Ada Kehangatan yang Tersimpan Dalam Semangkuk Bakso Malang

Topik Pilihan Kompasiana

Hujan baru saja reda. Akhir-akhir ini tiap sore hujan rajin menyapa kota Malang dengan disertai petir yang sesekali menyambar.

Tanpa menunggu lama saya segera menuju parkiran untuk mengambil helm. Ya sebuah pesan sudah masuk whatsapp saya, dari Naknang ( pinjam istilah Mbak Yuliyanti).
“Sudah di depan sekolah, Buk, ” kata pesan itu.

“Monggo Pak, wangsul rumiyin nggih.., ” pamit saya pada Pak Satpam. Beberapa anak masih latihan ekskul paduan suara di kelas yang saya lewati.

“Monggo Bu.., ” jawab Pak Satpam ramah.

Sepeda yang kami naiki langsung menerobos lalu lintas kota Malang yang lumayan ramai. Tentu saja, pukul empat adalah jam pulang sekolah dan pulang kantor. Apalagi tadi banyak yang tertahan pulang karena hujan.

” Mampir Gangsar? ” tanya saya. Naknang mengangguk. “Asiik.. Lama tidak ke sana, ” jawabnya senang.

Gangsar adalah nama warung bakso langganan kami. Tempatnya tidak begitu luas, tapi nyaman, dan yang paling penting tidak jauh dari rumah pun yang jual juga ramah.

Bakso Malang, Sumber gambar: Tribun Travel



Mbakso adalah acara yang sering saya lakukan dengan anak-anak di akhir pekan. Sejak mereka SD akhir pekan sering kami isi dengan jalan ke perpustakaan umum, pulangnya mampir warung bakso.

Kenapa bakso? Aih, di Malang kuliner ini ada di mana-mana. Siang hari selepas Dhuhur biasanya gerobak bakso mulai menjajakan dagangannya. Ada macam macam merek atau nama armadanya. Bakso Rahayu, Sugeng, Sahabat, Al Amin, Hepi Pol , Bakso Gunung dan banyak lagi.

Semua dengan kekhasannya sendiri-sendiri. Harganya sangat bersahabat, rasanya juga enak.

Paling senang jika kompor yang digunakan penjual bakso adalah anglo dan menggunakan arang. Baunya sedap sekali.

Sepeda motor kami masuk parkiran Bakso Gangsar. Setelah mengunci, kami masuk warung dan tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya.

Tepak wes.., mudah mudahan selesai makan , hujan reda lagi, pikir saya.

“Monggo, ” kata Mas penjual ramah. Di warung tersebut kami selalu mengambil mangkok dan mengisi sendiri apa yang mau dimakan. Begitu juga mengambil kuah, brambang daun maupun brambang goreng sendiri.

“Wes, ambil sendiri, ” kata saya pada Nak nang. Saya sendiri mengisi mangkok dengan dua bakso, tahu, siomay dan mie.

Bakso Malang, Sumber gambar: detik.com

Tanpa disuruh dua kali Nak Nang mengisi mangkoknya. Satu bakso besar, dua bakso kecil, siomay, tahu, goreng panjang dan goreng bundar. Belum diberi kuah mangkok sepertinya tampak penuh.

Bakso halus terbuat dari daging yang digiling halus lalu diberi bumbu bawang, merica, garam, penyedap dan sedikit tepung lalu dicetak bulat bulat dan direbus.
Sedangkan bakso kasar, sama dengan bakso halus hanya saja kualitas dagingnya agak beda.

Jika bakso halus dagingnya tanpa lemak, bakso kasar ada sedikit lemak, dan kadang ada tulangnya yang lunak sehingga teksturnya agak kasar. Rasanya? Hmm, maknyus pokoknya, Apalagi dicocol dengan saos tomat atau sambal.

Siomay juga tak kalah lezat. Hidangan dari adonan ayam, sedikit udang, brambang, bawang, merica garam dan penyedap yang dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus ini menyimpan pesona tersendiri.

