Kunjungan Perpustakaan Keliling: Permudah Akses Literasi, Tingkatan Minat Baca

Sebuah mobil berwarna biru memasuki area sekolah. Setelah parkir di tempat yang strategis, dua orang turun sambil tersenyum ramah. 

“Selamat pagi, kami dari perpustakaan kota,”

Aha.., tanpa penjelasan tersebut sebenarnya kami sudah tahu siapa yang berkunjung dari berbagai tulisan yang ada di mobil.

Ya,  hari ini sekolah kami mendapatkan kunjungan dari Perpustakaan Umum Kota Malang dalam bentuk Perpustakaan Keliling.

Mobil layanan perpustakaan keliling, dokumentasi pribadi

Perpustakaan Keliling Kota Malang adalah sebuah layanan dari Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang dengan menggunakan mobil operasional untuk mendekatkan akses buku ke masyarakat, khususnya anak-anak. 

Kader pustaka siap menyambut kedatangan perpustakaan keliling

Sebuah layanan jemput bola, dimana selain melakukan kunjungan, perpustakaan ini juga beroperasi rutin di beberapa lokasi seperti Alun-Alun Kota Malang dan Taman Merjosari.

Setelah beramah-tamah sejenak, kami langsung menuju perpustakaan sekolah, dan di sana sudah ditunggu oleh siswa dan kader pustaka.

Acarapun dimulai. Dari berkenalan, petugas perpustakaan menjelaskan tentang cara menjadi anggota Perpustakaan Umum Kota Malang. Beberapa pertanyaan muncul dari siswa yang menunjukkan antusias mereka salam mengikuti acara ini.

Membaca bersama, dokumentasi pribadi
Membaca bersama , dokumentasi pribadi

Sekitar sepuluh menit kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran film dan peminjaman buku untuk dibaca di tempat.

Adalah sebuah pemandangan menarik ketika melihat siswa duduk bareng di atas karpet sambil menonton film yang diputar di televisi. Ya, generasi sekarang pasti belum tahu sensasinya nonton TV rame- rame seperti yang sering dilakukan para generasi terdahulu (termasuk saya).

Nonton film bareng, dokumentasi pribadi

Begitu film berakhir siswa segera menuju mobil yang berisi penuh buku dan memilih sekaligus membacanya. Sangat menyenangkan. Bukunya begitu beragam mulai dari fiksi maupun non fiksi. 

Satu hal membuat saya surprise. Ya, tiba-tibasaya menemukan buku serial Little House on the Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Buku yang lama saya cari dan sudah tidak ada di toko buku manapun.

Tentang Little House on the Prairie, ini adalah serial yang pernah diputar di TVRI di kisaran tahun 1980 an, dan saya adalah salah satu penggemarnya.

Buku Laura Ingalls Wilder, dokumentasi pribadi

Serial klasik Amerika ini  mengisahkan kehidupan keluarga Ingalls, Charles, Caroline, dan anak-anak mereka yang berjuang, bertahan hidup, dan membangun kehidupan di Walnut Grove, Minnesota pada tahun 1870-an hingga 1880-an. Serial yang sarat dengan nilai persahabatan, kasih sayang dan kegigihan berjuang.

“Bukunya bagus-bagus,”

“Nonton filmnya asyik,” ungkap beberapa siswa. 

Hari yang luar biasa. Lewat kegiatan ini siswa mendapatkan pengalaman baru, sekaligus lebih memahami program-program perpustakaan umum kota Malang yang belum diketahui.

Berfoto bersama di akhir acara, dokumentasi Dwikaa

“Sekarang di perpustakaan juga ada kitab kuning dan bacaan dalam huruf Braille,” ungkap Pak Ichwan yang menjadi narasumber pagi itu.

Ketika saya bertanya ada berapa sekolah yang harus dilayani  Perpustakaan Keliling ini, Pak Ichwan menjawab bahwa ada 400 sekolah dan kelurahan yang akan dikunjungi perpustakaan keliling ini, dan armada yang dikerahkan ada lima buah.

Menurut informasi, perpustakaan keliling ini akan berkunjung setiap satu semester sekali.

Semoga kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Hari yang luar biasa. 

