Pilih yang Matang atau yang Mentah? Cerita Tentang Cwiemie Mas Rizal

Siapa yang tidak kenal mie? Hidangan ini begitu akrab dengan keseharian kita. Mulai dari mie telor, mie goreng, mie rebus, bakmie, cwiemie juga mie ayam, semua mudah didapatkan di warung atau penjual di sekitar kita.

Dalam kepercayaan Tionghoa, mie yang bentuknya memanjang ini mengandung harapan bahwa yang memakannya akan mendapat anugerah umur yang panjang.

Dari ensiklopedia, mie adalah makanan yang berasal dari China Utara.

Adalah Dinasti Han (206 SM–220 M) yang pertama kali menyediakan penggilingan gandum dalam skala besar, dan menyediakan tepung untuk membuat mian, mein, atau mi, kata dalam bahasa Tionghoa untuk mie.

Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang mie ayam, cwiemie dan cwiemie Mas Rizal. Hidangan yang sangat familiar dan menjadi favorit keluarga saya.

Hanya ada sedikit beda, jika saya suka cwiemie, maka anak- anak saya lebih suka mie ayam.

Sebenarnya apakah beda antara cwiemie dan mie ayam? Banyak, tergantung dilihat dari segi apa.

Ditinjau dari segi toppingnya, mie ayam menggunakan potongan daging ayam seukuran dadu yang dimasak dengan bumbu kecap, sedangkan cwie mie menggunakan daging ayam yang direbus lalu dihancurkan atau dicincang sebelum dibumbui.

Mie ayam, Sumber gambar: pergikuliner.com

Pada cwiemie topping juga dilengkapi dengan bawang goreng dan bawang daun yang membuat aroma cwiemie terasa lebih menggoda.

Dari segi rasa, karena toppingnya terdiri atas ayam yang dibumbu kecap , maka mie ayam rasanya lebih manis. Sedangkan cwiemie lebih didominasi rasa asin dan gurih.

Tentang pelengkap hidangan, biasanya mie ayam menggunakan kerupuk pangsit, sedangkan cwiemie selain kerupuk pangsit juga ada pangsit rebus di dalamnya.

Tentang Cwiemie Mas Rizal

Cwiemie, sumber gambar: pergikuliner.com

Salah satu cwiemie favorit warga Bintaraloka adalah cwiemie Mas Rizal yang ada di kantin Bintaraloka. Cwiemienya lezat, baunya menggoda juga pelayanannya yang ramah. Aih, pokoknya mantap wes…

Namun ternyata selain yang diuraikan di atas ada satu lagi kelebihan dari cwie mie Mas Rizal. Apa itu? Ternyata cwiemie dijual dalam bentuk matang dan mentah.

Satu kotak cwiemie mentah, dokumentasi pribadi
Isi di dalam kotak cwiemie mentah, dokumentasi pribadi

Dalam bentuk matang sudah biasa. Dalam bentuk mentah? Nah.. ini baru luar biasa.

Dalam satu kotak cwiemie mie mentah terdapat mie, bumbu, kecap, sambal, bawang daun dan bawang goreng, topping ayam giling, kuah, pangsit dan kerupuk.. wow..

Cara memasaknya mudah sekali, persis masak mie instan.

Tinggal rebus air , masukkan mie, siapkan bumbu di mangkuk, lalu tunggu sebentar.
Ketika mie sudah matang, masukkan ke mangkuk yang berisi bumbu, aduk, dan beri topping.

Terakhir… Langsung dinikmati.. ditanggung maknyus rasanya.

Cwiemie siap dinikmati, dokumentasi pribadi Buz

Keuntungan membeli cwiemie matang, kita bisa langsung menikmati. Sedangkan membeli dalam bentuk mentah, kita bisa membuat cwiemie sewaktu-waktu. Tidak perlu menunggu warung cwiemie buka, langsung memasak sendiri di rumah. Aha…

Jadi, tunggu apa lagi? Pilih yang matang atau yang mentah?

Rujak Manis Tunjungan Plaza dan Filosofinya

Apa yang terbayang dalam benak pembaca ketika mendengar kata rujak? Hmm, ada yang membayangkan rasa manis, segar bahkan pedas. Ya, rujak adalah jenis makanan khas Indonesia yang mempunyai ciri khas di tiap daerahnya.