Goreng bunder terbuat dari siomay yang digoreng. Sedangkan goreng panjang, isi adonannya mirip siomay hanya ditambahi usus. Cara membungkusnya juga memanjang sehingga kami namakan goreng panjang.

Saya tersenyum melihat isi mangkok Naknang.
“Luwe ya Le? “
Naknang melihat mangkoknya sambil tertawa
“Iya Buk, niki luwe pol…, ” katanya.

Bakso langganan kami memang istimewa. Kuahnya bening, namun gurihnya kaldu dengan paduan bumbu bawang , brambang dan merica terasa begitu khas. Apalagi ditambah dengan hadirnya saus tomat, sambal dan kecap.

Rasa gurih, manis, pedas dan sedap benar-benar membuat bakso menjadi hidangan yang begitu menggod, apalagi di hujan hujan begini.

Penjual bakso, sumber gambar: Cendana News

Naknang menyendok saos tomat dan sambal lalu dimasukkan dalam mangkoknya.
“Le, ojo pedhes pedhes, ” kata saya demi melihat ia mengambil dua sendok sambal langsung dimasukkan ke mangkok, lalu ditambah sedikit kecap.

Duh, padahal saya sambal satu sendok saja sudah terasa panas di mulut, “
“Mboten kok, ” katanya sambil terus mengaduk isi mangkoknya.

“Ibuk mau tambah brambang daun? ” tanya Naknang. Ia hafal betul saya suka bakso dengan banyak brambang daun. Sampai suatu saat teman saya sambil bergurau mengatakan mangkok saya mirip penghijauan.
“Cukup,  Le, ” tolak saya. Sebenarnya mau juga. Tapi sungkan sama Masnya.

“Tahu tidak, apa beda bakso Malang dengan bakso yang lain? ” tanya saya pada Naknang.
Sejenak ia menghentikan suapannya.
“Lebih enak? ” katanya kemudian.
” He.. He, itu karena kamu orang Malang.., makanya merasa bakso Malang paling enak.., ” jawab saya.
“Eh, teman saya kuliah dari kota lain juga bilang kalau bakso Malang paling enak? “jawab Nak Nang lagi.
“Maksud ibuk kekhasannya apa? “
“Apa ya? ” tanya Naknang sambil terus makan.
“Variannya banyak Le.., kita punya banyak isi bakso. Ada tahu, mie, siomay, goreng panjang, goreng bunder, pentol halus, juga pentol kasar.., seperti isi mangkokmu itu.., ” gurau saya.
Kali ini Naknang tertawa.
“Waduh, ibuk nyindir ini? “
“Nggak, dari dulu makanmu memang banyak kok,” kata saya lagi.

“Bakso Malang paling enak karena makannya sama Ibuk,” kata Naknang serius.

“Iya, kalau sama Ibuk yang bayar kan ibuk,” timpal saya.

Naknang kembali tertawa, dan… ups.., dia mengambil lagi dua siomay dan satu bakso kasar.

Ya, bakso selalu menyimpan kehangatan. Tidak hanya nyaman di perut tapi juga hangat di hati.

Dengan mbakso diskusi berbagai masalah kami bisa berjalan dalam suasana yang begitu gayeng, santai dan menyenangkan.

Sumber gambar: Merdeka.com

Gempita Sambut Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka

Pagi ini matahari bersinar cerah. Setelah bersih bersih lingkungan, siswa berkumpul kembali di lapangan volly Bintaraloka untuk melanjutkan gladi yang dilakukan sejak kemarin.

Persiapanpenyambutan, dokumentasi BBC

Ya,  sekolah bersiap siap untuk menyambut kedatangan Sang Maestro tari kebanggaan Indonesia yaitu Didik Nini Thowok. 

Tentang  Didik Nini Thowok

Didik Nini Thowok, dokumentasi BBC

Didik Nini Thowok memiliki nama asli Didik Hadiprayitno. Seniman tari ini lahir di Yogyakarta, 13 November 1954. Tarian Didik Nini Thowok yang sangat terkenal adalah  tarian ‘dua muka’,  yaitu sebuah tarian yang menjalankan dua karakter wajah sekaligus dengan menggunakan topeng depan belakang.

