Hari Kamis suasana di sekitar perpustakaan dan UKS tidak seperti biasanya. Kesibukan tim UKS sudah tampak sejak pagi. Meja-meja di tata rapi bahkan sampai di area gazebo juga.
Ya, hari itu adalah pelaksanaan screening kesehatan untuk seluruh siswa kelas 7 SMP Negeri 3 Malang.
Suasana di gazebo, dokumentasi UKS
Screening kesehatan adalah program yang dilaksanakan oleh Puskesmas terdekat dan UKS. Tujuan screening adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan siswa, juga sebagai deteksi awal dari masalah kesehatan yang mungkin dialami siswa. Pemeriksaan bisa dilakukan secara langsung atau wawancara.
Apa saja yang diperiksa saat screening kesehatan siswa? Banyak. Termasuk di antaranya adalah pemeriksaan gizi yang meliputi tinggi badan dan berat badan, kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut,kuku dan kulit, kesehatan gigi, mata ( visus mata dan tes buta warna), kesehatan reproduksi dan tensi.
Pemeriksaan gigi, dokumentasi UKS
Dari hasil screening, puskesmas memberikan feedback pada siswa untuk diberitahukan kepada orang tua supaya segera periksa ke puskesmas jika ada masalah dengan kesehatan siswa, seperti resiko hipertensi atau buta warna, gigi berlubang atau masalah kesehatan yang lain
Pemeriksaan tensi, dokumentasi UKS
Feedback dari hasil screening diharapkan ditanggapi secara positif oleh orang tua dengan membawa putera- puterinya ke puskesmas untuk periksa jika ada masalah kesehatan yang muncul.
Direncanakan minggu depan juga akan dilakukan screening secara online pada siswa kelas 8 dan 9 dengan link yang dikirim oleh Puskesmas.
Pemeriksaan buta warna dokumentasi UKSWawancara, dokumentasi UKS
Screening kesehatan yang dilakukan secara online tidak hanya meliputi kesehatan fisik, namun juga meliputi kesehatan mental emosional dan intelegensi kelas 7, 8 dan 9.
Perlu disadari bersama bahwa sekolah bukan hanya wadah belajar yang sebatas mempelajari berbagai pelajaran dan sesudahnya pulang ke rumah. Namun sekolah adalah juga tempat pembentukan karakter siswa yang salah satunya adalah karakter peduli pada kebersihan dan kesehatan.
Sebagian dari tim UKS, dokumentasi UKS
Usaha Kesehatan Sekolah sebagai program pemerintah memiliki program pokok pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Diharapkan melalui UKS sekolah dapat ikut meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan siswa yang harmonis dan optimal, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas.
(Lagu Mars BDI, tempo : bersemangat, irama lagu: Hubbul Wathon)
Di balik lagu Mars BDI , dokumentasi pribadi
Dengan berjajar rapi dan mengenakan dresscode hitam putih siswa yang tergabung dalam kegiatan Badan Dakwah Islam menyanyikan lagu Mars BDI dengan penuh semangat. Lagu yang digubah oleh Bapak Muhaimin ini dinyanyikan dengan koreografi Ibu Utin Kustianing.
Wajah cerah tampak di mana mana. Tidak seperti yang kami khawatirkan ternyata hari itu matahari terang benderang seolah tidak menyisakan hujan yang begitu deras mengguyur kota Malang sehari sebelumnya.
Peserta Maulid, dokumentasi BDI
Seluruh siswa yang beragama Islam kelas 7,8 dan 9 berbusana muslim dan khidmat mengikuti acara perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang di gelar di lapangan sekolah.
Tentang Perayaan Maulid Nabi
Maulid Nabi hakekatnya adalah perayaan akan cinta kita pada Nabi Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.
Pembacaan Maulid Diba’, dokumentasi Anggita
Nabi yang diutus Allah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi yang membawa contoh akhlak mulia.
Ya, siapa yang tak kenal akhlak nabi?