Dalam perjalanan ke pernikahan Mas Putera di Tunjungan Surabaya, rombongan Bapak Ibu guru SMP Negeri 3 Malang mampir lagi ke Tunjungan Plaza. Wow, ini adalah kunjungan kedua rombongan Bintaraloka ke tempat yang sama.

Setelah berkeliling Tunjungan Plaza, kamipun meneruskan perjalanan ke Rawon Setan yang lokasinya tidak jauh dari situ.

Dalam perjalanan, langkah kami berhenti di depan sebuah gerobak yang berisi penuh buah-buahan. Aha, ternyata ada penjual rujak manis di sana.

Penjual rujak manis dekat Tunjungan Plaza, dokumentasi pribadi
Antre membeli rujak, dokumentasi pribadi

Beberapa teman langsung memesan rujak manis yang diracik dalam kemasan mika.

Melihat buah-buahan yang akan diolah menjadi rujak manis membuat ingatan saya langsung terlempar ke masa lalu.

Di masa saya kecil, rujakan adalah yang sangat menyenangkan. Rujakan biasanya dilakukan di hari libur atau pulang sekolah bersama teman-teman.

Dalam acara rujakan biasanya ada bagi-bagi tugas di antara kami. Ada yang bertugas membawa mentimun, mangga, jambu, belimbing, cabe , juga gula merah.

Sesudah berkumpul (biasanya di teras atau di kebun) semua bahan diolah sambil ngobrol gayeng di atas tikar yang disediakan.

Ada yang mengupas dan mengiris buah- buahan, ada pula yang meracik bumbu.

Makannya bagaimana? Langsung dimakan bersama (kembul). Wah, bisa dibayangkan… betapa hangat dan seru rasanya.

Rujak dan Sejarahnya

Rujak manis, sumber gambar: CaraMembuat.id

Menurut Sejarawan Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Fadly Rahman, secara etimologi kata rujak adalah turunan dari kata rurujak yang ditemukan di dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno di masa abad ke 10.

Ini menunjukkan bahwa rujak sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Di masa kolonial bahkan rujak dianggap sebagai makanan para bangsawan, karena komposisinya menyerupai salad orang Eropa.

Indonesia begitu kaya akan varian rujak. Ada bermacam-macam rujak yang kita kenal, misalnya rujak manis, rujak cingur, rujak gobet, rujak bebeg, bahkan rujak soto.

Rujak cingur, sumber gambar: cookpad.com

Dari semua rujak tersebut, yang paling sering dijumpai adalah rujak manis. Rujak manis atau salad Jawa ini memang spesial. Pembuatannya tidak sulit apalagi jika dikerjakan bersama-sama, dan rasanyapun cocok untuk lidah semua orang.

Buah dari rujak manis bermacam -macam. Bisa buah apa saja yang mudah didapatkan, misalnya nanas, mentimun, mangga muda, pepaya, kedondong dan lain-lain.
Supaya lebih mantap makannya ditambah dengan irisan tahu dan juga kerupuk.. Wah ditanggung mak nyus pokoknya..

Bagaimana dengan bumbunya? Kombinasi gula merah, asam Jawa, cabe, kadang disertai dengan tumbukan kacang dan bawang goreng membuat rasa rujak terasa begitu komplit. Ada rasa segar, asam, gurih, sedap terangkum dalam rasa manis yang begitu kental.

Ada sebuah filosofi menarik yang terkandung dalam sebuah hidangan rujak manis.

Rujak manis yang terdiri dari berbagai macam buah dengan aneka rasa, memberikan pelajaran bahwasanya hidup bisa memiliki beraneka cerita. Ada suka maupun duka, tangis maupun tawa.

Namun jika kita kaji lebih dalam , semua peristiwa itu mengandung pelajaran yang begitu manis di dalamnya.

Seperti halnya rujak, dimana segala macam buah beraneka rasa terangkum jadi satu dalam manis dan sedapnya gula merah.

Aha, bagaimana pendapat pembaca? Salam rujak manis..😊

“Para Pencari Tuhan”, Sinetron yang Selalu Membuat Rindu

Bulan Ramadhan selalu mengingatkan saya pada sinetron Para Pencari Tuhan.
Sinetron bergenre drama,komedi, religi ini adalah sinetron favorit keluarga saya.