Didik Nini Thowok menempuh studinya di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta dan memperoleh gelar SST (Sarjana Seni Tari).

 Lulus dari ASTI,  beliau ditawari ASTI untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain menjadi dosen di ASTI,  Didik Nini Thowok juga menjadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.

Didik Nini Thowok menggeluti kesenian tari dengan kombinasi antara tari tradisional, modern dan tarian komedi. Sebagian besar tarian yang diciptakan digali dari tarian-tarian Sunda, Cirebon, Bali, dan Jawa.

Beliau menggeluti seni tari sejak usia muda, dan dulu sering ‘ngamen’ di Malioboro,  sebuah kawasan kreativitas seniman Yogyakarta.

Pemimpin Didik Nini Thowok Foundation dan Didik Nini Thowok Entertainment ini pernah memperoleh penghargaan bergengsi Kick Andy Heroes Award kategori Seni dan Budaya (2009).

Penyambutan Kedatangan Didik Nini Thowok di Bintaraloka

Persiapan penyambutan, dokpri

Persiapan penyambutan di Bintaraloka dilakukan di dekat pintu gerbang dan lapangan.  Di dekat pintu gerbang Ibu Ninik beberapa kali memberikan briefing pada penyambut tamu yang terdiri dari satu orang siswa putra dan putri, sementara di lapangan volly Mister Sony memberikan arahan pada siswa penyambut tamu juga pengisi acara.

Sekitar pukul delapan lebih sebuah mobil hitam masuk Bintaraloka.  Seseorang keluar dari mobil dengan wajah yang ramah. Ya, Didik Nini Thowok,  Sang Maestro tari telah memasuki halaman Bintaraloka. 

Tiba di Bintaraloka, dokpri

Setelah dilakukan pengalungan selendang oleh dua siswa yang bertugas, dengan diiringi bapak dan ibu guru Sang Maestro mengisi buku tamu dan langsung menuju lapangan volly.

Tepuk tangan yang begitu meriah menyambut kedatangan Didik Nini Thowok, dan tak lama sesudahnya lima orang penari menarikan tari Batik dengan gemulai namun lincah. 

Tari yang menggambarkan tentang proses pembuatan batik Malangan ini dibawakan siswa yang kemarin berlaga di FLS2N dengan begitu indah. 

Tari Batik, dokumentasi BBC

Setelah tari Batik,  Imraan membawakan jula-juli dengan syair dan gaya yang menggelitik.  Dalam syair jula-julinya  Imraan  mengucapkan selamat datang pada  Didik Nini Thowok juga bercerita tentang siswa dan guru di Bumi Bintaraloka.

Jula juli, dokumentasi BBC

….

Sekolahe sing paling oke

Prestasine nggarai wedi dhewe

Arek arek e pinter dadine

Gurune pancen ksatria

Awak e bijak lan berwibawa

Aku dewe yo ora gelem kalah

Masi weteng maju

wajah idol Korea…

Setelah jula juli semua siswa berdiri dan menyanyikan lagu Mari Meraih Prestasi bersama sama. 

Lagu yang digubah oleh Pak Vigil ini selalu membawa nuansa tersendiri, ada rasa semangat, bangga,  sekaligus terharu saat bersama-sama menyanyikan lagu ini di bumi Bintaraloka.

Setelah menyanyi bersama, dokumentasi BBC

Lebih-lebih pagi ini lagu dinyanyikan dengan iringan musik ansamble SMP Negeri 3 Malang.

Ansamble, dokumentasi BBC

Setelah lagu dinyanyikan,  secara mengejutkan Didik Nini Thowok request pada semua untuk menyanyikan sekali lagi.  Bahkan beliau ikut ‘turun’ dan melambaikan tangan mengikuti irama lagu.

Sekali lagi Bintaraloka kembali dimeriahkan oleh lagu Mari Meraih Prestasi yang kami nyanyikan bersama.