Semoga dengan kegiatan perpustakaan keliling ini minat baca masyarakat semakin meningkat karena akses baca yang semakin mudah, serta kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Bukan Sekedar Jalan-jalan, Cerita Kami Merajut Kebersamaan di Kota Batu 

“Mari sejenak lupakan segala kesibukan di sekolah, karena hari ini siapa yang paling bahagia, itulah pemenangnya,” demikian kata-kata motivasi yang membuka kegiatan hari itu. Ya, hari Sabtu (31/01) kami para guru sekaligus karyawan SMP Negeri 3 Malang melakukan kegiatan outbond di Kusuma Agrowisata Batu.

Mengapa Batu? Di samping terkenal akan keindahannya, Batu adalah tetangga sendiri. Hanya sekitar satu jam naik bus dari sekolah.

Menjelang berangkat ke Batu, dokumentasi Bintaraloka

Outbond sendiri adalah salah satu rangkaian acara Gathering Bintaraloka yang melibatkan seluruh karyawan dan guru SMP Negeri 3 Malang.

Dengan tujuan Kusuma Agrowisata Batu, peserta berangkat dengan menggunakan Bus Bagong pukul 07.15,  dan sampai di tempat tujuan sekitar sejam kemudian.

Perjalanan berlangsung lancar, gayeng sekaligus menyenangkan. Suasana akrab demikian terasa, apalagi di dalam bus banyak peserta menyumbangkan suaranya ataupun hanya mendengar lantunan lagu lagu lawas maupun kekinian. 

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Ya, ditilik dari usia peserta gathering sangat beragam, mulai dari yang yunior sampai senior, sehingga selera musiknyapun bermacam-macam.

Bersama Ibu Ahfi, dokumentasi Ahfi

Tentang Kusuma Agrowisata, tempat ini berlokasi di Jl. Abdul Gani, Ngaglik, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Area wisata ini berada pada ketinggian kurang lebih  1000 mdpl sehingga mempunyai hawa yang sejuk dan nyaman.

Kusuma Agrowisata berdiri sejak tahun 1991, dan merupakan salah satu pelopor wisata agro di Indonesia.

Menuju lokasi outbound, dokumentasi pribadi

Sesampai di lokasi peserta diajak menuju area outbond dan berbagai permainan sudah disiapkan oleh penyelenggara.

Sepanjang perjalanan ke area outbond mata benar benar dimanjakan dengan pemandangan yang begitu cantik. Aneka pohon, tanaman bunga maupun buah ternyata demikian indah.

Sampai di lokasi, dokumentasi pribadi

Semua permainan dalam outbond dirancang untuk menciptakan rasa bahagia, mempererat keakraban, kekompakan sekaligus solidaritas.

Setelah lebih kurang dua jam merayakan keceriaan dalam outbond peserta diajak menuju area wisata petik jambu. Hamparan tanaman jambu seolah tersenyum manis menyambut kedatangan kami hari itu.

Di area ini kesabaran dan ketelatenan peserta diuji untuk mencari jambu yang masak dan besar guna dipetik. Setiap peserta boleh memetik tiga buah jambu untuk dibawa pulang. Oh ya, selain jambu, di sini kita bisa melakukan wisata petik apel, strawberry, jeruk, sayuran hidroponik juga buah naga.

Petik jambu, dokumentasi pribadi

Dari kebun jambu kami kembali naik mobil untuk menuju de Tjangkul guna makan siang bersama. Rasa lelah, hawa yang sejuk serta suasana yang  gayeng adalah perpaduan yang pas untuk segera menyantap hidangan yang ada, sebutlah nasi goreng Madras, bakmi, oseng sayur, ayam mentega dan tidak ketinggalan es teler. Mantap nian.

Makan siang yang gayeng, dokumentasi pribadi

Selesai? Belum.. sekitar pukul setengah tiga, bus meninggalkan Agrowisata dan peserta diajak jalan-jalan eksplor Alun-alun Batu .

Alun-alun Batu di akhir pekan terasa demikian ramai. Pasar Laron, berbagai permainan di alun-alun, Bakso Iga, ramainya suara penjual tahu bulat, teriakan penjual buah-buahan berpadu menciptakan suasana seru.

Satu hal lagi, di sini banyak dijual berbagai produk olahan susu, dan ini yang banyak diburu untuk oleh-oleh.

Para peserta gathering segera berbelanja, ataupun sekedar jalan- jalan, menikmati es puter dan melaksanakan sholat Ashar di Masjid Jami’ Batu. Aih, sungguh hari yang manis, semanis es puter yang kami nikmati hari itu.

Di sekitar alun-alun kami sempat berkenalan dengan ibu penjual apel manalagi. 