Kelebihan sinetron Para Pencari Tuhan adalah selalu mengambil masalah yang sederhana di sekitar kita dengan sajian yang menggelitik namun sarat dengan pelajaran berharga.
Banyak pesan moral yang bisa diambil dari sinetron ini.

Melalui sinetron ini penonton diajak memperbaiki hablumminallah dengan lebih memperhatikan hal- hal yang berkaitan dengan ritual ibadah kita. Misal bagaimana syarat menjadi imam, bagaimana tatacara melaksanakan shalat berjamaah, fiqih puasa dan lain-lain.

Melalui sinetron ini pula penonton diajak memperbaiki hablumminanas dengan lebih memperhatikan akhlak dalam hubungan sesama manusia. Tentang menjaga hubungan dengan orang tua, jual beli, setia kawan, berbuat baik pada tetangga, hubungan dalam keluarga, hutang piutang dan banyak lagi.

Sinetron yang pertama kali ditayangkan tahun 2007 ini telah menerima beberapa penghargaan, termasuk Festival Film Bandung untuk Sinetron Terbaik pada tahun 2008 dan beberapa Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia untuk program drama seri.

Selain itu Para Pencari Tuhan juga menerima rekor Museum Rekor Indonesia untuk Serial Religi Ramadan Berkelanjutan Terlama pada tahun 2023.
Per tahun 2023, sudah ada 16 jilid Para Pencari Tuhan yang ditayangkan.

Kebetulan yang rutin saya lihat adalah Para Pencari Tuhan di jilid-jilid awal . Meski sudah begitu lama, kesan akan pelajaran yang disampaikan oleh sinetron ini masih setia dalam ingatan.

Sinetron ini didukung oleh artis dan aktor yang tak perlu diragukan kualitas aktingnya. Sebutlah Deddy Mizwar, trio Bajaj, Zaskia Adya Mecca, Jarwo Kuwat, Asrul Dahlan dan banyak lagi. Karenanya karakter tokoh yang muncul dalam sinetron digambarkan dengan begitu kuat.

Pemeran Para Pencari Tuhan, sumber gambar: Indonesiana

Bang Jack yang lurus, teguh pendirian, suka menolong tapi kadang seenaknya sendiri. Barong, Juki dan Chelsea mantan napi yang baru lepas dan menjadi anak asuh Bang Jack di musholla.

Pak Jalal jutawan kampung yang gokil dan selalu punya ide untuk mengerjai Bang Udin dan Asrul. Udin hansip kampung yang suka mendebat dan selalu memancing pertengkaran, juga Asrul yang idealis tapi juga sangat miskin (bahkan Asrul adalah orang yang paling miskin di kampung).

Cerita dibumbui oleh konflik cinta Aya dan Azzam yang tidak kunjung berhenti berantem, juga cerita Pak Ustadz dan Bu Ustadz mubaligh kampung yang akhirnya terjun di dunia televisi.

Masih ditambah lagi dengan Pak RW dan aparatnya yang selalu membuat trik bagaimana mengambil keuntungan dari setiap keputusan yang akan dibuat di kampung.

Sinetron ini terasa unik tatkala semua masalah bisa saling berkaitan dan di dalamnya selalu ada pelajaran yang bisa diambil bersama.

Dialog dan adegan sinetron ini selalu memancing tawa para penonton. Lihatlah tatkala Bang Udin harus bersembunyi di mushola karena menghindar dari kejaran tukang sayur yang terus menagih hutang.

Bang Udin akhirnya pura-pura jadi jenazah dan celakanya dia tidak sengaja dikubur oleh Barong, Juki dan Chelsea yang sedang praktek perawatan dan penguburan jenazah.

Saya dan anak- anak selalu terpingkal pingkal melihat episode tersebut meski sudah kami putar beberapa kali.

Sinetron Para Pencari Tuhan adalah sebuah contoh bahwa belajar agama bisa dilakukan dengan cara yang sederhana sekaligus menyenangkan. Dan belajar agama bisa langsung meresap dengan mengambil contoh sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagi saya hal yang paling berkesan dari sinetron ini adalah karena selalu mengingatkan saya pada masa di mana anak- anak masih kecil. Ya, lagu Para PencariMu dari Ungu selalu membuat ingatan saya terlempar ke masa lalu.

