Ketika Kami Berdiskusi Tentang “Rumus Jokowi”

Hari itu pembelajaran di kelas saya masuk ke materi Perbandingan. Di kelas tujuh perbandingan yang dipelajari meliputi menyatakan perbandingan,  perbandingan senilai, berbalik nilai, menggambarkan grafik juga penerapan perbandingan  dalam kehidupan nyata.

Pelajaran diawali dengan penayangan slide. Gambar semangkuk bakso Malang tampak demikian menggoda.

Sumber gambar : Tangkapan layar Pribadi

Anak anak tertawa. “Hmmm, enak,,” komentar mereka.

Setelah berbicara sedikit tentang kuliner kebanggaan Malang ini, baik tentang sejarah terciptanya bakso dan beda bakso Malang dengan bakso lainnya materi langsung masuk ke cara menyederhanakan perbandingan.

Dalam powerpoint disebutkan : Harga sebuah bakso besar adalah Rp 5000,00, dan harga sebuah bakso kecil adalah Rp 2000,00.  Berapa perbandingan harga bakso besar dan bakso kecil?

Menyederhanakan perbandingan bukan hal asing bagi siswa. Materi ini sudah pernah mereka dapatkan saat SD kira kira kelas 4-5 .

Sebuah perbandingan bisa disederhanakan dengan membagi dengan bilangan yang sama. Seperti contoh di atas berbandingan harga bakso besar dan bakso kecil adalah 5000 : 2000 atau 5 : 2.

Setelah menyederhanakan perbandingan materi masuk ke perbandingan senilai dan berbalik nilai.

Secara sederhana perbandingan senilai adalah perbandingan dari dua buah hal ataupun lebih yang jika salah satu variabelnya bertambah maka variabel yang lainnya juga ikut bertambah dengan perbandingan tetap, dan berlaku sebaliknya.

Contoh perbandingan senilai adalah Perbandingan antara jumlah buku dan harga yang harus dibayar. Seperti tampak pada tabel berikut:

Contoh perbandingan senilai, tangkapan layar pribadi

Perbandingan berbalik nilai adalah perbandingan dua hal ataupun lebih yang jika salah satu variabelnya bertambah maka variabel yang lainnya menjadi menurun dan berlaku sebaliknya. Ciri dari perbandingan berbalik nilai adalah hasil kalinya tetap

Contoh yang paling mudah untuk perbandingan berbalik nilai adalah hubungan antara kecepatan dan waktu seperti tampak pada tabel berikut:

Contoh perbandingan berbalik nilai, tangkapan layar pribadi

Pada saat membahas tentang jarak , kecepatan dan waktu ada jawaban menarik yang saya peroleh dari siswa.

“Bagaimana hubungan antara jarak , kecepatan dan waktu?” , tanya saya pada siswa.

” Jarak sama dengan kecepatan dikalikan waktu,” jawab beberapa siswa. Ya, mereka sudah mendapatkan materi ini saat SD.

Tiba-tiba ada seorang siswa yang menjawab , “Rumus Jokowi, Bu!”

He? Saya langsung menoleh dan melihat anak yang bersangkutan. Apa hubungan materi hari ini dengan Pak Presiden? pikir saya.

“Maksudnya bagaimana, Latif?” tanya saya ingin tahu.

Latif tersenyum , ini dari guru SD saya Bu.. biar cepat hafal,” katanya.

“Latif bisa menerangkan mengapa dinamakan rumus Jokowi?”

Latif maju ke depan sambil menggambar segitiga, lalu menerangkan sebagai berikut:

Rumus jarak, kecepatan dan waktu, sumber gambar : Siklikal.com

Jarak dirumuskan dengan J, kecepatan dengan K dan waktu dengan W. Dari gambar di atas bisa diperoleh:

J = K x W

K = J/W

W = J/ K

Aha, cara yang sangat kreatif. Mungkin saya yang ketinggalan zaman ya? Ketika saya tanya pada siswa yang lain apakah pernah mendapatkan rumus Jokowi. Banyak yang menjawab pernah, dari guru SD nya.

Meski berkali-kali saya tekankan pada siswa supaya rumus jangan hanya dihafal, tapi pahami dia dari mana berasal, terbukti cara menghafal seperti ini sangat efektif dan langsung menempel di ingatan.

Yang perlu dijelaskan mungkin kata Jokowi diperoleh dari huruf J, K, W, supaya mudah menghafal saja, karena beliau adalah orang nomor satu di negeri ini, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pak Jokowi. He.. he..

Salam matematika.

Yuli Anita

Leave a Comment

Your email address will not be published.

53 views