Menari bersama, dokumentasi BBC

Sesudah menyanyikan lagu,  dua orang siswa maju ke depan untuk menyerahkan lukisan dan meminta tanda tangan pada lukisan yang sudah dibuat.  Dengan ramah Didik Nini Thowok menerima dan menandatangani lukisan siswa dan mengajak mereka berfoto bersama.

Menari dan menyanyi bersama, dokumentasi BBC

Sebelum  menuju aula atas guna memenuhi undangan MGMP Seni Budaya Kota Malang sebagai pemateri,  beliau juga memberikan beberapa pesan pada semua siswa, di antaranya untuk selalu menjunjung tinggi budaya kita.

Sesudah acara penyambutan Pak Didik Nini Thowok segera menuju aula Bintaraloka 1 , karena di sana bapak ibu guru seni budaya kota Malang telah menunggu.

Berfoto setelah menandatangani karya siswa, dokumentasi BBC

Acara di aula begitu gayeng.  Acara yang bertajuk Koreografi Anak Ini banyak membicarakan tentang pentingnya menggunakan metode yang tepat dalam mengajarkan tari pada anak-anak. 

Dalam kesempatan ini Didik Nini Thowok juga mengajak bapak/ibu guru peserta MGMP menari bersama.

Suasana workshop di aula, dokpri

Kesan yang sangat terasa dari kunjungan Didik Nini Thowok di Bintaraloka hari ini adalah keramahan, kehalusan dan kerendahan hati beliau.

Betapa beliau tidak segan untuk menyapa dan mengajak siswa bicara,  bahkan menari bersama kami semua.

Didik Nini Thowok juga menyampaikan kesan dan pesan dengan bahasa yang halus dan santun meski dengan gaya yang kocak.

Sungguh hari yang sangat berkesan. Ada banyak pelajaran yang bisa dari kedatangan Didik Nini Thowok ini,  yaitu:

1. Terus pelajari seni budaya karena itu adalah kekayaan bangsa.  Mempelajari seni  budaya akan mengasah rasa sehingga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri  tetap terjaga sehingga kita bisa menjadi lebih halus,  lebih sabar,  tidak mudah tersulut emosi. 

2. Selalu menghargai dan menghormati jasa para guru dan orang tua.  Didik Nini Thowok menerangkan bahkan sampai sekarang beliau masih ziarah ke makam guru-guru beliau,  karena gurulah yang membuat beliau menjadi maestro seperti sekarang ini.

3. Jangan takut bereksplorasi dan berkreasi dalam seni.  Tidak ada yang salah dalam seni. Karena seni berkaitan dengan olah rasa yang membuat manusia lebih halus dan berbudaya.

Salam budaya….. 🙂

Mencetak Calon Pemimpin Berkarakter Melalui Kegiatan Geladian Pimpinan Regu Pramuka Bintaraloka

Jumat itu jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas. Namun ada kesibukan yang nyata di gazebo. Sekitar empat puluh anak duduk sambil menyimak arahan dari pembina pramuka Kak Gerry.

Briefing peserta di gazebo, dokumentasi pribadi
Menjelang berangkat, dokumentasi pribadi

Aha, ternyata pramuka Bintaraloka mempunyai satu acara lagi. DIANPINRU, yang diadakan hari Jumat tanggal 4 Nopember 2022 bertempat di Precet Forest Park Wagir.

Siswa mengikuti pengarahan dengan cermat. Tentu saja. Semua yang dipaparkan Pak Gerry adalah hal-hal yang berkaitan dengan DIANPINRU yang akan mereka jalani sejak Jumat sore hingga Sabtu siang keesokan harinya.

Sekilas tentang DIANPINRU (Geladian Pimpinan Regu)

Peserta Dian pinru, dokumentasi Anggita

DIANPINRU adalah singkatan dari Geladian Pimpinan Regu . DIANPINRU diikuti oleh siswa yang tergabung dalam pramuka inti. Ya, pramuka inti adalah motor dalam kegiatan pramuka bagi peserta pramuka yang lain.