Beliau yang selalu berprasangka baik, tidak pernah berbuat keburukan, tidak berkata kasar dan tidak pernah marah. Bahkan, beliau selalu mendoakan kebaikan kepada orang yang berbuat keji kepadanya.
Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21, bahwa Allah Swt berfirman:
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Sebagai umat Islam kita wajib mencintai Rasulullah Muhammad saw. Seperti firman Allah dalam surat Ali Imron, ayat 31:
Artinya: Katakanlah wahai Muhammad (kepada ummatmu) jika kalian cinta kepada Allah, patuhlah kepadaku (Muhammad), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, sebab Allah maha pengampun dan penyayang
Allah memerintahkan kita agar patuh dan mengikuti Rasulullah karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah melontarkan perkataan berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, sebab seluruh perintah dan larangan yang diucapkan adalah murni bersumber dari wahyu. Oleh karena itu cinta kepada Rasulullah sama halnya cinta kepada Allah.
Ada banyak cara kita mencintai Rasulullah, di antaranya adalah melakukan sunah-sunahnya, memperbanyak shalawat,mencintai keluarga, sahabat, dan umat muslim, mempelajari shirah nabawiyah, juga rajin berdoa
Dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad saw Bintaraloka mengadakan berbagai macam kegiatan. Kegiatan pagi itu diawali dengan pembacaan gema wahyu Ilahi oleh Ayra Firna Derlen dan sari tilawah oleh Zahra Rianty Derlen. Sesudahnya acara lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars BDI dan pembacaan sholawat Diba’ yang dimotori oleh siswa BDI.
Mahalul Qiyam, dokumentasi BDI
Sesudah pembacaan sholawat, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Kepala sekolah dan mauidhotul khasanah yang disampaikan oleh Ustad Abdul Wahid, S.PdI, M.PdI.
Melalui mauidhotul khasanahnya Ustad Abdul Wahid menyampaikan tentang perlunya kita mencintai Rasulullah.
Diriwayatkan bahwa begitu gembiranya Abu Lahab dalam menyambut kelahiran nabi Muhammad , dia memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah di hari kelahiran Nabi.
Atas tindakannya ini meski Abu Lahab adalah seorang kafir dan selalu memusuhi nabi , dia mendapat keringanan siksa kubur di setiap hari Senin.
Sesudah mauidhotul khasanah siswa menuju kelas masing masing untuk makan bersama kue-kue yang sudah dibawa dari rumah.
Sekitar 30 menit kemudian acara lomba-lombapun dimulai. Berbagai acara lomba yang diadakan pagi itu adalah lomba:
Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Anggita
1. Adzan
2. Tartil
3. Pidato PAI
4. Desain infografis
5. Desain poster
6. Kaligrafi
7. Asmaul Husna
8. Cerdas cermat PAI
Dengan penilai atau juri tiap nomor lomba adalah dua orang bapak/ ibu guru yang bertugas.
Secara umum lomba-lomba berjalan lancar dan meriah. Ya, setiap kelas wajib mengirimkan perwakilannya untuk berlaga di setiap nomor lomba, sehingga tidak ada siswa yang tidak terlibat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.
Sekitar pukul 14.00 acara lomba berakhir, dan pengumuman nanti akan dijadwalkan oleh Bapak/Ibu guru PAI bersama BDI.
Sie konsumsi, dokumentasi pribadi
Kelancaran acara Maulid Nabi ini tidak luput dari kerja keras bapak/ibu guru termasuk sie konsumsi yang sudah sibuk di dapur menyiapkan hidangan sejak pagi.
Bersama sebagian anggota BDI, dokumentasi Aneira
Semoga perayaan Maulid kali ini semakin meningkatkan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad saw sehingga di yaumil qiyamah nanti kita akan mendapatkan syafaat dan berkumpul bersama beliau .
Sesuai sabda Nabi Muhammad saw: ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai’,” (Muttafaq ‘alaih).