“Yuswa pinten, Bu?” tanya teman saya di sela-sela obrolan dengan Ibu tersebut.

 Dengan senyum lebar, Si Ibu menjawab,” Delapan dua, Jeng,”

Luar biasa, di usia 82 beliau masih tampak segar dan begitu semangat menjajakan barang dagangannya. 

Ketika jam sudah menunjukkan pukul empat sore semua peserta kembali memasuki bus. Ya, semanis apapun perjalanan ini harus segera diakhiri. Kini kami bersiap-siap untuk kembali ke Malang.

Membeli es puter , rasa yang pernah ada, dokumentasi Buz

Jika di Batu cuaca terang, tidak demikian halnya dengan di Malang. Sejak Karanglo hujan turun dan lama-kelamaan semakin deras. 

Bus Bagong yang kami naiki terus berjalan menembus macetnya lalu lintas kota Malang. Matahari semakin meredup. Karena hari yang semakin sore, juga mendung yang begitu tebal.

Gathering bukan sekedar bersenang-senang.  Melalui acara ini diharapkan kerja sama tim, komunikasi, kepercayaan diri masing masing individu akan semakin meningkat

 Selamat tinggal Batu, selamat tinggal gathering. Semoga ke depan acara seperti ini lebih sering lagi diadakan.

Di Kusuma Agrowisata, dokumentasi Buz

Akhirnya gathering bukan sekedar bersenang-senang.  Melalui acara ini diharapkan kerja sama tim, komunikasi, kepercayaan diri masing masing individu akan semakin meningkat. Dan yang paling penting stress berkurang, energi positif bertambah, serta siap mengerjakan berbagai tugas yang sudah menanti.

Salam jalan-jalan ..😀

Tentang Solidaritas Tanpa Banyak Retorika

“Mbak , saya buat jangan pedes. Krecek sama kacang tolo, mau pesan?” 

Sebuah tawaran manis tiba-tiba masuk notifikasi wa saya. Dari Mbak Sur, tetangga saya.

Dalam istilah Jawa Timuran, jangan artinya sayur. Jadi jangan pedes artinya sayur pedes, jangan bayem artinya sayur bayem. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan “tidak boleh”.

Wah, sudah lama saya tidak makan sambal goreng krecek, pedes pula, pikir saya.

“Ada gudegnya juga?” tanya saya kemudian.

“Ada, komplit, ini tetangga belakang yang pesan ikut a?

“Ikuuut,” jawab saya tanpa pikir panjang. 

Sayur sambal goreng krecek, sumber gambar: Cookpad

Siapa yang tidak kenal masakan Mbak Sur? Tetangga saya satu ini pintar sekali memasak dan sering menerima pesanan dari orang orang kampung.

Berbagai masakan hasil olahan tangannya  benar-benar maknyus. Sebutlah bothok, pepes, lodeh, soto komplit dan yang terakhir gudeg komplit. Sekali coba, ditanggung nambah. Benar-benar nendang, kata anak saya. 

Di sebuah kesempatan lain tiba- tiba Mbak Sur datang ke rumah dengan membawa keranjang besar berisi aneka masakan. Ada oseng daun pepaya, ayam krispi, garang asem, bihun bahkan cilok.

“Monggo..oseng daun pepaya,” 

Aih, Mbak Sur selalu ingat kalau saya paling suka oseng ini.

“Wah.., ganti menu ini?” tanya saya sambil memilih aneka makanan di depan saya.

“Enggeh, biar tidak bosan,” katanya sambil tertawa. 

“Kapan masaknya? Malam ya..,” kata saya lagi. 

” Ooh, niku masakan saya sama Mbak Rosi dan Mbak Yayat. Masakan saya hari ini cuma oseng daun pepaya,”

“Oh ya, kalau mau pesan ayam krispi atau cilok tinggal telpon, kami buatkan lalu diantar,” tambah Mbak Sur semangat.

Dua nama yang disebut Mbak Sur terakhir adalah orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya. Masih ada hubungan saudara.

Dalam banyak hal mereka sangat akrab. Ketika satu sedang sibuk, yang lain pasti membantu. 

Pernah suatu kali Mbak Sur mendapat pesanan untuk memasak hidangan di acara khitanan, ketiga orang ini memasak bersama di rumah Mbak Sur. Karena rumahnya tak begitu besar, beberapa kompor bahkan diletakkan di depan rumah.

