaitu Yayan, nakal dan sulit diatur.
Barangkali karena Yayan hanya tinggal berdua dengan ibunya. Bapak Yayan sudah lama meninggal. Ibu Yayan, Bu Surti adalah seorang penjahit. Sehari-hari beliau selalu sibuk dan akhirnya Yayan menyibukkan diri sendiri dengan main tiada henti.
Karena tak kenal waktu itulah orang kampung memberinya sebutan anak nakal. ‘Kloyongan‘ saja kata para orang tua kami. Saat habis ashar, di mana kami semua harus mengaji, Yayan tetap bermain hingga menjelang Maghrib baru pulang. Entah kemana saja anak itu.
Karena itu sedapat mungkin orang tua selalu mencegah kami bermain dengan Yayan. “Kloyongan saja, tidak tahu waktu , nanti!” begitu selalu kata ibuk mengingatkan aku ketika Yayan tampak menungguku di depan rumah.
Ah, ibuk tidak tahu asyiknya sih… Yayan selalu bisa membuat sesuatu yang biasa jadi istimewa, begitu bisik hatiku.
Ya, membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa adalah keahlian Yayan.
Pernah kami bermain di sungai mencari ikan kecil-kecil. Kami menamakannya ikan cemplu. Dengan berbekal plastik, berjam- jam kami bermain di sungai dan bergurau hingga menjelang Ashar.
Tidak puas hanya menempatkannya di plastik, Yayan pulang mengambil ember dan kembali ke sungai. Jadilah kami hari itu berlomba mencari ikan cemplu dan memasukkannya ke dalam ember.
Kami baru berhenti bermain tatkala salah satu dari kami, Anto, kesurupan. Tiba-tiba saja Anto bicara tak tentu arah sambil bertingkah liar. Kami bahkan ditantang berkelahi satu- satu, hingga kami begitu takut dibuatnya.
Segera kami dibantu orang kampung untuk menenangkan Anto. Menurut Mbah Paijo, ‘orang pintar’ di kampung kami, ternyata Anto ‘kemasukan’, gara- gara kami bergurau dan tertawa- tawa terlalu keras di sungai hari itu.
Bagaimana cerita hari ini? Petualangan hari ini kami isi dengan mencari bekicot di sekitar sungai. Bekicot-bekicot itu kami jual pada Pak Miseri, peternak bebek di kampung kami. Lumayanlah uang hasil penjualan bisa untuk membeli es gandul buat berbuka puasa nanti sore.
Lelah mencari bekicot membawa kami bertiga duduk di bawah pohon siang ini. Semilir angin membuat mata terasa mengantuk, berkali-kali kulihat Bobi menguap lebar.
Dari kejauhan bunyi gareng pung meramaikan suasana. Kata ibuk, kalau gareng pung sudah terdengar, alamat sebentar lagi musim kemarau.
Membayangkan musim kemarau membuat kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Entah mengapa matahari bulan Ramadhan selalu terasa lebih panas dari bulan biasa. Menunggu saat buka rasanya lamaa sekali.
Ah, tak sabar rasanya menikmati es gandul Mas Jojo yang selalu stand by di depan langgar tiap sore hari. Apalagi uang dari Pak Miseri sudah menunggu manis dalam kantong celana kami.
Capung, sumber gambar: Tahura Bandung
“Cari capung, yuk?” kata Yayan tiba-tiba. Kami memandang Yayan takjub. Rasa kantuk kami langsung hilang. Teman yang satu ini benar-benar tak pernah kehabisan ide dan tak kenal lelah.
Bobi langsung mengucek matanya dan menggeliat sebentar. Yap! Tanpa banyak kata kami langsung setuju dengan ajakan Yayan.
Bertiga kami mencari lidi dengan ujung diberi semacam getah sebagai perekat. Harapannya dengan lidi berperekat tersebut kaki atau sayap capung akan menempel sehingga bisa kami tangkap.
Tanpa kenal lelah kami kembali ke lapangan mengejar capung yang terbang ke sana kemari. Begitu capung menempel pada lidi, ekornya kami ikat dengan benang dan capung tetap bisa terbang, tapi tidak lepas dari tangan kami.