Dua hari ini mendung menggayut kota Malang. Sinar matahari tidak begitu cerah. Beberapa daerah dihiasi gerimis kecil. Alam seolah mewakili suasana hati kami yang sedang berduka.
Malang benar-benar berduka. Begitu banyak korban yang jatuh di Stadion Kanjuruhan gara-gara menonton sepak bola. Postingan teman-teman di grup wa banyak bercerita tentang korban di Stadion Kanjuruhan. Banyak video amatir beredar berisi barisan ambulan yang membawa jenazah korban.
Kejadian yang sungguh tak pernah diduga. Sepak bola yang biasanya menjadi hal yang menyenangkan, hari ini ternyata menyisakan cerita yang memilukan. Korban tragedi Kanjuruhan begitu banyak. Hampir dua ratus nyawa melayang gara- gara sepak bola.
Tragedi Kanjuruhan, sumber gambar: JPNN.com
Sabtu malam menjelang tragedi saya bersepeda bersama anak saya. Tak seperti biasanya suasana jalan tak begitu ramai, padahal sekitar Jalan Kawi dan Ijen biasanya lumayan ramai.
“Kok agak sepi ya, Le? ” tanya saya heran.
“Arema main, Buk.., pada berangkat ke Kanjuruhan, ” jawabnya.
“Ooh…,”Saya langsung maklum.
Di sekitar tempat tinggal saya setiap ada pertandingan Arema suasana selalu menjadi agak sepi.
Banyak yang berbondong-bondong ke Kanjuruhan, terutama anak -anak muda. Mereka selalu datang ke stadion dengan penuh cinta. Ya, cinta pada club sepak bola kebanggaan kota Malang .
Para orang tua selalu memberikan izinnya, karena menonton bola adalah kesenangan bersama.
Sampai malam hari kami tidak mendengar berita apa- apa tentang pertandingan tersebut. Namun begitu terkejutnya kami ketika Minggu pagi di grup RT maupun grup sekolah sudah ramai dengan berita dan foto-foto peristiwa Kanjuruhan. Rupaya terjadi kerusuhan semalam.
Korban yang jatuh demikian banyak. Dalam sehari jumlah korban terus merangkak naik. Suasana terasa agak menegangkan . Apalagi ketika ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan bahwa masing -masing sekolah harus mendata barangkali ada siswanya yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan.
Mulailah kami para wali kelas mengumumkan di grup orang tua barangkali ada yang putera puterinya menjadi korban atau belum pulang sejak semalaman.
Alhamdulillah semua siswa selamat. Ada satu siswa yang ikut menonton, tapi bisa sampai di rumah dengan selamat meski matanya masih pedih.
Rasa syukur kami masih berbalut kesedihan.
Ada beberapa sekolah yang ternyata siswanya menjadi korban peristiwa tersebut. Baik SMA, SMK maupun SMP.
Agak siang ada pengumuman dari Pak RT bahwa ada warga kampung kami yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan. Yang dua orang adalah suami istri, sementara satunya anak seusia SMA.
Yang membuat kami begitu terharu adalah suami istri ini meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Kira- kira kelas satu atau dua SD.
Menunggu kedatangan Ibu Khofifah di rumah korban, dokumentasi Eddy
Menjelang pemakaman, Ibu Khofifah menyempatkan mengunjungi rumah korban di daerah kami.
Sedih sekali rasanya. Menonton sepak bola yang selama ini adalah bagian penting dari kesenangan kami semua kini tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyeramkan. Korban yang berjatuhan mayoritas muda usia. Bahkan ada pula anak kecil.
Tahlil dan doa bersama, dokumentasi Imam
Sebagai ungkapan duka pagi ini lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa. Mereka duduk dengan rapi sambil membawa Qur an. Ya, hari ini upacara bendera tiap hari Senin diganti dengan doa bersama untuk korban peristiwa Kanjuruhan.
Sekolah yang lain juga melaksanakan kegiatan yang serupa. Kiriman foto dari seorang teman menunjukkan kegiatan doa bersama dan sholat ghoib untuk para korban Kanjuruhan.