Tidak apa, yang penting bisa masak dan  gayeng ngobrol bersama.

Pagi itu saya mengambil sebungkus garang asem, oseng pepaya dan ayam krispi.

“Pinten sedoyo?”

Kalkulator otomatis Mbak Sur langsung bekerja.

“Garang asem lima belas ribu, oseng lima ribu, ayam krispi sepuluh ribu, total tigapuluh ribu,”  jawabnya sigap. 

Oseng daun pepaya, sumber gambar: Cookpad

Setelah memberikan uang kembalian Mbak Sur mengangkat lagi keranjangnya. “Besok saya buat oseng pare sama bothok teri,” katanya kemudian.

“Wah, enak itu… Saya mau,” jawab saya senang.

Dengan cekatan Mbak Sur mengangkat dagangannya. 

“Garang asem, bihun..!”teriakannya memecah sepinya kampung kami di pagi hari.

Ya, bagi Mbak Sur usia hanya sekedar angka. Di usia kepala enam ia tetap sigap semangat. 

“Lha menawi mboten kerjo, sinten sing nyukani mangan?” katanya suatu saat ketika kami berbincang-bincang.

Ya, Mbak Sur tinggal sendiri. Suaminya Pak Parno sudah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu , sementara anak dia tidak punya. Untung saudaranya banyak, termasuk Mbak Rosi dan Mbak Yayat tadi.

Siang hari itu setelah beres-beres tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk di hp saya. Mbak Sur.

“Nggih, Mbak Sur? Wonten nopo nggeh?”

“Mbak, jadi cari tukang setrika?”

Oh ya, saya baru ingat kalau kemarin saya minta dicarikan orang yang mau membantu menyetrika pakaian. Beberapa hari ini cucian tidak cepat kering karena hujan sehingga setrikaan numpuk. Biasanya saya setrika sendiri, tapi kalau banyak begini saya perlu bantuan orang lain.

“Enggeh, jadi, siapa Mbak Sur?” tanya saya cepat.

“Ibuknya Rafi, mangke kersane dipendet enggeh,”

Ibuknya Rafi adalah tetangga Mbak Sur juga. Menurut cerita Mbak Sur ibuknya Rafi sedang bingung cari kerjaan karena suaminya sering libur.

Saya tersenyum. Luar biasa Mbak Sur, ia benar benar punya peranan penting bagi orang- orang sekitarnya.

Betapa solidaritas, bagi- bagi rezeki juga pekerjaan dilakukan Mbak Sur tanpa banyak bicara. Tanpa teori yang muluk-muluk ia menjadi motor bagi orang-orang sekitarnya untuk terus berjuang dan berdaya dalam menghadapi tantangan hidup yang kian berat.

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Tanpa banyak retorika Mbak Sur mengajak orang sekitarnya bahwa kebaikan bisa dilakukan lewat hal-hal kecil di sekitar kita. Kebaikan yang satu akan menular pada kebaikan yang lain dan semua dilakukan lewat hal hal sederhana.

Mbak Sur memberikan pelajaran bahwa setiap langkah yang dilakukan tidak sekedar untuk mencari nafkah, tapi juga bagaimana merajut tali kebersamaan, saling menguatkan dan saling memberikan manfaat. Karena seperti kata sebuah nasehat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

“Ibuk kuat jalan agak jauh?” tanya anak saya . Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Stasiun MRT Bencoolen. Sebuah stasiun yang paling dekat dari hotel kami.

“Wah ngenyek kamu Le, ibuk tiap hari jalan lho.. minimal 4000 langkah,” kata saya sambil tertawa diikuti anak saya.

Tapi benar lho. Setiap hari saya selalu upayakan jalan, jalan dan jalan. Menurut rekomendasi dari berbagai sumber idealnya satu hari kita berjalan sekitar 10.000 langkah. Tapi saya tidak sampai sebanyak itu,  sekuatnya saja, yang penting gerak terus. Setiap hari jalan dari ruang guru, perpustakaan dan kelas-kelas total bisa mencapai hampir 4000 langkah.

Jalan kaki. Nah, ternyata aktivitas satu ini banyak sekali kami lakukan di Singapura. Ya, kemana-mana kami banyak jalan atau naik MRT. Di samping murah, nyaman kami juga lebih banyak waktu untuk berbincang bincang.