Adapun tujuan dari kegiatan DIANPINRU adalah mengembangkan anggota penggalang agar:

  1. Dapat mengembangkan kepimipinan yang lebih cakap
  2. Meningkatkan kecakapan, keterampilan, dan kemampuan dalam teknik kepramukaan
  3. Mampu menanamkan kesadaran akan
    tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin atau wakil pemimpin regu

Hal-hal yang dipelajari dalam kegiatan DIANPINRU adalah:

  1. Patriotisme
  2. Organisasi dan Administrasi
  3. Mampu memahami sikap kepimpinan dalam memimpin sebuah regu.

Kegiatan DIANPINRU Pramuka Bintaraloka di Precet Forest Park

Mendirikan tenda di tengah hujan, dokumentasi Anggita

Kegiatan DIANPINRU Bintaraloka tahun ini diadakan di Precet Forest Park dan diikuti oleh sekitar 42 siswa, 2 pelatih dan 13 pendamping.

Sekitar pukul setengah dua rombongan berangkat ke lokasi dengan menggunakan mikrolet dan mobil sekolah. Semua tampak begitu bersemangat. Ransel besar yang berisi berbagai macam perlengkapan, tongkat, tali melengkapai penampilan siswa siang itu.

Mendung tebal mengiringi keberangkatan rombongan. Hujan yang lebat membuat rombongan tiba di lokasi sekitar pukul empat sore.

Peserta tiba, dokumentasi Anggita

Precet Forest Park sebuah lokasi yang terletak di lereng gunung Kawi. Tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl ini menyimpan banyak keindahan. Panoramanya yang dipercantik oleh aneka tanaman yang tumbuh liar tampak begitu memukau.

Kabut tebal yang turun menyambut kedatangan rombongan sore itu membuat suasana begitu eksotis.

Dikarenakan hujan yang terus turun apel pembukaan ditiadakan dan peserta langsung mendirikan tenda.

Di bawah guyuran hujan akhirnya tenda-tenda sebagai tempat berlindung pun berdiri di lokasi. Kehadiran beberapa tenda seolah cendawan cendawan kuning yang melengkapi keindahan Precet Forest Park kala itu.

Pembina pramuka, dokumentasi Jojo
Semangat meskipun hujan, dokumentasi Jojo
Kegiatan di masjid, dokumentasi Anggita

Sesudah tenda berdiri semua melaksanakan ishoma mulai pukul 17.00 hingga 19.00. Saat ishoma dimanfaatkan peserta untuk iistirahat, sholat dan makan. Acara sholat sekaligus dipakai sebagai penempuhan TKK peribadatan, dimana yang mudlim sholat berjamaah bersama teman-teman dan yang non muslim beribadah bersama Kak Gerry.

Sesudah ishoma siswa mendapatkan materi dari pelatih dan pembina yang meliputi:

  1. Struktural Pramuka Penggalang oleh Kak Gerry
  2. Pramuka Garuda oleh Kak Gia
  3. SKK dan SKU, TKK dan TKU oleh Kak Rahmat

Sesudah materi berakhir acara dilanjutka dengan api unggun. Acara tersebut dibuka dengan apel dan dilanjutkan dengan karang pamitran, yaitu saling sharing atau ngobrol antara kakak- kakak alumni dan adik-adiknya.

Api unggun, dokumentasi Anggita

Keesokan harinya siswa kembali menjalani berbagai penempuhan. Berbagai hal yang harus ditempuh sudah dipersiapkan oleh pembina dan pelatih. Termasuk di dalamnya halang rintang, KIM (Kepekaan Indera Manusia), juga memasak.

Oh ya, tidak seperti malam hari dimana siswa mendapat makan dalam bentuk kotakan, pagi itu semua harus memasak sendiri untuk sarapan. Semua tampak sibuk. Ada yang menanak nasi, menggoreng tempe, tahu atau membuat masakan yang lain. Sungguh hal yang mengasyikkan memasak bersama di tempat terbuka bersama teman-teman.

Memasak, dokumentasi Anggita

Melalui penempuhan dengan medan halang rintang siswa benar benar diuji kreatifitas, kerjasama, kegigihan dan kesetiakawanan mereka dalam menghadapi masalah.