Lantunan surah Yasin dan tahlil membuat kami semakin tertunduk. Sungguh, apalah daya manusia. Kapan harus menghadap Sang Kuasa manusia tak pernah mengetahuinya.
Tiada yang menyangka, mereka yang berangkat dengan riang gembira ternyata pulang tinggal nama.
Sumber gambar: tangkapan layar pribadi
Hari ini betapa banyak orang tua atau anak yang menangis karena kehilangan orang-orang tercinta.
Siapa yang harus bertanggung jawab kiranya biar yang berwenang mengusut masalah ini sampai tuntas.
Tidak ada pertandingan sepak bola yang setara dengan nyawa manusia. Yang pergi tak akan kembali. Kini yang tersisa adalah rasa takut dari keluarga untuk mengizinkan anak atau orang tuanya menuju ke stadion hanya untuk sekedar melihat pertandingan sepak bola.
Ya, sepak bola kali ini menyisakan trauma, kesedihan juga air mata.
Malam itu saya berkesempatan melihat pameran yang diadakan di UM gedung B1. Pameran bertajuk Posko Memori ini diadakan oleh program studi Desain Komunikasi Visual ini diikuti oleh mahasiswa dan umum.
Posko Memori, dokumentasi pribadi panitia
Suasana tidak begitu ramai namun menyenangkan. Mungkin karena durasi pameran yang dua hari membuat yang datang silih berganti sehingga tidak sampai terjadi kerumunan. Hal yang patut diapresiasi. Dengan pengunjung yang tak terlalu padat kami bisa berlama lama menikmati karya yang disajikan dan sesekali bertanya pada yang stand by di sana.
Ada sekitar 80 karya yang disajikan dalam berbagai tehnik. Kreatifitas peserta pameran dalam hal ini benar-benar patut diacungi jempol. Ada yang berupa kolase, digital, sketsa tangan ataupu karya permainan yang mengingatkan kita pada masa kecil.
Kembali ke masa lalu, dokumentasi pribadi
Terlempar ke masa lalu. Itu yang sangat terasa tatkala kami menikmati karya itu satu persatu. Tema Memorabilia yang diusung benar benar sukses membawa para penikmatnya berkelana kembali ke masa kecil.
Banyak hal yang diangkat oleh mahasiswa tentang masa kecil dalam karya mereka. Pada umumnya gambaran tentang masa kecil yang bisa dilihat dari karya- karya yang ditampilkan adalah keceriaan, petualangan dan kenangan bersama orang tercinta.
Tentang indahnya kenangan masa kecil bisa tampak pada karya Back To The Past yang mengungkapkan bahwa masa kecil merupakan masa masa yang begitu menarik untuk diingat dan diceritakan kembali. Menceritakannya kembali membuat kita sejenak melupakan segala masalah yang timbul di masa dewasa., atau juga karya berjudul The Mirror yang menceritakan orang gadis berumur 20 tahun yang menemukan cermin ajaib dan mempertemukannya dengan dirinya saat kecil. Bayangan itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.
The Mirror, dokumentasi pribadi
Masa kecil adalah masa penuh petualangan. Lewat bermain mereka juga belajar, seperti diungkapkan dalam karya Let’s We See the World : Dunia anak yang penuh petualangan dan rasa ingin tahu, atau Dream Big : Dunia anak selalu menyimpan impian-impian besar. Seperti jadi astronaut misalnya.
Let’s We See the World, dokumentasi pribadi
Petualangan dan permainan adalah hal yang sangat akrab dengan masa kecil. Seperti terungkap pada karya Di Kala Minggu Pagi. Karya yang bercerita tentang pandangan anak berusia 8 tahun tentang koran di hari Minggu. Saat itu di mana yang lain sibuk membaca koran Minggu si anak kecil juga ikut sibuk. Ya, sibuk melihat koran. Melihat teka teki silang yang tak mungkin dimenangkannya.