Banyak berjalan kaki di Singapura, dokumentasi pribadi

Berjalan tidak terasa melelahkan karena banyak sekali pejalan kaki di sini. Tata kota yang bersih dan nyaman membuat jalan kaki terasa mengasyikkan. Sambil ngobrol kami bisa melihat pemandangan di sekitar kami.

“Kemana kita hari ini?” tanya saya sambil terus melangkah.

“Kita ke stasiun, lalu naik MRT arah Bayfront,” jawab anak saya sambil membuka map di HP nya.

Ya, hari itu kami akan menuju kawasan Marina Bay, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Singapura.

Melihat map di Garden Bay, dokumentasi pribadi

Di stasiun Bencoolen kami segera naik MRT. Setelah beberapa pemberhentian sampailah kami di Bayfront, sebuah stasiun dekat area Marina Bay.

Pagi di Marina Bay terasa begitu segar. Matahari bersinar cerah. Dari kejauhan pemandangan teluk yang berwarna biru tampak begitu indah. Airnya beriak lembut diterpa angin pagi. Marina Bay Sands berdiri megah dengan tiga tiangnya yang menjulang, dan dibagian atasnya dihias oleh Sands Sky Park, sebuah kapal yang melayang di angkasa.

Pagi di Marina Bay, dokumentasi pribadi

Di sekelilingnya taman hijau Gardens by the Bay menawarkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Supertree Grove, pohon-pohon baja raksasa yang dililit tanaman hidup berdiri perkasa dengan dihiasi kicauan  burung di sekitarnya. Banyak orang yang berolahraga raga atau berjalan- jalan seperti yang kami lakukan pagi itu.

Pohon raksasa di Marina Bay, dokumentasi Zahri

 Di hari sebelumnya sebenarnya kami sudah datang ke Kawasan Telok Ayer yang berada di seberang Marina Bay. Jadi pagi itu, dari kejauhan kami bisa memandang kawasan Telok Ayer dari Marina Bay.

Sands Sky Park di malam hari, dokumentasi Zahri

Kawasan ini benar-benar hidup ketika senja tiba. Saat matahari mulai terbenam, kota mulai bercahaya. Lampu-lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Central Business District mulai bersinar, menciptakan kerlip gemerlap di atas air. 

Perahu yang berjalan di atas air sambil membawa para wisatawan membuat pemandangan terasa begitu syahdu. 

Singapore Flyer, dokumentasi Zahri

Dari kejauhan tampak Singapore Flyer berdiri perkasa. Singapore Flyer adalah sebuah bianglala raksasa setinggi 165 meter yang dengan wahana ini kita bisa melihat  pemandangan 360 derajat kota Singapura, termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia saat cuaca cerah. 

Di antara berbagai bangunan yang ada, tampak Merlion berdiri tegak menjadi ‘penjaga’ dan menyemburkan air dari mulutnya dengan tenang. Merlion seolah saksi perpaduan antara mitos dan modernitas yang ada di Marina Bay.

Di sekitar patung Merlion, dokumentasi pribadi

Tiga hari di Singapura membuat kami semakin rajin berjalan kaki. Aplikasi penghitung langkah di HP saya menunjukkan angka lebih dari 10 ribu langkah tiap harinya.

Aih, jalan kaki benar benar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan, apalagi bersama orang tersayang.

Sepulang jalan- jalan saya langsung sholat, selonjor di hotel sambil ngobrol dan ngeteh bersama anak saya.

“Ibuk besok Minggu dijemput jam berapa?”sebuah notif pesan masuk di WhatsApp saya. Dari anak saya di Malang. Saat itu hari Sabtu, hari ketiga saya di Singapura.

“Menurut rencana pesawat tiba di Juanda jam sembilan , Le,”

“Baik, besok kami tunggu di Juanda,” jawabnya lagi.

Malam hari kami segera packing- packing. Ya, semanis apapun perjalanan, semua harus berakhir. Besok dengan pesawat pukul setengah delapan saya akan terbang ke Juanda sementara anak saya langsung kembali ke Tokyo.

“Ibuk jaga kesehatan ya, jangan lupa olah raga, nanti kita jalan-jalan lagi,” kata anak saya di bandara.

“Iya Le, baik-baik di negeri orang, jaga diri, jangan lupa sholat,” kata saya terharu.

Sore di Telok Ayer, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lebih kami berpisah karena gate kami berbeda. Ada haru yang terasa dalam hati. Sungguh, perjalanan ini sangat memukau , menyenangkan dan mengharukan. Tuhan Maha Baik. Dia telah memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan perjalanan yang tak pernah saya bayangkan.