Hal yang sangat disyukuri adalah saat kegiatan hujan tidak turun sehingga semua bisa berjalan sesuai yang direncanakan.

Sesudah berbagai kegiatan yang dilalui siswa melakukan bersih, diri sholat dan makan siang. Dan sesuai yang direncanakan tiba saatnya semua harus bersiap-siap kembali ke Bintaraloka.

Menandai berakhirnya acara DIANPINRU siang itu dilaksanakan apel dengan pembina Kak Herianto.

Salah satu kegiatan penempuhan TKK, dokumentasi Anggita
Selalu semangat, dokumentasi Anggita

Hal yang patut dibanggakan, meskipun ditempa dengan begitu banyak kegiatan siswa tampak begitu bersemangat. Mereka tampak begitu sehat dan gembira.

Selesai berkemas semua peserta naik kendaraan yang sudah menunggu. Perlahan kendaraan meninggalkan bumi Precet Forest Park. Alam seolah memberikan ucapan selamat jalan dengan begitu ramahnya.

Pelatih dan pendamping, dokumentasi Anggita

Betapa sebuah pengalaman yang mengesankan di bumi Precet Forest Park. Bumi dimana siswa mendapatkan banyak pengalaman berharga yang bisa menjadi bekal bagi mereka untuk menempa diri menjadi calon pemimpin yang berkarakter di masa depan.

Salam pramuka…!

Ketika Saya Tiba-tiba Terjebak dalam Kerumunan

Topik pilihan Kompasiana

Bulan Oktober telah berlalu. Bulan yang menyisakan beberapa kisah yang menyedihkan tentang banyaknya korban dalam sebuah kerumunan. 

Tragedi Kanjuruhan Malang, tragedy festival heloween di Itaewon,  juga ambruknya jembatan gantung di India begitu menyita perhatian kita.  Semua memberi gambaran betapa sangat rentannya berada dalam kerumunan karena mudah sekali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Keramaian saat karnaval, dokumentasi pribadi

Lama tidak diperbolehkan berkerumun ternyata menimbulkan euforia saat ada event tertentu   Ya, dua tahun semua membatasi diri gara-gara pandemi, akhirnya ketika  diberi kelonggaran dalam penyelenggaraannya, berbagai event selalu dipenuhi banyak orang. 

Seperti halnya saya sendiri, sebenarnya saya kurang suka mendatangi keramaian.  Tapi saat ada karnaval di bulan Agustus, saya bersama anak saya bergegas menuju lokasi. Mengapa? Sudah lama tidak ada acara semacam itu, lagipula lokasi karnaval tidak begitu jauh dari rumah.

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, pengunjung karnaval demikian membludak.  Bahkan tulisan Ijen Boulevard dipenuhi anak- anak kecil yang ingin menonton karnaval.

Penonton karnaval duduk-duduk di tepi jalan, dokumentasi pribadi

Para pedagang makanan berjajar di sepanjang jalan memanfaatkan momentum tersebut guna mengais rezeki sebanyak-banyaknya.

Namun kondisi tersebut masih bisa dikendalikan karena kesigapan dari satpol PP dan kesadaran penonton untuk mengambil tempat di luar garis yang ditentukan, meski akhirnya para penonton termasuk saya rame-rame duduk di tepi jalan.  He.. He..  Tak apalah.. Setahun sekali.

Pukul setengah satu meskipun masih banyak atraksi peserta yang belum muncul kami pulang. Kondisi berdesak-desakan membuat badan rasanya begitu lelah. Saat itu dari lokasi karnaval yaitu Jalan Ijen sampai ke rumah saya dibutuhkan waktu 1 jam lebih, sementara di hari biasa hanya sekitar 10 menit jalan kaki. Bisa dibayangkan betapa banyaknya penonton karnaval saat itu.

Nah,  satu cerita lagi, baru-baru ini saya kembali menonton sebuah event dan akhirnya tak terasa saya terjebak dalam kerumunan.