Karena jiwa petualangan mereka yang begitu tinggi tak jarang orang tua memberikan banyak larangan. Namun dalam memberikan larangan orang tua harus berhati-hati karena dari apa yang dilihat, anak kecil akan mengerjakan.
What They See, They Do It, dokumentasi pribadi
Hal tersebut diungkapkan dalam karya What They See, They Do It : Anak adalah peniru ulung, apa yang diklakukan orang tua akan terekam dalam memori dan ditiru oleh anak.
Dalam pameran ini juga diungkapkan berbagai macam permainan, jajanan kenangan ataupun kartun yang disukai di masa kecil.
Let’s Play, dokumentasi pribadi
Tentang gembiranya bermain di masa kecil terungkap pada karya Let’s Play , di dalamnya ada anak kecil bermain engklek dengan wajah ceria. Keceriaannya dilambangkan dengan nuansa warna-warni.
Yang tak kalah menarik adalah Wake Up . Karya ini mengambil tema Jaran Kepang Jathilan. Berkisah tentang mainan jaran kepang di masa kecil. Karya ini berusaha mengemas budaya lokal dengan gaya komik Jejepangan
Wake Up, dokumentasi pribadi
Tentang hal yang berkaitan dengan masa kecil ada hal yang sangat menarik yaitu mainan yang biasanya ada di bagian depan krinyo atau pensil warna-warni. Jika plastik penutup digerakkan maka gambar harimau akan ikut bergerak. Jadi kesannya harimau sedang berlari.
Kucing Oranye, dokumentasi pribadi
Ada juga permainan ular tangga. Ah, permainan yang sangat akrab dengan anak-anak. Hanya saja pada pameran ini ular diganti sulur sementara tangga diganti bunga.
Pernak pernik masa kecil terungkap pada karya Launch the Memory, yang mengambil gambar permen berbentuk kaki atau hot hot pop. Juga karya Our Treasure di mana setiap anak mempunyai harta karun, bisa mainan, surat, foto maupun ingatan dengan orang yang sangat berarti , seperti halnya juga gambar perangko kartun anak, ada Doraemon, Sin chan, Chibi Maruko Chan, Power Puff Girl dan yang lain.
Our Treasure, dokumentasi pribadi
Kenangan bersama orang tercinta juga diungkapkan dengan indah seperti karya Comboran yang bercerita di masa kecil ketika diajak ayah berjalan-jalan di Comboran. Melihat cincin berlama-lama dan makan es tape, juga yang tak kalah menarik adalah Peaceful days Back in the past , tatkala kita sering minta digendong dan di gendong di punggung adalah sesuatu yang sangat membahagiakan karena kita bisa melihat banyak segala sesuatu yang sebelumnya tak bisa kita lihat.
Comboran, dokumentasi pribadi
Berbagai serpihan kenangan akhirnya akan membentuk cerita hidup yang berwarna-warni sepeti tertuang dalam karya Journey.
Sebenarnya masih banyak karya karya yang lain. Kreatifitas peserta benar benar patut diacungi jempol. Caption yang ditampilkan seolah memberi nyawa bagi karya yang disajikan.
Ya, karya-karya yang dipamerkan Memorabilia sukses membawa pengamatnya sejenak bernostalgia mengingat masa lalu yang penuh kenangan .
Time Flies but Memories Don’t, dokumentasi pribadi
Waktu bisa berlalu, namun kenangan akan tetap abadi seiring berjalannya sang waktu. Time Flies but Memories Don’t.
Sabtu yang istimewa. Jika biasanya di hari Sabtu kami menikmati libur di rumah, hari ini tidak. Tentu saja karena Sabtu ini bertepatan dengan tanggal 1 Oktober, berarti saat dilaksanakannya upacara Hari Kesaktian Pancasila.
Menyanyikan lagu Mars Garuda Pancasila, dokumentasi Bu Maria
Ada yang tidak biasa dengan upacara hari ini yaitu kami melakukannya dua kali. Satu kali di sekolah, dan yang lain di Balai Kota.