Di balik keramaian bandara Changi yang tak pernah tidur, kami pun melangkah menuju destinasi masing-masing. Sebelum masuk pesawat saya sempatkan melihat aplikasi penghitung langkah kaki di HP. Lima ribu langkah lebih untuk pagi ini. 

Selamat tinggal, Singapura. Terima kasih telah menjadi saksi betapa Tuhan menghadirkan keajaiban dalam bentuk pertemuan ibu dan anak yang begitu dirindu. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertualang lagi di hari-hari mendatang.

Salam jalan-jalan…

Jelajah Singapura, Mengunjungi Masjid Malabar dan Masjid Sultan di Kampong Glam

Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya ditawari anak saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Ceritanya dia mendapatkan cuti dan ada sesuatu yang harus dikerjakan di Singapura. Karena sudah dekat Indonesia, dan belum pernah ke sana, saya diajak ketemuan di Singapura.

Terus terang saya tidak begitu berani. Di samping karena jauh, saya belum pernah sekalipun keluar negeri. Tapi karena yang mengajak sangat bersemangat akhirnya dengan menguatkan tekad sayapun berangkat.

Skenarionya, saya berangkat dari Juanda  sementara anak saya berangkat dari Tokyo dan pukul sepuluh malam waktu Singapura kami bertemu di Changi Airport. 

Changi Airport , dokumentasi pribadi

Hari yang dinantikan tiba. Setelah bertemu di Changi kami langsung menuju hotel yang terletak di kawasan Queen St tidak jauh dari Stasiun MRT Bencoolen.

Setelah istirahat semalam, pagi hari sekitar jam setengah sepuluh kami keluar dari hotel. Matahari bersinar redup karena sebagian tertutup mendung, suasana tidak begitu panas sehingga jalanan terasa nyaman.

Banyak pejalan kaki, dokumentasi pribadi

“Kita kemana Le?” tanya saya pada anak saya yang full menjadi ‘pemandu wisata’ selama kami di Singapura.

“Ayo, jalan-jalan ke Arab St, sambil cari makanan khas Indonesia,” katanya. Aha, hari itu kami mulai  jelajah Singapura.

Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, jalanan yang teratur dan bersih serta lalu lalang orang -orang yang tampak begitu sibuk. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah di Singapura banyak sekali pedestrian. Trotoar demikian nyaman dan bersih, sehingga nyaman untuk berjalan kaki.

Suasana jalan di pagi hari, dokumentasi pribadi
Jalan Victoria , dokumentasi pribadi

Ada banyak manusia dari berbagai bangsa. Buktinya saat bersimpangan dengan orang lain, selalu terdengar dialog dalam berbagai  bahasa. Ada bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India , Thailand bahkan Jawa Timuran. Wah,  benar- benar menarik.

Kendaraan kecil dan besar lalu lalang di jalan raya.  Lalu lintas lancar, dan uniknya saya hanya sesekali menjumpai sepeda motor. Mungkin karena banyak yang memilih menggunakan MRT di Singapura, atau barangkali juga karena jalan yang kami lalui adalah jalan-jalan besar seperti Victoria St, Bras Basah juga Bencoolen.

Kami terus berjalan. Memasuki wilayah Kampong Glam suasana mulai terasa ramai. Sekilas bau aroma parfum atau dupa Arab mulai menerpa. Mengingatkan saya ketika masuk daerah Embong Arab di Malang.

Sebuah sudut di Kampong Glam, Dokumentasi pribadi

Kampong Glam atau Kampung Gelam adalah nama yang berasal dari Bahasa Melayu yang merujuk pada nama tanaman yang dulu banyak tumbuh di sini yaitu pohon gelam (Melaleuca cajuputi atau paperbark tree). Pohon gelam ini banyak digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat kapal, obat, hingga bumbu masak.

Jalan Arab, dokumentasi pribadi

Kampong Glam sering disebut juga Arab Street dan dikenal sebagai kawasan Melayu atau Muslim di Singapura yang kaya akan warisan budaya dan tempat menarik seperti Masjid Sultan, Istana Kampong Glam, dan Haji Lane. 

Niat semula untuk mencari makanan Indonesia langsung batal ketika semerbak aroma martabak menghentikan langkah kami untuk segera mengajak mampir.

” Di sini saja ya?” kata anak saya sambil mencari tempat duduk. Rupanya ia sudah  lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan roti sisa semalam.