Sabtu pagi tepatnya seminggu yang lalu saya bersepeda motor untuk berbelanja ke pasar. Rencananya dari pasar saya sedikit mau muter-muter untuk mencari pemandangan.

Ya,  Sabtu pagi sekolah libur, jadi semua bisa dikerjakan dengan selow.

Vario saya terus berjalan menyusuri Jalan Kawi.  Di pertigaan jalan arah menuju Stadion Gajayana tak seperti biasa suasana begitu ramai.  Bahkan macet. Pasti ada acara di stadion, pikir saya. 

Terjebak kemacetan membuat saya bisa lebih jeli melihat orang-orang di sepanjang jalan menuju Stadion. Ternyata di tepi jalan banyak orang berjualan makanan, mainan anak termasuk ayam kecil yang diberi warna-warni,  juga keong yang diletakkan dalam rumah-rumahan kecil.

Suasana senam massal, dokumentasi pribadi

Eh, kok mainan anak ya?  Tidak biasanya di Gajayana ada acara seperti ini, pikir saya heran.

“Mas,  wonten acara nopo nggeh? ” tanya saya pada tukang parkir di tepi jalan. 

“Senam massal Bu, anak PAUD dan TK se Malang, ” jawab si Mas.

Wah,  menarik ini.  Apalagi saat itu melintas beberapa anak kecil berseragam kaos olah raga berwarna cerah dan bertopi.  Lucu sekali.  Tanpa pikir panjang sepeda saya parkir dekat pintu masuk Stadion Gajayana dan masuk bersama para penonton yang lain. 

Suasana di Gajayana sudah begitu ramai. Anak kecil, guru-guru, orang tua dan panitia memenuhi stadion.  Sepagi itu saya sudah tidak kebagian tempat duduk.  Tak masalah, pikir saya.  ‘Kan cuma sebentar.

Sementara itu penonton dari luar terus berdatangan masuk stadion. 

Ketika acara dimulai suasana semakin meriah.  Menurut berita ada sekitar 6000 anak yang ikut senam pagi itu.  Seragamnya berwarna warni.  Tiap warna menunjukkan dari kecamatan mana TK/PAUD itu berasal.

Sambil menonton saya sungguh merasa salut dengan guru-guru TK dan PAUD yang dengan sabar mendampingi siswanya di lapangan.  Tentunya bukan hal yang mudah melatih anak- anak sekecil itu senam bersama. 

Oh ya, saat itu orang tua sama sekali tak boleh masuk lapangan. Jadi lapangan ‘dikuasai’ para guru, siswa TK dan PAUD dan tentunya panitia. 

Acara senam selesai. Dengan dikomando siswa segera balik kanan untuk keluar dari stadion dengan tetap dalam panduan guru-guru mereka.  Pemandangan yang menarik bagi saya adalah saat berjalan anak-anak memegang pundak teman di depannya supaya tidak lepas dari barisan.  Dari kejauhan tampak seperti ulat yang berwarna warni.. He.. He..

Siswa selesai sena masal, ganti atraksi para guru, dokumentasi pribadi
Berfoto bersama Ibu guru, dokumentasi Ima

Selesai atraksi siswa, ganti guru-guru menyajikan tari Profil Pelajar Pancasila. Pada foto di atas, barisan berbaju biru di elakang adalah guru-guru yang sedang menari.

Ketika itu tiba-tiba saya merasa baju saya ditarik-tarik dari belakang.  “Bu, jangan berdiri disitu..Yang belakang tidak kelihatan,”  kata Mbak yang menarik baju saya. Saya melihat sekitar. Saat itulah saya baru sadar bahwa sekitar saya semakin penuh manusia. Bahkan saya sudah tak bisa bergerak lagi.  Orang-orang mulai ribut karena pandangannya tertutup yang lain. 

“Ayo.. Ayo..  Yang berdiri itu pindah.., ” kata ibu-ibu yang duduk tidak sabar.

Saya bingung, agak jengkel juga.  Pindah kemana? Masa mumbul? Tidak ada tempat begini. 