Akhirnya kami mendapatkan masing masing seekor capung. Tak lama ‘bergurau’ dengan binatang-binatang itu, tiba tiba terdengar azan Dhuhur berkumandang.
Kami langsung menghentikan permainan. Ya, sesibuk apapun, saat sholat kami harus segera sholat. Itu pesan orang tua kami. Kalau saat sholat tidak segera ke langgar, pasti ibuk kami akan mencari kami walau ke ujung dunia sampai ketemu.
“Ayo nang langgar..!” kataku
“Capungnya?” tanya Bobi ragu. “Lepas saja.. kasihan,” kataku sambil melepas capungku. Masa capung mau dibawa sholat? pikirku.
Bobi segera melepas capungnya juga. Sementara urusan capung kami lupakan dan bergegas kami menuju rumah untuk mengambil sarung.
Dengan berkalung sarung kami menuju tempat wudhu. Gemericik air wudhu terasa begitu menggoda. Betapa segar, pikirku.
“Eits, gak boleh kumur..,” kata Bobi ketika aku hampir mengarahkan air ke mulutku. Ups, baru ingat. Ini puasa. Kalau berkumur di atas Dhuhur kata Mbah Hambali guru ngaji kami makruh hukumnya. Lebih baik tidak dilakukan.
Begitu qomat berbunyi aku segera mengambil tempat di belakang imam. Seperti biasa makmumnya cuma empat orang. Mas Jojo tukang qomat, dan kami bertiga.
Namun ada yang menarik perhatian kami hari ini. Yang menjadi imam bukan Mbah Hambali seperti biasanya. Kali ini imam kami masih agak muda. Orangnya tinggi, berkopyah bundar putih dan bersorban.. Mungkin Mbah Hambali sedang pergi, pikirku.
“Allahu Akbar..” Suara imam memberi tanda sholat dimulai. Tapi hei, mana Yayan? Dari tempat wudhu dia tidak juga segera sholat.
Aku segera takbiratul ihram. Berdiri tenang di belakang imam bersama Bobi dan Mas Jojo. Ketika mulai membaca Fatihah dalam hati tiba-tiba Yayan berdiri di sebelahku. Syukurlah, pikirku.
Ketika rakaat kedua tiba-tiba ada yang terbang berputar-putar di depanku. Aku mendongak. Astaga.. capung! Pasti punya Yayan, pikirku. Bukankah punya Bobi dan punyaku sudah dilepas?
Capung mulai berputar, hinggap kesana-kemari dengan benang masih terikat di ekornya. Sholatku mulai kacau. Mataku tak henti menatap pergerakan si capung. Dan kurasakan Yayan di sebelahku mulai gelisah.
Saat tahiyat akhir capung melakukan manuver berani dengan hinggap di kopyah imam sholat. Astaghfirullah…! Sholat kami batal sudah.
Aku dan Bobi menoleh ke Yayan sambil menunjuk si capung. Pelan-pelan Yayan meraih benang dan mencoba menariknya. Nakalnya, si capung tak mau menurut sehingga kopyah imam bergerak-gerak.
Kulihat Yayan begitu pucat, apalagi berbarengan dengan itu imam menoleh, mengucap salam sambil menatap Yayan dengan tajam meski cuma sekilas.
Saat dzikir habis sholat, tubuh kami begitu gemetar. Sungguh, aku tidak pernah merasakan ketakutan seperti hari itu
Habis sholat satu per satu kami salim pada imam dengan begitu tawadhuk. Ya, itu adalah wujud permintaan maaf atas kenakalan kami.
Yayan pulang paling akhir. Temanku yang sangat pemberani itu tiba-tiba tampak lemah tak berdaya. Tangan kanannya masih erat memegang benang agar capung tidak membuat ulah lagi. Sementara di depannya imam sholat duduk tenang sambil menatap Yayan.
Entah bagaimana lanjutan cerita hari itu kami tak tahu. Yang jelas sejak saat itu kulihat Yayan begitu rajin mengaji di langgar.
Ya, sebuah kejutan manis bagi kami semua, ternyata imam sholat adalah guru ngaji kami yang baru pengganti Mbah Hambali yang sudah mulai sepuh. Namanya Ustad Imam dan sangat memperhatikan Yayan.