Aha, bagaimana ceritanya? Ayo kita simak bersama..:)
Pagi ini sejak pukul setengah tujuh lapangan volly sudah penuh siswa. Dengan berseragam pramuka, siswa sudah berbaris rapi di lapangan. Tak lupa topi baret untuk siswa putra dan laken untuk siswa putri ikut melengkapi penampilan mereka.
Mister Hery berkali-kali memberikan aba-aba untuk mengatur posisi siswa. Di bagian depan, bapak/ibu guru juga sudah berdiri berjajar rapi.
Tepat pukul 06.50 upacara dimulai. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang.
Pembina upacara Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bu Any
Ada yang sedikit berbeda dibandingkan dengan upacara bendera setiap Senin. Di upacara pagi ini tidak ada acara pengibaran bendera, jadi upacara dilakukan dengan bendera sudah dikibarkan. Perbedaan yang lain adalah di upacara kali ini dibacakan ikrar, sementara di upacara bendera tidak ada pembacaan ikrar.
Ikrar berisi tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan,menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ikrar ditandatangani atas nama bangsa Indonesia oleh ketua DPR RI yaitu Dr (HC) Puan Maharani.
Pembacaan ikrar, dokumentasi Bu Any
Bertindak sebagai pembaca ikrar di upacara kali ini adalah Bapak Rahman Helmy.
Secara umum upacara berjalan khidmat. Petugas maupun peserta melaksanakan kewajiban masing-masing dengan baik. Dalam sambutannya Ibu Kepala Sekolah menekankan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari, dan kesaktian Pancasila akan semakin tampak jika kita selalu mengamalkannya di manapun kita berada.
Upacaraberjalan khidmat, dokumentasi Bu Any
Sesudah sambutan acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Garuda Pancasila dan doa. Sekitar pukul setengah delapan upacara berakhir dengan ditandai pembubaran peserta.
Kami pikir acara sudah berakhir hari itu. Namun ketika semua bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang bahwa 31 guru diminta mengikuti upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Balai Kota.
Tanpa menunggu lama, kamipun berangkat menuju Balai Kota. Karena lokasi sekolah yang tidak begitu jauh dari Balai Kota banyak yang berboncengan sepeda motor ke sana.
Berbaris menuju tempat upacara, dokumentasi pribadi
Titik kumpul kami adalah di halaman gedung DPRD. Sampai di halaman gedung DPRD kami berbaris tiga-tiga. Sesudah semua siap, kamipun dikomando untuk menuju lokasi upacara di depan Balai Kota Malang.
Upacara berjalan demikian khidmat dan mengharukan. Apalagi sebelum upacara disajikan lagu- lagu dari paduan suara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan musikalisasi puisi dari diswa SD Al Kautsar.
Paduan suara, dokumentasi pribadi
Dalam catatan saya ada tiga lagu yang ditampilkan yaitu Maju Tak Gentar, Garuda Pancasila dan Syukur.
Bertindak selaku inspektur upacara pagi itu adalah Bapak Walikota Malang, sedangkan pembaca ikrar Bapak Ketua DPRD kota Malang.
Peserta upacara, dokumentasi pribadi
Dalam upacara kali ini tidak ada sambutan inspektur upacara sehingga sekitar pukul setengah sembilan upacara berakhir. Sebelum meninggalkan Balai Kota pagi ini kami menyempatkan untuk berfoto sejenak. Ya, berfoto adalah acara yang wajib ada apapun momennya.
Berfoto bersama sesudah upacara, dokumentasi Bu Any
Sesudahnya kami mengambil kendaraan dan segera meninggalkan Balai Kota Malang.
Semoga upacara pagi ini menjadi penyemangat bagi kita bersama untuk bangkit, bergerak dan tetap setia mempertahankan Pancasila sebagai idiologi negara, sesuai tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2022 yaitu Bangkit Bergerak Bersama Pancasila.