Masa di mana kami menikmati Ramadhan dalam kebersamaan yang begitu hangat.

Saat itu biasanya saya menyiapkan sahur sementara anak-anak dengan mata mengantuk duduk sambil menonton sinetron bersama ayah mereka.

Aih.., benar-benar sinetron yang membuat rindu.

Sumber gambar: Dailysia

Akulah para pencariMu Ya Allah
Akulah yang merindukanMu Ya Rabbi
Tunjukkan ku jalan yang urus
Tuk tetapkan langkahku

(Lagu Para Pencari Mu – Ungu)

https://youtu.be/hB3gtCO0mFE

Radio dan Berbagai Kenangan yang Menyertainya

Benda kotak berbentuk persegi dengan warna kombinasi coklat tua dan muda itu berdiri dengan manis di meja depan. Benda yang menjadi favorit kami bersama. Ia selalu setia menemani hari hari kami sekeluarga saat itu. Ya, radio, sahabat setia kami sekeluarga.

Radio Sieghfried buatan Jerman dibeli bapak sejak kami masih kecil. Suaranya mantap, putaran untuk mencari channel ataupun volume sering saya jadikan mainan, meski jika ketahuan bapak akan dilarang.

Radio di rumah mulai menunaikan tugasnya sejak pagi pukul lima pagi. Acara favorit bapak tiap pagi adalah siaran pedesaan dari RRI Malang.

Lagu Lesung Jumengglung yang selalu dikumandangkan di awal dan akhir acara membawa kami pada indahnya suasana pedesaan. Biasanya saat lagu Lesung Jumengglung diputar volume radio agak dikeraskan untuk membangunkan kami yang masih mengantuk.

“Ayo.. Ayo… Sekolah.., ” kata ibuk sambil mengerjakan pekerjaan dapur dengan background Lesung Jumengglung.

Mendengar ‘keributan’ itu dengan malas kamipun bangun dan bergantian menuju kamar mandi.

Menjelang pukul enam kami sarapan. Saat itu radio mengumandangkan lagu-lagu penyemangat. Kalau tidak salah acaranya bertajuk Pagi Gembira Cerah Ceria.
Kami cepat-cepat makan, karena menuju pukul enam jarum jam seperti berputar cepat sekali.

Sumber Gambar: Memoria Radio



Nah, ketika acara Pagi Gembira Cerah Ceria berakhir, lagu instrumen “Rayuan Pulau Kelapa” pun berkumandang. Kami bergegas mengambil tas dan berangkat sekolah.
Instrumen tersebut penanda jam sudah menunjukkan pukul enam, ketika itu sekolah masuk pukul setengah tujuh.

Sementara kami sekolah radio tetap menemani bapak. Ya, bapak adalah seorang penjahit dan dalam beraktivitas beliau selalu ditemani oleh radio.

Bapak selalu ditemani oleh acara Mitra Karya dari KDS8. Acara yang berisikan lagu lagu Indonesia yang tidak terlalu baru.
Pada pukul setengah sepuluh bapak akan pindah channel ke stasiun lain guna menikmati sandiwara radio.

Menjelang pukul satu siang saya tiba di rumah. Sambil makan di sebelah mesin jahit bapak kami menikmati acara tembang kenangan. Hmm, acara favorit kami ini. Lagu lagu barat lawas langsung memanjakam telinga kami. Sebutlah lagu dari Danny Boy dari Jim Reeves, Can’t Help Falling in Love nya Elvis Presley, Walk Awaynya Matt Monroe. Aih.. Manis sekali rasanya.

Dari semua lagu itu, lagu bapak yang paling saya suka adalah Belladona dari UFO. Suara gitar di awal lagu terasa begitu manis dalam pendengaran saya.

Masih berkisar dengan lagu lawas, pukul satu siang acara berganti dengan tembang kenngan Indonesia. Muncul lagu dari Tetty Kadi, Panbers, AKA dan banyak lagi.

Saat lagu lawas Indonesia diperdengarkan, itu adalah saat bapak beristirahat siang. Ketika bapak tertidur chanel saya ganti ke acara ludruk. He.. He.. Ludruk Sidik cs adalah favorit saya.

Di rumah hanya saya yang suka ludruk, sementara bapak lebih suka wayang.