Sekarang jangankan tidak datang mengaji, terlambat saja Yayan tidak berani.
Tentu saja. Sebagai hukuman atas masalah capung itu, Ustad Imam memberi tugas Yayan untuk qomat setiap hari sebelum sholat Ashar dimulai.
Ramadhan hari ke duapuluh empat kini kita masuki bersama. Tinggal beberapa hari kita berada dalam bulan yang mulia ini.
Bulan yang penuh dengan keberkahan. Betapa di bulan ini diam menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, pahala berlipat ganda, diampuni segala dosa dan diijabah segala doa.
Sebagai mahluk sosial manusia pasti membutuhkan kehadiran manusia lain. Ya, manusia diciptakan oleh Allah dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang dalam kondisi lebih ada pula yang kekurangan. Karenanya berbagi sangat penting dilakukan demi terciptanya kehidupan yang harmonis.
Berbagi takjil, dokumentasi BDI
Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi. Di antara amal baik yang dicontohkan nabi Muhammad Saw adalah suka berbagi. Dalam keseharian beliau, nabi sangat dermawan. Dan kedermawanan tersebut semakin bertambah saat memasuki bulan Ramadhan.
Nabi selalu mengingatkan agar kita tidak takut untuk berbagi. Jangan takut miskin karena berbagi.
Sebagaimana sabda beliau yang berbunyi : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim).
Berbagi bisa dilakukan melalui pemberian zakat , infak dan sedekah. Lalu apakah perbedaan antara zakat, infak dan sedekah?
Perbedaan yang pertama adalah besaran zakat memiliki ketentuan tersendiri yang harus dipenuhi, sedangkan infak dan sedekah besar pemberiannya bebas, tidak terikat oleh ketentuan apapun.
Perbedaan yang kedua, zakat termasuk rukun Islam sedangkan infak dan sedekah tidak termasuk rukun Islam.
Dalam zakat , infak dan sedekah ada keberkahan. Yang dimaksud dengan berkah adalah bertambahnya kebaikan. Ya, ada tersimpan banyak kebaikan dari zakat, infak dan sedekah.
Seperti firman Allah dalam QS Al Baqarah 261 yang artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, lagi Maha Mengetahui.”
Banyak kebaikan dari kegiatan berbagi, dokumentasi BDI
Ada banyak hikmah dari berbagi, di antaranya adalah:
Semakin dicintai sesama manusia. Orang yang suka berbagi akan disukai sesamanya. Bagaimana tidak? Dengan berbagi seseorang bisa melepaskan sesama dari kesulitan. Orang seperti ini tidak hanya akan dicintai oleh yang diberi, tapi juga orang-orang sekitarnya.
Memperdalam rasa syukur. Dengan berbagi seseorang akan banyak bersyukur karena bisa merasakan kelebihan harta yang diberikan Allah kepadanya sehingga sebagian bisa diberikan pada orang lain yang memerlukan.
Memberikan rasa bahagia pada orang lain dan diri sendiri Selain bisa memberikan rasa bahagia pada penerima sedekah, berbagi membuat diri merasa lebih berarti dan memberikan rasa bahagia di hati.
Meningkatkan kepedulian sosial. Berbagi membuat kita lebih peka terhadap penderita orang lain. Sering bersentuhan dengan orang yang kekurangan membuat kita bisa merasakan kesulitan mereka hingga akhirnya bisa lebih peduli pada sesama.
Menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Berbagi tidak hanya membahagiakan si penerima, tapi juga menginspirasi penerima untuk berbuat kebaikan pada orang lain supaya bisa merasakan kebahagiaan yang serupa.
Menebar bahagia dengan berbagi, Sumber gambar: Yatim Mandiri
Demikian sedikit ulasan tentang berbagi dan hikmahnya. Semoga kita tergolong orang-orang yang suka berbagi.
Jangan takut untuk berbagi. Karena hakekatnya memberi adalah menerima. Ya, dari tiap pemberian itu kita akan menerima balasan yang lebih baik dari Allah SWT.
Semoga bermanfaat Salam Ramadhan.
Disarikan dari pengajian KALBU “Berkah Rizki dengan Berbagi” dan sumber lain.