Tanpa menunggu lama saya ikut masuk sebuah tempat makan yang catnya didominasi dengan warna kuning.

Kedai di sekitar Kampong Glam, dokumentasi pribadi

Kami segera memesan jus apel, jus semangka serta satu piring martabak.

Only one?” tanya sang penjual heran, demi melihat pesanan martabak yang cuma sepiring.

Only one,” jawab anak saya.

” Tidak tambah nasi tah? ” tanya saya setengah berbisik. Makan sepiring martabak untuk dua orang mana kenyang pikir saya.

Tapi tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Satu porsi besar martabak dalam wadah serupa daun pisang. Ah ya, kedai ini bernama Banana Leaves, karenanya piring atau wadah makanannya berbentuk daun pisang.

Begitu martabak diletakkan dimeja, kami langsung terkesima. Waow, porsinya besar sekali. Satu piring besar martabak yang sudah dipotong- potong, masih ditambah semacam kuah kari dan kentang. Mantap nian.. untung tidak tambah nasi, pikir saya.

Martabak , dokumentasi pribadi

Rasa lelah karena berjalan kaki ditambah lapar membuat hidangan martabak cepat berpindah ke perut kami. Jus membuat perut kami kian kenyang, dan ini waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan.

Jelang sholat Dhuhur kami menuju ke sebuah masjid yang terletak di persimpangan Victoria Street dan Jalan Sultan di Kampong Glam. Masjid Malabar, namanya. Masjid ini didirikan oleh komunitas Muslim Malabar dari India Selatan dan diresmikan tahun 1963. 

Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Ketika Memasuki masjid Malabar siang itu suasana begitu sepi. Hanya ada dua petugas masjid dan dua turis yang melihat lihat di aula masjid, selain saya dan anak saya yang mau melaksanakan sholat dhuhur.

Sebuah keteledoran yang saya lakukan adalah lupa membawa mukena. Karena masjid tidak menyediakan mukena,  akhirnya sholat Dhuhur siang itu saya mengenakan gamis yang disediakan dekat lift.

Dekat lift masjid, dokumentasi pribadi
Bagian samping Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Setelah sholat dan mengambil foto-foto, kami keluar dari masjid untuk menyusuri jalan Victoria atau Victoria St. 

Ternyata tidak jauh dari Masjid Malabar ini terdapat komplek pemakaman tua bagi masyarakat Islam. Menurut keterangan, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh sejarah penting termasuk keturunan Sultan Johor.

Komplek pemakaman muslim, dokumentasi pribadi

Areanya cukup luas. Karena dekat dengan tempat pemakaman, maka jalan di sini di namakan Jalan Kubor (kuburan).

Berbeda dengan Masjid Malabar, Masjid Sultan mempunyai ukuran yang lebih besar. Masjid ini berlokasi di Jl Muscat masih dalam wilayah Kampong Glam. 

Arsitektur Masjid Sultan dan Masjid Malabar mempunyai kemiripan, karenanya Masjid Malabar dinamakan ‘sepupu kecil’ Masjid Sultan.

Masjid Sultan merupakan masjid utama yang dibangun tahun 1824 dan menjadi pusat kegiatan komunitas muslim Melayu. 

Bagian dalam Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Kami menjalankan sholat Ashar di masjid ini. Berbeda dengan Malabar, Measjid Sultan suasananya ramai. Banyak pengunjung yang akan menunaikan sholat. Seperti di Malabar, tempat untuk jamaah laki-laki dan perempuan terletak di lantai yang berbeda.

Habis sholat, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Akhirnya perjalanan kami tertahan sambil sejenak menunggu hujan berhenti. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil foto-foto bagian dalam maupun sekitar masjid. 

Sudut lain dari Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Sangat menyenangkan. Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang bergerak tak kenal henti, kunjungan ke Masjid Malabar dan Masjid Sultan seolah menjadi oase penyejuk jiwa di hari pertama perjalanan ini. 

Tempat jamaah perempuan di Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Selain untuk menunaikan kewajiban sholat, momen ini adalah kesempatan berharga untuk sejenak berhenti, menyepi, dan meresapi ketenangan yang menyapa di balik pintu-pintu, jendela dan ornamen masjid yang begitu khas. Sungguh, awal petualangan yang menyenangkan dan besok masih ada hari untuk membuat cerita yang lain lagi.

Salam jalan-jalan..😊