Pukul empat sore sambil bersih-bersih kami mendengarkan sandiwara radio. Aha, ada banyak sandiwara radio favorit kami utamanya yang berlatar belakang sejarah, seperti Saur Sepuh, Mahkota Mayangkara juga Tutur Tinular.

Tutur Tinular mengisahkan tentang sejarah runtuhnya Kerajaan Singasari hingga berdirinya Kerajaan Majapahit. Tokoh ceritanya adalah Arya Kamandanu dengan pedang saktinya Naga Puspa.


Saur Sepuh cerita dengan latar belakang masa kerajaan Majapahit tersebut, sosok Brama Kumbara menjadi tokoh utama sebagai raja dari kerajaan Madangkara yakni masih berada di kekuasaan Majapahit bagian Selatan Nusantara.

Mahkota Mayangkara adalah lanjutan dari Tutur Tinular. Sandiwara ini berlatar belakang sejarah Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Jayanagara, di mana pada akhirnya terjadi pemberontakan Ra Kuti yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada.

Suara pengisi sandiwara radio seperti Ferry Fadli, Elly Ermawati, Ivone Rose atau M. Abud yang demikian mantap membuat imajinasi kami tentang tokoh-tokohnya melayang begitu tinggi.

Menjelang maghrib radio Sieghfrid berhenti bertugas. Ya, tiba saatnya bagi kami untuk belajar. Televisi kami belum punya saat itu, jadi hiburan hanya radio dan sesekali tape recorder.

Sambil belajar ada radio kecil yang menemani. Waktu itu radio kecil kami mereknya Telesonic berwarna hitam dengan isi empat baterai kecil.

Retro AM/FM solid state transistor radio. Cross processed.

Untuk menemani belajar, kami sudah janjian dengan teman teman sekelas untuk mendengarkan radio yang sama yaitu TT 77.

“Nanti ada salam buat kamu,” kata-kata sakti itu membuat kami bertahan mendengar radio sampai malam hari. Surprise sekali kalau tiba-tiba ada salam dari seseorang yang istimewa.

Sampai saat tidur tiba radio ikut menemani dekat bantal. Ketika mata hampir terpejam suara gamelan dari radio tetangga mulai terdengar.
Ah, ya, malam itu saatnya siaran wayang kulit semalam suntuk dari stasiun radio tertentu.

Begitulah radio yang selalui setia menemani rutinitas kami saat itu. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Dengan radio kegiatan sehari hari yang kami lakukan, lebih terasa begitu hangat dan akrab.

Untuk bernostalgia kita nikmati lagu yang sering diputar di RRI yuk….:)

Lontongan, Tradisi yang Perlu Kita Lestarikan Bersama

Pagi itu ada suasana yang berbeda di dapur Bintaraloka. Beberapa kresek berisi kerupuk, sayur manisah telur dibumbu petis plus satu karung lontong siap di atas meja makan.

Beberapa ibu guru menyiapkan piring rotan, kertas, sendok juga menata lontong dalam sebuah piring besar.

Wow, lontongan lagi..

Lontong berasal dari kata alon alon dipotong (Jawa) , melambangkan filosofi bahwa sedikit demi sedikit jatah hidup manusia selalu berkurang. Ya, hakekatnya kita semua sedang dalam perjalanan menuju Sang Pemilik Kehidupan.

Di Jawa lontong telah ada sejak zaman Sunan Kalijaga. Lontong dipakai sebagai media dakwah saat itu untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam pada masyarakat setempat.

Apa yang terasa saat makan lontong? Rasa lontong yang lembut, berpadu dengan lezatnya sayur manisah, juga gurih dan sedapnya telor bumbu petis membuat suasana mirip lebaran.

Ditambah dengan kriuknya kerupuk benar-benar membuat hidangan terasa mantap. Apalagi sebelum menikmati lontong kami berdoa bersama dipimpin oleh Pak Muhaimin untuk keberkahan warga SMP Negeri 3 Malang.

Menikmati lontong bersama membuat suasana benar benar terasa hangat dan akrab. Karenanya tak salah jika warga Bintaraloka seyogyanya melestarikan tradisi yang sangat menyenangkan ini.

Ya, tak perlu menunggu lebaran untuk lontongan. Bukankah kita sudah punya pakar memasak lontong komplit yang begitu handal? Salam kuliner…. 🙂