Seorang laki-laki duduk di bangku marmer depan kelas. Alat kebersihan, sapu dan pel disandarkan di tembok di sebelahnya. Sambil sesekali mengelap peluh, ia membuka surat dengan sampul warna-warni dan mulai membacanya.
Di tangannya yang satu beberapa surat dalam amplop tertutup sudah menunggu untuk dibaca pula.
Satu surat dilipat kembali. Ada senyum sekaligus haru di wajahnya.
“Wah, dapat surat nih,” tanya teman saya menggoda.
“Inggih Bu, dari anak-anak,” jawabnya sambil tersenyum seperti biasanya.
Pak Edi adalah salah satu cleaning service di sekolah kami. Orangnya ramah juga rajin. Ramah, karena ia selalu menyapa orang orang yang lewat di sekitarnya , dan rajin karena Pak Edi selalu melakukan tugas dengan penuh tanggung jawab. Pokoknya di mana ada Pak Edi, lingkungan langsung bersih, baik itu kamar mandi koridor, ataupun lobby.
“Wah, banyak suratnya,” kata teman saya lagi.
“Mboten semerap niki, lare-lare,” jawab Pak Edy sambil menunjukkan surat-surat yang sudah dibacanya.
Menulis surat pribadi adalah salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia kelas 7. Di era yang serba digital ini surat menyurat memang semakin jarang dilakukan. Meski demikian, surat pribadi tetap relevan sebagai media komunikasi yang personal, mendalam, dan abadi.
Diterangkan oleh salah satu guru bahasa Indonesia, bahwa dalam pelajaran menulis surat pribadi ini siswa diberi kebebasan untuk menulis surat dan mengirimkannya pada seseorang. Orang yang dituju bebas, boleh orang tua, guru, teman ataupun saudara. Dan uniknya ternyata banyak siswa yang mengirim surat pada Pak Edi, mungkin karena Pak Edi yang ramah pada anak anak.
Rasa terima kasih dan penghargaan anak anak pada Pak Edi terungkap dalam surat-surat mereka berikut ini:


Ada ‘mutiara berharga’ yang bisa diambil dari kegiatan menulis surat pribadi ini seperti menumbuhkan rasa hormat dan empati pada orang lain, peduli pada orang-orang sekitar kita, termasuk juga menghargai aneka profesi yang ada di sekitar kita. Ya, setiap pekerjaan yang memberikan kemaslahatan bagi orang banyak adalah mulia dan layak dihormati.

Bagi Pak Edi sendiri hadirnya surat-surat istimewa pagi itu adalah kejutan manis. Ia tak menduga, kerjanya selama ini ternyata mendapat apresiasi dari anak-anak yang setiap hari menyapanya.
Pak Edi melipat surat-surat yang habis dibaca, lalu memasukkannya ke dalam saku. Ia kembali tersenyum, sungguh hadirnya surat-surat itu membuatnya kian bersemangat dalam melaksanakan tugasnya dari hari ke hari.
- Surat-surat untuk Pak Edi - May 26, 2026
- Segiempat dan Sifat-sifatnya - May 21, 2026
- Karipap: Hidangan Lezat, Membuat Pagi Terasa Lebih Hangat - May 21, 2026