Suasana di bangku penonton, dokumentasi pribadi

Melihat kondisi yang semakin kurang bagus dimana penonton makin banyak dan mulai emosi ditambah hawa yang  juga mulai panas dengan sedikit memaksa saya mencari jalan keluar.   “Amit enggeh…  Amit…, ” kata saya sambil pelan-pelan terus menerobos kerumunan. Yang saya tuju satu, pintu keluar. 

Betapa leganya saya ketika pintu keluar sudah tampak di depan mata.  Kerumunan tidak sebanyak di dalam.  Bergegas saya menuju parkiran.  Beberapa ibu tampak duduk di parkiran dengan wajah lelah. 

“Wes,  di luar saja Bunda..  Lebih aman, ” kata mereka.

“Iya,  benar,  di luar saja, ” tambah saya. 

Cepat-cepat saya hidupkan sepeda, dan meluncur meninggalkan Stadion Gajayana.  Di sepanjang Jalan Semeru  dekat Gajayana mikrolet berderet-deret banyak sekali.  Rupanya mikrolet carteran peserta senam massal pagi itu.

Dari pengalaman hari itu saya belajar bahwa kadang kita tidak sengaja terjebak dalam sebuah kerumunan.  Di awal kondisi sepertinya tidak begitu ramai, tapi tiba-tiba orang yang datang semakin banyak dan banyak, akhirnya terjadi kerumunan manusia yang semakin banyak.

Nah, kalau sudah seperti itu tidak ada salahnya  jika kita memperhatikan beberapa tips  saat kita terjebak kerumunan. Tips tersebut adalah:

1. Jangan emosi, banyaknya orang juga rasa panic biasanya membuat emosi gampang naik.  Namun sedapat mungkin emosi harus tetap ditahan karena emosi membuat kita kurang control atau kurang waspada.

2. Tetap jaga keseimbangan. Jangan sampai limbung atau jatuh. Tetap jaga keseimbangan dan terus berjalan meski sedikit demi sedikit.

3. Jangan tersugesti oleh pikiran buruk. Jangan merasa.   Aduh,  orang begini banyak,  kalau saya mumet atau semaput bagaimana.  Tidak boleh. Pikiran buruk harus kita buang jauh- jauh saat itu.

4. Posisi tangan di dada. Dengan posisi tangan di dada setidaknya kita membuat space bagi kita untuk bergerak dan dada tidak tertekan oleh tubuh orang lain. 

5. Segera cari pintu keluar. Nah, ini yang paling penting.  Segera keluar dan tinggalkan arena kerumunan.  Tapi saya juga tidak bisa membayangkan kejadian Kanjuruhan di mana orang orang berjuang mencari pintu keluar juga bertahan atas semprotan gas air mata. Malam hari pula. Ah, mudah mudahan tidak akan pernah terjadi lagi kejadian memilukan seperti itu.

Dan yang paling penting adalah berdoa sebelum bepergian.Ya, betapa pentingnya arti sebuah doa. Sebelum berangkat mari berdoa pada Sang Khalik agar kita senantiasa diberikan keselamatan. 

Bukankah Dia adalah Sang Maha, tempat kita berlindung dalam segala urusan yang kita jalani?

Salam… 🙂

Semangat Latihan Petugas Upacara Bendera

Beberapa hari ini selalu ada kesibukan istimewa dilapangan volley sepulang sekolah. Ya, siswa kelas 2.3.1 menjalankan latihan untuk menjadi petugas Upacara Bendera yang akan diadakan hari Senin 7 November 2022.

Petugas pengibar bendera, dokumentasi pribadi
Latihan petugas upacara, dokumentasi pribadi
Latihan petugas upacara, dokumentasi pribadi

Latihan berjalan sungguh-sungguh, meski kadang diselingi gurauan di tepi lapangan.

 Latihan yang dipandu oleh Paskibra dan OSIS  ini berlangsung hingga Jumat sore 4 November 2022. Hujan rintik-rintik tidak menghalangi semangat siswa untuk melaksanakan latihan agar bisa tampil maksimal di hari Senin mendatang.

Tetap semangat Sorest Bintaraloka..!